24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dita Suka Sunset   |  Cerpen Kadek Windari

Kadek Windari by Kadek Windari
October 25, 2025
in Cerpen
Dita Suka Sunset   |  Cerpen Kadek Windari

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

“Kita tak punya pilihan.”

Suara itu lirih. Ada tarikan napas panjang dan berat, menyeret seluruh sisa harapan yang masih bertahan di dada. Hening lalu jatuh di antara mereka. Tak ada lagi kalimat yang mampu memperbaiki malam itu. Hanya perasaan yang tahu. Mereka baru saja kehilangan sesuatu yang tak akan pernah kembali.

Gerimis mulai turun, mengetuk pelan kaca mobil yang berembun, seolah ikut menangisi keputusan yang tak bisa dibatalkan. Dayu menatap samar bayangannya sendiri di jendela.

“Aku lelah setiap kali membicarakan ini,” suaranya gemetar. “Tak ada yang bisa menemukan jalan tengahnya.”

Bian menatap. “Lalu bagaimana? Aku mencintaimu. Begitu juga kamu, bukan?”

“Iya…” Dayu menunduk. “Tapi apa yang harus aku lakukan, Bian? Haruskah aku meninggalkan keyakinanku hanya demi cinta? Rasanya… tak mungkin.”

Dayu tertunduk, kembali menatap bayangannya di jendela. Di luar, gerimis turun lebih deras. Bian menarik napas pelan, menatap wajah Dayu yang samar-samar dalam pantulan kaca.

“Kita tak punya pilihan,” ucapnya. “Mari kita akhiri hubungan ini.”

Dayu sontak menoleh. Bola matanya bergetar, bening air tertahan di pelupuknya. “Kamu yakin, Bian?”

Bian menunduk, jemarinya mengepal di pangkuan.

“Aku bingung, Dayu. Aku pun tak bisa meninggalkan keyakinanku. Bukankah… seharusnya kamu yang mengikutiku?”

Sunyi kembali mengacaukan mereka. Hanya rintik hujan yang menjadi saksi percakapan itu. Mobil melaju perlahan, menembus kabut malam yang kian tebal.

Malam itu, setelah enam tahun bersama, mereka akhirnya berhenti di sebuah persimpangan yang tak akan pernah mereka lalui lagi.

***

Belasan tahun berlalu, namun keduanya hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Barangkali cinta mereka telah habis untuk orang yang sama. Kini, mereka hanya melanjutkan sisa hidup.

Dayu kini menjadi guru di sebuah sekolah swasta di Denpasar. Usianya telah melewati kepala empat. Di sisi pelipisnya, helai-helai uban tumbuh, tapi tetap tak menutupi indah parasnya. Ia mengabdikan diri sepenuhnya pada dunia pendidikan. Dari pagi hingga petang, tiada henti mencerdaskan anak bangsa.

Beribu cara Dayu lakukan agar pikirannya tak terfokus pada hubungannya yang kandas. Menepikan semua barang pemberian, menutup album foto, hingga membuka hati pun sudah dicoba. Tapi, sayangnya, semua hal yang dilakukan, selalu berujung pada masa lalunya. Semua tempat yang ia datangi, selalu ada Bian—kenangannya.

Mencoba beradaptasi dengan ketidakhadiran Bian di hidupnya sempat membuat Dayu ingin menyerah. Tak lagi wajib kabari dan hidup sendiri-sendiri. Sayangnya, angan-angan yang mereka ciptakan, tak berjalan. Tapi bertahan bukanlah pilihan. Kini mereka hanya bisa mengenang. Menikmati hujan lebih indah dari kenyataan.

Siang itu, langit tampak murung. Anak-anak berlarian di halaman sekolah, dipenuhi riang dan tawa. Dayu berdiri di dekat gerbang, menatap satu per satu wajah kecil yang berpamitan. Sampai satu suara memanggil salah satu siswanya.

