23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ambisi Kosong Indonesia di Piala Dunia 2026 Akibat Strategi Gagal dan Kepentingan Politik

Ruben Cornelius Siagian by Ruben Cornelius Siagian
October 13, 2025
in Opini
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Ruben Cornelius Siagian

AMBISI Indonesia untuk tampil di panggung Piala Dunia 2026 kerap menjadi sorotan publik. Namun, melihat kondisi terkini, pertanyaan kini muncul, apakah sepak bola Indonesia benar-benar siap, ataukah semua klaim hanya retorika politis semata? Realitasnya, strategi yang diterapkan saat ini menunjukkan kegagalan sistemik, dan bukannya memperkuat, justru menambah keraguan terhadap kelayakan Indonesia tampil di turnamen internasional bergengsi itu.

Naturalisasi sebagai Tameng Strategi yang Gagal

Strategi Naturalisasi pemain asing kerap dijadikan jalan pintas untuk menutupi kelemahan fundamental pembinaan pemain lokal. Timnas Indonesia kini lebih bergantung pada pemain Naturalisasi untuk mengisi posisi kunci, sementara pemain muda berbakat lokal seperti Ezra Walian, Witan Sulaeman, atau Ryuji Utomo masih belum mendapatkan jam terbang memadai di kompetisi yang menuntut standar internasional. Ketergantungan ini menimbulkan risiko jangka panjang, bahwa bakat lokal tidak berkembang, mental pemain muda tidak teruji, dan filosofi permainan nasional menjadi tercerai-berai. Naturalisasi seharusnya menjadi pelengkap, bukan fondasi.

Taktik dan Formasi ibarat Improvisasi Tanpa Filosofi

Timnas Indonesia sering berganti-ganti formasi 4-3-3 atau 4-2-3-1, menyesuaikan lawan, namun tanpa filosofi jangka panjang yang jelas. Transisi permainan yang lambat, koordinasi lini tengah dan depan yang buruk, serta pola serangan yang mudah ditebak menunjukkan bahwa pelatih, meski berpengalaman, bekerja dalam kerangka taktik yang reaktif, bukan proaktif. Tanpa perencanaan taktik sejak usia dini, pemain muda tidak belajar sistem permainan yang konsisten, sehingga menghadapi lawan tangguh seperti Jepang atau Korea Selatan tetap menjadi mimpi yang sulit terwujud.

Masalah Struktural Liga Domestik

Liga 1 Indonesia masih dipenuhi disparitas kualitas klub dan pemain. Banyak pemain muda berbakat tetap terjebak dalam sistem liga yang tidak menekankan profesionalisme, pelatihan modern, atau kompetisi berstandar internasional. Infrastruktur latihan yang minim, jadwal liga yang kacau, serta kurangnya eksposur ke kompetisi internasional membuat pembinaan pemain nasional terhambat. Strategi Timnas yang mengandalkan pemain “siap pakai” dari klub tertentu hanyalah solusi instan yang gagal mengatasi akar masalah.

Politisasi PSSI dan Kemenpora adalah Konflik Kepentingan yang Menghambat Prestasi

Masalah terbesar sejatinya bukan hanya teknis, tetapi politis. Ketua PSSI sekaligus Menteri Olahraga, Erick Thohir, memegang posisi ganda yang menimbulkan Konflik Kepentingan. Keputusan strategis timnas tampak lebih dipengaruhi pertimbangan politik dan citra publik, ketimbang kepentingan pengembangan jangka panjang. Rotasi pelatih yang sering dan perubahan strategi mendadak lebih mirip “aksi pencitraan” untuk media dan sponsor daripada langkah profesional yang membangun fondasi prestasi. Akibatnya, pemain kesulitan membangun chemistry, mental tim mudah goyah, dan pola permainan tetap tidak stabil.

