23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ambisi Kosong Indonesia di Piala Dunia 2026 Akibat Strategi Gagal dan Kepentingan Politik

Ruben Cornelius Siagian by Ruben Cornelius Siagian
October 13, 2025
in Opini
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Ruben Cornelius Siagian

AMBISI Indonesia untuk tampil di panggung Piala Dunia 2026 kerap menjadi sorotan publik. Namun, melihat kondisi terkini, pertanyaan kini muncul, apakah sepak bola Indonesia benar-benar siap, ataukah semua klaim hanya retorika politis semata? Realitasnya, strategi yang diterapkan saat ini menunjukkan kegagalan sistemik, dan bukannya memperkuat, justru menambah keraguan terhadap kelayakan Indonesia tampil di turnamen internasional bergengsi itu.

Naturalisasi sebagai Tameng Strategi yang Gagal

Strategi Naturalisasi pemain asing kerap dijadikan jalan pintas untuk menutupi kelemahan fundamental pembinaan pemain lokal. Timnas Indonesia kini lebih bergantung pada pemain Naturalisasi untuk mengisi posisi kunci, sementara pemain muda berbakat lokal seperti Ezra Walian, Witan Sulaeman, atau Ryuji Utomo masih belum mendapatkan jam terbang memadai di kompetisi yang menuntut standar internasional. Ketergantungan ini menimbulkan risiko jangka panjang, bahwa bakat lokal tidak berkembang, mental pemain muda tidak teruji, dan filosofi permainan nasional menjadi tercerai-berai. Naturalisasi seharusnya menjadi pelengkap, bukan fondasi.

Taktik dan Formasi ibarat Improvisasi Tanpa Filosofi

Timnas Indonesia sering berganti-ganti formasi 4-3-3 atau 4-2-3-1, menyesuaikan lawan, namun tanpa filosofi jangka panjang yang jelas. Transisi permainan yang lambat, koordinasi lini tengah dan depan yang buruk, serta pola serangan yang mudah ditebak menunjukkan bahwa pelatih, meski berpengalaman, bekerja dalam kerangka taktik yang reaktif, bukan proaktif. Tanpa perencanaan taktik sejak usia dini, pemain muda tidak belajar sistem permainan yang konsisten, sehingga menghadapi lawan tangguh seperti Jepang atau Korea Selatan tetap menjadi mimpi yang sulit terwujud.

Masalah Struktural Liga Domestik

Liga 1 Indonesia masih dipenuhi disparitas kualitas klub dan pemain. Banyak pemain muda berbakat tetap terjebak dalam sistem liga yang tidak menekankan profesionalisme, pelatihan modern, atau kompetisi berstandar internasional. Infrastruktur latihan yang minim, jadwal liga yang kacau, serta kurangnya eksposur ke kompetisi internasional membuat pembinaan pemain nasional terhambat. Strategi Timnas yang mengandalkan pemain “siap pakai” dari klub tertentu hanyalah solusi instan yang gagal mengatasi akar masalah.

Politisasi PSSI dan Kemenpora adalah Konflik Kepentingan yang Menghambat Prestasi

Masalah terbesar sejatinya bukan hanya teknis, tetapi politis. Ketua PSSI sekaligus Menteri Olahraga, Erick Thohir, memegang posisi ganda yang menimbulkan Konflik Kepentingan. Keputusan strategis timnas tampak lebih dipengaruhi pertimbangan politik dan citra publik, ketimbang kepentingan pengembangan jangka panjang. Rotasi pelatih yang sering dan perubahan strategi mendadak lebih mirip “aksi pencitraan” untuk media dan sponsor daripada langkah profesional yang membangun fondasi prestasi. Akibatnya, pemain kesulitan membangun chemistry, mental tim mudah goyah, dan pola permainan tetap tidak stabil.

