15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Komang Berata | Ayah Tidak Dia Sayangi

Komang Berata by Komang Berata
October 25, 2025
in Puisi
Puisi-puisi Komang Berata  |  Ayah Tidak Dia Sayangi

Komang Berata

AYAH TIDAK DIA SAYANGI

meski dia sangat ayah sayangi
selalu ayah bawakan santapan
di jam-jam laparnya
selalu ayah timbakan air
di jam-jam tidak nyamannya
selalu ayah temani
di jam-jam risaunya
bunga-bunga dan daun-daun
di halaman berguguran
selalu ayah singkirkan
sebelum tatapannya tersandung
mengusik khidmat mengalir
perasan perasaan
sepertinya ayah tidak dia sayangi
dibiarkannya tersisa jarak
tidak ayah tempuh
dibiarkannya tersisa waktu
tidak ayah kayuh
risaumu kini
tidak beruncing tuah
ranting bambu dan ujung kuku
ketakutan masa lalu ayah
halaman kosong pada buku
tiada berkawan
tersisa jarak dan waktu
huruf patah di akhir buku
melukai tidak diakhiri
memungkiri untuk diakhiri
ayah digiring terjebak
kisah Kumbakarna
lidah dirajah huruf-huruf
dibencinya membaca
telanjur terucap
kesadaran kemudian
tidak menyembuhkan
maka jangan ayah
menjadi mata airku
meski tegak batang pinang
melengkung pantang
belum siap bibirku pecah
mesti merekah

MEMBANGUNKAN AYAH

membangunkan nyenyak ayah
dua hari menjelang hari Kuningan
gaya lamban menjauhkan jajan
— karena jajan menyumbat
pahit kopi menyentuh perasaan —
menyusul aku menghidangkan
segelas kopi tanpa gula
gaya lamban yang ayah suka
lima menit mendidih air aku jerang
puncak daya
memindahkan panas udara ke air
melewati selapis logam merawat api
kipas kedua tangan
membawa kepulan wangi kopi
bulu hidung ayah bergerak-gerak
membawa bola mata terjaga
gaya lamban yang ayah suka
aku membuka jendela kamar
ayah sangat menikmati
bayangan awan di daun-daun
angin mampir untuk berlalu
tidak aku menyampaikan mauku
tidak juga aku menanyakan maunya
terjaga dari nyenyak
tidak akan pernah lagi nyenyak
ayah duduk di tempat
yang jauh dari kisah bumi

 

AYAH JANGAN JADI PANDU

ayah jangan jadi Pandu
— seperti dikisahkan “Bima Swargga” —
bersemangat setelah semua anak
di lembah sunyi itu
memberikan pengakuan kepadanya
meski tidak ingat lagi waktu
tidak berhasrat lagi ditiru
ayah aku harap terus mengisahkan
bidikan Arjuna yang ayah banggakan
tidak peduli siang lebih memilih malam
mengurai pengap dan penat
tidak peduli kita tengah
menyusuri pematang kali
lama sebelum matahari terbit
dan bulan masih di punggung bumi
juga bintang-bintang tetap bimbang
mengedipkan mendung di kelopak matanya
lalu sapi-sapi ayah berhamburan
dikejutkan buah kelapa jatuh di air kali
ayah percaya malam menjaganya
dari segala hasutan dan penyesatan
bersiaplah ayah aku kejutkan
tetap melangkah riang
tidak sekali-sekali berpaling
di sekitar ayah
tidak ada siapa-siapa
tidak juga sapi-sapi
yang sangat ayah sayangi
setelah padi

 

CARA MELUPAKAN AYAH

cara-cara curang melupakan ayah
sangat melukai diamku
menguatkan derita mendera

luka telapak kaki
sedalam tonggak perdu
ayah babat meruncing
luka di ibu jari tangan kiri
membuang kuku
memberi nanah meluaskan borok
tidak semenderita aku menghindari
cara-cara curang dan mencari cara-cara lancang
melupakan ayah

kalau berkenan kabari aku
tempat terjauh ayah kini berada
sudah aku kemas
keluh tidak terlampiaskan
sesak tidak tertahankan
tuah berkesungguhan
menetap di ladang
memasuki kembali gulita
di tempat mulai cahaya
setelah diabaikan lama
ada ruang lengang
meregang
pada pematang
serata petak ladang
dirawat ketabahan nyawa
menggemburkan kesabaran
melewatkan panen terburuk
dulu

