5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Komang Berata | Ayah Tidak Dia Sayangi

Komang Berata by Komang Berata
October 25, 2025
in Puisi
Puisi-puisi Komang Berata  |  Ayah Tidak Dia Sayangi

Komang Berata

AYAH TIDAK DIA SAYANGI

meski dia sangat ayah sayangi
selalu ayah bawakan santapan
di jam-jam laparnya
selalu ayah timbakan air
di jam-jam tidak nyamannya
selalu ayah temani
di jam-jam risaunya
bunga-bunga dan daun-daun
di halaman berguguran
selalu ayah singkirkan
sebelum tatapannya tersandung
mengusik khidmat mengalir
perasan perasaan
sepertinya ayah tidak dia sayangi
dibiarkannya tersisa jarak
tidak ayah tempuh
dibiarkannya tersisa waktu
tidak ayah kayuh
risaumu kini
tidak beruncing tuah
ranting bambu dan ujung kuku
ketakutan masa lalu ayah
halaman kosong pada buku
tiada berkawan
tersisa jarak dan waktu
huruf patah di akhir buku
melukai tidak diakhiri
memungkiri untuk diakhiri
ayah digiring terjebak
kisah Kumbakarna
lidah dirajah huruf-huruf
dibencinya membaca
telanjur terucap
kesadaran kemudian
tidak menyembuhkan
maka jangan ayah
menjadi mata airku
meski tegak batang pinang
melengkung pantang
belum siap bibirku pecah
mesti merekah

MEMBANGUNKAN AYAH

membangunkan nyenyak ayah
dua hari menjelang hari Kuningan
gaya lamban menjauhkan jajan
— karena jajan menyumbat
pahit kopi menyentuh perasaan —
menyusul aku menghidangkan
segelas kopi tanpa gula
gaya lamban yang ayah suka
lima menit mendidih air aku jerang
puncak daya
memindahkan panas udara ke air
melewati selapis logam merawat api
kipas kedua tangan
membawa kepulan wangi kopi
bulu hidung ayah bergerak-gerak
membawa bola mata terjaga
gaya lamban yang ayah suka
aku membuka jendela kamar
ayah sangat menikmati
bayangan awan di daun-daun
angin mampir untuk berlalu
tidak aku menyampaikan mauku
tidak juga aku menanyakan maunya
terjaga dari nyenyak
tidak akan pernah lagi nyenyak
ayah duduk di tempat
yang jauh dari kisah bumi

 

AYAH JANGAN JADI PANDU

ayah jangan jadi Pandu
— seperti dikisahkan “Bima Swargga” —
bersemangat setelah semua anak
di lembah sunyi itu
memberikan pengakuan kepadanya
meski tidak ingat lagi waktu
tidak berhasrat lagi ditiru
ayah aku harap terus mengisahkan
bidikan Arjuna yang ayah banggakan
tidak peduli siang lebih memilih malam
mengurai pengap dan penat
tidak peduli kita tengah
menyusuri pematang kali
lama sebelum matahari terbit
dan bulan masih di punggung bumi
juga bintang-bintang tetap bimbang
mengedipkan mendung di kelopak matanya
lalu sapi-sapi ayah berhamburan
dikejutkan buah kelapa jatuh di air kali
ayah percaya malam menjaganya
dari segala hasutan dan penyesatan
bersiaplah ayah aku kejutkan
tetap melangkah riang
tidak sekali-sekali berpaling
di sekitar ayah
tidak ada siapa-siapa
tidak juga sapi-sapi
yang sangat ayah sayangi
setelah padi

 

CARA MELUPAKAN AYAH

cara-cara curang melupakan ayah
sangat melukai diamku
menguatkan derita mendera

luka telapak kaki
sedalam tonggak perdu
ayah babat meruncing
luka di ibu jari tangan kiri
membuang kuku
memberi nanah meluaskan borok
tidak semenderita aku menghindari
cara-cara curang dan mencari cara-cara lancang
melupakan ayah

kalau berkenan kabari aku
tempat terjauh ayah kini berada
sudah aku kemas
keluh tidak terlampiaskan
sesak tidak tertahankan
tuah berkesungguhan
menetap di ladang
memasuki kembali gulita
di tempat mulai cahaya
setelah diabaikan lama
ada ruang lengang
meregang
pada pematang
serata petak ladang
dirawat ketabahan nyawa
menggemburkan kesabaran
melewatkan panen terburuk
dulu

