22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sisupāla, Krishna, dan Refleksi Kekinian

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
November 26, 2025
in Esai
Sisupāla, Krishna, dan Refleksi Kekinian

Kresna dan Sisupala versi wayang Bali | Sumber gambar: https://tokohwayangpurwa.blogspot.com/

KISAH Sisupāla dalam Mahabharata selalu memikat karena memadukan paradoks antara kebencian dan pembebasan. Ia menghujat Krishna bukan sekali dua kali, tetapi hingga seratus kali—angka yang dalam tradisi Weda merupakan simbol “batas etis.” Krishna menahan diri, bahkan berjanji kepada ibu Sisupāla untuk memaafkan kesalahan anaknya hingga seratus kali. Namun pada penghinaan ke-101, Dharma menuntut tindakan. Cakra Sudarśana meluncur, mengakhiri hidup Sisupāla yang sejak lahir memang membawa takdir unik: diselamatkan, namun juga dihancurkan, oleh pribadi yang sama—Krishna.

Di balik kisah ini tersimpan pesan universal mengenai hubungan antara kesabaran, kritik, kebencian, kebenaran, dan ketegasan. Dan dalam konteks zaman yang penuh polarisasi, isu-isu publik seperti perdebatan mengenai legalitas ijazah presiden, atau isu-isu politik serupa, menjadi ruang refleksi untuk membaca ulang kisah Sisupāla.

Artikel ini tidak menilai benar-salah suatu kasus faktual, tetapi menjadikan dinamika isu publik sebagai cermin untuk memahami bagaimana Dharma bekerja pada tataran kehidupan modern.

Sisupāla dan Budaya Hujat di Era Digital

Sisupāla menghina Krishna bukan karena alasan rasional. Kebenciannya adalah obsesi. Ia membangun identitas melalui hinaan. Baginya, menyerang Krishna adalah tujuan hidup. Namun yang menarik: seluruh fokus batinnya tertuju pada Krishna. Dan, dalam logika spiritual India kuno, fokus total pada Tuhan—bahkan dalam bentuk negatif—tetap menyatukan jiwa dengan Sang Sumber.

Dalam dunia digital hari ini, kita menyaksikan pola yang mirip:

  • kritik berubah menjadi hujatan,
  • dialog berubah menjadi serangan,
  • dan perbedaan pandangan menjadi pembenaran untuk merendahkan.

Ketika sebuah isu muncul—misalnya isu keaslian ijazah Jokowi yang ramai dibicarakan publik—pola Sisupāla sering terlihat dalam cara sebagian netizen atau kelompok menyikapinya. Kritik dilakukan bukan lagi demi menemukan kebenaran, tetapi demi membuktikan prasangka. Pola ini berulang, obsesif, dan emosional. Seratus hinaan pertama mungkin masih dapat dimaklumi sebagai dinamika demokrasi. Tetapi ketika pola tersebut menjadi kebiasaan nasional, kita sedang menciptakan banyak Sisupāla baru—orang-orang yang tenggelam dalam energi kebencian.

Kesabaran Krishna: Pemimpin Tidak Boleh Reaktif

Di sisi lain, Krishna menunjukkan kualitas seorang pemimpin Dharma:

  • sabar,
  • tidak reaktif,
  • tidak mudah tersulut,
  • memberikan ruang bagi kritik,
  • bahkan menampung hinaan hingga batas tertentu.

Kesabaran Krishna bukan tanda kelemahan, melainkan kedalaman batin. Dalam konteks kekinian, pemimpin publik idealnya menunjukkan kualitas yang sama. Ia tahu bahwa kritik adalah bagian dari demokrasi. Ia tahu bahwa ruang publik hari ini sangat bising. Ia memilih bijak, menahan diri, dan tidak membalas serangan dengan kemarahan.

Namun kesabaran bukan tanpa batas. Dharma menuntut keseimbangan antara toleransi dan ketegasan. Pada waktu yang tepat, Krishna bertindak melalui metafora Sudarśana Cakra—bukan sebagai senjata kekerasan, melainkan simbol tegaknya kebenaran.

Dalam konteks modern, “cakra” bisa berarti:

  • proses hukum,
  • audit publik,
  • klarifikasi resmi,
  • transparansi dokumen,
  • atau putusan pengadilan yang adil.
  • Cakra Sudarsana dalam konteks modern juga bisa berarti hak prerogatif presiden atas putusan hukum yang menciderai rasa keadilan masyarakat.

Kebenaran tidak ditegakkan dengan emosi, tetapi dengan mekanisme Dharma: tertib, jernih, dan terukur.

Kritik dalam Dharma: Berani Menguji Diri Sendiri

Sisupāla melihat Krishna sebagai sumber masalahnya. Ia tidak pernah memeriksa dirinya sendiri. Di sinilah ia gagal. Karena tanpa kontemplasi diri, kritik berubah menjadi cermin retak yang memantulkan wajah kebencian.

