2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pemecah Ilusi Kesetaraan Gender Melalui Klub Debat dan Diskusi

Luh Putu Sendratari by Luh Putu Sendratari
October 2, 2025
in Opini
Pemecah Ilusi Kesetaraan Gender Melalui Klub Debat dan Diskusi

GENDERANG kesetaraan gender sebagai isu prioritas gobal sebenarnya sudah dipukul sejak tahun 2018 dalam Annual Meetings IMF-WBG melalui Seminar Womesn’s Participation for Economic Inclusiveness yang digelar di Surabaya, Selasa (2/8/2018). Agenda ini tentulah bukanlah hal yang pertama adanya perhatian pihak global terhadap pentingnya isu kesetaraan. Terbukti dari adanya tindakan meratifikasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (CEDAW) melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984.

Ratifikasi ini dilakukan pada tanggal 24 Juli 1984. Konvensi CEDAW sendiri adalah perjanjian internasional yang ditetapkan oleh PBB pada tahun 1979 untuk menghapus diskriminasi terhadap perempuan di seluruh dunia. Dan, Indonesia adalah salah satu negara yang ikut serta menandatangi hal itu. Implikasinya adalah ada kekuatan hukum yang mengikat agar negara yang bersangkutan merealisasi ketentuan yang tercantum di dalam konvensi.

Apakah terdapat persamaan antara Konvesi CEDAW dengan Kesetaraan Gender?  

Tentunya ada. Keduanya bertujuan untuk menghapus diskriminasi dan memastikan perlakuan yang setara bagi semua individu tanpa memandang jenis kelamin. CEDAW secara spesifik berfokus pada penghapusan diskriminasi terhadap perempuan di berbagai bidang kehidupan, sementara kesetaraan gender adalah prinsip yang lebih luas yang mencakup penghapusan segala bentuk diskriminasi berdasarkan jenis kelamin, baik terhadap perempuan maupun laki-laki. Dalam kaitan konsep kesetaraan gender, di mana-mana selalu di artikan sebagai kondisi yang memberikan perempuan dan laki-laki memiliki hak, kesempatan, perlakuan dan akses yang sama dalam berbagai aspek kehidupan.

Pertanyaan menariknya adalah mengapa prihal kesetaraan gender itu menjadi begitu gentingnya, sampai harus masuk agenda global. Jawaban mendasar atas hal ini dapat dicari pada urusan filosofis dengan melihat perempuan dan laki-laki itu sama-sama manusia. Cara membahasakan mereka yang peduli tentang hal ini tercandrakan dalam bahasa yang berbeda pula, Misalnya pandangan dari pihak:

Elite Pembangunan ketimpangan akses terhadap keduanya akan  merugikan pembangunan yang berkelanjutan”;

Feminis Libral : “kesetaraan gender itu penting agar perempuan mendapat kepastian akses yang sama dengan laki-laki dalam hal Pendidikan,Politik, Pekerjaan, dan Hukum”

Feminis Radikal:”kesetaraan gender adalah pemastian bahwa perempuan terhindar dari kekerasan fisik dan berbasis gender”.

Advokat pun punya kepedulian yang intens tentang isu kesetaraan gender. Justitia Avila Veda, pendiri Kolektif Advokat untuk Keadilan Gender (KAKG), adalah contoh advokat yang mendedikasikan dirinya pada isu ini. MOHAMMAD HILMI FAIQ memberikan julukan kepadanya sebagai intelektual organic pembela korban kekerasan seksual. Kegerahan terhadap fenomena kekerasan terhadap perempuan dapat dikaitkan dengan tanggapan tentang “menjadi perempuan Indonesia adalah penyintas” (https://www.kompas.id/baca/tokoh/2023/10/17/justitia-avila-veda-intelektual-organik-pembela-korban-kekerasan-seksual).

Konteknya adalah menjadi perempuan Indonesia mesti punya kesanggupan untuk bertahan di tengah-tengah budaya kekerasan yang dialami oleh banyak perempuan Indonesia. Predikat penyintas apakah harus diartikan sanjungan atau gunjingan? Bangga karena punya kesanggupan bertahan di tengah lingkaran kekerasan atau prihatin karena terus menerus menjadi bahan pembicaraan tidak kunjung usai.

