4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Keseimbangan ‘Hulu Teben’, Jalan Seni Gede Sukarda

I Nyoman Sutarjana by I Nyoman Sutarjana
December 31, 2025
in Ulas Rupa
Keseimbangan ‘Hulu Teben’, Jalan Seni Gede Sukarda

I Gede Sukarda

SEBAGAI orang Bali tentunya tidak asing dengan istilah hulu teben. Hulu teben sering menjadi dasar perilaku kita contohnya ketika kita tidur. Orang tua kita akan mengingatkan tentang hulu teben. Kita disuruh tidur menghadap ke hulu, menghadap ke utara atau timur. Utara dan timur adalah arah yang disucikan menurut Hindu. Utara adalah simbol dari gunung, timur adalah arah matahari terbit. Selatan adalah simbol dari laut, barat adalah arah matahari terbenam. Dari sinilah muncul istilah Nyegara Gunung, pemuliaan terhadap gunung dan lautan.

Pemerintah Provinsi Bali dengan visi yang kita kenal dengan Nangun Sat Kerthi Loka Bali berusaha membangun secala holistik, membangun alam Bali, sumber daya manusia Bali, adat dan budaya Bali. Sat Kerthi adalah ajaran Agama Hindu yang berarti enam jalan pelestarian Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Sat Kerthi meliputi Atma Kerthi, Jagat Kerthi, Wana Kerthi, Danu Kerthi, Jana Kerthi dan Segara Kerthi. Dengan menjalankan Sat Kerthi akan terwujud kesejahteraan dari hulu ke teben, dari hulu ke hilir, dari gunung ke laut.

Dari semua program Sat Kerthi yang pemerintah canangkan penulis tertarik dengan Segara Kerthi. Kenapa? Karena laut seringkali kita abaikan, kita menganggap gunung sebagai tempat suci sementara laut bersifat profan. Jika diibaratkan dengan manusia, hulu adalah kepala bagian yang kita anggap suci. Teben adalah kaki bagian yang kita anggap profan. Padahal kepala dan kaki sama pentingnya membentuk keutuhan manusia.

Laut juga identik dengan sampah, tempat pembuangan akhir sampah di daratan. Bahkan Melasti yang merupakan salah satu dari penerapan Segara Kerthi justru sering meninggalkan sampah. Warga yang menggelar upacara penyucian Bhuana Agung, tidak berselang lama meninggalkan sampah yang mengotori Bhuana Agung itu sendiri. Sudah saatnya kita menerapkan Segara Kerthi tidak hanya dari tataran upacara melainkan melalui tindakan nyata menjaga laut dari tumpukan sampah.

Salah satu sosok yang telah menerapkan Segara Kerthi dalam hidupnya adalah I Gede Sukarda. Ia konsisten menjaga Pantai Jasri, Karangasem, dari tumpukan sampah seperti kayu, triplek, kawat, tali tambang. Sampah-sampah itu ia bawa pulang untuk ia kreasikan menjadi karya seni. Jalan seni bagi beliau bisa menjadi solusi permasalahan sampah di laut. Langkah kecil ini banyak menginspirasi orang khususnya penulis sendiri untuk menerapkan Segara Kerthi secara nyata dalam kehidupan.

Nyegara Gunung merupakan simbol keseimbangan. Gunung sebagai simbol purusa atau asas kejiwaan dan laut adalah simbol pradana atau asas kebendaan. Kita hendaknya memuliakan gunung dan laut secara seimbang. Konsep keseimbangan ini tercermin pada pembangunan Pura Padma Bhuana. Pura Padma Bhuana adalah pura yang dibangun di sembilan arah mata angin. Ini menyiratkan di segala tempat adalah tempat bersemayamnya Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa.

Gunung dan laut adalah ayah dan ibu kita darinya muncul penciptaan. Air yang menguap dari laut kemudian menjadi awan dan hujan. Siklus ini terjadi secara alami yang disebut dengan Cakra Yadnya atau perputaran yadnya. Bhagawad Gita III, 14 menyebutkan adanya makhluk hidup karena makanan, adanya makanan karena adanya hujan, adanya hujan karena adanya yadnya, adanya yadnya karena adanya karma.

Sloka tersebut menyiratkan pentingnya hujan, terjadinya hujan karena adanya keseimbangan gunung dan laut. Oleh karenanya kita harus memperlakukan gunung dan lautan seperti memperlakukan ayah dan ibu kita. Laut hanya kita sadari peranannya ketika melaksanakan melasti dimana semua umat berbondong-bondong ke laut mengiringi Ista Dewata yang dipuja. Melasti yang tujuannya menyucikan Bhuana Agung dengan memohon air penyucian di laut. Justru dalam kenyataannya seringkali upacara melasti mendatangkan sampah, sampah upakara dan sampah plastik.

