27 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jalinan Kekerabatan, Merawat Ingatan, Memperkokoh Keyakinan: Catatan Pertalian Spiritual Ida Sasuhunan Beringkit-Gegelang.

IGP Weda Adi Wangsa by IGP Weda Adi Wangsa
November 26, 2025
in Khas
Jalinan Kekerabatan, Merawat Ingatan, Memperkokoh Keyakinan: Catatan Pertalian Spiritual Ida Sasuhunan Beringkit-Gegelang.

Catatan Pertalian Spiritual Ida Sasuhunan Beringkit-Gegelang

Sehari setelah hari suci Galungan, pada tanggal 20 November 2025 kami di Desa Adat Beringkit, Mengwi, Badung melaksanakan piodalan di Pura Desa lan Puseh setempat. Perayaan kali ini cukup besar sebab bertepatan dengan tilem sasih keenem. Keistimewaan ditambah dengan hadirnya semeton Ida Bhatara(saudara niskala) yang berstana di Pura Dalem Gegelang, Banjar Perang-Lukluk. Momen ini dikenal dengan istilah nodya. Nodya artinya menyaksikan, yang disaksikan dalam hal ini adalah piodalan di Pura Desa lan Puseh, Desa Adat Beringkit.

Ida Sasuhunan Pura Dalem Gegelang, Perang-Lukluk. Sumber: Instragram @widyagitapuspita

Tepat Pukul 16.00 Wita kami para warga Beringkit berbondong-bondong menuju jembatan batas antara Desa Adat Kapal dan Desa Adat Beringkit. Tujuan kami menuju jembatan yang berada di jalan protokol Denpasar-Gilimanuk itu adalah untuk memendak (menjemput) Ida Bhatara Pura Dalem Gegelangyang berwujud barong dan rangda. Setelah tiba, secara bersamaan iring-iringan yang panjang mulai terlihat dari ujung timur jalan raya.

Barisan terdepan adalah pengawin (senjata) berupa tombak, bandrang, umbul-umbul. Kemudian disusul oleh barisan ibu-ibu PKK dengan kostum seragam berwarna kebaya putih dan kamben ungu lengkap dengan keben yang mereka bawa di kepala. Kegiatan membawa keben dan menaruhnya di kepala dikenal dengan istilah mapeed. Kemudian di baris ketiga adalah rombongan krama yang menandu Ida Bhatara. Kemudian di baris paling terakhir adalah gambelan balaganjur yang seakan menjadi bahan bakar semangat para pengiring Ida Bhatara.

Kedatangan Ida Bhatara Dalem Gegelang di Desa Adat Beringkit

Mapeed oleh ibu-ibu PKK Pura Dalem Gegelang, Perang-Lukluk

Setelah memasuki wilayah Desa Beringkit, seluruh piranti yang dibawa oleh pengiring Pura Dalem Gegelang dengan segera diambil alih oleh pengiring Desa Adat Beringkit. Ini adalah wujud empati terhadap para pengiring yang telah berjalan kaki sejauh 5 km dari Lukluk ke Beringkit. Setelah menghaturkan canang pemendak kemudian dilanjutkan dengan mengiringi Ida Bhatara menuju Pura Desa lan Puseh, Desa Adat Beringkit.

Harumnya bau kemenyan dan majagau dari pasepan mengiringi perjalanan sakral Ida Bhatara, serta suara kulkul (kentongan) yang bersahutan menyambut kehadiran beliau dengan gembira. Sesampainya di jaba pura Ida Bhatara dihaturkan labaan pitik sebagai sesajen penyambut. Ritus ini dikenal dengan nyambleh.

Nyambleh dalam hal ini dapat berarti menyembelih seekor hewan baik itik maupun anakan babi jantan. Setelah dihaturkan labaan pitik Ida Bhatara memasuki areal utamaning mandala dan distanakan pada bangunan suci Bale Murda Manik. Setelah seluruh rangkaian selesai, tepat pada pukul 18.00 Wita dilanjutkan dengan rangkaian pujawali.            

