5 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Komang Berata | Ayah Tidak Dia Sayangi

Komang Berata by Komang Berata
October 25, 2025
in Puisi
Puisi-puisi Komang Berata  |  Ayah Tidak Dia Sayangi

Komang Berata

AYAH TIDAK DIA SAYANGI

meski dia sangat ayah sayangi
selalu ayah bawakan santapan
di jam-jam laparnya
selalu ayah timbakan air
di jam-jam tidak nyamannya
selalu ayah temani
di jam-jam risaunya
bunga-bunga dan daun-daun
di halaman berguguran
selalu ayah singkirkan
sebelum tatapannya tersandung
mengusik khidmat mengalir
perasan perasaan
sepertinya ayah tidak dia sayangi
dibiarkannya tersisa jarak
tidak ayah tempuh
dibiarkannya tersisa waktu
tidak ayah kayuh
risaumu kini
tidak beruncing tuah
ranting bambu dan ujung kuku
ketakutan masa lalu ayah
halaman kosong pada buku
tiada berkawan
tersisa jarak dan waktu
huruf patah di akhir buku
melukai tidak diakhiri
memungkiri untuk diakhiri
ayah digiring terjebak
kisah Kumbakarna
lidah dirajah huruf-huruf
dibencinya membaca
telanjur terucap
kesadaran kemudian
tidak menyembuhkan
maka jangan ayah
menjadi mata airku
meski tegak batang pinang
melengkung pantang
belum siap bibirku pecah
mesti merekah

MEMBANGUNKAN AYAH

membangunkan nyenyak ayah
dua hari menjelang hari Kuningan
gaya lamban menjauhkan jajan
— karena jajan menyumbat
pahit kopi menyentuh perasaan —
menyusul aku menghidangkan
segelas kopi tanpa gula
gaya lamban yang ayah suka
lima menit mendidih air aku jerang
puncak daya
memindahkan panas udara ke air
melewati selapis logam merawat api
kipas kedua tangan
membawa kepulan wangi kopi
bulu hidung ayah bergerak-gerak
membawa bola mata terjaga
gaya lamban yang ayah suka
aku membuka jendela kamar
ayah sangat menikmati
bayangan awan di daun-daun
angin mampir untuk berlalu
tidak aku menyampaikan mauku
tidak juga aku menanyakan maunya
terjaga dari nyenyak
tidak akan pernah lagi nyenyak
ayah duduk di tempat
yang jauh dari kisah bumi

 

AYAH JANGAN JADI PANDU

ayah jangan jadi Pandu
— seperti dikisahkan “Bima Swargga” —
bersemangat setelah semua anak
di lembah sunyi itu
memberikan pengakuan kepadanya
meski tidak ingat lagi waktu
tidak berhasrat lagi ditiru
ayah aku harap terus mengisahkan
bidikan Arjuna yang ayah banggakan
tidak peduli siang lebih memilih malam
mengurai pengap dan penat
tidak peduli kita tengah
menyusuri pematang kali
lama sebelum matahari terbit
dan bulan masih di punggung bumi
juga bintang-bintang tetap bimbang
mengedipkan mendung di kelopak matanya
lalu sapi-sapi ayah berhamburan
dikejutkan buah kelapa jatuh di air kali
ayah percaya malam menjaganya
dari segala hasutan dan penyesatan
bersiaplah ayah aku kejutkan
tetap melangkah riang
tidak sekali-sekali berpaling
di sekitar ayah
tidak ada siapa-siapa
tidak juga sapi-sapi
yang sangat ayah sayangi
setelah padi

 

CARA MELUPAKAN AYAH

cara-cara curang melupakan ayah
sangat melukai diamku
menguatkan derita mendera

luka telapak kaki
sedalam tonggak perdu
ayah babat meruncing
luka di ibu jari tangan kiri
membuang kuku
memberi nanah meluaskan borok
tidak semenderita aku menghindari
cara-cara curang dan mencari cara-cara lancang
melupakan ayah

kalau berkenan kabari aku
tempat terjauh ayah kini berada
sudah aku kemas
keluh tidak terlampiaskan
sesak tidak tertahankan
tuah berkesungguhan
menetap di ladang
memasuki kembali gulita
di tempat mulai cahaya
setelah diabaikan lama
ada ruang lengang
meregang
pada pematang
serata petak ladang
dirawat ketabahan nyawa
menggemburkan kesabaran
melewatkan panen terburuk
dulu

sejak kepergian ayah
meski aku menipu diri
ayah tidak pergi
luput rayu lampu-lampu
enggan meneruskan cahaya
juga kunang-kunang
malas memendar cahaya
pun belalang memilih
melipat sayap-sayap tipisnya
enggan aku memulai percakapan

kini izinkan aku
mendahului ayah berkabar
telah roboh kandang sapi
di sebelah utara rumah ayah
begitu seekor sapi peninggalan ayah
dituntun pembeli yang dulu ayah tolak
rayuan menipunya

