2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tuhan Telah Mati di Ruang Psikiatri | Cerpen Angga Wijaya

Angga Wijaya by Angga Wijaya
November 16, 2025
in Cerpen
Tuhan Telah Mati di Ruang Psikiatri | Cerpen Angga Wijaya

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Denpasar, 2002.

Terminal Ubung ramai oleh bis-bis dan angkutan umum. Hari menjelang siang, saat aku tiba di sana, menjemput adik laki-lakiku yang datang dari kota kecil di ujung barat Bali. Dia baru saja menjalani ujian akhir. Aku agak gusar, mendengar kabar dan membaca koran lokal. Di situ tertulis bahwa adikku menjadi koordinator aksi protes di SMA tempat ia bersekolah.

Dia dikenal pendiam, sehingga guru-gurunya heran—ketika ia menggalang tanda tangan siswa-siswi kelas III, bentuk protes atas kebijakan sepihak kepala sekolah, memungut uang sumbangan. Aku juga lupa untuk apa para siswa di akhir studi mesti dimintai uang. Padahal, sejak lama bupati di sana menggratiskan uang sekolah, dari TK sampai SMA. Bahkan para mahasiswa miskin pun diberi beasiswa, asalkan nilai mereka memenuhi syarat.

Uang pungutan tidak banyak, hanya 25 ribu rupiah per siswa. Aku juga bisa membayarnya untuk adikku. Tidak perlu demonstrasi segala, apalagi sampai diberitakan di koran. Keterangan dari keluarga di kampung, adikku memang berteman dekat dengan para seniman juga wartawan. Saat pagi hari, di sebuah warung dekat sekolah, ia sering berbincang dengan seorang wartawan koran.

Mereka seperti dua kawan yang telah lama saling mengenal. Adikku, bisa jadi, karena rasa ingin tahu yang besar tentang jurnalisme, banyak bertanya soal itu. Apalagi, ia menunjukkan ketertarikan pada dunia wartawan sejak mengikuti pelatihan jurnalistik di sekolahnya, dari beberapa mahasiswa dari sebuah universitas di Denpasar. Katanya, dalam pelatihan itu, adikku dekat dengan seorang mahasiswa antropologi budaya. Dia sering berdiskusi dengannya.

Tapi bukan karena sejak ikut pelatihan jurnalistik itu, adikku menjadi berani dan kritis. Dari SD, ia memang dikenal cerdas, sering mendapat juara kelas. Kalau tidak juara I, pasti juara II atau III. Dia juga pernah menjadi ketua kelas, hingga suatu hari ia mengundurkan diri. Kepala sekolah heran, ada hal apa sehingga adikku memutuskan ingin berhenti menjadi ketua kelas. “Teman-teman susah diatur, sering ribut di kelas,” ujarnya singkat. Hingga kepala sekolah mesti mengumunkan pengunduran adikku di depan kelas. Anak sekecil itu sudah idealis, tak mau dipaksa-paksa, keras dengan pendiriannya. Biasanya jika ada siswa lain agak ribut, itu hal yang biasa. Tapi tidak bagi adikku. Ia bahkan beberapa kali berdebat dengan teman-temannya karena mereka tidak disiplin. Aku menganggap sikap adikku biasa saja, ternyata tidak

Di terminal Ubung, adikku keluar dari pintu bis antar kota dalam provinsi. Aku menyambutnya dengan senang. Sebelumnya aku bilang padanya ingin mengajaknya liburan di Denpasar. Tapi sebenarnya, atas diskusi keluarga yang tak ia tahu, keluargaku ingin aku memeriksakan adikku ke psikiater. Hampir tiga minggu ia baru tidur dini hari. Seperti ada beban yang ia rasakan, tapi tidak ia ceritakan kepada keluarga.

