16 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Keseimbangan ‘Hulu Teben’, Jalan Seni Gede Sukarda

I Nyoman Sutarjana by I Nyoman Sutarjana
December 31, 2025
in Ulas Rupa
Keseimbangan ‘Hulu Teben’, Jalan Seni Gede Sukarda

I Gede Sukarda

SEBAGAI orang Bali tentunya tidak asing dengan istilah hulu teben. Hulu teben sering menjadi dasar perilaku kita contohnya ketika kita tidur. Orang tua kita akan mengingatkan tentang hulu teben. Kita disuruh tidur menghadap ke hulu, menghadap ke utara atau timur. Utara dan timur adalah arah yang disucikan menurut Hindu. Utara adalah simbol dari gunung, timur adalah arah matahari terbit. Selatan adalah simbol dari laut, barat adalah arah matahari terbenam. Dari sinilah muncul istilah Nyegara Gunung, pemuliaan terhadap gunung dan lautan.

Pemerintah Provinsi Bali dengan visi yang kita kenal dengan Nangun Sat Kerthi Loka Bali berusaha membangun secala holistik, membangun alam Bali, sumber daya manusia Bali, adat dan budaya Bali. Sat Kerthi adalah ajaran Agama Hindu yang berarti enam jalan pelestarian Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Sat Kerthi meliputi Atma Kerthi, Jagat Kerthi, Wana Kerthi, Danu Kerthi, Jana Kerthi dan Segara Kerthi. Dengan menjalankan Sat Kerthi akan terwujud kesejahteraan dari hulu ke teben, dari hulu ke hilir, dari gunung ke laut.

Dari semua program Sat Kerthi yang pemerintah canangkan penulis tertarik dengan Segara Kerthi. Kenapa? Karena laut seringkali kita abaikan, kita menganggap gunung sebagai tempat suci sementara laut bersifat profan. Jika diibaratkan dengan manusia, hulu adalah kepala bagian yang kita anggap suci. Teben adalah kaki bagian yang kita anggap profan. Padahal kepala dan kaki sama pentingnya membentuk keutuhan manusia.

Laut juga identik dengan sampah, tempat pembuangan akhir sampah di daratan. Bahkan Melasti yang merupakan salah satu dari penerapan Segara Kerthi justru sering meninggalkan sampah. Warga yang menggelar upacara penyucian Bhuana Agung, tidak berselang lama meninggalkan sampah yang mengotori Bhuana Agung itu sendiri. Sudah saatnya kita menerapkan Segara Kerthi tidak hanya dari tataran upacara melainkan melalui tindakan nyata menjaga laut dari tumpukan sampah.

Salah satu sosok yang telah menerapkan Segara Kerthi dalam hidupnya adalah I Gede Sukarda. Ia konsisten menjaga Pantai Jasri, Karangasem, dari tumpukan sampah seperti kayu, triplek, kawat, tali tambang. Sampah-sampah itu ia bawa pulang untuk ia kreasikan menjadi karya seni. Jalan seni bagi beliau bisa menjadi solusi permasalahan sampah di laut. Langkah kecil ini banyak menginspirasi orang khususnya penulis sendiri untuk menerapkan Segara Kerthi secara nyata dalam kehidupan.

Nyegara Gunung merupakan simbol keseimbangan. Gunung sebagai simbol purusa atau asas kejiwaan dan laut adalah simbol pradana atau asas kebendaan. Kita hendaknya memuliakan gunung dan laut secara seimbang. Konsep keseimbangan ini tercermin pada pembangunan Pura Padma Bhuana. Pura Padma Bhuana adalah pura yang dibangun di sembilan arah mata angin. Ini menyiratkan di segala tempat adalah tempat bersemayamnya Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa.

Gunung dan laut adalah ayah dan ibu kita darinya muncul penciptaan. Air yang menguap dari laut kemudian menjadi awan dan hujan. Siklus ini terjadi secara alami yang disebut dengan Cakra Yadnya atau perputaran yadnya. Bhagawad Gita III, 14 menyebutkan adanya makhluk hidup karena makanan, adanya makanan karena adanya hujan, adanya hujan karena adanya yadnya, adanya yadnya karena adanya karma.

Sloka tersebut menyiratkan pentingnya hujan, terjadinya hujan karena adanya keseimbangan gunung dan laut. Oleh karenanya kita harus memperlakukan gunung dan lautan seperti memperlakukan ayah dan ibu kita. Laut hanya kita sadari peranannya ketika melaksanakan melasti dimana semua umat berbondong-bondong ke laut mengiringi Ista Dewata yang dipuja. Melasti yang tujuannya menyucikan Bhuana Agung dengan memohon air penyucian di laut. Justru dalam kenyataannya seringkali upacara melasti mendatangkan sampah, sampah upakara dan sampah plastik.

Upaya pelestarian tidak hanya dilakukan di gunung tetapi juga di laut. Laut selama ini sudah sabar menampung sampah manusia selayaknya kesabaran seorang ibu. Kita bisa menyelamatkan ibu kita dengan kembali pada ajaran Segara Kerthi. Kita menerapkan Segara Kerthi dengan langkah nyata misalnya mengolah sampah. Pak Gede Sukarda adalah sosok yang mencintai laut dan menjaganya dengan jalan seni.