“Dita…”

Sejenak Dayu termangu, terdengar samar suara yang tak asing di telinganya. Dayu menoleh pelan. Tak jauh dari sana, seorang lelaki berdiri di sisi pagar. Kemeja hitam membalut tubuhnya, rambutnya sedikit beruban, lengkap dengan kacamata yang menggantung di lehernya.

Bian.

Suara anak-anak, deru kendaraan di luar pagar, semuanya hilang. Mata mereka bertemu, sekilas. Cukup membuat nafas Dayu tersendat.

Dita, gadis kecil berusia tujuh tahun, berlari menghampirinya.

“Bu guru, itu Ayah! Aku pulang dulu ya,” ujar Dita polos sambil mencium tangannya.

Dayu membalas dengan senyuman tipis. Dari ekor mata, ia tahu Bian masih menatapnya.

Dita berlari ke arah mobil, dan Bian membuka pintu untuknya. Sekilas, mata mereka kembali bertemu. Hanya sekejap, tapi cukup untuk menggemparkan seluruh dinding yang telah susah payah Dayu bangun di dalam dirinya.

Di dalam mobil, Bian menatap bayangan Dayu lewat kaca spion. Ia tak tahu, mengapa waktu bisa begitu kejam, membuat orang yang dulu ia doakan setiap malam kini berdiri di hadapannya. Tapi, tak lagi bisa disentuh.

Setelah mobil perlahan menjauh, Dayu berbalik. Langkahnya gontai menuju ruang guru. Ia duduk di kursinya yang dingin, memejamkan mata, jantungnya berdebar. Setelah sekian lama, Dayu bertemu kembali dengan patah hati terdalamnya. Pertemuan singkat itu mampu membangun perasaan-perasaan yang lama terpendam.

***

Sejak hari itu, Dayu selalu memperhatikan kepulangan Dita dari kejauhan. Ia berusaha menghindari setiap kemungkinan berpapasan dengan Bian. Namun, Tuhan selalu punya caranya sendiri untuk mempertemukan yang seharusnya tak lagi bertemu.

“Bu Dayu, lebih suka siang atau malam?” tanya Dita seraya menunggu dijemput.

“Hm… Ibu lebih suka sore.”

“Kenapa?”

“Karena Ibu suka sekali langit berwarna jingga.”

“Wah, Dita juga suka. Tiap akhir pekan, Ayah selalu ngajak Dita ke pantai untuk melihat sun… sun… sun apa ya, Bu? Sunslik?” ucap Dita membuat Dayu terkekeh.

“Sunset.”

“Nah itu dia!” seru Dita bangga. “Aku suka karena Ayah suka.”

Dayu terdiam sejenak. Dita memang sering kali berbincang dengan Dayu. Tiap hari ada saja hal kecil yang mereka perbincangkan. Berbeda dari siswa lain, Dita lebih senang duduk di dekat Dayu ketimbang berlarian bersama teman-temannya. Bukan karena ia tersisihkan, memang anaknya tidak terlalu suka bermain.

Seperti biasa, Dita menunggu jemputan sambil menggoyang-goyangkan kakinya di bangku panjang.

“Ah! Itu Ayah!” serunya riang. “Aku pulang dulu ya, Bu.” Ia mendekat, lalu mencium tangan Dayu dengan manja.

Dayu tersenyum. Namun, sekejap setelahnya, matanya tanpa sengaja bertemu lagi dengan sepasang mata yang dulu pernah membuat seluruh hidupnya bergetar. Bian berdiri tak jauh. Senyum lembut tersungging di wajahnya ketika Dita memeluknya erat. Gadis kecil yang miliki mata indah, persis seperti Bian.

Dayu terdiam menyaksikan kedekatan itu.

“Ayah, ternyata Bu Dayu juga suka melihat sun… sun… sunset,” celetuk Dita riang.

“Oh iya?”

