25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Keseimbangan ‘Hulu Teben’, Jalan Seni Gede Sukarda

I Nyoman Sutarjana by I Nyoman Sutarjana
December 31, 2025
in Ulas Rupa
Keseimbangan ‘Hulu Teben’, Jalan Seni Gede Sukarda

I Gede Sukarda

SEBAGAI orang Bali tentunya tidak asing dengan istilah hulu teben. Hulu teben sering menjadi dasar perilaku kita contohnya ketika kita tidur. Orang tua kita akan mengingatkan tentang hulu teben. Kita disuruh tidur menghadap ke hulu, menghadap ke utara atau timur. Utara dan timur adalah arah yang disucikan menurut Hindu. Utara adalah simbol dari gunung, timur adalah arah matahari terbit. Selatan adalah simbol dari laut, barat adalah arah matahari terbenam. Dari sinilah muncul istilah Nyegara Gunung, pemuliaan terhadap gunung dan lautan.

Pemerintah Provinsi Bali dengan visi yang kita kenal dengan Nangun Sat Kerthi Loka Bali berusaha membangun secala holistik, membangun alam Bali, sumber daya manusia Bali, adat dan budaya Bali. Sat Kerthi adalah ajaran Agama Hindu yang berarti enam jalan pelestarian Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Sat Kerthi meliputi Atma Kerthi, Jagat Kerthi, Wana Kerthi, Danu Kerthi, Jana Kerthi dan Segara Kerthi. Dengan menjalankan Sat Kerthi akan terwujud kesejahteraan dari hulu ke teben, dari hulu ke hilir, dari gunung ke laut.

Dari semua program Sat Kerthi yang pemerintah canangkan penulis tertarik dengan Segara Kerthi. Kenapa? Karena laut seringkali kita abaikan, kita menganggap gunung sebagai tempat suci sementara laut bersifat profan. Jika diibaratkan dengan manusia, hulu adalah kepala bagian yang kita anggap suci. Teben adalah kaki bagian yang kita anggap profan. Padahal kepala dan kaki sama pentingnya membentuk keutuhan manusia.

Laut juga identik dengan sampah, tempat pembuangan akhir sampah di daratan. Bahkan Melasti yang merupakan salah satu dari penerapan Segara Kerthi justru sering meninggalkan sampah. Warga yang menggelar upacara penyucian Bhuana Agung, tidak berselang lama meninggalkan sampah yang mengotori Bhuana Agung itu sendiri. Sudah saatnya kita menerapkan Segara Kerthi tidak hanya dari tataran upacara melainkan melalui tindakan nyata menjaga laut dari tumpukan sampah.

Salah satu sosok yang telah menerapkan Segara Kerthi dalam hidupnya adalah I Gede Sukarda. Ia konsisten menjaga Pantai Jasri, Karangasem, dari tumpukan sampah seperti kayu, triplek, kawat, tali tambang. Sampah-sampah itu ia bawa pulang untuk ia kreasikan menjadi karya seni. Jalan seni bagi beliau bisa menjadi solusi permasalahan sampah di laut. Langkah kecil ini banyak menginspirasi orang khususnya penulis sendiri untuk menerapkan Segara Kerthi secara nyata dalam kehidupan.

Nyegara Gunung merupakan simbol keseimbangan. Gunung sebagai simbol purusa atau asas kejiwaan dan laut adalah simbol pradana atau asas kebendaan. Kita hendaknya memuliakan gunung dan laut secara seimbang. Konsep keseimbangan ini tercermin pada pembangunan Pura Padma Bhuana. Pura Padma Bhuana adalah pura yang dibangun di sembilan arah mata angin. Ini menyiratkan di segala tempat adalah tempat bersemayamnya Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa.

Gunung dan laut adalah ayah dan ibu kita darinya muncul penciptaan. Air yang menguap dari laut kemudian menjadi awan dan hujan. Siklus ini terjadi secara alami yang disebut dengan Cakra Yadnya atau perputaran yadnya. Bhagawad Gita III, 14 menyebutkan adanya makhluk hidup karena makanan, adanya makanan karena adanya hujan, adanya hujan karena adanya yadnya, adanya yadnya karena adanya karma.

Sloka tersebut menyiratkan pentingnya hujan, terjadinya hujan karena adanya keseimbangan gunung dan laut. Oleh karenanya kita harus memperlakukan gunung dan lautan seperti memperlakukan ayah dan ibu kita. Laut hanya kita sadari peranannya ketika melaksanakan melasti dimana semua umat berbondong-bondong ke laut mengiringi Ista Dewata yang dipuja. Melasti yang tujuannya menyucikan Bhuana Agung dengan memohon air penyucian di laut. Justru dalam kenyataannya seringkali upacara melasti mendatangkan sampah, sampah upakara dan sampah plastik.

Upaya pelestarian tidak hanya dilakukan di gunung tetapi juga di laut. Laut selama ini sudah sabar menampung sampah manusia selayaknya kesabaran seorang ibu. Kita bisa menyelamatkan ibu kita dengan kembali pada ajaran Segara Kerthi. Kita menerapkan Segara Kerthi dengan langkah nyata misalnya mengolah sampah. Pak Gede Sukarda adalah sosok yang mencintai laut dan menjaganya dengan jalan seni.

