21 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tugas Terakhir | Cerpen Yuditeha

Yuditeha by Yuditeha
November 8, 2025
in Cerpen
Tugas Terakhir | Cerpen Yuditeha

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

KERAJAAN Rantawulung dikenal sebagai negeri yang makmur, namun di dalam istana, benih pengkhianatan tumbuh di hati Raja Bhre Manendra. Ia tidak pernah melupakan penghinaan yang dirasakannya beberapa tahun silam. Kala itu, ia menginginkan Liris, anak perempuan Patih Garjita, menjadi selirnya. Namun, jawaban patih setia itu membuatnya murka.

“Ampun, Gusti. Hamba harus bertanya kepada Liris terlebih dahulu. Kehormatan keluarga kami juga kehendaknya,” ucap Garjita dengan wajah tunduk.

Raja merasa diremehkan karena Garjita berani menunda kehendak raja. Meski akhirnya Liris tetap menjadi selir setelah dibujuk Garjita, Raja Manendra tak pernah melupakan penghinaan itu. Ia merancang balas dendam yang tak hanya ingin menghukum Garjita, tetapi juga menghancurkan keluarganya.

Hari itu, di balairung istana, Raja Bhre Manendra memanggil Patih Garjita untuk tugas besar. “Garjita, aku memilihmu untuk tugas paling mulia yang pernah diberikan kepada seorang patih,” ujar Raja, suaranya penuh kepalsuan. “Di perbatasan utara, ada pemberontakan dari para pengikut sekte Bathara Murti. Aku ingin kau memimpin pasukan untuk menumpas mereka. Namun, ada satu syarat.”

Patih Garjita menunduk. “Hamba siap menjalankan titah, Gusti.”

“Ini bukan hanya tentang pedang dan strategi. Para pemberontak menyembunyikan pemimpin mereka di sebuah kuil keramat di Bukit Tandra. Kau harus membawa api suci dari kuil itu ke istana untuk membuktikan bahwa Bathara Murti tidak lebih kuat dari kehendak para dewa yang kita anut,” ujar Raja sambil menyeringai.

Tugas itu terdengar mustahil. Bukit Tandra dikenal angker, penuh jebakan alam, dijaga dengan sihir hitam, konon tak ada yang kembali hidup setelah memasuki wilayah itu. Tapi Patih Garjita, dengan setia buta, menerima tugas itu tanpa keluh.

Di malam terakhir sebelum keberangkatan, Liris memohon kepada ayahnya untuk tidak pergi.  “Ayah, bukankah tugas ini terlalu berbahaya? Apakah Ayah tidak merasa ada yang aneh dengan titah raja?” tanya Liris, matanya berkaca-kaca

Garjita menggenggam tangan putrinya. “Liris, kita hidup di bawah bayangan raja. Kesetiaanku adalah kehormatanku. Jangan khawatir, doa dan restumu adalah pelindung terbaikku.” Garjita pantang mengingkari kesepakatan dengan raja, hingga ia berangkat bersama pasukannya.

Liris hanya bisa menahan tangis.

Di perjalanan menuju Bukit Tandra, Garjita mulai melihat keanehan. Ketika malam tiba, mereka dihantui oleh suara angin yang membawa bisikan-bisikan aneh. Salah satu prajurit melaporkan bahwa jejak kaki mereka selalu kembali ke tempat yang sama, seperti berjalan dalam lingkaran. Para prajurit yang ikut bersamanya ketakutan.

Namun, Garjita tetap teguh. Ia memimpin mereka hingga tiba di kuil keramat Bathara Murti. Bangunan itu tampak seperti gumpalan batu hitam yang mencakar langit, dihiasi patung-patung dewa dengan mata kosong dan senyum menyeramkan.

Ketika mereka memasuki kuil, jebakan pertama langsung membunuh beberapa prajurit. Panah-panah meluncur dari dinding, dan lantai runtuh menjadi lubang berisi tombak-tombak tajam. Tapi Garjita terus maju. Baginya, kehormatan lebih penting dari hidupnya.

Di tengah kuil, ia menemukan api suci yang dimaksudkan oleh Raja Manendra. Api itu menyala biru, tidak mengeluarkan panas, namun terasa seperti membakar jiwa. Ketika Garjita mencoba mengambilnya, suara gaib menggema.

“Patih Garjita, apakah kau tahu apa yang kau bawa? Api ini bukan untuk manusia sepertimu,” ujar suara itu.

Garjita, meski gemetar, menjawab, “Aku membawanya untuk menghancurkan pemberontakan dan membuktikan kehendak para dewa.”

Suara itu tertawa. “Ataukah ini hanya kehendak seorang raja yang ingin memusnahkanmu?”

