3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

[Tuturangan Ambengan 3]: Putu ‘Koyik’ Sastrawan, Si Perajin Kostum Tari dari Desa Ambengan, Buleleng

Arix Wahyudhi Jana Putra by Arix Wahyudhi Jana Putra
November 3, 2025
in Persona
[Tuturangan Ambengan 3]: Putu ‘Koyik’ Sastrawan, Si Perajin Kostum Tari dari Desa Ambengan, Buleleng

Putu Sastrawan alias Koyik

DI sebuah gang kecil, bernama Gang Sandat, Dusun Bukit Balu, Desa Ambengan, Buleleng, hidup seorang pemuda berumur 27 tahun yang hari-harinya diisi oleh aroma kulit sapi, cat minyak, dan bunyi pahatan.

Nama pemuda itu Putu Sastrawan. di Ambengan, orang-orang lebih akrab memanggilnya Koyik—nama yang sederhana entah dari mana, tapi dari jemarinya lahir karya yang rumit dan memikat. Ia tumbuh dari tanah desa, dari rasa ingin tahu yang kecil, namun terus bersemi.

Sejak duduk di bangku SD kelas 1, tangannya sudah akrab dengan pensil dan kertas—menggambar menjadi awal dari segala cerita. Ketika menginjak kelas 4, tubuhnya mulai bergerak mengikuti irama gamelan; ia menari di Sanggar Santhi Budaya, tempat yang membentuknya mengenal irama, estetika, dan kesabaran.

Kostum tari Bali buatan Koyik

Dari SD hingga tamat SMP, ia menggeluti seni menari. Lalu di SMA, ia mulai jatuh cinta pada megambel—menabuh, menyalurkan energi lewat dentingan nada.

Dunia seni terus menuntunnya, sampai satu hari, ketika masa magang, Koyik melihat sesuatu yang mengubah arah hidupnya. Dalam sebuat event Pesta Kesenian Bali (PKB), ia menyaksikan penampilan mebarung dari duta Kabupaten Gianyar.

Para penari tampil dengan pakaian yang terbuat dari lem tembak—unik, kasar, nan memikat. Dari situ, rasa ingin tahunya meletup. Ia mulai belajar membuat payasan baleganjur, lalu terus mengulik teknik dan bahan, hingga menjadikannya hobi baru: membuat kostum tari.

Koyik membuat sketsa

Tahun 2018 menjadi titik balik. Saat Desa Ambengan menggelar pertunjukan kecak, Koyik ditunjuk sebagai penggagas pakaian tari. Mungkin, karya-karyanya yang menyala di bawah cahaya obor malam itu menarik perhatian Camat Sukasada.

Dari sanalah akar yang merambat mulai mempunyai arahnya, Koyik mulai dikenal, diundang untuk membuat kostum bersama Seka Truna-Truni Ambengan di acara Kelas Seni Budaya Sukasada (KASEBU), membuat cak kolosal yang menggetarkan. Setahun kemudian, di tahun 2019, ia kembali dipercaya membuat kostum untuk pawai mewakili Kecamatan Sukasada. Sejak saat itu, nama Koyik tak lagi sekadar panggilan; ia menjadi penanda dari karya dan ketekunan seorang anak muda sedikit petakilan dari Ambengan.

Patra samblung

Di teras depan rumahnya menjadi tempat ia menumpahkan isi pikirannya, di mana kulit sapi, spons, dan cat minyak berubah menjadi keindahan. Di sana, waktu berjalan pelan—setiap palu kayu dan goresan pahat adalah detik yang bermakna. Bahan-bahan yang digunakan Koyik terlihat sederhana tapi sarat cerita.

“Kalau bahannya dari dulu menggunakan kulit sapi,” ujar Koyik.

Namun, lambat laun banyak eksperimen yang dilakukan dengan spons topi, lem lili, dan cat minyak yang sedikit demi sedikit menempel di teras rumahnya. Kulit sapi yang digunakan pun tak sembarangan. Ada dua jenis: kulit sapi Bali dan kulit sapi Yogja.