“Iya! Tadi Dita tanya, Bu Dayu lebih suka siang atau malam. Tapi Bu Dayu jawab, lebih suka sore.”

Bian terdiam sejenak. Matanya menatap lurus ke jalan, tapi pikirannya melayang jauh, ke masa lalu yang belum sepenuhnya hilang.

“Tak berubah,” batinnya lirih. “Jingga masih menjadi langit kesukaanmu.”

“Dita senang sama Bu Dayu?” tanyanya.

“Senang sekali!” jawab Dita tanpa ragu. “Bu Dayu lembut kalau mengajar, nggak pernah marah seperti guru yang lain. Sama satu lagi…” Dita berhenti sejenak, lalu tersenyum lebar. “Cantik.”

Bian tak menjawab. Ia hanya mengangguk dan tersenyum tipis.

***

Enam bulan berlalu, akhir semester ganjil tiba. Sekolah dipenuhi suara riuh rendah para orang tua yang menunggu giliran mengambil rapor. Dayu sebagai wali kelas, melayani satu per satu dengan sabar. Ia menjelaskan perkembangan anak-anak. Setelah hampir sepuluh orang tua datang silih berganti, ia bersandar sejenak di kursinya, meregangkan punggung yang pegal, lalu meneguk air mineral.

Hingga kursi di hadapannya berderit pelan. Seseorang duduk di sana. Dayu mendongak. Dan seperti sudah ia duga sejak pagi, sosok itu datang juga. Bian.

“Selamat siang,” sapanya pelan, berusaha terdengar biasa. “Silahkan duduk, Pak. Orang tua siswa atas nama siapa?” Suaranya sedikit bergetar, tapi ia segera menegakkan bahu, mencoba menjadi guru yang professional.

“Dita.”

Dayu membuka map berwarna hijau muda dan mulai menjelaskan. Dengan suara tenang, ia memaparkan satu per satu perkembangan Dita. Namun, di tengah penjelasan itu, Dayu merasa ada yang ganjil. Tatapan Bian tak tertuju pada rapor, melainkan pada dirinya.

Dayu berhenti sejenak, menutup kalimatnya yang belum selesai.

“Kacamata Bapak…” ujarnya pelan, “ada di leher.”

Bian tersentak kecil, lalu tersenyum canggung. Tangannya segera meraih kacamata yang sejak tadi tergantung di sana.

“Oh, iya. Maaf. Lupa,” ucapnya.

Dayu seolah tahu betul alasan Bian tak memperhatikannya karena tak melihat bacaan pada rapor anaknya. Dayu menunduk, berpura-pura menata kembali berkas di hadapannya.

“Terima kasih,” ucap Bian lirih, melayangkan senyuman tipis sebelum akhirnya mengenakan kacamatanya.

“Masih aja lupa keberadaan kacamata,” sindir Dayu.

Bian tersenyum kecil. Ya, kebiasaannya memang tidak berubah. Ia selalu lupa meletakkan kacamatanya, padahal benda itu selalu tergantung di lehernya. Dulu, hal sepele itu sering membuat Dayu kesal. Namun kini, justru hal kecil itulah yang membuat ingatannya terasa hidup kembali.

Dayu melanjutkan tugasnya sebagai wali kelas. Bian hanya mengangguk, entah karena paham atau sekadar pura-pura. Selesai menjelaskan, Dayu menutup map rapor dan berkata datar, “Baik, Pak. Itu saja dari saya. Jika tak ada pertanyaan, kita cukupkan sampai di sini.”

Bian tak segera berdiri. Ia menatap Dayu sejenak, lalu suaranya keluar begitu pelan.

“Maafkan aku.”

Dayu mendongak dan menatap. “Untuk apa?”

“Untuk segalanya,” jawabnya pendek.

