5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mental Lembek Para Pelaku Perundungan

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
October 25, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, kita tahu beberapa waktu lalu, publik kembali diguncang  berita tragis dimana seorang mahasiswa dikabarkan mengakhiri hidupnya setelah konon mengalami bullying alias perundungan di kampusnya. Tidak hanya sampai di situ, kasus ini juga menyeret selebgram Kekeyi. Foto Kekeyi digunakan sebagai bahan lelucon dan disamakan dengan pose korban saat tergeletak. 

Kekeyi tentu saja merasa tidak tahu-menahu soal kasus tersebut, namun dalam hal ini dia merasa sangat direndahkan dan terguncang secara mental karena fotonya dijadikan bahan ejekan. Bukan hanya satu kali ini saja perundungan membawa korban. Masih banyak kasus perundungan lain yang tak kalah menyedihkan. Komentar publik kemudian terbelah menjadi dua. Yang satu pihak berempati, namun pihak lainnya kurang berempati,  dengan berpendapat semestinya korban lebih kuat, lebih tangguh. Mereka berpendapat masa segitu saja korban sampai mengakhiri hidupnya.  

Ungkapan semacam itu sepertinya terdengar sederhana, tapi di situlah letak masalahnya, bahwa kita terlalu sering menuntut ketahanan mental dari korban, bukan dari pelakunya. Kita memuja mental toughness, tapi hanya untuk mereka yang disakiti, bukan untuk mereka yang menyakiti. Padahal kalau mau teliti, orang yang tega mempermalukan orang lain, menyebar hinaan, atau menekan temannya sampai hancur perasaannya, itu jelas bukan orang kuat. Itu tanda lemahnya kendali diri sekaligus miskinnya empati. 

Dalam psikologi modern, ketahanan mental atau mental toughness bukan cuma soal bertahan di tengah tekanan. Ketahanan mental artinya juga mampu mengelola impuls, dorongan untuk marah, menghina, atau keinginan menguasai. Clough dan Strycharczyk (2015) menyebut empat pilar mental toughness, yaitu kontrol, komitmen, tantangan, dan kepercayaan diri. 

Yang menarik di sini, keempatnya bisa, dan seharusnya, bukan hanya diterapkan pada korban, tapi pada pelakunya juga. Orang yang benar-benar kuat mentalnya tentu mampu mengendalikan ego, berkomitmen pada kebaikan, mampu melihat perbedaan sebagai tantangan, dan merasa percaya diri tanpa perlu merendahkan orang lain.

Dari Stoikisme ke Eksistensialisme

Marcus Aurelius, kaisar yang juga seorang filsuf Stoik, menulis dalam Meditations begini, “Kekuatan sejati bukanlah mengalahkan orang lain, tapi menguasai diri sendiri.” Ini definisi ketahanan mental yang paling elegan paling mantap saya kira, karena bersumber dari kekuatan batin yang tenang, bukan kekerasan yang menindas. 

Epictetus bahkan lebih tajam, “Manusia tidak terganggu oleh kejadian, melainkan oleh cara mereka memandang kejadian itu.” Artinya di sini, pelaku bully itu sesungguhnya diperbudak oleh pikirannya sendiri, di mana ia tidak kuat menghadapi rasa tidak aman yang kemudian ia alihkan ke orang lain. 

Sementara Seneca mengingatkan bahwa amarah adalah bentuk kegilaan sesaat.  Orang bijak tidak bereaksi, tapi merenung. Ini seharusnya jadi prinsip pendidikan karakter, agar diajarkan kepada anak-anak untuk tidak harus menang dalam setiap situasi, tapi mereka harus bisa menahan diri ketika tahu dirinya bisa melukai orang lain. 

Lalu di era modern tampil Kierkegaard dan Nietzsche, yang menyoroti sisi eksistensial. Mereka berpendapat bahwa kita harus memilih dan bertanggung jawab atas eksistensi kita. Namun ada bedanya, Nietzsche menantang manusia untuk menjadi Übermensch, yaitu manusia kuat justru karena ia menolak menjadi budak kebencian. Dalam dunia sekarang, yang disebut sebagai manusia unggul bukan mereka yang paling keras di media sosial, tapi justru yang paling mampu menahan diri bahkan ketika punya kemampuan untuk menghancurlumatkan orang lain. 

