13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Luh Sukastri dan Wayan Bintaning Tentang Hidup-Mati Tenun Songket Jinengdalem, Buleleng

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
November 4, 2025
in Khas
Cerita Luh Sukastri dan Wayan Bintaning Tentang Hidup-Mati Tenun Songket Jinengdalem, Buleleng

Wayan Bintaning, (kanan) dan Luh Sukastri

KAIN tenun dari Desa Jinengdalem, Buleleng, selalu punya cerita menarik di tengah zaman yang terus berubah. Dan cerita itu selalu saja datang dari perempuan.

Luh Sukastri, salah satu perempuan itu. Lihatlah, ia duduk selonjoran di depan alat tenun tradisional dari kayu. Jemarinya lincah memainkan sehelai benang sutra dan matanya tetap fokus pada benang yang terulur di depannya. Di sela bunyi ketukan alat tenun, perempuan asal Desa Jinengdalem ini bercerita tentang dunia tenun songket yang telah ia tekuni sejak masih anak-anak.

Kisahnya bermula dari motif-motif kecil. Ia menenun sejak kelas 2 SD, diajari langsung oleh ibunya yang juga seorang penenun. “Awalnya belajar nenun, baru SMP bikin motif. Dulu motif pertama saya itu cakra kurung, lalu mawar. Itu motif dasar yang diajarkan ibu,” kenangnya.

Motif Baru, Jiwa Baru

Puluhan tahun bergelut di dunia songket, perempuan berusia 47 tahun itu menenun berdasarkan intuisi dan ingatan. Setiap motif lahir langsung dari pikirannya, tanpa sketsa di atas kertas. Ia mengaku hanya membuat sketsa kalau ada pesanan khusus.

“Biasanya pelanggan mengirim contoh gambar atau request motif, saya buat sketsanya sambil ubah sedikit, tambahkan variasi, biar beda,” tuturnya sambil menatap kain yang tengah ia kerjakan.

Luh Sukastri di tengah proses membuat motif | Foto: Angga

Saat ini songket paling laris adalah motif lama seperti cakra kurung, mawar, dan pucuk.  Namun, Sukastri berani bekreasi tanpa mengikuti tren. Ia berkreasi, menciptakan variasi motif kala rau kecil di sela-selanya disisipkan motif bunga, matahari, dan rantai agar bidang kain tak tampak kosong. Menurutnya, variasi penting agar pembeli tidak jenuh.

“Kalau motifnya baru, pembeli semangat lihatnya. Harga dinaikin dikit juga mereka berani ambil. Tapi kalau yang itu-itu aja, harganya makin turun,” ujarnya jujur.

Terbukti kain songket kreasinya memiliki banyak peminat dan telah dipasarkan di Bangli, Poni’s Songket, dan Pertenunan Artha Dharma. Harga satu kain songket berkisar antara Rp5 juta hingga Rp12 juta, tergantung tingkat kerumitan motif dan pewarnaannya.

Dari Benang Sutra ke Kehidupan

Harga premium itu sebanding dengan prosesnya. Dalam sebulan, ia hanya bisa menyelesaikan satu hingga dua kain songket. Motif kreasi sendiri bisa memakan waktu hingga tiga hari untuk satu bagian, bandingkan dengan motif  dipasaran yang bisa ia selesaikan dalam dua jam.

Wayan Bintaning menenun pola motif Bungan Padang

Proses panjang tidak selalu mulus terkadang saat pewarnaan salah dan motif rusak. ”Kalau rusak sedikit bisa diperbaiki, tapi kalau robek tidak bisa diperbaiki,” katanya pasrah.

Proses menjadi songket dimulai dari ngelos benang sutra (menggulung benang ke dalam cag-cag), nganyinin (merapikan dan menghitung jumlah benang yang diperlukan agar tidak kusut).

Kemudian, benang diwarnai menggunakan pewarna alam dan pewarna basis atau sintetis, tergantung permintaan pembeli. Untuk pewarna alam, ia memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya seperti batang padi menghasilkan warna hijau tua, daun mangga wani menghasilkan merah keunguan, dan kayu jati merah kecoklatan.

Setelah diwarnai, proses berlanjut ke pembuatan motif hingga menenun. Proses akhir adalah lasem (penguat warna), tujuannya agar songket lebih nyaman, lembut, dan tidak luntur.

