5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Runtuhnya Marwah Penelitian Indonesia

Ruben Cornelius Siagian by Ruben Cornelius Siagian
October 3, 2025
in Opini
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Ruben Cornelius Siagian

Pengantar

FENOMENA jual beli artikel penelitian, jurnal, bahkan buku akademik, kini kian menjadi praktik yang lazim di dunia akademik Indonesia. Apa yang semestinya lahir dari jerih payah intelektual, riset lapangan, serta pergulatan ide dan data, kini bisa diperoleh hanya dengan transaksi uang. Praktik ini mencederai etika akademik, dan menodai marwah penelitian itu sendiri. ia melahirkan ekosistem penelitian yang rapuh, di mana publikasi dipandang sebagai komoditas, bukan sebagai pencapaian ilmiah yang bermakna.

Dalam pusaran praktik semacam itu, saya selaku peneliti independen yang bekerja dengan keterbatasan, tanpa sokongan dana, merasa semakin tersisih. Kami yang berjuang siang dan malam dengan modal idealisme dan komitmen ilmiah, tidak jarang mendapati hasil kerja kerasnya terpinggirkan oleh publikasi instan yang “dibeli”. Inilah paradoks dunia akademik kita, bahwa kerja keras sering tak dihargai, sementara kepalsuan diberi ruang untuk bersemayam. Jika keadaan ini terus dibiarkan, bukan hanya peneliti yang dirugikan, melainkan juga bangsa yang kehilangan ruh pengetahuannya.

Pengalaman Pribadi Penulis

Dalam perjalanan akademik, saya sebagai penulis sekaligus peneliti menekankan pengalaman pribadi yang berbeda dari praktik dominan dalam dunia penelitian di Indonesia. Penelitian dilakukan tanpa sokongan dana, hibah, ataupun fasilitas institusi besar. Proses yang saya lakukan menerapkan konsep Academic Independence sebagaimana dikemukakan oleh Lovitts, B. E. (2008), telah menjelaskan bahwa peneliti independen sering kali bertahan dengan motivasi intrinsik dan idealisme keilmuan, bukan karena dukungan struktural.[1]

Kekecewaan saya semakin mendalam ketika upaya konkret untuk memperoleh pengakuan resmi atas karya ilmiah yang telah saya kerjakan dengan tekun, dedikasi, dan integritas tinggi tidak membuahkan hasil. Saya telah mengirimkan permintaan resmi kepada Kepala BRIN untuk mempertimbangkan saya sebagai kandidat peneliti yang termuda dengan karya terbanyak yang telah saya selesaikan, bahkan melampirkan seluruh dokumentasi yang diperlukan. Namun, hingga saat ini, tidak ada respons apapun. Padahal, rekor MURI yang saya ajukan pun memerlukan verifikasi dari BRIN sebagai otoritas ilmiah nasional, tetapi prosedur tersebut tampaknya terhenti tanpa kejelasan.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan serius, bahwa apakah ketidakresponsifan ini merupakan cerminan dari fenomena praktik jual beli artikel yang marak, di mana penghargaan dan pengakuan cenderung lebih diberikan kepada publikasi instan yang diperoleh melalui transaksi daripada kerja keras akademik yang autentik?. Fenomena ini sesuai dengan temuan Fanelli (2010), memperlihatkan bagaimana tekanan kuantitas publikasi dan praktik menyimpang dapat mengabaikan peneliti independen, sehingga kejujuran ilmiah dan dedikasi yang nyata tidak mendapatkan tempat yang layak dalam ekosistem akademik Indonesia.[2]

Kebijakan publikasi sering kali mengedepankan kuantitas, bukan kualitas. Hal ini sejalan dengan kajian oleh David, P. A. (1993) mengenai Matthew Effect dalam sains, di mana sistem cenderung menghargai akumulasi “hasil” formal seperti banyaknya publikasi daripada substansi keilmuan yang dihasilkan.[3] Bagi saya selaku peneliti independen, kondisi ini mengikis semangat, dan memperlihatkan ketidakadilan struktural dalam dunia akademik.