I Gede Sukarda adalah seniman kelahiran Karangasem tanggal 31 Desember 1962. Ia menamatkan pendidikan SMSR Negeri Denpasar pada tahun 1985 kemudian menjadi Guru Seni Budaya di SMP Negeri 1 Abang Karangasem pada tahun 1986 hingga tahun 2014. Selanjutnya kesehariannya sepenuhnya diisi dengan berkesenian. Sampah-sampah di pantai menjadi inspirasinya dalam membuat karya-karya yang abstrak.

Karya abstrak menjadi aliran yang dipilih oleh Gede Sukarda karena mampu mengekspresikan emosi beliau. Sampah-sampah yang mengisi sepanjang Pantai Jasri membuat miris perasaan beliau diubah menjadi karya seni. Di balik karya itu terbersit ajakan untuk menjaga pantai dari sampah.

Segara Kerthi adalah upaya untuk menjaga kelestarian laut sebagai sumber alam yang memiliki fungsi yang kompleks. Hal ini dijelaskan dalam Lontar Sundarigama peranan laut “Anganyutaken laraning jagat, papa klesa, letuhing bhuwana..” Laut dapat menghanyutkan kekotoran diri atau papa klesa dan menghilangkan kotornya alam semesta.

Salah satu jalan yang bisa dilakukan untuk menjaga laut adalah dengan seni. Mengapa seni? Karena seni memperhalus budhi. Dengan seni akan memunculkan kesadaran manusia akan hubungan Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Bhuana Agung sebagai tempat bersemayamnya Brahman atau Tuhan dan Bhuana Alit adalah tempat bersemayamnya Atman.

Seni adalah segala sesuatu yang dilakukan dengan penuh penghayatan dan kesadaran penuh. Apapun yang dilakukan dengan penuh penghayatan itulah seni, misalnya ketika menyapu dengan kesadaran maka itulah seni. Kata seni berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu sani yang artinya persembahan. Ini artinya segala sesuatu yang kita lakukan dengan kesadaran penuh dan hasilnya kita persembahkan kepada Tuhan itulah seni.

Tuhan di dalam Weda disebutkan menciptakan alam ini dalam kondisi lila atau kondisi bahagia, bersenang-senang. Kebahagiaan adalah intisari dari penciptaan, kita tidak bisa menciptakan sebuah karya dalam kondisi sedih. Karya seni pun diciptakan dengan kondisi yang gembira dan berbahagia. Media seni pun bisa beragam tergantung letak kegembiraan penciptanya.

Gede Sukarda berkarya sama sekali tidak memperdulikan persepsi atau apresiasi orang. Dalam berkarya beliau mengutamakan kegembiraan sebagai bentuk perayaan atas kehidupan. Dalam karya beliau kita akan banyak menemukan simbol Tapak Dara. Simbol Tapak Dara digambarkan dengan dua garis melintang. Tapak Dara adalah simbol keseimbangan. Ini seperti memberikan pesan kepada kita bahwa hidup ini harus dijalankan secara seimbang.

Selayaknya ombak yang indah karena naik turunnya, hidup ini indah karena suka dukanya. Melalui seni  Gede Sukarda menyadari bahwa suka duka adalah gelombang yang akan berlalu. Bhagawad Gita II.15 menyebutkan orang bijaksana memandang sama suka dan duka. Ada suka dalam duka, ada duka dalam suka. Orang bijak mampu melihat ada bunga dalam sampah dan ada sampah dalam bunga.

Karya Instalasi Pak Gede Sukarda | Sumber: dokumen pribadi Gede Sukarda

Gede Sukarda tidak hanya bergerak sendiri pada tahun 1986 ia menggagas Komunitas Seni Lempuyang. Komunitas ini menjadi wadah para seniman berkontribusi pada pelestarian laut. Pada tahun 2007 bertempat di pantai Amed, Komunitas Seni Lempuyang menggelar kegiatan Bendega Art. Selain menggelar pameran seni kegiatan juga diisi dengan bersih-bersih pantai bersama warga setempat. Pada tahun yang sama Komunitas Seni Lempuyang berpartisipasi pada Konfrensi Perubahan Iklim PBB melalui pameran seni instlasi sampah plastik. Pada tahun 2015 komunitas menenggelamkan patung terumbu karang di Pantai Jemeluk Karangasem.

Patung terumbu Karang karya Gede Sukarda | Sumber : dokumen pribadi Gede Sukarda

Atharwa Weda XII.1.1 menyebutkan ibu pertiwi ini akan menjadi suci jika disangga oleh enam perilaku suci. Enam perilaku suci itu meliputi Satya, Rta, Diksa, Tapa, Brahma, dan Yadnya. Hakikat penyucian ibu pertiwi ini adalah caru yang jika ditarik lagi pengertiannya, caru artinya manis. Caru adalah upaya menjalin hubungan yang manis atau harmonis dengan alam ini. 

