14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ijazah Pendidikan Tinggi: Bisa Menjadi Baik, Bisa Menjadi Buruk

Putu Susila Darma by Putu Susila Darma
August 27, 2019
in Opini
Ijazah Pendidikan Tinggi: Bisa Menjadi Baik, Bisa Menjadi Buruk

Foti ilustrasi oleh Mursal Buyung

“Kehidupan adalah 10% apa yang terjadi pada Anda dan 90% adalah bagaimana Anda meresponsnya.” -Lou Holtz-

___

“Di mana kuliah? Jurusan apa? Selamat ya kamu sudah sukses..” begitulah kira-kira sapaan Pak Gede, salah satu tetangga saya kepada teman-temannya kala itu.

Sungguh merasa bahagia mereka karena pujian-pujian itu benar-benar tulus diucapkan oleh Pak Gede. Mereka senang, karena saat itu menjadi mahasiswa atau generasi yang mampu melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi adalah suatu kabar yang luar biasa di desa saya. Karena saat itu orang tua yang tinggal di desa berharap banyak supaya anaknya kelak akan mampu memberikan perubahan pada ekonomi keluarga melalui gelar yang dimilikinya.

Namun apa yang telah terjadi pada teman-teman Pak Gede 6 tahun kemudian setelah mereka menyelesaikan pedidikan sarjananya. Secara tidak sengaja ia bertemu dengan teman-temannya di sebuah parkiran belakang gedung perkantoran. Pak Gede saling sapa dan saling berbagi kenangan dengan temannya masing-masing karena memang sudah lama tidak pertemu.

Pak Gede memulai pembicaraan, “Enak ya jadi anak kuliahan sekarang pasti sudah punya kerjaan bagus dan dulunya kalian pasti gampang nyari lowongan kerja”.

Suasana sempat hening sejenak. Salah satu teman Pak Gede langsung mencurahkan isi hatinya dengan berkata,  “Sukses apanya? Saya sudah setahun menganggur Pak Gede, jaman sekarang susah sekali cari pekerjaan”

Teman yang lagi satunyapun ikut menambahkan pembicaraan dalam pertemuan singkat di sebuah halaman parkir itu. “Saya sudah satu tahun lebih bekerja, namun gaji saya kecil sekali terkadang untuk membeli sabun mandipun saya tidak bisa.” 

Itulah obrolan mereka dari perjumpaan singkat di sebuah parkiran. Percakapan-percakapan singkat seperti itulah yang juga sering saya dengar dari kebanyakan orang sampai sekarang. Inilah yang harusnya segera kita sadari.

Pemberian kata selamat yang diucapkan  oleh Pak Gede ketika Anda mulai mendaftar kuliah adalah suatu permulaan bagi Anda menuju perjuangan yang sebenarnya masih jauh di depan Anda. Saya mengakui ketika kita bisa berhasil duduk di ruang kelas perguruan tinggi saja adalah suatu kesuksesan besar. Tapi lebih dari itu, lebih dari yang kita tahu.

Kesuksesan jangka panjang yang benar-benar harusnya mampu kita dapatkan adalah memiliki pekerjaan yang menyenangkan. Pekerjaan yang prospektus memberikan kita kenyamanan berdasarkan minat yang kita inginkan. Pekerjaan yang benar-benar memuaskan batin kita, meningkatkan kesehatan kita, membahagiakan kita dalam kondisi apapun ketika bekerja, dan tentunya memberi dampak ekonomi yang tinggi dalam jangka panjang seperti harapan keluarga yang menaruh harapan besar dari Anda.

Hari ini saya bertanya lagi kepada Anda, kenapa ijazah tinggi bisa menjadi baik dan bisa menjadi buruk di mata Anda? Mungkinkah selama ini lembaran ini yang memenjarakan mental Anda?

Sangat disayangkan kalau jaman sekarang kita terlalu banyak berpikir, jika ijazah kita kualifikasinya bidang A, maka pekerjaan kita harus pada bidang A juga. Kalau kita sudah punya ijazah tinggi, maka kita akan mendapat pekerjaan yang layak dan bergaji tinggi juga.