Tulisan ini pun hadir ingin meramaikan persoalan kesetaraan gender yang terus menerus diperjuangkan dan belum usai juga. Relevan kiranya berpegang pada pandangan bahwa “hidup ini adalah medan pertarungan” yang bersumber dari  filsafat Nietzsche. Oleh karenanya, prihal kesetaraan gender di tengah ancaman kekerasan berbasis gender harus diperjuangkan, bukan sesuatu yang gratis.

Perjuangan itu pun telah tampak jika tolehan kita tujukan atas perjalanan sejarah oleh  aktor sejarah di masa lalu maupun masa kini. Tokoh emansipasi perempuan telah dibakukan untuk sederetan perempuan Indonesia yakni R.A Kartini; Dewi Sartika; Cut Nyak Dhien; Cut Nyak Meutia; Rasuna Said dan Keumalahayati. Mereka berjuang di periode colonial. Melalui gayanya masing-masing semuanya berjuang atas nama hak-hak perempuan dan kesetaraan gender di Indonesia. Munculnya organisasi perempuan pertama di Indonesia Tahun 1912 Poetri Mardika ternyata didukung oleh perempuan pribumi yang sangat visioner dengan tujuan pokok memajukan Pendidikan dan pemberdayaan perempuan pribumi.

Tidak berhenti sampai di sana, Gerakan yang memperjuangkan hak-hak perempuan berlanjut di era awal kemerdekaan dengan munculnya tokoh SK Tri Murti yang dikenal sebagai seorang jurnalis dan sekaligus aktivitas perempuan yang berjuang atas nama buruh perempuan dan aktif dalam berbagai organisasi perempuan. Tahun 1947-1948 diangkat menjadi Menteri Perburuhan pertama. Kedudukan ini melalui proses panjang yang telah ditunjukkan mulai tahun 1933 di saat beliau bergabung dalam  Partai Politik Partindo yang membuka jalan menjadi jurnalis penulis pertama di Surat Kabar Pikiran Rakyat dan Suluh Indonesia Muda.

Sebagai seorang jurnalis, kepekaannya terhadap masalah social, termasuk ketimpangan gender terasah dari pengalaman sejak kecil dengan mengamati perbedaan kehidupan pribadi dengan rakyat jelata. Perjuangan berlanjut di Era Reformasi dengan munculnya   gerakan feminisme di Indonesia juga berhasil mendorong pengesahan Undang-Undang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis pada tahun 2008, dan ini menjadi tonggak penting dalam upaya penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan.

Kemunculan Gerakan Feminis Kontemporer menjadi begitu dekat di hidup kekinian. Generasi milineal muncul melalui penggunaan media social sebagai alat perjuangan untuk mempersoalkan kekerasan gender, ketimpangan ekonomi maupu prihal politik. Kehadiran Gerakan ini muncul dalam wujud kampanye-kampanye di media massa untuk membangun kesadaran masyarakat pembacanya lewat platform digital dalam melawan kekerasan dan diskriminasi. Komnas Perempuan secara aktif melakukan aksi dalam menggalang dukungan dari masyarakat luas dan mendesak pemerintah untuk  mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (#GerakBersama Melawan Kekerasan Seksual dengan Berlari).

Berpegang pada jargon animal educandum dan animal educandus (mahluk yang di dididik dan mendidik)sudah sepatutnya, harapan untuk menggapai ilusi tentang kesetaraan gender masih bisa diandalkan. Mengingat Pendidikan adalah upaya sadar untuk menuntun harkat dan kepribadian setiap umat manusia. Perhatian bidang Pendidikan dalam urusan kesetaraan gender bukan hanya berurusan dengan ketersediaan kurikulum yang inklusif, lingkungan belajar yang aman, namun yang tidak kalah pentingnya adalah hadirnya guru yang reponsif.

Salah satu gagasan yang bisa dicobakan adalah guru membentuk klub debat dan diskusi di ruang-ruang kelas. Klub debat dan diskusi tentang kesetaraan gender punya keunikan. Keunikannya terletak pada topik-topik yang secara khusus berkaitan dengan isu kesetaraan gender. Materi debatnya dapat berkisar tentang 1) Kesetaraan Gender Perempuan dan Laki-laki; 2) Kekerasan Berbasis Gender; 3) Peran Gender dan Kodrat; 4) Steriotyp Gender; 5) Perempuan dan Adat.

