3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ambisi Kosong Indonesia di Piala Dunia 2026 Akibat Strategi Gagal dan Kepentingan Politik

Ruben Cornelius Siagian by Ruben Cornelius Siagian
October 13, 2025
in Opini
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Ruben Cornelius Siagian

AMBISI Indonesia untuk tampil di panggung Piala Dunia 2026 kerap menjadi sorotan publik. Namun, melihat kondisi terkini, pertanyaan kini muncul, apakah sepak bola Indonesia benar-benar siap, ataukah semua klaim hanya retorika politis semata? Realitasnya, strategi yang diterapkan saat ini menunjukkan kegagalan sistemik, dan bukannya memperkuat, justru menambah keraguan terhadap kelayakan Indonesia tampil di turnamen internasional bergengsi itu.

Naturalisasi sebagai Tameng Strategi yang Gagal

Strategi Naturalisasi pemain asing kerap dijadikan jalan pintas untuk menutupi kelemahan fundamental pembinaan pemain lokal. Timnas Indonesia kini lebih bergantung pada pemain Naturalisasi untuk mengisi posisi kunci, sementara pemain muda berbakat lokal seperti Ezra Walian, Witan Sulaeman, atau Ryuji Utomo masih belum mendapatkan jam terbang memadai di kompetisi yang menuntut standar internasional. Ketergantungan ini menimbulkan risiko jangka panjang, bahwa bakat lokal tidak berkembang, mental pemain muda tidak teruji, dan filosofi permainan nasional menjadi tercerai-berai. Naturalisasi seharusnya menjadi pelengkap, bukan fondasi.

Taktik dan Formasi ibarat Improvisasi Tanpa Filosofi

Timnas Indonesia sering berganti-ganti formasi 4-3-3 atau 4-2-3-1, menyesuaikan lawan, namun tanpa filosofi jangka panjang yang jelas. Transisi permainan yang lambat, koordinasi lini tengah dan depan yang buruk, serta pola serangan yang mudah ditebak menunjukkan bahwa pelatih, meski berpengalaman, bekerja dalam kerangka taktik yang reaktif, bukan proaktif. Tanpa perencanaan taktik sejak usia dini, pemain muda tidak belajar sistem permainan yang konsisten, sehingga menghadapi lawan tangguh seperti Jepang atau Korea Selatan tetap menjadi mimpi yang sulit terwujud.

Masalah Struktural Liga Domestik

Liga 1 Indonesia masih dipenuhi disparitas kualitas klub dan pemain. Banyak pemain muda berbakat tetap terjebak dalam sistem liga yang tidak menekankan profesionalisme, pelatihan modern, atau kompetisi berstandar internasional. Infrastruktur latihan yang minim, jadwal liga yang kacau, serta kurangnya eksposur ke kompetisi internasional membuat pembinaan pemain nasional terhambat. Strategi Timnas yang mengandalkan pemain “siap pakai” dari klub tertentu hanyalah solusi instan yang gagal mengatasi akar masalah.

Politisasi PSSI dan Kemenpora adalah Konflik Kepentingan yang Menghambat Prestasi

Masalah terbesar sejatinya bukan hanya teknis, tetapi politis. Ketua PSSI sekaligus Menteri Olahraga, Erick Thohir, memegang posisi ganda yang menimbulkan Konflik Kepentingan. Keputusan strategis timnas tampak lebih dipengaruhi pertimbangan politik dan citra publik, ketimbang kepentingan pengembangan jangka panjang. Rotasi pelatih yang sering dan perubahan strategi mendadak lebih mirip “aksi pencitraan” untuk media dan sponsor daripada langkah profesional yang membangun fondasi prestasi. Akibatnya, pemain kesulitan membangun chemistry, mental tim mudah goyah, dan pola permainan tetap tidak stabil.

