24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyalakan Api Semangat Pemuda: Belajar dari Einstein dan Menuhin Untuk Indonesia Jaya — Refleksi Hari Sumpah Pemuda

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 28, 2025
in Ulas Buku
Menyalakan Api Semangat Pemuda: Belajar dari Einstein dan Menuhin Untuk Indonesia Jaya — Refleksi Hari Sumpah Pemuda

DALAM buku Youth Challenges and Empowerment, Taklukkan Tantangan & Berdayakan Dirimu, karya Guruji Anand Krishna, terdapat sebuah kisah sederhana namun sarat makna berjudul “Menuhin dan Einstein.” Dikisahkan bahwa Albert Einstein—seorang ilmuwan besar dan sekaligus manusia berhati lembut—adalah orang pertama yang mengenali bakat luar biasa dari seorang remaja berusia 13 tahun bernama Yehudi Menuhin. Seusai menghadiri konser biola Menuhin di Berlin pada tahun 1929, Einstein menghampirinya dan berkata penuh haru, “Setelah mendengarmu bermain, aku semakin yakin bahwa Tuhan itu ada.”

Sebuah kalimat yang menggugah, karena datang dari seorang ilmuwan yang dikenal rasional dan skeptis terhadap bentuk-bentuk dogma keagamaan. Namun di hadapan keindahan dan kemurnian jiwa seorang anak muda, Einstein menemukan sesuatu yang melampaui logika—sebuah kehadiran Ilahi yang nyata dalam harmoni musik.

Bagi Guruji Anand Krishna, ucapan Einstein bukan sekadar pujian, tetapi pengakuan bahwa Tuhan hadir dalam keindahan, kelembutan, cinta, dan kemanusiaan yang terpancar dari setiap manusia. Tuhan bukan hanya konsep di langit, melainkan vibrasi kasih yang bergetar dalam suara biola, dalam tangan-tangan yang bekerja dengan cinta, dan dalam hati yang berjuang tanpa pamrih.

Kisah ini bisa kita jadikan cermin untuk merenungkan makna Hari Sumpah Pemuda. Delapan puluh sembilan tahun lalu, para pemuda dari berbagai suku, bahasa, dan daerah berkumpul bukan untuk menonjolkan perbedaan, tetapi untuk menemukan “keindahan” yang sama—keindahan sebuah bangsa yang disebut Indonesia.

Sama seperti Einstein yang melihat Tuhan dalam permainan biola Menuhin, para pemuda tahun 1928 melihat Tuhan dalam cita-cita persatuan. Mereka tidak menunggu keadaan sempurna. Mereka tidak menunggu “izin sejarah.” Mereka menciptakan sejarah—dengan satu semangat, satu bahasa, dan satu tanah air: Indonesia.

Kini, hampir seabad kemudian, kita perlu bertanya: di mana semangat itu sekarang? Apakah kita masih merasakan getaran yang sama dalam diri kita sebagai anak bangsa? Ataukah kita justru terjebak dalam fragmentasi, dalam kebisingan media sosial, dalam persaingan yang membuat kita lupa pada makna perjuangan yang sejati?

Guruji Anand Krishna mengatakan bahwa “Jiwa muda adalah jiwa penuh energi, penuh semangat. Maka, dengan sendirinya penuh gejolak pula. Ia bisa membangkang, bisa memberontak, bisa mendobrak, bahkan bisa merusak dan menghancurkan pula. Tapi, jangan lupa, ia pun bisa membangun, bisa mencipatakan sesuatu yang baru, bisa meluruskan apa yang sudah lama bengkok.” Jiwa muda adalah jiwa yang berani bermimpi, namun juga siap bekerja keras. Jiwa muda adalah jiwa yang tidak berhenti belajar, tidak berhenti berharap, dan tidak berhenti berbuat. Jiwa muda adalah jiwa yang, seperti Menuhin, menerima setiap tantangan sebagai anugerah untuk tumbuh.