Jean-Paul Sartre menambahkan suatu perspektif kebebasan.  Manusia bebas memilih tindakannya, tapi sekaligus juga musti bertanggung jawab penuh atas akibatnya. Jadi setiap pelaku perundungan baik secara sadar atau tidak, sebenarnya sedang dalam kondisi memilih untuk menyakiti. Dan tanggung jawab moral itu jatuh pada dirinya, tidak bisa serta merta dialihkan ke korban dengan kalimat “kenapa nggak tahan?” 

Di era digital ini, perundungan tak lagi terbatas di halaman sekolah atau kampus. Perundungan menular lewat visual di layar, lewat kolom komentar, juga lewat canda-canda kecil yang sebenarnya mematikan pelan-pelan. Dunia modern kita sadari memang penuh tekanan, di mana algoritma menuntut performa, pekerjaan menuntut hasil dan target, serta media sosial menuntut citra nan sempurna. 

Ironisnya, semua ini membuat kita kehilangan empati. Kita menilai kesedihan orang lain dengan standar kekuatan pribadi kita sendiri. Kita lupa bahwa tidak semua orang tumbuh dalam kondisi yang sama dengan kita, dengan dukungan yang sama, dengan daya pulih yang juga sama.  Maka kalau Marcus Aurelius hidup hari ini, mungkin ia akan berkata, “Stop saja, kalau cuma ingin viral, sementara dirimu dibiarkan larut menjadi alat algoritma.” Jadi menurutnya, kekuatan sejati bukan pada dominasi fisik, tapi pada penguasaan diri dan keteguhan moral. Karena di balik setiap hinaan yang viral, kita harus sadar ada pribadi yang benar-benar merasa sakit hati. 

Bukan Daya Tahan Korban, tapi Tanggung Jawab yang Kuat

Persoalan ini memang serius kalau kita melihat berbagai dampak yang bisa ditimbulkannya. Dalam hemat saya, sudah saatnya paradigma dibalik.  Resilience alias daya tahan memang penting, tapi ia tidak boleh manjadi tameng moral bagi masyarakat untuk lepas tangan. Kita perlu menanamkan adanya tanggung jawab moral bagi mereka yang punya kekuatan sosial, posisi, atau sekadar keberanian, untuk tidak menggunakan kekuatan tersebut sebagai alat dominasi.

Kuat bukan sekadar berarti tak bisa menangis. Kuat juga berarti berani mengakui, bahwa setiap manusia rentan, dan karena itu kita tak boleh menginjak-injak orang yang lain.  Karena dunia kita ini akan lebih baik bukan karena lebih banyak orang yang tahan disakiti. Dunia butuh lebih banyak orang yang kuat untuk mampu tidak menyakiti sesamanya.

Sebelum benar-benar lupa, mungkin ada baiknya kita mengingat kembali ajaran Mahatma Gandhi, Ahimsa, bahwa menyakiti orang lain, bahkan secara verbal, adalah pelanggaran moral. Sepertinya sudah banyak kita bicara tentang ajaran para filsuf. Asalkan kita sadar bahwa yang akan kita sakiti itu juga umat kesayangan Tuhan, saya kira itu sudah cukup. Tapi tentu saja, kembali lagi,  itu tergantung pada kualitas hubungan masing-masing pribadi dengan Sang Khalik. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Kemakmuran yang Menyesatkan
Tags: bullyingperundungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dita Suka Sunset   |  Cerpen Kadek Windari

Next Post

Melihat Sebuah Perjalanan Secara Holistik: Dari Istana ke Pencerahan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails
Next Post
Melihat Sebuah Perjalanan Secara Holistik: Dari Istana ke Pencerahan

Melihat Sebuah Perjalanan Secara Holistik: Dari Istana ke Pencerahan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co