tebersit cara-cara indah melupakan ayah
sangat memberatkanku
seperti melepaskan anak perempuan
dari gendongan
meski untuk membelikannya susu
seperti melepaskan anak perempuan
dari kartu keluarga
meski lelaki itu meniru cara ayah
membawa ibu ke rumah ayah

cara-cara curang
dan cara indah melupakan ayah
tidak seriang anak-anak
atau cucu-cucu
membuang penat tubuh ayah
tidak lagi tersedia kesempatan
anak-anak atau cucu-cucu
memadatkan urat punggung ayah
berkisar pada petak dan
pematang sawah
tegak sejak dini hari
jauh disambut pagi
hingga malam
jauh dilepas petang

 

ORANG MENINGGAL DUNIA

setelah menyelesaikan bentuk dirinya
orang-orang meninggalkan dunia
lenyap keburukan-keburukannya
bertumbuh kebaikan-kebaikannya
keburukan dan kebaikan orang meninggal dunia
aku dan kamu menatap bening cermin
melambaikan tangan kanan
bayangan melambaikan tangan kiri
tidak akan pernah terpahami
kata yang batal terucap
diikuti bibir tersungging
atau hati tersinggung
selihai-lihainya aku dan kamu mengorek
orang meninggal dunia
sudah selesai bentuk dirinya

 

HARI KELAHIRAN AYAH

fajar mulai menyingsing
genta kayu di leher sapi-sapi ayah
mulai bising
perlukah aku menggelitik telapak kaki ayah
agar udara kusam bergegas beranjak
menguatkan jarak
tidak biasanya fajar membiarkan ayah
memicingkan mata
diganggu berisik kendaraan
terengah-engah mengantarkan
para pedagang ke pasar
jauh sebelum dini hari beringsut
memutar jarum jam dinding
mungkin seharusnya
sebelum ayah berangkat ke peraduan
aku tidak ragu mencekoki ayah
dengan arak terbaik
agar terpuaskan aku menampung
petuah lelaki yang takluk dirayu
perempuan yang menjadi ibuku
atau aku cabut bulu ibu jari kaki ayah
yang tertinggal beberapa helai
semoga ibu tidak beranjak
meninggalkan dapur
meski beras sudah direndam
untuk ditempelkan di dahi
pada perayaan peringatan
hari kelahiran ayah

 

RUANG KITA

gerak kita hanya di rumah dan di ladang
ada jalan setapak di antaranya

sesekali gemersik mengejutkan sepi kita
bisa jadi kadal sama terkejutnya dengan daun kering menjadi remah

menggemburkan tanah ladang hanya cangkul aku ayunkan
aku seperti bercakap-cakap memanen kesabaran

pernah ayah mengajarkan aku membajak sawah dan ladang
tidak mampu segaris lurus kaki sapi, mata bajak, dan kakiku

salah arah membawamu mendekat kepadaku
seperti debu terbawa angin pada mata telat terpejam

aku dan kamu tidak disediakan ruang menghindar
kesempatan itu baju kebesaran dibawa badai ke dasar lautan

mengenaskan
kita bukan pahlawan
bukan pecundang

jangan pernah bosan di ladang dan di rumah
bantu aku melatih anak-anak menangkap debu

.

Penulis: Komang Berata
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tumpek Wariga, Saat Alam Memanggil Kembali Kesadaran Kita

Next Post

Dita Suka Sunset   |  Cerpen Kadek Windari

Komang Berata

Komang Berata

Pemerhati Bahasa Bali, tinggal di Karangasem

Related Posts

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
0
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026
0
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

by Sholihul Mubarok
May 29, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

ASIMTOTE sebentar nyala mataharidari pagimenyalak matakudan matamuselalu silau ada jeda tersembunyidi bibir sianglebih sunyidari celah renggang akan tetapi, bayangmemanjang satu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

by Salman Alade
May 24, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

Menggambar dengan Kalimat aku menulis satu garisia menyebut dirinya alisaku tambah satu kataia mengaku sebagai mata pelan-pelanhalaman itu mulai merasa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

by Vito Prasetyo
May 23, 2026
0
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

Di Kampung Rawa di pagi yang memagut embun selatanjejak-jejak kaki tua terbenam pelanantara pasir lembut dan bisikan anginkutemukan nyanyian yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

by Chusmeru
May 22, 2026
0
Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Jamaras Hujan rintik di jalanan becek tak hentikan langkah untuk berikrarKampung itu menjadi saksi dua hati jatuh hati dengan hati-hatiSiapa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

by Kim Young Soo
May 3, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
0
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

Read moreDetails

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails
Next Post
Dita Suka Sunset   |  Cerpen Kadek Windari

Dita Suka Sunset   |  Cerpen Kadek Windari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co