22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Luh Sukastri dan Wayan Bintaning Tentang Hidup-Mati Tenun Songket Jinengdalem, Buleleng

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
November 4, 2025
in Khas
Cerita Luh Sukastri dan Wayan Bintaning Tentang Hidup-Mati Tenun Songket Jinengdalem, Buleleng

Wayan Bintaning, (kanan) dan Luh Sukastri

KAIN tenun dari Desa Jinengdalem, Buleleng, selalu punya cerita menarik di tengah zaman yang terus berubah. Dan cerita itu selalu saja datang dari perempuan.

Luh Sukastri, salah satu perempuan itu. Lihatlah, ia duduk selonjoran di depan alat tenun tradisional dari kayu. Jemarinya lincah memainkan sehelai benang sutra dan matanya tetap fokus pada benang yang terulur di depannya. Di sela bunyi ketukan alat tenun, perempuan asal Desa Jinengdalem ini bercerita tentang dunia tenun songket yang telah ia tekuni sejak masih anak-anak.

Kisahnya bermula dari motif-motif kecil. Ia menenun sejak kelas 2 SD, diajari langsung oleh ibunya yang juga seorang penenun. “Awalnya belajar nenun, baru SMP bikin motif. Dulu motif pertama saya itu cakra kurung, lalu mawar. Itu motif dasar yang diajarkan ibu,” kenangnya.

Motif Baru, Jiwa Baru

Puluhan tahun bergelut di dunia songket, perempuan berusia 47 tahun itu menenun berdasarkan intuisi dan ingatan. Setiap motif lahir langsung dari pikirannya, tanpa sketsa di atas kertas. Ia mengaku hanya membuat sketsa kalau ada pesanan khusus.

“Biasanya pelanggan mengirim contoh gambar atau request motif, saya buat sketsanya sambil ubah sedikit, tambahkan variasi, biar beda,” tuturnya sambil menatap kain yang tengah ia kerjakan.

Luh Sukastri di tengah proses membuat motif | Foto: Angga

Saat ini songket paling laris adalah motif lama seperti cakra kurung, mawar, dan pucuk.  Namun, Sukastri berani bekreasi tanpa mengikuti tren. Ia berkreasi, menciptakan variasi motif kala rau kecil di sela-selanya disisipkan motif bunga, matahari, dan rantai agar bidang kain tak tampak kosong. Menurutnya, variasi penting agar pembeli tidak jenuh.

“Kalau motifnya baru, pembeli semangat lihatnya. Harga dinaikin dikit juga mereka berani ambil. Tapi kalau yang itu-itu aja, harganya makin turun,” ujarnya jujur.

Terbukti kain songket kreasinya memiliki banyak peminat dan telah dipasarkan di Bangli, Poni’s Songket, dan Pertenunan Artha Dharma. Harga satu kain songket berkisar antara Rp5 juta hingga Rp12 juta, tergantung tingkat kerumitan motif dan pewarnaannya.

Dari Benang Sutra ke Kehidupan

Harga premium itu sebanding dengan prosesnya. Dalam sebulan, ia hanya bisa menyelesaikan satu hingga dua kain songket. Motif kreasi sendiri bisa memakan waktu hingga tiga hari untuk satu bagian, bandingkan dengan motif  dipasaran yang bisa ia selesaikan dalam dua jam.

Wayan Bintaning menenun pola motif Bungan Padang

Proses panjang tidak selalu mulus terkadang saat pewarnaan salah dan motif rusak. ”Kalau rusak sedikit bisa diperbaiki, tapi kalau robek tidak bisa diperbaiki,” katanya pasrah.

Proses menjadi songket dimulai dari ngelos benang sutra (menggulung benang ke dalam cag-cag), nganyinin (merapikan dan menghitung jumlah benang yang diperlukan agar tidak kusut).

Kemudian, benang diwarnai menggunakan pewarna alam dan pewarna basis atau sintetis, tergantung permintaan pembeli. Untuk pewarna alam, ia memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya seperti batang padi menghasilkan warna hijau tua, daun mangga wani menghasilkan merah keunguan, dan kayu jati merah kecoklatan.

Setelah diwarnai, proses berlanjut ke pembuatan motif hingga menenun. Proses akhir adalah lasem (penguat warna), tujuannya agar songket lebih nyaman, lembut, dan tidak luntur.