Garjita terdiam. Kata-kata itu menusuk hatinya. Namun, ia tetap mengambil api suci itu dan melangkah keluar dari kuil. Berhasil membawa api suci, bukan lantas perjalanan setelahnya berjalan mulus. Bahkan perjalanan menuju ke Rantawulung menjadi lebih berat. Satu per satu prajurit tewas oleh jebakan dan serangan makhluk-makhluk gaib yang muncul di malam hari. Garjita mampu kembali ke istana, ia sendirian, tubuhnya penuh luka, matanya merah karena kurang tidur. Di balairung, Raja Manendra menyambutnya dengan senyuman dingin. “Patih yang setia, kau benar-benar luar biasa. Kau membawa api suci dari kuil Bathara Murti,” ujar Raja.

Namun, senyum itu segera berubah menjadi sesuatu yang jahat. “Tapi, aku harus memberitahumu sesuatu, Garjita. Api itu sebenarnya tidak ada artinya. Aku hanya ingin menguji sejauh mana kesetiaanmu setelah penghinaan yang kau lakukan kepadaku bertahun-tahun lalu.”

Patih Garjita tertegun. “Ampun, Gusti. Hamba tidak mengerti.”

Raja berdiri dari tahtanya, menatap Garjita dengan penuh kebencian. “Kau menolak kehendakku dulu, Garjita. Kau membuatku tampak lemah di hadapan dewan istana. Jadi, aku ingin memastikan kau mati dengan cara yang lebih menyakitkan. Api yang kau bawa itu membawa kutukan. Siapa pun yang menyentuhnya akan kehilangan jiwa dan akalnya.”

Garjita gemetar. Tangannya yang memegang wadah api biru mulai terbakar. Namun, yang terbakar bukanlah tubuhnya, melainkan kenangan-kenangannya. Ia melihat wajah istrinya, Liris, dan masa mudanya lenyap seperti asap.

Raja Manendra tersenyum puas, yakin bahwa Garjita akan hancur di hadapannya. Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Api biru itu meledak, menyelimuti tubuh Garjita, tetapi tidak membunuhnya. Sebaliknya, api itu tampak menyatu dengan jiwa sang patih.

Ketika Garjita membuka mata, bola matanya bersinar biru. Ia kini terlihat seperti makhluk lain, lebih kuat, dan mengerikan.

Raja Manendra mundur ketakutan. “Apa yang terjadi padamu?”

Garjita menatapnya dengan senyum tipis. “Terima kasih, Gusti, karena telah mengirimku ke kuil itu. Aku kini memahami arti sebenarnya dari kesetiaan.”

Dengan satu gerakan cepat, Garjita mengangkat tangan, dan api biru itu menyelimuti tubuh Raja Manendra. Sang raja menjerit, tubuhnya terbakar hingga tak tersisa, sementara Garjita berdiri dengan tenang.

Ketika pagi tiba, Garjita memanggil dewan istana. Dengan nada tegas, ia berkata, “Raja Bhre Manendra telah dihukum oleh para dewa karena kesombongannya. Semoga setelah ini, tahta kerajaan akan dipegang oleh seorang pemimpin yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.”

Para bangsawan terdiam. Aura baru Garjita, yang kini tampak seperti utusan para dewa, membuat mereka tunduk tanpa perlawanan. Sementara Liris, di tempat yang jauh dari balairung, merasa angin pagi membawa pesan dari ayahnya. [T]

Penulis: Yuditeha
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Agusta Mario B. Nanga | Malioboro dan Sederet Kursiyang Tak Jelas Siapa Penghuni

Next Post

Putu Bela Inggrid Cahyanti, Juara 1 Lomba Menulis ‘Feature’ : Awalnya Tak Suka Baca, Kini Ketagihan Menulis

Yuditeha

Yuditeha

Penulis tinggal di Karanganyar. IG: @yuditeha2

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Putu Bela Inggrid Cahyanti, Juara 1 Lomba Menulis ‘Feature’ : Awalnya Tak Suka Baca, Kini Ketagihan Menulis

Putu Bela Inggrid Cahyanti, Juara 1 Lomba Menulis 'Feature' : Awalnya Tak Suka Baca, Kini Ketagihan Menulis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026
Gaya

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

SEMAKIN malam, semakin meriah juga suasana di Gedung Kesenian I Ketut Marya, pada Jumat, 8 Mei 2016. Tepuk tangan riuh...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”
Panggung

Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

"Memasuki tahap akhir inkubasi, Bang Dance merumuskan struktur dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebagai praktik koreografi kontemporer berbasis...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?
Khas

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital
Esai

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

by Lailatus Sholihah
May 20, 2026
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana
Ulas Musik

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’
Ulas Buku

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

by Inno Koten
May 20, 2026
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius
Tualang

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

by Chusmeru
May 20, 2026
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026
Persona

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi
Esai

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

by Emi Suy
May 19, 2026
Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik
Bahasa

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Pernahkah Anda mendengar seseorang kecewa dan mengeluh bahwa ia sedang patah hati kepada sebuah negara? Saya sendiri kerap mendengar orang...

by I Made Sudiana
May 19, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

by Early NHS
May 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co