5 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dita Suka Sunset   |  Cerpen Kadek Windari

Kadek Windari by Kadek Windari
October 25, 2025
in Cerpen
Dita Suka Sunset   |  Cerpen Kadek Windari

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

“Kita tak punya pilihan.”

Suara itu lirih. Ada tarikan napas panjang dan berat, menyeret seluruh sisa harapan yang masih bertahan di dada. Hening lalu jatuh di antara mereka. Tak ada lagi kalimat yang mampu memperbaiki malam itu. Hanya perasaan yang tahu. Mereka baru saja kehilangan sesuatu yang tak akan pernah kembali.

Gerimis mulai turun, mengetuk pelan kaca mobil yang berembun, seolah ikut menangisi keputusan yang tak bisa dibatalkan. Dayu menatap samar bayangannya sendiri di jendela.

“Aku lelah setiap kali membicarakan ini,” suaranya gemetar. “Tak ada yang bisa menemukan jalan tengahnya.”

Bian menatap. “Lalu bagaimana? Aku mencintaimu. Begitu juga kamu, bukan?”

“Iya…” Dayu menunduk. “Tapi apa yang harus aku lakukan, Bian? Haruskah aku meninggalkan keyakinanku hanya demi cinta? Rasanya… tak mungkin.”

Dayu tertunduk, kembali menatap bayangannya di jendela. Di luar, gerimis turun lebih deras. Bian menarik napas pelan, menatap wajah Dayu yang samar-samar dalam pantulan kaca.

“Kita tak punya pilihan,” ucapnya. “Mari kita akhiri hubungan ini.”

Dayu sontak menoleh. Bola matanya bergetar, bening air tertahan di pelupuknya. “Kamu yakin, Bian?”

Bian menunduk, jemarinya mengepal di pangkuan.

“Aku bingung, Dayu. Aku pun tak bisa meninggalkan keyakinanku. Bukankah… seharusnya kamu yang mengikutiku?”

Sunyi kembali mengacaukan mereka. Hanya rintik hujan yang menjadi saksi percakapan itu. Mobil melaju perlahan, menembus kabut malam yang kian tebal.

Malam itu, setelah enam tahun bersama, mereka akhirnya berhenti di sebuah persimpangan yang tak akan pernah mereka lalui lagi.

***

Belasan tahun berlalu, namun keduanya hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Barangkali cinta mereka telah habis untuk orang yang sama. Kini, mereka hanya melanjutkan sisa hidup.

Dayu kini menjadi guru di sebuah sekolah swasta di Denpasar. Usianya telah melewati kepala empat. Di sisi pelipisnya, helai-helai uban tumbuh, tapi tetap tak menutupi indah parasnya. Ia mengabdikan diri sepenuhnya pada dunia pendidikan. Dari pagi hingga petang, tiada henti mencerdaskan anak bangsa.

Beribu cara Dayu lakukan agar pikirannya tak terfokus pada hubungannya yang kandas. Menepikan semua barang pemberian, menutup album foto, hingga membuka hati pun sudah dicoba. Tapi, sayangnya, semua hal yang dilakukan, selalu berujung pada masa lalunya. Semua tempat yang ia datangi, selalu ada Bian—kenangannya.

Mencoba beradaptasi dengan ketidakhadiran Bian di hidupnya sempat membuat Dayu ingin menyerah. Tak lagi wajib kabari dan hidup sendiri-sendiri. Sayangnya, angan-angan yang mereka ciptakan, tak berjalan. Tapi bertahan bukanlah pilihan. Kini mereka hanya bisa mengenang. Menikmati hujan lebih indah dari kenyataan.

Siang itu, langit tampak murung. Anak-anak berlarian di halaman sekolah, dipenuhi riang dan tawa. Dayu berdiri di dekat gerbang, menatap satu per satu wajah kecil yang berpamitan. Sampai satu suara memanggil salah satu siswanya.