Studi Kasus Internasional

Fenomena jual beli artikel dan publikasi instan tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menimbulkan dampak serius di berbagai negara, menurunkan kredibilitas akademik dan integritas ilmiah.

Di Nigeria praktik publikasi instan dan jual beli artikel telah menimbulkan krisis kredibilitas akademik. Banyak peneliti muda yang memilih jalur cepat untuk memenuhi target kuantitas publikasi, mengesampingkan kualitas dan substansi penelitian.[4] Bahkan, beberapa universitas menemukan kasus mahasiswa doktoral memperoleh gelar melalui publikasi yang dibeli dari penulis pihak ketiga, tanpa melakukan riset nyata, sehingga menimbulkan pertanyaan serius mengenai integritas penelitian di tingkat institusi.[5]

Di Eropa Barat, tekanan untuk mempublikasikan karya secara kuantitatif juga mendorong praktik ilmiah yang menyimpang. Beberapa jurnal di Inggris dan Belanda harus menarik kembali puluhan artikel setelah terungkap bahwa penulis menggunakan data yang dibuat-buat atau memanfaatkan jasa “ghostwriting” dari pihak ketiga.[6] Kasus ini kemudian memicu audit etik di beberapa universitas untuk memperbaiki integritas publikasi akademik.

Di Amerika Serikat, tekanan karier memunculkan fenomena “academic misconduct” yang berujung pada ilusi prestise akademik.[7] Beberapa dokter dan peneliti medis menggunakan jasa penulisan artikel untuk memenuhi target publikasi, sehingga memperoleh kesan prestise tanpa kontribusi ilmiah yang nyata.[8] Beberapa rumah sakit dan universitas kemudian melakukan investigasi internal terhadap publikasi staf yang terbukti dibantu ghostwriter, yang berakibat pada sanksi akademik hingga pencabutan sertifikasi.

Di Tiongkok, praktik serupa dikenal dengan fenomena “paper mill,” yaitu perusahaan yang menjual artikel ilmiah kepada peneliti yang ingin cepat naik jabatan atau memenuhi persyaratan beasiswa.[9] Pada tahun 2020, ribuan artikel internasional ditarik setelah terungkap berasal dari jasa penulisan instan, merusak reputasi institusi akademik Tiongkok di kancah global.[10]

Di India, fenomena ini juga muncul dalam bentuk “academic capitalism,” di mana publikasi dijadikan komoditas.[11] Praktik ini mendorong persaingan tidak sehat dan menggeser motivasi intrinsik peneliti. Beberapa universitas melaporkan adanya layanan komersial yang menjual artikel lengkap beserta referensi kepada dosen dan mahasiswa, menimbulkan debat etika nasional terkait kualitas pendidikan tinggi.

Dampak praktik publikasi instan pun bersifat global, terutama terhadap peneliti independen dan kepercayaan publik terhadap penelitian. Investasi pemerintah dan dukungan terhadap peneliti independen menentukan daya saing riset nasional. Namun, praktik publikasi instan melemahkan posisi peneliti mandiri yang bekerja dengan jujur. Banyak peneliti independen di berbagai negara mengeluhkan karya mereka tidak diakui atau diverifikasi, sementara publikasi instan dari jaringan komersial justru mendapatkan penghargaan dan pengakuan resmi.

Fenomena Jual Beli Artikel adalah Masalah Serius Akademik

Fenomena jual beli artikel penelitian bukan sekadar praktik transaksional yang mencederai etika akademik, tetapi juga sebuah gejala yang mengguncang fondasi integritas ilmiah. Di dunia akademik, publikasi seharusnya menjadi bukti dari kerja keras, orisinalitas pemikiran, dan ketekunan metodologis. Namun, ketika publikasi dapat diperoleh dengan cara membeli naskah atau jasa penulisan instan, makna publikasi itu sendiri tereduksi menjadi sekadar formalitas administratif. Fenomena ini menimbulkan apa yang disebut sebagai “ilusi simbolik,” yakni pencapaian prestise tanpa basis substantif. Publikasi hasil jual beli menghadirkan citra prestasi yang semu, sementara esensi riset yakni proses pencarian pengetahuan yang hilang sama sekali. 

