14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tuhan Telah Mati di Ruang Psikiatri | Cerpen Angga Wijaya

Angga Wijaya by Angga Wijaya
November 16, 2025
in Cerpen
Tuhan Telah Mati di Ruang Psikiatri | Cerpen Angga Wijaya

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Denpasar, 2002.

Terminal Ubung ramai oleh bis-bis dan angkutan umum. Hari menjelang siang, saat aku tiba di sana, menjemput adik laki-lakiku yang datang dari kota kecil di ujung barat Bali. Dia baru saja menjalani ujian akhir. Aku agak gusar, mendengar kabar dan membaca koran lokal. Di situ tertulis bahwa adikku menjadi koordinator aksi protes di SMA tempat ia bersekolah.

Dia dikenal pendiam, sehingga guru-gurunya heran—ketika ia menggalang tanda tangan siswa-siswi kelas III, bentuk protes atas kebijakan sepihak kepala sekolah, memungut uang sumbangan. Aku juga lupa untuk apa para siswa di akhir studi mesti dimintai uang. Padahal, sejak lama bupati di sana menggratiskan uang sekolah, dari TK sampai SMA. Bahkan para mahasiswa miskin pun diberi beasiswa, asalkan nilai mereka memenuhi syarat.

Uang pungutan tidak banyak, hanya 25 ribu rupiah per siswa. Aku juga bisa membayarnya untuk adikku. Tidak perlu demonstrasi segala, apalagi sampai diberitakan di koran. Keterangan dari keluarga di kampung, adikku memang berteman dekat dengan para seniman juga wartawan. Saat pagi hari, di sebuah warung dekat sekolah, ia sering berbincang dengan seorang wartawan koran.

Mereka seperti dua kawan yang telah lama saling mengenal. Adikku, bisa jadi, karena rasa ingin tahu yang besar tentang jurnalisme, banyak bertanya soal itu. Apalagi, ia menunjukkan ketertarikan pada dunia wartawan sejak mengikuti pelatihan jurnalistik di sekolahnya, dari beberapa mahasiswa dari sebuah universitas di Denpasar. Katanya, dalam pelatihan itu, adikku dekat dengan seorang mahasiswa antropologi budaya. Dia sering berdiskusi dengannya.

Tapi bukan karena sejak ikut pelatihan jurnalistik itu, adikku menjadi berani dan kritis. Dari SD, ia memang dikenal cerdas, sering mendapat juara kelas. Kalau tidak juara I, pasti juara II atau III. Dia juga pernah menjadi ketua kelas, hingga suatu hari ia mengundurkan diri. Kepala sekolah heran, ada hal apa sehingga adikku memutuskan ingin berhenti menjadi ketua kelas. “Teman-teman susah diatur, sering ribut di kelas,” ujarnya singkat. Hingga kepala sekolah mesti mengumunkan pengunduran adikku di depan kelas. Anak sekecil itu sudah idealis, tak mau dipaksa-paksa, keras dengan pendiriannya. Biasanya jika ada siswa lain agak ribut, itu hal yang biasa. Tapi tidak bagi adikku. Ia bahkan beberapa kali berdebat dengan teman-temannya karena mereka tidak disiplin. Aku menganggap sikap adikku biasa saja, ternyata tidak

Di terminal Ubung, adikku keluar dari pintu bis antar kota dalam provinsi. Aku menyambutnya dengan senang. Sebelumnya aku bilang padanya ingin mengajaknya liburan di Denpasar. Tapi sebenarnya, atas diskusi keluarga yang tak ia tahu, keluargaku ingin aku memeriksakan adikku ke psikiater. Hampir tiga minggu ia baru tidur dini hari. Seperti ada beban yang ia rasakan, tapi tidak ia ceritakan kepada keluarga.

