22 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Metamorfosis Ketenteraman Manusia Kini

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

JIKA ada di antara sidang pembaca yang budiman yang coba ingat-ingat pada tahun 80-an, banyak rumah-rumah orang Indonesia sederhana saja. Banyak yang berdinding papan, perabotan seadanya, televisi masih barang langka. Tidak ada sofa empuk, tidak ada pendingin ruangan, apalagi gadget canggih. Namun, anehnya, saya merasa hidup saat itu terasa tenteram. Ada ketulusan dalam ngobrol di teras rumah, ada keintiman dalam makan bersama keluarga, ada solidaritas dalam gotong royong membersihkan kampung.

Sekarang ini rumah makin mewah, barang-barang elektronik berseliweran, dan e-wallet siap melayani gaya hidup instan. Tapi kenapa rasa tenteram itu kini kok entah ke mana. Yang ada justru hidup yang serba terburu-buru, penuh distraksi, dan banyak orang makin sering dihantui kecemasan soal eksistensi diri. Sebenarnya apakah sisi kemanusiaan kita sedang terkikis, ataukah kita memang sedang bermetamorfosis menuju bentuk kemanusiaan baru, yang saya kurang bisa paham, yang model ketenteramannya berganti kulit dengan caranya sendiri?

Nostalgia yang (Hampir) Mustahil

Banyak orang percaya, solusi dari keresahan modern adalah kembali ke kesederhanaan lama. Contohnya,  makan bersama tanpa gawai, ngobrol tatap muka, atau gotong royong di kampung. Kedengarannya manis, tapi jujur saja, itu seringnya hanya nostalgia yang sulit diwujudkan. Karena realitas hari ini dan struktur yang membentuknya tidak akan mungkin bisa mundur. 

Ada beberapa alasan yang saya kira cukup jelas.  Saat ini, hidup secara digital bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Kalau tidak ikut, kita memang bakal ketinggalan. Untuk urusan makan bersama pasti  jadi barang mewah. Jadwal kerja yang padat, anak sibuk sekolah dan les, waktu keluarga makin sempit dengan jadwal masing-masing. 

Bagaimana dengan gotong royong? Mohon maaf, para pembaca yang budiman, mindset transaksional sudah merajalela,  orang jaman digital ini mau membantu kalau ada timbal balik.  Mau kembali ke alam, alam sendiri sudah rusak di banyak tempat. Lagi pula tubuh manusia modern sudah terbiasa dengan AC, Netflix, dan ojek online.

Maka, usulan sederhana seperti “ayo lebih sering makan bersama” seringkai jadi terasa naif. Karena masalahnya bukan sekadar perilaku individu, tapi soal struktur sosial-ekonomi yang memaksa kita hidup cepat, efisien, dan serba digital.

Alienasi, Gestell, dan Modernitas Cair

Ternyata, apa yang kita alami bukan hal baru. Karl Marx sejak abad ke-19 sudah menulis tentang alienasi, manusia dalam sistem kapitalisme tercerabut dari pekerjaannya, dari sesamanya, bahkan dari dirinya sendiri. Jadi keresahan modern ini bukan kebetulan, tapi konsekuensi logis dari sistem. Martin Heidegger menambahkan bumbu penyedap, katanya, manusia modern terjebak dalam Gestell, kerangka teknologis, yang membingkai cara kita melihat dunia. Akibatnya, cara kita merasa tenteram pun, saya rasa ikut diatur oleh teknologi.

Masih belum selesai, bahkan Zygmunt Baumanpunya istilah lebih mutakhir.  Modernitas hari ini disebutnya sebagai liquid modernity alias modernitas cair. Segalanya serba sementara, pekerjaan, hubungan, bahkan identitas. Tengok saja bagaimana baru-baru ini Elon musk memecat 500 mentor AI Grok karena dianggap sudah tidak perlu. Mau diganti dengan mentor baru yang punya spesifikasi lebih tajam, tutor AI spesialis. Kebayang 500 orang yang tadinya dikontrak nyaman sekarang harus muter otak cari kerjaan lagi. Tidak ada lagi stabilitas yang memungkinkan kita duduk manis sambil meneguk kopi tubruk di sore hari. Kesimpulannya memang ketenteraman gaya lama mustahil diulang kembali. Yang lahir adalah bentuk baru ketenteraman, sesuai dengan logika zaman.

