23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Nyoman Tamat, Tak Tamat-Tamat Mengabdi untuk Seni Budaya Bali

Ni Komang Sariasih by Ni Komang Sariasih
October 3, 2025
in Persona
I Nyoman Tamat, Tak Tamat-Tamat Mengabdi untuk Seni Budaya Bali

Nyoman Tamat

DI tengah hiruk-pikuk modernisasi, ada sosok yang tetap setia menjaga irama gamelan Bali. Dia adalah I Nyoman Tamat, S.Pd., M.Pd.. Ia bisa disebut sebagai seorang maestro gamelan yang kini berusia 62 tahun.

Nyoman Tamat telah mendedikasikan hidupnya untuk seni budaya Bali. Lahir pada 18 Oktober 1963 di Banjar Sedang Kaja, Desa Sedang, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali.  Nyoman Tamat, selain sebagai seorang guru seni, juga penjaga warisan leluhur yang tak tergantikan.

Dengan latar belakang keluarga yang kental dengan seni, ia membuktikan bahwa gamelan bukan sekadar hobi, melainkan jalan hidup yang membentuk identitas Bali.

Tamat lahir dari keluarga dengan gen seni yang kuat. Kakek dan ayahnya adalah penabuh gamelan, membuatnya terpapar seni sejak kecil. Lingkungan sekitar di Desa Sedang juga mendukung. Pada tahun 1973, saat masih SD, ia sudah menjadi pengiring tari Janger dalam lomba tingkat kecamatan.

Kehadirannya di SMP 2 Abiansemal memberi pengaruh terhadap perkembangan seni di sekolah itu. Saat itu belum ada fasilitas gamelan di sekolah, namun di situ ia membangun ekstra kurikuler tabuh di SMP itu. Komite saat itu dari Desa Sedang sehingga SMP itu dibelikan gamelan.

Pilihan pendidikan pun dipengaruhi keluarga. Pamannya menawarkan biaya sekolah di PGA (Pendidikan Guru Agama) atau SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia). Nyoman Tamat memilih SMKI pada 1981, dengan bayangan bisa bekerja di hotel sore hari untuk biaya hidup.

Meski dari keluarga sederhana, ia berjuang mengumpulkan SPP. SMKI setara SMA kejuruan, dengan tambahan satu tahun pendalaman seni, dan ia lulus pada 1985. Sebelum masuk, ia diuji tiga materi: tari, vokal, dan tabuh—ia memilih tabuh karena skill otodidaknya.

Nyoman Tamat bersama cucunya

Setelah lulus, ia mengikuti program pemerintah PGSLP (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama) yang ijazahnya dari Surakarta. Ia termasuk di antara 112 guru seni yang diangkat di Bali, termasuk gurunya sendiri dari SMKI. Di sini, ia belajar sambil dibayar. Pendidikan tingginya ia lalui di jurusan Sendratasik (Seni Drama, Tari, dan Musik) dari 1996 hingga 2000.

Perjalanan Karir sebagai Guru dan Seniman

Karir Nyoman Tamat dimulai sebagai guru di SMP, dengan tugas di Dinas Pendidikan Provinsi Bali. Ia mendirikan Seka Gong “Tut Wuri Handayani” di tingkat provinsi dan “Bandana Yowana” di Kabupaten Badung. Dengan statusnya guru, ia sering pentas atas perintah atasan. Nyoman Tamat mengajar siswa tetapi pentas juga tetap berjalan dan mendapat piagam. Ia mengajar di SMP 2 Abiansemal, tapi juga aktif di pemerintahan kabupaten dan provinsi.

Sebagai seniman, ia sangat produktif: megambel dari rumah, kabupaten, hingga nasional. Satu hari itu ia bisa tiga kali pentas—pagi upacara nikah, sore kegiatan agama lainnya, maupun malamnya bisa saja ada odalan. Ia mewakili kabupaten pada 1982 dengan gegitan (lagu diiringi gamelan) dan 1983 di Sanur. Pengalaman ngayah (pengabdian) di pura-pura seperti Batur, Besakih, Uluwatu, Serangan, hingga Pura Lumajang dan Anjungan Jakarta, membuatnya tak asing dengan panggung besar.