sejak kepergian ayah
meski aku menipu diri
ayah tidak pergi
luput rayu lampu-lampu
enggan meneruskan cahaya
juga kunang-kunang
malas memendar cahaya
pun belalang memilih
melipat sayap-sayap tipisnya
enggan aku memulai percakapan

kini izinkan aku
mendahului ayah berkabar
telah roboh kandang sapi
di sebelah utara rumah ayah
begitu seekor sapi peninggalan ayah
dituntun pembeli yang dulu ayah tolak
rayuan menipunya

tebersit cara-cara indah melupakan ayah
sangat memberatkanku
seperti melepaskan anak perempuan
dari gendongan
meski untuk membelikannya susu
seperti melepaskan anak perempuan
dari kartu keluarga
meski lelaki itu meniru cara ayah
membawa ibu ke rumah ayah

cara-cara curang
dan cara indah melupakan ayah
tidak seriang anak-anak
atau cucu-cucu
membuang penat tubuh ayah
tidak lagi tersedia kesempatan
anak-anak atau cucu-cucu
memadatkan urat punggung ayah
berkisar pada petak dan
pematang sawah
tegak sejak dini hari
jauh disambut pagi
hingga malam
jauh dilepas petang

 

ORANG MENINGGAL DUNIA

setelah menyelesaikan bentuk dirinya
orang-orang meninggalkan dunia
lenyap keburukan-keburukannya
bertumbuh kebaikan-kebaikannya
keburukan dan kebaikan orang meninggal dunia
aku dan kamu menatap bening cermin
melambaikan tangan kanan
bayangan melambaikan tangan kiri
tidak akan pernah terpahami
kata yang batal terucap
diikuti bibir tersungging
atau hati tersinggung
selihai-lihainya aku dan kamu mengorek
orang meninggal dunia
sudah selesai bentuk dirinya

 

HARI KELAHIRAN AYAH

fajar mulai menyingsing
genta kayu di leher sapi-sapi ayah
mulai bising
perlukah aku menggelitik telapak kaki ayah
agar udara kusam bergegas beranjak
menguatkan jarak
tidak biasanya fajar membiarkan ayah
memicingkan mata
diganggu berisik kendaraan
terengah-engah mengantarkan
para pedagang ke pasar
jauh sebelum dini hari beringsut
memutar jarum jam dinding
mungkin seharusnya
sebelum ayah berangkat ke peraduan
aku tidak ragu mencekoki ayah
dengan arak terbaik
agar terpuaskan aku menampung
petuah lelaki yang takluk dirayu
perempuan yang menjadi ibuku
atau aku cabut bulu ibu jari kaki ayah
yang tertinggal beberapa helai
semoga ibu tidak beranjak
meninggalkan dapur
meski beras sudah direndam
untuk ditempelkan di dahi
pada perayaan peringatan
hari kelahiran ayah

 

RUANG KITA

gerak kita hanya di rumah dan di ladang
ada jalan setapak di antaranya

sesekali gemersik mengejutkan sepi kita
bisa jadi kadal sama terkejutnya dengan daun kering menjadi remah

menggemburkan tanah ladang hanya cangkul aku ayunkan
aku seperti bercakap-cakap memanen kesabaran

pernah ayah mengajarkan aku membajak sawah dan ladang
tidak mampu segaris lurus kaki sapi, mata bajak, dan kakiku

salah arah membawamu mendekat kepadaku
seperti debu terbawa angin pada mata telat terpejam

aku dan kamu tidak disediakan ruang menghindar
kesempatan itu baju kebesaran dibawa badai ke dasar lautan

mengenaskan
kita bukan pahlawan
bukan pecundang

jangan pernah bosan di ladang dan di rumah
bantu aku melatih anak-anak menangkap debu

.

Penulis: Komang Berata
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tumpek Wariga, Saat Alam Memanggil Kembali Kesadaran Kita

Next Post

Dita Suka Sunset   |  Cerpen Kadek Windari

Komang Berata

Komang Berata

Pemerhati Bahasa Bali, tinggal di Karangasem

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post
Dita Suka Sunset   |  Cerpen Kadek Windari

Dita Suka Sunset   |  Cerpen Kadek Windari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co