12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tugas Terakhir | Cerpen Yuditeha

Yuditeha by Yuditeha
November 8, 2025
in Cerpen
Tugas Terakhir | Cerpen Yuditeha

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

KERAJAAN Rantawulung dikenal sebagai negeri yang makmur, namun di dalam istana, benih pengkhianatan tumbuh di hati Raja Bhre Manendra. Ia tidak pernah melupakan penghinaan yang dirasakannya beberapa tahun silam. Kala itu, ia menginginkan Liris, anak perempuan Patih Garjita, menjadi selirnya. Namun, jawaban patih setia itu membuatnya murka.

“Ampun, Gusti. Hamba harus bertanya kepada Liris terlebih dahulu. Kehormatan keluarga kami juga kehendaknya,” ucap Garjita dengan wajah tunduk.

Raja merasa diremehkan karena Garjita berani menunda kehendak raja. Meski akhirnya Liris tetap menjadi selir setelah dibujuk Garjita, Raja Manendra tak pernah melupakan penghinaan itu. Ia merancang balas dendam yang tak hanya ingin menghukum Garjita, tetapi juga menghancurkan keluarganya.

Hari itu, di balairung istana, Raja Bhre Manendra memanggil Patih Garjita untuk tugas besar. “Garjita, aku memilihmu untuk tugas paling mulia yang pernah diberikan kepada seorang patih,” ujar Raja, suaranya penuh kepalsuan. “Di perbatasan utara, ada pemberontakan dari para pengikut sekte Bathara Murti. Aku ingin kau memimpin pasukan untuk menumpas mereka. Namun, ada satu syarat.”

Patih Garjita menunduk. “Hamba siap menjalankan titah, Gusti.”

“Ini bukan hanya tentang pedang dan strategi. Para pemberontak menyembunyikan pemimpin mereka di sebuah kuil keramat di Bukit Tandra. Kau harus membawa api suci dari kuil itu ke istana untuk membuktikan bahwa Bathara Murti tidak lebih kuat dari kehendak para dewa yang kita anut,” ujar Raja sambil menyeringai.

Tugas itu terdengar mustahil. Bukit Tandra dikenal angker, penuh jebakan alam, dijaga dengan sihir hitam, konon tak ada yang kembali hidup setelah memasuki wilayah itu. Tapi Patih Garjita, dengan setia buta, menerima tugas itu tanpa keluh.

Di malam terakhir sebelum keberangkatan, Liris memohon kepada ayahnya untuk tidak pergi.  “Ayah, bukankah tugas ini terlalu berbahaya? Apakah Ayah tidak merasa ada yang aneh dengan titah raja?” tanya Liris, matanya berkaca-kaca

Garjita menggenggam tangan putrinya. “Liris, kita hidup di bawah bayangan raja. Kesetiaanku adalah kehormatanku. Jangan khawatir, doa dan restumu adalah pelindung terbaikku.” Garjita pantang mengingkari kesepakatan dengan raja, hingga ia berangkat bersama pasukannya.

Liris hanya bisa menahan tangis.

Di perjalanan menuju Bukit Tandra, Garjita mulai melihat keanehan. Ketika malam tiba, mereka dihantui oleh suara angin yang membawa bisikan-bisikan aneh. Salah satu prajurit melaporkan bahwa jejak kaki mereka selalu kembali ke tempat yang sama, seperti berjalan dalam lingkaran. Para prajurit yang ikut bersamanya ketakutan.

Namun, Garjita tetap teguh. Ia memimpin mereka hingga tiba di kuil keramat Bathara Murti. Bangunan itu tampak seperti gumpalan batu hitam yang mencakar langit, dihiasi patung-patung dewa dengan mata kosong dan senyum menyeramkan.

Ketika mereka memasuki kuil, jebakan pertama langsung membunuh beberapa prajurit. Panah-panah meluncur dari dinding, dan lantai runtuh menjadi lubang berisi tombak-tombak tajam. Tapi Garjita terus maju. Baginya, kehormatan lebih penting dari hidupnya.

Di tengah kuil, ia menemukan api suci yang dimaksudkan oleh Raja Manendra. Api itu menyala biru, tidak mengeluarkan panas, namun terasa seperti membakar jiwa. Ketika Garjita mencoba mengambilnya, suara gaib menggema.

“Patih Garjita, apakah kau tahu apa yang kau bawa? Api ini bukan untuk manusia sepertimu,” ujar suara itu.

