12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ijazah Pendidikan Tinggi: Bisa Menjadi Baik, Bisa Menjadi Buruk

Putu Susila Darma by Putu Susila Darma
August 27, 2019
in Opini
Ijazah Pendidikan Tinggi: Bisa Menjadi Baik, Bisa Menjadi Buruk

Foti ilustrasi oleh Mursal Buyung

“Kehidupan adalah 10% apa yang terjadi pada Anda dan 90% adalah bagaimana Anda meresponsnya.” -Lou Holtz-

___

“Di mana kuliah? Jurusan apa? Selamat ya kamu sudah sukses..” begitulah kira-kira sapaan Pak Gede, salah satu tetangga saya kepada teman-temannya kala itu.

Sungguh merasa bahagia mereka karena pujian-pujian itu benar-benar tulus diucapkan oleh Pak Gede. Mereka senang, karena saat itu menjadi mahasiswa atau generasi yang mampu melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi adalah suatu kabar yang luar biasa di desa saya. Karena saat itu orang tua yang tinggal di desa berharap banyak supaya anaknya kelak akan mampu memberikan perubahan pada ekonomi keluarga melalui gelar yang dimilikinya.

Namun apa yang telah terjadi pada teman-teman Pak Gede 6 tahun kemudian setelah mereka menyelesaikan pedidikan sarjananya. Secara tidak sengaja ia bertemu dengan teman-temannya di sebuah parkiran belakang gedung perkantoran. Pak Gede saling sapa dan saling berbagi kenangan dengan temannya masing-masing karena memang sudah lama tidak pertemu.

Pak Gede memulai pembicaraan, “Enak ya jadi anak kuliahan sekarang pasti sudah punya kerjaan bagus dan dulunya kalian pasti gampang nyari lowongan kerja”.

Suasana sempat hening sejenak. Salah satu teman Pak Gede langsung mencurahkan isi hatinya dengan berkata,  “Sukses apanya? Saya sudah setahun menganggur Pak Gede, jaman sekarang susah sekali cari pekerjaan”

Teman yang lagi satunyapun ikut menambahkan pembicaraan dalam pertemuan singkat di sebuah halaman parkir itu. “Saya sudah satu tahun lebih bekerja, namun gaji saya kecil sekali terkadang untuk membeli sabun mandipun saya tidak bisa.” 

Itulah obrolan mereka dari perjumpaan singkat di sebuah parkiran. Percakapan-percakapan singkat seperti itulah yang juga sering saya dengar dari kebanyakan orang sampai sekarang. Inilah yang harusnya segera kita sadari.

Pemberian kata selamat yang diucapkan  oleh Pak Gede ketika Anda mulai mendaftar kuliah adalah suatu permulaan bagi Anda menuju perjuangan yang sebenarnya masih jauh di depan Anda. Saya mengakui ketika kita bisa berhasil duduk di ruang kelas perguruan tinggi saja adalah suatu kesuksesan besar. Tapi lebih dari itu, lebih dari yang kita tahu.

Kesuksesan jangka panjang yang benar-benar harusnya mampu kita dapatkan adalah memiliki pekerjaan yang menyenangkan. Pekerjaan yang prospektus memberikan kita kenyamanan berdasarkan minat yang kita inginkan. Pekerjaan yang benar-benar memuaskan batin kita, meningkatkan kesehatan kita, membahagiakan kita dalam kondisi apapun ketika bekerja, dan tentunya memberi dampak ekonomi yang tinggi dalam jangka panjang seperti harapan keluarga yang menaruh harapan besar dari Anda.

Hari ini saya bertanya lagi kepada Anda, kenapa ijazah tinggi bisa menjadi baik dan bisa menjadi buruk di mata Anda? Mungkinkah selama ini lembaran ini yang memenjarakan mental Anda?

Sangat disayangkan kalau jaman sekarang kita terlalu banyak berpikir, jika ijazah kita kualifikasinya bidang A, maka pekerjaan kita harus pada bidang A juga. Kalau kita sudah punya ijazah tinggi, maka kita akan mendapat pekerjaan yang layak dan bergaji tinggi juga.