Dalam masyarakat modern, pelajaran ini penting, terutama ketika menghadapi isu-isu politik yang sensitif. Demokrasi membutuhkan keberanian untuk mengkritik, tetapi juga membutuhkan kedewasaan untuk:

  • memeriksa motivasi diri,
  • melihat apakah kita sedang membela kebenaran atau sekadar membela ego,
  • membedakan antara kepentingan publik dan kepentingan kelompok,
  • membedakan kritik berbasis data dan kritik berbasis emosi.

Dalam isu ijazah Jokowi, misalnya, dua ekstrem harus diwaspadai:

  • pihak yang menyerang dengan agresif tanpa bukti kuat, dan
  • pihak yang menolak semua kritik tanpa memberi ruang transparansi.

Dharma bukan berada di salah satu sisi, melainkan pada jalan tengah yang memperhatikan bukti, proses, dan ketenangan batin.

Seratus Pengampunan: Ruang Perbaikan Tanpa Impunitas

Pengampunan Krishna hingga 100 kali melambangkan dua hal penting:

  1. Ruang bagi manusia untuk salah.
    Demokrasi sehat memberi ruang untuk kritik, kebebasan berekspresi, bahkan kesalahan.
  2. Tetapi pengampunan tidak berarti pembiaran.
    Dalam kehidupan publik, kesalahan yang berulang—baik kesalahan komunikasi, manipulasi informasi, maupun pencemaran nama baik—harus dihadapi dengan ketegasan.

Ini berlaku pada dua arah:

  • bila sebuah tuduhan tidak berdasar, klarifikasi harus tegas;
  • bila sebuah dugaan menyangkut kepentingan publik, transparansi harus jelas.

Seratus pengampunan adalah simbol kesabaran yang bijaksana, bukan kelemahan moral.

Sudarśana Cakra: Kebenaran sebagai Mekanisme, bukan Emosi

Ketika Krishna melepaskan Cakra Sudarśana, itu bukan pelampiasan marah. Itu mekanisme kosmis. Ketertiban mengayun ketika ketidaktertiban mencapai puncaknya.

Dalam era sekarang, kebenaran tidak ditegakkan oleh individu, tetapi oleh:

  • proses hukum,
  • birokrasi yang transparan,
  • jurnalisme yang bertanggung jawab,
  • nalar publik yang sehat,
  • dan budaya dialog.

Cakra Sudarśana adalah ketertiban yang mengalahkan kekacauan, bukan emosionalitas yang mengalahkan emosionalitas.

Menjadi Masyarakat Dharma: Tidak Meniru Sisupāla, Tidak Berpura-pura Jadi Krishna

Kisah ini mengajak kita untuk melihat batas-batas masing-masing.

  • Jangan menjadi Sisupāla yang terjebak dalam obsesi kebencian.
  • Jangan pula mengklaim diri sebagai Krishna—merasa paling benar, paling suci, paling tak tersentuh kritik.

Dalam isu apa pun—isu ijazah, isu etika publik, isu hukum, atau isu politik lainnya—yang terpenting bukan siapa yang benar dan siapa yang salah pada permukaan, tetapi bagaimana kita menjaga diri agar tetap berada pada jalur Dharma:

  • berhati tenang,
  • berpikir jernih,
  • berani mencari data,
  • berani menerima fakta,
  • dan tidak terjebak dalam pusaran emosi kolektif.

Dharma sebagai Jalan Tengah Publik

Kisah Sisupāla mengajarkan bahwa di dunia ini selalu ada ruang bagi kesalahan—tetapi tidak tanpa batas. Kebenaran membutuhkan kesabaran, tetapi pada titik tertentu membutuhkan ketegasan.

Di tengah hiruk-pikuk isu publik, pelajaran ini terasa relevan:

  • kritik perlu,
  • transparansi perlu,
  • ketertiban perlu,
  • dan kedewasaan spiritual masyarakat adalah syarat mutlak agar demokrasi dapat berjalan.

Pada akhirnya, pertarungan bukan antara tokoh publik A dan B, melainkan antara Dharma dan adharma dalam diri setiap manusia.

Dan pada titik itu, kisah Sisupāla bukan lagi cerita kuno—tetapi cermin zaman. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: filsafatkisah mahabharataKresnaMahabharataSisupala
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Dancing With Marya’ Meriahkan ‘2025 Tainan Arts Festival’: Karya Mang Tri dari Menelusuri Kembali Arsip Kebyar Duduk

Next Post

Singgah Sejenak di Banjar Basang Tamiang, Desa Kapal —Tempat Putu Artini dan Rai Suweni Hidup Bersama Gerabah

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Singgah Sejenak di Banjar Basang Tamiang, Desa Kapal —Tempat Putu Artini dan Rai Suweni Hidup Bersama Gerabah

Singgah Sejenak di Banjar Basang Tamiang, Desa Kapal ---Tempat Putu Artini dan Rai Suweni Hidup Bersama Gerabah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co