23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyadari dan Resah Terhadap yang Politik

Mansurni Abadi by Mansurni Abadi
October 3, 2025
in Esai
Menyadari dan Resah Terhadap yang Politik

TIDAK ada satupun aspek kehidupan yang dapat  lepas dari politik. Itu adalah fakta yang harus kita sadari. Menurut Aristoteles  dalam bukunya The Politics disebutkan bahwa politik merupakan jalan untuk mengoptimalkan kehidupan bersama sehingga aktualisasi diri dan fungsi optimal individu secara kolektif dapat berlangsung dengan baik. Dalam istilah Yunani, melalui tindakan mengatur (archein) dan diatur (archesthai) yang bakal berdampak di kehidupan kita.

Bahkan agama dan budaya yang katanya dilarang untuk dipolitisasi juga tidak lepas dari politik. Agama misalnya,  menurut filsuf Roger Scruton, dalam artikelnya berjudul Must Religious Duty Conflict With Political Order? (2020) menegaskan reposisi agama dalam politik tidak mesti akhirnya mendirikan negara agama, yang memaksakan keyakinan suatu agama terhadap agama lain, tetapi reposisi agama itu dari sudut moral dan etika publik. Toh, ketika agama masih dianggap sebagai sumber kebaikan yang dapat  diterapkan, menjadi wajar kiranya agama harus  berfokus pada kontribusi terhadap keadilan dan kebaikan bersama dalam masyarakat yang majemuk.

Sementara pada konteks kebudayaan, kalau dicermati politik juga tidak lepas dari dari ruang kebudayaan.  Sehingga ada istilah politik kebudayaan yang dipertahankan melalui berbagai produk budaya yang berfungsi mempertahankan kekuasaan atau justru menghadapi kekuasaan. Sebagaimana I Nengah Duija dalam bukunya Tokoh Sabdopalon; Rekontruksi Pemaknaan Politik kebudayaan Hindu-Islam di Jawa (2015), menyebutkan produk budaya dapat menjadi wacana tanding  terhadap hegemoni pusat kekuasaan sehingga memungkinkan munculnya “penggugatan” secara fisik terhadap hegemoni suatu kelompok atau kekuasaan tertentu.

Diksi politisasi juga jangan dimaknai sebagai dorongan anti politik apalagi dengan anjuran “tidak semua hal perlu dipolitikkan”. Perlu ada pembedaaan antara politik dari Harold Lasswell, bahwa politisasi dapat diidentifikasi sebagai manipulasi simbol dan isu untuk membentuk persepsi publik secara sepihak. Dan hal itu berbeda dari sikap politik, yaitu posisi rasional individu terhadap kebijakan berdasarkan teori Demokrasi Deliberatif Habermas, yang dalam alam konteks politik dan demokrasi, ditandai dengan upaya untuk mendengarkan sudut pandang yang berbeda yang berbasis dengan alasan yang logis dan dapat dipertanggungjawabkan serta bersedia berbenah jika diberikan demi kebaikan bersama .

Dengan demikian, membedakan kedua konsep ini mencegah masyarakat terjebak dalam sinisme yang anti-politik, dan justru mendorong partisipasi kritis dalam ruang publik yang sehat.  Tapi sayangnya, ketika politik masuk ranah praktik, dimana ikhitiar tersebut harus berbenturan dengan  berbagai masalah yang kesemuanya itu bermula dari adanya “ruang hampa” antara yang diberi amanah (pihak yang berkuasa) dengan yang memberi (rakyat). Kondisi itu pada akhir  terlihat pada masa-masa kritis dan akhirnya makin membenarkan anggapan jika politik sudah jauh dari kemanusiaan.

Sebagai warga negara, ruang hampa inilah yang perlu kita  kritik, jika terus terpelihara maka politik akan semakin jauh dari kemanusiaan yang hanya menghasilkan  Kalau kita cermati ruang hampa akan ini ada karena politik kurang keteladan, paradigma, pendidikan, masih tersekat oligarki, dan tunduk pada kuasa global sehingga tidak ada kemerdekaan pada dirinya sendiri.

Dan ironisnya lagi keterasingan politik dari subtansinya ini,  terus menerus dibangun diatas prasangka politik dalam bentuk oposisi yang biner nan sempit, seperti yang dikatakan oleh Norberto Bobio dalam left and right : the significance of a political distinction (2012), yaitu nalar perbedaan antogonistik antara dua pihak seperti pemerintah vs rakyat, dimana satu pihak menganggap dirinya maju, terdidik, dan lebih berkuasa.  sementara rakyat anya  menjadi pihak yang paling rendah, yang harus selalu  berada  pada posisi yang di injak, di hina, dan di abaikan bahkan dimanipulasi yang hanya diperlukan suaranya ketika momentum elektoral.

Maka dalam kondisi politik yang sedemikian, kita sebagai rakyat perlu terus resah dan sadar politik. Resahnya terhadap politik sebagai rakyat biasa adalah sikap yang krusial karena politik, dalam esensinya, adalah arena perebutan kekuasaan yang akan menentukan nasib kehidupan kolektif, sebuah realitas yang dijelaskan secara berseberangan oleh dua teori politik fundamental yaitu Teori Elit yang sinis dan Pluralisme yang idealis.

