24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Sebuah Perjalanan Secara Holistik: Dari Istana ke Pencerahan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 25, 2025
in Esai
Melihat Sebuah Perjalanan Secara Holistik: Dari Istana ke Pencerahan

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

KISAH Pangeran Siddhartha Gautama yang meninggalkan istana, istri, dan anak bayinya di tengah malam adalah sebuah narasi yang telah bergema selama ribuan tahun. Ia adalah fondasi dari salah satu jalan spiritual terbesar di dunia. Namun, bayangkan jika tetangga kita, seorang ayah muda dengan karier cemerlang, tiba-tiba melakukan hal yang persis sama—meninggalkan segalanya untuk mencari “pencerahan”. Bagaimana reaksi kita? Apakah kita akan memujinya atau mengutuknya? Kontras inilah yang mengajarkan kita pelajaran mendalam tentang arti melihat sebuah perjalanan—terutama perjalanan hidup yang transformatif—secara holistik, bukan hanya melalui potongan momen yang paling dramatis.

Drama dalam Gelembung: Konteks Sang Pangeran

Untuk memahami kepergian Siddhartha, kita harus berusaha masuk ke dalam gelembung kemewahannya. Ia bukan hanya kaya; ia hidup dalam sebuah kurungan yang dirancang sempurna. Ayahnya, Raja Suddhodana, secara sistematis melindunginya dari realitas dasar kehidupan: usia tua, sakit, dan mati. Ketika akhirnya ia menyaksikan ketiga penderitaan ini dalam “Empat Pertemuannya”, dampaknya bagaikan gempa bumi yang mengguncang fondasi jiwanya. Istana yang mewah tiba-tata berubah menjadi penjara yang menyesakkan.

Momen meninggalkan Yasodhara dan Rahula yang sedang tertidur adalah puncak dari ketegangan batin ini. Ini bukan tindakan seorang yang bebas rasa. Ini adalah ledakan dari seorang yang terpenjara oleh belas kasihnya sendiri. Cintanya pada keluarga adalah nyata, tetapi ia dihantui oleh sebuah visi yang lebih besar: bahwa suatu hari, orang yang dicintainya itu juga akan mengalami penuaan, penyakit, dan kematian. Ia tidak pergi dari mereka, tetapi untuk mereka—dan untuk semua makhluk—dalam upaya menemukan obat bagi penderitaan universal. Dalam narasi agung ini, “Kepergian Agung” (Mahabhinishkramana) bukanlah pelarian, melainkan sebuah misi penyelamatan yang penuh pengorbanan.

Lensa Modern: Ketika Misi Disalahtafsirkan sebagai Pengabaian

Sekarang, pindahkan adegan ini ke dunia modern. Seorang CEO muda, hidup dalam “istana” materialisme modern, tiba-tiba meninggalkan istri dan bayi yang baru lahir setelah mengalami krisis eksistensial. Reaksi kita, hampir dapat dipastikan, akan jauh berbeda.

Melalui lensa psikologi dan etika kontemporer, kita akan melihat:

  1. Pengabaian Tanggung Jawab: Komitmen tertinggi dalam masyarakat modern seringkali adalah keluarga inti. Meninggalkan anak yang sepenuhnya bergantung adalah pelanggaran terhadap kode etik parental yang kita pegang teguh.
  2. Egoisme Terselubung: Kita akan mempertanyakan motifnya. Apakah ini benar-benar pencarian spiritual, atau sekadar bentuk lari dari tekanan dan tanggung jawab sebagai suami dan ayah? Kita akan melihatnya sebagai ketidakdewasaan, bukan keberanian.
  3. Konsekuensi Nyata: Kita akan langsung membayangkan penderitaan psikologis yang dialami istri dan anak yang ditinggalkan. Trauma “ditinggalkan” akan menjadi narasi utama, sebuah luka yang mungkin tidak pernah sembuh.

Perspektif ini sah adanya dan didasarkan pada nilai-nilai yang kita junjung tinggi hari ini: tanggung jawab, kehadiran, dan stabilitas emosional bagi anak.