Bagi peneliti murni yang bekerja dengan keterbatasan dana dan sumber daya, fenomena ini menghadirkan ketidakadilan yang mencolok. Mereka menghabiskan waktu, energi, dan pikiran untuk menyusun kerangka penelitian, melakukan pengumpulan data, hingga analisis yang melelahkan, hanya untuk mendapati bahwa pencapaian mereka disejajarkan dengan publikasi instan yang dibeli tanpa riset nyata. Hal ini sejalan dengan temuan Plevris, V. (2025) yang menyatakan bahwa tekanan publikasi dapat mendorong perilaku tidak etis, termasuk fabrikasi, plagiarisme, dan transaksi artikel.[12] Sehingga jual beli artikel memperlebar jurang antara peneliti idealis dan mereka yang memilih jalan pintas. 

Di tingkat internasional, dampak dari praktik ini lebih serius. Kualitas jurnal dan publikasi akademik dari Indonesia semakin dipertanyakan ketika banyak naskah tidak lahir dari proses riset yang sahih. Adapun kredibilitas publikasi menjadi indikator utama reputasi akademik suatu negara.[13] Jika reputasi ini tergerus akibat maraknya publikasi transaksional, maka kontribusi pengetahuan Indonesia di panggung global akan dianggap rendah dan tidak terpercaya. Pada titik ini, marwah peneliti tidak hanya dirusak di ranah lokal, tetapi juga dicoreng di kancah internasional. 

Sehingga dari fenomena jual beli artikel bukanlah masalah kecil atau sekadar pelanggaran etika individu, melainkan sebuah ancaman sistemik terhadap bangunan akademik. Ia melemahkan integritas ilmiah, menciptakan ilusi prestasi, mendiskreditkan kerja keras peneliti sejati, dan meruntuhkan reputasi publikasi akademik Indonesia di mata dunia. 

Dampak terhadap Ekosistem Penelitian dan Generasi Akademik

Dampak jual beli artikel terhadap ekosistem penelitian dan generasi akademik tidak dapat dianggap sepele. Ketika publikasi ilmiah yang seharusnya merepresentasikan kerja keras, ketekunan metodologis, dan integritas intelektual berubah menjadi komoditas yang bisa diperjualbelikan, maka marwah penelitian mengalami degradasi serius. Publikasi tidak lagi dipandang sebagai puncak dari proses panjang pencarian ilmu, tetapi hanya sebagai formalitas administratif untuk memenuhi tuntutan karier atau kepangkatan akademik. Fenomena ini berpotensi memunculkan budaya akademik yang dangkal, di mana kualitas riset dikesampingkan demi kuantitas publikasi semu.

Penelitian sebelumnya menegaskan hal ini. Eren, E. (2025), dalam kajian tentang “academic capitalism”, menyebut bahwa ketika publikasi ilmiah didorong oleh motif pasar, maka terjadi komodifikasi pengetahuan yang menurunkan nilai intrinsik penelitian.[14] Sementara Mulkay, M. J. (1976) dengan teorinya tentang norma sains yang mencakup komunalisme, universalitas, disinterestedness, dan skeptisisme terorganisir menjelaskan bahwa pelanggaran terhadap norma ini akan merusak tatanan ilmiah.[15] Jual beli artikel jelas bertentangan dengan prinsip disinterestedness, karena riset tidak lagi dilakukan demi kebenaran ilmiah, melainkan demi keuntungan finansial atau kepentingan pragmatis semata.

Bagi generasi peneliti muda, fenomena ini sangat merusak motivasi. Ketika mereka melihat bahwa jalan pintas melalui transaksi publikasi lebih dihargai dibanding kerja keras berbulan-bulan di laboratorium atau lapangan, maka muncul rasa apatis dan hilangnya teladan akademik. Kajian LaFollette, M. C. (1992) tentang integritas riset menunjukkan bahwa lingkungan akademik yang permisif terhadap manipulasi dan praktik curang akan memperbesar kemungkinan peneliti muda mengikuti pola serupa.[16] Sehingga praktik jual beli artikel dapat menular menjadi budaya yang mengakar, bukan sekadar kasus individual.