Teori Elit, yang diasosiasikan dengan pemikir seperti Gaetano Mosca dan Robert Michels, pernah berargumen jika dalam masyarakat mana pun, hanya segelintir minoritas yang terorganisir (elit) yang pada akhirnya akan memegang kekuasaan nyata, sementara mayoritas (rakyat) hanya menjadi objek yang diperintah, sebuah realitas yang digambarkan dalam “Hukum Besi Oligarki”; dalam pandangan ini, ketidakresahan publik akan menyebabkan kekuasaan elit menjadi absolut dan sewenang-wenang.

Sebaliknya, dalam teori Pluralisme yang dikemukakan oleh Robert Dahl justru menawarkan narasi yang lebih optimis dengan melihat politik sebagai pasar bebas di mana berbagai kelompok kepentingan bersaing secara demokratis untuk mempengaruhi kebijakan, dan kekuasaan pemerintah didistribusikan secara luas; namun praksis dari teori ini perlu menempatkan tanggung jawab besar pada setiap warga untuk aktif bersuara dan berorganisasi, karena jika rakyat biasa pasif,  maka “pasar” politik ini akan didominasi oleh kelompok dengan sumber daya terbesar, seperti korporasi, sehingga mengubah demokrasi menjadi tirani.

Sementara sadar terhadap politik artinya menjadikan diri terdidik terhadap yang politik dari mulai Literasi tentang politik sampai ke Hak politik tanpa harus menjadi bagian dari gemarak politik praktis yang munafik. Untuk sadar terhadap yang politik selain diperlukan pergerakan dan kepekaan juga diperlukan ketekunan atau rasa ingin tahu terhadap yang politik, ketika saya membaca  Kearifan budaya Jawa, dalam tembang pucung serat wedhatama karya KGPAA Mangkunagara IV, ada nasehat yang amat menarik, nasehat itu berbunyi “, “ilmu iku kalakone kanthi laku”, ilmu itu bisa dikuasai dengan belajar secara tekun artinya tidak ada yang rumit dalam memahami segala sesuatu termasuk politik. Lalu apa bentuk nyata dari sadar dan resah terhadap politik, secara sederhana ada dua yang dapat dilakukan.

Memaknai semua permasalahan bangsa secara politis

Pertama sekali, pada intinya, politik adalah proses untuk menentukan “siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana”. Sebagian besar permasalahan bangsa seperti kemiskinan, kesenjangan ekonomi, ketersediaan pangan, persoalan keamanan, akses kesehatan, dan kualitas pendidikan pada dasarnya adalah persoalan alokasi sumber daya dan kebijakan publik. Karena anggaran negara, undang-undang, dan program pemerintah yang mengatur distribusi ini lahir dari proses politik, maka wajar jika setiap permasalahan tersebut dilihat melalui kacamata politik.

Sebuah keputusan tentang lokasi pembangunan rumah sakit atau kenaikan harga BBM, misalnya, tidak bisa dilepaskan dari tarik-ulur kepentingan antar-partai, kelompok tekanan, dan ideologi yang berkuasa. Dengan kata lain, memaknainya segala sesuatu secara politis adalah cara untuk memahami akar penyebab dan siapa yang diuntungkan atau dirugikan oleh suatu kebijakan.

Disamping itu ada persoalan terkait nilai, prinsip, dan ideologi yang berbeda-beda di dalam masyarakat.  Banyak sekali permasalahan yang tidak memiliki jawaban tunggal. Perbedaan pandangan inilah yang diperjuangkan di arena politik. Oleh karena itu, ketika masalah-masalah seperti ini muncul, mereka secara otomatis terpolarisasi menjadi isu politik karena mewakili pertarungan gagasan tentang masa depan bangsa yang diinginkan. Jadi Memaknai suatu konflik sosial atau budaya secara politis menjadi inevitabel (tidak terelakkan) karena ia mencerminkan perpecahan mendasar dalam tubuh masyarakat tentang nilai-nilai apa yang harus dijunjung tinggi.

Terlebih lagi, dalam era komunikasi yang masif dan demokrasi elektoral, politik telah menjadi medan pertarungan narasi. Setiap kelompok politik berusaha membingkai (framing) suatu permasalahan untuk memperkuat posisi mereka, mendiskreditkan lawan, dan memenangkan dukungan publik. Dalam konteks ini, memaknai segala sesuatu secara politis adalah strategi untuk bertahan dalam percaturan kekuasaan. Sebagai rakyat biasa kita perlu peka terhadap berbagai kecenderungan berbagai kebijakan atau peristiwa besar yang sebenarnya tidak lepas dari motif politik untuk menjaga, merebut, atau mengkonsolidasikan kekuasaan, terlepas dari niat baik yang mungkin ada di baliknya.

