26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dita Suka Sunset   |  Cerpen Kadek Windari

Kadek Windari by Kadek Windari
October 25, 2025
in Cerpen
Dita Suka Sunset   |  Cerpen Kadek Windari

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

“Kita tak punya pilihan.”

Suara itu lirih. Ada tarikan napas panjang dan berat, menyeret seluruh sisa harapan yang masih bertahan di dada. Hening lalu jatuh di antara mereka. Tak ada lagi kalimat yang mampu memperbaiki malam itu. Hanya perasaan yang tahu. Mereka baru saja kehilangan sesuatu yang tak akan pernah kembali.

Gerimis mulai turun, mengetuk pelan kaca mobil yang berembun, seolah ikut menangisi keputusan yang tak bisa dibatalkan. Dayu menatap samar bayangannya sendiri di jendela.

“Aku lelah setiap kali membicarakan ini,” suaranya gemetar. “Tak ada yang bisa menemukan jalan tengahnya.”

Bian menatap. “Lalu bagaimana? Aku mencintaimu. Begitu juga kamu, bukan?”

“Iya…” Dayu menunduk. “Tapi apa yang harus aku lakukan, Bian? Haruskah aku meninggalkan keyakinanku hanya demi cinta? Rasanya… tak mungkin.”

Dayu tertunduk, kembali menatap bayangannya di jendela. Di luar, gerimis turun lebih deras. Bian menarik napas pelan, menatap wajah Dayu yang samar-samar dalam pantulan kaca.

“Kita tak punya pilihan,” ucapnya. “Mari kita akhiri hubungan ini.”

Dayu sontak menoleh. Bola matanya bergetar, bening air tertahan di pelupuknya. “Kamu yakin, Bian?”

Bian menunduk, jemarinya mengepal di pangkuan.

“Aku bingung, Dayu. Aku pun tak bisa meninggalkan keyakinanku. Bukankah… seharusnya kamu yang mengikutiku?”

Sunyi kembali mengacaukan mereka. Hanya rintik hujan yang menjadi saksi percakapan itu. Mobil melaju perlahan, menembus kabut malam yang kian tebal.

Malam itu, setelah enam tahun bersama, mereka akhirnya berhenti di sebuah persimpangan yang tak akan pernah mereka lalui lagi.

***

Belasan tahun berlalu, namun keduanya hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Barangkali cinta mereka telah habis untuk orang yang sama. Kini, mereka hanya melanjutkan sisa hidup.

Dayu kini menjadi guru di sebuah sekolah swasta di Denpasar. Usianya telah melewati kepala empat. Di sisi pelipisnya, helai-helai uban tumbuh, tapi tetap tak menutupi indah parasnya. Ia mengabdikan diri sepenuhnya pada dunia pendidikan. Dari pagi hingga petang, tiada henti mencerdaskan anak bangsa.

Beribu cara Dayu lakukan agar pikirannya tak terfokus pada hubungannya yang kandas. Menepikan semua barang pemberian, menutup album foto, hingga membuka hati pun sudah dicoba. Tapi, sayangnya, semua hal yang dilakukan, selalu berujung pada masa lalunya. Semua tempat yang ia datangi, selalu ada Bian—kenangannya.

Mencoba beradaptasi dengan ketidakhadiran Bian di hidupnya sempat membuat Dayu ingin menyerah. Tak lagi wajib kabari dan hidup sendiri-sendiri. Sayangnya, angan-angan yang mereka ciptakan, tak berjalan. Tapi bertahan bukanlah pilihan. Kini mereka hanya bisa mengenang. Menikmati hujan lebih indah dari kenyataan.

Siang itu, langit tampak murung. Anak-anak berlarian di halaman sekolah, dipenuhi riang dan tawa. Dayu berdiri di dekat gerbang, menatap satu per satu wajah kecil yang berpamitan. Sampai satu suara memanggil salah satu siswanya.