Lebih mencemaskan lagi, kebanyakan orang yang tamat universitas masih bermental job seeker atau menurut Rhenald Kasali bermental passenger. Sertacenderung berpikir kalau dengan selembar ijazahnya itu pasti akan diterima menjadi pegawai kantoran atau pegawai negeri sipil (PNS) nantinya. 

Sekali lagi itulah kebenarannya selama ini, kebanyakan orang malu menjalani pekerjaan yang bukan sesuai dengan ijazahnya. Bahkan menjadi minder atau down kalau ia adalah sarjana pertanian harus kembali pulang ke desa untuk menjadi petani padi bersama keluarganya. Padahal apa yang salah dengan pekerjaan mulia itu? Kenapa justru lebih banyak sarjana pertanian malah menginginkan menjadi pegawai di instansi-intansi bidang pertanian.

Mereka berlomba-lomba memperebutkan lowongan itu, dan pada akhirnya yang tidak kebagian akan berakhir dengan tidak punya pekerjaan. Terjadilah sarjana yang menganggur dan itulah terus terjadi di negeri kita.

Lagi-lagi saya juga sering mendengar tetangga yang bertanya kepada anaknya: ‘masa ijazah sarjana pekerjaannya mau berdagang sembako? Pelihara sapi? Pelihara kambing? malu dong dengan ijasazahnya’

Sebagai manusia yang masih normal, pertanyaannya itu terdengar masuk akal, tetapi terkadang membuat kita merasa malu juga kan? Namun untuk menyikapi persoalan seperti ini apakah Anda akan terfokus pada rasa malu itu?

Sesungguhnya mana yang lebih besar keuntungannya, apakah dengan mempertahankan rasa malu itu, atau terfokus pada masalah kehidupan Anda yang tidak bisa membeli sabun mandi mendapat solusi yang tepat? Mari kita pikirkan situasi itu sebagai pelajaran hidup yang harus kita selesaikan! Jangan sampai keputusan yang kita pilih sekarang akhirnya menjadi penyesalan yang sangat menyedihkan sepuluh atau lima belas tahun mendatang.

Kenapa Anda harus menjadikan ijazah ini sebagai lembaran yang membelenggu kehidupan Anda sendiri? Sudahkah Anda berpikir jika ijazah predikat Caumlaude (penuh pujian) Anda hanya bisa dihargai Rp 300 ribu perbulan? Sungguh menyakitkan.

Bahkan apakah Anda juga masih ingat ketika, Ajik Cok yang hanya mau mencari seseorang karyawan yang bisa bekerja sepenuh hati dan bertanggung jawab untuk Krisna Holding Company-nya?

Bos yang hanya berijazah SMP itu berkata “Saya nggak butuh karyawan yang punya ijazah tinggi atau pengalaman banyak. Yang paling penting adalah mau kerja”. Lagi-lagi selembar ijazah menjadi perbincangan menarik saat ini. Gagasan Ajik Cok mungkin ada benarnya juga, karena sesungguhnya yang perlu kita lakukan adalah kerja keras sampai tuntas.

Kita tahu idealnya, seseorang yang sudah memiliki ijazah tinggi maka Anda punya kesempatan yang lebih banyak lagi untuk berhasil dalam bidang yang ingin dicapai. Sekali lagi saya bertanya, bagaimana dengan orang yang sudah punya ijazah tinggi? Kenapa belum bisa  membawa perubahan apa dalam hidupnya? Bergaji kecil, masih meminta uang pada orang tua, masih ketergantungan dengan kerabat dekat, teman, atau yang lainnya, hidupnya masih numpang sana sini, bahkan banyak yang masih pengangguran, sungguh sakit rasanya dada kita bukan? Mungkin bahasa saya berlebihan mengungkapkan persoalan ini, namun sekali lagi faktanya inilah yang benar-benar terjadi.

Lagi-lagi ada yang menanyakan kenapa mereka yang dulunya unggulan kini bisa gagal.