Tantangan terbesar dalam mengajar seni budaya adalah sifatnya yang berbasis bakat.

“Kalau hobi siswa di bidang seni, mudah diajarkan. Tapi kalau bakatnya tidak ada, sulit. Kita harus sabar, kuasai materi, dan memotivasi mereka—paling tidak, buat mereka senang dulu,” jelasnya.

Di SMP 2 Abiansemal, ia bangga karena seringkali juara lomba seperti lomba belaganjur, kidung, atau seni lainnya. Ia juga menyampaikan cara menanamkan seni ke anak muda: tunjukkan keberhasilan idola seperti penari terkenal, dan rendah hati tapi tunjukkan kemampuan.

Tantangan Kesehatan dan Perbedaan Generasi

Pada 15 Januari 2019, Nyoman Tamat didiagnosis sakit asam urat, yang membuatnya mengurangi pentas malam pada 2023.

“Pernah nabuh untuk arja anak-anak sampai malam, besoknya sakit. Sekarang, kalau ada pun mungkin saya tolak karena tubuh sudah tidak fit,” katanya.

Perbedaan generasi dalam belajar gamelan begitu mencolok, seperti dulu memang sangat mendalam tanpa alat bantu, sekarang mudah dengan rekaman HP. Saat tampil, mlebih merasa malu saat tampil di atas panggung, karena ia merasa, mereka itu utusan dari sekolah.

“Kalau merasa takut seharusnya tidak mungkin, karena mereka orang pilihan dan di seni itu jarang ada rasa takutnya, kalau waktu latihan baru mereka takut ungkap Pak Tamat ketika ditanya tentang ketakutan dalam pentas seni.

Kehidupan Pensiun: Dari Sawah ke Ngayah

Setelah pensiun, Nyoman Tamat mengisi waktu di sawah atau bermain dengan cucu. Ia mengatakan itu untuk hiburan, supaya tidak stres. Ngayah di pura dan banjar pun tetap ikut.

Berkebun baginya juga terpengaruh seni, “Harus tunjukkan yang terbaik, seperti menanam padi dengan pundukan (pematang) bersih dan cara bagus dan kita pun merasa senang,” ujarnya.

Cucunya menunjukan gen seni juga, terkadang ikut menyanyi saat ia bernyanyi atau megambel. Antara guru dan seni, ia pilih seni—“Hidup saya dari seni.”

Nyoman Tamat mengajari cucunya makendang

Nyoman Tamat menyampaikan pandangannya tentang seni Bali dulu dengan sekarang, ia melihat perbedaan besar, dulu seni dihargai masyarakat, sekarang kurang dipandang.

“Dikira cari uang atau panggung, padahal kita tunjukkan yang terbaik untuk kelompok. Seni ekspresi jiwa, meski mahal,” katanya. Pendidikan seni membuat kehidupan lebih bagus.

Pesannya untuk generasi muda, “Lestarikan seni budaya Bali karena Bali dilihat dari budayanya. Kita tak punya hasil bumi banyak, yang ada adalah seni sebagai sumber budaya dan agama. Biar Bali tetap ajeg dan lestari—harus punya skill seni apapun itu.”

Kisah Nyoman Tamat amat menginspirasi dari gen keluarga hingga pensiun, ia ajegkan Bali melalui gamelan. Ia buktikan, seni bukan hanya panggung, tapi jalan menuju kehidupan yang bermakna. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Komang Sariasih
Editor: Adnyana Ole

Tags: Abiansemalkarawitan baliSeniTokoh Seni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyadari dan Resah Terhadap yang Politik

Next Post

Runtuhnya Marwah Penelitian Indonesia

Ni Komang Sariasih

Ni Komang Sariasih

Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali

Related Posts

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails
Next Post
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Runtuhnya Marwah Penelitian Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co