Klaim Ambisius vs Realitas di Lapangan

Dengan kondisi saat ini, klaim bahwa Indonesia layak tampil di Piala Dunia 2026 hanyalah retorika politik. Mengandalkan semangat nasionalisme, dukungan media, atau tekanan publik tidak cukup. Indonesia memiliki beberapa pemain berbakat, namun tanpa pembinaan sistematis, filosofi permainan, strategi modern, dan stabilitas manajerial, peluang bersaing di level Piala Dunia tetap rendah.

Peringatan Keras untuk Sepak Bola Nasional

Sepak bola Indonesia saat ini berada di persimpangan krisis, bahwa politik menguasai manajemen, taktik reaktif menggantikan filosofi jangka panjang, dan bakat lokal tertahan di sistem liga yang belum matang. Jika strategi tidak segera diperbaiki, bukan hanya Piala Dunia yang menjadi impian kosong, tetapi masa depan sepak bola nasional akan terjebak stagnasi.

Hal ini ini bukan sekadar pedas demi sensasi, melainkan panggilan untuk introspeksi, bahwa Indonesia membutuhkan reformasi struktural, pengembangan pemain muda yang konsisten, filosofi permainan yang jelas, profesionalisme liga, dan pemisahan kepentingan politik dari manajemen olahraga. Tanpa itu, klaim layak Piala Dunia hanyalah fatamorgana yang memuaskan ego politisi, bukan prestasi bangsa.

Apa yang Harus diperbaiki?

Jika Indonesia ingin serius menatap Piala Dunia 2026, perbaikan fundamental harus dilakukan dari akar hingga puncak manajemen sepak bola. Pertama-tama, pembinaan pemain muda harus dibangun secara sistematis dan profesional. Ketergantungan berlebihan pada Naturalisasi pemain asing selama ini menunjukkan kegagalan strategi jangka panjang.

Teori Human Capital dalam olahraga menekankan bahwa investasi berkelanjutan pada pengembangan individu akan menghasilkan performa optimal di masa depan.[1] Hal ini terlihat dari keberhasilan negara-negara seperti Jerman dan Spanyol, yang menekankan akademi pemain muda dengan filosofi permainan yang konsisten, pembinaan fisik dan mental, serta eksposur internasional sejak dini.

Penelitian oleh Schorer, J., Cobley, S., Büsch, D., Bräutigam, H., & Baker, J. (2009) juga menunjukkan bahwa jam terbang kompetitif di usia muda berpengaruh signifikan terhadap kesuksesan pemain di level senior.[2] Di Indonesia, pemain muda berbakat masih sering terjebak dalam liga domestik yang tidak kompetitif dan minim pelatihan modern, sehingga bakat lokal tidak berkembang dan ketergantungan pada Naturalisasi menjadi solusi sementara yang mahal dan tidak berkelanjutan.

Indonesia sangat membutuhkan filosofi permainan nasional yang jelas dan konsisten. Filosofi ini bukan sekadar jargon, melainkan kerangka yang membimbing setiap level pembinaan, dari junior hingga senior. Teori Long-Term Athlete Development (LTAD) menekankan program jangka panjang yang konsisten agar atlet memahami identitas permainan dan mampu mengeksekusi strategi di level internasional.[3] Studi kasus Belanda dengan sistem “Total Football” menunjukkan bahwa filosofi yang diterapkan sejak usia muda membuat pemain tidak hanya mahir secara teknik, tetapi juga adaptif secara taktis. Indonesia, dengan improvisasi formasi yang kerap berubah dari 4-3-3 ke 4-2-3-1 sesuai lawan, masih jauh dari konsistensi seperti itu, sehingga pola permainan timnas mudah ditebak dan transisi antar-lini lambat.

Profesionalisasi liga domestik juga menjadi faktor penentu. Liga 1 Indonesia masih menunjukkan disparitas kualitas klub dan pemain yang ekstrem. Teori Organizational Ecology dalam konteks olahraga menekankan bahwa sistem kompetisi yang sehat dan standar profesional tinggi berpengaruh terhadap perkembangan pemain dan keberhasilan tim nasional.[4] Negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan membuktikan bahwa liga yang kompetitif, terstruktur, dan berstandar internasional menghasilkan pemain yang siap bersaing di level dunia. Sebaliknya, tanpa liga domestik yang kuat, Timnas Indonesia akan terus kalah bersaing karena pemainnya tidak siap secara fisik, mental, maupun taktik.