Klaim Ambisius vs Realitas di Lapangan

Dengan kondisi saat ini, klaim bahwa Indonesia layak tampil di Piala Dunia 2026 hanyalah retorika politik. Mengandalkan semangat nasionalisme, dukungan media, atau tekanan publik tidak cukup. Indonesia memiliki beberapa pemain berbakat, namun tanpa pembinaan sistematis, filosofi permainan, strategi modern, dan stabilitas manajerial, peluang bersaing di level Piala Dunia tetap rendah.

Peringatan Keras untuk Sepak Bola Nasional

Sepak bola Indonesia saat ini berada di persimpangan krisis, bahwa politik menguasai manajemen, taktik reaktif menggantikan filosofi jangka panjang, dan bakat lokal tertahan di sistem liga yang belum matang. Jika strategi tidak segera diperbaiki, bukan hanya Piala Dunia yang menjadi impian kosong, tetapi masa depan sepak bola nasional akan terjebak stagnasi.

Hal ini ini bukan sekadar pedas demi sensasi, melainkan panggilan untuk introspeksi, bahwa Indonesia membutuhkan reformasi struktural, pengembangan pemain muda yang konsisten, filosofi permainan yang jelas, profesionalisme liga, dan pemisahan kepentingan politik dari manajemen olahraga. Tanpa itu, klaim layak Piala Dunia hanyalah fatamorgana yang memuaskan ego politisi, bukan prestasi bangsa.

Apa yang Harus diperbaiki?

Jika Indonesia ingin serius menatap Piala Dunia 2026, perbaikan fundamental harus dilakukan dari akar hingga puncak manajemen sepak bola. Pertama-tama, pembinaan pemain muda harus dibangun secara sistematis dan profesional. Ketergantungan berlebihan pada Naturalisasi pemain asing selama ini menunjukkan kegagalan strategi jangka panjang.

Teori Human Capital dalam olahraga menekankan bahwa investasi berkelanjutan pada pengembangan individu akan menghasilkan performa optimal di masa depan.[1] Hal ini terlihat dari keberhasilan negara-negara seperti Jerman dan Spanyol, yang menekankan akademi pemain muda dengan filosofi permainan yang konsisten, pembinaan fisik dan mental, serta eksposur internasional sejak dini.

Penelitian oleh Schorer, J., Cobley, S., Büsch, D., Bräutigam, H., & Baker, J. (2009) juga menunjukkan bahwa jam terbang kompetitif di usia muda berpengaruh signifikan terhadap kesuksesan pemain di level senior.[2] Di Indonesia, pemain muda berbakat masih sering terjebak dalam liga domestik yang tidak kompetitif dan minim pelatihan modern, sehingga bakat lokal tidak berkembang dan ketergantungan pada Naturalisasi menjadi solusi sementara yang mahal dan tidak berkelanjutan.

Indonesia sangat membutuhkan filosofi permainan nasional yang jelas dan konsisten. Filosofi ini bukan sekadar jargon, melainkan kerangka yang membimbing setiap level pembinaan, dari junior hingga senior. Teori Long-Term Athlete Development (LTAD) menekankan program jangka panjang yang konsisten agar atlet memahami identitas permainan dan mampu mengeksekusi strategi di level internasional.[3] Studi kasus Belanda dengan sistem “Total Football” menunjukkan bahwa filosofi yang diterapkan sejak usia muda membuat pemain tidak hanya mahir secara teknik, tetapi juga adaptif secara taktis. Indonesia, dengan improvisasi formasi yang kerap berubah dari 4-3-3 ke 4-2-3-1 sesuai lawan, masih jauh dari konsistensi seperti itu, sehingga pola permainan timnas mudah ditebak dan transisi antar-lini lambat.

Profesionalisasi liga domestik juga menjadi faktor penentu. Liga 1 Indonesia masih menunjukkan disparitas kualitas klub dan pemain yang ekstrem. Teori Organizational Ecology dalam konteks olahraga menekankan bahwa sistem kompetisi yang sehat dan standar profesional tinggi berpengaruh terhadap perkembangan pemain dan keberhasilan tim nasional.[4] Negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan membuktikan bahwa liga yang kompetitif, terstruktur, dan berstandar internasional menghasilkan pemain yang siap bersaing di level dunia. Sebaliknya, tanpa liga domestik yang kuat, Timnas Indonesia akan terus kalah bersaing karena pemainnya tidak siap secara fisik, mental, maupun taktik.

