5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mental Lembek Para Pelaku Perundungan

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
October 25, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, kita tahu beberapa waktu lalu, publik kembali diguncang  berita tragis dimana seorang mahasiswa dikabarkan mengakhiri hidupnya setelah konon mengalami bullying alias perundungan di kampusnya. Tidak hanya sampai di situ, kasus ini juga menyeret selebgram Kekeyi. Foto Kekeyi digunakan sebagai bahan lelucon dan disamakan dengan pose korban saat tergeletak. 

Kekeyi tentu saja merasa tidak tahu-menahu soal kasus tersebut, namun dalam hal ini dia merasa sangat direndahkan dan terguncang secara mental karena fotonya dijadikan bahan ejekan. Bukan hanya satu kali ini saja perundungan membawa korban. Masih banyak kasus perundungan lain yang tak kalah menyedihkan. Komentar publik kemudian terbelah menjadi dua. Yang satu pihak berempati, namun pihak lainnya kurang berempati,  dengan berpendapat semestinya korban lebih kuat, lebih tangguh. Mereka berpendapat masa segitu saja korban sampai mengakhiri hidupnya.  

Ungkapan semacam itu sepertinya terdengar sederhana, tapi di situlah letak masalahnya, bahwa kita terlalu sering menuntut ketahanan mental dari korban, bukan dari pelakunya. Kita memuja mental toughness, tapi hanya untuk mereka yang disakiti, bukan untuk mereka yang menyakiti. Padahal kalau mau teliti, orang yang tega mempermalukan orang lain, menyebar hinaan, atau menekan temannya sampai hancur perasaannya, itu jelas bukan orang kuat. Itu tanda lemahnya kendali diri sekaligus miskinnya empati. 

Dalam psikologi modern, ketahanan mental atau mental toughness bukan cuma soal bertahan di tengah tekanan. Ketahanan mental artinya juga mampu mengelola impuls, dorongan untuk marah, menghina, atau keinginan menguasai. Clough dan Strycharczyk (2015) menyebut empat pilar mental toughness, yaitu kontrol, komitmen, tantangan, dan kepercayaan diri. 

Yang menarik di sini, keempatnya bisa, dan seharusnya, bukan hanya diterapkan pada korban, tapi pada pelakunya juga. Orang yang benar-benar kuat mentalnya tentu mampu mengendalikan ego, berkomitmen pada kebaikan, mampu melihat perbedaan sebagai tantangan, dan merasa percaya diri tanpa perlu merendahkan orang lain.

Dari Stoikisme ke Eksistensialisme

Marcus Aurelius, kaisar yang juga seorang filsuf Stoik, menulis dalam Meditations begini, “Kekuatan sejati bukanlah mengalahkan orang lain, tapi menguasai diri sendiri.” Ini definisi ketahanan mental yang paling elegan paling mantap saya kira, karena bersumber dari kekuatan batin yang tenang, bukan kekerasan yang menindas. 

Epictetus bahkan lebih tajam, “Manusia tidak terganggu oleh kejadian, melainkan oleh cara mereka memandang kejadian itu.” Artinya di sini, pelaku bully itu sesungguhnya diperbudak oleh pikirannya sendiri, di mana ia tidak kuat menghadapi rasa tidak aman yang kemudian ia alihkan ke orang lain. 

Sementara Seneca mengingatkan bahwa amarah adalah bentuk kegilaan sesaat.  Orang bijak tidak bereaksi, tapi merenung. Ini seharusnya jadi prinsip pendidikan karakter, agar diajarkan kepada anak-anak untuk tidak harus menang dalam setiap situasi, tapi mereka harus bisa menahan diri ketika tahu dirinya bisa melukai orang lain. 

Lalu di era modern tampil Kierkegaard dan Nietzsche, yang menyoroti sisi eksistensial. Mereka berpendapat bahwa kita harus memilih dan bertanggung jawab atas eksistensi kita. Namun ada bedanya, Nietzsche menantang manusia untuk menjadi Übermensch, yaitu manusia kuat justru karena ia menolak menjadi budak kebencian. Dalam dunia sekarang, yang disebut sebagai manusia unggul bukan mereka yang paling keras di media sosial, tapi justru yang paling mampu menahan diri bahkan ketika punya kemampuan untuk menghancurlumatkan orang lain. 