“Dita…”

Sejenak Dayu termangu, terdengar samar suara yang tak asing di telinganya. Dayu menoleh pelan. Tak jauh dari sana, seorang lelaki berdiri di sisi pagar. Kemeja hitam membalut tubuhnya, rambutnya sedikit beruban, lengkap dengan kacamata yang menggantung di lehernya.

Bian.

Suara anak-anak, deru kendaraan di luar pagar, semuanya hilang. Mata mereka bertemu, sekilas. Cukup membuat nafas Dayu tersendat.

Dita, gadis kecil berusia tujuh tahun, berlari menghampirinya.

“Bu guru, itu Ayah! Aku pulang dulu ya,” ujar Dita polos sambil mencium tangannya.

Dayu membalas dengan senyuman tipis. Dari ekor mata, ia tahu Bian masih menatapnya.

Dita berlari ke arah mobil, dan Bian membuka pintu untuknya. Sekilas, mata mereka kembali bertemu. Hanya sekejap, tapi cukup untuk menggemparkan seluruh dinding yang telah susah payah Dayu bangun di dalam dirinya.

Di dalam mobil, Bian menatap bayangan Dayu lewat kaca spion. Ia tak tahu, mengapa waktu bisa begitu kejam, membuat orang yang dulu ia doakan setiap malam kini berdiri di hadapannya. Tapi, tak lagi bisa disentuh.

Setelah mobil perlahan menjauh, Dayu berbalik. Langkahnya gontai menuju ruang guru. Ia duduk di kursinya yang dingin, memejamkan mata, jantungnya berdebar. Setelah sekian lama, Dayu bertemu kembali dengan patah hati terdalamnya. Pertemuan singkat itu mampu membangun perasaan-perasaan yang lama terpendam.

***

Sejak hari itu, Dayu selalu memperhatikan kepulangan Dita dari kejauhan. Ia berusaha menghindari setiap kemungkinan berpapasan dengan Bian. Namun, Tuhan selalu punya caranya sendiri untuk mempertemukan yang seharusnya tak lagi bertemu.

“Bu Dayu, lebih suka siang atau malam?” tanya Dita seraya menunggu dijemput.

“Hm… Ibu lebih suka sore.”

“Kenapa?”

“Karena Ibu suka sekali langit berwarna jingga.”

“Wah, Dita juga suka. Tiap akhir pekan, Ayah selalu ngajak Dita ke pantai untuk melihat sun… sun… sun apa ya, Bu? Sunslik?” ucap Dita membuat Dayu terkekeh.

“Sunset.”

“Nah itu dia!” seru Dita bangga. “Aku suka karena Ayah suka.”

Dayu terdiam sejenak. Dita memang sering kali berbincang dengan Dayu. Tiap hari ada saja hal kecil yang mereka perbincangkan. Berbeda dari siswa lain, Dita lebih senang duduk di dekat Dayu ketimbang berlarian bersama teman-temannya. Bukan karena ia tersisihkan, memang anaknya tidak terlalu suka bermain.

Seperti biasa, Dita menunggu jemputan sambil menggoyang-goyangkan kakinya di bangku panjang.

“Ah! Itu Ayah!” serunya riang. “Aku pulang dulu ya, Bu.” Ia mendekat, lalu mencium tangan Dayu dengan manja.

Dayu tersenyum. Namun, sekejap setelahnya, matanya tanpa sengaja bertemu lagi dengan sepasang mata yang dulu pernah membuat seluruh hidupnya bergetar. Bian berdiri tak jauh. Senyum lembut tersungging di wajahnya ketika Dita memeluknya erat. Gadis kecil yang miliki mata indah, persis seperti Bian.

Dayu terdiam menyaksikan kedekatan itu.

“Ayah, ternyata Bu Dayu juga suka melihat sun… sun… sunset,” celetuk Dita riang.

“Oh iya?”

