26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mental Lembek Para Pelaku Perundungan

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
October 25, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman, kita tahu beberapa waktu lalu, publik kembali diguncang  berita tragis dimana seorang mahasiswa dikabarkan mengakhiri hidupnya setelah konon mengalami bullying alias perundungan di kampusnya. Tidak hanya sampai di situ, kasus ini juga menyeret selebgram Kekeyi. Foto Kekeyi digunakan sebagai bahan lelucon dan disamakan dengan pose korban saat tergeletak. 

Kekeyi tentu saja merasa tidak tahu-menahu soal kasus tersebut, namun dalam hal ini dia merasa sangat direndahkan dan terguncang secara mental karena fotonya dijadikan bahan ejekan. Bukan hanya satu kali ini saja perundungan membawa korban. Masih banyak kasus perundungan lain yang tak kalah menyedihkan. Komentar publik kemudian terbelah menjadi dua. Yang satu pihak berempati, namun pihak lainnya kurang berempati,  dengan berpendapat semestinya korban lebih kuat, lebih tangguh. Mereka berpendapat masa segitu saja korban sampai mengakhiri hidupnya.  

Ungkapan semacam itu sepertinya terdengar sederhana, tapi di situlah letak masalahnya, bahwa kita terlalu sering menuntut ketahanan mental dari korban, bukan dari pelakunya. Kita memuja mental toughness, tapi hanya untuk mereka yang disakiti, bukan untuk mereka yang menyakiti. Padahal kalau mau teliti, orang yang tega mempermalukan orang lain, menyebar hinaan, atau menekan temannya sampai hancur perasaannya, itu jelas bukan orang kuat. Itu tanda lemahnya kendali diri sekaligus miskinnya empati. 

Dalam psikologi modern, ketahanan mental atau mental toughness bukan cuma soal bertahan di tengah tekanan. Ketahanan mental artinya juga mampu mengelola impuls, dorongan untuk marah, menghina, atau keinginan menguasai. Clough dan Strycharczyk (2015) menyebut empat pilar mental toughness, yaitu kontrol, komitmen, tantangan, dan kepercayaan diri. 

Yang menarik di sini, keempatnya bisa, dan seharusnya, bukan hanya diterapkan pada korban, tapi pada pelakunya juga. Orang yang benar-benar kuat mentalnya tentu mampu mengendalikan ego, berkomitmen pada kebaikan, mampu melihat perbedaan sebagai tantangan, dan merasa percaya diri tanpa perlu merendahkan orang lain.

Dari Stoikisme ke Eksistensialisme

Marcus Aurelius, kaisar yang juga seorang filsuf Stoik, menulis dalam Meditations begini, “Kekuatan sejati bukanlah mengalahkan orang lain, tapi menguasai diri sendiri.” Ini definisi ketahanan mental yang paling elegan paling mantap saya kira, karena bersumber dari kekuatan batin yang tenang, bukan kekerasan yang menindas. 

Epictetus bahkan lebih tajam, “Manusia tidak terganggu oleh kejadian, melainkan oleh cara mereka memandang kejadian itu.” Artinya di sini, pelaku bully itu sesungguhnya diperbudak oleh pikirannya sendiri, di mana ia tidak kuat menghadapi rasa tidak aman yang kemudian ia alihkan ke orang lain. 

Sementara Seneca mengingatkan bahwa amarah adalah bentuk kegilaan sesaat.  Orang bijak tidak bereaksi, tapi merenung. Ini seharusnya jadi prinsip pendidikan karakter, agar diajarkan kepada anak-anak untuk tidak harus menang dalam setiap situasi, tapi mereka harus bisa menahan diri ketika tahu dirinya bisa melukai orang lain. 

Lalu di era modern tampil Kierkegaard dan Nietzsche, yang menyoroti sisi eksistensial. Mereka berpendapat bahwa kita harus memilih dan bertanggung jawab atas eksistensi kita. Namun ada bedanya, Nietzsche menantang manusia untuk menjadi Übermensch, yaitu manusia kuat justru karena ia menolak menjadi budak kebencian. Dalam dunia sekarang, yang disebut sebagai manusia unggul bukan mereka yang paling keras di media sosial, tapi justru yang paling mampu menahan diri bahkan ketika punya kemampuan untuk menghancurlumatkan orang lain. 