Meretas politik tua

Membaca kondisi dan posisi partai politik hari ini tak bedanya seperti membaca nasib budaya teknologi. Bahkan dilihat dari makna teknologi lebih luas, institusi partai politik termasuk jenis ekspresi teknologi itu sendiri. Kalau tidak cerdas,cerdik,dan cepat bertransformasi diri dengan tantangan jaman, maka  siap-siap saja remuk terlindas jalan sejarah. Seperti halnya peradaban teknik, maka  semestinya juga harus siap untuk terus berevolusi bahkan berevolusi untuk menuju perubahan total.

Apa yang sudah tua harus tergantikan oleh pokok-pokok baru yang lebih muda. Setiap era generasi punya imajinasi dan mimpi politiknya yang berbeda yang kadang tak mudah ditangkap oleh mereka yang masih nyaman terlelap di peradaban tua. Sepertinya wajah partai politik sudah terlihat makin menua bahkan terlihat tak bisa mengatasi krisis.. Mereka semakin tak mampu menawarkan konsepsi dan visi yang lebih segar tentang politik masa depan Indonesia. Mereka kian nampak terengah-engah menangkap persoalan jaman yang kian tak dimengertinya.

Pada akhirnya apa yang tertinggal hanyalah kerak-kerak motivasi purba soal survival bertahan hidup semata, semacam raga yang makin sekarat dan butuh suntikan inpus nutrisi terus menerus agar nyawa tetap terjaga. Pertarungan politik hari ini tak lagi soal merumuskan gagasan, cita-cita dan solusi riil tentang bagaimana problem warga harus dipecahkan. Kebisingan politik yang sangat dangkal  lebih banyak diisi oleh hiruk-pikuk keributan soal bagaimana pundi-pundi materi dan gengsi dipenuhi dan sumber daya yang terbatas itu dijarah dan dibagi-bagi demi kantong kelompoknya sendiri.

Golongan tua selalu menyalahkan golongan muda seolah-olah membuat berbagai kerusakan sampai mereka lupa sebenarnya kerusakan hari ini dan yang kita wariskan nanti justru banyak diperbuat oleh berbagai tindakan politik dari generasi tua, oleh karena itu meretas dalam artian melawan dan mencoba menganti politik tua menjadi kewajiban namun dengan catatan yang mengantikan tidak melanjutkan yang negatif dari generasi tua dengan casing baru, karena tujuan utama peretasan politik tua adalah menganti dengan yang baru bukan yang terlihat seolah-olah baru namun berpola lama.

Memiliki kesadaran kelas dan terorganisir      

Individu sebagai bagian masyarakat, tanpa kesadaran kelas, yang akan membuat mereka mengerti rasa malu pada tempatnya, memiliki kepercayaan diri yang sejati, dalam situasi kekerasan budaya akan tampil palsu. Mereka akan terasing dari setiap persoalan yang sebenarnya sistematis bahkan menormalkan budaya manipulasi.

Kita tentu banyak mendengar betapa susahnya menjadi orang jujur yang percaya pada dirinya sendiri, yang peduli dengan martabat dan nama baik. Sebab martabat dan nama baik dalam masyarakat yang tidak mempunyai kesadaran kelas selalu diukur dengan ukuran-ukuran material (kekayaan). Tanpa kekayaan, martabat itu nihil. Orang tidak punya nama baik, tidak dihormati.  Sebab itulah orang-orang yang ingin dan merasa mampu menjadi pemimpin terpaksa dan dipaksa menggunakan standar kekayaan material tadi untuk tampil.

Begitupun dalam memilih pemimpin atau wakil rakyat, kita cenderung memilih yang menampilkan citra elite yang berpadukan gaya sok merakyat. Budaya sogok menyogok dan pencitraan kita normalkan apalagi ditengah hidup yang masih susah dan minim Literasi politik. Ketika pemimpin yang terpilih itu tidak becus dalam berkerja, maka kita dengan gagah berani mengutuki padahal kita sendiri turut andil dalam menaikkan mereka-mereka yang sebenarnya belum pantas mewakili atau memimpin kita. 

Masyarakat dalam kondisi seperti ini memang hancur-hancuran yang mau tidak mau maka obatnya adalah pendidikan dan penyadaran kelas, penyadaran hakikat individu dan masyarakat, penyadaran akan nilai-nilai paling dasar. Apa yang memalukan dari mengakui kita berasal dari kelas buruh?  [T]

Penulis: Mansurni Abadi
Editor:Adnyana Ole

Tags: Politik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Metamorfosis Ketenteraman Manusia Kini

Next Post

I Nyoman Tamat, Tak Tamat-Tamat Mengabdi untuk Seni Budaya Bali

Mansurni Abadi

Mansurni Abadi

Mantan pengurus divisi riset Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia 2021-2022 dan pengurus divisi riset Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malaysia 2021-2023, Saat ini berkerja sebagai relasi publik di NGO SMT di Malaysia

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
I Nyoman Tamat, Tak Tamat-Tamat Mengabdi untuk Seni Budaya Bali

I Nyoman Tamat, Tak Tamat-Tamat Mengabdi untuk Seni Budaya Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co