“Iya! Tadi Dita tanya, Bu Dayu lebih suka siang atau malam. Tapi Bu Dayu jawab, lebih suka sore.”

Bian terdiam sejenak. Matanya menatap lurus ke jalan, tapi pikirannya melayang jauh, ke masa lalu yang belum sepenuhnya hilang.

“Tak berubah,” batinnya lirih. “Jingga masih menjadi langit kesukaanmu.”

“Dita senang sama Bu Dayu?” tanyanya.

“Senang sekali!” jawab Dita tanpa ragu. “Bu Dayu lembut kalau mengajar, nggak pernah marah seperti guru yang lain. Sama satu lagi…” Dita berhenti sejenak, lalu tersenyum lebar. “Cantik.”

Bian tak menjawab. Ia hanya mengangguk dan tersenyum tipis.

***

Enam bulan berlalu, akhir semester ganjil tiba. Sekolah dipenuhi suara riuh rendah para orang tua yang menunggu giliran mengambil rapor. Dayu sebagai wali kelas, melayani satu per satu dengan sabar. Ia menjelaskan perkembangan anak-anak. Setelah hampir sepuluh orang tua datang silih berganti, ia bersandar sejenak di kursinya, meregangkan punggung yang pegal, lalu meneguk air mineral.

Hingga kursi di hadapannya berderit pelan. Seseorang duduk di sana. Dayu mendongak. Dan seperti sudah ia duga sejak pagi, sosok itu datang juga. Bian.

“Selamat siang,” sapanya pelan, berusaha terdengar biasa. “Silahkan duduk, Pak. Orang tua siswa atas nama siapa?” Suaranya sedikit bergetar, tapi ia segera menegakkan bahu, mencoba menjadi guru yang professional.

“Dita.”

Dayu membuka map berwarna hijau muda dan mulai menjelaskan. Dengan suara tenang, ia memaparkan satu per satu perkembangan Dita. Namun, di tengah penjelasan itu, Dayu merasa ada yang ganjil. Tatapan Bian tak tertuju pada rapor, melainkan pada dirinya.

Dayu berhenti sejenak, menutup kalimatnya yang belum selesai.

“Kacamata Bapak…” ujarnya pelan, “ada di leher.”

Bian tersentak kecil, lalu tersenyum canggung. Tangannya segera meraih kacamata yang sejak tadi tergantung di sana.

“Oh, iya. Maaf. Lupa,” ucapnya.

Dayu seolah tahu betul alasan Bian tak memperhatikannya karena tak melihat bacaan pada rapor anaknya. Dayu menunduk, berpura-pura menata kembali berkas di hadapannya.

“Terima kasih,” ucap Bian lirih, melayangkan senyuman tipis sebelum akhirnya mengenakan kacamatanya.

“Masih aja lupa keberadaan kacamata,” sindir Dayu.

Bian tersenyum kecil. Ya, kebiasaannya memang tidak berubah. Ia selalu lupa meletakkan kacamatanya, padahal benda itu selalu tergantung di lehernya. Dulu, hal sepele itu sering membuat Dayu kesal. Namun kini, justru hal kecil itulah yang membuat ingatannya terasa hidup kembali.

Dayu melanjutkan tugasnya sebagai wali kelas. Bian hanya mengangguk, entah karena paham atau sekadar pura-pura. Selesai menjelaskan, Dayu menutup map rapor dan berkata datar, “Baik, Pak. Itu saja dari saya. Jika tak ada pertanyaan, kita cukupkan sampai di sini.”

Bian tak segera berdiri. Ia menatap Dayu sejenak, lalu suaranya keluar begitu pelan.

“Maafkan aku.”

Dayu mendongak dan menatap. “Untuk apa?”

“Untuk segalanya,” jawabnya pendek.

