6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Persoalan Absurditas Dunia dan Cara Pandang Seniman Gen-Z terhadap Kondisi Sosial Hari Ini

Made Chandra by Made Chandra
November 12, 2025
in Ulas Rupa
Persoalan Absurditas Dunia dan Cara Pandang Seniman Gen-Z terhadap Kondisi Sosial Hari Ini

Persoalan Absurditas Dunia dan Cara Pandang Seniman Gen-Z terhadap Kondisi Sosial Hari Ini

PERNAHKAH kita scrolling timeline instagram dan secara tak sadar menyimpan begitu banyak postingan yang sering kali kita anggap penting? Atau mungkin, kita adalah bagian dari mereka yang gemar menangkap ribuan image screenshot yang menumpuk tak karuan di galeri ponsel kita. Rasanya kita tak pernah benar-benar peduli dengan ratusan image yang pernah kita tangkap; semuanya seakan hilang ditelan oleh banjir informasi yang setiap hari kita konsumsi.

Persoalan kebermaknaan satu informasi seakan terasa abusrd. Ia menjadi ironi di antara peristiwa yang terus diproduksi dan membanjiri layer gadget kita setiap hari.  Kopi dan bacaan koran pagi, pelan-pelan tergantikan oleh berita viral dan informasi acak yang terpampang tanpa ujung di timeline sosial media kita. Di tengah hiruk pikuk itu, sepertinya kita tak benar-benar sadar di mana diri kita berada. Identitas menjadi sublim; persoalan sosial yang tak lagi berwujud fisik; informasi beradu kepentingan tanpa arah yang pasti.

Absurditas dunia 

Akses informasi yang semakin mudah, keterjangkauan teknologi, dan meleburnya budaya seakan mengaburkan makna identitas kita sehari-hari. Pertanyaan soal, siapa diri kita dan dari mana kita berasal, menjadi persoalan yang seolah tak lagi penting.

Persoalan absurditas dan krisis eksistensial ini Sejatinya telah lama dikemukakan oleh Frans Kafka, seorang novelis jerman pada akhir abad ke-19 dengan berbagai novel dan cerita pendeknya yang berhasil menggambarkan tentang kondisi alienasi manusia modern. Hal tersebut mewujud pada satu frasa bernama Kafkaesque yaitu Istilah yang diciptakan untuk mendeskripsikan situasi atau pengalaman yang membingungkan, rumit secara birokratis, dan menindas, sering kali dengan perasaan terjebak atau tidak berdaya. 

Kini, novel-novel karyanya seperi methamorfosis dan the Trial terasa semakin relevan bagi realitas Gen-Z hari ini. Krisis identitas yang dibalut fiksi absurd mencoba menggambarkan bagaimana Gen-Z yang lahir dari rahim globalisasi dan kemudahan teknologi malah mengalami disrupsi identitas dan kehilangan makna personal dalam dirinya. Kebermaknaan diri hari ini justru di nilai dari seberapa banyaknya likes dan comment yang kita dapatkan di dunia maya.

Ilustrasi Gregor Samsa dalam Novel Methamorfosis karya Franz Kafka

Informasi yang terlalu menyilang tanpa korelasi yang jelas secara tidak sadar menanamkan cara pandang yang keliru terhadap bagaimana dunia bekerja. Akses virtual memberi ruang bagi siapapun untuk menjadi pribadi yang diinginkan—berselimut identitas fiktif yang kita bangun setiap harinya. Dunia digital menciptakan realitas intersubjektif; dimana penilaian diri, bergantung pada validasi fiktif berupa views dan likes yang kita sepakati tanpa sadar. 

Apakah kita benar-benar pernah bertanya: bahwa diri kita yang kita tampilkan di dunia maya, adalah diri kita yang sesungguhnya? 

Terma Absurditas menjadi tepat untuk menerjemahkan bagaimana hari ini kita memandang identitas sosial. ketidakmampuan menjelaskan perasaan yang selama ini kita rasakan, melahirkan keterasingan baru—Alienasi eksistensial yang  membuat  Gen-Z yang semakin terlepas dari realitas fisik di sekitarnya. Tak jarang, kondisi keterasingan yang begitu jauh menjelaskan mengapa kita hari ini sering kali merasa depresi dan hampa di tengah dunia yang bising.  Hal tersebut menjadi dua kondisi yang saling bertolak belakang, di mana akses kita terhadap dunia yang semakin lebar dan luas, justru kesepian terasan yang semakin nyata. 

