3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Sebuah Perjalanan Secara Holistik: Dari Istana ke Pencerahan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 25, 2025
in Esai
Melihat Sebuah Perjalanan Secara Holistik: Dari Istana ke Pencerahan

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

KISAH Pangeran Siddhartha Gautama yang meninggalkan istana, istri, dan anak bayinya di tengah malam adalah sebuah narasi yang telah bergema selama ribuan tahun. Ia adalah fondasi dari salah satu jalan spiritual terbesar di dunia. Namun, bayangkan jika tetangga kita, seorang ayah muda dengan karier cemerlang, tiba-tiba melakukan hal yang persis sama—meninggalkan segalanya untuk mencari “pencerahan”. Bagaimana reaksi kita? Apakah kita akan memujinya atau mengutuknya? Kontras inilah yang mengajarkan kita pelajaran mendalam tentang arti melihat sebuah perjalanan—terutama perjalanan hidup yang transformatif—secara holistik, bukan hanya melalui potongan momen yang paling dramatis.

Drama dalam Gelembung: Konteks Sang Pangeran

Untuk memahami kepergian Siddhartha, kita harus berusaha masuk ke dalam gelembung kemewahannya. Ia bukan hanya kaya; ia hidup dalam sebuah kurungan yang dirancang sempurna. Ayahnya, Raja Suddhodana, secara sistematis melindunginya dari realitas dasar kehidupan: usia tua, sakit, dan mati. Ketika akhirnya ia menyaksikan ketiga penderitaan ini dalam “Empat Pertemuannya”, dampaknya bagaikan gempa bumi yang mengguncang fondasi jiwanya. Istana yang mewah tiba-tata berubah menjadi penjara yang menyesakkan.

Momen meninggalkan Yasodhara dan Rahula yang sedang tertidur adalah puncak dari ketegangan batin ini. Ini bukan tindakan seorang yang bebas rasa. Ini adalah ledakan dari seorang yang terpenjara oleh belas kasihnya sendiri. Cintanya pada keluarga adalah nyata, tetapi ia dihantui oleh sebuah visi yang lebih besar: bahwa suatu hari, orang yang dicintainya itu juga akan mengalami penuaan, penyakit, dan kematian. Ia tidak pergi dari mereka, tetapi untuk mereka—dan untuk semua makhluk—dalam upaya menemukan obat bagi penderitaan universal. Dalam narasi agung ini, “Kepergian Agung” (Mahabhinishkramana) bukanlah pelarian, melainkan sebuah misi penyelamatan yang penuh pengorbanan.

Lensa Modern: Ketika Misi Disalahtafsirkan sebagai Pengabaian

Sekarang, pindahkan adegan ini ke dunia modern. Seorang CEO muda, hidup dalam “istana” materialisme modern, tiba-tiba meninggalkan istri dan bayi yang baru lahir setelah mengalami krisis eksistensial. Reaksi kita, hampir dapat dipastikan, akan jauh berbeda.

Melalui lensa psikologi dan etika kontemporer, kita akan melihat:

  1. Pengabaian Tanggung Jawab: Komitmen tertinggi dalam masyarakat modern seringkali adalah keluarga inti. Meninggalkan anak yang sepenuhnya bergantung adalah pelanggaran terhadap kode etik parental yang kita pegang teguh.
  2. Egoisme Terselubung: Kita akan mempertanyakan motifnya. Apakah ini benar-benar pencarian spiritual, atau sekadar bentuk lari dari tekanan dan tanggung jawab sebagai suami dan ayah? Kita akan melihatnya sebagai ketidakdewasaan, bukan keberanian.
  3. Konsekuensi Nyata: Kita akan langsung membayangkan penderitaan psikologis yang dialami istri dan anak yang ditinggalkan. Trauma “ditinggalkan” akan menjadi narasi utama, sebuah luka yang mungkin tidak pernah sembuh.

Perspektif ini sah adanya dan didasarkan pada nilai-nilai yang kita junjung tinggi hari ini: tanggung jawab, kehadiran, dan stabilitas emosional bagi anak.