Waktu seakan berhenti. Mata mereka bertaut cukup lama, cukup untuk memutar kembali seluruh kenangan yang berusaha mereka kubur. Belasan tahun ternyata tak mampu menenggelamkan kisah yang sempat hidup begitu dalam. Di mata Dayu, perpisahan itu masih terasa seperti luka yang belum sembuh, hanya tertutup waktu debu.

Bian akhirnya berdiri dan melangkah keluar kelas.  Belum sempat memahami perkataan Bian, orang tua siswa berikutnya sudah datang. Dayu menarik napas panjang, menegakkan tubuhnya, lalu kembali menjadi sosok yang professional.

***

Hari itu, langit Denpasar begitu cerah, terlalu cerah seolah sengaja membakar segala ketegangan. Jam pelajaran hampir usai ketika mata Dayu menangkap sesuatu yang janggal. Ia melihat Dita memegangi perutnya. Wajah anak itu pucat, matanya sayu.

“Dita, kamu kenapa, Nak?”

“Perut Dita sakit, Bu…” jawabnya lirih.

Dayu segera mendekat dan menyentuh kening Dita. Panas. Terlalu panas untuk ukuran bocah.

Tanpa pikir panjang, Dayu memapah Dita ke luar kelas, menuju UKS. Di ruangan kecil beraroma antiseptik, Dayu menidurkan Dita di kasur besi yang dingin. Ia mengambil handuk bersih, membasahinya.

Tubuh kecil itu menggeliat pelan. Dayu memandang, mengelus rambutnya lembut, dan dalam diam, jantungnya mulai berdebar. 

“Bolehkah aku menghubungi Bian?” batinnya.

Tubuh Dita menggigil. Bibirnya bergetar, matanya setengah terpejam, dan dari mulut mungilnya keluar igauan, “Ayah… Ayah… Ayah…”

Dayu menarik napas panjang. Tangannya sempat ragu di atas layar ponsel. Tapi melihat Dita, suara batinnya menegur. Ia segera mencari nomor Bian yang masih terblokir dan segera menekan tombol panggil.

Telepon berdering. Dua kali. Tiga kali. Sampai akhirnya, suara berat di seberang menjawabnya.

“Halo?”

“Bian… Ini aku.”

“Iya, ada apa Dayu?”

Hening sejenak.

Dayu menelan ludah. Ternyata, Bian masih menyimpan nomornya. Diam-diam, ia tak benar-benar menghapus Dayu dari hidupnya.

“Dita sakit. Tadi tiba-tiba panas tinggi dan mengeluh sakit perut. Aku sudah bawa ke UKS, tapi sepertinya perlu diperiksa ke dokter.”

“Oke. Aku segera ke sana.”

Nada suaranya berubah cemas. Lalu sambungan terputus.

Setengah jam kemudian, Bian datang dengan tergesa. Kemejanya kusut, dasi melonggar, wajahnya tegang. Begitu melihat Dita yang terbaring lemah, ia langsung berlutut di samping ranjang, menggenggam tangan putrinya.

“Ayah di sini, Sayang. Ayo, buka mata dulu,” bisiknya.

Perlahan, kelopak mata Dita bergerak. Dayu berdiri agak jauh. Ia ingin keluar dari ruangan, tapi Dita menahannya lemah.

“Bu Dayu, jangan pergi…”

Bian menoleh, dan untuk pertama kalinya setelah belasan tahun, mereka berdiri bersebelahan begitu dekat. Aroma tubuh yang dulu begitu familier seolah kembali menembus batas waktu.

“Masih sakit perut, Sayang?”

“Masih, Yah…”

“Kita ke dokter, ya.”

Dita menggeleng pelan. “Takut. Nanti aku disuntik.”

“Nggak kok. Kan ada Ayah.”

Gadis kecil itu menoleh ke Dayu. “Bu Dayu mau temenin Dita kan?”

Dayu menatap ke arah Bian. Sorot matanya seperti memohon tanpa suara. Dayu beralih menatap Dita, hati Dayu tak berdaya menolak.

