2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sisupāla, Krishna, dan Refleksi Kekinian

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
November 26, 2025
in Esai
Sisupāla, Krishna, dan Refleksi Kekinian

Kresna dan Sisupala versi wayang Bali | Sumber gambar: https://tokohwayangpurwa.blogspot.com/

KISAH Sisupāla dalam Mahabharata selalu memikat karena memadukan paradoks antara kebencian dan pembebasan. Ia menghujat Krishna bukan sekali dua kali, tetapi hingga seratus kali—angka yang dalam tradisi Weda merupakan simbol “batas etis.” Krishna menahan diri, bahkan berjanji kepada ibu Sisupāla untuk memaafkan kesalahan anaknya hingga seratus kali. Namun pada penghinaan ke-101, Dharma menuntut tindakan. Cakra Sudarśana meluncur, mengakhiri hidup Sisupāla yang sejak lahir memang membawa takdir unik: diselamatkan, namun juga dihancurkan, oleh pribadi yang sama—Krishna.

Di balik kisah ini tersimpan pesan universal mengenai hubungan antara kesabaran, kritik, kebencian, kebenaran, dan ketegasan. Dan dalam konteks zaman yang penuh polarisasi, isu-isu publik seperti perdebatan mengenai legalitas ijazah presiden, atau isu-isu politik serupa, menjadi ruang refleksi untuk membaca ulang kisah Sisupāla.

Artikel ini tidak menilai benar-salah suatu kasus faktual, tetapi menjadikan dinamika isu publik sebagai cermin untuk memahami bagaimana Dharma bekerja pada tataran kehidupan modern.

Sisupāla dan Budaya Hujat di Era Digital

Sisupāla menghina Krishna bukan karena alasan rasional. Kebenciannya adalah obsesi. Ia membangun identitas melalui hinaan. Baginya, menyerang Krishna adalah tujuan hidup. Namun yang menarik: seluruh fokus batinnya tertuju pada Krishna. Dan, dalam logika spiritual India kuno, fokus total pada Tuhan—bahkan dalam bentuk negatif—tetap menyatukan jiwa dengan Sang Sumber.

Dalam dunia digital hari ini, kita menyaksikan pola yang mirip:

  • kritik berubah menjadi hujatan,
  • dialog berubah menjadi serangan,
  • dan perbedaan pandangan menjadi pembenaran untuk merendahkan.

Ketika sebuah isu muncul—misalnya isu keaslian ijazah Jokowi yang ramai dibicarakan publik—pola Sisupāla sering terlihat dalam cara sebagian netizen atau kelompok menyikapinya. Kritik dilakukan bukan lagi demi menemukan kebenaran, tetapi demi membuktikan prasangka. Pola ini berulang, obsesif, dan emosional. Seratus hinaan pertama mungkin masih dapat dimaklumi sebagai dinamika demokrasi. Tetapi ketika pola tersebut menjadi kebiasaan nasional, kita sedang menciptakan banyak Sisupāla baru—orang-orang yang tenggelam dalam energi kebencian.

Kesabaran Krishna: Pemimpin Tidak Boleh Reaktif

Di sisi lain, Krishna menunjukkan kualitas seorang pemimpin Dharma:

  • sabar,
  • tidak reaktif,
  • tidak mudah tersulut,
  • memberikan ruang bagi kritik,
  • bahkan menampung hinaan hingga batas tertentu.

Kesabaran Krishna bukan tanda kelemahan, melainkan kedalaman batin. Dalam konteks kekinian, pemimpin publik idealnya menunjukkan kualitas yang sama. Ia tahu bahwa kritik adalah bagian dari demokrasi. Ia tahu bahwa ruang publik hari ini sangat bising. Ia memilih bijak, menahan diri, dan tidak membalas serangan dengan kemarahan.

Namun kesabaran bukan tanpa batas. Dharma menuntut keseimbangan antara toleransi dan ketegasan. Pada waktu yang tepat, Krishna bertindak melalui metafora Sudarśana Cakra—bukan sebagai senjata kekerasan, melainkan simbol tegaknya kebenaran.

Dalam konteks modern, “cakra” bisa berarti:

  • proses hukum,
  • audit publik,
  • klarifikasi resmi,
  • transparansi dokumen,
  • atau putusan pengadilan yang adil.
  • Cakra Sudarsana dalam konteks modern juga bisa berarti hak prerogatif presiden atas putusan hukum yang menciderai rasa keadilan masyarakat.

Kebenaran tidak ditegakkan dengan emosi, tetapi dengan mekanisme Dharma: tertib, jernih, dan terukur.

Kritik dalam Dharma: Berani Menguji Diri Sendiri

Sisupāla melihat Krishna sebagai sumber masalahnya. Ia tidak pernah memeriksa dirinya sendiri. Di sinilah ia gagal. Karena tanpa kontemplasi diri, kritik berubah menjadi cermin retak yang memantulkan wajah kebencian.

