14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ijazah Pendidikan Tinggi: Bisa Menjadi Baik, Bisa Menjadi Buruk

Putu Susila Darma by Putu Susila Darma
August 27, 2019
in Opini
Ijazah Pendidikan Tinggi: Bisa Menjadi Baik, Bisa Menjadi Buruk

Foti ilustrasi oleh Mursal Buyung

“Kehidupan adalah 10% apa yang terjadi pada Anda dan 90% adalah bagaimana Anda meresponsnya.” -Lou Holtz-

___

“Di mana kuliah? Jurusan apa? Selamat ya kamu sudah sukses..” begitulah kira-kira sapaan Pak Gede, salah satu tetangga saya kepada teman-temannya kala itu.

Sungguh merasa bahagia mereka karena pujian-pujian itu benar-benar tulus diucapkan oleh Pak Gede. Mereka senang, karena saat itu menjadi mahasiswa atau generasi yang mampu melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi adalah suatu kabar yang luar biasa di desa saya. Karena saat itu orang tua yang tinggal di desa berharap banyak supaya anaknya kelak akan mampu memberikan perubahan pada ekonomi keluarga melalui gelar yang dimilikinya.

Namun apa yang telah terjadi pada teman-teman Pak Gede 6 tahun kemudian setelah mereka menyelesaikan pedidikan sarjananya. Secara tidak sengaja ia bertemu dengan teman-temannya di sebuah parkiran belakang gedung perkantoran. Pak Gede saling sapa dan saling berbagi kenangan dengan temannya masing-masing karena memang sudah lama tidak pertemu.

Pak Gede memulai pembicaraan, “Enak ya jadi anak kuliahan sekarang pasti sudah punya kerjaan bagus dan dulunya kalian pasti gampang nyari lowongan kerja”.

Suasana sempat hening sejenak. Salah satu teman Pak Gede langsung mencurahkan isi hatinya dengan berkata,  “Sukses apanya? Saya sudah setahun menganggur Pak Gede, jaman sekarang susah sekali cari pekerjaan”

Teman yang lagi satunyapun ikut menambahkan pembicaraan dalam pertemuan singkat di sebuah halaman parkir itu. “Saya sudah satu tahun lebih bekerja, namun gaji saya kecil sekali terkadang untuk membeli sabun mandipun saya tidak bisa.” 

Itulah obrolan mereka dari perjumpaan singkat di sebuah parkiran. Percakapan-percakapan singkat seperti itulah yang juga sering saya dengar dari kebanyakan orang sampai sekarang. Inilah yang harusnya segera kita sadari.

Pemberian kata selamat yang diucapkan  oleh Pak Gede ketika Anda mulai mendaftar kuliah adalah suatu permulaan bagi Anda menuju perjuangan yang sebenarnya masih jauh di depan Anda. Saya mengakui ketika kita bisa berhasil duduk di ruang kelas perguruan tinggi saja adalah suatu kesuksesan besar. Tapi lebih dari itu, lebih dari yang kita tahu.

Kesuksesan jangka panjang yang benar-benar harusnya mampu kita dapatkan adalah memiliki pekerjaan yang menyenangkan. Pekerjaan yang prospektus memberikan kita kenyamanan berdasarkan minat yang kita inginkan. Pekerjaan yang benar-benar memuaskan batin kita, meningkatkan kesehatan kita, membahagiakan kita dalam kondisi apapun ketika bekerja, dan tentunya memberi dampak ekonomi yang tinggi dalam jangka panjang seperti harapan keluarga yang menaruh harapan besar dari Anda.

Hari ini saya bertanya lagi kepada Anda, kenapa ijazah tinggi bisa menjadi baik dan bisa menjadi buruk di mata Anda? Mungkinkah selama ini lembaran ini yang memenjarakan mental Anda?

Sangat disayangkan kalau jaman sekarang kita terlalu banyak berpikir, jika ijazah kita kualifikasinya bidang A, maka pekerjaan kita harus pada bidang A juga. Kalau kita sudah punya ijazah tinggi, maka kita akan mendapat pekerjaan yang layak dan bergaji tinggi juga.

