13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Nyoman Tamat, Tak Tamat-Tamat Mengabdi untuk Seni Budaya Bali

Ni Komang Sariasih by Ni Komang Sariasih
October 3, 2025
in Persona
I Nyoman Tamat, Tak Tamat-Tamat Mengabdi untuk Seni Budaya Bali

Nyoman Tamat

DI tengah hiruk-pikuk modernisasi, ada sosok yang tetap setia menjaga irama gamelan Bali. Dia adalah I Nyoman Tamat, S.Pd., M.Pd.. Ia bisa disebut sebagai seorang maestro gamelan yang kini berusia 62 tahun.

Nyoman Tamat telah mendedikasikan hidupnya untuk seni budaya Bali. Lahir pada 18 Oktober 1963 di Banjar Sedang Kaja, Desa Sedang, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali.  Nyoman Tamat, selain sebagai seorang guru seni, juga penjaga warisan leluhur yang tak tergantikan.

Dengan latar belakang keluarga yang kental dengan seni, ia membuktikan bahwa gamelan bukan sekadar hobi, melainkan jalan hidup yang membentuk identitas Bali.

Tamat lahir dari keluarga dengan gen seni yang kuat. Kakek dan ayahnya adalah penabuh gamelan, membuatnya terpapar seni sejak kecil. Lingkungan sekitar di Desa Sedang juga mendukung. Pada tahun 1973, saat masih SD, ia sudah menjadi pengiring tari Janger dalam lomba tingkat kecamatan.

Kehadirannya di SMP 2 Abiansemal memberi pengaruh terhadap perkembangan seni di sekolah itu. Saat itu belum ada fasilitas gamelan di sekolah, namun di situ ia membangun ekstra kurikuler tabuh di SMP itu. Komite saat itu dari Desa Sedang sehingga SMP itu dibelikan gamelan.

Pilihan pendidikan pun dipengaruhi keluarga. Pamannya menawarkan biaya sekolah di PGA (Pendidikan Guru Agama) atau SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia). Nyoman Tamat memilih SMKI pada 1981, dengan bayangan bisa bekerja di hotel sore hari untuk biaya hidup.

Meski dari keluarga sederhana, ia berjuang mengumpulkan SPP. SMKI setara SMA kejuruan, dengan tambahan satu tahun pendalaman seni, dan ia lulus pada 1985. Sebelum masuk, ia diuji tiga materi: tari, vokal, dan tabuh—ia memilih tabuh karena skill otodidaknya.

Nyoman Tamat bersama cucunya

Setelah lulus, ia mengikuti program pemerintah PGSLP (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama) yang ijazahnya dari Surakarta. Ia termasuk di antara 112 guru seni yang diangkat di Bali, termasuk gurunya sendiri dari SMKI. Di sini, ia belajar sambil dibayar. Pendidikan tingginya ia lalui di jurusan Sendratasik (Seni Drama, Tari, dan Musik) dari 1996 hingga 2000.

Perjalanan Karir sebagai Guru dan Seniman

Karir Nyoman Tamat dimulai sebagai guru di SMP, dengan tugas di Dinas Pendidikan Provinsi Bali. Ia mendirikan Seka Gong “Tut Wuri Handayani” di tingkat provinsi dan “Bandana Yowana” di Kabupaten Badung. Dengan statusnya guru, ia sering pentas atas perintah atasan. Nyoman Tamat mengajar siswa tetapi pentas juga tetap berjalan dan mendapat piagam. Ia mengajar di SMP 2 Abiansemal, tapi juga aktif di pemerintahan kabupaten dan provinsi.

Sebagai seniman, ia sangat produktif: megambel dari rumah, kabupaten, hingga nasional. Satu hari itu ia bisa tiga kali pentas—pagi upacara nikah, sore kegiatan agama lainnya, maupun malamnya bisa saja ada odalan. Ia mewakili kabupaten pada 1982 dengan gegitan (lagu diiringi gamelan) dan 1983 di Sanur. Pengalaman ngayah (pengabdian) di pura-pura seperti Batur, Besakih, Uluwatu, Serangan, hingga Pura Lumajang dan Anjungan Jakarta, membuatnya tak asing dengan panggung besar.