Apabila hal ini dibiarkan, ekosistem akademik berpotensi lumpuh. Universitas sebagai institusi penghasil ilmu pengetahuan kehilangan fungsinya sebagai penjaga integritas ilmiah, sementara masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap hasil penelitian yang dipublikasikan. Degradasi kualitas publikasi akan menurunkan daya saing akademik Indonesia di mata internasional. Hal ini sejalan dengan temuan Nnaji, J. C. (2018) yang mengingatkan bahwa publikasi berkualitas rendah dalam jumlah besar justru dapat merusak reputasi suatu negara di ranah akademik global.[17]

Apa yang Seharusnya Dilakukan oleh Pemerintah?

Peran pemerintah dalam mengembalikan marwah penelitian menjadi penting di tengah maraknya fenomena jual beli artikel ilmiah yang telah mencoreng integritas akademik. Pemerintah tidak hanya berfungsi sebagai regulator, tetapi juga sebagai fasilitator dan pengawas yang memastikan bahwa publikasi ilmiah benar-benar lahir dari proses penelitian yang orisinal. Menurut teori triple helix yang dikembangkan Etzkowitz dan Leydesdorff (2000), pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkelanjutan hanya dapat tercapai melalui sinergi antara universitas, industri, dan pemerintah.[18] Jika salah satu unsur ini tidak menjalankan perannya secara optimal dalam hal ini pemerintah maka ekosistem penelitian akan timpang dan berpotensi runtuh.

Reformasi kebijakan publikasi menjadi langkah pertama yang harus dilakukan. Audit etik dan pengawasan ketat terhadap praktik publikasi instan penting untuk memastikan transparansi dalam setiap proses akademik. Sebagaimana ditegaskan Macfarlane, B. (2024) melalui norma ilmiah CUDOS (Communalism, Universalism, Disinterestedness, Organized Skepticism), sains hanya bisa tumbuh jika dijalankan dengan kejujuran dan akuntabilitas. [19]

Pemberian insentif, hibah, maupun dukungan finansial bagi peneliti independen perlu diperkuat. Banyak peneliti di Indonesia yang bekerja tanpa dukungan lembaga besar, tetapi menghasilkan karya yang substansial. Tanpa dukungan pemerintah, potensi ini akan terbuang percuma. Studi Stolyarova, V., Stolyarova, Z., & Troshin, A. (2020, March) menegaskan bahwa investasi negara dalam penelitian independen merupakan salah satu faktor penentu daya saing global dalam bidang ilmu pengetahuan.[20] Sehingga kebijakan yang berpihak pada peneliti mandiri bukan hanya soal keadilan, tetapi juga strategi nasional untuk memperkuat basis riset.

Pemerintah juga harus menyediakan wadah publikasi nasional yang benar-benar kredibel. Bukan sekadar menumpuk kuantitas artikel, melainkan menekankan kualitas, kebermanfaatan, dan relevansi penelitian dengan persoalan bangsa. Hal ini sejalan dengan gagasan Gibbons, M. (2003) tentang Mode 2 Knowledge Production, yaitu penelitian yang tidak hanya berbasis disiplin ilmu semata, tetapi juga memiliki orientasi pada problem solving dan kepentingan masyarakat luas.[21]

Adapun penghargaan bagi penelitian orisinal harus ditingkatkan. Memberikan apresiasi kepada karya yang lahir dari dedikasi, bukan dari transaksi, merupakan cara konkret pemerintah untuk mengangkat kembali martabat peneliti. Tanpa adanya sistem penghargaan yang adil, peneliti muda akan cenderung memilih jalan pintas, dan integritas keilmuan akan terus tergerus. Sehingga kebijakan yang berkeadilan dan berorientasi kualitas akan menjadi fondasi utama untuk mengembalikan marwah penelitian Indonesia ke jalur yang seharusnya.

