3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Sebuah Perjalanan Secara Holistik: Dari Istana ke Pencerahan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 25, 2025
in Esai
Melihat Sebuah Perjalanan Secara Holistik: Dari Istana ke Pencerahan

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

KISAH Pangeran Siddhartha Gautama yang meninggalkan istana, istri, dan anak bayinya di tengah malam adalah sebuah narasi yang telah bergema selama ribuan tahun. Ia adalah fondasi dari salah satu jalan spiritual terbesar di dunia. Namun, bayangkan jika tetangga kita, seorang ayah muda dengan karier cemerlang, tiba-tiba melakukan hal yang persis sama—meninggalkan segalanya untuk mencari “pencerahan”. Bagaimana reaksi kita? Apakah kita akan memujinya atau mengutuknya? Kontras inilah yang mengajarkan kita pelajaran mendalam tentang arti melihat sebuah perjalanan—terutama perjalanan hidup yang transformatif—secara holistik, bukan hanya melalui potongan momen yang paling dramatis.

Drama dalam Gelembung: Konteks Sang Pangeran

Untuk memahami kepergian Siddhartha, kita harus berusaha masuk ke dalam gelembung kemewahannya. Ia bukan hanya kaya; ia hidup dalam sebuah kurungan yang dirancang sempurna. Ayahnya, Raja Suddhodana, secara sistematis melindunginya dari realitas dasar kehidupan: usia tua, sakit, dan mati. Ketika akhirnya ia menyaksikan ketiga penderitaan ini dalam “Empat Pertemuannya”, dampaknya bagaikan gempa bumi yang mengguncang fondasi jiwanya. Istana yang mewah tiba-tata berubah menjadi penjara yang menyesakkan.

Momen meninggalkan Yasodhara dan Rahula yang sedang tertidur adalah puncak dari ketegangan batin ini. Ini bukan tindakan seorang yang bebas rasa. Ini adalah ledakan dari seorang yang terpenjara oleh belas kasihnya sendiri. Cintanya pada keluarga adalah nyata, tetapi ia dihantui oleh sebuah visi yang lebih besar: bahwa suatu hari, orang yang dicintainya itu juga akan mengalami penuaan, penyakit, dan kematian. Ia tidak pergi dari mereka, tetapi untuk mereka—dan untuk semua makhluk—dalam upaya menemukan obat bagi penderitaan universal. Dalam narasi agung ini, “Kepergian Agung” (Mahabhinishkramana) bukanlah pelarian, melainkan sebuah misi penyelamatan yang penuh pengorbanan.

Lensa Modern: Ketika Misi Disalahtafsirkan sebagai Pengabaian

Sekarang, pindahkan adegan ini ke dunia modern. Seorang CEO muda, hidup dalam “istana” materialisme modern, tiba-tiba meninggalkan istri dan bayi yang baru lahir setelah mengalami krisis eksistensial. Reaksi kita, hampir dapat dipastikan, akan jauh berbeda.

Melalui lensa psikologi dan etika kontemporer, kita akan melihat:

  1. Pengabaian Tanggung Jawab: Komitmen tertinggi dalam masyarakat modern seringkali adalah keluarga inti. Meninggalkan anak yang sepenuhnya bergantung adalah pelanggaran terhadap kode etik parental yang kita pegang teguh.
  2. Egoisme Terselubung: Kita akan mempertanyakan motifnya. Apakah ini benar-benar pencarian spiritual, atau sekadar bentuk lari dari tekanan dan tanggung jawab sebagai suami dan ayah? Kita akan melihatnya sebagai ketidakdewasaan, bukan keberanian.
  3. Konsekuensi Nyata: Kita akan langsung membayangkan penderitaan psikologis yang dialami istri dan anak yang ditinggalkan. Trauma “ditinggalkan” akan menjadi narasi utama, sebuah luka yang mungkin tidak pernah sembuh.

Perspektif ini sah adanya dan didasarkan pada nilai-nilai yang kita junjung tinggi hari ini: tanggung jawab, kehadiran, dan stabilitas emosional bagi anak.