Denganku ia lebih terbuka sejak dulu. Aku memahami karakternya yang seperti seniman; tak mau dikekang, suka kebebasan, kritis dan tertarik pada puisi dan sastra. Puisi-puisinya dimuat di koran lokal yang dikelola temanku semasa SMA. Ia punya komunitas sastra, dan adikku salah satu anggota di sana. Temanku pernah menyebut, adikku punya bakat yang bagus dalam menulis. “Sayang jika ia berakhir dengan gangguan mental,” katanya.

Setelah dua hari berada di Denpasar, aku mengajak adikku jalan-jalan ke obyek wisata Tanah Lot. Ia senang sekali saat tukang foto mengabadikan kebersamaan kami. Foto polaroid yang langsung jadi menjadi kenangan berharga baginya. Adikku sebenarnya pemuda tampan—hanya saja pakaiannya agak lusuh, rambutnya kurang rapi, dan sorot matanya kosong. Aku iba melihatnya. Dia kuajak ke toko buku di supermarket. Kubebaskan ia memilih buku-buku yang ia suka. Ia menyukai buku kumpulan puisi KOMPAS. Tanpa ragu aku membelikannya. Ia tampak senang.

Suatu sore, aku mengajaknya ke Jalan Batanta, di Denpasar bagian barat. Aku bilang padanya kita ke dokter. Ia tidak curiga. Aneh juga, bahkan hingga sampai di depan tempat praktik dokter, ia bisa membaca dalam plang bahwa itu dokter jiwa, psikiater. Adikku tidak bertanya soal itu. Dia seperti tahu, bahwa kondisinya tidak baik-baik saja. Kami menunggu sebentar di ruang tunggu, menunggu giliran Asisten psikiater lalu mempersilakan kami berdua masuk ruangan. Psikiater itu, laki-laki paruh baya, dengan tersenyum mengajakku berbincang, melakukan tanya-jawab di ruang psikatri itu.

Adikku lebih banyak diam, memandangi lukisan yang ada di sana, sambil mengamati tulisan yang ada di dinding. Aku menjawab dengan baik beberapa pertanyaan psikiater. Hingga adikku tiba-tiba berbicara pelan: “Tuhan telah mati, Tuhan telah mati….!”

Aku dan psikiater itu agak terkejut mendengarnya. Apa maksud adikku? Tampaknya psikiater itu paham, karena dia juga suka membaca buku. Ia kemudian meminta izin untuk berbicara di ruangan itu, berdua dengan adikku. Aku keluar dengan perasaan was-was. Jangan-jangan, adikku sudah “gila” betulan? Aku teringat kakak kami yang sejak muda juga mengidap sakit jiwa, sejak bersekolah di Yogyakarta. Pada satu waktu, ia bersama teman sekolahnya mengalami kecelakaan sepeda motor. Temannya meninggal, kakakku selamat. Tapi tidak dengan mentalnya. Ia sejak itu lebih suka mengurung diri di kamar, menangis, hingga akhirnya mengamuk. Ayahku kembali membawanya kembali ke Bali. Bolak-balik ke rumah sakit jiwa menunggui kakakku dirawat.

Setelah hampir tiga puluh menit, psikiater di Jalan Batanta, Denpasar itu mengajakku masuk ke kembali ke ruangannya. Diberinya aku tiga jenis obat berikut keterangan dosisnya. Kami meninggalkan ruang psikiatri itu setelah melunasi pembayaran. Tidak lupa aku dan psikiater itu bertukar nomor telepon, untuk komunikasi selanjutnya. Aku memacu sepeda motorku dengan pelan. Adikku tampak biasa-biasa saja. Dia lebih banyak diam. Aku tak bertanya.

Malam harinya, sekitar pukul 8 teleponku berdering. Dari psikiater itu. Aku mengangkat telepon dengan cepat. Ia menceritakan apa yang dialami adikku. “Depresi berat,” katanya. Buku-buku, terutama buku sastra dan filsafat, hanyalah bentuk pelarian dari kenyataan hidup yang dirasakan adikku. Semenjak bayi, adikku memang dirawat dan diasuh oleh kakak dari ayahku beserta istri dan anak-anaknya. Adopsi setengah hati. Kami merasa bersalah, karena ia tahu bahwa ia bukan anak kandung bukan dari keluarga kandung atau juga keluarga angkat. Dari ejekan dan bercandaan tetangga. Itu membuat adikku syok. Hanya saja ia tak protes, memendam semuanya sendirian.