Kain tenun Jinengdalem motif Singa | Foto: Angga

Bagi Sukastri, menenun adalah cara untuk tetap produktif. Ia bisa tetap di rumah sambil mengurus anak dan membantu perekonomian keluarga. “Kerja di rumah bisa sambil istirahat, bisa ngurus anak juga. Hasilnya cukup buat kebutuhan sekolah anak,” katanya sambil tersenyum bangga.

Ia bekerja setiap hari dari pukul 10 pagi hingga sore, dengan jeda istirahat siang. “Saya tidak pernah maksa diri. Kalau capek, berhenti dulu. Bikin motif itu butuh pikiran jernih. Nggak bisa dipaksa,” ucapnya.

Dari hasil menenun, ia bisa menyekolahkan kedua putranya. Kendatipun pekerjaannya tidak selalu lancar, ada masa sepi dan masa ramai. Biasanya, pesanan meningkat menjelang rahinan Purnama Kapat dan Purnama Kedasa, ketika warga Bali memakai songket saat upacara.

”Tiga bulan menjelang odalan, pembeli sudah mulai pesan dan request motif,” tuturnya.

Yang Tersisa dari Sebuah Desa Songket

Kini, hanya tiga perempuan di Desa Jinengdalem yang masih bisa membuat motif songket secara utuh. Lainnya hanya mampu menenun pola yang sudah jadi. “Yang susah itu bikin motif. Sekarang orang tidak mau belajar, katanya pusing.,” ucapnya.

Sukastri mengungkapan menenun bisa jadi penghidupan kalau tekun, tapi anak-anak muda enggan belajar dan gengsi. Merasa malu jika laki-laki berprofesi sebagai penenun. Mereka lebih memilih bekerja di kota atau di sektor pariwisata.

“Kalau semua anak muda di desa mau ke luar negeri, siapa nanti yang jaga warisan songket ini?” katanya lirih. “Dulu di Beratan banyak perajin songket. Sekarang sudah punah. Tidak ada penerus,” imbuhnya.

Wayan Bintaning menenun pola motif Pucuk | Foto: Angga

Meski begitu, Sukastri tetap berusaha mengajarkan dasar-dasar menenun kepada anak-anak muda di sekitarnya. “Saya ajak aja dulu, biar pegang benang, dengar suaraalat tenun. Kalau udah biasa, lama-lama jatuh cinta sendiri,” katanya penuh harap.

Tenun sebagai Terapi Pikiran

Di teras rumah yang sama, suara alat tenun lain terdengar lebih pelan. Wayan Bintaning, mertua Luh Sukastri yang berusia 75 tahun. Ia adalah penenun songket senior di Desa Jinengdalem, dan seperti menantunya.

Bintaning telah menenun sejak masih duduk di bangku SD. Bintaning duduk dengan tenang di depan alat tenun tuanya. Meski tubuhnya sudah renta ia tetap menolak berhenti menenun.

”Saya masih kuat, cuma duduknya tidak bisa lama karena sakit punggung,” katanya lembut.

Saat ini, ia lebih banyak membantu membuat pola-pola dasar, sementara Sukastri berkreasi dengan motif baru. Meski terbatas, ia tetap memilih menenun agar tidak merasa bosan dan tetap produktif.

Kain tenun Jinengdalem | Foto: Angga

Bagi perempuan sepuh itu, tenun juga obat bagi hati dan pikiran. “Kalau orang tua diam aja, malah kelihatan sakit. Tapi kalau ada kerjaan, pikirannya fokus ke situ, jadi sehat,” ujarnya bijak.

Setiap hari, benang demi benang sutra bergerak di alat tenun milik Sukastri dan Bintaning. Suara tak-tak-tak dari alat tenun hidup di tangan-tangan yang setia, bukti bahwa dua perempuan ini berdaya, tetap sibuk, dan tetap hidup jaga tradisi. [T]

Reporter/Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: bulelengDesa Jinengdalemkain songketkain tenuntenun
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memperingati Cetakan ke-100 ‘Laut Bercerita’ di Ubud Writers & Readers Festival 2025, Mengapa Begitu Fenomenal?

Next Post

Ridwan Malik dan ‘Ajengan Anjing’: Ketika Anjing Menjadi Cermin Kemanusiaan

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Ridwan Malik dan ‘Ajengan Anjing’: Ketika Anjing Menjadi Cermin Kemanusiaan

Ridwan Malik dan ‘Ajengan Anjing’: Ketika Anjing Menjadi Cermin Kemanusiaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co