Tantangan terbesar dalam mengajar seni budaya adalah sifatnya yang berbasis bakat.

“Kalau hobi siswa di bidang seni, mudah diajarkan. Tapi kalau bakatnya tidak ada, sulit. Kita harus sabar, kuasai materi, dan memotivasi mereka—paling tidak, buat mereka senang dulu,” jelasnya.

Di SMP 2 Abiansemal, ia bangga karena seringkali juara lomba seperti lomba belaganjur, kidung, atau seni lainnya. Ia juga menyampaikan cara menanamkan seni ke anak muda: tunjukkan keberhasilan idola seperti penari terkenal, dan rendah hati tapi tunjukkan kemampuan.

Tantangan Kesehatan dan Perbedaan Generasi

Pada 15 Januari 2019, Nyoman Tamat didiagnosis sakit asam urat, yang membuatnya mengurangi pentas malam pada 2023.

“Pernah nabuh untuk arja anak-anak sampai malam, besoknya sakit. Sekarang, kalau ada pun mungkin saya tolak karena tubuh sudah tidak fit,” katanya.

Perbedaan generasi dalam belajar gamelan begitu mencolok, seperti dulu memang sangat mendalam tanpa alat bantu, sekarang mudah dengan rekaman HP. Saat tampil, mlebih merasa malu saat tampil di atas panggung, karena ia merasa, mereka itu utusan dari sekolah.

“Kalau merasa takut seharusnya tidak mungkin, karena mereka orang pilihan dan di seni itu jarang ada rasa takutnya, kalau waktu latihan baru mereka takut ungkap Pak Tamat ketika ditanya tentang ketakutan dalam pentas seni.

Kehidupan Pensiun: Dari Sawah ke Ngayah

Setelah pensiun, Nyoman Tamat mengisi waktu di sawah atau bermain dengan cucu. Ia mengatakan itu untuk hiburan, supaya tidak stres. Ngayah di pura dan banjar pun tetap ikut.

Berkebun baginya juga terpengaruh seni, “Harus tunjukkan yang terbaik, seperti menanam padi dengan pundukan (pematang) bersih dan cara bagus dan kita pun merasa senang,” ujarnya.

Cucunya menunjukan gen seni juga, terkadang ikut menyanyi saat ia bernyanyi atau megambel. Antara guru dan seni, ia pilih seni—“Hidup saya dari seni.”

Nyoman Tamat mengajari cucunya makendang

Nyoman Tamat menyampaikan pandangannya tentang seni Bali dulu dengan sekarang, ia melihat perbedaan besar, dulu seni dihargai masyarakat, sekarang kurang dipandang.

“Dikira cari uang atau panggung, padahal kita tunjukkan yang terbaik untuk kelompok. Seni ekspresi jiwa, meski mahal,” katanya. Pendidikan seni membuat kehidupan lebih bagus.

Pesannya untuk generasi muda, “Lestarikan seni budaya Bali karena Bali dilihat dari budayanya. Kita tak punya hasil bumi banyak, yang ada adalah seni sebagai sumber budaya dan agama. Biar Bali tetap ajeg dan lestari—harus punya skill seni apapun itu.”

Kisah Nyoman Tamat amat menginspirasi dari gen keluarga hingga pensiun, ia ajegkan Bali melalui gamelan. Ia buktikan, seni bukan hanya panggung, tapi jalan menuju kehidupan yang bermakna. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Komang Sariasih
Editor: Adnyana Ole

Tags: Abiansemalkarawitan baliSeniTokoh Seni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyadari dan Resah Terhadap yang Politik

Next Post

Runtuhnya Marwah Penelitian Indonesia

Ni Komang Sariasih

Ni Komang Sariasih

Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali

Related Posts

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails
Next Post
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Runtuhnya Marwah Penelitian Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co