Masalah struktural lainnya adalah Konflik Kepentingan dalam manajemen sepak bola. Posisi ganda Ketua PSSI sekaligus Menteri Olahraga, seperti yang dipegang Erick Thohir, membuka celah bagi keputusan strategis yang lebih mengutamakan citra politik daripada pengembangan teknis jangka panjang. Teori Governance dalam olahraga (Hoye et al., 2015) menegaskan bahwa pemisahan otoritas dan akuntabilitas adalah kunci keberhasilan manajemen olahraga.[5][6] Tanpa pemisahan ini, keputusan teknis rentan terdistorsi oleh kepentingan politik atau pencitraan media, menghambat stabilitas tim dan pembangunan jangka panjang.

Stabilitas manajerial dan konsistensi pelatih menjadi kunci lain yang tidak kalah penting. Rotasi pelatih yang terlalu sering dan perubahan strategi mendadak tidak hanya membingungkan pemain, tetapi juga menghambat pembangunan filosofi permainan dan mental bertanding. Contoh Jerman pasca-2000 menunjukkan bahwa kepemimpinan teknis yang stabil dan program pengembangan jangka panjang menghasilkan generasi emas, terbukti dengan kemenangan Piala Dunia 2014. Indonesia, dengan ketidakstabilan saat ini, hanya menciptakan kegagalan berulang dan chemistry tim yang rapuh.

Adapun transparansi dan akuntabilitas harus menjadi fondasi setiap keputusan, mulai dari seleksi pemain hingga pengembangan liga. Model Governance Transparan seperti di federasi sepak bola Inggris atau Jerman menunjukkan bahwa evaluasi publik dan keterlibatan stakeholder mendorong keputusan yang profesional dan bebas dari dominasi politik. Tanpa mekanisme ini, sepak bola Indonesia akan tetap dikuasai kepentingan pribadi dan politik, bukan prestasi, sehingga ambisi Piala Dunia 2026 tetap menjadi fatamorgana.

Adapun reformasi menyeluruh di bidang pembinaan pemain muda, filosofi permainan, profesionalisasi liga, manajemen tanpa Konflik Kepentingan, stabilitas pelatih, dan akuntabilitas penuh, Indonesia baru bisa berharap menutup kesenjangan dengan negara-negara Asia yang rutin tampil di Piala Dunia. Tanpa itu, semua klaim ambisius hanyalah retorika politik yang memuaskan ego sesaat, bukan prestasi nyata bangsa. [T]


[1] Hossini, “Review of the concept of Human Capital in sports with an emphasis on capability approach.”

[2] Schorer dkk., “Influences of competition level, gender, player nationality, career stage and playing position on relative age effects.”

[3] Balyi dkk., Long-term athlete development.

[4] Larsen dkk., “Successful talent development in soccer: The characteristics of the environment.”

[5] Hoye dan Cuskelly, Sport Governance.

[6] Henry dan Theodoraki, “Management, organizations and theory in the Governance of sport.”

Penulis: Ruben Cornelius Siagian
Editor: Adnyana Ole

Tags: Piala Duniasepakbola
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bedah 3 Buku Prof. Dibia: Kemurnian Tutur yang Ada dalam Diri Seniman

Next Post

Merindukan Lagi, “Panggung Bebas Bicara” di Lapangan Renon

Ruben Cornelius Siagian

Ruben Cornelius Siagian

Peneliti Independen & Pengamat Kebijakan Publik

Related Posts

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

Read moreDetails

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails
Next Post
Merindukan Lagi, “Panggung Bebas Bicara” di Lapangan Renon

Merindukan Lagi, "Panggung Bebas Bicara" di Lapangan Renon

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co