3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

[Tuturangan Ambengan 3]: Putu ‘Koyik’ Sastrawan, Si Perajin Kostum Tari dari Desa Ambengan, Buleleng

Arix Wahyudhi Jana Putra by Arix Wahyudhi Jana Putra
November 3, 2025
in Persona
[Tuturangan Ambengan 3]: Putu ‘Koyik’ Sastrawan, Si Perajin Kostum Tari dari Desa Ambengan, Buleleng

Putu Sastrawan alias Koyik

DI sebuah gang kecil, bernama Gang Sandat, Dusun Bukit Balu, Desa Ambengan, Buleleng, hidup seorang pemuda berumur 27 tahun yang hari-harinya diisi oleh aroma kulit sapi, cat minyak, dan bunyi pahatan.

Nama pemuda itu Putu Sastrawan. di Ambengan, orang-orang lebih akrab memanggilnya Koyik—nama yang sederhana entah dari mana, tapi dari jemarinya lahir karya yang rumit dan memikat. Ia tumbuh dari tanah desa, dari rasa ingin tahu yang kecil, namun terus bersemi.

Sejak duduk di bangku SD kelas 1, tangannya sudah akrab dengan pensil dan kertas—menggambar menjadi awal dari segala cerita. Ketika menginjak kelas 4, tubuhnya mulai bergerak mengikuti irama gamelan; ia menari di Sanggar Santhi Budaya, tempat yang membentuknya mengenal irama, estetika, dan kesabaran.

Kostum tari Bali buatan Koyik

Dari SD hingga tamat SMP, ia menggeluti seni menari. Lalu di SMA, ia mulai jatuh cinta pada megambel—menabuh, menyalurkan energi lewat dentingan nada.

Dunia seni terus menuntunnya, sampai satu hari, ketika masa magang, Koyik melihat sesuatu yang mengubah arah hidupnya. Dalam sebuat event Pesta Kesenian Bali (PKB), ia menyaksikan penampilan mebarung dari duta Kabupaten Gianyar.

Para penari tampil dengan pakaian yang terbuat dari lem tembak—unik, kasar, nan memikat. Dari situ, rasa ingin tahunya meletup. Ia mulai belajar membuat payasan baleganjur, lalu terus mengulik teknik dan bahan, hingga menjadikannya hobi baru: membuat kostum tari.

Koyik membuat sketsa

Tahun 2018 menjadi titik balik. Saat Desa Ambengan menggelar pertunjukan kecak, Koyik ditunjuk sebagai penggagas pakaian tari. Mungkin, karya-karyanya yang menyala di bawah cahaya obor malam itu menarik perhatian Camat Sukasada.

Dari sanalah akar yang merambat mulai mempunyai arahnya, Koyik mulai dikenal, diundang untuk membuat kostum bersama Seka Truna-Truni Ambengan di acara Kelas Seni Budaya Sukasada (KASEBU), membuat cak kolosal yang menggetarkan. Setahun kemudian, di tahun 2019, ia kembali dipercaya membuat kostum untuk pawai mewakili Kecamatan Sukasada. Sejak saat itu, nama Koyik tak lagi sekadar panggilan; ia menjadi penanda dari karya dan ketekunan seorang anak muda sedikit petakilan dari Ambengan.

Patra samblung

Di teras depan rumahnya menjadi tempat ia menumpahkan isi pikirannya, di mana kulit sapi, spons, dan cat minyak berubah menjadi keindahan. Di sana, waktu berjalan pelan—setiap palu kayu dan goresan pahat adalah detik yang bermakna. Bahan-bahan yang digunakan Koyik terlihat sederhana tapi sarat cerita.

“Kalau bahannya dari dulu menggunakan kulit sapi,” ujar Koyik.

Namun, lambat laun banyak eksperimen yang dilakukan dengan spons topi, lem lili, dan cat minyak yang sedikit demi sedikit menempel di teras rumahnya. Kulit sapi yang digunakan pun tak sembarangan. Ada dua jenis: kulit sapi Bali dan kulit sapi Yogja.