Menyatukan Potongan-Potongan yang Terpecah: Seni Melihat secara Holistik

Di sinilah letak inti refleksi kita. Mengapa kita memandang dua tindakan yang secara lahiriah mirip dengan cara yang begitu bertolak belakang? Jawabannya terletak pada kegagalan kita untuk melihat perjalanan hidup secara holistik.

Kita memandang kisah Siddhartha dari akhir cerita. Kita tahu bahwa perjalanannya tidak sia-sia; ia kembali sebagai Buddha, sang “Yang Telah Sadar”, membawa Dharma yang menjadi obat bagi jutaan manusia. Pengorbanan awalnya dibenarkan oleh kesuksesan akhirnya dan dampak universal yang ditimbulkannya. Narasinya sudah lengkap: Awal yang Penuh Gejolak – Proses Pencarian yang Sulit – Akhir yang Transformasional.

Sebaliknya, kita memandang tetangga kita yang melakukan hal serupa dari awal cerita. Kita tidak tahu akhirnya. Apakah ia akan menjadi Buddha baru, atau hanya menjadi seorang yang tersesat, merusak satu keluarga dan meninggalkan jejak penderitaan? Ketidakpastian ini membuat kita menghakimi berdasarkan momen “kepergian”-nya saja, tanpa melihat keseluruhan perjalanan yang belum terbentuk.

Holisme mengajarkan kita untuk tidak terpaku pada satu babak drama. Sebuah perjalanan harus dinilai dari:

  • Konteksnya: Tekanan psikologis ekstrem yang dialami Siddhartha dalam “penjara emas”-nya sangat berbeda dengan krisis kehidupan modern, sekalipun terlihat mirip.
  • Motivasinya: Apakah didorong oleh belas kasih universal yang tulus atau oleh keinginan untuk melarikan diri? (Meskipun, membedakan keduanya adalah hal yang sangat sulit).
  • Akhirnya: Apa hasil dari perjalanan itu? Apakah menghasilkan kebijaksanaan dan kebaikan bagi banyak orang, atau justru kehancuran?

Refleksi untuk Perjalanan Kita Masing-Masing

Pada akhirnya, pelajaran terbesar bukan tentang apakah kita boleh meniru Siddhartha. Dalam dunia modern, hampir mustahil tindakannya dapat dibenarkan secara literal. Pelajarannya adalah tentang bagaimana kita menilai perjalanan hidup—baik milik orang lain maupun milik kita sendiri.

Kita sering kali terburu-buru menghakimi satu tindakan dramatis seseorang tanpa memahami keseluruhan konteks, pergumulan batin, dan tujuan akhir dari perjalanannya. Kita memotong sebuah frame dari film yang panjang dan menyimpulkan seluruh ceritanya.

Mungkin, warisan terbesar dari kisah kepergian Siddhartha adalah undangan untuk melihat lebih dalam: untuk berempati pada pergulatan batin yang kompleks, untuk memahami bahwa sebuah perjalanan spiritual atau transformasi personal seringkali dimulai dengan sebuah lompatan yang—dari luar—terlihat gila atau egois. Dengan melihat secara holistik, kita tidak hanya menjadi lebih bijak dalam menilai kisah orang lain, tetapi juga lebih sabar dan memahami dalam menjalani babak-babak gelap dan tidak pasti dalam perjalanan transformasi kita sendiri. Karena pada hakikatnya, setiap jiwa sedang dalam perjalanan meninggalkan “istana” kenyamanan lamanya untuk menemukan kebenaran yang lebih dalam.[T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: BudharefleksiSpiritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mental Lembek Para Pelaku Perundungan

Next Post

Filla Rilis “3”: Lagu Penyesalan dan Cinta yang Tertinggal dari Unit Rock Tunanetra asal Bali

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Filla Rilis “3”: Lagu Penyesalan dan Cinta yang Tertinggal dari Unit Rock Tunanetra asal Bali

Filla Rilis “3”: Lagu Penyesalan dan Cinta yang Tertinggal dari Unit Rock Tunanetra asal Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co