Waktu seakan berhenti. Mata mereka bertaut cukup lama, cukup untuk memutar kembali seluruh kenangan yang berusaha mereka kubur. Belasan tahun ternyata tak mampu menenggelamkan kisah yang sempat hidup begitu dalam. Di mata Dayu, perpisahan itu masih terasa seperti luka yang belum sembuh, hanya tertutup waktu debu.

Bian akhirnya berdiri dan melangkah keluar kelas.  Belum sempat memahami perkataan Bian, orang tua siswa berikutnya sudah datang. Dayu menarik napas panjang, menegakkan tubuhnya, lalu kembali menjadi sosok yang professional.

***

Hari itu, langit Denpasar begitu cerah, terlalu cerah seolah sengaja membakar segala ketegangan. Jam pelajaran hampir usai ketika mata Dayu menangkap sesuatu yang janggal. Ia melihat Dita memegangi perutnya. Wajah anak itu pucat, matanya sayu.

“Dita, kamu kenapa, Nak?”

“Perut Dita sakit, Bu…” jawabnya lirih.

Dayu segera mendekat dan menyentuh kening Dita. Panas. Terlalu panas untuk ukuran bocah.

Tanpa pikir panjang, Dayu memapah Dita ke luar kelas, menuju UKS. Di ruangan kecil beraroma antiseptik, Dayu menidurkan Dita di kasur besi yang dingin. Ia mengambil handuk bersih, membasahinya.

Tubuh kecil itu menggeliat pelan. Dayu memandang, mengelus rambutnya lembut, dan dalam diam, jantungnya mulai berdebar. 

“Bolehkah aku menghubungi Bian?” batinnya.

Tubuh Dita menggigil. Bibirnya bergetar, matanya setengah terpejam, dan dari mulut mungilnya keluar igauan, “Ayah… Ayah… Ayah…”

Dayu menarik napas panjang. Tangannya sempat ragu di atas layar ponsel. Tapi melihat Dita, suara batinnya menegur. Ia segera mencari nomor Bian yang masih terblokir dan segera menekan tombol panggil.

Telepon berdering. Dua kali. Tiga kali. Sampai akhirnya, suara berat di seberang menjawabnya.

“Halo?”

“Bian… Ini aku.”

“Iya, ada apa Dayu?”

Hening sejenak.

Dayu menelan ludah. Ternyata, Bian masih menyimpan nomornya. Diam-diam, ia tak benar-benar menghapus Dayu dari hidupnya.

“Dita sakit. Tadi tiba-tiba panas tinggi dan mengeluh sakit perut. Aku sudah bawa ke UKS, tapi sepertinya perlu diperiksa ke dokter.”

“Oke. Aku segera ke sana.”

Nada suaranya berubah cemas. Lalu sambungan terputus.

Setengah jam kemudian, Bian datang dengan tergesa. Kemejanya kusut, dasi melonggar, wajahnya tegang. Begitu melihat Dita yang terbaring lemah, ia langsung berlutut di samping ranjang, menggenggam tangan putrinya.

“Ayah di sini, Sayang. Ayo, buka mata dulu,” bisiknya.

Perlahan, kelopak mata Dita bergerak. Dayu berdiri agak jauh. Ia ingin keluar dari ruangan, tapi Dita menahannya lemah.

“Bu Dayu, jangan pergi…”

Bian menoleh, dan untuk pertama kalinya setelah belasan tahun, mereka berdiri bersebelahan begitu dekat. Aroma tubuh yang dulu begitu familier seolah kembali menembus batas waktu.

“Masih sakit perut, Sayang?”

“Masih, Yah…”

“Kita ke dokter, ya.”

Dita menggeleng pelan. “Takut. Nanti aku disuntik.”

“Nggak kok. Kan ada Ayah.”

Gadis kecil itu menoleh ke Dayu. “Bu Dayu mau temenin Dita kan?”

Dayu menatap ke arah Bian. Sorot matanya seperti memohon tanpa suara. Dayu beralih menatap Dita, hati Dayu tak berdaya menolak.