Seniman Gen-Z 

Istilah Gen-Z merujuk pada generasi yang tumbuh pada awal milenium ke-3, generasi yang tumbuh dan besar beriringan dengan perkembangan teknologi media digital. Kita bisa melihat dimana smartphone pertama kali diluncurkan, kehadirannya seakan menjadi pertanda perubahan dunia dalam menerima dan memaknai informasi. Akses data yang dahulu dimiliki oleh orang-orang tertentu kini, bisa dimiliki oleh setiap individu.

Kita merasa dimana hari ini kita tak benar-benar lagi menonton tayangan televisi seperti generasi sebelumnya, namun berpindah pada konsumsi media streaming digital seperti youtube yang memberikan akses penuh terhadap berbagai individu untuk meyiarkan dirinya sendiri.

Lalu, bagaimana dengan para seniman Gen-Z mendefiniskan aktivitas berkeseniannya di tengah banjir informasi dan absurditas informasi yang semakin tak terkontrol? Bagaimana mereka menciptakan karya di antara objek dan wacana yang saling bertabrakan?

Karya Urubingwaru “ Waktu Bermain Rahasia’the Business” | Sumber : Instagram @urubingwaru

Pertanyaan tersebut menemukan jawabannya dalam berbagai karya dari para seniman muda hari ini—yang menangkap berbagai wacana dan persoalan terkait kecemasan eksistensial, rasa keterasingan, dan ketidak berdayaan individu melawan sistem yang telah semakin korup, hingga pesimisme terhadap krisis lingkungan yang semakin menampakan dirinya dengan tidak malu-malu.

Lihat karya Ilham Karim dan Hudan Seltan misalnya. Dua karya seniman muda tersebut memiliki keterhubungan narasi, yang terlihat dari bagaimana mereka menghasilkan karya mereka. Karya Ilham karim umpamanya, ia seakan berusaha menggambarkan rasa keterasingan, kehilangan dan makna kehadiran dengan warna-warna jenuh dan disorsi kromatik. Ia seolah berusaha menjembatani kegelisahan Gen-Z yang sering merasa lelah dan jenuh dengan tumpukan notifikasi dan informasi yang tiada henti. Dalam hiruk pikuk algoritma yang terasa asing, ia mengajak kita untuk berhenti sejenak, dan melepaskan diri dari kemelekatan dunia digital yang sering kali menuntut kita untuk harus terkoneksi.

Karya Ilham Karim “Hypnotized” | Sumber : Instagram @edsu_house

Sementara itu, Hudan menyelami pola-pola kasual dan tema-tema urban, dimana konteks yang biasa dan sehari-hari ditransformasi ke sesuatu yang luar biasa. Karyanya sering kali mencampurkan berbagai benda-benda urban gang terasa familiar, namun ditempatkan dalam kondisi yang tak seharusnya, hal tersebut menggambarkan sisi absurditas, dan bobot eksistensial generasi kita hari ini. Dibanding memusatkan pada satu objek, ia justru menghadirkan berbagai objek dan situasi tersebut pada kondisi di antara, kondisi di mana kita tak bisa memilih dalam satu posisi yang tetap, ia harus dibaca sebagai sesuatu yang minim identitas dan tak terdefinisikan, sebuah kondisi yang terus hadir belakangan ini.

Seperti karya di bawah yang menangkap prilaku media sosial yang membentuk cara kita memproduksi memori visual, dengan menempatkan beberapa gambar acak yang tersusun secara vertikal, layaknya timeline feed instagram yang memanjang tanpa ujung. Ia mengingatkan kita betapa tak berurutannya informasi yang sebenarnya kita terima, namun pada kenyataannya ia terhubung dalam satu algoritma yang kita ciptakan sendiri.

Karya Hudan Seltan “Stolen Memories” | Sumber : Instagram @edsu_house

Sebenarnya banyak sekali karya-karya para seniman muda yang mengangkat problematika absurditas sosial hari ini, umumnya ia yang berasal dan tinggal di daerah urban yang terkesan individual. Seniman lain seperti urubingwaru dengan pendekatan cross identity dan realisme magis, mencampurkan antara realitas dan mitologi fiksi di berbagai tempat, Pandu wijaya yang mengeksplorasi kegamangan keseharian kita dalam mereplikasi meme-meme virtual yang kita konsumsi setiap hari. 