Wujud Ketenteraman Baru

Sekadar pemikiran rekreatif saja untuk kita semua, karena sekadar mengira-ngira ketenteraman model digital sepertinya cukup menghibur.  Kalau dulu tenteram berarti duduk ngobrol di teras rumah, sekarang tenteram berarti story Instagram kita dilihat banyak orang. “Like” saat ini sepertinya bisa sama legitnya dengan sapaan tetangga yang kebetulan lewat. Bisa juga ketenteraman dalam efisiensi dan kontrol. Dulu orang bisa bersikap tenang karena punya sikap nrimo,  kalau hujan, ya terima saja. Sekarang orang tenang karena tahu bisa memesan ojol dengan klik, atau melihat saldo keuangan lewat aplikasi. Makin banyak efisiensi  makin merasakan ketenteraman.

Nah, ada pula ketenteraman dalam konsumsi simbolis.  Budaya pamer di medsos alias flexing bukan sekadar sombong, tapi juga cara mendapat ketenangan. “Saya ada, saya diakui.” Foto liburan dengan view ciamik, kopi-kopi kekinian, atau gadget baru adalah penegasan identitas. Di sisi lain ada  yang menggapai ketenteraman dalam distraksi. Misal, Binge-watching Netflix, scrolling TikTok, atau nge-game bisa jadi bentuk relaksasi paling jujur. Hidup memang keras saudara,  distraksi boleh lah, jadi obat bius yang sah.

Model selanjutnya bisa kita sebut sebagai ketenteraman dalam mobilitas. Jadi, kalau dulu tenteram berarti punya tanah warisan, punya jaminan.  Beda jaman, sekarang tenteram berarti bisa pindah kota, kerja remote, atau traveling. Keterikatan diganti kebebasan bergerak.  Gotong royong tradisional mungkin punah, tapi komunitas hobi online, fandom, atau grup Discord muncul sebagai solidaritas cair. Tidak permanen, tapi cukup untuk bikin orang merasa tidak sendirian, suatu model ketenteraman dalam komunitas cair.

Menyakitkan bagi Model Lama

Bagi generasi lama, semua yang baru saja kita bahas  terdengar menyedihkan. Ketenteraman kok diukur dari likes? Masa, orang lebih tenang kalau nonton drakor daripada ngobrol dengan tetangga? Kok, solidaritas hanya sebatas grup Telegram? Tapi bagi generasi sekarang, itulah otentisitas mereka. Mereka masih bisa merasakan ketenteraman bersama kawan atau keluarga dengan obrolan warung kopi, namun mereka memang juga sungguh tenteram dengan notifikasi, saldo e-wallet, dan streaming series.  Apakah ini suatu degradasi atau malah metamorfosis?

Di sinilah pilihan filosofisnya, apakah kita mau menyebut ini degradasi, sebagai masa jatuhnya manusia ke level dangkal, kehilangan kedalaman relasi, tercerabut dari kemanusiaan sejati? Atau apakah ini sebenarnya metamorfosis, suatu evolusi bentuk kemanusiaan, di mana ketenteraman lama mati, dan ketenteraman baru lahir, meski dengan wajah yang dianggap dingin dan cair? Jawaban mungkin tergantung posisi kita. Generasi lama akan merasa kehilangan, generasi baru merasa wajar, B aja. Sama seperti nenek moyang yang dulu tenteram dengan radio tabung, tapi anak cucunya merasa tenteram dengan Netflix.

Pelan-Pelan Belajar Menerima Bentuk Baru

Ketenteraman model baru ini mungkin memang tampak asing, bahkan getir. Tapi menolaknya sama dengan menolak arah sejarah. Yang bisa kita lakukan tentu bukan kembali ke masa lalu, melainkan belajar menerima dan mendefinisikan ulang ketenteraman di zaman cair ini. Mungkin, ke depan, rumah tak lagi jadi pusat kebahagiaan. Mungkin, sahabat dekat kita justru tinggal di server Discord ribuan kilometer jauhnya. Mungkin, rasa damai kita lahir bukan dari alam yang hijau, tapi dari layar sentuh di hadapan kita.

