17 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Singgah Sejenak di Banjar Basang Tamiang, Desa Kapal —Tempat Putu Artini dan Rai Suweni Hidup Bersama Gerabah

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
November 26, 2025
in Khas
Singgah Sejenak di Banjar Basang Tamiang, Desa Kapal —Tempat Putu Artini dan Rai Suweni Hidup Bersama Gerabah

Putu Artini saat membuat carat (gerabah) │Foto: tatkala.co/Dede

BARANGKALI, bagi sebagian orang yang pernah melintasi Jalan Raya Kapal, Badung, pemandangan deretan gerabah yang dijual di sepanjang jalan sudah menjadi hal biasa. Lalu-lalang kendaraan tak pernah berhenti, membuat kawasan itu tampak seperti pusat kerajinan pada umumnya. Namun, begitu menyusuri jalan menuju Banjar Basang Tamiang, suasananya berubah. Dari luar, rumah-rumah warga terlihat biasa, tetapi di dalamnya tradisi bekerja tak pernah putus. Ada yang mengukir, menganyam, dan banyak pula yang membuat gerabah ─ sebagaimana dilakukan leluhur mereka sejak ratusan tahun silam.

Di sebuah rumah yang teduh meski cahaya siang menembus masuk, Putu Artini (55) duduk di bangku rendah di tempat kerjanya. Dari sudut rumah, terdengar lagu-lagu pop Bali lawas dari sebuah radio tua dengan suara sedikit soak. Suara itu mengiringi jemari Artini bekerja stabil membentuk tanah liat, gerakannya pasti dan berulang. Di rumah itu, ia bekerja bersama kerabat-kerabatnya yang juga perajin gerabah ─ masing-masing dengan usaha sendiri, hanya berbagi ruang kerja yang sama.

Putu Artini memadatkan tanah liat │Foto: tatkala.co/Dede

Meski siang itu panas terasa menyengat, ia tetap bekerja dengan tenang, seolah ritme seperti ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya. Di hadapannya, gumpalan tanah liat menunggu untuk dibentuk menjadi carat dan coblong ─ wadah air untuk upacara.

“Di banjar ini, hampir semua rumah membuat gerabah. Banyak yang percaya itu keharusan yang wajib dilanjutkan turun-temurun,” ujar Artini.

Kepercayaan itu bukan sekadar cerita yang tersebar dari mulut ke mulut. Banjar Basang Tamiang, Desa Kapal, memiliki sejarah panjang dalam kerajinan tanah liat. Mengutip dari budayabali.com, pembuatan gerabah di Basang Tamiang telah dilakukan sejak sekitar tahun 1171–1181 pada masa pemerintahan Raja Sri Aji Jaya Pangus. Ketika sang raja kembali dari Cina, ia membawa pulang banyak pengaruh budaya, salah satunya teknik pembuatan gerabah. Perajin Cina bahkan dikisahkan pernah didatangkan khusus untuk mengajar warga setempat.

Sejak itu masyarakat Kapal mulai memproduksi gerabah sendiri, awalnya untuk kebutuhan rumah tangga dan upacara, lalu berkembang menjadi penopang ekonomi. Tradisi itu bertahan hingga kini, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Produk yang dihasilkan beragam, mulai dari jun pere, coblong, jun tandeg, carat, dulang, hingga celengan dan pot. Semuanya dibuat menggunakan pemubutan ─ alat putar tanah liat tradisional. Dari alat itu, ratusan gerabah bisa lahir setiap hari di Basang Tamiang.

Carat dan coblong dijemur di rumah Putu Artini │Foto: tatkala.co/Dede

Tiga Puluh Tahun Bersama Tanah Liat

Putu Artini sendiri telah menekuni pekerjaan ini lebih dari 30 tahun. Setiap hari, dari pagi hingga petang, ia mampu membuat sekitar 400 carat atau coblong. Tanah liat yang digunakan adalah tanah yang sudah siap dibentuk, ia beli dari distributor asal Darmasaba ─ jenis tanah yang juga dipakai untuk membuat genteng.

“Setiap perajin punya spesialisasi. Di tempat lain ada yang bikin celengan, guci, pot. Saya fokus membuat carat dan coblong,” tuturnya.

Saya pun sempat mencoba membuat coblong. Putu Artini memberi contoh ─ gerakan tangannya halus, ritmis, seolah tanah liat mengerti arahannya. Namun ketika saya mencoba, tanah justru terasa tak mau diatur. Permukaannya miring, bentuknya goyah. Putu Artini hanya tertawa kecil. “Memang tidak bisa cepat. Harus terbiasa dulu,” katanya.

Putu Artini │Foto: tatkala.co/Dede

Musim hujan menjadi masa paling berat. Gerabah yang seharusnya dijemur seharian tidak bisa kering sempurna. “Kalau tidak bisa menjemur, produksi jadi lebih sedikit,” ujar  Artini.

Setelah kering, gerabah-gerabah itu dijual kepada pengepul untuk dibakar. Tidak semua rumah memiliki tungku, sehingga pembakaran dilakukan di beberapa titik di beberapa rumah warga. Salah satu pengepul itu adalah Ni Nyoman Rai Suweni (45).