“Dita…”

Sejenak Dayu termangu, terdengar samar suara yang tak asing di telinganya. Dayu menoleh pelan. Tak jauh dari sana, seorang lelaki berdiri di sisi pagar. Kemeja hitam membalut tubuhnya, rambutnya sedikit beruban, lengkap dengan kacamata yang menggantung di lehernya.

Bian.

Suara anak-anak, deru kendaraan di luar pagar, semuanya hilang. Mata mereka bertemu, sekilas. Cukup membuat nafas Dayu tersendat.

Dita, gadis kecil berusia tujuh tahun, berlari menghampirinya.

“Bu guru, itu Ayah! Aku pulang dulu ya,” ujar Dita polos sambil mencium tangannya.

Dayu membalas dengan senyuman tipis. Dari ekor mata, ia tahu Bian masih menatapnya.

Dita berlari ke arah mobil, dan Bian membuka pintu untuknya. Sekilas, mata mereka kembali bertemu. Hanya sekejap, tapi cukup untuk menggemparkan seluruh dinding yang telah susah payah Dayu bangun di dalam dirinya.

Di dalam mobil, Bian menatap bayangan Dayu lewat kaca spion. Ia tak tahu, mengapa waktu bisa begitu kejam, membuat orang yang dulu ia doakan setiap malam kini berdiri di hadapannya. Tapi, tak lagi bisa disentuh.

Setelah mobil perlahan menjauh, Dayu berbalik. Langkahnya gontai menuju ruang guru. Ia duduk di kursinya yang dingin, memejamkan mata, jantungnya berdebar. Setelah sekian lama, Dayu bertemu kembali dengan patah hati terdalamnya. Pertemuan singkat itu mampu membangun perasaan-perasaan yang lama terpendam.

***

Sejak hari itu, Dayu selalu memperhatikan kepulangan Dita dari kejauhan. Ia berusaha menghindari setiap kemungkinan berpapasan dengan Bian. Namun, Tuhan selalu punya caranya sendiri untuk mempertemukan yang seharusnya tak lagi bertemu.

“Bu Dayu, lebih suka siang atau malam?” tanya Dita seraya menunggu dijemput.

“Hm… Ibu lebih suka sore.”

“Kenapa?”

“Karena Ibu suka sekali langit berwarna jingga.”

“Wah, Dita juga suka. Tiap akhir pekan, Ayah selalu ngajak Dita ke pantai untuk melihat sun… sun… sun apa ya, Bu? Sunslik?” ucap Dita membuat Dayu terkekeh.

“Sunset.”

“Nah itu dia!” seru Dita bangga. “Aku suka karena Ayah suka.”

Dayu terdiam sejenak. Dita memang sering kali berbincang dengan Dayu. Tiap hari ada saja hal kecil yang mereka perbincangkan. Berbeda dari siswa lain, Dita lebih senang duduk di dekat Dayu ketimbang berlarian bersama teman-temannya. Bukan karena ia tersisihkan, memang anaknya tidak terlalu suka bermain.

Seperti biasa, Dita menunggu jemputan sambil menggoyang-goyangkan kakinya di bangku panjang.

“Ah! Itu Ayah!” serunya riang. “Aku pulang dulu ya, Bu.” Ia mendekat, lalu mencium tangan Dayu dengan manja.

Dayu tersenyum. Namun, sekejap setelahnya, matanya tanpa sengaja bertemu lagi dengan sepasang mata yang dulu pernah membuat seluruh hidupnya bergetar. Bian berdiri tak jauh. Senyum lembut tersungging di wajahnya ketika Dita memeluknya erat. Gadis kecil yang miliki mata indah, persis seperti Bian.

Dayu terdiam menyaksikan kedekatan itu.

“Ayah, ternyata Bu Dayu juga suka melihat sun… sun… sunset,” celetuk Dita riang.

“Oh iya?”