Koyik lebih memilih kulit sapi Bali karena lebih mudah dipacal—dipahat dan diolah—tidak selengket kulit jogja. Dalam prosesnya, ia menggunakan dua jenis pahat: penguku dan penancap. Penguku untuk lengkungan halus, penancap untuk garis lurus.

Saat memahat, kulit biasanya terasa lengket, karena itu ia menggunakan malam—bahan dari sarang lebah mirip lilin—agar alat pahat bisa bergerak lebih lembut di permukaan kulit.

Setiap kali memahat, Koyik seperti masuk ke dunia kecilnya sendiri. Dengan palu kayu dan pahat di kedua tangannya, ia mengetuk perlahan, menelusuri pola dengan ketukan yang nyaris meditasi. Jemari yang lembut, di pagi hari, ia di sambut sinar matahari di terasnya, di malam hari, ia di temani cahaya lampu temaram.

Setiap garis yang ia pahat adalah bentuk penghormatan terhadap warisan seni yang membesarkannya. Corak yang paling sering diaplikasikan adalah patra samblung—motif tanaman menjalar dengan daun-daun lebar, melambangkan kehidupan yang tumbuh dan menyatu dengan alam.

Dalam pepatraan samblung, ujung-ujung tanaman digambarkan menjalar dan melengkung harmonis, seolah meniru keseimbangan antara manusia dan semesta. Ada nilai kesabaran, keterhubungan, dan keindahan yang tak terburu-buru di setiap lengkungannya.

Alat-alat kerja

Proses pembuatan satu kostum tari bisa memakan waktu berbulan-bulan, terutama jika berbahan kulit. Namun, untuk kostum berbahan lem tembak dan spons, hanya sekitar seminggu. Bahkan, jika sekadar membuat ukiran kertas, ia bisa menyelesaikannya dalam beberapa jam saja—biasanya pesanan datang menjelang musim ogoh-ogoh.

Pernah suatu waktu, dalam sebulan, ia menerima pesanan 28 picis pakaian tari berbahan spons. Sebuah angka yang mencerminkan betapa cintanya ia terhadap kerja tangan ini. Dari sisi ekonomi, karya Koyik juga menjanjikan. Untuk penyewaan, harga mulai dari Rp 50.000 hanya untuk gelungan atau mahkota. Satu set pakaian bisa disewa sekitar Rp 250.000, sedangkan jika dibeli, harganya bergantung pada bahan dan pola.

Kostum dari lem tembak dibanderol sekitar Rp1,5–2 juta, sementara kostum dari kulit sapi bisa mencapai Rp7–8 juta. Harga itu bukan hanya nilai material—ia adalah harga dari waktu, kesabaran, dan jiwa yang tertinggal di setiap pahatan.

Penulis mencoba kostum buatan Koyik

Koyik tidak sekadar membuat kostum. Ia memahat ingatan. Setiap pakaian yang lahir dari tangannya membawa sepotong kisah tentang Ambengan: tentang anak desa yang tumbuh bersama hobi, tentang semangat yang tak pernah padam untuk menjaga seni tetap hidup.

Di gang kecil itu, di antara aroma kulit dan dengung palu, Koyik sedang menulis sejarahnya sendiri—dengan tangan, dengan hati, dan dengan cinta yang sederhana. Karena di tangan-tangan seperti Koyik-lah, Ambengan tidak hanya hidup dalam kenangan, tapi melahirkan pemuda-pemudi yang berjiwa seni tinggi. [T]

  • Artikel ini disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan mahasiswa KKN IAHN Mpu Kuturan di Desa Ambengan, Sukasada, Buleleng

Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Budaya Balidesa ambengankesenian baliseni tari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

The Mind of God is Music

Next Post

Belajar, Berkaca, Membaca dan Memahami Samudra

Arix Wahyudhi Jana Putra

Arix Wahyudhi Jana Putra

Gede Arix Wahyudhi Jana Putra. Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails
Next Post
Belajar, Berkaca, Membaca dan Memahami Samudra

Belajar, Berkaca, Membaca dan Memahami Samudra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co