23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyadari dan Resah Terhadap yang Politik

Mansurni Abadi by Mansurni Abadi
October 3, 2025
in Esai
Menyadari dan Resah Terhadap yang Politik

TIDAK ada satupun aspek kehidupan yang dapat  lepas dari politik. Itu adalah fakta yang harus kita sadari. Menurut Aristoteles  dalam bukunya The Politics disebutkan bahwa politik merupakan jalan untuk mengoptimalkan kehidupan bersama sehingga aktualisasi diri dan fungsi optimal individu secara kolektif dapat berlangsung dengan baik. Dalam istilah Yunani, melalui tindakan mengatur (archein) dan diatur (archesthai) yang bakal berdampak di kehidupan kita.

Bahkan agama dan budaya yang katanya dilarang untuk dipolitisasi juga tidak lepas dari politik. Agama misalnya,  menurut filsuf Roger Scruton, dalam artikelnya berjudul Must Religious Duty Conflict With Political Order? (2020) menegaskan reposisi agama dalam politik tidak mesti akhirnya mendirikan negara agama, yang memaksakan keyakinan suatu agama terhadap agama lain, tetapi reposisi agama itu dari sudut moral dan etika publik. Toh, ketika agama masih dianggap sebagai sumber kebaikan yang dapat  diterapkan, menjadi wajar kiranya agama harus  berfokus pada kontribusi terhadap keadilan dan kebaikan bersama dalam masyarakat yang majemuk.

Sementara pada konteks kebudayaan, kalau dicermati politik juga tidak lepas dari dari ruang kebudayaan.  Sehingga ada istilah politik kebudayaan yang dipertahankan melalui berbagai produk budaya yang berfungsi mempertahankan kekuasaan atau justru menghadapi kekuasaan. Sebagaimana I Nengah Duija dalam bukunya Tokoh Sabdopalon; Rekontruksi Pemaknaan Politik kebudayaan Hindu-Islam di Jawa (2015), menyebutkan produk budaya dapat menjadi wacana tanding  terhadap hegemoni pusat kekuasaan sehingga memungkinkan munculnya “penggugatan” secara fisik terhadap hegemoni suatu kelompok atau kekuasaan tertentu.

Diksi politisasi juga jangan dimaknai sebagai dorongan anti politik apalagi dengan anjuran “tidak semua hal perlu dipolitikkan”. Perlu ada pembedaaan antara politik dari Harold Lasswell, bahwa politisasi dapat diidentifikasi sebagai manipulasi simbol dan isu untuk membentuk persepsi publik secara sepihak. Dan hal itu berbeda dari sikap politik, yaitu posisi rasional individu terhadap kebijakan berdasarkan teori Demokrasi Deliberatif Habermas, yang dalam alam konteks politik dan demokrasi, ditandai dengan upaya untuk mendengarkan sudut pandang yang berbeda yang berbasis dengan alasan yang logis dan dapat dipertanggungjawabkan serta bersedia berbenah jika diberikan demi kebaikan bersama .

Dengan demikian, membedakan kedua konsep ini mencegah masyarakat terjebak dalam sinisme yang anti-politik, dan justru mendorong partisipasi kritis dalam ruang publik yang sehat.  Tapi sayangnya, ketika politik masuk ranah praktik, dimana ikhitiar tersebut harus berbenturan dengan  berbagai masalah yang kesemuanya itu bermula dari adanya “ruang hampa” antara yang diberi amanah (pihak yang berkuasa) dengan yang memberi (rakyat). Kondisi itu pada akhir  terlihat pada masa-masa kritis dan akhirnya makin membenarkan anggapan jika politik sudah jauh dari kemanusiaan.

Sebagai warga negara, ruang hampa inilah yang perlu kita  kritik, jika terus terpelihara maka politik akan semakin jauh dari kemanusiaan yang hanya menghasilkan  Kalau kita cermati ruang hampa akan ini ada karena politik kurang keteladan, paradigma, pendidikan, masih tersekat oligarki, dan tunduk pada kuasa global sehingga tidak ada kemerdekaan pada dirinya sendiri.

Dan ironisnya lagi keterasingan politik dari subtansinya ini,  terus menerus dibangun diatas prasangka politik dalam bentuk oposisi yang biner nan sempit, seperti yang dikatakan oleh Norberto Bobio dalam left and right : the significance of a political distinction (2012), yaitu nalar perbedaan antogonistik antara dua pihak seperti pemerintah vs rakyat, dimana satu pihak menganggap dirinya maju, terdidik, dan lebih berkuasa.  sementara rakyat anya  menjadi pihak yang paling rendah, yang harus selalu  berada  pada posisi yang di injak, di hina, dan di abaikan bahkan dimanipulasi yang hanya diperlukan suaranya ketika momentum elektoral.

Maka dalam kondisi politik yang sedemikian, kita sebagai rakyat perlu terus resah dan sadar politik. Resahnya terhadap politik sebagai rakyat biasa adalah sikap yang krusial karena politik, dalam esensinya, adalah arena perebutan kekuasaan yang akan menentukan nasib kehidupan kolektif, sebuah realitas yang dijelaskan secara berseberangan oleh dua teori politik fundamental yaitu Teori Elit yang sinis dan Pluralisme yang idealis.