Denganku ia lebih terbuka sejak dulu. Aku memahami karakternya yang seperti seniman; tak mau dikekang, suka kebebasan, kritis dan tertarik pada puisi dan sastra. Puisi-puisinya dimuat di koran lokal yang dikelola temanku semasa SMA. Ia punya komunitas sastra, dan adikku salah satu anggota di sana. Temanku pernah menyebut, adikku punya bakat yang bagus dalam menulis. “Sayang jika ia berakhir dengan gangguan mental,” katanya.

Setelah dua hari berada di Denpasar, aku mengajak adikku jalan-jalan ke obyek wisata Tanah Lot. Ia senang sekali saat tukang foto mengabadikan kebersamaan kami. Foto polaroid yang langsung jadi menjadi kenangan berharga baginya. Adikku sebenarnya pemuda tampan—hanya saja pakaiannya agak lusuh, rambutnya kurang rapi, dan sorot matanya kosong. Aku iba melihatnya. Dia kuajak ke toko buku di supermarket. Kubebaskan ia memilih buku-buku yang ia suka. Ia menyukai buku kumpulan puisi KOMPAS. Tanpa ragu aku membelikannya. Ia tampak senang.

Suatu sore, aku mengajaknya ke Jalan Batanta, di Denpasar bagian barat. Aku bilang padanya kita ke dokter. Ia tidak curiga. Aneh juga, bahkan hingga sampai di depan tempat praktik dokter, ia bisa membaca dalam plang bahwa itu dokter jiwa, psikiater. Adikku tidak bertanya soal itu. Dia seperti tahu, bahwa kondisinya tidak baik-baik saja. Kami menunggu sebentar di ruang tunggu, menunggu giliran Asisten psikiater lalu mempersilakan kami berdua masuk ruangan. Psikiater itu, laki-laki paruh baya, dengan tersenyum mengajakku berbincang, melakukan tanya-jawab di ruang psikatri itu.

Adikku lebih banyak diam, memandangi lukisan yang ada di sana, sambil mengamati tulisan yang ada di dinding. Aku menjawab dengan baik beberapa pertanyaan psikiater. Hingga adikku tiba-tiba berbicara pelan: “Tuhan telah mati, Tuhan telah mati….!”

Aku dan psikiater itu agak terkejut mendengarnya. Apa maksud adikku? Tampaknya psikiater itu paham, karena dia juga suka membaca buku. Ia kemudian meminta izin untuk berbicara di ruangan itu, berdua dengan adikku. Aku keluar dengan perasaan was-was. Jangan-jangan, adikku sudah “gila” betulan? Aku teringat kakak kami yang sejak muda juga mengidap sakit jiwa, sejak bersekolah di Yogyakarta. Pada satu waktu, ia bersama teman sekolahnya mengalami kecelakaan sepeda motor. Temannya meninggal, kakakku selamat. Tapi tidak dengan mentalnya. Ia sejak itu lebih suka mengurung diri di kamar, menangis, hingga akhirnya mengamuk. Ayahku kembali membawanya kembali ke Bali. Bolak-balik ke rumah sakit jiwa menunggui kakakku dirawat.

Setelah hampir tiga puluh menit, psikiater di Jalan Batanta, Denpasar itu mengajakku masuk ke kembali ke ruangannya. Diberinya aku tiga jenis obat berikut keterangan dosisnya. Kami meninggalkan ruang psikiatri itu setelah melunasi pembayaran. Tidak lupa aku dan psikiater itu bertukar nomor telepon, untuk komunikasi selanjutnya. Aku memacu sepeda motorku dengan pelan. Adikku tampak biasa-biasa saja. Dia lebih banyak diam. Aku tak bertanya.

Malam harinya, sekitar pukul 8 teleponku berdering. Dari psikiater itu. Aku mengangkat telepon dengan cepat. Ia menceritakan apa yang dialami adikku. “Depresi berat,” katanya. Buku-buku, terutama buku sastra dan filsafat, hanyalah bentuk pelarian dari kenyataan hidup yang dirasakan adikku. Semenjak bayi, adikku memang dirawat dan diasuh oleh kakak dari ayahku beserta istri dan anak-anaknya. Adopsi setengah hati. Kami merasa bersalah, karena ia tahu bahwa ia bukan anak kandung bukan dari keluarga kandung atau juga keluarga angkat. Dari ejekan dan bercandaan tetangga. Itu membuat adikku syok. Hanya saja ia tak protes, memendam semuanya sendirian.