Upaya pelestarian tidak hanya dilakukan di gunung tetapi juga di laut. Laut selama ini sudah sabar menampung sampah manusia selayaknya kesabaran seorang ibu. Kita bisa menyelamatkan ibu kita dengan kembali pada ajaran Segara Kerthi. Kita menerapkan Segara Kerthi dengan langkah nyata misalnya mengolah sampah. Pak Gede Sukarda adalah sosok yang mencintai laut dan menjaganya dengan jalan seni.

I Gede Sukarda adalah seniman kelahiran Karangasem tanggal 31 Desember 1962. Ia menamatkan pendidikan SMSR Negeri Denpasar pada tahun 1985 kemudian menjadi Guru Seni Budaya di SMP Negeri 1 Abang Karangasem pada tahun 1986 hingga tahun 2014. Selanjutnya kesehariannya sepenuhnya diisi dengan berkesenian. Sampah-sampah di pantai menjadi inspirasinya dalam membuat karya-karya yang abstrak.

Karya abstrak menjadi aliran yang dipilih oleh Gede Sukarda karena mampu mengekspresikan emosi beliau. Sampah-sampah yang mengisi sepanjang Pantai Jasri membuat miris perasaan beliau diubah menjadi karya seni. Di balik karya itu terbersit ajakan untuk menjaga pantai dari sampah.

Segara Kerthi adalah upaya untuk menjaga kelestarian laut sebagai sumber alam yang memiliki fungsi yang kompleks. Hal ini dijelaskan dalam Lontar Sundarigama peranan laut “Anganyutaken laraning jagat, papa klesa, letuhing bhuwana..” Laut dapat menghanyutkan kekotoran diri atau papa klesa dan menghilangkan kotornya alam semesta.

Salah satu jalan yang bisa dilakukan untuk menjaga laut adalah dengan seni. Mengapa seni? Karena seni memperhalus budhi. Dengan seni akan memunculkan kesadaran manusia akan hubungan Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Bhuana Agung sebagai tempat bersemayamnya Brahman atau Tuhan dan Bhuana Alit adalah tempat bersemayamnya Atman.

Seni adalah segala sesuatu yang dilakukan dengan penuh penghayatan dan kesadaran penuh. Apapun yang dilakukan dengan penuh penghayatan itulah seni, misalnya ketika menyapu dengan kesadaran maka itulah seni. Kata seni berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu sani yang artinya persembahan. Ini artinya segala sesuatu yang kita lakukan dengan kesadaran penuh dan hasilnya kita persembahkan kepada Tuhan itulah seni.

Tuhan di dalam Weda disebutkan menciptakan alam ini dalam kondisi lila atau kondisi bahagia, bersenang-senang. Kebahagiaan adalah intisari dari penciptaan, kita tidak bisa menciptakan sebuah karya dalam kondisi sedih. Karya seni pun diciptakan dengan kondisi yang gembira dan berbahagia. Media seni pun bisa beragam tergantung letak kegembiraan penciptanya.

Gede Sukarda berkarya sama sekali tidak memperdulikan persepsi atau apresiasi orang. Dalam berkarya beliau mengutamakan kegembiraan sebagai bentuk perayaan atas kehidupan. Dalam karya beliau kita akan banyak menemukan simbol Tapak Dara. Simbol Tapak Dara digambarkan dengan dua garis melintang. Tapak Dara adalah simbol keseimbangan. Ini seperti memberikan pesan kepada kita bahwa hidup ini harus dijalankan secara seimbang.

Selayaknya ombak yang indah karena naik turunnya, hidup ini indah karena suka dukanya. Melalui seni  Gede Sukarda menyadari bahwa suka duka adalah gelombang yang akan berlalu. Bhagawad Gita II.15 menyebutkan orang bijaksana memandang sama suka dan duka. Ada suka dalam duka, ada duka dalam suka. Orang bijak mampu melihat ada bunga dalam sampah dan ada sampah dalam bunga.

Karya Instalasi Pak Gede Sukarda | Sumber: dokumen pribadi Gede Sukarda

Gede Sukarda tidak hanya bergerak sendiri pada tahun 1986 ia menggagas Komunitas Seni Lempuyang. Komunitas ini menjadi wadah para seniman berkontribusi pada pelestarian laut. Pada tahun 2007 bertempat di pantai Amed, Komunitas Seni Lempuyang menggelar kegiatan Bendega Art. Selain menggelar pameran seni kegiatan juga diisi dengan bersih-bersih pantai bersama warga setempat. Pada tahun yang sama Komunitas Seni Lempuyang berpartisipasi pada Konfrensi Perubahan Iklim PBB melalui pameran seni instlasi sampah plastik. Pada tahun 2015 komunitas menenggelamkan patung terumbu karang di Pantai Jemeluk Karangasem.