Teori Elit, yang diasosiasikan dengan pemikir seperti Gaetano Mosca dan Robert Michels, pernah berargumen jika dalam masyarakat mana pun, hanya segelintir minoritas yang terorganisir (elit) yang pada akhirnya akan memegang kekuasaan nyata, sementara mayoritas (rakyat) hanya menjadi objek yang diperintah, sebuah realitas yang digambarkan dalam “Hukum Besi Oligarki”; dalam pandangan ini, ketidakresahan publik akan menyebabkan kekuasaan elit menjadi absolut dan sewenang-wenang.

Sebaliknya, dalam teori Pluralisme yang dikemukakan oleh Robert Dahl justru menawarkan narasi yang lebih optimis dengan melihat politik sebagai pasar bebas di mana berbagai kelompok kepentingan bersaing secara demokratis untuk mempengaruhi kebijakan, dan kekuasaan pemerintah didistribusikan secara luas; namun praksis dari teori ini perlu menempatkan tanggung jawab besar pada setiap warga untuk aktif bersuara dan berorganisasi, karena jika rakyat biasa pasif,  maka “pasar” politik ini akan didominasi oleh kelompok dengan sumber daya terbesar, seperti korporasi, sehingga mengubah demokrasi menjadi tirani.

Sementara sadar terhadap politik artinya menjadikan diri terdidik terhadap yang politik dari mulai Literasi tentang politik sampai ke Hak politik tanpa harus menjadi bagian dari gemarak politik praktis yang munafik. Untuk sadar terhadap yang politik selain diperlukan pergerakan dan kepekaan juga diperlukan ketekunan atau rasa ingin tahu terhadap yang politik, ketika saya membaca  Kearifan budaya Jawa, dalam tembang pucung serat wedhatama karya KGPAA Mangkunagara IV, ada nasehat yang amat menarik, nasehat itu berbunyi “, “ilmu iku kalakone kanthi laku”, ilmu itu bisa dikuasai dengan belajar secara tekun artinya tidak ada yang rumit dalam memahami segala sesuatu termasuk politik. Lalu apa bentuk nyata dari sadar dan resah terhadap politik, secara sederhana ada dua yang dapat dilakukan.

Memaknai semua permasalahan bangsa secara politis

Pertama sekali, pada intinya, politik adalah proses untuk menentukan “siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana”. Sebagian besar permasalahan bangsa seperti kemiskinan, kesenjangan ekonomi, ketersediaan pangan, persoalan keamanan, akses kesehatan, dan kualitas pendidikan pada dasarnya adalah persoalan alokasi sumber daya dan kebijakan publik. Karena anggaran negara, undang-undang, dan program pemerintah yang mengatur distribusi ini lahir dari proses politik, maka wajar jika setiap permasalahan tersebut dilihat melalui kacamata politik.

Sebuah keputusan tentang lokasi pembangunan rumah sakit atau kenaikan harga BBM, misalnya, tidak bisa dilepaskan dari tarik-ulur kepentingan antar-partai, kelompok tekanan, dan ideologi yang berkuasa. Dengan kata lain, memaknainya segala sesuatu secara politis adalah cara untuk memahami akar penyebab dan siapa yang diuntungkan atau dirugikan oleh suatu kebijakan.

Disamping itu ada persoalan terkait nilai, prinsip, dan ideologi yang berbeda-beda di dalam masyarakat.  Banyak sekali permasalahan yang tidak memiliki jawaban tunggal. Perbedaan pandangan inilah yang diperjuangkan di arena politik. Oleh karena itu, ketika masalah-masalah seperti ini muncul, mereka secara otomatis terpolarisasi menjadi isu politik karena mewakili pertarungan gagasan tentang masa depan bangsa yang diinginkan. Jadi Memaknai suatu konflik sosial atau budaya secara politis menjadi inevitabel (tidak terelakkan) karena ia mencerminkan perpecahan mendasar dalam tubuh masyarakat tentang nilai-nilai apa yang harus dijunjung tinggi.

Terlebih lagi, dalam era komunikasi yang masif dan demokrasi elektoral, politik telah menjadi medan pertarungan narasi. Setiap kelompok politik berusaha membingkai (framing) suatu permasalahan untuk memperkuat posisi mereka, mendiskreditkan lawan, dan memenangkan dukungan publik. Dalam konteks ini, memaknai segala sesuatu secara politis adalah strategi untuk bertahan dalam percaturan kekuasaan. Sebagai rakyat biasa kita perlu peka terhadap berbagai kecenderungan berbagai kebijakan atau peristiwa besar yang sebenarnya tidak lepas dari motif politik untuk menjaga, merebut, atau mengkonsolidasikan kekuasaan, terlepas dari niat baik yang mungkin ada di baliknya.

