2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sisupāla, Krishna, dan Refleksi Kekinian

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
November 26, 2025
in Esai
Sisupāla, Krishna, dan Refleksi Kekinian

Kresna dan Sisupala versi wayang Bali | Sumber gambar: https://tokohwayangpurwa.blogspot.com/

KISAH Sisupāla dalam Mahabharata selalu memikat karena memadukan paradoks antara kebencian dan pembebasan. Ia menghujat Krishna bukan sekali dua kali, tetapi hingga seratus kali—angka yang dalam tradisi Weda merupakan simbol “batas etis.” Krishna menahan diri, bahkan berjanji kepada ibu Sisupāla untuk memaafkan kesalahan anaknya hingga seratus kali. Namun pada penghinaan ke-101, Dharma menuntut tindakan. Cakra Sudarśana meluncur, mengakhiri hidup Sisupāla yang sejak lahir memang membawa takdir unik: diselamatkan, namun juga dihancurkan, oleh pribadi yang sama—Krishna.

Di balik kisah ini tersimpan pesan universal mengenai hubungan antara kesabaran, kritik, kebencian, kebenaran, dan ketegasan. Dan dalam konteks zaman yang penuh polarisasi, isu-isu publik seperti perdebatan mengenai legalitas ijazah presiden, atau isu-isu politik serupa, menjadi ruang refleksi untuk membaca ulang kisah Sisupāla.

Artikel ini tidak menilai benar-salah suatu kasus faktual, tetapi menjadikan dinamika isu publik sebagai cermin untuk memahami bagaimana Dharma bekerja pada tataran kehidupan modern.

Sisupāla dan Budaya Hujat di Era Digital

Sisupāla menghina Krishna bukan karena alasan rasional. Kebenciannya adalah obsesi. Ia membangun identitas melalui hinaan. Baginya, menyerang Krishna adalah tujuan hidup. Namun yang menarik: seluruh fokus batinnya tertuju pada Krishna. Dan, dalam logika spiritual India kuno, fokus total pada Tuhan—bahkan dalam bentuk negatif—tetap menyatukan jiwa dengan Sang Sumber.

Dalam dunia digital hari ini, kita menyaksikan pola yang mirip:

  • kritik berubah menjadi hujatan,
  • dialog berubah menjadi serangan,
  • dan perbedaan pandangan menjadi pembenaran untuk merendahkan.

Ketika sebuah isu muncul—misalnya isu keaslian ijazah Jokowi yang ramai dibicarakan publik—pola Sisupāla sering terlihat dalam cara sebagian netizen atau kelompok menyikapinya. Kritik dilakukan bukan lagi demi menemukan kebenaran, tetapi demi membuktikan prasangka. Pola ini berulang, obsesif, dan emosional. Seratus hinaan pertama mungkin masih dapat dimaklumi sebagai dinamika demokrasi. Tetapi ketika pola tersebut menjadi kebiasaan nasional, kita sedang menciptakan banyak Sisupāla baru—orang-orang yang tenggelam dalam energi kebencian.

Kesabaran Krishna: Pemimpin Tidak Boleh Reaktif

Di sisi lain, Krishna menunjukkan kualitas seorang pemimpin Dharma:

  • sabar,
  • tidak reaktif,
  • tidak mudah tersulut,
  • memberikan ruang bagi kritik,
  • bahkan menampung hinaan hingga batas tertentu.

Kesabaran Krishna bukan tanda kelemahan, melainkan kedalaman batin. Dalam konteks kekinian, pemimpin publik idealnya menunjukkan kualitas yang sama. Ia tahu bahwa kritik adalah bagian dari demokrasi. Ia tahu bahwa ruang publik hari ini sangat bising. Ia memilih bijak, menahan diri, dan tidak membalas serangan dengan kemarahan.

Namun kesabaran bukan tanpa batas. Dharma menuntut keseimbangan antara toleransi dan ketegasan. Pada waktu yang tepat, Krishna bertindak melalui metafora Sudarśana Cakra—bukan sebagai senjata kekerasan, melainkan simbol tegaknya kebenaran.

Dalam konteks modern, “cakra” bisa berarti:

  • proses hukum,
  • audit publik,
  • klarifikasi resmi,
  • transparansi dokumen,
  • atau putusan pengadilan yang adil.
  • Cakra Sudarsana dalam konteks modern juga bisa berarti hak prerogatif presiden atas putusan hukum yang menciderai rasa keadilan masyarakat.

Kebenaran tidak ditegakkan dengan emosi, tetapi dengan mekanisme Dharma: tertib, jernih, dan terukur.

Kritik dalam Dharma: Berani Menguji Diri Sendiri

Sisupāla melihat Krishna sebagai sumber masalahnya. Ia tidak pernah memeriksa dirinya sendiri. Di sinilah ia gagal. Karena tanpa kontemplasi diri, kritik berubah menjadi cermin retak yang memantulkan wajah kebencian.