Saat ia mulai menunjukkan gelagat aneh, adikku baru saja pindah sekolah dari Singaraja. Diajak oleh salah seorang bibiku. Rencana itu tidak dibicarakan secara terbuka dengan keluarga kandung. Ibuku tahu, adikku tidak terbiasa dengan gaya mendidik yang kaku dan disiplin. Benar saja, adikku tak betah tinggal dengan bibiku yang besar dengan pendidikan ala zaman Belanda. Ia meminta pindah kembali ke kampung halaman, beberapa kali menelepon ibu angkatnya melalui Wartel.

Ia memang bisa pindah sekolah ke kota kecil kami di kampung halaman. Sejak itulah ia lebih banyak membaca buku-buku filsafat, yang ia pinjam dari komunitas. Suntuk bercengkrama dengan pemikiran Friedrich Nietzsche, filsuf dengan otak cemerlang yang menghabiskan masa-masa akhir hidupnya dengan tragis, mengidap gangguan mental.

Psikiater itu menceritakan, adikku dengan detail menceritakan apa yang ia baca dari salah satu buku karya Nietzche, saat mereka berada di ruang psikiatri. Bahkan, “mementaskannya”:

Pagi itu pasar sudah ramai. Suara pedagang menawar, lonceng berdentang, dan bau roti hangat bercampur dengan keringat orang banyak. Di tengah hiruk-pikuk itu, seorang lelaki berjaket lusuh berlari sambil membawa lentera yang masih menyala, meski matahari sudah tinggi.

“Aku mencari Tuhan!” teriaknya. “Di mana Tuhan?”

Orang-orang menatap heran, lalu tertawa. Ada yang menganggapnya gila, ada yang menggeleng sambil terus menakar harga daging. Tapi lelaki itu tidak berhenti. Ia berdiri di atas tong kayu dan menatap kerumunan dengan mata nyalang.

“Tuhan telah mati!” katanya lantang. “Tuhan tetap mati! Dan kitalah yang telah membunuh-Nya!”

Tawa perlahan reda. Lentera di tangannya bergetar. Ia menatap orang-orang di pasar, satu per satu, seolah hendak memastikan bahwa mereka mengerti apa yang baru saja ia katakan.

“Kita telah membunuh makna yang dulu menjaga kita,” ujarnya pelan. “Kini dunia ini tak lagi punya arah, karena cahaya yang dulu menerangi hati kita telah padam. Tapi kita harus belajar menyalakan cahaya kita sendiri.”

Ia menurunkan lentera itu, langkahnya gontai di antara kios sayur dan kain. Matahari makin tinggi, dan orang-orang kembali berjual-beli, seolah tak terjadi apa-apa. Tapi di udara pasar itu, kata-katanya menggantung. Berat, ganjil, dan tak mudah dilupakan.

***

Bak pemain teater handal, adikku tampil dengan memukau, dengan gerak bibir, tangan, dan kaki yang sempurna. Ia juga berdiri di kursi, saat mengucapkan “Tuhan telah mati” dengan sempurna. Psikiater terpukau dengan aksi adikku. Ia menggenggam tangan adikku dan menyalaminya pada akhir pementasan itu. Bukan di halaman komunitas, atau gedung kesenian. Di ruang psikiatri! [T]

Denpasar, Oktober 2025

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Cermin Bulan November

Next Post

Gajah Mada Heritage di Denpasar dan Pembacaan dari Dalam

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Gajah Mada Heritage di Denpasar dan Pembacaan dari Dalam

Gajah Mada Heritage di Denpasar dan Pembacaan dari Dalam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co