Einstein tidak hanya memuji, tetapi memberi dorongan spiritual bagi Menuhin untuk terus berkembang. Ia menegaskan bahwa keindahan yang tulus adalah bukti keberadaan Tuhan. Demikian pula bangsa ini membutuhkan para Einstein baru—mereka yang mau melihat potensi luar biasa dalam diri generasi muda, bukan sekadar menghakimi atau membatasi mereka.

Kita juga membutuhkan para Menuhin baru—mereka yang mau mendengarkan bimbingan, mau berlatih, mau mempersembahkan karya terbaik bagi dunia, bukan untuk ketenaran pribadi, tetapi untuk menyatakan kehadiran Tuhan dalam karya mereka.

Dalam konteks Indonesia, semangat Einstein dan Menuhin itu dapat diterjemahkan menjadi sinergi antara kebijaksanaan dan semangat muda. Einstein mewakili pengalaman, kedalaman, dan kebijaksanaan; Menuhin mewakili keberanian, kreativitas, dan semangat juang. Jika kedua hal ini berpadu, maka lahirlah bangsa yang tidak hanya kuat secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual.

Sumpah Pemuda bukanlah sekadar peringatan sejarah; ia adalah energi kesadaran kolektif yang harus terus dihidupkan di setiap generasi. Semangat persatuan dan cinta tanah air tidak boleh berhenti di museum atau di upacara bendera, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata: membangun negeri dengan ilmu, seni, dan hati nurani.

Seperti kata Guruji Anand Krishna, “Empowerment bukan berarti menjadi kuat untuk menguasai, tetapi menjadi sadar untuk melayani.” Pemuda yang berdaya adalah mereka yang sadar akan potensi dirinya dan menggunakannya untuk melayani kehidupan—bukan untuk menindas atau memperkaya diri sendiri, melainkan untuk memperindah dunia ini.

Kini, di tengah tantangan globalisasi, krisis moral, dan ancaman disintegrasi, Indonesia memerlukan pemuda yang mampu melihat keindahan di balik perbedaan. Karena sesungguhnya perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk diselaraskan—seperti nada-nada dalam musik Menuhin yang beragam namun berpadu indah.

Pemuda Indonesia harus belajar dari Menuhin: tekun, rendah hati, dan berani bermimpi besar. Dan juga belajar dari Einstein: berpikir bebas, namun tetap terhubung dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keindahan.

Kita tidak bisa lagi hanya bangga dengan sejarah Sumpah Pemuda, tetapi harus menghidupinya kembali dalam tindakan:

  • dengan belajar sungguh-sungguh dan berkarya untuk bangsa;
  • dengan menolak korupsi dalam bentuk apa pun, sekecil apa pun;
  • dengan merangkul perbedaan dan mengubah konflik menjadi kolaborasi;
  • dengan menjadikan spiritualitas dan kemanusiaan sebagai dasar setiap perjuangan.

Einstein berkata, “Setelah mendengarmu bermain, aku yakin Tuhan itu ada.”
Semoga setelah melihat kerja keras, karya, dan semangat para pemuda Indonesia, dunia pun berkata hal yang sama:
“Setelah melihat kalian, kami yakin Indonesia akan jaya.”

Mari jadikan Hari Sumpah Pemuda bukan hanya peringatan, melainkan panggilan jiwa. Panggilan untuk bangkit, berdaya, dan menghadirkan Tuhan melalui karya, kasih, dan keindahan di setiap bidang kehidupan.

Karena sejatinya, setiap kali kita berbuat baik, mencipta sesuatu dengan cinta, dan mempersembahkan diri untuk bangsa, kita sedang berkata dalam diam:
“Aku percaya, Tuhan itu ada—di dalam Indonesia yang kucintai.” [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Albert Einsteinsumpah pemuda
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Generasi C: Putra Putri Ibu Pertiwi Menuju Indonesia Emas

Next Post

28 Oktober 2025 : Pemuda dan Masa Depan Bangsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
28 Oktober 2025 : Pemuda dan Masa Depan Bangsa

28 Oktober 2025 : Pemuda dan Masa Depan Bangsa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co