2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Nyoman Tamat, Tak Tamat-Tamat Mengabdi untuk Seni Budaya Bali

Ni Komang Sariasih by Ni Komang Sariasih
October 3, 2025
in Persona
I Nyoman Tamat, Tak Tamat-Tamat Mengabdi untuk Seni Budaya Bali

Nyoman Tamat

DI tengah hiruk-pikuk modernisasi, ada sosok yang tetap setia menjaga irama gamelan Bali. Dia adalah I Nyoman Tamat, S.Pd., M.Pd.. Ia bisa disebut sebagai seorang maestro gamelan yang kini berusia 62 tahun.

Nyoman Tamat telah mendedikasikan hidupnya untuk seni budaya Bali. Lahir pada 18 Oktober 1963 di Banjar Sedang Kaja, Desa Sedang, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali.  Nyoman Tamat, selain sebagai seorang guru seni, juga penjaga warisan leluhur yang tak tergantikan.

Dengan latar belakang keluarga yang kental dengan seni, ia membuktikan bahwa gamelan bukan sekadar hobi, melainkan jalan hidup yang membentuk identitas Bali.

Tamat lahir dari keluarga dengan gen seni yang kuat. Kakek dan ayahnya adalah penabuh gamelan, membuatnya terpapar seni sejak kecil. Lingkungan sekitar di Desa Sedang juga mendukung. Pada tahun 1973, saat masih SD, ia sudah menjadi pengiring tari Janger dalam lomba tingkat kecamatan.

Kehadirannya di SMP 2 Abiansemal memberi pengaruh terhadap perkembangan seni di sekolah itu. Saat itu belum ada fasilitas gamelan di sekolah, namun di situ ia membangun ekstra kurikuler tabuh di SMP itu. Komite saat itu dari Desa Sedang sehingga SMP itu dibelikan gamelan.

Pilihan pendidikan pun dipengaruhi keluarga. Pamannya menawarkan biaya sekolah di PGA (Pendidikan Guru Agama) atau SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia). Nyoman Tamat memilih SMKI pada 1981, dengan bayangan bisa bekerja di hotel sore hari untuk biaya hidup.

Meski dari keluarga sederhana, ia berjuang mengumpulkan SPP. SMKI setara SMA kejuruan, dengan tambahan satu tahun pendalaman seni, dan ia lulus pada 1985. Sebelum masuk, ia diuji tiga materi: tari, vokal, dan tabuh—ia memilih tabuh karena skill otodidaknya.

Nyoman Tamat bersama cucunya

Setelah lulus, ia mengikuti program pemerintah PGSLP (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama) yang ijazahnya dari Surakarta. Ia termasuk di antara 112 guru seni yang diangkat di Bali, termasuk gurunya sendiri dari SMKI. Di sini, ia belajar sambil dibayar. Pendidikan tingginya ia lalui di jurusan Sendratasik (Seni Drama, Tari, dan Musik) dari 1996 hingga 2000.

Perjalanan Karir sebagai Guru dan Seniman

Karir Nyoman Tamat dimulai sebagai guru di SMP, dengan tugas di Dinas Pendidikan Provinsi Bali. Ia mendirikan Seka Gong “Tut Wuri Handayani” di tingkat provinsi dan “Bandana Yowana” di Kabupaten Badung. Dengan statusnya guru, ia sering pentas atas perintah atasan. Nyoman Tamat mengajar siswa tetapi pentas juga tetap berjalan dan mendapat piagam. Ia mengajar di SMP 2 Abiansemal, tapi juga aktif di pemerintahan kabupaten dan provinsi.

Sebagai seniman, ia sangat produktif: megambel dari rumah, kabupaten, hingga nasional. Satu hari itu ia bisa tiga kali pentas—pagi upacara nikah, sore kegiatan agama lainnya, maupun malamnya bisa saja ada odalan. Ia mewakili kabupaten pada 1982 dengan gegitan (lagu diiringi gamelan) dan 1983 di Sanur. Pengalaman ngayah (pengabdian) di pura-pura seperti Batur, Besakih, Uluwatu, Serangan, hingga Pura Lumajang dan Anjungan Jakarta, membuatnya tak asing dengan panggung besar.

