2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Metamorfosis Ketenteraman Manusia Kini

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

JIKA ada di antara sidang pembaca yang budiman yang coba ingat-ingat pada tahun 80-an, banyak rumah-rumah orang Indonesia sederhana saja. Banyak yang berdinding papan, perabotan seadanya, televisi masih barang langka. Tidak ada sofa empuk, tidak ada pendingin ruangan, apalagi gadget canggih. Namun, anehnya, saya merasa hidup saat itu terasa tenteram. Ada ketulusan dalam ngobrol di teras rumah, ada keintiman dalam makan bersama keluarga, ada solidaritas dalam gotong royong membersihkan kampung.

Sekarang ini rumah makin mewah, barang-barang elektronik berseliweran, dan e-wallet siap melayani gaya hidup instan. Tapi kenapa rasa tenteram itu kini kok entah ke mana. Yang ada justru hidup yang serba terburu-buru, penuh distraksi, dan banyak orang makin sering dihantui kecemasan soal eksistensi diri. Sebenarnya apakah sisi kemanusiaan kita sedang terkikis, ataukah kita memang sedang bermetamorfosis menuju bentuk kemanusiaan baru, yang saya kurang bisa paham, yang model ketenteramannya berganti kulit dengan caranya sendiri?

Nostalgia yang (Hampir) Mustahil

Banyak orang percaya, solusi dari keresahan modern adalah kembali ke kesederhanaan lama. Contohnya,  makan bersama tanpa gawai, ngobrol tatap muka, atau gotong royong di kampung. Kedengarannya manis, tapi jujur saja, itu seringnya hanya nostalgia yang sulit diwujudkan. Karena realitas hari ini dan struktur yang membentuknya tidak akan mungkin bisa mundur. 

Ada beberapa alasan yang saya kira cukup jelas.  Saat ini, hidup secara digital bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Kalau tidak ikut, kita memang bakal ketinggalan. Untuk urusan makan bersama pasti  jadi barang mewah. Jadwal kerja yang padat, anak sibuk sekolah dan les, waktu keluarga makin sempit dengan jadwal masing-masing. 

Bagaimana dengan gotong royong? Mohon maaf, para pembaca yang budiman, mindset transaksional sudah merajalela,  orang jaman digital ini mau membantu kalau ada timbal balik.  Mau kembali ke alam, alam sendiri sudah rusak di banyak tempat. Lagi pula tubuh manusia modern sudah terbiasa dengan AC, Netflix, dan ojek online.

Maka, usulan sederhana seperti “ayo lebih sering makan bersama” seringkai jadi terasa naif. Karena masalahnya bukan sekadar perilaku individu, tapi soal struktur sosial-ekonomi yang memaksa kita hidup cepat, efisien, dan serba digital.

Alienasi, Gestell, dan Modernitas Cair

Ternyata, apa yang kita alami bukan hal baru. Karl Marx sejak abad ke-19 sudah menulis tentang alienasi, manusia dalam sistem kapitalisme tercerabut dari pekerjaannya, dari sesamanya, bahkan dari dirinya sendiri. Jadi keresahan modern ini bukan kebetulan, tapi konsekuensi logis dari sistem. Martin Heidegger menambahkan bumbu penyedap, katanya, manusia modern terjebak dalam Gestell, kerangka teknologis, yang membingkai cara kita melihat dunia. Akibatnya, cara kita merasa tenteram pun, saya rasa ikut diatur oleh teknologi.

Masih belum selesai, bahkan Zygmunt Baumanpunya istilah lebih mutakhir.  Modernitas hari ini disebutnya sebagai liquid modernity alias modernitas cair. Segalanya serba sementara, pekerjaan, hubungan, bahkan identitas. Tengok saja bagaimana baru-baru ini Elon musk memecat 500 mentor AI Grok karena dianggap sudah tidak perlu. Mau diganti dengan mentor baru yang punya spesifikasi lebih tajam, tutor AI spesialis. Kebayang 500 orang yang tadinya dikontrak nyaman sekarang harus muter otak cari kerjaan lagi. Tidak ada lagi stabilitas yang memungkinkan kita duduk manis sambil meneguk kopi tubruk di sore hari. Kesimpulannya memang ketenteraman gaya lama mustahil diulang kembali. Yang lahir adalah bentuk baru ketenteraman, sesuai dengan logika zaman.