“Iya! Tadi Dita tanya, Bu Dayu lebih suka siang atau malam. Tapi Bu Dayu jawab, lebih suka sore.”

Bian terdiam sejenak. Matanya menatap lurus ke jalan, tapi pikirannya melayang jauh, ke masa lalu yang belum sepenuhnya hilang.

“Tak berubah,” batinnya lirih. “Jingga masih menjadi langit kesukaanmu.”

“Dita senang sama Bu Dayu?” tanyanya.

“Senang sekali!” jawab Dita tanpa ragu. “Bu Dayu lembut kalau mengajar, nggak pernah marah seperti guru yang lain. Sama satu lagi…” Dita berhenti sejenak, lalu tersenyum lebar. “Cantik.”

Bian tak menjawab. Ia hanya mengangguk dan tersenyum tipis.

***

Enam bulan berlalu, akhir semester ganjil tiba. Sekolah dipenuhi suara riuh rendah para orang tua yang menunggu giliran mengambil rapor. Dayu sebagai wali kelas, melayani satu per satu dengan sabar. Ia menjelaskan perkembangan anak-anak. Setelah hampir sepuluh orang tua datang silih berganti, ia bersandar sejenak di kursinya, meregangkan punggung yang pegal, lalu meneguk air mineral.

Hingga kursi di hadapannya berderit pelan. Seseorang duduk di sana. Dayu mendongak. Dan seperti sudah ia duga sejak pagi, sosok itu datang juga. Bian.

“Selamat siang,” sapanya pelan, berusaha terdengar biasa. “Silahkan duduk, Pak. Orang tua siswa atas nama siapa?” Suaranya sedikit bergetar, tapi ia segera menegakkan bahu, mencoba menjadi guru yang professional.

“Dita.”

Dayu membuka map berwarna hijau muda dan mulai menjelaskan. Dengan suara tenang, ia memaparkan satu per satu perkembangan Dita. Namun, di tengah penjelasan itu, Dayu merasa ada yang ganjil. Tatapan Bian tak tertuju pada rapor, melainkan pada dirinya.

Dayu berhenti sejenak, menutup kalimatnya yang belum selesai.

“Kacamata Bapak…” ujarnya pelan, “ada di leher.”

Bian tersentak kecil, lalu tersenyum canggung. Tangannya segera meraih kacamata yang sejak tadi tergantung di sana.

“Oh, iya. Maaf. Lupa,” ucapnya.

Dayu seolah tahu betul alasan Bian tak memperhatikannya karena tak melihat bacaan pada rapor anaknya. Dayu menunduk, berpura-pura menata kembali berkas di hadapannya.

“Terima kasih,” ucap Bian lirih, melayangkan senyuman tipis sebelum akhirnya mengenakan kacamatanya.

“Masih aja lupa keberadaan kacamata,” sindir Dayu.

Bian tersenyum kecil. Ya, kebiasaannya memang tidak berubah. Ia selalu lupa meletakkan kacamatanya, padahal benda itu selalu tergantung di lehernya. Dulu, hal sepele itu sering membuat Dayu kesal. Namun kini, justru hal kecil itulah yang membuat ingatannya terasa hidup kembali.

Dayu melanjutkan tugasnya sebagai wali kelas. Bian hanya mengangguk, entah karena paham atau sekadar pura-pura. Selesai menjelaskan, Dayu menutup map rapor dan berkata datar, “Baik, Pak. Itu saja dari saya. Jika tak ada pertanyaan, kita cukupkan sampai di sini.”

Bian tak segera berdiri. Ia menatap Dayu sejenak, lalu suaranya keluar begitu pelan.

“Maafkan aku.”

Dayu mendongak dan menatap. “Untuk apa?”

“Untuk segalanya,” jawabnya pendek.