Hubungan Pucak Gegelang-Beringkit-Dalem Gegelang

 Tradisi nodya ini bukan hanya ritual tahunan, tetapi berakar pada sejarah panjang hubungan antara ketiga pura. Sampai saat ini hanya satu data tertulis yang saya temukan mengenai hubungan ketiga entitas yang berada di Pura Luhur Pucak Gegelang, Pura Desa Beringkit, dan Pura Dalem Gegelang. Sumber tertulis itu adalah prasasti yang tersimpan di Pura Luhur Pucak Gegelang, Nungnung-Petang. Ketika itu keadaan Desa Adat Nungnung dilanda musibah. Terdapat serangan dari hewan liar berupa macan.

Sontak, karena mendapatkan bahaya sedemikian, akhirnya beberapa masyarakat Nungnung mengungsi menuju beberapa wilayah. Wilayah-wilayah tersebut adalah Beringkit, Darmasaba, Buleleng, dsb. Kemudian prasasti tersebut menjelaskan bahwa, penduduk yang telah mengungsi kemudian membuat suatu altar pemujaan, yang digunakan untuk memuja entitas suci yang berstana di Pura Luhur Pucak Gegelang. Hingga saat ini altar pemujaan tersebut masih dapat ditemui di Pura Desa lan Puseh Desa Adat Beringkit serta Pura Dalem Gegelang, Banjar Perang-Lukluk.

Entitas yang kami puja adalah Ida Bhatara Lingsir yang bersetana dalam satu gedong/ bangunan suci. Persamaan yang masih dapat ditemukan hingga saat ini adalah wujud fisik dari entitas suci tersebut. Seperti teteken/ tongkat pandita dan siwa upakarana/ piranti pemujaan pandita siwa. Mengapa piranti seorang pandita? Sebab diyakini wujud dari Ida Bhatara Lingsir adalah seorang brahmana/ pandita.

Sehingga teteken dapat ditemukan di Desa Beringkit, sedangkan siwa upakarana dapat ditemukan di Pura Pucak Gegelang. Pura Dalem Gegelang juga memiliki altar pemujaan yang sama untuk Ida Bhatara di Pura Luhur Pucak Gegelang. Hubungan sekala-niskala masih terjalin hingga saat ini. hal tersebut tercermin ketika salah satu pura melaksanakan piodalan maka salah satu dari mereka pasti akan nodya pujawali di pura tersebut.

Kembali pulang untuk kembali datang

Setelah marerepan (menginap) selama satu hari, Ida Bhatara Dalem Gegelang akhirnya kembali ke Stana beliau di Pura Dalem Gegelang, Perang-Lukluk. Tepat pada pukul 07.00 Wita krama kembali memadati Utamaning Mandala Pura Desa lan Puseh Desa Adat Beringkit. Rangkaian diawali dengan ngééd atau memohon ijin pada Ida Bhatara bahwa akan dilaksanakan panyineban (penyelesaian upacara).

Kemudian dilanjutkan dengan kincang-kincung dan menghaturkan penyambleh berupa itik, bersamaan dengan itu Ida Bhatara diiringi berputar searah jarum jam sebanyak tiga kali atau dikenal dengan mapurwa daksina (berputar dari timur ke selatan). Semua rangkaian selesai pada pukul 07.30 Wita.

Kemudian Ida Bhatara Pura Dalem Gegelang bersiap untuk kembali pada stana beliau. Tabuh bebarongan mulai bergemuruh di areal jaba sisi pura. Momen haru sangat terasa, para prajuru bersalaman, memohon maaf atas segala kekurangan ketika menjamu para tamu di Pura Desa Beringkit. Tegur dan salam sampai jumpa juga terlihat dilakukan oleh masyarakatdesa.

Prosesi matur piuning sebelum Ida Bhatara Dalem Gegelang pulang

Para krama mempersiapkan Ida Bhatara pada tandu

Akhirnya Ida Bhatara mawali ring yogan ida (kembali pada tempatnya semula). Namun hal tersebut menjadi penanda, bahwa kembali pulang, juga untuk kembali datang pada perayaan-perayaan berikutnya.