Seperti yang diungkapkan dalam bukunya Robert Kiyosaki yang berjudul Why A Students Work for C Student and B Students Work for the Government. Robert menjelaskan bahwa pada tahun 1981 Karen Arnold seorang guru besar di Boston University telah melakukan kajian yang mendalam pada siswa yang mendapat pujian.

Profesor Karen Arnold menyatakan bahwa “walaupun siswa-siswa ini memiliki kualitas yang memastikan keberhasilan di sekolah, karakteristik tersebut tidak selalu berarti kesuksesan di dunia nyata. Mereka adalah siswa unggul yang mengetahui cara berprestasi dalam sebuah sistem yang bisa diukur dengan nilai. Namun hal itu tidak menginformasikan apapun tentang bagaimana mereka bereaksi atas perubahan pasang surut kehidupan”. 

Bahkan kini banyak pula kalangan industri yang mengeluhkan bahwa lulusan sekarang banyak yang kurang memiliki sikap yang baik, misalnya tidak dapat memenuhi kontrak kerja, tidak dapat menentukan gaji pertama mereka sendiri tetapi setelah dua bulan bekerja mereka mengeluh tentang gaji yang rendah, kurang dapat bekerja sama, tidak punya leadership, integritas pribadi dipertanyakan, etika kurang, dan sebagainya yang kesemuanya tidak dapat ditelusuri dari nilai yang tinggi dan kelulusan yang tepat waktu semata.

Sekali lagi kesuksesan akademis bukanlah alat prediksi yang baik mengenai produktivitas kerja, dan IQ bukanlah satu-satunya faktor yang menjadi penyebabnya. Siswa unggulan gagal dalam mendedikasikan gairah hidupnya pada satu area yang bisa membuatnya berhasil. Banyak orang dari mereka yang mendapat nilai bagus menjadi cukup sombong atas kecerdasannya. Sungguh meyakinkan kita bahwa, tidak ada korelasi secara positif antara nilai di sekolah, peringkat di kelas, nilai ujian masuk Universitas, dan kesuksesan.

Melalui penelitian yang intensif, Goleman (1998) juga menemukan bahwa kesuksesan seseorang tidak hanya didukung oleh seberapa smart seseorang dalam menerapkan pengetahuan dan mendemonstrasikan keterampilannya, akan tetapi seberapa besar seseorang mampu mengelola dirinya dan interaksi dengan orang lain. Keterampilan tersebut dinamakan dengan kecerdasan emosi.

Terminologi kecerdasan Emosi diperkenalkan pertama kali oleh Salovey dan Mayer untuk menyatakan kualitas-kualitas seseorang, seperti kemampuan memahami perasaan orang lain, empati, dan pengaturan emosi untuk meningkatkan kualitas hidup. Kecerdasan emosi juga meliputi sejumlah keterampilan yang berhubungan dengan keakuratan penilaian tentang emosi diri sendiri dan orang lain, dan kemampuan mengelola perasaan untuk memotivasi, merencanakan, dan meraih tujuan hidup.

Untuk membuka pemahaman kita bersama, saya juga mencoba mengutip motivasi dari Soichiro Honda. Penemu mesin Honda yang merajai jalanan di seluruh dunia pernah mengatakan bahwa “ijazah tak lebih seharga selembar tiket masuk bioskop. Ia lebih percaya pada kreatifitas dan kerja keras, ketimbang selembar ijazah. Hasilnya, ia berhasil membangun perusahaan multinasional dengan ratusan ribu karyawan yang memproduksi sepeda motor dan mobil dengan merk sesuai namanya”. Sungguh luar biasa kekuatan kerja keras dan kreativitas yang dipahami oleh Soichiro.

Jadikan ijazah yang sudah Anda miliki sebagai pendukung karir yang Anda tekuni sekarang. Pastikan bahwa, tidak ada ruginya memiliki ijazah tinggi, tidak ada yang salah dengan apa yang sudah Anda lakukan itu. Tentunya ijazah yang nilainya balance dengan kemampuan Anda. Kita tetap jadikan pendidikan itu sebagai kebutuhan utama yang seimbang. Karena pendidikan yang benar akan membentuk Anda menjadi pelaku hidup yang arif dan bijaksana bagi orang lain. Seperti kata Benjamin Franklin “investasi dalam pendidikan akan membawa bunga yang terbaik”.