Waktu seakan berhenti. Mata mereka bertaut cukup lama, cukup untuk memutar kembali seluruh kenangan yang berusaha mereka kubur. Belasan tahun ternyata tak mampu menenggelamkan kisah yang sempat hidup begitu dalam. Di mata Dayu, perpisahan itu masih terasa seperti luka yang belum sembuh, hanya tertutup waktu debu.

Bian akhirnya berdiri dan melangkah keluar kelas.  Belum sempat memahami perkataan Bian, orang tua siswa berikutnya sudah datang. Dayu menarik napas panjang, menegakkan tubuhnya, lalu kembali menjadi sosok yang professional.

***

Hari itu, langit Denpasar begitu cerah, terlalu cerah seolah sengaja membakar segala ketegangan. Jam pelajaran hampir usai ketika mata Dayu menangkap sesuatu yang janggal. Ia melihat Dita memegangi perutnya. Wajah anak itu pucat, matanya sayu.

“Dita, kamu kenapa, Nak?”

“Perut Dita sakit, Bu…” jawabnya lirih.

Dayu segera mendekat dan menyentuh kening Dita. Panas. Terlalu panas untuk ukuran bocah.

Tanpa pikir panjang, Dayu memapah Dita ke luar kelas, menuju UKS. Di ruangan kecil beraroma antiseptik, Dayu menidurkan Dita di kasur besi yang dingin. Ia mengambil handuk bersih, membasahinya.

Tubuh kecil itu menggeliat pelan. Dayu memandang, mengelus rambutnya lembut, dan dalam diam, jantungnya mulai berdebar. 

“Bolehkah aku menghubungi Bian?” batinnya.

Tubuh Dita menggigil. Bibirnya bergetar, matanya setengah terpejam, dan dari mulut mungilnya keluar igauan, “Ayah… Ayah… Ayah…”

Dayu menarik napas panjang. Tangannya sempat ragu di atas layar ponsel. Tapi melihat Dita, suara batinnya menegur. Ia segera mencari nomor Bian yang masih terblokir dan segera menekan tombol panggil.

Telepon berdering. Dua kali. Tiga kali. Sampai akhirnya, suara berat di seberang menjawabnya.

“Halo?”

“Bian… Ini aku.”

“Iya, ada apa Dayu?”

Hening sejenak.

Dayu menelan ludah. Ternyata, Bian masih menyimpan nomornya. Diam-diam, ia tak benar-benar menghapus Dayu dari hidupnya.

“Dita sakit. Tadi tiba-tiba panas tinggi dan mengeluh sakit perut. Aku sudah bawa ke UKS, tapi sepertinya perlu diperiksa ke dokter.”

“Oke. Aku segera ke sana.”

Nada suaranya berubah cemas. Lalu sambungan terputus.

Setengah jam kemudian, Bian datang dengan tergesa. Kemejanya kusut, dasi melonggar, wajahnya tegang. Begitu melihat Dita yang terbaring lemah, ia langsung berlutut di samping ranjang, menggenggam tangan putrinya.

“Ayah di sini, Sayang. Ayo, buka mata dulu,” bisiknya.

Perlahan, kelopak mata Dita bergerak. Dayu berdiri agak jauh. Ia ingin keluar dari ruangan, tapi Dita menahannya lemah.

“Bu Dayu, jangan pergi…”

Bian menoleh, dan untuk pertama kalinya setelah belasan tahun, mereka berdiri bersebelahan begitu dekat. Aroma tubuh yang dulu begitu familier seolah kembali menembus batas waktu.

“Masih sakit perut, Sayang?”

“Masih, Yah…”

“Kita ke dokter, ya.”

Dita menggeleng pelan. “Takut. Nanti aku disuntik.”

“Nggak kok. Kan ada Ayah.”

Gadis kecil itu menoleh ke Dayu. “Bu Dayu mau temenin Dita kan?”

Dayu menatap ke arah Bian. Sorot matanya seperti memohon tanpa suara. Dayu beralih menatap Dita, hati Dayu tak berdaya menolak.