Refleksi dan Seruan Moral

Refleksi atas fenomena jual beli artikel penelitian membawa kita pada pertanyaan mendasar, bahwa apakah penelitian masih bernilai jika publikasi dapat diperoleh melalui transaksi finansial semata? Pertanyaan ini bukan sekadar retoris, melainkan menyentuh jantung etika akademik dan keberlangsungan ilmu pengetahuan itu sendiri. Dalam kerangka teori etika akademik, seperti yang ditegaskan oleh Macrina, F. L. (2014) mengenai responsible conduct of research, integritas penelitian adalah fondasi yang menjaga keberlanjutan kepercayaan publik terhadap sains.[22] Jika publikasi bergeser menjadi komoditas yang diperjualbelikan, maka nilai epistemologis dari penelitian akan terkikis dan berganti dengan nilai pragmatis belaka.

Bagi peneliti sejati, menjaga integritas adalah panggilan moral, meskipun jalan yang ditempuh seringkali sunyi dan tidak mendapat penghargaan yang layak. Penelitian sejatinya bukan hanya produk untuk memenuhi target angka publikasi, melainkan proses pencarian kebenaran ilmiah yang penuh dengan dedikasi, kesabaran, dan kerja keras. Seperti dikemukakan oleh Kohn, M. (2009) melalui normanya tentang communalism dan disinterestedness, ilmu pengetahuan seharusnya dipandang sebagai milik bersama umat manusia yang dibangun atas dasar ketulusan, bukan kepentingan pribadi atau transaksi komersial.[23]

Namun, tanggung jawab menjaga marwah penelitian tidak hanya terletak pada pundak individu peneliti. Negara dan masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya. Publikasi akademik adalah fondasi pembangunan ilmu pengetahuan yang akan menentukan arah bangsa di masa depan. Jika publikasi dapat dibeli, maka bangsa ini sedang membangun rumah pengetahuan di atas fondasi yang rapuh. Penelitian palsu atau instan tidak akan pernah menopang pembangunan yang berkelanjutan. Sebaliknya, ia akan melahirkan generasi akademik yang terbiasa mengambil jalan pintas dan kehilangan motivasi untuk berjuang.

Sehingga refleksi moral ini harus menjadi seruan bersama. Peneliti dituntut untuk menjaga integritas, meski pahit menghadapi ketidakadilan. Pemerintah perlu memberi ruang, dukungan, dan penghargaan kepada penelitian orisinal yang lahir dari kerja keras. Masyarakat pun harus belajar menghargai proses ilmiah, bukan sekadar hasil cetakan jurnal. Hanya dengan itu, kita dapat mengembalikan nilai penelitian sebagai pilar ilmu pengetahuan dan bukan sekadar komoditas yang bisa diperjualbelikan.

Penutup

Fenomena jual beli artikel penelitian merupakan ancaman nyata yang menggerogoti integritas riset di Indonesia. Praktik ini tidak hanya melanggar etika akademik, tetapi juga merusak fondasi keilmuan yang seharusnya dibangun atas dasar kerja keras, dedikasi, dan kejujuran ilmiah. Penelitian akademik harus dilandasi oleh prinsip communism, universalism, disinterestedness, dan organized skepticism, yang menekankan bahwa hasil penelitian adalah milik bersama, dinilai secara universal, dilakukan tanpa motif pribadi, dan selalu diuji secara kritis. Ketika artikel bisa diperoleh melalui transaksi finansial, prinsip-prinsip ini justru terabaikan, menghasilkan publikasi yang ilusi prestasi, bukan buah pemikiran dan eksperimen ilmiah yang autentik.

Penelitian yang dikomersialkan secara instan menciptakan ketidakadilan bagi peneliti independen, yang meskipun terbatas dari sisi dana maupun fasilitas, tetap berusaha menghasilkan karya orisinal. Sejumlah penelitian terdahulu, Plagiarisme dan publikasi bermotif finansial tidak hanya menurunkan kualitas jurnal, tetapi juga menimbulkan krisis kepercayaan pada institusi akademik. Hal ini berdampak langsung pada generasi peneliti muda, yang dapat kehilangan motivasi dan menilai kerja keras mereka kurang dihargai dibandingkan jalur cepat yang bersifat transaksional.