Lebih mencemaskan lagi, kebanyakan orang yang tamat universitas masih bermental job seeker atau menurut Rhenald Kasali bermental passenger. Sertacenderung berpikir kalau dengan selembar ijazahnya itu pasti akan diterima menjadi pegawai kantoran atau pegawai negeri sipil (PNS) nantinya. 

Sekali lagi itulah kebenarannya selama ini, kebanyakan orang malu menjalani pekerjaan yang bukan sesuai dengan ijazahnya. Bahkan menjadi minder atau down kalau ia adalah sarjana pertanian harus kembali pulang ke desa untuk menjadi petani padi bersama keluarganya. Padahal apa yang salah dengan pekerjaan mulia itu? Kenapa justru lebih banyak sarjana pertanian malah menginginkan menjadi pegawai di instansi-intansi bidang pertanian.

Mereka berlomba-lomba memperebutkan lowongan itu, dan pada akhirnya yang tidak kebagian akan berakhir dengan tidak punya pekerjaan. Terjadilah sarjana yang menganggur dan itulah terus terjadi di negeri kita.

Lagi-lagi saya juga sering mendengar tetangga yang bertanya kepada anaknya: ‘masa ijazah sarjana pekerjaannya mau berdagang sembako? Pelihara sapi? Pelihara kambing? malu dong dengan ijasazahnya’

Sebagai manusia yang masih normal, pertanyaannya itu terdengar masuk akal, tetapi terkadang membuat kita merasa malu juga kan? Namun untuk menyikapi persoalan seperti ini apakah Anda akan terfokus pada rasa malu itu?

Sesungguhnya mana yang lebih besar keuntungannya, apakah dengan mempertahankan rasa malu itu, atau terfokus pada masalah kehidupan Anda yang tidak bisa membeli sabun mandi mendapat solusi yang tepat? Mari kita pikirkan situasi itu sebagai pelajaran hidup yang harus kita selesaikan! Jangan sampai keputusan yang kita pilih sekarang akhirnya menjadi penyesalan yang sangat menyedihkan sepuluh atau lima belas tahun mendatang.

Kenapa Anda harus menjadikan ijazah ini sebagai lembaran yang membelenggu kehidupan Anda sendiri? Sudahkah Anda berpikir jika ijazah predikat Caumlaude (penuh pujian) Anda hanya bisa dihargai Rp 300 ribu perbulan? Sungguh menyakitkan.

Bahkan apakah Anda juga masih ingat ketika, Ajik Cok yang hanya mau mencari seseorang karyawan yang bisa bekerja sepenuh hati dan bertanggung jawab untuk Krisna Holding Company-nya?

Bos yang hanya berijazah SMP itu berkata “Saya nggak butuh karyawan yang punya ijazah tinggi atau pengalaman banyak. Yang paling penting adalah mau kerja”. Lagi-lagi selembar ijazah menjadi perbincangan menarik saat ini. Gagasan Ajik Cok mungkin ada benarnya juga, karena sesungguhnya yang perlu kita lakukan adalah kerja keras sampai tuntas.

Kita tahu idealnya, seseorang yang sudah memiliki ijazah tinggi maka Anda punya kesempatan yang lebih banyak lagi untuk berhasil dalam bidang yang ingin dicapai. Sekali lagi saya bertanya, bagaimana dengan orang yang sudah punya ijazah tinggi? Kenapa belum bisa  membawa perubahan apa dalam hidupnya? Bergaji kecil, masih meminta uang pada orang tua, masih ketergantungan dengan kerabat dekat, teman, atau yang lainnya, hidupnya masih numpang sana sini, bahkan banyak yang masih pengangguran, sungguh sakit rasanya dada kita bukan? Mungkin bahasa saya berlebihan mengungkapkan persoalan ini, namun sekali lagi faktanya inilah yang benar-benar terjadi.

Lagi-lagi ada yang menanyakan kenapa mereka yang dulunya unggulan kini bisa gagal.

