3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sisupāla, Krishna, dan Refleksi Kekinian

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
November 26, 2025
in Esai
Sisupāla, Krishna, dan Refleksi Kekinian

Kresna dan Sisupala versi wayang Bali | Sumber gambar: https://tokohwayangpurwa.blogspot.com/

KISAH Sisupāla dalam Mahabharata selalu memikat karena memadukan paradoks antara kebencian dan pembebasan. Ia menghujat Krishna bukan sekali dua kali, tetapi hingga seratus kali—angka yang dalam tradisi Weda merupakan simbol “batas etis.” Krishna menahan diri, bahkan berjanji kepada ibu Sisupāla untuk memaafkan kesalahan anaknya hingga seratus kali. Namun pada penghinaan ke-101, Dharma menuntut tindakan. Cakra Sudarśana meluncur, mengakhiri hidup Sisupāla yang sejak lahir memang membawa takdir unik: diselamatkan, namun juga dihancurkan, oleh pribadi yang sama—Krishna.

Di balik kisah ini tersimpan pesan universal mengenai hubungan antara kesabaran, kritik, kebencian, kebenaran, dan ketegasan. Dan dalam konteks zaman yang penuh polarisasi, isu-isu publik seperti perdebatan mengenai legalitas ijazah presiden, atau isu-isu politik serupa, menjadi ruang refleksi untuk membaca ulang kisah Sisupāla.

Artikel ini tidak menilai benar-salah suatu kasus faktual, tetapi menjadikan dinamika isu publik sebagai cermin untuk memahami bagaimana Dharma bekerja pada tataran kehidupan modern.

Sisupāla dan Budaya Hujat di Era Digital

Sisupāla menghina Krishna bukan karena alasan rasional. Kebenciannya adalah obsesi. Ia membangun identitas melalui hinaan. Baginya, menyerang Krishna adalah tujuan hidup. Namun yang menarik: seluruh fokus batinnya tertuju pada Krishna. Dan, dalam logika spiritual India kuno, fokus total pada Tuhan—bahkan dalam bentuk negatif—tetap menyatukan jiwa dengan Sang Sumber.

Dalam dunia digital hari ini, kita menyaksikan pola yang mirip:

  • kritik berubah menjadi hujatan,
  • dialog berubah menjadi serangan,
  • dan perbedaan pandangan menjadi pembenaran untuk merendahkan.

Ketika sebuah isu muncul—misalnya isu keaslian ijazah Jokowi yang ramai dibicarakan publik—pola Sisupāla sering terlihat dalam cara sebagian netizen atau kelompok menyikapinya. Kritik dilakukan bukan lagi demi menemukan kebenaran, tetapi demi membuktikan prasangka. Pola ini berulang, obsesif, dan emosional. Seratus hinaan pertama mungkin masih dapat dimaklumi sebagai dinamika demokrasi. Tetapi ketika pola tersebut menjadi kebiasaan nasional, kita sedang menciptakan banyak Sisupāla baru—orang-orang yang tenggelam dalam energi kebencian.

Kesabaran Krishna: Pemimpin Tidak Boleh Reaktif

Di sisi lain, Krishna menunjukkan kualitas seorang pemimpin Dharma:

  • sabar,
  • tidak reaktif,
  • tidak mudah tersulut,
  • memberikan ruang bagi kritik,
  • bahkan menampung hinaan hingga batas tertentu.

Kesabaran Krishna bukan tanda kelemahan, melainkan kedalaman batin. Dalam konteks kekinian, pemimpin publik idealnya menunjukkan kualitas yang sama. Ia tahu bahwa kritik adalah bagian dari demokrasi. Ia tahu bahwa ruang publik hari ini sangat bising. Ia memilih bijak, menahan diri, dan tidak membalas serangan dengan kemarahan.

Namun kesabaran bukan tanpa batas. Dharma menuntut keseimbangan antara toleransi dan ketegasan. Pada waktu yang tepat, Krishna bertindak melalui metafora Sudarśana Cakra—bukan sebagai senjata kekerasan, melainkan simbol tegaknya kebenaran.

Dalam konteks modern, “cakra” bisa berarti:

  • proses hukum,
  • audit publik,
  • klarifikasi resmi,
  • transparansi dokumen,
  • atau putusan pengadilan yang adil.
  • Cakra Sudarsana dalam konteks modern juga bisa berarti hak prerogatif presiden atas putusan hukum yang menciderai rasa keadilan masyarakat.

Kebenaran tidak ditegakkan dengan emosi, tetapi dengan mekanisme Dharma: tertib, jernih, dan terukur.

Kritik dalam Dharma: Berani Menguji Diri Sendiri

Sisupāla melihat Krishna sebagai sumber masalahnya. Ia tidak pernah memeriksa dirinya sendiri. Di sinilah ia gagal. Karena tanpa kontemplasi diri, kritik berubah menjadi cermin retak yang memantulkan wajah kebencian.