Garjita, meski gemetar, menjawab, “Aku membawanya untuk menghancurkan pemberontakan dan membuktikan kehendak para dewa.”

Suara itu tertawa. “Ataukah ini hanya kehendak seorang raja yang ingin memusnahkanmu?”

Garjita terdiam. Kata-kata itu menusuk hatinya. Namun, ia tetap mengambil api suci itu dan melangkah keluar dari kuil. Berhasil membawa api suci, bukan lantas perjalanan setelahnya berjalan mulus. Bahkan perjalanan menuju ke Rantawulung menjadi lebih berat. Satu per satu prajurit tewas oleh jebakan dan serangan makhluk-makhluk gaib yang muncul di malam hari. Garjita mampu kembali ke istana, ia sendirian, tubuhnya penuh luka, matanya merah karena kurang tidur. Di balairung, Raja Manendra menyambutnya dengan senyuman dingin. “Patih yang setia, kau benar-benar luar biasa. Kau membawa api suci dari kuil Bathara Murti,” ujar Raja.

Namun, senyum itu segera berubah menjadi sesuatu yang jahat. “Tapi, aku harus memberitahumu sesuatu, Garjita. Api itu sebenarnya tidak ada artinya. Aku hanya ingin menguji sejauh mana kesetiaanmu setelah penghinaan yang kau lakukan kepadaku bertahun-tahun lalu.”

Patih Garjita tertegun. “Ampun, Gusti. Hamba tidak mengerti.”

Raja berdiri dari tahtanya, menatap Garjita dengan penuh kebencian. “Kau menolak kehendakku dulu, Garjita. Kau membuatku tampak lemah di hadapan dewan istana. Jadi, aku ingin memastikan kau mati dengan cara yang lebih menyakitkan. Api yang kau bawa itu membawa kutukan. Siapa pun yang menyentuhnya akan kehilangan jiwa dan akalnya.”

Garjita gemetar. Tangannya yang memegang wadah api biru mulai terbakar. Namun, yang terbakar bukanlah tubuhnya, melainkan kenangan-kenangannya. Ia melihat wajah istrinya, Liris, dan masa mudanya lenyap seperti asap.

Raja Manendra tersenyum puas, yakin bahwa Garjita akan hancur di hadapannya. Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Api biru itu meledak, menyelimuti tubuh Garjita, tetapi tidak membunuhnya. Sebaliknya, api itu tampak menyatu dengan jiwa sang patih.

Ketika Garjita membuka mata, bola matanya bersinar biru. Ia kini terlihat seperti makhluk lain, lebih kuat, dan mengerikan.

Raja Manendra mundur ketakutan. “Apa yang terjadi padamu?”

Garjita menatapnya dengan senyum tipis. “Terima kasih, Gusti, karena telah mengirimku ke kuil itu. Aku kini memahami arti sebenarnya dari kesetiaan.”

Dengan satu gerakan cepat, Garjita mengangkat tangan, dan api biru itu menyelimuti tubuh Raja Manendra. Sang raja menjerit, tubuhnya terbakar hingga tak tersisa, sementara Garjita berdiri dengan tenang.

Ketika pagi tiba, Garjita memanggil dewan istana. Dengan nada tegas, ia berkata, “Raja Bhre Manendra telah dihukum oleh para dewa karena kesombongannya. Semoga setelah ini, tahta kerajaan akan dipegang oleh seorang pemimpin yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.”

Para bangsawan terdiam. Aura baru Garjita, yang kini tampak seperti utusan para dewa, membuat mereka tunduk tanpa perlawanan. Sementara Liris, di tempat yang jauh dari balairung, merasa angin pagi membawa pesan dari ayahnya. [T]

Penulis: Yuditeha
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Agusta Mario B. Nanga | Malioboro dan Sederet Kursiyang Tak Jelas Siapa Penghuni

Next Post

Putu Bela Inggrid Cahyanti, Juara 1 Lomba Menulis ‘Feature’ : Awalnya Tak Suka Baca, Kini Ketagihan Menulis

Yuditeha

Yuditeha

Penulis tinggal di Karanganyar. IG: @yuditeha2

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post
Putu Bela Inggrid Cahyanti, Juara 1 Lomba Menulis ‘Feature’ : Awalnya Tak Suka Baca, Kini Ketagihan Menulis

Putu Bela Inggrid Cahyanti, Juara 1 Lomba Menulis 'Feature' : Awalnya Tak Suka Baca, Kini Ketagihan Menulis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co