Koyik lebih memilih kulit sapi Bali karena lebih mudah dipacal—dipahat dan diolah—tidak selengket kulit jogja. Dalam prosesnya, ia menggunakan dua jenis pahat: penguku dan penancap. Penguku untuk lengkungan halus, penancap untuk garis lurus.

Saat memahat, kulit biasanya terasa lengket, karena itu ia menggunakan malam—bahan dari sarang lebah mirip lilin—agar alat pahat bisa bergerak lebih lembut di permukaan kulit.

Setiap kali memahat, Koyik seperti masuk ke dunia kecilnya sendiri. Dengan palu kayu dan pahat di kedua tangannya, ia mengetuk perlahan, menelusuri pola dengan ketukan yang nyaris meditasi. Jemari yang lembut, di pagi hari, ia di sambut sinar matahari di terasnya, di malam hari, ia di temani cahaya lampu temaram.

Setiap garis yang ia pahat adalah bentuk penghormatan terhadap warisan seni yang membesarkannya. Corak yang paling sering diaplikasikan adalah patra samblung—motif tanaman menjalar dengan daun-daun lebar, melambangkan kehidupan yang tumbuh dan menyatu dengan alam.

Dalam pepatraan samblung, ujung-ujung tanaman digambarkan menjalar dan melengkung harmonis, seolah meniru keseimbangan antara manusia dan semesta. Ada nilai kesabaran, keterhubungan, dan keindahan yang tak terburu-buru di setiap lengkungannya.

Alat-alat kerja

Proses pembuatan satu kostum tari bisa memakan waktu berbulan-bulan, terutama jika berbahan kulit. Namun, untuk kostum berbahan lem tembak dan spons, hanya sekitar seminggu. Bahkan, jika sekadar membuat ukiran kertas, ia bisa menyelesaikannya dalam beberapa jam saja—biasanya pesanan datang menjelang musim ogoh-ogoh.

Pernah suatu waktu, dalam sebulan, ia menerima pesanan 28 picis pakaian tari berbahan spons. Sebuah angka yang mencerminkan betapa cintanya ia terhadap kerja tangan ini. Dari sisi ekonomi, karya Koyik juga menjanjikan. Untuk penyewaan, harga mulai dari Rp 50.000 hanya untuk gelungan atau mahkota. Satu set pakaian bisa disewa sekitar Rp 250.000, sedangkan jika dibeli, harganya bergantung pada bahan dan pola.

Kostum dari lem tembak dibanderol sekitar Rp1,5–2 juta, sementara kostum dari kulit sapi bisa mencapai Rp7–8 juta. Harga itu bukan hanya nilai material—ia adalah harga dari waktu, kesabaran, dan jiwa yang tertinggal di setiap pahatan.

Penulis mencoba kostum buatan Koyik

Koyik tidak sekadar membuat kostum. Ia memahat ingatan. Setiap pakaian yang lahir dari tangannya membawa sepotong kisah tentang Ambengan: tentang anak desa yang tumbuh bersama hobi, tentang semangat yang tak pernah padam untuk menjaga seni tetap hidup.

Di gang kecil itu, di antara aroma kulit dan dengung palu, Koyik sedang menulis sejarahnya sendiri—dengan tangan, dengan hati, dan dengan cinta yang sederhana. Karena di tangan-tangan seperti Koyik-lah, Ambengan tidak hanya hidup dalam kenangan, tapi melahirkan pemuda-pemudi yang berjiwa seni tinggi. [T]

  • Artikel ini disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan mahasiswa KKN IAHN Mpu Kuturan di Desa Ambengan, Sukasada, Buleleng

Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Budaya Balidesa ambengankesenian baliseni tari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

The Mind of God is Music

Next Post

Belajar, Berkaca, Membaca dan Memahami Samudra

Arix Wahyudhi Jana Putra

Arix Wahyudhi Jana Putra

Gede Arix Wahyudhi Jana Putra. Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails
Next Post
Belajar, Berkaca, Membaca dan Memahami Samudra

Belajar, Berkaca, Membaca dan Memahami Samudra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co