Dalam masyarakat modern, pelajaran ini penting, terutama ketika menghadapi isu-isu politik yang sensitif. Demokrasi membutuhkan keberanian untuk mengkritik, tetapi juga membutuhkan kedewasaan untuk:

  • memeriksa motivasi diri,
  • melihat apakah kita sedang membela kebenaran atau sekadar membela ego,
  • membedakan antara kepentingan publik dan kepentingan kelompok,
  • membedakan kritik berbasis data dan kritik berbasis emosi.

Dalam isu ijazah Jokowi, misalnya, dua ekstrem harus diwaspadai:

  • pihak yang menyerang dengan agresif tanpa bukti kuat, dan
  • pihak yang menolak semua kritik tanpa memberi ruang transparansi.

Dharma bukan berada di salah satu sisi, melainkan pada jalan tengah yang memperhatikan bukti, proses, dan ketenangan batin.

Seratus Pengampunan: Ruang Perbaikan Tanpa Impunitas

Pengampunan Krishna hingga 100 kali melambangkan dua hal penting:

  1. Ruang bagi manusia untuk salah.
    Demokrasi sehat memberi ruang untuk kritik, kebebasan berekspresi, bahkan kesalahan.
  2. Tetapi pengampunan tidak berarti pembiaran.
    Dalam kehidupan publik, kesalahan yang berulang—baik kesalahan komunikasi, manipulasi informasi, maupun pencemaran nama baik—harus dihadapi dengan ketegasan.

Ini berlaku pada dua arah:

  • bila sebuah tuduhan tidak berdasar, klarifikasi harus tegas;
  • bila sebuah dugaan menyangkut kepentingan publik, transparansi harus jelas.

Seratus pengampunan adalah simbol kesabaran yang bijaksana, bukan kelemahan moral.

Sudarśana Cakra: Kebenaran sebagai Mekanisme, bukan Emosi

Ketika Krishna melepaskan Cakra Sudarśana, itu bukan pelampiasan marah. Itu mekanisme kosmis. Ketertiban mengayun ketika ketidaktertiban mencapai puncaknya.

Dalam era sekarang, kebenaran tidak ditegakkan oleh individu, tetapi oleh:

  • proses hukum,
  • birokrasi yang transparan,
  • jurnalisme yang bertanggung jawab,
  • nalar publik yang sehat,
  • dan budaya dialog.

Cakra Sudarśana adalah ketertiban yang mengalahkan kekacauan, bukan emosionalitas yang mengalahkan emosionalitas.

Menjadi Masyarakat Dharma: Tidak Meniru Sisupāla, Tidak Berpura-pura Jadi Krishna

Kisah ini mengajak kita untuk melihat batas-batas masing-masing.

  • Jangan menjadi Sisupāla yang terjebak dalam obsesi kebencian.
  • Jangan pula mengklaim diri sebagai Krishna—merasa paling benar, paling suci, paling tak tersentuh kritik.

Dalam isu apa pun—isu ijazah, isu etika publik, isu hukum, atau isu politik lainnya—yang terpenting bukan siapa yang benar dan siapa yang salah pada permukaan, tetapi bagaimana kita menjaga diri agar tetap berada pada jalur Dharma:

  • berhati tenang,
  • berpikir jernih,
  • berani mencari data,
  • berani menerima fakta,
  • dan tidak terjebak dalam pusaran emosi kolektif.

Dharma sebagai Jalan Tengah Publik

Kisah Sisupāla mengajarkan bahwa di dunia ini selalu ada ruang bagi kesalahan—tetapi tidak tanpa batas. Kebenaran membutuhkan kesabaran, tetapi pada titik tertentu membutuhkan ketegasan.

Di tengah hiruk-pikuk isu publik, pelajaran ini terasa relevan:

  • kritik perlu,
  • transparansi perlu,
  • ketertiban perlu,
  • dan kedewasaan spiritual masyarakat adalah syarat mutlak agar demokrasi dapat berjalan.

Pada akhirnya, pertarungan bukan antara tokoh publik A dan B, melainkan antara Dharma dan adharma dalam diri setiap manusia.

Dan pada titik itu, kisah Sisupāla bukan lagi cerita kuno—tetapi cermin zaman. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: filsafatkisah mahabharataKresnaMahabharataSisupala
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Dancing With Marya’ Meriahkan ‘2025 Tainan Arts Festival’: Karya Mang Tri dari Menelusuri Kembali Arsip Kebyar Duduk

Next Post

Singgah Sejenak di Banjar Basang Tamiang, Desa Kapal —Tempat Putu Artini dan Rai Suweni Hidup Bersama Gerabah

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Singgah Sejenak di Banjar Basang Tamiang, Desa Kapal —Tempat Putu Artini dan Rai Suweni Hidup Bersama Gerabah

Singgah Sejenak di Banjar Basang Tamiang, Desa Kapal ---Tempat Putu Artini dan Rai Suweni Hidup Bersama Gerabah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co