I Gede Sukarda adalah seniman kelahiran Karangasem tanggal 31 Desember 1962. Ia menamatkan pendidikan SMSR Negeri Denpasar pada tahun 1985 kemudian menjadi Guru Seni Budaya di SMP Negeri 1 Abang Karangasem pada tahun 1986 hingga tahun 2014. Selanjutnya kesehariannya sepenuhnya diisi dengan berkesenian. Sampah-sampah di pantai menjadi inspirasinya dalam membuat karya-karya yang abstrak.

Karya abstrak menjadi aliran yang dipilih oleh Gede Sukarda karena mampu mengekspresikan emosi beliau. Sampah-sampah yang mengisi sepanjang Pantai Jasri membuat miris perasaan beliau diubah menjadi karya seni. Di balik karya itu terbersit ajakan untuk menjaga pantai dari sampah.

Segara Kerthi adalah upaya untuk menjaga kelestarian laut sebagai sumber alam yang memiliki fungsi yang kompleks. Hal ini dijelaskan dalam Lontar Sundarigama peranan laut “Anganyutaken laraning jagat, papa klesa, letuhing bhuwana..” Laut dapat menghanyutkan kekotoran diri atau papa klesa dan menghilangkan kotornya alam semesta.

Salah satu jalan yang bisa dilakukan untuk menjaga laut adalah dengan seni. Mengapa seni? Karena seni memperhalus budhi. Dengan seni akan memunculkan kesadaran manusia akan hubungan Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Bhuana Agung sebagai tempat bersemayamnya Brahman atau Tuhan dan Bhuana Alit adalah tempat bersemayamnya Atman.

Seni adalah segala sesuatu yang dilakukan dengan penuh penghayatan dan kesadaran penuh. Apapun yang dilakukan dengan penuh penghayatan itulah seni, misalnya ketika menyapu dengan kesadaran maka itulah seni. Kata seni berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu sani yang artinya persembahan. Ini artinya segala sesuatu yang kita lakukan dengan kesadaran penuh dan hasilnya kita persembahkan kepada Tuhan itulah seni.

Tuhan di dalam Weda disebutkan menciptakan alam ini dalam kondisi lila atau kondisi bahagia, bersenang-senang. Kebahagiaan adalah intisari dari penciptaan, kita tidak bisa menciptakan sebuah karya dalam kondisi sedih. Karya seni pun diciptakan dengan kondisi yang gembira dan berbahagia. Media seni pun bisa beragam tergantung letak kegembiraan penciptanya.

Gede Sukarda berkarya sama sekali tidak memperdulikan persepsi atau apresiasi orang. Dalam berkarya beliau mengutamakan kegembiraan sebagai bentuk perayaan atas kehidupan. Dalam karya beliau kita akan banyak menemukan simbol Tapak Dara. Simbol Tapak Dara digambarkan dengan dua garis melintang. Tapak Dara adalah simbol keseimbangan. Ini seperti memberikan pesan kepada kita bahwa hidup ini harus dijalankan secara seimbang.

Selayaknya ombak yang indah karena naik turunnya, hidup ini indah karena suka dukanya. Melalui seni  Gede Sukarda menyadari bahwa suka duka adalah gelombang yang akan berlalu. Bhagawad Gita II.15 menyebutkan orang bijaksana memandang sama suka dan duka. Ada suka dalam duka, ada duka dalam suka. Orang bijak mampu melihat ada bunga dalam sampah dan ada sampah dalam bunga.

Karya Instalasi Pak Gede Sukarda | Sumber: dokumen pribadi Gede Sukarda

Gede Sukarda tidak hanya bergerak sendiri pada tahun 1986 ia menggagas Komunitas Seni Lempuyang. Komunitas ini menjadi wadah para seniman berkontribusi pada pelestarian laut. Pada tahun 2007 bertempat di pantai Amed, Komunitas Seni Lempuyang menggelar kegiatan Bendega Art. Selain menggelar pameran seni kegiatan juga diisi dengan bersih-bersih pantai bersama warga setempat. Pada tahun yang sama Komunitas Seni Lempuyang berpartisipasi pada Konfrensi Perubahan Iklim PBB melalui pameran seni instlasi sampah plastik. Pada tahun 2015 komunitas menenggelamkan patung terumbu karang di Pantai Jemeluk Karangasem.

Patung terumbu Karang karya Gede Sukarda | Sumber : dokumen pribadi Gede Sukarda

Atharwa Weda XII.1.1 menyebutkan ibu pertiwi ini akan menjadi suci jika disangga oleh enam perilaku suci. Enam perilaku suci itu meliputi Satya, Rta, Diksa, Tapa, Brahma, dan Yadnya. Hakikat penyucian ibu pertiwi ini adalah caru yang jika ditarik lagi pengertiannya, caru artinya manis. Caru adalah upaya menjalin hubungan yang manis atau harmonis dengan alam ini. 