Satya artinya kejujuran, kejujuran yang pertama dalam Panca Satya adalah Satya Hredaya yaitu setia kepada kata hati. Gede Sukarda dalam tuturnya menyatakan sampah yang ia olah terlebih dahulu melalui dialog bathin dengan sampah itu. Ia tidak mengubah bentuk sampah tetapi menampilkan sampah itu apa adanya sesuai dialog batinnta. Melihat karya Gede Sukarda kita tidak hanya disuguhkan dengan keindahan tetapi ada pesan yang bisa diinterpretasikan secara bebas.

Gede Sukarda sempat menjadi guru SMPN 1 Abang kemudian memilih pensiun dini karena diabetes. Pantai memberikan jalan kesembuhan jasmani rohani beliau. Jalan kesembuhan itu justru beliau dapatkan dari mengolah sampah. Karya Gede Sukarda banyak menampilkan simbol tapak dara. Tapak Dara dibuat dengan memadukan garis veritikal dan horizontal. Rta atau hukum alam ini sangat menghendaki keseimbangan. Jika manusia tidak mampu membuat keseimbangan, maka alam akan membuat keseimbangannya sendiri.

Simbol tapak dara dalam karya seni | Sumber : dokumen pribadi Gede Sukarda

Diksa atau penyucian jasmani dan rohani. Manawa Dharmasastra V.109 menyebutkan tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, jiwa dibersihkan dengan ilmu dan tapa, akal dibersihkan dengan kebijaksanaan. Melalui karya seni, Gede Sukarda mendapatkan jalan pembersihan dan penyucian diri. Ia mampu mengolah sampah di luar (Bhuana Agung) dan di dalam (Bhuana Alit). Bhuana Agung atau alam ini memiliki hubungan yang erat dengan Bhuana Alit atau tubuh ini. Alam yang sakit adalah penanda dari adanya tubuh yang sakit sehingga menyembuhkan diri sendiri sama dengan menyembuhkan alam ini.

Tapa artinya pengendalian atau pengekangan diri dari hawa nafsu. Manusia memiliki Dasa Indria yang harus dikendalikan dari hawa nafsu. Dalam Bhagawad Gita XVI.21 menyebutkan tiga pintu penderitaan yaitu Kama, Krodha, dan Lobha. Karya seni Gede Sukarda berangkat dari kejujuran hati dan kebebasan dalam berkspresi. Tidak ada motif mencari pengakuan atau validasi dari luar. Ia sudah menemukan kebahagiaan di dalam sehingga tidak perlu lagi mencari kebahagiaan di luar.

Brahma artinya doa yang dipanjatkan. Doa yang paling murni adalah ungkapan rasa syukur dan berkecukupan. Karya seni Gede Sukarda menyiratkan kebahagiaan dan keceriaan anak-anak. Ia melihat sampah seperti kebahagiaan anak kecil yang melihat mainan. Dengan rasa syukur dan berkecukupan ia mengubah sampah menjadi bunga yang indah. Seperti yang diungkapkan dalam Bhagawad Gita II.15 orang bijaksana adalah orang yang mampu bersikap sama dalam suka dan duka. Mampu melihat hal baik dalam kondisi terburuk sekalipun.

Yadnya adalah korban suci yang tulus ikhlas. Panca Yadnya menyebutkan tentang Bhuta Yadnya untuk mewujudkan Bhuta Hita atau kebahagiaan alam. Inti upacara Bhuta Yadnya adalah caru yang diartikan sebagai manis. Menjalin hubungan yang manis antara alam dan manusia. Gede Sukarda percaya bahwa hidup harus diisi dengan yadnya selayaknya alam ini yang sudah beryadnya untuk kesejahteraan manusia. Usia Gede Sukarda memang tidak lagi muda namun dedikasinya terhadap laut tidak pernah surut.. Tidak ada puja puji, tidak ada deretan piagam dan penghargaan, langkah beliau murni adalah bentuk cinta terhadap laut, cinta terhadap alam ini. [T]

Penulis: I Nyoman Sutarjana
Editor: Adnyana Ole

Tags: balidaur ulang sampah plastikSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kematian: Akhir atau Transisi Kesadaran? —Dari Fisika Kuantum, Biocentrism, hingga Sanātana Dharma

Next Post

Unsur Pidana  Dalam Jual Beli Gantung

I Nyoman Sutarjana

I Nyoman Sutarjana

Guru Agama Hindu

Related Posts

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails

Gerabah dan Manusia yang Berubah

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
0
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails

Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

by I Wayan Westa
February 22, 2026
0
Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

INI mobil kayu, mirip Ferrari, kendaraan tercepat di lintas darat. Dipajang di Labyrinth Art  Galleri Nuanu, Tabanan. Di ruang pameran...

Read moreDetails

Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

by Agung Bawantara
February 19, 2026
0
Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

Pameran Foto MAGIC IN THE WAVEFotografer : Made Bagus IrawanKurator : Ni Komang ErvianiProduser : Rofiqi HasanPameran. : 18 –...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Unsur Pidana  Dalam Jual Beli Gantung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co