Klaim Ambisius vs Realitas di Lapangan

Dengan kondisi saat ini, klaim bahwa Indonesia layak tampil di Piala Dunia 2026 hanyalah retorika politik. Mengandalkan semangat nasionalisme, dukungan media, atau tekanan publik tidak cukup. Indonesia memiliki beberapa pemain berbakat, namun tanpa pembinaan sistematis, filosofi permainan, strategi modern, dan stabilitas manajerial, peluang bersaing di level Piala Dunia tetap rendah.

Peringatan Keras untuk Sepak Bola Nasional

Sepak bola Indonesia saat ini berada di persimpangan krisis, bahwa politik menguasai manajemen, taktik reaktif menggantikan filosofi jangka panjang, dan bakat lokal tertahan di sistem liga yang belum matang. Jika strategi tidak segera diperbaiki, bukan hanya Piala Dunia yang menjadi impian kosong, tetapi masa depan sepak bola nasional akan terjebak stagnasi.

Hal ini ini bukan sekadar pedas demi sensasi, melainkan panggilan untuk introspeksi, bahwa Indonesia membutuhkan reformasi struktural, pengembangan pemain muda yang konsisten, filosofi permainan yang jelas, profesionalisme liga, dan pemisahan kepentingan politik dari manajemen olahraga. Tanpa itu, klaim layak Piala Dunia hanyalah fatamorgana yang memuaskan ego politisi, bukan prestasi bangsa.

Apa yang Harus diperbaiki?

Jika Indonesia ingin serius menatap Piala Dunia 2026, perbaikan fundamental harus dilakukan dari akar hingga puncak manajemen sepak bola. Pertama-tama, pembinaan pemain muda harus dibangun secara sistematis dan profesional. Ketergantungan berlebihan pada Naturalisasi pemain asing selama ini menunjukkan kegagalan strategi jangka panjang.

Teori Human Capital dalam olahraga menekankan bahwa investasi berkelanjutan pada pengembangan individu akan menghasilkan performa optimal di masa depan.[1] Hal ini terlihat dari keberhasilan negara-negara seperti Jerman dan Spanyol, yang menekankan akademi pemain muda dengan filosofi permainan yang konsisten, pembinaan fisik dan mental, serta eksposur internasional sejak dini.

Penelitian oleh Schorer, J., Cobley, S., Büsch, D., Bräutigam, H., & Baker, J. (2009) juga menunjukkan bahwa jam terbang kompetitif di usia muda berpengaruh signifikan terhadap kesuksesan pemain di level senior.[2] Di Indonesia, pemain muda berbakat masih sering terjebak dalam liga domestik yang tidak kompetitif dan minim pelatihan modern, sehingga bakat lokal tidak berkembang dan ketergantungan pada Naturalisasi menjadi solusi sementara yang mahal dan tidak berkelanjutan.

Indonesia sangat membutuhkan filosofi permainan nasional yang jelas dan konsisten. Filosofi ini bukan sekadar jargon, melainkan kerangka yang membimbing setiap level pembinaan, dari junior hingga senior. Teori Long-Term Athlete Development (LTAD) menekankan program jangka panjang yang konsisten agar atlet memahami identitas permainan dan mampu mengeksekusi strategi di level internasional.[3] Studi kasus Belanda dengan sistem “Total Football” menunjukkan bahwa filosofi yang diterapkan sejak usia muda membuat pemain tidak hanya mahir secara teknik, tetapi juga adaptif secara taktis. Indonesia, dengan improvisasi formasi yang kerap berubah dari 4-3-3 ke 4-2-3-1 sesuai lawan, masih jauh dari konsistensi seperti itu, sehingga pola permainan timnas mudah ditebak dan transisi antar-lini lambat.

Profesionalisasi liga domestik juga menjadi faktor penentu. Liga 1 Indonesia masih menunjukkan disparitas kualitas klub dan pemain yang ekstrem. Teori Organizational Ecology dalam konteks olahraga menekankan bahwa sistem kompetisi yang sehat dan standar profesional tinggi berpengaruh terhadap perkembangan pemain dan keberhasilan tim nasional.[4] Negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan membuktikan bahwa liga yang kompetitif, terstruktur, dan berstandar internasional menghasilkan pemain yang siap bersaing di level dunia. Sebaliknya, tanpa liga domestik yang kuat, Timnas Indonesia akan terus kalah bersaing karena pemainnya tidak siap secara fisik, mental, maupun taktik.

