23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Metamorfosis Ketenteraman Manusia Kini

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

JIKA ada di antara sidang pembaca yang budiman yang coba ingat-ingat pada tahun 80-an, banyak rumah-rumah orang Indonesia sederhana saja. Banyak yang berdinding papan, perabotan seadanya, televisi masih barang langka. Tidak ada sofa empuk, tidak ada pendingin ruangan, apalagi gadget canggih. Namun, anehnya, saya merasa hidup saat itu terasa tenteram. Ada ketulusan dalam ngobrol di teras rumah, ada keintiman dalam makan bersama keluarga, ada solidaritas dalam gotong royong membersihkan kampung.

Sekarang ini rumah makin mewah, barang-barang elektronik berseliweran, dan e-wallet siap melayani gaya hidup instan. Tapi kenapa rasa tenteram itu kini kok entah ke mana. Yang ada justru hidup yang serba terburu-buru, penuh distraksi, dan banyak orang makin sering dihantui kecemasan soal eksistensi diri. Sebenarnya apakah sisi kemanusiaan kita sedang terkikis, ataukah kita memang sedang bermetamorfosis menuju bentuk kemanusiaan baru, yang saya kurang bisa paham, yang model ketenteramannya berganti kulit dengan caranya sendiri?

Nostalgia yang (Hampir) Mustahil

Banyak orang percaya, solusi dari keresahan modern adalah kembali ke kesederhanaan lama. Contohnya,  makan bersama tanpa gawai, ngobrol tatap muka, atau gotong royong di kampung. Kedengarannya manis, tapi jujur saja, itu seringnya hanya nostalgia yang sulit diwujudkan. Karena realitas hari ini dan struktur yang membentuknya tidak akan mungkin bisa mundur. 

Ada beberapa alasan yang saya kira cukup jelas.  Saat ini, hidup secara digital bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Kalau tidak ikut, kita memang bakal ketinggalan. Untuk urusan makan bersama pasti  jadi barang mewah. Jadwal kerja yang padat, anak sibuk sekolah dan les, waktu keluarga makin sempit dengan jadwal masing-masing. 

Bagaimana dengan gotong royong? Mohon maaf, para pembaca yang budiman, mindset transaksional sudah merajalela,  orang jaman digital ini mau membantu kalau ada timbal balik.  Mau kembali ke alam, alam sendiri sudah rusak di banyak tempat. Lagi pula tubuh manusia modern sudah terbiasa dengan AC, Netflix, dan ojek online.

Maka, usulan sederhana seperti “ayo lebih sering makan bersama” seringkai jadi terasa naif. Karena masalahnya bukan sekadar perilaku individu, tapi soal struktur sosial-ekonomi yang memaksa kita hidup cepat, efisien, dan serba digital.

Alienasi, Gestell, dan Modernitas Cair

Ternyata, apa yang kita alami bukan hal baru. Karl Marx sejak abad ke-19 sudah menulis tentang alienasi, manusia dalam sistem kapitalisme tercerabut dari pekerjaannya, dari sesamanya, bahkan dari dirinya sendiri. Jadi keresahan modern ini bukan kebetulan, tapi konsekuensi logis dari sistem. Martin Heidegger menambahkan bumbu penyedap, katanya, manusia modern terjebak dalam Gestell, kerangka teknologis, yang membingkai cara kita melihat dunia. Akibatnya, cara kita merasa tenteram pun, saya rasa ikut diatur oleh teknologi.

Masih belum selesai, bahkan Zygmunt Baumanpunya istilah lebih mutakhir.  Modernitas hari ini disebutnya sebagai liquid modernity alias modernitas cair. Segalanya serba sementara, pekerjaan, hubungan, bahkan identitas. Tengok saja bagaimana baru-baru ini Elon musk memecat 500 mentor AI Grok karena dianggap sudah tidak perlu. Mau diganti dengan mentor baru yang punya spesifikasi lebih tajam, tutor AI spesialis. Kebayang 500 orang yang tadinya dikontrak nyaman sekarang harus muter otak cari kerjaan lagi. Tidak ada lagi stabilitas yang memungkinkan kita duduk manis sambil meneguk kopi tubruk di sore hari. Kesimpulannya memang ketenteraman gaya lama mustahil diulang kembali. Yang lahir adalah bentuk baru ketenteraman, sesuai dengan logika zaman.