Menyatukan Potongan-Potongan yang Terpecah: Seni Melihat secara Holistik

Di sinilah letak inti refleksi kita. Mengapa kita memandang dua tindakan yang secara lahiriah mirip dengan cara yang begitu bertolak belakang? Jawabannya terletak pada kegagalan kita untuk melihat perjalanan hidup secara holistik.

Kita memandang kisah Siddhartha dari akhir cerita. Kita tahu bahwa perjalanannya tidak sia-sia; ia kembali sebagai Buddha, sang “Yang Telah Sadar”, membawa Dharma yang menjadi obat bagi jutaan manusia. Pengorbanan awalnya dibenarkan oleh kesuksesan akhirnya dan dampak universal yang ditimbulkannya. Narasinya sudah lengkap: Awal yang Penuh Gejolak – Proses Pencarian yang Sulit – Akhir yang Transformasional.

Sebaliknya, kita memandang tetangga kita yang melakukan hal serupa dari awal cerita. Kita tidak tahu akhirnya. Apakah ia akan menjadi Buddha baru, atau hanya menjadi seorang yang tersesat, merusak satu keluarga dan meninggalkan jejak penderitaan? Ketidakpastian ini membuat kita menghakimi berdasarkan momen “kepergian”-nya saja, tanpa melihat keseluruhan perjalanan yang belum terbentuk.

Holisme mengajarkan kita untuk tidak terpaku pada satu babak drama. Sebuah perjalanan harus dinilai dari:

  • Konteksnya: Tekanan psikologis ekstrem yang dialami Siddhartha dalam “penjara emas”-nya sangat berbeda dengan krisis kehidupan modern, sekalipun terlihat mirip.
  • Motivasinya: Apakah didorong oleh belas kasih universal yang tulus atau oleh keinginan untuk melarikan diri? (Meskipun, membedakan keduanya adalah hal yang sangat sulit).
  • Akhirnya: Apa hasil dari perjalanan itu? Apakah menghasilkan kebijaksanaan dan kebaikan bagi banyak orang, atau justru kehancuran?

Refleksi untuk Perjalanan Kita Masing-Masing

Pada akhirnya, pelajaran terbesar bukan tentang apakah kita boleh meniru Siddhartha. Dalam dunia modern, hampir mustahil tindakannya dapat dibenarkan secara literal. Pelajarannya adalah tentang bagaimana kita menilai perjalanan hidup—baik milik orang lain maupun milik kita sendiri.

Kita sering kali terburu-buru menghakimi satu tindakan dramatis seseorang tanpa memahami keseluruhan konteks, pergumulan batin, dan tujuan akhir dari perjalanannya. Kita memotong sebuah frame dari film yang panjang dan menyimpulkan seluruh ceritanya.

Mungkin, warisan terbesar dari kisah kepergian Siddhartha adalah undangan untuk melihat lebih dalam: untuk berempati pada pergulatan batin yang kompleks, untuk memahami bahwa sebuah perjalanan spiritual atau transformasi personal seringkali dimulai dengan sebuah lompatan yang—dari luar—terlihat gila atau egois. Dengan melihat secara holistik, kita tidak hanya menjadi lebih bijak dalam menilai kisah orang lain, tetapi juga lebih sabar dan memahami dalam menjalani babak-babak gelap dan tidak pasti dalam perjalanan transformasi kita sendiri. Karena pada hakikatnya, setiap jiwa sedang dalam perjalanan meninggalkan “istana” kenyamanan lamanya untuk menemukan kebenaran yang lebih dalam.[T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: BudharefleksiSpiritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mental Lembek Para Pelaku Perundungan

Next Post

Filla Rilis “3”: Lagu Penyesalan dan Cinta yang Tertinggal dari Unit Rock Tunanetra asal Bali

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Filla Rilis “3”: Lagu Penyesalan dan Cinta yang Tertinggal dari Unit Rock Tunanetra asal Bali

Filla Rilis “3”: Lagu Penyesalan dan Cinta yang Tertinggal dari Unit Rock Tunanetra asal Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co