Pendidikan adalah atap yang menaungi manusia dari badai kebodohan, dinding yang melindunginya dari kehancuran, dan tanah tempat berpijak yang menjadikannya tetap berdiri selamanya. Buktikan bahwa Anda akan dapat sukses nantinya, dan mampu mengumpulkan pundi-pundi rejeki dengan dukungan gelar dibidang akademis. Jadilah kreatif dengan semua pendidikan yang Anda peroleh dari Universitas. Coba belajar dari sosok-sosok yang banyak berhasil dengan mengoptimalkan gelarnya. Bangkitlah, tidak ada yang tidak bisa seperti pesan Dahlah Iskan dalam bukunya yang ditulis oleh Karmaka Surjaudaja.

Saya telah banyak mengamati orang-orang yang bekerja pada instansi tertentu, ia adalah seorang pendidik. Sebagai seorang tenaga pendidik ternyata ia mengumpulkan pundi-pundi kekayaannya dengan dukungan gelar dan karirnya dibidang akademis. Bukan semata dari pekerjaan yang yang ia lakukan.

Sebagian dari penghasilan yang ia peroleh adalah bunga dari investasi yang dilakukan di perusahaan-perusahaan tertentu, bunga deposito dari komitmennya dalam menabung uang yang ia sisihkan dari pekerjaannya, bahkan banyak pula yang lebih brilian. Ia bekerjasama membentuk sebuah perusahaan-perusahaan besar yang dikelola oleh orang yang dipercayainya dan nyatanya perusahaan-perusahaan itu berhasil dibawah kendalinya.

Kreatif bukan? Inilah sebenarnya pemikiran dan bukti-bukti nyata bahwa kita jangan hanya berpikir dari satu sudut pandang. Banyak orang mengatakan, kalau ternyata orang-orang sukses bisa sukses tanpa ijazah seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya di muka. Itu benar juga, itupun kalau Anda berani menjamin diri Anda sendiri kalau punya kemampuan dan intuisi sukses seperti mereka. Produktif dan kreatif seperti mereka walaupun tanpa ijazah. Begitupun yang sudah punya ijazah tinggi, Anda pastinya bisa melakukan lebih dari mereka yang tanpa ijazah. Seperti kata Ajik Cok ‘lihat, tiru, dan kembangkanlah apa yang telah mereka lakukan’. Jadilah produktif dan kreatif…!

Lakukanlah perubahan dengan bekal ijazah yang telah Anda miliki. Fokuslah pada pekerjaan yang sesuai bidang Anda, yang pastinya akan penuh tantangan tapi inilah awalan yang harus Anda lalui.

Perubahan tidak akan terjadi sampai kita mengambil keputusan untuk melakukannya. Setiap perjalan besar senantiasa berawal dari langkah kecil. Berpikirlah dalam sudut pandang lain lagi, jadikan pendidikan tinggi Anda menjadi penting untuk Anda, anak-anak, dan istri Anda nantinya. Saat ini tidak ada jaminan untuk Anda yang berijazah tinggi, yang ber-IPK tinggi di masa lalu kemudian sukses di masa depan. Mereka yang beradaptasi pada perubahanlah yang akan mencapai puncak tertinggi. [T]

Tags: Dunia KerjakampusPendidikanPendidikan Tinggiuniversitas
Share40TweetSendShareSend
Previous Post

Hilangnya Pura, Larinya “Pengempon”

Next Post

Kebebasan, Kedamaian dan Ketegangan

Putu Susila Darma

Putu Susila Darma

Bernama lengkap I Putu Susila Darma. Magister Pendidikan Dasar yang lahir di Patas Gerokgak, Buleleng. Tinggal di Singaraja, Bali

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Kebebasan, Kedamaian dan Ketegangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co