Seperti yang diungkapkan dalam bukunya Robert Kiyosaki yang berjudul Why A Students Work for C Student and B Students Work for the Government. Robert menjelaskan bahwa pada tahun 1981 Karen Arnold seorang guru besar di Boston University telah melakukan kajian yang mendalam pada siswa yang mendapat pujian.

Profesor Karen Arnold menyatakan bahwa “walaupun siswa-siswa ini memiliki kualitas yang memastikan keberhasilan di sekolah, karakteristik tersebut tidak selalu berarti kesuksesan di dunia nyata. Mereka adalah siswa unggul yang mengetahui cara berprestasi dalam sebuah sistem yang bisa diukur dengan nilai. Namun hal itu tidak menginformasikan apapun tentang bagaimana mereka bereaksi atas perubahan pasang surut kehidupan”. 

Bahkan kini banyak pula kalangan industri yang mengeluhkan bahwa lulusan sekarang banyak yang kurang memiliki sikap yang baik, misalnya tidak dapat memenuhi kontrak kerja, tidak dapat menentukan gaji pertama mereka sendiri tetapi setelah dua bulan bekerja mereka mengeluh tentang gaji yang rendah, kurang dapat bekerja sama, tidak punya leadership, integritas pribadi dipertanyakan, etika kurang, dan sebagainya yang kesemuanya tidak dapat ditelusuri dari nilai yang tinggi dan kelulusan yang tepat waktu semata.

Sekali lagi kesuksesan akademis bukanlah alat prediksi yang baik mengenai produktivitas kerja, dan IQ bukanlah satu-satunya faktor yang menjadi penyebabnya. Siswa unggulan gagal dalam mendedikasikan gairah hidupnya pada satu area yang bisa membuatnya berhasil. Banyak orang dari mereka yang mendapat nilai bagus menjadi cukup sombong atas kecerdasannya. Sungguh meyakinkan kita bahwa, tidak ada korelasi secara positif antara nilai di sekolah, peringkat di kelas, nilai ujian masuk Universitas, dan kesuksesan.

Melalui penelitian yang intensif, Goleman (1998) juga menemukan bahwa kesuksesan seseorang tidak hanya didukung oleh seberapa smart seseorang dalam menerapkan pengetahuan dan mendemonstrasikan keterampilannya, akan tetapi seberapa besar seseorang mampu mengelola dirinya dan interaksi dengan orang lain. Keterampilan tersebut dinamakan dengan kecerdasan emosi.

Terminologi kecerdasan Emosi diperkenalkan pertama kali oleh Salovey dan Mayer untuk menyatakan kualitas-kualitas seseorang, seperti kemampuan memahami perasaan orang lain, empati, dan pengaturan emosi untuk meningkatkan kualitas hidup. Kecerdasan emosi juga meliputi sejumlah keterampilan yang berhubungan dengan keakuratan penilaian tentang emosi diri sendiri dan orang lain, dan kemampuan mengelola perasaan untuk memotivasi, merencanakan, dan meraih tujuan hidup.

Untuk membuka pemahaman kita bersama, saya juga mencoba mengutip motivasi dari Soichiro Honda. Penemu mesin Honda yang merajai jalanan di seluruh dunia pernah mengatakan bahwa “ijazah tak lebih seharga selembar tiket masuk bioskop. Ia lebih percaya pada kreatifitas dan kerja keras, ketimbang selembar ijazah. Hasilnya, ia berhasil membangun perusahaan multinasional dengan ratusan ribu karyawan yang memproduksi sepeda motor dan mobil dengan merk sesuai namanya”. Sungguh luar biasa kekuatan kerja keras dan kreativitas yang dipahami oleh Soichiro.

Jadikan ijazah yang sudah Anda miliki sebagai pendukung karir yang Anda tekuni sekarang. Pastikan bahwa, tidak ada ruginya memiliki ijazah tinggi, tidak ada yang salah dengan apa yang sudah Anda lakukan itu. Tentunya ijazah yang nilainya balance dengan kemampuan Anda. Kita tetap jadikan pendidikan itu sebagai kebutuhan utama yang seimbang. Karena pendidikan yang benar akan membentuk Anda menjadi pelaku hidup yang arif dan bijaksana bagi orang lain. Seperti kata Benjamin Franklin “investasi dalam pendidikan akan membawa bunga yang terbaik”.