Lebih mencemaskan lagi, kebanyakan orang yang tamat universitas masih bermental job seeker atau menurut Rhenald Kasali bermental passenger. Sertacenderung berpikir kalau dengan selembar ijazahnya itu pasti akan diterima menjadi pegawai kantoran atau pegawai negeri sipil (PNS) nantinya. 

Sekali lagi itulah kebenarannya selama ini, kebanyakan orang malu menjalani pekerjaan yang bukan sesuai dengan ijazahnya. Bahkan menjadi minder atau down kalau ia adalah sarjana pertanian harus kembali pulang ke desa untuk menjadi petani padi bersama keluarganya. Padahal apa yang salah dengan pekerjaan mulia itu? Kenapa justru lebih banyak sarjana pertanian malah menginginkan menjadi pegawai di instansi-intansi bidang pertanian.

Mereka berlomba-lomba memperebutkan lowongan itu, dan pada akhirnya yang tidak kebagian akan berakhir dengan tidak punya pekerjaan. Terjadilah sarjana yang menganggur dan itulah terus terjadi di negeri kita.

Lagi-lagi saya juga sering mendengar tetangga yang bertanya kepada anaknya: ‘masa ijazah sarjana pekerjaannya mau berdagang sembako? Pelihara sapi? Pelihara kambing? malu dong dengan ijasazahnya’

Sebagai manusia yang masih normal, pertanyaannya itu terdengar masuk akal, tetapi terkadang membuat kita merasa malu juga kan? Namun untuk menyikapi persoalan seperti ini apakah Anda akan terfokus pada rasa malu itu?

Sesungguhnya mana yang lebih besar keuntungannya, apakah dengan mempertahankan rasa malu itu, atau terfokus pada masalah kehidupan Anda yang tidak bisa membeli sabun mandi mendapat solusi yang tepat? Mari kita pikirkan situasi itu sebagai pelajaran hidup yang harus kita selesaikan! Jangan sampai keputusan yang kita pilih sekarang akhirnya menjadi penyesalan yang sangat menyedihkan sepuluh atau lima belas tahun mendatang.

Kenapa Anda harus menjadikan ijazah ini sebagai lembaran yang membelenggu kehidupan Anda sendiri? Sudahkah Anda berpikir jika ijazah predikat Caumlaude (penuh pujian) Anda hanya bisa dihargai Rp 300 ribu perbulan? Sungguh menyakitkan.

Bahkan apakah Anda juga masih ingat ketika, Ajik Cok yang hanya mau mencari seseorang karyawan yang bisa bekerja sepenuh hati dan bertanggung jawab untuk Krisna Holding Company-nya?

Bos yang hanya berijazah SMP itu berkata “Saya nggak butuh karyawan yang punya ijazah tinggi atau pengalaman banyak. Yang paling penting adalah mau kerja”. Lagi-lagi selembar ijazah menjadi perbincangan menarik saat ini. Gagasan Ajik Cok mungkin ada benarnya juga, karena sesungguhnya yang perlu kita lakukan adalah kerja keras sampai tuntas.

Kita tahu idealnya, seseorang yang sudah memiliki ijazah tinggi maka Anda punya kesempatan yang lebih banyak lagi untuk berhasil dalam bidang yang ingin dicapai. Sekali lagi saya bertanya, bagaimana dengan orang yang sudah punya ijazah tinggi? Kenapa belum bisa  membawa perubahan apa dalam hidupnya? Bergaji kecil, masih meminta uang pada orang tua, masih ketergantungan dengan kerabat dekat, teman, atau yang lainnya, hidupnya masih numpang sana sini, bahkan banyak yang masih pengangguran, sungguh sakit rasanya dada kita bukan? Mungkin bahasa saya berlebihan mengungkapkan persoalan ini, namun sekali lagi faktanya inilah yang benar-benar terjadi.

Lagi-lagi ada yang menanyakan kenapa mereka yang dulunya unggulan kini bisa gagal.