sejak kepergian ayah
meski aku menipu diri
ayah tidak pergi
luput rayu lampu-lampu
enggan meneruskan cahaya
juga kunang-kunang
malas memendar cahaya
pun belalang memilih
melipat sayap-sayap tipisnya
enggan aku memulai percakapan

kini izinkan aku
mendahului ayah berkabar
telah roboh kandang sapi
di sebelah utara rumah ayah
begitu seekor sapi peninggalan ayah
dituntun pembeli yang dulu ayah tolak
rayuan menipunya

tebersit cara-cara indah melupakan ayah
sangat memberatkanku
seperti melepaskan anak perempuan
dari gendongan
meski untuk membelikannya susu
seperti melepaskan anak perempuan
dari kartu keluarga
meski lelaki itu meniru cara ayah
membawa ibu ke rumah ayah

cara-cara curang
dan cara indah melupakan ayah
tidak seriang anak-anak
atau cucu-cucu
membuang penat tubuh ayah
tidak lagi tersedia kesempatan
anak-anak atau cucu-cucu
memadatkan urat punggung ayah
berkisar pada petak dan
pematang sawah
tegak sejak dini hari
jauh disambut pagi
hingga malam
jauh dilepas petang

 

ORANG MENINGGAL DUNIA

setelah menyelesaikan bentuk dirinya
orang-orang meninggalkan dunia
lenyap keburukan-keburukannya
bertumbuh kebaikan-kebaikannya
keburukan dan kebaikan orang meninggal dunia
aku dan kamu menatap bening cermin
melambaikan tangan kanan
bayangan melambaikan tangan kiri
tidak akan pernah terpahami
kata yang batal terucap
diikuti bibir tersungging
atau hati tersinggung
selihai-lihainya aku dan kamu mengorek
orang meninggal dunia
sudah selesai bentuk dirinya

 

HARI KELAHIRAN AYAH

fajar mulai menyingsing
genta kayu di leher sapi-sapi ayah
mulai bising
perlukah aku menggelitik telapak kaki ayah
agar udara kusam bergegas beranjak
menguatkan jarak
tidak biasanya fajar membiarkan ayah
memicingkan mata
diganggu berisik kendaraan
terengah-engah mengantarkan
para pedagang ke pasar
jauh sebelum dini hari beringsut
memutar jarum jam dinding
mungkin seharusnya
sebelum ayah berangkat ke peraduan
aku tidak ragu mencekoki ayah
dengan arak terbaik
agar terpuaskan aku menampung
petuah lelaki yang takluk dirayu
perempuan yang menjadi ibuku
atau aku cabut bulu ibu jari kaki ayah
yang tertinggal beberapa helai
semoga ibu tidak beranjak
meninggalkan dapur
meski beras sudah direndam
untuk ditempelkan di dahi
pada perayaan peringatan
hari kelahiran ayah

 

RUANG KITA

gerak kita hanya di rumah dan di ladang
ada jalan setapak di antaranya

sesekali gemersik mengejutkan sepi kita
bisa jadi kadal sama terkejutnya dengan daun kering menjadi remah

menggemburkan tanah ladang hanya cangkul aku ayunkan
aku seperti bercakap-cakap memanen kesabaran

pernah ayah mengajarkan aku membajak sawah dan ladang
tidak mampu segaris lurus kaki sapi, mata bajak, dan kakiku

salah arah membawamu mendekat kepadaku
seperti debu terbawa angin pada mata telat terpejam

aku dan kamu tidak disediakan ruang menghindar
kesempatan itu baju kebesaran dibawa badai ke dasar lautan

mengenaskan
kita bukan pahlawan
bukan pecundang

jangan pernah bosan di ladang dan di rumah
bantu aku melatih anak-anak menangkap debu

.

Penulis: Komang Berata
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tumpek Wariga, Saat Alam Memanggil Kembali Kesadaran Kita

Next Post

Dita Suka Sunset   |  Cerpen Kadek Windari

Komang Berata

Komang Berata

Pemerhati Bahasa Bali, tinggal di Karangasem

Related Posts

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails
Next Post
Dita Suka Sunset   |  Cerpen Kadek Windari

Dita Suka Sunset   |  Cerpen Kadek Windari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co