Jean-Paul Sartre menambahkan suatu perspektif kebebasan.  Manusia bebas memilih tindakannya, tapi sekaligus juga musti bertanggung jawab penuh atas akibatnya. Jadi setiap pelaku perundungan baik secara sadar atau tidak, sebenarnya sedang dalam kondisi memilih untuk menyakiti. Dan tanggung jawab moral itu jatuh pada dirinya, tidak bisa serta merta dialihkan ke korban dengan kalimat “kenapa nggak tahan?” 

Di era digital ini, perundungan tak lagi terbatas di halaman sekolah atau kampus. Perundungan menular lewat visual di layar, lewat kolom komentar, juga lewat canda-canda kecil yang sebenarnya mematikan pelan-pelan. Dunia modern kita sadari memang penuh tekanan, di mana algoritma menuntut performa, pekerjaan menuntut hasil dan target, serta media sosial menuntut citra nan sempurna. 

Ironisnya, semua ini membuat kita kehilangan empati. Kita menilai kesedihan orang lain dengan standar kekuatan pribadi kita sendiri. Kita lupa bahwa tidak semua orang tumbuh dalam kondisi yang sama dengan kita, dengan dukungan yang sama, dengan daya pulih yang juga sama.  Maka kalau Marcus Aurelius hidup hari ini, mungkin ia akan berkata, “Stop saja, kalau cuma ingin viral, sementara dirimu dibiarkan larut menjadi alat algoritma.” Jadi menurutnya, kekuatan sejati bukan pada dominasi fisik, tapi pada penguasaan diri dan keteguhan moral. Karena di balik setiap hinaan yang viral, kita harus sadar ada pribadi yang benar-benar merasa sakit hati. 

Bukan Daya Tahan Korban, tapi Tanggung Jawab yang Kuat

Persoalan ini memang serius kalau kita melihat berbagai dampak yang bisa ditimbulkannya. Dalam hemat saya, sudah saatnya paradigma dibalik.  Resilience alias daya tahan memang penting, tapi ia tidak boleh manjadi tameng moral bagi masyarakat untuk lepas tangan. Kita perlu menanamkan adanya tanggung jawab moral bagi mereka yang punya kekuatan sosial, posisi, atau sekadar keberanian, untuk tidak menggunakan kekuatan tersebut sebagai alat dominasi.

Kuat bukan sekadar berarti tak bisa menangis. Kuat juga berarti berani mengakui, bahwa setiap manusia rentan, dan karena itu kita tak boleh menginjak-injak orang yang lain.  Karena dunia kita ini akan lebih baik bukan karena lebih banyak orang yang tahan disakiti. Dunia butuh lebih banyak orang yang kuat untuk mampu tidak menyakiti sesamanya.

Sebelum benar-benar lupa, mungkin ada baiknya kita mengingat kembali ajaran Mahatma Gandhi, Ahimsa, bahwa menyakiti orang lain, bahkan secara verbal, adalah pelanggaran moral. Sepertinya sudah banyak kita bicara tentang ajaran para filsuf. Asalkan kita sadar bahwa yang akan kita sakiti itu juga umat kesayangan Tuhan, saya kira itu sudah cukup. Tapi tentu saja, kembali lagi,  itu tergantung pada kualitas hubungan masing-masing pribadi dengan Sang Khalik. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Kemakmuran yang Menyesatkan
Tags: bullyingperundungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dita Suka Sunset   |  Cerpen Kadek Windari

Next Post

Melihat Sebuah Perjalanan Secara Holistik: Dari Istana ke Pencerahan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Melihat Sebuah Perjalanan Secara Holistik: Dari Istana ke Pencerahan

Melihat Sebuah Perjalanan Secara Holistik: Dari Istana ke Pencerahan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co