Satya artinya kejujuran, kejujuran yang pertama dalam Panca Satya adalah Satya Hredaya yaitu setia kepada kata hati. Gede Sukarda dalam tuturnya menyatakan sampah yang ia olah terlebih dahulu melalui dialog bathin dengan sampah itu. Ia tidak mengubah bentuk sampah tetapi menampilkan sampah itu apa adanya sesuai dialog batinnta. Melihat karya Gede Sukarda kita tidak hanya disuguhkan dengan keindahan tetapi ada pesan yang bisa diinterpretasikan secara bebas.

Gede Sukarda sempat menjadi guru SMPN 1 Abang kemudian memilih pensiun dini karena diabetes. Pantai memberikan jalan kesembuhan jasmani rohani beliau. Jalan kesembuhan itu justru beliau dapatkan dari mengolah sampah. Karya Gede Sukarda banyak menampilkan simbol tapak dara. Tapak Dara dibuat dengan memadukan garis veritikal dan horizontal. Rta atau hukum alam ini sangat menghendaki keseimbangan. Jika manusia tidak mampu membuat keseimbangan, maka alam akan membuat keseimbangannya sendiri.

Simbol tapak dara dalam karya seni | Sumber : dokumen pribadi Gede Sukarda

Diksa atau penyucian jasmani dan rohani. Manawa Dharmasastra V.109 menyebutkan tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, jiwa dibersihkan dengan ilmu dan tapa, akal dibersihkan dengan kebijaksanaan. Melalui karya seni, Gede Sukarda mendapatkan jalan pembersihan dan penyucian diri. Ia mampu mengolah sampah di luar (Bhuana Agung) dan di dalam (Bhuana Alit). Bhuana Agung atau alam ini memiliki hubungan yang erat dengan Bhuana Alit atau tubuh ini. Alam yang sakit adalah penanda dari adanya tubuh yang sakit sehingga menyembuhkan diri sendiri sama dengan menyembuhkan alam ini.

Tapa artinya pengendalian atau pengekangan diri dari hawa nafsu. Manusia memiliki Dasa Indria yang harus dikendalikan dari hawa nafsu. Dalam Bhagawad Gita XVI.21 menyebutkan tiga pintu penderitaan yaitu Kama, Krodha, dan Lobha. Karya seni Gede Sukarda berangkat dari kejujuran hati dan kebebasan dalam berkspresi. Tidak ada motif mencari pengakuan atau validasi dari luar. Ia sudah menemukan kebahagiaan di dalam sehingga tidak perlu lagi mencari kebahagiaan di luar.

Brahma artinya doa yang dipanjatkan. Doa yang paling murni adalah ungkapan rasa syukur dan berkecukupan. Karya seni Gede Sukarda menyiratkan kebahagiaan dan keceriaan anak-anak. Ia melihat sampah seperti kebahagiaan anak kecil yang melihat mainan. Dengan rasa syukur dan berkecukupan ia mengubah sampah menjadi bunga yang indah. Seperti yang diungkapkan dalam Bhagawad Gita II.15 orang bijaksana adalah orang yang mampu bersikap sama dalam suka dan duka. Mampu melihat hal baik dalam kondisi terburuk sekalipun.

Yadnya adalah korban suci yang tulus ikhlas. Panca Yadnya menyebutkan tentang Bhuta Yadnya untuk mewujudkan Bhuta Hita atau kebahagiaan alam. Inti upacara Bhuta Yadnya adalah caru yang diartikan sebagai manis. Menjalin hubungan yang manis antara alam dan manusia. Gede Sukarda percaya bahwa hidup harus diisi dengan yadnya selayaknya alam ini yang sudah beryadnya untuk kesejahteraan manusia. Usia Gede Sukarda memang tidak lagi muda namun dedikasinya terhadap laut tidak pernah surut.. Tidak ada puja puji, tidak ada deretan piagam dan penghargaan, langkah beliau murni adalah bentuk cinta terhadap laut, cinta terhadap alam ini. [T]

Penulis: I Nyoman Sutarjana
Editor: Adnyana Ole

Tags: balidaur ulang sampah plastikSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kematian: Akhir atau Transisi Kesadaran? —Dari Fisika Kuantum, Biocentrism, hingga Sanātana Dharma

Next Post

Unsur Pidana  Dalam Jual Beli Gantung

I Nyoman Sutarjana

I Nyoman Sutarjana

Guru Agama Hindu

Related Posts

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

Read moreDetails

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

by Angga Wijaya
July 8, 2026
0
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

Read moreDetails

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
0
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

Read moreDetails

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Mahesa Putra
July 6, 2026
0
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

Read moreDetails

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

by Hartanto
July 4, 2026
0
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

Read moreDetails

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

by Mahesa Putra
June 30, 2026
0
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

Read moreDetails

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

by Hartanto
June 29, 2026
0
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

Read moreDetails

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Unsur Pidana  Dalam Jual Beli Gantung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co