Menyatukan Potongan-Potongan yang Terpecah: Seni Melihat secara Holistik

Di sinilah letak inti refleksi kita. Mengapa kita memandang dua tindakan yang secara lahiriah mirip dengan cara yang begitu bertolak belakang? Jawabannya terletak pada kegagalan kita untuk melihat perjalanan hidup secara holistik.

Kita memandang kisah Siddhartha dari akhir cerita. Kita tahu bahwa perjalanannya tidak sia-sia; ia kembali sebagai Buddha, sang “Yang Telah Sadar”, membawa Dharma yang menjadi obat bagi jutaan manusia. Pengorbanan awalnya dibenarkan oleh kesuksesan akhirnya dan dampak universal yang ditimbulkannya. Narasinya sudah lengkap: Awal yang Penuh Gejolak – Proses Pencarian yang Sulit – Akhir yang Transformasional.

Sebaliknya, kita memandang tetangga kita yang melakukan hal serupa dari awal cerita. Kita tidak tahu akhirnya. Apakah ia akan menjadi Buddha baru, atau hanya menjadi seorang yang tersesat, merusak satu keluarga dan meninggalkan jejak penderitaan? Ketidakpastian ini membuat kita menghakimi berdasarkan momen “kepergian”-nya saja, tanpa melihat keseluruhan perjalanan yang belum terbentuk.

Holisme mengajarkan kita untuk tidak terpaku pada satu babak drama. Sebuah perjalanan harus dinilai dari:

  • Konteksnya: Tekanan psikologis ekstrem yang dialami Siddhartha dalam “penjara emas”-nya sangat berbeda dengan krisis kehidupan modern, sekalipun terlihat mirip.
  • Motivasinya: Apakah didorong oleh belas kasih universal yang tulus atau oleh keinginan untuk melarikan diri? (Meskipun, membedakan keduanya adalah hal yang sangat sulit).
  • Akhirnya: Apa hasil dari perjalanan itu? Apakah menghasilkan kebijaksanaan dan kebaikan bagi banyak orang, atau justru kehancuran?

Refleksi untuk Perjalanan Kita Masing-Masing

Pada akhirnya, pelajaran terbesar bukan tentang apakah kita boleh meniru Siddhartha. Dalam dunia modern, hampir mustahil tindakannya dapat dibenarkan secara literal. Pelajarannya adalah tentang bagaimana kita menilai perjalanan hidup—baik milik orang lain maupun milik kita sendiri.

Kita sering kali terburu-buru menghakimi satu tindakan dramatis seseorang tanpa memahami keseluruhan konteks, pergumulan batin, dan tujuan akhir dari perjalanannya. Kita memotong sebuah frame dari film yang panjang dan menyimpulkan seluruh ceritanya.

Mungkin, warisan terbesar dari kisah kepergian Siddhartha adalah undangan untuk melihat lebih dalam: untuk berempati pada pergulatan batin yang kompleks, untuk memahami bahwa sebuah perjalanan spiritual atau transformasi personal seringkali dimulai dengan sebuah lompatan yang—dari luar—terlihat gila atau egois. Dengan melihat secara holistik, kita tidak hanya menjadi lebih bijak dalam menilai kisah orang lain, tetapi juga lebih sabar dan memahami dalam menjalani babak-babak gelap dan tidak pasti dalam perjalanan transformasi kita sendiri. Karena pada hakikatnya, setiap jiwa sedang dalam perjalanan meninggalkan “istana” kenyamanan lamanya untuk menemukan kebenaran yang lebih dalam.[T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: BudharefleksiSpiritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mental Lembek Para Pelaku Perundungan

Next Post

Filla Rilis “3”: Lagu Penyesalan dan Cinta yang Tertinggal dari Unit Rock Tunanetra asal Bali

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Filla Rilis “3”: Lagu Penyesalan dan Cinta yang Tertinggal dari Unit Rock Tunanetra asal Bali

Filla Rilis “3”: Lagu Penyesalan dan Cinta yang Tertinggal dari Unit Rock Tunanetra asal Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co