Tantangan terbesar dalam mengajar seni budaya adalah sifatnya yang berbasis bakat.

“Kalau hobi siswa di bidang seni, mudah diajarkan. Tapi kalau bakatnya tidak ada, sulit. Kita harus sabar, kuasai materi, dan memotivasi mereka—paling tidak, buat mereka senang dulu,” jelasnya.

Di SMP 2 Abiansemal, ia bangga karena seringkali juara lomba seperti lomba belaganjur, kidung, atau seni lainnya. Ia juga menyampaikan cara menanamkan seni ke anak muda: tunjukkan keberhasilan idola seperti penari terkenal, dan rendah hati tapi tunjukkan kemampuan.

Tantangan Kesehatan dan Perbedaan Generasi

Pada 15 Januari 2019, Nyoman Tamat didiagnosis sakit asam urat, yang membuatnya mengurangi pentas malam pada 2023.

“Pernah nabuh untuk arja anak-anak sampai malam, besoknya sakit. Sekarang, kalau ada pun mungkin saya tolak karena tubuh sudah tidak fit,” katanya.

Perbedaan generasi dalam belajar gamelan begitu mencolok, seperti dulu memang sangat mendalam tanpa alat bantu, sekarang mudah dengan rekaman HP. Saat tampil, mlebih merasa malu saat tampil di atas panggung, karena ia merasa, mereka itu utusan dari sekolah.

“Kalau merasa takut seharusnya tidak mungkin, karena mereka orang pilihan dan di seni itu jarang ada rasa takutnya, kalau waktu latihan baru mereka takut ungkap Pak Tamat ketika ditanya tentang ketakutan dalam pentas seni.

Kehidupan Pensiun: Dari Sawah ke Ngayah

Setelah pensiun, Nyoman Tamat mengisi waktu di sawah atau bermain dengan cucu. Ia mengatakan itu untuk hiburan, supaya tidak stres. Ngayah di pura dan banjar pun tetap ikut.

Berkebun baginya juga terpengaruh seni, “Harus tunjukkan yang terbaik, seperti menanam padi dengan pundukan (pematang) bersih dan cara bagus dan kita pun merasa senang,” ujarnya.

Cucunya menunjukan gen seni juga, terkadang ikut menyanyi saat ia bernyanyi atau megambel. Antara guru dan seni, ia pilih seni—“Hidup saya dari seni.”

Nyoman Tamat mengajari cucunya makendang

Nyoman Tamat menyampaikan pandangannya tentang seni Bali dulu dengan sekarang, ia melihat perbedaan besar, dulu seni dihargai masyarakat, sekarang kurang dipandang.

“Dikira cari uang atau panggung, padahal kita tunjukkan yang terbaik untuk kelompok. Seni ekspresi jiwa, meski mahal,” katanya. Pendidikan seni membuat kehidupan lebih bagus.

Pesannya untuk generasi muda, “Lestarikan seni budaya Bali karena Bali dilihat dari budayanya. Kita tak punya hasil bumi banyak, yang ada adalah seni sebagai sumber budaya dan agama. Biar Bali tetap ajeg dan lestari—harus punya skill seni apapun itu.”

Kisah Nyoman Tamat amat menginspirasi dari gen keluarga hingga pensiun, ia ajegkan Bali melalui gamelan. Ia buktikan, seni bukan hanya panggung, tapi jalan menuju kehidupan yang bermakna. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Komang Sariasih
Editor: Adnyana Ole

Tags: Abiansemalkarawitan baliSeniTokoh Seni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyadari dan Resah Terhadap yang Politik

Next Post

Runtuhnya Marwah Penelitian Indonesia

Ni Komang Sariasih

Ni Komang Sariasih

Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali

Related Posts

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails
Next Post
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Runtuhnya Marwah Penelitian Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co