Meretas politik tua

Membaca kondisi dan posisi partai politik hari ini tak bedanya seperti membaca nasib budaya teknologi. Bahkan dilihat dari makna teknologi lebih luas, institusi partai politik termasuk jenis ekspresi teknologi itu sendiri. Kalau tidak cerdas,cerdik,dan cepat bertransformasi diri dengan tantangan jaman, maka  siap-siap saja remuk terlindas jalan sejarah. Seperti halnya peradaban teknik, maka  semestinya juga harus siap untuk terus berevolusi bahkan berevolusi untuk menuju perubahan total.

Apa yang sudah tua harus tergantikan oleh pokok-pokok baru yang lebih muda. Setiap era generasi punya imajinasi dan mimpi politiknya yang berbeda yang kadang tak mudah ditangkap oleh mereka yang masih nyaman terlelap di peradaban tua. Sepertinya wajah partai politik sudah terlihat makin menua bahkan terlihat tak bisa mengatasi krisis.. Mereka semakin tak mampu menawarkan konsepsi dan visi yang lebih segar tentang politik masa depan Indonesia. Mereka kian nampak terengah-engah menangkap persoalan jaman yang kian tak dimengertinya.

Pada akhirnya apa yang tertinggal hanyalah kerak-kerak motivasi purba soal survival bertahan hidup semata, semacam raga yang makin sekarat dan butuh suntikan inpus nutrisi terus menerus agar nyawa tetap terjaga. Pertarungan politik hari ini tak lagi soal merumuskan gagasan, cita-cita dan solusi riil tentang bagaimana problem warga harus dipecahkan. Kebisingan politik yang sangat dangkal  lebih banyak diisi oleh hiruk-pikuk keributan soal bagaimana pundi-pundi materi dan gengsi dipenuhi dan sumber daya yang terbatas itu dijarah dan dibagi-bagi demi kantong kelompoknya sendiri.

Golongan tua selalu menyalahkan golongan muda seolah-olah membuat berbagai kerusakan sampai mereka lupa sebenarnya kerusakan hari ini dan yang kita wariskan nanti justru banyak diperbuat oleh berbagai tindakan politik dari generasi tua, oleh karena itu meretas dalam artian melawan dan mencoba menganti politik tua menjadi kewajiban namun dengan catatan yang mengantikan tidak melanjutkan yang negatif dari generasi tua dengan casing baru, karena tujuan utama peretasan politik tua adalah menganti dengan yang baru bukan yang terlihat seolah-olah baru namun berpola lama.

Memiliki kesadaran kelas dan terorganisir      

Individu sebagai bagian masyarakat, tanpa kesadaran kelas, yang akan membuat mereka mengerti rasa malu pada tempatnya, memiliki kepercayaan diri yang sejati, dalam situasi kekerasan budaya akan tampil palsu. Mereka akan terasing dari setiap persoalan yang sebenarnya sistematis bahkan menormalkan budaya manipulasi.

Kita tentu banyak mendengar betapa susahnya menjadi orang jujur yang percaya pada dirinya sendiri, yang peduli dengan martabat dan nama baik. Sebab martabat dan nama baik dalam masyarakat yang tidak mempunyai kesadaran kelas selalu diukur dengan ukuran-ukuran material (kekayaan). Tanpa kekayaan, martabat itu nihil. Orang tidak punya nama baik, tidak dihormati.  Sebab itulah orang-orang yang ingin dan merasa mampu menjadi pemimpin terpaksa dan dipaksa menggunakan standar kekayaan material tadi untuk tampil.

Begitupun dalam memilih pemimpin atau wakil rakyat, kita cenderung memilih yang menampilkan citra elite yang berpadukan gaya sok merakyat. Budaya sogok menyogok dan pencitraan kita normalkan apalagi ditengah hidup yang masih susah dan minim Literasi politik. Ketika pemimpin yang terpilih itu tidak becus dalam berkerja, maka kita dengan gagah berani mengutuki padahal kita sendiri turut andil dalam menaikkan mereka-mereka yang sebenarnya belum pantas mewakili atau memimpin kita. 

Masyarakat dalam kondisi seperti ini memang hancur-hancuran yang mau tidak mau maka obatnya adalah pendidikan dan penyadaran kelas, penyadaran hakikat individu dan masyarakat, penyadaran akan nilai-nilai paling dasar. Apa yang memalukan dari mengakui kita berasal dari kelas buruh?  [T]

Penulis: Mansurni Abadi
Editor:Adnyana Ole

Tags: Politik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Metamorfosis Ketenteraman Manusia Kini

Next Post

I Nyoman Tamat, Tak Tamat-Tamat Mengabdi untuk Seni Budaya Bali

Mansurni Abadi

Mansurni Abadi

Mantan pengurus divisi riset Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia 2021-2022 dan pengurus divisi riset Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malaysia 2021-2023, Saat ini berkerja sebagai relasi publik di NGO SMT di Malaysia

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
I Nyoman Tamat, Tak Tamat-Tamat Mengabdi untuk Seni Budaya Bali

I Nyoman Tamat, Tak Tamat-Tamat Mengabdi untuk Seni Budaya Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co