Kain tenun Jinengdalem motif Singa | Foto: Angga

Bagi Sukastri, menenun adalah cara untuk tetap produktif. Ia bisa tetap di rumah sambil mengurus anak dan membantu perekonomian keluarga. “Kerja di rumah bisa sambil istirahat, bisa ngurus anak juga. Hasilnya cukup buat kebutuhan sekolah anak,” katanya sambil tersenyum bangga.

Ia bekerja setiap hari dari pukul 10 pagi hingga sore, dengan jeda istirahat siang. “Saya tidak pernah maksa diri. Kalau capek, berhenti dulu. Bikin motif itu butuh pikiran jernih. Nggak bisa dipaksa,” ucapnya.

Dari hasil menenun, ia bisa menyekolahkan kedua putranya. Kendatipun pekerjaannya tidak selalu lancar, ada masa sepi dan masa ramai. Biasanya, pesanan meningkat menjelang rahinan Purnama Kapat dan Purnama Kedasa, ketika warga Bali memakai songket saat upacara.

”Tiga bulan menjelang odalan, pembeli sudah mulai pesan dan request motif,” tuturnya.

Yang Tersisa dari Sebuah Desa Songket

Kini, hanya tiga perempuan di Desa Jinengdalem yang masih bisa membuat motif songket secara utuh. Lainnya hanya mampu menenun pola yang sudah jadi. “Yang susah itu bikin motif. Sekarang orang tidak mau belajar, katanya pusing.,” ucapnya.

Sukastri mengungkapan menenun bisa jadi penghidupan kalau tekun, tapi anak-anak muda enggan belajar dan gengsi. Merasa malu jika laki-laki berprofesi sebagai penenun. Mereka lebih memilih bekerja di kota atau di sektor pariwisata.

“Kalau semua anak muda di desa mau ke luar negeri, siapa nanti yang jaga warisan songket ini?” katanya lirih. “Dulu di Beratan banyak perajin songket. Sekarang sudah punah. Tidak ada penerus,” imbuhnya.

Wayan Bintaning menenun pola motif Pucuk | Foto: Angga

Meski begitu, Sukastri tetap berusaha mengajarkan dasar-dasar menenun kepada anak-anak muda di sekitarnya. “Saya ajak aja dulu, biar pegang benang, dengar suaraalat tenun. Kalau udah biasa, lama-lama jatuh cinta sendiri,” katanya penuh harap.

Tenun sebagai Terapi Pikiran

Di teras rumah yang sama, suara alat tenun lain terdengar lebih pelan. Wayan Bintaning, mertua Luh Sukastri yang berusia 75 tahun. Ia adalah penenun songket senior di Desa Jinengdalem, dan seperti menantunya.

Bintaning telah menenun sejak masih duduk di bangku SD. Bintaning duduk dengan tenang di depan alat tenun tuanya. Meski tubuhnya sudah renta ia tetap menolak berhenti menenun.

”Saya masih kuat, cuma duduknya tidak bisa lama karena sakit punggung,” katanya lembut.

Saat ini, ia lebih banyak membantu membuat pola-pola dasar, sementara Sukastri berkreasi dengan motif baru. Meski terbatas, ia tetap memilih menenun agar tidak merasa bosan dan tetap produktif.

Kain tenun Jinengdalem | Foto: Angga

Bagi perempuan sepuh itu, tenun juga obat bagi hati dan pikiran. “Kalau orang tua diam aja, malah kelihatan sakit. Tapi kalau ada kerjaan, pikirannya fokus ke situ, jadi sehat,” ujarnya bijak.

Setiap hari, benang demi benang sutra bergerak di alat tenun milik Sukastri dan Bintaning. Suara tak-tak-tak dari alat tenun hidup di tangan-tangan yang setia, bukti bahwa dua perempuan ini berdaya, tetap sibuk, dan tetap hidup jaga tradisi. [T]

Reporter/Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: bulelengDesa Jinengdalemkain songketkain tenuntenun
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memperingati Cetakan ke-100 ‘Laut Bercerita’ di Ubud Writers & Readers Festival 2025, Mengapa Begitu Fenomenal?

Next Post

Ridwan Malik dan ‘Ajengan Anjing’: Ketika Anjing Menjadi Cermin Kemanusiaan

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Ridwan Malik dan ‘Ajengan Anjing’: Ketika Anjing Menjadi Cermin Kemanusiaan

Ridwan Malik dan ‘Ajengan Anjing’: Ketika Anjing Menjadi Cermin Kemanusiaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co