“Iya,” ucapnya pelan. “Bu Dayu temani Dita, ya.” Ia mengelus lembut tangan Dita.

Di dalam mobil, Dita terlelap di pangkuan Dayu. Kepala mungil itu masih terasa panas. Dayu menatap ke luar jendela, melihat bayangan pepohonan yang berlari mundur. Sementara Bian memegang erat kemudi.

“Terima kasih, Dayu,” ucap Bian tiba-tiba.

Dayu menoleh sekilas. “Iya. Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai guru.”

“Aku bersyukur Dita bertemu guru seperti kamu. Setidaknya… dia bisa sedikit merasakan kasih sayang seorang Ibu.”

Dayu termangu. Tak mengerti apa maksud Bian.

“Ibunya meninggal saat melahirkan Dita,” lanjut Bian lirih. “Sejak itu, aku sendirian merawatnya.”

Dayu tetap terpaku, menatap Dita yang masih tertidur.

Di klinik, Dita akhirnya mendapat perawatan. Dokter mengatakan hanya infeksi lambung ringan akibat kelelahan. Saat menunggu di ruang tunggu, Dayu duduk berseberangan dengan Bian. Keduanya diam cukup lama, hingga Bian berkata lirih.

“Dayu… Apakah kamu menghapusku dari hidupmu?”

Dayu menatapnya sebentar. Ada kalimat yang hampir keluar dari bibirnya, tapi ia menelannya lagi.

“Jangan bahasa masa lalu, Bian.”

Bian menghela napas, lalu menunduk.

“Aku hanya ingin kamu tahu. Aku tak pernah sedikitpun berniat meninggalkanmu. Perpisahan kita memang aku putuskan sepihak. Tapi… semua itu ada alasannya, Dayu.”

Dayu menatapnya dalam-dalam. Sorot matanya meminta penjelasan dari Bian.

“Mama sakit. Ia menyuruhku untuk segera menikah. Dan benar. Tiga bulan setelah pernikahan, mama pergi. Terkadang, aku merasa beruntung bisa memenuhi keinginan terakhir Mama. Tapi di sisi lain, aku menyesal tidak memilihmu.”

Suara Bian bergetar. Kepalanya masih tertunduk, seperti enggan menampakkan wajahnya pada Dayu. “Lalu kini, aku juga ditinggalkan oleh istri pilihan Mama. Pada akhirnya, aku sendirian, Dayu.”

Mata Bian memberanikan diri menatap Dayu yang sedari tadi tak bersuara sedikit pun. “Apa ini balasan Tuhan karena aku meninggalkan dan tidak memperjuangkanmu?” lanjut Bian dan tak sadar air matanya jatuh ke punggung tangannya.

Bian menatap Dayu lama. Begitupun, Dayu. Tak ada suara yang menengahi mereka. Hanya tatapan penuh makna. Keduanya benar-benar larut dalam kenangan masa lalu. Entah itu penyesalan atau keberuntungan.

***

Dokter memanggil Bian dan menyuruhnya masuk. Dayu tahu, itu waktunya untuk pergi.

“Aku pamit,” kata Dayu singkat.

“Dayu…”

Bian menatap Dayu seperti tak hendak melepaskan masa silam mereka.

“Tolong jaga Dita baik-baik.”

Langkah Dayu terdengar lembut di koridor klinik. Namun di dalam dirinya, suara masa lalu bergema lagi. Perasaan yang dulu mereka kubur, kini bangkit hanya untuk diikhlaskan sepenuhnya. [T]

Penulis: Kadek Windari
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Komang Berata | Ayah Tidak Dia Sayangi

Next Post

Mental Lembek Para Pelaku Perundungan

Kadek Windari

Kadek Windari

Tinggal dan menetap di Denpasar. Gemar menulis dan bercerita

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Mental Lembek Para Pelaku Perundungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co