“Iya,” ucapnya pelan. “Bu Dayu temani Dita, ya.” Ia mengelus lembut tangan Dita.

Di dalam mobil, Dita terlelap di pangkuan Dayu. Kepala mungil itu masih terasa panas. Dayu menatap ke luar jendela, melihat bayangan pepohonan yang berlari mundur. Sementara Bian memegang erat kemudi.

“Terima kasih, Dayu,” ucap Bian tiba-tiba.

Dayu menoleh sekilas. “Iya. Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai guru.”

“Aku bersyukur Dita bertemu guru seperti kamu. Setidaknya… dia bisa sedikit merasakan kasih sayang seorang Ibu.”

Dayu termangu. Tak mengerti apa maksud Bian.

“Ibunya meninggal saat melahirkan Dita,” lanjut Bian lirih. “Sejak itu, aku sendirian merawatnya.”

Dayu tetap terpaku, menatap Dita yang masih tertidur.

Di klinik, Dita akhirnya mendapat perawatan. Dokter mengatakan hanya infeksi lambung ringan akibat kelelahan. Saat menunggu di ruang tunggu, Dayu duduk berseberangan dengan Bian. Keduanya diam cukup lama, hingga Bian berkata lirih.

“Dayu… Apakah kamu menghapusku dari hidupmu?”

Dayu menatapnya sebentar. Ada kalimat yang hampir keluar dari bibirnya, tapi ia menelannya lagi.

“Jangan bahasa masa lalu, Bian.”

Bian menghela napas, lalu menunduk.

“Aku hanya ingin kamu tahu. Aku tak pernah sedikitpun berniat meninggalkanmu. Perpisahan kita memang aku putuskan sepihak. Tapi… semua itu ada alasannya, Dayu.”

Dayu menatapnya dalam-dalam. Sorot matanya meminta penjelasan dari Bian.

“Mama sakit. Ia menyuruhku untuk segera menikah. Dan benar. Tiga bulan setelah pernikahan, mama pergi. Terkadang, aku merasa beruntung bisa memenuhi keinginan terakhir Mama. Tapi di sisi lain, aku menyesal tidak memilihmu.”

Suara Bian bergetar. Kepalanya masih tertunduk, seperti enggan menampakkan wajahnya pada Dayu. “Lalu kini, aku juga ditinggalkan oleh istri pilihan Mama. Pada akhirnya, aku sendirian, Dayu.”

Mata Bian memberanikan diri menatap Dayu yang sedari tadi tak bersuara sedikit pun. “Apa ini balasan Tuhan karena aku meninggalkan dan tidak memperjuangkanmu?” lanjut Bian dan tak sadar air matanya jatuh ke punggung tangannya.

Bian menatap Dayu lama. Begitupun, Dayu. Tak ada suara yang menengahi mereka. Hanya tatapan penuh makna. Keduanya benar-benar larut dalam kenangan masa lalu. Entah itu penyesalan atau keberuntungan.

***

Dokter memanggil Bian dan menyuruhnya masuk. Dayu tahu, itu waktunya untuk pergi.

“Aku pamit,” kata Dayu singkat.

“Dayu…”

Bian menatap Dayu seperti tak hendak melepaskan masa silam mereka.

“Tolong jaga Dita baik-baik.”

Langkah Dayu terdengar lembut di koridor klinik. Namun di dalam dirinya, suara masa lalu bergema lagi. Perasaan yang dulu mereka kubur, kini bangkit hanya untuk diikhlaskan sepenuhnya. [T]

Penulis: Kadek Windari
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Komang Berata | Ayah Tidak Dia Sayangi

Next Post

Mental Lembek Para Pelaku Perundungan

Kadek Windari

Kadek Windari

Tinggal dan menetap di Denpasar. Gemar menulis dan bercerita

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Mental Lembek Para Pelaku Perundungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co