Saat ia mulai menunjukkan gelagat aneh, adikku baru saja pindah sekolah dari Singaraja. Diajak oleh salah seorang bibiku. Rencana itu tidak dibicarakan secara terbuka dengan keluarga kandung. Ibuku tahu, adikku tidak terbiasa dengan gaya mendidik yang kaku dan disiplin. Benar saja, adikku tak betah tinggal dengan bibiku yang besar dengan pendidikan ala zaman Belanda. Ia meminta pindah kembali ke kampung halaman, beberapa kali menelepon ibu angkatnya melalui Wartel.

Ia memang bisa pindah sekolah ke kota kecil kami di kampung halaman. Sejak itulah ia lebih banyak membaca buku-buku filsafat, yang ia pinjam dari komunitas. Suntuk bercengkrama dengan pemikiran Friedrich Nietzsche, filsuf dengan otak cemerlang yang menghabiskan masa-masa akhir hidupnya dengan tragis, mengidap gangguan mental.

Psikiater itu menceritakan, adikku dengan detail menceritakan apa yang ia baca dari salah satu buku karya Nietzche, saat mereka berada di ruang psikiatri. Bahkan, “mementaskannya”:

Pagi itu pasar sudah ramai. Suara pedagang menawar, lonceng berdentang, dan bau roti hangat bercampur dengan keringat orang banyak. Di tengah hiruk-pikuk itu, seorang lelaki berjaket lusuh berlari sambil membawa lentera yang masih menyala, meski matahari sudah tinggi.

“Aku mencari Tuhan!” teriaknya. “Di mana Tuhan?”

Orang-orang menatap heran, lalu tertawa. Ada yang menganggapnya gila, ada yang menggeleng sambil terus menakar harga daging. Tapi lelaki itu tidak berhenti. Ia berdiri di atas tong kayu dan menatap kerumunan dengan mata nyalang.

“Tuhan telah mati!” katanya lantang. “Tuhan tetap mati! Dan kitalah yang telah membunuh-Nya!”

Tawa perlahan reda. Lentera di tangannya bergetar. Ia menatap orang-orang di pasar, satu per satu, seolah hendak memastikan bahwa mereka mengerti apa yang baru saja ia katakan.

“Kita telah membunuh makna yang dulu menjaga kita,” ujarnya pelan. “Kini dunia ini tak lagi punya arah, karena cahaya yang dulu menerangi hati kita telah padam. Tapi kita harus belajar menyalakan cahaya kita sendiri.”

Ia menurunkan lentera itu, langkahnya gontai di antara kios sayur dan kain. Matahari makin tinggi, dan orang-orang kembali berjual-beli, seolah tak terjadi apa-apa. Tapi di udara pasar itu, kata-katanya menggantung. Berat, ganjil, dan tak mudah dilupakan.

***

Bak pemain teater handal, adikku tampil dengan memukau, dengan gerak bibir, tangan, dan kaki yang sempurna. Ia juga berdiri di kursi, saat mengucapkan “Tuhan telah mati” dengan sempurna. Psikiater terpukau dengan aksi adikku. Ia menggenggam tangan adikku dan menyalaminya pada akhir pementasan itu. Bukan di halaman komunitas, atau gedung kesenian. Di ruang psikiatri! [T]

Denpasar, Oktober 2025

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Cermin Bulan November

Next Post

Gajah Mada Heritage di Denpasar dan Pembacaan dari Dalam

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Gajah Mada Heritage di Denpasar dan Pembacaan dari Dalam

Gajah Mada Heritage di Denpasar dan Pembacaan dari Dalam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co