Karya Avif Ziadi | Sumber : Instagram @avifn

Karya Pandu Wijaya | Sumber:  @gregor.g.soenny

Mereka mungkin tak mewakili semua lapisan seniman yang muncul hari ini, namun mereka menjadi cermin bagaimana kondisi sosial yang terlihat remeh temeh, justru menjadi poin penting untuk terus dikritisi. Pada akhirnya, di tengah derasnya arus informasi dan identitas yang terus terfragmentasi, karya para seniman Gen-Z ini menjadi upaya untuk menegaskan keberadaan diri—sebuah perlawanan sunyi terhadap absurditas dunia yang kian kehilangan makna, sekaligus pencarian akan kehadiran yang benar-benar nyata di antara lapisan realitas, data, notifikasi dan informasi yang terus bergeser.

Seperti yang disiratkan oleh Kafka, jawaban atas absurditas bukanlah untuk dipahami—melainkan untuk dihadapi. [T]

Penulis: Made Chandra
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis MADE CHANDRA

Polemik Seni Ruang Publik Berlandaskan Pariwisata Lokal di Bali
Tags: absurditasGen ZSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sentralisasi vs Desentralisasi Perizinan dan Peralihan Tanah: Kritik atas Pelemahan Otonomi Daerah

Next Post

“Aguru Waktra”: Narasi antara Spiritual dan Ekologi

Made Chandra

Made Chandra

Lahir di Baturaja, Sumatera Selatan, kini menetap di Denpasar. Merupakan seorang perupa muda yang suka mengeksplor wayang Kamasan sebagai titik temu antara kompleksitas sureal dan realitas dunia. Kadang kala ia suka menulis—mencatatkan berbagai hal yang menurutnya menarik dan layak mendapat intensi lebih, terutama perihal seni dan budaya visual.

Related Posts

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails

Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

by I Wayan Westa
February 22, 2026
0
Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

INI mobil kayu, mirip Ferrari, kendaraan tercepat di lintas darat. Dipajang di Labyrinth Art  Galleri Nuanu, Tabanan. Di ruang pameran...

Read moreDetails

Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

by Agung Bawantara
February 19, 2026
0
Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

Pameran Foto MAGIC IN THE WAVEFotografer : Made Bagus IrawanKurator : Ni Komang ErvianiProduser : Rofiqi HasanPameran. : 18 –...

Read moreDetails

Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

by Made Chandra
February 9, 2026
0
Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

APA yang tebersit ketika kita membayangkan kata grafis dalam kacamata kesenian hari ini? Bagaimana posisinya, atau bahkan eksistensinya, di era...

Read moreDetails

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

by Rasman Maulana
February 6, 2026
0
Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

SUNGGUH menarik melihat “Tabur Tabah” karya Derry Aderialtha Sembiring di pameran seni rupa “Pulang ke Palung”—Denpasar, 24 Desember 2025 sampai...

Read moreDetails

Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

by Hartanto
February 3, 2026
0
Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

PADA tahun 1995, saya bersama wartawan majalah TEMPO, Putu Wirata -  menghadiri, atau tepatnya meliput Upacara Tawur Kesanga Hari Raya...

Read moreDetails

Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

by Made Chandra
February 2, 2026
0
Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

MENDENGAR adalah kegiatan tersulit yang sanggup untuk dilakoni oleh seorang seniman. Gurauan tentang bagaimana seniman adalah kegilaan yang diciptakan oleh...

Read moreDetails

Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

by Vincent Chandra
January 30, 2026
0
Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

“Ne visitez pas I’Exposition Coloniale! (Jangan kunjungi Pameran Kolonial!)”, begitu desak kelompok seniman surealis Prancis melalui selebaran-selebaran yang mereka bagikan...

Read moreDetails

Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

by Angelique Maria Cuaca
January 12, 2026
0
Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

BAGAIMANA membangunkan kembali pengetahuan yang tertidur—cerita yang tertinggal di lidah, ingatan bunyi yang mulai hilang bentuknya, catatan perjalanan yang tersisa...

Read moreDetails
Next Post
“Aguru Waktra”: Narasi antara Spiritual dan Ekologi

“Aguru Waktra”: Narasi antara Spiritual dan Ekologi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co