Seperti yang diungkapkan dalam bukunya Robert Kiyosaki yang berjudul Why A Students Work for C Student and B Students Work for the Government. Robert menjelaskan bahwa pada tahun 1981 Karen Arnold seorang guru besar di Boston University telah melakukan kajian yang mendalam pada siswa yang mendapat pujian.

Profesor Karen Arnold menyatakan bahwa “walaupun siswa-siswa ini memiliki kualitas yang memastikan keberhasilan di sekolah, karakteristik tersebut tidak selalu berarti kesuksesan di dunia nyata. Mereka adalah siswa unggul yang mengetahui cara berprestasi dalam sebuah sistem yang bisa diukur dengan nilai. Namun hal itu tidak menginformasikan apapun tentang bagaimana mereka bereaksi atas perubahan pasang surut kehidupan”. 

Bahkan kini banyak pula kalangan industri yang mengeluhkan bahwa lulusan sekarang banyak yang kurang memiliki sikap yang baik, misalnya tidak dapat memenuhi kontrak kerja, tidak dapat menentukan gaji pertama mereka sendiri tetapi setelah dua bulan bekerja mereka mengeluh tentang gaji yang rendah, kurang dapat bekerja sama, tidak punya leadership, integritas pribadi dipertanyakan, etika kurang, dan sebagainya yang kesemuanya tidak dapat ditelusuri dari nilai yang tinggi dan kelulusan yang tepat waktu semata.

Sekali lagi kesuksesan akademis bukanlah alat prediksi yang baik mengenai produktivitas kerja, dan IQ bukanlah satu-satunya faktor yang menjadi penyebabnya. Siswa unggulan gagal dalam mendedikasikan gairah hidupnya pada satu area yang bisa membuatnya berhasil. Banyak orang dari mereka yang mendapat nilai bagus menjadi cukup sombong atas kecerdasannya. Sungguh meyakinkan kita bahwa, tidak ada korelasi secara positif antara nilai di sekolah, peringkat di kelas, nilai ujian masuk Universitas, dan kesuksesan.

Melalui penelitian yang intensif, Goleman (1998) juga menemukan bahwa kesuksesan seseorang tidak hanya didukung oleh seberapa smart seseorang dalam menerapkan pengetahuan dan mendemonstrasikan keterampilannya, akan tetapi seberapa besar seseorang mampu mengelola dirinya dan interaksi dengan orang lain. Keterampilan tersebut dinamakan dengan kecerdasan emosi.

Terminologi kecerdasan Emosi diperkenalkan pertama kali oleh Salovey dan Mayer untuk menyatakan kualitas-kualitas seseorang, seperti kemampuan memahami perasaan orang lain, empati, dan pengaturan emosi untuk meningkatkan kualitas hidup. Kecerdasan emosi juga meliputi sejumlah keterampilan yang berhubungan dengan keakuratan penilaian tentang emosi diri sendiri dan orang lain, dan kemampuan mengelola perasaan untuk memotivasi, merencanakan, dan meraih tujuan hidup.

Untuk membuka pemahaman kita bersama, saya juga mencoba mengutip motivasi dari Soichiro Honda. Penemu mesin Honda yang merajai jalanan di seluruh dunia pernah mengatakan bahwa “ijazah tak lebih seharga selembar tiket masuk bioskop. Ia lebih percaya pada kreatifitas dan kerja keras, ketimbang selembar ijazah. Hasilnya, ia berhasil membangun perusahaan multinasional dengan ratusan ribu karyawan yang memproduksi sepeda motor dan mobil dengan merk sesuai namanya”. Sungguh luar biasa kekuatan kerja keras dan kreativitas yang dipahami oleh Soichiro.

Jadikan ijazah yang sudah Anda miliki sebagai pendukung karir yang Anda tekuni sekarang. Pastikan bahwa, tidak ada ruginya memiliki ijazah tinggi, tidak ada yang salah dengan apa yang sudah Anda lakukan itu. Tentunya ijazah yang nilainya balance dengan kemampuan Anda. Kita tetap jadikan pendidikan itu sebagai kebutuhan utama yang seimbang. Karena pendidikan yang benar akan membentuk Anda menjadi pelaku hidup yang arif dan bijaksana bagi orang lain. Seperti kata Benjamin Franklin “investasi dalam pendidikan akan membawa bunga yang terbaik”.