Patung terumbu Karang karya Gede Sukarda | Sumber : dokumen pribadi Gede Sukarda

Atharwa Weda XII.1.1 menyebutkan ibu pertiwi ini akan menjadi suci jika disangga oleh enam perilaku suci. Enam perilaku suci itu meliputi Satya, Rta, Diksa, Tapa, Brahma, dan Yadnya. Hakikat penyucian ibu pertiwi ini adalah caru yang jika ditarik lagi pengertiannya, caru artinya manis. Caru adalah upaya menjalin hubungan yang manis atau harmonis dengan alam ini. 

Satya artinya kejujuran, kejujuran yang pertama dalam Panca Satya adalah Satya Hredaya yaitu setia kepada kata hati. Gede Sukarda dalam tuturnya menyatakan sampah yang ia olah terlebih dahulu melalui dialog bathin dengan sampah itu. Ia tidak mengubah bentuk sampah tetapi menampilkan sampah itu apa adanya sesuai dialog batinnta. Melihat karya Gede Sukarda kita tidak hanya disuguhkan dengan keindahan tetapi ada pesan yang bisa diinterpretasikan secara bebas.

Gede Sukarda sempat menjadi guru SMPN 1 Abang kemudian memilih pensiun dini karena diabetes. Pantai memberikan jalan kesembuhan jasmani rohani beliau. Jalan kesembuhan itu justru beliau dapatkan dari mengolah sampah. Karya Gede Sukarda banyak menampilkan simbol tapak dara. Tapak Dara dibuat dengan memadukan garis veritikal dan horizontal. Rta atau hukum alam ini sangat menghendaki keseimbangan. Jika manusia tidak mampu membuat keseimbangan, maka alam akan membuat keseimbangannya sendiri.

Simbol tapak dara dalam karya seni | Sumber : dokumen pribadi Gede Sukarda

Diksa atau penyucian jasmani dan rohani. Manawa Dharmasastra V.109 menyebutkan tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, jiwa dibersihkan dengan ilmu dan tapa, akal dibersihkan dengan kebijaksanaan. Melalui karya seni, Gede Sukarda mendapatkan jalan pembersihan dan penyucian diri. Ia mampu mengolah sampah di luar (Bhuana Agung) dan di dalam (Bhuana Alit). Bhuana Agung atau alam ini memiliki hubungan yang erat dengan Bhuana Alit atau tubuh ini. Alam yang sakit adalah penanda dari adanya tubuh yang sakit sehingga menyembuhkan diri sendiri sama dengan menyembuhkan alam ini.

Tapa artinya pengendalian atau pengekangan diri dari hawa nafsu. Manusia memiliki Dasa Indria yang harus dikendalikan dari hawa nafsu. Dalam Bhagawad Gita XVI.21 menyebutkan tiga pintu penderitaan yaitu Kama, Krodha, dan Lobha. Karya seni Gede Sukarda berangkat dari kejujuran hati dan kebebasan dalam berkspresi. Tidak ada motif mencari pengakuan atau validasi dari luar. Ia sudah menemukan kebahagiaan di dalam sehingga tidak perlu lagi mencari kebahagiaan di luar.

Brahma artinya doa yang dipanjatkan. Doa yang paling murni adalah ungkapan rasa syukur dan berkecukupan. Karya seni Gede Sukarda menyiratkan kebahagiaan dan keceriaan anak-anak. Ia melihat sampah seperti kebahagiaan anak kecil yang melihat mainan. Dengan rasa syukur dan berkecukupan ia mengubah sampah menjadi bunga yang indah. Seperti yang diungkapkan dalam Bhagawad Gita II.15 orang bijaksana adalah orang yang mampu bersikap sama dalam suka dan duka. Mampu melihat hal baik dalam kondisi terburuk sekalipun.

Yadnya adalah korban suci yang tulus ikhlas. Panca Yadnya menyebutkan tentang Bhuta Yadnya untuk mewujudkan Bhuta Hita atau kebahagiaan alam. Inti upacara Bhuta Yadnya adalah caru yang diartikan sebagai manis. Menjalin hubungan yang manis antara alam dan manusia. Gede Sukarda percaya bahwa hidup harus diisi dengan yadnya selayaknya alam ini yang sudah beryadnya untuk kesejahteraan manusia. Usia Gede Sukarda memang tidak lagi muda namun dedikasinya terhadap laut tidak pernah surut.. Tidak ada puja puji, tidak ada deretan piagam dan penghargaan, langkah beliau murni adalah bentuk cinta terhadap laut, cinta terhadap alam ini. [T]

Penulis: I Nyoman Sutarjana
Editor: Adnyana Ole

Tags: balidaur ulang sampah plastikSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kematian: Akhir atau Transisi Kesadaran? —Dari Fisika Kuantum, Biocentrism, hingga Sanātana Dharma

Next Post

Unsur Pidana  Dalam Jual Beli Gantung

I Nyoman Sutarjana

I Nyoman Sutarjana

Guru Agama Hindu

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Unsur Pidana  Dalam Jual Beli Gantung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co