2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Sebuah Perjalanan Secara Holistik: Dari Istana ke Pencerahan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 25, 2025
in Esai
Melihat Sebuah Perjalanan Secara Holistik: Dari Istana ke Pencerahan

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

KISAH Pangeran Siddhartha Gautama yang meninggalkan istana, istri, dan anak bayinya di tengah malam adalah sebuah narasi yang telah bergema selama ribuan tahun. Ia adalah fondasi dari salah satu jalan spiritual terbesar di dunia. Namun, bayangkan jika tetangga kita, seorang ayah muda dengan karier cemerlang, tiba-tiba melakukan hal yang persis sama—meninggalkan segalanya untuk mencari “pencerahan”. Bagaimana reaksi kita? Apakah kita akan memujinya atau mengutuknya? Kontras inilah yang mengajarkan kita pelajaran mendalam tentang arti melihat sebuah perjalanan—terutama perjalanan hidup yang transformatif—secara holistik, bukan hanya melalui potongan momen yang paling dramatis.

Drama dalam Gelembung: Konteks Sang Pangeran

Untuk memahami kepergian Siddhartha, kita harus berusaha masuk ke dalam gelembung kemewahannya. Ia bukan hanya kaya; ia hidup dalam sebuah kurungan yang dirancang sempurna. Ayahnya, Raja Suddhodana, secara sistematis melindunginya dari realitas dasar kehidupan: usia tua, sakit, dan mati. Ketika akhirnya ia menyaksikan ketiga penderitaan ini dalam “Empat Pertemuannya”, dampaknya bagaikan gempa bumi yang mengguncang fondasi jiwanya. Istana yang mewah tiba-tata berubah menjadi penjara yang menyesakkan.

Momen meninggalkan Yasodhara dan Rahula yang sedang tertidur adalah puncak dari ketegangan batin ini. Ini bukan tindakan seorang yang bebas rasa. Ini adalah ledakan dari seorang yang terpenjara oleh belas kasihnya sendiri. Cintanya pada keluarga adalah nyata, tetapi ia dihantui oleh sebuah visi yang lebih besar: bahwa suatu hari, orang yang dicintainya itu juga akan mengalami penuaan, penyakit, dan kematian. Ia tidak pergi dari mereka, tetapi untuk mereka—dan untuk semua makhluk—dalam upaya menemukan obat bagi penderitaan universal. Dalam narasi agung ini, “Kepergian Agung” (Mahabhinishkramana) bukanlah pelarian, melainkan sebuah misi penyelamatan yang penuh pengorbanan.

Lensa Modern: Ketika Misi Disalahtafsirkan sebagai Pengabaian

Sekarang, pindahkan adegan ini ke dunia modern. Seorang CEO muda, hidup dalam “istana” materialisme modern, tiba-tiba meninggalkan istri dan bayi yang baru lahir setelah mengalami krisis eksistensial. Reaksi kita, hampir dapat dipastikan, akan jauh berbeda.

Melalui lensa psikologi dan etika kontemporer, kita akan melihat:

  1. Pengabaian Tanggung Jawab: Komitmen tertinggi dalam masyarakat modern seringkali adalah keluarga inti. Meninggalkan anak yang sepenuhnya bergantung adalah pelanggaran terhadap kode etik parental yang kita pegang teguh.
  2. Egoisme Terselubung: Kita akan mempertanyakan motifnya. Apakah ini benar-benar pencarian spiritual, atau sekadar bentuk lari dari tekanan dan tanggung jawab sebagai suami dan ayah? Kita akan melihatnya sebagai ketidakdewasaan, bukan keberanian.
  3. Konsekuensi Nyata: Kita akan langsung membayangkan penderitaan psikologis yang dialami istri dan anak yang ditinggalkan. Trauma “ditinggalkan” akan menjadi narasi utama, sebuah luka yang mungkin tidak pernah sembuh.

Perspektif ini sah adanya dan didasarkan pada nilai-nilai yang kita junjung tinggi hari ini: tanggung jawab, kehadiran, dan stabilitas emosional bagi anak.