Wujud Ketenteraman Baru

Sekadar pemikiran rekreatif saja untuk kita semua, karena sekadar mengira-ngira ketenteraman model digital sepertinya cukup menghibur.  Kalau dulu tenteram berarti duduk ngobrol di teras rumah, sekarang tenteram berarti story Instagram kita dilihat banyak orang. “Like” saat ini sepertinya bisa sama legitnya dengan sapaan tetangga yang kebetulan lewat. Bisa juga ketenteraman dalam efisiensi dan kontrol. Dulu orang bisa bersikap tenang karena punya sikap nrimo,  kalau hujan, ya terima saja. Sekarang orang tenang karena tahu bisa memesan ojol dengan klik, atau melihat saldo keuangan lewat aplikasi. Makin banyak efisiensi  makin merasakan ketenteraman.

Nah, ada pula ketenteraman dalam konsumsi simbolis.  Budaya pamer di medsos alias flexing bukan sekadar sombong, tapi juga cara mendapat ketenangan. “Saya ada, saya diakui.” Foto liburan dengan view ciamik, kopi-kopi kekinian, atau gadget baru adalah penegasan identitas. Di sisi lain ada  yang menggapai ketenteraman dalam distraksi. Misal, Binge-watching Netflix, scrolling TikTok, atau nge-game bisa jadi bentuk relaksasi paling jujur. Hidup memang keras saudara,  distraksi boleh lah, jadi obat bius yang sah.

Model selanjutnya bisa kita sebut sebagai ketenteraman dalam mobilitas. Jadi, kalau dulu tenteram berarti punya tanah warisan, punya jaminan.  Beda jaman, sekarang tenteram berarti bisa pindah kota, kerja remote, atau traveling. Keterikatan diganti kebebasan bergerak.  Gotong royong tradisional mungkin punah, tapi komunitas hobi online, fandom, atau grup Discord muncul sebagai solidaritas cair. Tidak permanen, tapi cukup untuk bikin orang merasa tidak sendirian, suatu model ketenteraman dalam komunitas cair.

Menyakitkan bagi Model Lama

Bagi generasi lama, semua yang baru saja kita bahas  terdengar menyedihkan. Ketenteraman kok diukur dari likes? Masa, orang lebih tenang kalau nonton drakor daripada ngobrol dengan tetangga? Kok, solidaritas hanya sebatas grup Telegram? Tapi bagi generasi sekarang, itulah otentisitas mereka. Mereka masih bisa merasakan ketenteraman bersama kawan atau keluarga dengan obrolan warung kopi, namun mereka memang juga sungguh tenteram dengan notifikasi, saldo e-wallet, dan streaming series.  Apakah ini suatu degradasi atau malah metamorfosis?

Di sinilah pilihan filosofisnya, apakah kita mau menyebut ini degradasi, sebagai masa jatuhnya manusia ke level dangkal, kehilangan kedalaman relasi, tercerabut dari kemanusiaan sejati? Atau apakah ini sebenarnya metamorfosis, suatu evolusi bentuk kemanusiaan, di mana ketenteraman lama mati, dan ketenteraman baru lahir, meski dengan wajah yang dianggap dingin dan cair? Jawaban mungkin tergantung posisi kita. Generasi lama akan merasa kehilangan, generasi baru merasa wajar, B aja. Sama seperti nenek moyang yang dulu tenteram dengan radio tabung, tapi anak cucunya merasa tenteram dengan Netflix.

Pelan-Pelan Belajar Menerima Bentuk Baru

Ketenteraman model baru ini mungkin memang tampak asing, bahkan getir. Tapi menolaknya sama dengan menolak arah sejarah. Yang bisa kita lakukan tentu bukan kembali ke masa lalu, melainkan belajar menerima dan mendefinisikan ulang ketenteraman di zaman cair ini. Mungkin, ke depan, rumah tak lagi jadi pusat kebahagiaan. Mungkin, sahabat dekat kita justru tinggal di server Discord ribuan kilometer jauhnya. Mungkin, rasa damai kita lahir bukan dari alam yang hijau, tapi dari layar sentuh di hadapan kita.

 Apakah itu palsu? Tidak. Itu otentik dalam konteks zaman. Wajar jika terasa menyakitkan bagi yang masih merindukan ketenteraman gaya lama, tapi sekaligus membuka kemungkinan bahwa kemanusiaan memang selalu bermetamorfosis. Tapi ngomong-ngomong, ngopi bareng tetangga RT memang terbaik. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Kemakmuran yang Menyesatkan
Tags: manusiamodern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pemecah Ilusi Kesetaraan Gender Melalui Klub Debat dan Diskusi

Next Post

Menyadari dan Resah Terhadap yang Politik

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Menyadari dan Resah Terhadap yang Politik

Menyadari dan Resah Terhadap yang Politik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co