Masalah struktural lainnya adalah Konflik Kepentingan dalam manajemen sepak bola. Posisi ganda Ketua PSSI sekaligus Menteri Olahraga, seperti yang dipegang Erick Thohir, membuka celah bagi keputusan strategis yang lebih mengutamakan citra politik daripada pengembangan teknis jangka panjang. Teori Governance dalam olahraga (Hoye et al., 2015) menegaskan bahwa pemisahan otoritas dan akuntabilitas adalah kunci keberhasilan manajemen olahraga.[5][6] Tanpa pemisahan ini, keputusan teknis rentan terdistorsi oleh kepentingan politik atau pencitraan media, menghambat stabilitas tim dan pembangunan jangka panjang.

Stabilitas manajerial dan konsistensi pelatih menjadi kunci lain yang tidak kalah penting. Rotasi pelatih yang terlalu sering dan perubahan strategi mendadak tidak hanya membingungkan pemain, tetapi juga menghambat pembangunan filosofi permainan dan mental bertanding. Contoh Jerman pasca-2000 menunjukkan bahwa kepemimpinan teknis yang stabil dan program pengembangan jangka panjang menghasilkan generasi emas, terbukti dengan kemenangan Piala Dunia 2014. Indonesia, dengan ketidakstabilan saat ini, hanya menciptakan kegagalan berulang dan chemistry tim yang rapuh.

Adapun transparansi dan akuntabilitas harus menjadi fondasi setiap keputusan, mulai dari seleksi pemain hingga pengembangan liga. Model Governance Transparan seperti di federasi sepak bola Inggris atau Jerman menunjukkan bahwa evaluasi publik dan keterlibatan stakeholder mendorong keputusan yang profesional dan bebas dari dominasi politik. Tanpa mekanisme ini, sepak bola Indonesia akan tetap dikuasai kepentingan pribadi dan politik, bukan prestasi, sehingga ambisi Piala Dunia 2026 tetap menjadi fatamorgana.

Adapun reformasi menyeluruh di bidang pembinaan pemain muda, filosofi permainan, profesionalisasi liga, manajemen tanpa Konflik Kepentingan, stabilitas pelatih, dan akuntabilitas penuh, Indonesia baru bisa berharap menutup kesenjangan dengan negara-negara Asia yang rutin tampil di Piala Dunia. Tanpa itu, semua klaim ambisius hanyalah retorika politik yang memuaskan ego sesaat, bukan prestasi nyata bangsa. [T]


[1] Hossini, “Review of the concept of Human Capital in sports with an emphasis on capability approach.”

[2] Schorer dkk., “Influences of competition level, gender, player nationality, career stage and playing position on relative age effects.”

[3] Balyi dkk., Long-term athlete development.

[4] Larsen dkk., “Successful talent development in soccer: The characteristics of the environment.”

[5] Hoye dan Cuskelly, Sport Governance.

[6] Henry dan Theodoraki, “Management, organizations and theory in the Governance of sport.”

Penulis: Ruben Cornelius Siagian
Editor: Adnyana Ole

Tags: Piala Duniasepakbola
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bedah 3 Buku Prof. Dibia: Kemurnian Tutur yang Ada dalam Diri Seniman

Next Post

Merindukan Lagi, “Panggung Bebas Bicara” di Lapangan Renon

Ruben Cornelius Siagian

Ruben Cornelius Siagian

Peneliti Independen & Pengamat Kebijakan Publik

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Merindukan Lagi, “Panggung Bebas Bicara” di Lapangan Renon

Merindukan Lagi, "Panggung Bebas Bicara" di Lapangan Renon

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co