Pendidikan adalah atap yang menaungi manusia dari badai kebodohan, dinding yang melindunginya dari kehancuran, dan tanah tempat berpijak yang menjadikannya tetap berdiri selamanya. Buktikan bahwa Anda akan dapat sukses nantinya, dan mampu mengumpulkan pundi-pundi rejeki dengan dukungan gelar dibidang akademis. Jadilah kreatif dengan semua pendidikan yang Anda peroleh dari Universitas. Coba belajar dari sosok-sosok yang banyak berhasil dengan mengoptimalkan gelarnya. Bangkitlah, tidak ada yang tidak bisa seperti pesan Dahlah Iskan dalam bukunya yang ditulis oleh Karmaka Surjaudaja.

Saya telah banyak mengamati orang-orang yang bekerja pada instansi tertentu, ia adalah seorang pendidik. Sebagai seorang tenaga pendidik ternyata ia mengumpulkan pundi-pundi kekayaannya dengan dukungan gelar dan karirnya dibidang akademis. Bukan semata dari pekerjaan yang yang ia lakukan.

Sebagian dari penghasilan yang ia peroleh adalah bunga dari investasi yang dilakukan di perusahaan-perusahaan tertentu, bunga deposito dari komitmennya dalam menabung uang yang ia sisihkan dari pekerjaannya, bahkan banyak pula yang lebih brilian. Ia bekerjasama membentuk sebuah perusahaan-perusahaan besar yang dikelola oleh orang yang dipercayainya dan nyatanya perusahaan-perusahaan itu berhasil dibawah kendalinya.

Kreatif bukan? Inilah sebenarnya pemikiran dan bukti-bukti nyata bahwa kita jangan hanya berpikir dari satu sudut pandang. Banyak orang mengatakan, kalau ternyata orang-orang sukses bisa sukses tanpa ijazah seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya di muka. Itu benar juga, itupun kalau Anda berani menjamin diri Anda sendiri kalau punya kemampuan dan intuisi sukses seperti mereka. Produktif dan kreatif seperti mereka walaupun tanpa ijazah. Begitupun yang sudah punya ijazah tinggi, Anda pastinya bisa melakukan lebih dari mereka yang tanpa ijazah. Seperti kata Ajik Cok ‘lihat, tiru, dan kembangkanlah apa yang telah mereka lakukan’. Jadilah produktif dan kreatif…!

Lakukanlah perubahan dengan bekal ijazah yang telah Anda miliki. Fokuslah pada pekerjaan yang sesuai bidang Anda, yang pastinya akan penuh tantangan tapi inilah awalan yang harus Anda lalui.

Perubahan tidak akan terjadi sampai kita mengambil keputusan untuk melakukannya. Setiap perjalan besar senantiasa berawal dari langkah kecil. Berpikirlah dalam sudut pandang lain lagi, jadikan pendidikan tinggi Anda menjadi penting untuk Anda, anak-anak, dan istri Anda nantinya. Saat ini tidak ada jaminan untuk Anda yang berijazah tinggi, yang ber-IPK tinggi di masa lalu kemudian sukses di masa depan. Mereka yang beradaptasi pada perubahanlah yang akan mencapai puncak tertinggi. [T]

Tags: Dunia KerjakampusPendidikanPendidikan Tinggiuniversitas
Share40TweetSendShareSend
Previous Post

Hilangnya Pura, Larinya “Pengempon”

Next Post

Kebebasan, Kedamaian dan Ketegangan

Putu Susila Darma

Putu Susila Darma

Bernama lengkap I Putu Susila Darma. Magister Pendidikan Dasar yang lahir di Patas Gerokgak, Buleleng. Tinggal di Singaraja, Bali

Related Posts

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

Read moreDetails

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails
Next Post
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Kebebasan, Kedamaian dan Ketegangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co