Masalah struktural lainnya adalah Konflik Kepentingan dalam manajemen sepak bola. Posisi ganda Ketua PSSI sekaligus Menteri Olahraga, seperti yang dipegang Erick Thohir, membuka celah bagi keputusan strategis yang lebih mengutamakan citra politik daripada pengembangan teknis jangka panjang. Teori Governance dalam olahraga (Hoye et al., 2015) menegaskan bahwa pemisahan otoritas dan akuntabilitas adalah kunci keberhasilan manajemen olahraga.[5][6] Tanpa pemisahan ini, keputusan teknis rentan terdistorsi oleh kepentingan politik atau pencitraan media, menghambat stabilitas tim dan pembangunan jangka panjang.

Stabilitas manajerial dan konsistensi pelatih menjadi kunci lain yang tidak kalah penting. Rotasi pelatih yang terlalu sering dan perubahan strategi mendadak tidak hanya membingungkan pemain, tetapi juga menghambat pembangunan filosofi permainan dan mental bertanding. Contoh Jerman pasca-2000 menunjukkan bahwa kepemimpinan teknis yang stabil dan program pengembangan jangka panjang menghasilkan generasi emas, terbukti dengan kemenangan Piala Dunia 2014. Indonesia, dengan ketidakstabilan saat ini, hanya menciptakan kegagalan berulang dan chemistry tim yang rapuh.

Adapun transparansi dan akuntabilitas harus menjadi fondasi setiap keputusan, mulai dari seleksi pemain hingga pengembangan liga. Model Governance Transparan seperti di federasi sepak bola Inggris atau Jerman menunjukkan bahwa evaluasi publik dan keterlibatan stakeholder mendorong keputusan yang profesional dan bebas dari dominasi politik. Tanpa mekanisme ini, sepak bola Indonesia akan tetap dikuasai kepentingan pribadi dan politik, bukan prestasi, sehingga ambisi Piala Dunia 2026 tetap menjadi fatamorgana.

Adapun reformasi menyeluruh di bidang pembinaan pemain muda, filosofi permainan, profesionalisasi liga, manajemen tanpa Konflik Kepentingan, stabilitas pelatih, dan akuntabilitas penuh, Indonesia baru bisa berharap menutup kesenjangan dengan negara-negara Asia yang rutin tampil di Piala Dunia. Tanpa itu, semua klaim ambisius hanyalah retorika politik yang memuaskan ego sesaat, bukan prestasi nyata bangsa. [T]


[1] Hossini, “Review of the concept of Human Capital in sports with an emphasis on capability approach.”

[2] Schorer dkk., “Influences of competition level, gender, player nationality, career stage and playing position on relative age effects.”

[3] Balyi dkk., Long-term athlete development.

[4] Larsen dkk., “Successful talent development in soccer: The characteristics of the environment.”

[5] Hoye dan Cuskelly, Sport Governance.

[6] Henry dan Theodoraki, “Management, organizations and theory in the Governance of sport.”

Penulis: Ruben Cornelius Siagian
Editor: Adnyana Ole

Tags: Piala Duniasepakbola
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bedah 3 Buku Prof. Dibia: Kemurnian Tutur yang Ada dalam Diri Seniman

Next Post

Merindukan Lagi, “Panggung Bebas Bicara” di Lapangan Renon

Ruben Cornelius Siagian

Ruben Cornelius Siagian

Peneliti Independen & Pengamat Kebijakan Publik

Related Posts

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

Read moreDetails

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails
Next Post
Merindukan Lagi, “Panggung Bebas Bicara” di Lapangan Renon

Merindukan Lagi, "Panggung Bebas Bicara" di Lapangan Renon

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co