14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

[Tuturangan Ambengan 3]: Putu ‘Koyik’ Sastrawan, Si Perajin Kostum Tari dari Desa Ambengan, Buleleng

Arix Wahyudhi Jana Putra by Arix Wahyudhi Jana Putra
November 3, 2025
in Persona
[Tuturangan Ambengan 3]: Putu ‘Koyik’ Sastrawan, Si Perajin Kostum Tari dari Desa Ambengan, Buleleng

Putu Sastrawan alias Koyik

DI sebuah gang kecil, bernama Gang Sandat, Dusun Bukit Balu, Desa Ambengan, Buleleng, hidup seorang pemuda berumur 27 tahun yang hari-harinya diisi oleh aroma kulit sapi, cat minyak, dan bunyi pahatan.

Nama pemuda itu Putu Sastrawan. di Ambengan, orang-orang lebih akrab memanggilnya Koyik—nama yang sederhana entah dari mana, tapi dari jemarinya lahir karya yang rumit dan memikat. Ia tumbuh dari tanah desa, dari rasa ingin tahu yang kecil, namun terus bersemi.

Sejak duduk di bangku SD kelas 1, tangannya sudah akrab dengan pensil dan kertas—menggambar menjadi awal dari segala cerita. Ketika menginjak kelas 4, tubuhnya mulai bergerak mengikuti irama gamelan; ia menari di Sanggar Santhi Budaya, tempat yang membentuknya mengenal irama, estetika, dan kesabaran.

Kostum tari Bali buatan Koyik

Dari SD hingga tamat SMP, ia menggeluti seni menari. Lalu di SMA, ia mulai jatuh cinta pada megambel—menabuh, menyalurkan energi lewat dentingan nada.

Dunia seni terus menuntunnya, sampai satu hari, ketika masa magang, Koyik melihat sesuatu yang mengubah arah hidupnya. Dalam sebuat event Pesta Kesenian Bali (PKB), ia menyaksikan penampilan mebarung dari duta Kabupaten Gianyar.

Para penari tampil dengan pakaian yang terbuat dari lem tembak—unik, kasar, nan memikat. Dari situ, rasa ingin tahunya meletup. Ia mulai belajar membuat payasan baleganjur, lalu terus mengulik teknik dan bahan, hingga menjadikannya hobi baru: membuat kostum tari.

Koyik membuat sketsa

Tahun 2018 menjadi titik balik. Saat Desa Ambengan menggelar pertunjukan kecak, Koyik ditunjuk sebagai penggagas pakaian tari. Mungkin, karya-karyanya yang menyala di bawah cahaya obor malam itu menarik perhatian Camat Sukasada.

Dari sanalah akar yang merambat mulai mempunyai arahnya, Koyik mulai dikenal, diundang untuk membuat kostum bersama Seka Truna-Truni Ambengan di acara Kelas Seni Budaya Sukasada (KASEBU), membuat cak kolosal yang menggetarkan. Setahun kemudian, di tahun 2019, ia kembali dipercaya membuat kostum untuk pawai mewakili Kecamatan Sukasada. Sejak saat itu, nama Koyik tak lagi sekadar panggilan; ia menjadi penanda dari karya dan ketekunan seorang anak muda sedikit petakilan dari Ambengan.

Patra samblung

Di teras depan rumahnya menjadi tempat ia menumpahkan isi pikirannya, di mana kulit sapi, spons, dan cat minyak berubah menjadi keindahan. Di sana, waktu berjalan pelan—setiap palu kayu dan goresan pahat adalah detik yang bermakna. Bahan-bahan yang digunakan Koyik terlihat sederhana tapi sarat cerita.

“Kalau bahannya dari dulu menggunakan kulit sapi,” ujar Koyik.

Namun, lambat laun banyak eksperimen yang dilakukan dengan spons topi, lem lili, dan cat minyak yang sedikit demi sedikit menempel di teras rumahnya. Kulit sapi yang digunakan pun tak sembarangan. Ada dua jenis: kulit sapi Bali dan kulit sapi Yogja.