Jean-Paul Sartre menambahkan suatu perspektif kebebasan.  Manusia bebas memilih tindakannya, tapi sekaligus juga musti bertanggung jawab penuh atas akibatnya. Jadi setiap pelaku perundungan baik secara sadar atau tidak, sebenarnya sedang dalam kondisi memilih untuk menyakiti. Dan tanggung jawab moral itu jatuh pada dirinya, tidak bisa serta merta dialihkan ke korban dengan kalimat “kenapa nggak tahan?” 

Di era digital ini, perundungan tak lagi terbatas di halaman sekolah atau kampus. Perundungan menular lewat visual di layar, lewat kolom komentar, juga lewat canda-canda kecil yang sebenarnya mematikan pelan-pelan. Dunia modern kita sadari memang penuh tekanan, di mana algoritma menuntut performa, pekerjaan menuntut hasil dan target, serta media sosial menuntut citra nan sempurna. 

Ironisnya, semua ini membuat kita kehilangan empati. Kita menilai kesedihan orang lain dengan standar kekuatan pribadi kita sendiri. Kita lupa bahwa tidak semua orang tumbuh dalam kondisi yang sama dengan kita, dengan dukungan yang sama, dengan daya pulih yang juga sama.  Maka kalau Marcus Aurelius hidup hari ini, mungkin ia akan berkata, “Stop saja, kalau cuma ingin viral, sementara dirimu dibiarkan larut menjadi alat algoritma.” Jadi menurutnya, kekuatan sejati bukan pada dominasi fisik, tapi pada penguasaan diri dan keteguhan moral. Karena di balik setiap hinaan yang viral, kita harus sadar ada pribadi yang benar-benar merasa sakit hati. 

Bukan Daya Tahan Korban, tapi Tanggung Jawab yang Kuat

Persoalan ini memang serius kalau kita melihat berbagai dampak yang bisa ditimbulkannya. Dalam hemat saya, sudah saatnya paradigma dibalik.  Resilience alias daya tahan memang penting, tapi ia tidak boleh manjadi tameng moral bagi masyarakat untuk lepas tangan. Kita perlu menanamkan adanya tanggung jawab moral bagi mereka yang punya kekuatan sosial, posisi, atau sekadar keberanian, untuk tidak menggunakan kekuatan tersebut sebagai alat dominasi.

Kuat bukan sekadar berarti tak bisa menangis. Kuat juga berarti berani mengakui, bahwa setiap manusia rentan, dan karena itu kita tak boleh menginjak-injak orang yang lain.  Karena dunia kita ini akan lebih baik bukan karena lebih banyak orang yang tahan disakiti. Dunia butuh lebih banyak orang yang kuat untuk mampu tidak menyakiti sesamanya.

Sebelum benar-benar lupa, mungkin ada baiknya kita mengingat kembali ajaran Mahatma Gandhi, Ahimsa, bahwa menyakiti orang lain, bahkan secara verbal, adalah pelanggaran moral. Sepertinya sudah banyak kita bicara tentang ajaran para filsuf. Asalkan kita sadar bahwa yang akan kita sakiti itu juga umat kesayangan Tuhan, saya kira itu sudah cukup. Tapi tentu saja, kembali lagi,  itu tergantung pada kualitas hubungan masing-masing pribadi dengan Sang Khalik. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Kemakmuran yang Menyesatkan
Tags: bullyingperundungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dita Suka Sunset   |  Cerpen Kadek Windari

Next Post

Melihat Sebuah Perjalanan Secara Holistik: Dari Istana ke Pencerahan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Melihat Sebuah Perjalanan Secara Holistik: Dari Istana ke Pencerahan

Melihat Sebuah Perjalanan Secara Holistik: Dari Istana ke Pencerahan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co