Sehingga pemerintah, lembaga pendidikan, dan komunitas akademik perlu melakukan reformasi menyeluruh. Pemerintah harus memberikan insentif, hibah, dan wadah publikasi yang kredibel bagi peneliti independen, sementara institusi pendidikan wajib menegakkan audit etika dan transparansi publikasi. Marwah penelitian hanya bisa dipulihkan jika hasil kajian ilmiah dihargai berdasarkan keaslian, bukan kemampuan membeli artikel. Sehingga dari hal tersebut bahwa penelitian kembali menjadi fondasi pembangunan ilmu pengetahuan yang sehat, mencerminkan integritas, dedikasi, dan kejujuran para penelitinya.

Referensi

Christian PhD, Gideon. “Issues and challenges to the development of open access institutional repositories in academic and research institutions in Nigeria.” Available at SSRN 1323387, 2009.

Cooper, George. Censorship of Online Research Journals in China: Conditions of Complicity and Resistance in the Global Scholarly Communications Industry. UCL (University College London), 2025.

David, Paul A. Positive feedbacks and research productivity in science: Reopening another black box. MERIT Buxton, 1993.

Decoo, Wilfried. Crisis on campus: Confronting academic misconduct. MIT Press, 2001.

Eren, Ebru. “The Neoliberal Transformation of Universities: A Critical Assessment of Academic Capitalism, Academic Autonomy and the Production of Scientific Knowledge.” Journal for Critical Education Policy Studies (JCEPS) 22, no. 3 (2025).

Etzkowitz, Henry, dan Loet Leydesdorff. “The dynamics of innovation: from National Systems and ‘Mode 2’ to a Triple Helix of university–industry–government relations.” Research policy 29, no. 2 (2000): 109–23.

Fye, W Bruce. “Medical authorship: traditions, trends, and tribulations.” Annals of Internal Medicine 113, no. 4 (1990): 317–25.

Gibbons, Michael. “A new mode of knowledge production.” Dalam Economic geography of higher education. Routledge, 2003.

Kearney, Molly, Maren Downing, dan Elizabeth A Gignac. “Research integrity and academic medicine: the pressure to publish and research misconduct.” Journal of Osteopathic Medicine 124, no. 5 (2024): 187–94.

Kohn, Marek. Trust: Self-interest and the common good. Oxford University Press, 2009.

LaFollette, Marcel Chotkowski. Stealing into print: Fraud, plagiarism, and misconduct in scientific publishing. Univ of California Press, 1992.

Lovitts, Barbara E. “The transition to independent research: Who makes it, who doesn’t, and why.” The journal of higher education 79, no. 3 (2008): 296–325.

Macfarlane, Bruce. “The DECAY of Merton’s scientific norms and the new academic ethos.” Oxford Review of Education 50, no. 4 (2024): 468–83.

Macrina, Francis L. Scientific integrity: Text and cases in responsible conduct of research. John Wiley & Sons, 2014.

Mills, David, dan Abigail Branford. “Getting by in a bibliometric economy: scholarly publishing and academic credibility in the Nigerian academy.” Africa 92, no. 5 (2022): 839–59.

Möller, Ami. University students’ and staff’s perceptions of third-party writing assistance and plagiarism: a mixed methods study: a thesis presented in partial fulfilment of the requirements for the degree of Doctor of Philosophy in English at Massey University, Manawatū, Aotearoa New Zealand. Massey University, 2023.

Mulkay, Michael J. “Norms and ideology in science.” Social science information 15, no. 4–5 (1976): 637–56.

Nazarovets, Serhii. “Dealing with Research Paper Mills, Tortured Phrases, and Data Fabrication and Falsification in Scientific Papers.” Dalam Scientific Publishing Ecosystem: An Author-Editor-Reviewer Axis. Springer, 2024.

Ndudi, Ossai Edmund. Assessing Existing Institutional Policies and Processes for Management of Research Misconduct in Universities in Southeast Nigeria. Center for Bioethics and Research, 2024.