Dalam masyarakat modern, pelajaran ini penting, terutama ketika menghadapi isu-isu politik yang sensitif. Demokrasi membutuhkan keberanian untuk mengkritik, tetapi juga membutuhkan kedewasaan untuk:

  • memeriksa motivasi diri,
  • melihat apakah kita sedang membela kebenaran atau sekadar membela ego,
  • membedakan antara kepentingan publik dan kepentingan kelompok,
  • membedakan kritik berbasis data dan kritik berbasis emosi.

Dalam isu ijazah Jokowi, misalnya, dua ekstrem harus diwaspadai:

  • pihak yang menyerang dengan agresif tanpa bukti kuat, dan
  • pihak yang menolak semua kritik tanpa memberi ruang transparansi.

Dharma bukan berada di salah satu sisi, melainkan pada jalan tengah yang memperhatikan bukti, proses, dan ketenangan batin.

Seratus Pengampunan: Ruang Perbaikan Tanpa Impunitas

Pengampunan Krishna hingga 100 kali melambangkan dua hal penting:

  1. Ruang bagi manusia untuk salah.
    Demokrasi sehat memberi ruang untuk kritik, kebebasan berekspresi, bahkan kesalahan.
  2. Tetapi pengampunan tidak berarti pembiaran.
    Dalam kehidupan publik, kesalahan yang berulang—baik kesalahan komunikasi, manipulasi informasi, maupun pencemaran nama baik—harus dihadapi dengan ketegasan.

Ini berlaku pada dua arah:

  • bila sebuah tuduhan tidak berdasar, klarifikasi harus tegas;
  • bila sebuah dugaan menyangkut kepentingan publik, transparansi harus jelas.

Seratus pengampunan adalah simbol kesabaran yang bijaksana, bukan kelemahan moral.

Sudarśana Cakra: Kebenaran sebagai Mekanisme, bukan Emosi

Ketika Krishna melepaskan Cakra Sudarśana, itu bukan pelampiasan marah. Itu mekanisme kosmis. Ketertiban mengayun ketika ketidaktertiban mencapai puncaknya.

Dalam era sekarang, kebenaran tidak ditegakkan oleh individu, tetapi oleh:

  • proses hukum,
  • birokrasi yang transparan,
  • jurnalisme yang bertanggung jawab,
  • nalar publik yang sehat,
  • dan budaya dialog.

Cakra Sudarśana adalah ketertiban yang mengalahkan kekacauan, bukan emosionalitas yang mengalahkan emosionalitas.

Menjadi Masyarakat Dharma: Tidak Meniru Sisupāla, Tidak Berpura-pura Jadi Krishna

Kisah ini mengajak kita untuk melihat batas-batas masing-masing.

  • Jangan menjadi Sisupāla yang terjebak dalam obsesi kebencian.
  • Jangan pula mengklaim diri sebagai Krishna—merasa paling benar, paling suci, paling tak tersentuh kritik.

Dalam isu apa pun—isu ijazah, isu etika publik, isu hukum, atau isu politik lainnya—yang terpenting bukan siapa yang benar dan siapa yang salah pada permukaan, tetapi bagaimana kita menjaga diri agar tetap berada pada jalur Dharma:

  • berhati tenang,
  • berpikir jernih,
  • berani mencari data,
  • berani menerima fakta,
  • dan tidak terjebak dalam pusaran emosi kolektif.

Dharma sebagai Jalan Tengah Publik

Kisah Sisupāla mengajarkan bahwa di dunia ini selalu ada ruang bagi kesalahan—tetapi tidak tanpa batas. Kebenaran membutuhkan kesabaran, tetapi pada titik tertentu membutuhkan ketegasan.

Di tengah hiruk-pikuk isu publik, pelajaran ini terasa relevan:

  • kritik perlu,
  • transparansi perlu,
  • ketertiban perlu,
  • dan kedewasaan spiritual masyarakat adalah syarat mutlak agar demokrasi dapat berjalan.

Pada akhirnya, pertarungan bukan antara tokoh publik A dan B, melainkan antara Dharma dan adharma dalam diri setiap manusia.

Dan pada titik itu, kisah Sisupāla bukan lagi cerita kuno—tetapi cermin zaman. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: filsafatkisah mahabharataKresnaMahabharataSisupala
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Dancing With Marya’ Meriahkan ‘2025 Tainan Arts Festival’: Karya Mang Tri dari Menelusuri Kembali Arsip Kebyar Duduk

Next Post

Singgah Sejenak di Banjar Basang Tamiang, Desa Kapal —Tempat Putu Artini dan Rai Suweni Hidup Bersama Gerabah

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Singgah Sejenak di Banjar Basang Tamiang, Desa Kapal —Tempat Putu Artini dan Rai Suweni Hidup Bersama Gerabah

Singgah Sejenak di Banjar Basang Tamiang, Desa Kapal ---Tempat Putu Artini dan Rai Suweni Hidup Bersama Gerabah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co