Koyik lebih memilih kulit sapi Bali karena lebih mudah dipacal—dipahat dan diolah—tidak selengket kulit jogja. Dalam prosesnya, ia menggunakan dua jenis pahat: penguku dan penancap. Penguku untuk lengkungan halus, penancap untuk garis lurus.

Saat memahat, kulit biasanya terasa lengket, karena itu ia menggunakan malam—bahan dari sarang lebah mirip lilin—agar alat pahat bisa bergerak lebih lembut di permukaan kulit.

Setiap kali memahat, Koyik seperti masuk ke dunia kecilnya sendiri. Dengan palu kayu dan pahat di kedua tangannya, ia mengetuk perlahan, menelusuri pola dengan ketukan yang nyaris meditasi. Jemari yang lembut, di pagi hari, ia di sambut sinar matahari di terasnya, di malam hari, ia di temani cahaya lampu temaram.

Setiap garis yang ia pahat adalah bentuk penghormatan terhadap warisan seni yang membesarkannya. Corak yang paling sering diaplikasikan adalah patra samblung—motif tanaman menjalar dengan daun-daun lebar, melambangkan kehidupan yang tumbuh dan menyatu dengan alam.

Dalam pepatraan samblung, ujung-ujung tanaman digambarkan menjalar dan melengkung harmonis, seolah meniru keseimbangan antara manusia dan semesta. Ada nilai kesabaran, keterhubungan, dan keindahan yang tak terburu-buru di setiap lengkungannya.

Alat-alat kerja

Proses pembuatan satu kostum tari bisa memakan waktu berbulan-bulan, terutama jika berbahan kulit. Namun, untuk kostum berbahan lem tembak dan spons, hanya sekitar seminggu. Bahkan, jika sekadar membuat ukiran kertas, ia bisa menyelesaikannya dalam beberapa jam saja—biasanya pesanan datang menjelang musim ogoh-ogoh.

Pernah suatu waktu, dalam sebulan, ia menerima pesanan 28 picis pakaian tari berbahan spons. Sebuah angka yang mencerminkan betapa cintanya ia terhadap kerja tangan ini. Dari sisi ekonomi, karya Koyik juga menjanjikan. Untuk penyewaan, harga mulai dari Rp 50.000 hanya untuk gelungan atau mahkota. Satu set pakaian bisa disewa sekitar Rp 250.000, sedangkan jika dibeli, harganya bergantung pada bahan dan pola.

Kostum dari lem tembak dibanderol sekitar Rp1,5–2 juta, sementara kostum dari kulit sapi bisa mencapai Rp7–8 juta. Harga itu bukan hanya nilai material—ia adalah harga dari waktu, kesabaran, dan jiwa yang tertinggal di setiap pahatan.

Penulis mencoba kostum buatan Koyik

Koyik tidak sekadar membuat kostum. Ia memahat ingatan. Setiap pakaian yang lahir dari tangannya membawa sepotong kisah tentang Ambengan: tentang anak desa yang tumbuh bersama hobi, tentang semangat yang tak pernah padam untuk menjaga seni tetap hidup.

Di gang kecil itu, di antara aroma kulit dan dengung palu, Koyik sedang menulis sejarahnya sendiri—dengan tangan, dengan hati, dan dengan cinta yang sederhana. Karena di tangan-tangan seperti Koyik-lah, Ambengan tidak hanya hidup dalam kenangan, tapi melahirkan pemuda-pemudi yang berjiwa seni tinggi. [T]

  • Artikel ini disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan mahasiswa KKN IAHN Mpu Kuturan di Desa Ambengan, Sukasada, Buleleng

Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Budaya Balidesa ambengankesenian baliseni tari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

The Mind of God is Music

Next Post

Belajar, Berkaca, Membaca dan Memahami Samudra

Arix Wahyudhi Jana Putra

Arix Wahyudhi Jana Putra

Gede Arix Wahyudhi Jana Putra. Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails
Next Post
Belajar, Berkaca, Membaca dan Memahami Samudra

Belajar, Berkaca, Membaca dan Memahami Samudra

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co