Menyatukan Potongan-Potongan yang Terpecah: Seni Melihat secara Holistik

Di sinilah letak inti refleksi kita. Mengapa kita memandang dua tindakan yang secara lahiriah mirip dengan cara yang begitu bertolak belakang? Jawabannya terletak pada kegagalan kita untuk melihat perjalanan hidup secara holistik.

Kita memandang kisah Siddhartha dari akhir cerita. Kita tahu bahwa perjalanannya tidak sia-sia; ia kembali sebagai Buddha, sang “Yang Telah Sadar”, membawa Dharma yang menjadi obat bagi jutaan manusia. Pengorbanan awalnya dibenarkan oleh kesuksesan akhirnya dan dampak universal yang ditimbulkannya. Narasinya sudah lengkap: Awal yang Penuh Gejolak – Proses Pencarian yang Sulit – Akhir yang Transformasional.

Sebaliknya, kita memandang tetangga kita yang melakukan hal serupa dari awal cerita. Kita tidak tahu akhirnya. Apakah ia akan menjadi Buddha baru, atau hanya menjadi seorang yang tersesat, merusak satu keluarga dan meninggalkan jejak penderitaan? Ketidakpastian ini membuat kita menghakimi berdasarkan momen “kepergian”-nya saja, tanpa melihat keseluruhan perjalanan yang belum terbentuk.

Holisme mengajarkan kita untuk tidak terpaku pada satu babak drama. Sebuah perjalanan harus dinilai dari:

  • Konteksnya: Tekanan psikologis ekstrem yang dialami Siddhartha dalam “penjara emas”-nya sangat berbeda dengan krisis kehidupan modern, sekalipun terlihat mirip.
  • Motivasinya: Apakah didorong oleh belas kasih universal yang tulus atau oleh keinginan untuk melarikan diri? (Meskipun, membedakan keduanya adalah hal yang sangat sulit).
  • Akhirnya: Apa hasil dari perjalanan itu? Apakah menghasilkan kebijaksanaan dan kebaikan bagi banyak orang, atau justru kehancuran?

Refleksi untuk Perjalanan Kita Masing-Masing

Pada akhirnya, pelajaran terbesar bukan tentang apakah kita boleh meniru Siddhartha. Dalam dunia modern, hampir mustahil tindakannya dapat dibenarkan secara literal. Pelajarannya adalah tentang bagaimana kita menilai perjalanan hidup—baik milik orang lain maupun milik kita sendiri.

Kita sering kali terburu-buru menghakimi satu tindakan dramatis seseorang tanpa memahami keseluruhan konteks, pergumulan batin, dan tujuan akhir dari perjalanannya. Kita memotong sebuah frame dari film yang panjang dan menyimpulkan seluruh ceritanya.

Mungkin, warisan terbesar dari kisah kepergian Siddhartha adalah undangan untuk melihat lebih dalam: untuk berempati pada pergulatan batin yang kompleks, untuk memahami bahwa sebuah perjalanan spiritual atau transformasi personal seringkali dimulai dengan sebuah lompatan yang—dari luar—terlihat gila atau egois. Dengan melihat secara holistik, kita tidak hanya menjadi lebih bijak dalam menilai kisah orang lain, tetapi juga lebih sabar dan memahami dalam menjalani babak-babak gelap dan tidak pasti dalam perjalanan transformasi kita sendiri. Karena pada hakikatnya, setiap jiwa sedang dalam perjalanan meninggalkan “istana” kenyamanan lamanya untuk menemukan kebenaran yang lebih dalam.[T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: BudharefleksiSpiritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mental Lembek Para Pelaku Perundungan

Next Post

Filla Rilis “3”: Lagu Penyesalan dan Cinta yang Tertinggal dari Unit Rock Tunanetra asal Bali

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Filla Rilis “3”: Lagu Penyesalan dan Cinta yang Tertinggal dari Unit Rock Tunanetra asal Bali

Filla Rilis “3”: Lagu Penyesalan dan Cinta yang Tertinggal dari Unit Rock Tunanetra asal Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co