Wujud Ketenteraman Baru

Sekadar pemikiran rekreatif saja untuk kita semua, karena sekadar mengira-ngira ketenteraman model digital sepertinya cukup menghibur.  Kalau dulu tenteram berarti duduk ngobrol di teras rumah, sekarang tenteram berarti story Instagram kita dilihat banyak orang. “Like” saat ini sepertinya bisa sama legitnya dengan sapaan tetangga yang kebetulan lewat. Bisa juga ketenteraman dalam efisiensi dan kontrol. Dulu orang bisa bersikap tenang karena punya sikap nrimo,  kalau hujan, ya terima saja. Sekarang orang tenang karena tahu bisa memesan ojol dengan klik, atau melihat saldo keuangan lewat aplikasi. Makin banyak efisiensi  makin merasakan ketenteraman.

Nah, ada pula ketenteraman dalam konsumsi simbolis.  Budaya pamer di medsos alias flexing bukan sekadar sombong, tapi juga cara mendapat ketenangan. “Saya ada, saya diakui.” Foto liburan dengan view ciamik, kopi-kopi kekinian, atau gadget baru adalah penegasan identitas. Di sisi lain ada  yang menggapai ketenteraman dalam distraksi. Misal, Binge-watching Netflix, scrolling TikTok, atau nge-game bisa jadi bentuk relaksasi paling jujur. Hidup memang keras saudara,  distraksi boleh lah, jadi obat bius yang sah.

Model selanjutnya bisa kita sebut sebagai ketenteraman dalam mobilitas. Jadi, kalau dulu tenteram berarti punya tanah warisan, punya jaminan.  Beda jaman, sekarang tenteram berarti bisa pindah kota, kerja remote, atau traveling. Keterikatan diganti kebebasan bergerak.  Gotong royong tradisional mungkin punah, tapi komunitas hobi online, fandom, atau grup Discord muncul sebagai solidaritas cair. Tidak permanen, tapi cukup untuk bikin orang merasa tidak sendirian, suatu model ketenteraman dalam komunitas cair.

Menyakitkan bagi Model Lama

Bagi generasi lama, semua yang baru saja kita bahas  terdengar menyedihkan. Ketenteraman kok diukur dari likes? Masa, orang lebih tenang kalau nonton drakor daripada ngobrol dengan tetangga? Kok, solidaritas hanya sebatas grup Telegram? Tapi bagi generasi sekarang, itulah otentisitas mereka. Mereka masih bisa merasakan ketenteraman bersama kawan atau keluarga dengan obrolan warung kopi, namun mereka memang juga sungguh tenteram dengan notifikasi, saldo e-wallet, dan streaming series.  Apakah ini suatu degradasi atau malah metamorfosis?

Di sinilah pilihan filosofisnya, apakah kita mau menyebut ini degradasi, sebagai masa jatuhnya manusia ke level dangkal, kehilangan kedalaman relasi, tercerabut dari kemanusiaan sejati? Atau apakah ini sebenarnya metamorfosis, suatu evolusi bentuk kemanusiaan, di mana ketenteraman lama mati, dan ketenteraman baru lahir, meski dengan wajah yang dianggap dingin dan cair? Jawaban mungkin tergantung posisi kita. Generasi lama akan merasa kehilangan, generasi baru merasa wajar, B aja. Sama seperti nenek moyang yang dulu tenteram dengan radio tabung, tapi anak cucunya merasa tenteram dengan Netflix.

Pelan-Pelan Belajar Menerima Bentuk Baru

Ketenteraman model baru ini mungkin memang tampak asing, bahkan getir. Tapi menolaknya sama dengan menolak arah sejarah. Yang bisa kita lakukan tentu bukan kembali ke masa lalu, melainkan belajar menerima dan mendefinisikan ulang ketenteraman di zaman cair ini. Mungkin, ke depan, rumah tak lagi jadi pusat kebahagiaan. Mungkin, sahabat dekat kita justru tinggal di server Discord ribuan kilometer jauhnya. Mungkin, rasa damai kita lahir bukan dari alam yang hijau, tapi dari layar sentuh di hadapan kita.

 Apakah itu palsu? Tidak. Itu otentik dalam konteks zaman. Wajar jika terasa menyakitkan bagi yang masih merindukan ketenteraman gaya lama, tapi sekaligus membuka kemungkinan bahwa kemanusiaan memang selalu bermetamorfosis. Tapi ngomong-ngomong, ngopi bareng tetangga RT memang terbaik. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Kemakmuran yang Menyesatkan
Tags: manusiamodern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pemecah Ilusi Kesetaraan Gender Melalui Klub Debat dan Diskusi

Next Post

Menyadari dan Resah Terhadap yang Politik

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Menyadari dan Resah Terhadap yang Politik

Menyadari dan Resah Terhadap yang Politik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co