Dalam masyarakat modern, pelajaran ini penting, terutama ketika menghadapi isu-isu politik yang sensitif. Demokrasi membutuhkan keberanian untuk mengkritik, tetapi juga membutuhkan kedewasaan untuk:

  • memeriksa motivasi diri,
  • melihat apakah kita sedang membela kebenaran atau sekadar membela ego,
  • membedakan antara kepentingan publik dan kepentingan kelompok,
  • membedakan kritik berbasis data dan kritik berbasis emosi.

Dalam isu ijazah Jokowi, misalnya, dua ekstrem harus diwaspadai:

  • pihak yang menyerang dengan agresif tanpa bukti kuat, dan
  • pihak yang menolak semua kritik tanpa memberi ruang transparansi.

Dharma bukan berada di salah satu sisi, melainkan pada jalan tengah yang memperhatikan bukti, proses, dan ketenangan batin.

Seratus Pengampunan: Ruang Perbaikan Tanpa Impunitas

Pengampunan Krishna hingga 100 kali melambangkan dua hal penting:

  1. Ruang bagi manusia untuk salah.
    Demokrasi sehat memberi ruang untuk kritik, kebebasan berekspresi, bahkan kesalahan.
  2. Tetapi pengampunan tidak berarti pembiaran.
    Dalam kehidupan publik, kesalahan yang berulang—baik kesalahan komunikasi, manipulasi informasi, maupun pencemaran nama baik—harus dihadapi dengan ketegasan.

Ini berlaku pada dua arah:

  • bila sebuah tuduhan tidak berdasar, klarifikasi harus tegas;
  • bila sebuah dugaan menyangkut kepentingan publik, transparansi harus jelas.

Seratus pengampunan adalah simbol kesabaran yang bijaksana, bukan kelemahan moral.

Sudarśana Cakra: Kebenaran sebagai Mekanisme, bukan Emosi

Ketika Krishna melepaskan Cakra Sudarśana, itu bukan pelampiasan marah. Itu mekanisme kosmis. Ketertiban mengayun ketika ketidaktertiban mencapai puncaknya.

Dalam era sekarang, kebenaran tidak ditegakkan oleh individu, tetapi oleh:

  • proses hukum,
  • birokrasi yang transparan,
  • jurnalisme yang bertanggung jawab,
  • nalar publik yang sehat,
  • dan budaya dialog.

Cakra Sudarśana adalah ketertiban yang mengalahkan kekacauan, bukan emosionalitas yang mengalahkan emosionalitas.

Menjadi Masyarakat Dharma: Tidak Meniru Sisupāla, Tidak Berpura-pura Jadi Krishna

Kisah ini mengajak kita untuk melihat batas-batas masing-masing.

  • Jangan menjadi Sisupāla yang terjebak dalam obsesi kebencian.
  • Jangan pula mengklaim diri sebagai Krishna—merasa paling benar, paling suci, paling tak tersentuh kritik.

Dalam isu apa pun—isu ijazah, isu etika publik, isu hukum, atau isu politik lainnya—yang terpenting bukan siapa yang benar dan siapa yang salah pada permukaan, tetapi bagaimana kita menjaga diri agar tetap berada pada jalur Dharma:

  • berhati tenang,
  • berpikir jernih,
  • berani mencari data,
  • berani menerima fakta,
  • dan tidak terjebak dalam pusaran emosi kolektif.

Dharma sebagai Jalan Tengah Publik

Kisah Sisupāla mengajarkan bahwa di dunia ini selalu ada ruang bagi kesalahan—tetapi tidak tanpa batas. Kebenaran membutuhkan kesabaran, tetapi pada titik tertentu membutuhkan ketegasan.

Di tengah hiruk-pikuk isu publik, pelajaran ini terasa relevan:

  • kritik perlu,
  • transparansi perlu,
  • ketertiban perlu,
  • dan kedewasaan spiritual masyarakat adalah syarat mutlak agar demokrasi dapat berjalan.

Pada akhirnya, pertarungan bukan antara tokoh publik A dan B, melainkan antara Dharma dan adharma dalam diri setiap manusia.

Dan pada titik itu, kisah Sisupāla bukan lagi cerita kuno—tetapi cermin zaman. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: filsafatkisah mahabharataKresnaMahabharataSisupala
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Dancing With Marya’ Meriahkan ‘2025 Tainan Arts Festival’: Karya Mang Tri dari Menelusuri Kembali Arsip Kebyar Duduk

Next Post

Singgah Sejenak di Banjar Basang Tamiang, Desa Kapal —Tempat Putu Artini dan Rai Suweni Hidup Bersama Gerabah

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Singgah Sejenak di Banjar Basang Tamiang, Desa Kapal —Tempat Putu Artini dan Rai Suweni Hidup Bersama Gerabah

Singgah Sejenak di Banjar Basang Tamiang, Desa Kapal ---Tempat Putu Artini dan Rai Suweni Hidup Bersama Gerabah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co