 Apakah itu palsu? Tidak. Itu otentik dalam konteks zaman. Wajar jika terasa menyakitkan bagi yang masih merindukan ketenteraman gaya lama, tapi sekaligus membuka kemungkinan bahwa kemanusiaan memang selalu bermetamorfosis. Tapi ngomong-ngomong, ngopi bareng tetangga RT memang terbaik. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Kemakmuran yang Menyesatkan
Tags: manusiamodern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pemecah Ilusi Kesetaraan Gender Melalui Klub Debat dan Diskusi

Next Post

Menyadari dan Resah Terhadap yang Politik

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Besar Cerita, Besar Berita

by Angga Wijaya
May 21, 2026
0
Besar Cerita, Besar Berita

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

Read moreDetails

Hati-Hati Ada Proyek!

by Dede Putra Wiguna
May 21, 2026
0
Hati-Hati Ada Proyek!

DI Bali, terutama wilayah selatan, papan bertuliskan ‘Hati-Hati Ada Proyek’ bukan lagi sekadar penanda pembangunan. Ia telah menjadi semacam slogan...

Read moreDetails

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

by Lailatus Sholihah
May 20, 2026
0
‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

Read moreDetails

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

by Chusmeru
May 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

Read moreDetails

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

by Emi Suy
May 19, 2026
0
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

Read moreDetails

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

by Early NHS
May 19, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

Read moreDetails

Emansipasi Wanita di Baduy  [Satu Sudut Pandang]

by Asep Kurnia
May 19, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KESETARAAN gender telah lama dikumandangkan, namun secara pasti entah mulai abad keberapa muncul kesadaran kolektif tentang tuntutan kesetaraan gender oleh...

Read moreDetails

Artikulasi atau Bisik-Bisik, Penting Mana?

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 19, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, Hari Buruh kemarin, yang hampir kita lupakan, sebenarnya menyimpan satu momen kecil yang lebih menarik daripada...

Read moreDetails

Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

by I Gusti Made Darma Putra
May 19, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

Kita telah rajin merekam panggung, tetapi belum cukup serius merekam proses penciptaannya. Menjelang Pesta Kesenian Bali 2026, denyut kesenian Bali...

Read moreDetails

Mengapa Agama Kita Mengabarkan Lebih Banyak Berita Buruk?

by Putu Arya Nugraha
May 19, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

Sebuah paradoks tentunya. Agama, mestinya membawa hal-hal baik, bahkan meski jika itu sebuah ilusi seperti yang dikatakan oleh Karl Marx....

Read moreDetails
Next Post
Menyadari dan Resah Terhadap yang Politik

Menyadari dan Resah Terhadap yang Politik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan
Panggung

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

DUA sekaa gong yang mebarung atau tampil berhadap-hadapan memenuhi Bale Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng, dalam sebuah pertukaran...

by Komang Puja Savitri
May 21, 2026
Berguru ke Baduy Luar
Tualang

Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
Besar Cerita, Besar Berita
Esai

Besar Cerita, Besar Berita

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

by Angga Wijaya
May 21, 2026
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali
Khas

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
Hati-Hati Ada Proyek!
Esai

Hati-Hati Ada Proyek!

DI Bali, terutama wilayah selatan, papan bertuliskan ‘Hati-Hati Ada Proyek’ bukan lagi sekadar penanda pembangunan. Ia telah menjadi semacam slogan...

by Dede Putra Wiguna
May 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026
Gaya

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

SEMAKIN malam, semakin meriah juga suasana di Gedung Kesenian I Ketut Marya, pada Jumat, 8 Mei 2016. Tepuk tangan riuh...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”
Panggung

Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

"Memasuki tahap akhir inkubasi, Bang Dance merumuskan struktur dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebagai praktik koreografi kontemporer berbasis...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?
Khas

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital
Esai

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

by Lailatus Sholihah
May 20, 2026
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana
Ulas Musik

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’
Ulas Buku

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

by Inno Koten
May 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co