Pendidikan adalah atap yang menaungi manusia dari badai kebodohan, dinding yang melindunginya dari kehancuran, dan tanah tempat berpijak yang menjadikannya tetap berdiri selamanya. Buktikan bahwa Anda akan dapat sukses nantinya, dan mampu mengumpulkan pundi-pundi rejeki dengan dukungan gelar dibidang akademis. Jadilah kreatif dengan semua pendidikan yang Anda peroleh dari Universitas. Coba belajar dari sosok-sosok yang banyak berhasil dengan mengoptimalkan gelarnya. Bangkitlah, tidak ada yang tidak bisa seperti pesan Dahlah Iskan dalam bukunya yang ditulis oleh Karmaka Surjaudaja.

Saya telah banyak mengamati orang-orang yang bekerja pada instansi tertentu, ia adalah seorang pendidik. Sebagai seorang tenaga pendidik ternyata ia mengumpulkan pundi-pundi kekayaannya dengan dukungan gelar dan karirnya dibidang akademis. Bukan semata dari pekerjaan yang yang ia lakukan.

Sebagian dari penghasilan yang ia peroleh adalah bunga dari investasi yang dilakukan di perusahaan-perusahaan tertentu, bunga deposito dari komitmennya dalam menabung uang yang ia sisihkan dari pekerjaannya, bahkan banyak pula yang lebih brilian. Ia bekerjasama membentuk sebuah perusahaan-perusahaan besar yang dikelola oleh orang yang dipercayainya dan nyatanya perusahaan-perusahaan itu berhasil dibawah kendalinya.

Kreatif bukan? Inilah sebenarnya pemikiran dan bukti-bukti nyata bahwa kita jangan hanya berpikir dari satu sudut pandang. Banyak orang mengatakan, kalau ternyata orang-orang sukses bisa sukses tanpa ijazah seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya di muka. Itu benar juga, itupun kalau Anda berani menjamin diri Anda sendiri kalau punya kemampuan dan intuisi sukses seperti mereka. Produktif dan kreatif seperti mereka walaupun tanpa ijazah. Begitupun yang sudah punya ijazah tinggi, Anda pastinya bisa melakukan lebih dari mereka yang tanpa ijazah. Seperti kata Ajik Cok ‘lihat, tiru, dan kembangkanlah apa yang telah mereka lakukan’. Jadilah produktif dan kreatif…!

Lakukanlah perubahan dengan bekal ijazah yang telah Anda miliki. Fokuslah pada pekerjaan yang sesuai bidang Anda, yang pastinya akan penuh tantangan tapi inilah awalan yang harus Anda lalui.

Perubahan tidak akan terjadi sampai kita mengambil keputusan untuk melakukannya. Setiap perjalan besar senantiasa berawal dari langkah kecil. Berpikirlah dalam sudut pandang lain lagi, jadikan pendidikan tinggi Anda menjadi penting untuk Anda, anak-anak, dan istri Anda nantinya. Saat ini tidak ada jaminan untuk Anda yang berijazah tinggi, yang ber-IPK tinggi di masa lalu kemudian sukses di masa depan. Mereka yang beradaptasi pada perubahanlah yang akan mencapai puncak tertinggi. [T]

Tags: Dunia KerjakampusPendidikanPendidikan Tinggiuniversitas
Share40TweetSendShareSend
Previous Post

Hilangnya Pura, Larinya “Pengempon”

Next Post

Kebebasan, Kedamaian dan Ketegangan

Putu Susila Darma

Putu Susila Darma

Bernama lengkap I Putu Susila Darma. Magister Pendidikan Dasar yang lahir di Patas Gerokgak, Buleleng. Tinggal di Singaraja, Bali

Related Posts

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails
Next Post
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Kebebasan, Kedamaian dan Ketegangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co