Makna Perjalanan Ida Bhatara Dalem Gegelang

Perjalanan yang dilakukan secara manual (berjalan kaki) dari Lukluk ke Beringkit tentu hal yang menjadi pertanyaan. Di tengah keadaan dunia yang serba canggih, tersedia kendaraan yang beragam. Lantas mengapa mereka memilih berjalan kaki? Bukan soal pawisik Ida Bhatara, namun semangat gotong royong, rasa bakti, dan sraddha (keyakinan) yang masih ingin mereka jaga. Saat ini kita seringkali berjarak dalam dekat. Hal tersebut seringkali dipengaruhi oleh gadget. Kita sering sibuk dengan dunia dalam genggaman, tanpa memperdulikan siapapun. Semua keacuhan tersebut tentu dipicu oleh ketidaksadaran (tan eling).

Sehingga momen setahun sekali ini dapat meyadarkan kita, bahwa kita masih memiliki hubungan yang luas antara manusia, lingkungan, dan tuhan. Disinilah konsep nyata Tri Hita Karana dapat berlaku. Dengan sedikit mengenyampingkan teknologi kendaraan, melakukan perjalanan adalah cara untuk menyambung perdaban ingatan. Sebenarnya jaraknya cukup jauh, jika berjalan seorang diri sejauh 5 km tentu akan merasa letih dan malas. Namun jika dijalankan beramai-ramai jarak tersebut terasa begitu dekat.

Dengan penuh rasa hormat, kami krama Desa Adat Beringkit mengapresiasi seluruh pangempon Pura Dalem Gegelang, Perang-Lukluk yang telah berjalan dengan kesadaran. Semoga limpahan anugerah Ida Bhatara senantiasa mengalir, seperti spirit pelayanan yang telah dilakukan. Serta tak lupa atas segala kekurangan yang tersedia, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya.

Druenang sareng. [T]

Tanah Nyurang, 22 November 2025

Penulis: IGP Weda Adi Wangsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliDesa Adat BeringkitDesa BeringkitHindu Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Singgah Sejenak di Banjar Basang Tamiang, Desa Kapal —Tempat Putu Artini dan Rai Suweni Hidup Bersama Gerabah

Next Post

Penguasaan dan Permohonan Hak atas  ‘Aanslibbing’ atau Tanah Timbul

IGP Weda Adi Wangsa

IGP Weda Adi Wangsa

I Gusti Putu Weda Adi Wangsa, mahasiswa Prodi Jawa Kuno, FIB Unud. Akun Instagram: igstngrweda_

Related Posts

Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?

by Dede Putra Wiguna
June 26, 2026
0
Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?

 “Karya sampah ini. Kok bisa muncul di PKB?" KALIMAT itu masih diingat betul oleh Agung Rahma Putra. Sekitar satu dekade...

Read moreDetails

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
0
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

Read moreDetails

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
0
Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

Read moreDetails

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
0
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

Read moreDetails

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Penguasaan dan Permohonan Hak atas  'Aanslibbing’ atau Tanah Timbul

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tergopoh-gopoh di Hari Kuningan
Esai

Tergopoh-gopoh di Hari Kuningan

PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten,...

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
Takut Galungan
Dongeng

Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu
Puisi

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

by Andi Wirambara
June 27, 2026
Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?
Esai

Kunang-Kunang yang Menghilang di Bali —Ketika Cahaya Kecil Padam, Apa yang Sesungguhnya Sedang Hilang dari Kesadaran Kita?

"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar...

by Agung Sudarsa
June 27, 2026
Melepas Dunia, Mengetuk Langit
Ulas Musik

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Rasa penasaran tampak jelas dari raut wajah ribuan penonton yang memadati Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Kamis 25 Juni 2026....

by Nyoman Budarsana
June 26, 2026
Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’
Esai

Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

"Di mata Sang Guru, tidak ada dosa yang tidak dapat ditebus, tidak ada jiwa yang berada di luar pelukan kasih-Nya."...

by Agung Sudarsa
June 26, 2026
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro
Cerpen

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu
Puisi

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali
Kritik Seni

Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.” PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika...

by Wayan Gde Yudane
June 26, 2026
Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali
Esai

Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) memerlukan media massa untuk publikasi dan dokumentasi, sedangkan media massa memerlukan PKB untuk menunjukkan tanggung jawab...

by I Nyoman Darma Putra
June 26, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Negeri Pesugihan

SIDANG pembaca yang budiman, coba anda buka Netflix atau platform streaming apa pun yang sedang populer. Tidak perlu menggulir lama-lama,...

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co