Nnaji, JC. “Illegitimate academic publishing: a need for sustainable global action.” Publishing Research Quarterly 34, no. 4 (2018): 515–28.

Plevris, Vagelis. “From Integrity to Inflation: Ethical and Unethical Citation Practices in Academic Publishing.” Journal of Academic Ethics, Springer, 2025, 1–31.

Raina, Sunita. “Academic deprofessionalization: A case study of the effects of privatization on academic profession in private Indian universities.” International Journal of Sociology 49, no. 5–6 (2019): 370–88.

Stolyarova, V, Z Stolyarova, dan A Troshin. “Science and technology as the main factor of national economy competitiveness in terms of globalization.” Atlantis Press, 2020, 938–46.


[1] Lovitts, “The transition to independent research: Who makes it, who doesn’t, and why.”

[2] Kearney dkk., “Research integrity and academic medicine: the pressure to publish and research misconduct.”

[3] David, Positive feedbacks and research productivity in science: Reopening another black box.

[4] Ndudi, Assessing Existing Institutional Policies and Processes for Management of Research Misconduct in Universities in Southeast Nigeria.

[5] Christian PhD, “Issues and challenges to the development of open access institutional repositories in academic and research institutions in Nigeria.”

[6] Möller, University students’ and staff’s perceptions of third-party writing assistance and plagiarism: a mixed methods study: a thesis presented in partial fulfilment of the requirements for the degree of Doctor of Philosophy in English at Massey University, Manawatū, Aotearoa New Zealand.

[7] Decoo, Crisis on campus: Confronting academic misconduct.

[8] Fye, “Medical authorship: traditions, trends, and tribulations.”

[9] Nazarovets, “Dealing with Research Paper Mills, Tortured Phrases, and Data Fabrication and Falsification in Scientific Papers.”

[10] Cooper, Censorship of Online Research Journals in China: Conditions of Complicity and Resistance in the Global Scholarly Communications Industry.

[11] Raina, “Academic deprofessionalization: A case study of the effects of privatization on academic profession in private Indian universities.”

[12] Plevris, “From Integrity to Inflation: Ethical and Unethical Citation Practices in Academic Publishing.”

[13] Mills dan Branford, “Getting by in a bibliometric economy: scholarly publishing and academic credibility in the Nigerian academy.”

[14] Eren, “The Neoliberal Transformation of Universities: A Critical Assessment of Academic Capitalism, Academic Autonomy and the Production of Scientific Knowledge.”

[15] Mulkay, “Norms and ideology in science.”

[16] LaFollette, Stealing into print: Fraud, plagiarism, and misconduct in scientific publishing.

[17] Nnaji, “Illegitimate academic publishing: a need for sustainable global action.”

[18] Etzkowitz dan Leydesdorff, “The dynamics of innovation: from National Systems and ‘Mode 2’ to a Triple Helix of university–industry–government relations.”

[19] Macfarlane, “The DECAY of Merton’s scientific norms and the new academic ethos.”

[20] Stolyarova dkk., “Science and technology as the main factor of national economy competitiveness in terms of globalization.”

[21] Gibbons, “A new mode of knowledge production.”

[22] Macrina, Scientific integrity: Text and cases in responsible conduct of research.

[23] Kohn, Trust: Self-interest and the common good.

Tags: akademikkarya ilmiahpenelitian
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

I Nyoman Tamat, Tak Tamat-Tamat Mengabdi untuk Seni Budaya Bali

Next Post

Tribute to Jane Goodall: Merayakan Warisan Kemanusiaan, Kehidupan, dan Kesadaran, Perspektif David Hawkins dan Guruji Anand Krishna

Ruben Cornelius Siagian

Ruben Cornelius Siagian

Peneliti Independen & Pengamat Kebijakan Publik

Related Posts

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Tribute to Jane Goodall: Merayakan Warisan Kemanusiaan, Kehidupan, dan Kesadaran, Perspektif David Hawkins dan Guruji Anand Krishna

Tribute to Jane Goodall: Merayakan Warisan Kemanusiaan, Kehidupan, dan Kesadaran, Perspektif David Hawkins dan Guruji Anand Krishna

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co