Rumah Rai Suweni berada tak jauh dari rumah Putu Artini. Begitu memasuki tempat pembakarannya, aroma asap dan tanah terbakar langsung tercium. Sebuah tungku besar berdiri di sudut, dikelilingi tumpukan gerabah dari para perajin: ceret, coblong, pot, jun pere ─ semuanya menunggu giliran dibakar.

Ni Nyoman Rai Suweni saat mengeluarkan gerabah dari tungku pembakaran │Foto: tatkala.co/Dede

Ni Nyoman Rai Suweni │Foto: tatkala.co/Dede

Setiap pagi, selama lebih dari tiga jam, Rai Suweni membakar gerabah-gerabah itu hingga matang. Api tidak boleh terlalu besar agar tidak gosong, juga tidak boleh terlalu kecil agar matang sempurna. Proses pembakaran membutuhkan kehati-hatian agar gerabah tidak rusak.

“Tidak semuanya berhasil. Ada yang retak, ada yang pecah. Penyebabnya karena penjemuran kurang bagus, atau kualitas tanahnya kurang baik. Tapi kalau retaknya sedikit, masih bisa diperbaiki,” jelasnya sambil menunjukkan gerabah yang rusak.

Rai Suweni juga membenarkan kepercayaan yang hidup di Basang Tamiang, yaitu setiap keluarga wajib memiliki setidaknya satu perajin gerabah. Jika tidak, dipercaya akan muncul hambatan dalam keluarga atau penyakit yang sulit disembuhkan. Ada pula keyakinan lain, jika seseorang menikah keluar banjar, kemampuan membuat gerabahnya akan “hilang”. Sebaliknya, jika menikah masuk ke Basang Tamiang, seseorang bisa tiba-tiba mahir hanya dengan melihat prosesnya.

Ni Nyoman Rai Suweni mengemas gerabah │Foto: tatkala.co/Dede

“Tentu tidak semuanya percaya penuh, tapi ini seperti pengikat tradisi agar tetap hidup,” ujarnya sambil tersenyum.

Rai Suweni sendiri awalnya tidak membayangkan akan terjun ke pekerjaan ini. “Saya dulu sekolah pariwisata. Tapi setelah menikah ke sini, entah kenapa cocok saja. Mungkin memang jalannya di sini. Dulu sempat coba pekerjaan lain, tapi ada saja hambatannya, ujung-ujungnya balik ke sini lagi,” katanya.

Menurutnya, sekitar 70 persen warga Basang Tamiang masih bekerja sebagai perajin gerabah. Namun hanya sedikit yang memiliki tungku. Sebagian besar hanya memproduksi dan menjemur, lalu menjualnya kepada pengepul untuk dibakar dan didistribusikan.

Basang Tamiang dan Tradisi yang Tetap Bertahan

Meski lingkungan sekitarnya makin berkembang, suasana di dalam rumah-rumah Basang Tamiang tetap tradisional. Saat menyusuri lingkungan banjar, saya melihat gerabah dijemur di teras rumah, ditumpuk di pinggir jalan, atau diangkut dengan sepeda motor untuk dibawa ke distributor atau toko-toko.

Gerabah yang siap dikirim ke distributor/toko-toko │Foto: tatkala.co/Dede

Proses pembuatan gerabah di Basang Tamiang mungkin tampak sederhana, tetapi memerlukan ketekunan dan kesabaran. Mulai dari menjemur tanah, mencampurnya dengan batu padas, mengolah adonan, membentuknya di atas pemubutan, hingga menjemur kembali dan membakarnya. Setiap tahap adalah pengetahuan yang diwariskan turun-temurun.

Sebelum meninggalkan Basang Tamiang, saya kembali menyambangi Putu Artini bekerja. Tangannya masih bergerak mantap, membentuk carat-carat dan coblong-coblong baru dengan telaten. Dari caranya bekerja, terlihat bahwa yang diwariskan bukan hanya teknik, tetapi juga ketulusan dan rasa hormat pada pekerjaan itu sendiri.

Putu Artini saat membuat gerabah│Foto: tatkala.co/Dede

“Ya, saya begini saja setiap hari, sudah terbiasa, dan tak pernah jenuh,” ujarnya tersenyum kecil.

Di banyak tempat, barangkali kerajinan tradisional perlahan menyusut terdesak perubahan. Tetapi di Basang Tamiang, aktivitas membuat gerabah masih menjadi bagian dari laku harian masyarakat. Setiap hari, tanah diolah, bentuk demi bentuk dibuat, lalu dibakar di tungku-tungku warga. Selama ritme tersebut terus berlangsung, tradisi gerabah di banjar ini akan tetap lestari dan hidup sebagaimana adanya. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: BadungBanjar Basang TamiangDesa Kapalgerabahperajin gerabah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sisupāla, Krishna, dan Refleksi Kekinian

Next Post

Jalinan Kekerabatan, Merawat Ingatan, Memperkokoh Keyakinan: Catatan Pertalian Spiritual Ida Sasuhunan Beringkit-Gegelang.

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Jalinan Kekerabatan, Merawat Ingatan, Memperkokoh Keyakinan: Catatan Pertalian Spiritual Ida Sasuhunan Beringkit-Gegelang.

Jalinan Kekerabatan, Merawat Ingatan, Memperkokoh Keyakinan: Catatan Pertalian Spiritual Ida Sasuhunan Beringkit-Gegelang.

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co