Digulirkannya konsep Deep Learning oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah saat diimplementasikan akan melatihkan peserta didik berpikir kritis, pembelajaran adap masalah dan belajar memecahkan masalah, dan berlatih berkomunikasi. Klub debat akan berlatih semuanya sesuai hakekat Deep Learning. Dan yang tidak kalah pentingnya isu-isu gender adalah isu keseharian yang dekat dengan pengalaman empiric peserta didik. Bahan berlatih debat pun dewasa ini tidak sulit didapat.

Perkembangan e-book dan sumber belajar lainnya tersedia di internet bisa membantu guru melatihkan murid untuk bisa memiliki keterampilan memahami akar persoalan ketimpangan gender, pentingnya kesetaraan gender dan kendala mencapai kesetaraan gender. Intinya, masuknya isu gender dalam klub debat dimaksudkan untuk merealisasi masa depan yang lebih baik untuk semua orang.

Dalam menjaga kualitas klub perlu dipastikan anak-anak yang masuk sebagai anggota klub memang perlu dipastikan punya sensitive gender, kepedulian terhadap isu gender mengingat materi debat akan melibatkan emosional. Guru pendamping  pun harus hadir sebagai sosok yang memiliki kepedulian tentang isu gender.

Ini mutlak diperlukan, agar klub bisa berjalan produktif, mengingat aksi klub dapat dikembangkan dalam bentuk aktivitas di luar sekolah dalam bentuk kampanye dan advokasi dalam membangun kesadaran masyarakat. Perluasan aksi sekaligus melatihkan anggota klub berkolaborasi dengan organisasi yang memiliki focus yang sama tentang kesetaraan gender. Kolaborasi pun bisa dijadikan ajang untuk memperluas kegiatan yang sesuai dengan jiwa orang-orang muda. Misalnya pembuatan poster untuk bahan kampanye berbasis digital, lomba karya tulis, pengabdian untuk anak-anak putus sekolah.

Siapkah sekolah melahirkan klub yang peduli dengan urusan kesetaraan gender ?. Secara normative harusnya siap, jika diingat ada Inpres No 9 Tahun 2000 tentang Pengarus Utamaan Gender (PUG), dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2011  yang mengamatkan agar semua instansi pemerintah dalam perumusan berbagai kebijakannya memasukkan ke dalam arus utama dan juga dalam perencanaan anggaran memperhitungkan pula anggaran yang responsive. Diimbangi dengan good will pemerintah kabupaten menyikapi kebijakan PUG, maka adanya klub debat dan diskusi di sekolah bukan hal sulit diwujudkan. Penyusunan tema dan tujuan debat; pembentukan tim afirmasi dan tim oposisi; penunjukkan moderator dan pengaturan waktu debat merupakan komponen aktivitas debat.

Siapa yang bisa menjadi garda depan klub debat dan diskusi kesetaraan gender di dunia sekolah ? Rekomendasinya dapat disebut jurusan bahasa, humaniora dan ilmu social. Rasonalnya adalah anak-anak ang digolongkan dalam ilmu tersebut seringkali diberikan label : “biang keributan”, “anak-anak nakal”; “nilainya rendah”; “gemar membolos”; “penampilan awut-awutan”.

Bisakah label diartikan betapa besar energi yang dimiliki anak-anak di ilmu social untuk dikondisikan kearah yang produktif sehingga tidak terjadi pembiaran atas label telah dilekatkan dalam jangka waktu yang sangat lama yang membuat mereka sebagai insan yang tidak produktif,tidak demikian halnya pada siswa di ilmu kealaman ketiban predikat kumpulan anak2 pintar, kalm dan produktif.

Upaya perbaikan label negative dapat dikontruksi lewat penyaluran energi yang dimiliki anak-anak ilmu social melalui kemasan klub ekstrakurikuler sebagai penyalur talentanya. Klub debat adalah ruang berlatih menyalurkan komunikasi, sehingga label biang keributan berganti menjadi biang berargumen. Ini adalah keniscayaan di tangan guru-guru yang inovatif. [T]

Penulis: Luh Putu Sendratari
Editor: Adnyana Ole

Tags: Genderkesetaraan gederPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lupita Sari Dewi dan Andy Sri Wahyudi, Duo Wanara dengan Mahluk-mahluk Lain di Sekitarnya

Next Post

Metamorfosis Ketenteraman Manusia Kini

Luh Putu Sendratari

Luh Putu Sendratari

Prof. Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., guru besar bidang kajian budaya Undiksha Singaraja

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Metamorfosis Ketenteraman Manusia Kini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co