“Iya,” ucapnya pelan. “Bu Dayu temani Dita, ya.” Ia mengelus lembut tangan Dita.

Di dalam mobil, Dita terlelap di pangkuan Dayu. Kepala mungil itu masih terasa panas. Dayu menatap ke luar jendela, melihat bayangan pepohonan yang berlari mundur. Sementara Bian memegang erat kemudi.

“Terima kasih, Dayu,” ucap Bian tiba-tiba.

Dayu menoleh sekilas. “Iya. Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai guru.”

“Aku bersyukur Dita bertemu guru seperti kamu. Setidaknya… dia bisa sedikit merasakan kasih sayang seorang Ibu.”

Dayu termangu. Tak mengerti apa maksud Bian.

“Ibunya meninggal saat melahirkan Dita,” lanjut Bian lirih. “Sejak itu, aku sendirian merawatnya.”

Dayu tetap terpaku, menatap Dita yang masih tertidur.

Di klinik, Dita akhirnya mendapat perawatan. Dokter mengatakan hanya infeksi lambung ringan akibat kelelahan. Saat menunggu di ruang tunggu, Dayu duduk berseberangan dengan Bian. Keduanya diam cukup lama, hingga Bian berkata lirih.

“Dayu… Apakah kamu menghapusku dari hidupmu?”

Dayu menatapnya sebentar. Ada kalimat yang hampir keluar dari bibirnya, tapi ia menelannya lagi.

“Jangan bahasa masa lalu, Bian.”

Bian menghela napas, lalu menunduk.

“Aku hanya ingin kamu tahu. Aku tak pernah sedikitpun berniat meninggalkanmu. Perpisahan kita memang aku putuskan sepihak. Tapi… semua itu ada alasannya, Dayu.”

Dayu menatapnya dalam-dalam. Sorot matanya meminta penjelasan dari Bian.

“Mama sakit. Ia menyuruhku untuk segera menikah. Dan benar. Tiga bulan setelah pernikahan, mama pergi. Terkadang, aku merasa beruntung bisa memenuhi keinginan terakhir Mama. Tapi di sisi lain, aku menyesal tidak memilihmu.”

Suara Bian bergetar. Kepalanya masih tertunduk, seperti enggan menampakkan wajahnya pada Dayu. “Lalu kini, aku juga ditinggalkan oleh istri pilihan Mama. Pada akhirnya, aku sendirian, Dayu.”

Mata Bian memberanikan diri menatap Dayu yang sedari tadi tak bersuara sedikit pun. “Apa ini balasan Tuhan karena aku meninggalkan dan tidak memperjuangkanmu?” lanjut Bian dan tak sadar air matanya jatuh ke punggung tangannya.

Bian menatap Dayu lama. Begitupun, Dayu. Tak ada suara yang menengahi mereka. Hanya tatapan penuh makna. Keduanya benar-benar larut dalam kenangan masa lalu. Entah itu penyesalan atau keberuntungan.

***

Dokter memanggil Bian dan menyuruhnya masuk. Dayu tahu, itu waktunya untuk pergi.

“Aku pamit,” kata Dayu singkat.

“Dayu…”

Bian menatap Dayu seperti tak hendak melepaskan masa silam mereka.

“Tolong jaga Dita baik-baik.”

Langkah Dayu terdengar lembut di koridor klinik. Namun di dalam dirinya, suara masa lalu bergema lagi. Perasaan yang dulu mereka kubur, kini bangkit hanya untuk diikhlaskan sepenuhnya. [T]

Penulis: Kadek Windari
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Komang Berata | Ayah Tidak Dia Sayangi

Next Post

Mental Lembek Para Pelaku Perundungan

Kadek Windari

Kadek Windari

Tinggal dan menetap di Denpasar. Gemar menulis dan bercerita

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Mental Lembek Para Pelaku Perundungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co