3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jendela Tanpa Kaca: Menatap Luka, Menyusuri Cahaya

Emi Suy by Emi Suy
September 29, 2025
in Ulas Buku
Jendela Tanpa Kaca: Menatap Luka, Menyusuri Cahaya

Penulis dan buku puisi Jendela Tanpa Kaca

BEBERAPA hari lalu, saya menerima sebuah kiriman istimewa dari Bang Nestor Rico Tambunan: sebuah buku puisi yang langsung memanggil mata dan rasa sejak pertama disentuh. Sampulnya menampilkan lukisan sebuah gedung dengan jendela-jendela tanpa kaca, latar pegunungan yang hening, dan segerombolan burung yang terbang semuanya tersaji dalam gradasi monokrom, seakan membawa kita masuk ke ruang waktu yang tak pernah selesai diceritakan. Buku setebal 70 halaman ini diterbitkan oleh TB pada Agustus 2025, namun hadir di tangan saya bukan sekadar sebagai bacaan, melainkan sebagai undangan untuk menyimak suara sunyi yang ditorehkan penyair di antara kaca yang absen dan pandangan yang terbuka lebar.

Membaca Jendela Tanpa Kaca karya Bang Nestor Rico Tambunan, saya seperti diajak menatap dunia tanpa perantara langsung ke dalam luka, ingatan, juga harapan yang sering disembunyikan di balik kaca-kaca kehidupan. Puisi-puisinya tidak sedang mencari indah yang rapi, melainkan menyingkap celah: di mana cahaya masuk, sekaligus di mana angin dingin menusuk.

Ada judul-judul yang seperti mengetuk kesadaran, misalnya “Saksi dari Ketinggian”, yang membuat kita merasa kecil di hadapan semesta namun tetap diingatkan tentang tanggung jawab manusia. Lalu “Burung-Burung yang Hilang dari Layar”, seolah menggugat keheningan yang justru lebih bising daripada keramaian. Atau “Langit yang Tak Menutup Mata”, yang menyiratkan bahwa tak ada yang benar-benar tersembunyi dari pengawasan semesta.

Di balik larik-larik itu, saya merasakan denyut yang sangat manusiawi: kesepian, keterasingan, sekaligus kerinduan pada ruang yang lebih lapang. Buku ini, menurut saya, bukan hanya kumpulan puisi, melainkan juga catatan perjalanan jiwa bagaimana seorang penyair memandang jendela bukan sekadar bukaan pada dinding, melainkan metafora bagi hidup yang tak pernah sepenuhnya terlindungi.

Membaca puisi-puisi Nestor Rico Tambunan membuat saya teringat: sering kali kita tak membutuhkan kaca untuk melihat lebih jelas. Justru dari keterbukaan itulah kita belajar menanggung debu, dingin, dan silau cahaya. Dari sanalah kita akhirnya menyadari, hidup memang menuntut keberanian untuk menatap langsung tanpa tabir.

Di antara banyak buku puisi yang lahir di negeri ini, Jendela Tanpa Kaca karya Bang Nestor Rico Tambunan menempati ruang yang berbeda. Ia tidak sibuk membangun metafora megah, tidak pula mengejar kemewahan diksi. Buku ini justru hadir dengan kesederhanaan yang rawan, seakan-akan sebuah jendela dibiarkan terbuka tanpa kaca: siapa pun bisa menengok keluar, siapa pun bisa masuk, debu dan hujan bisa menerpa kapan saja. Dari kerapuhan itulah puisi-puisi ini memperoleh tenaganya.

Membaca buku ini, saya merasa seperti duduk di sebuah rumah tua di pinggir jalan. Dari balik jendela, saya melihat lalu-lalang manusia: pedagang, anak sekolah, buruh yang pulang dengan wajah letih. Semua tampak biasa, namun dalam puisi Bang Nestor, yang biasa itu justru memantulkan sesuatu yang tak terduga: luka, sunyi, sekaligus keteguhan untuk tetap hidup.

Puisi sebagai Luka yang Tak Disembunyikan

Puisi-puisi dalam Jendela Tanpa Kaca tidak bermaksud memoles kenyataan. Ia mengakui keberadaan luka, lalu membiarkannya hadir di hadapan pembaca. Dalam “Bayangan di Dinding Pasar”, misalnya, keramaian pasar yang riuh justru memperlihatkan kelaparan yang tersembunyi. Penyair menulis: “suara tawar-menawar hanya menutupi perut yang tak pernah kenyang.”

Membaca bait itu, saya teringat wajah para ibu yang sering saya lihat di pasar pagi, membawa anak sambil menimbang harga. Ada getir yang sama, ada perut yang sama-sama merintih meski mulut mencoba tersenyum. Puisi ini tidak sedang mengasihani, tetapi memotret. Dan justru dari potret itulah rasa pedih hadir.

Kesepian yang Bersifat Kolektif

Banyak orang mengira kesepian adalah urusan pribadi. Namun lewat puisinya, Bang Nestor menunjukkan bahwa kesepian kita sesungguhnya bertaut dengan orang lain. Dalam “Jam Dinding yang Berhenti”, waktu digambarkan lumpuh, seakan hidup menolak bergerak. Sedangkan di “Kursi Tua di Beranda”, benda sederhana menjadi saksi dari sepi yang tak pernah benar-benar bisa dijelaskan.

Kursi itu bisa jadi kursi siapa saja: kursi di rumah orang tua yang ditinggal anak-anaknya merantau, kursi di beranda rumah kontrakan yang setiap sore hanya dihuni diam. Membaca puisi-puisi ini, saya merasa sepi bukan lagi milik saya seorang, melainkan gema kolektif yang merayapi banyak rumah di negeri ini.

Suara yang Tertinggal

Ada pula puisi-puisi yang menyinggung soal komunikasi yang gagal. “Surat yang Tak Pernah Sampai” menyingkap betapa banyak pesan dalam hidup kita yang berhenti di tengah jalan. Ada rindu yang tersangkut di pos, ada kata-kata yang tercecer di udara. Membaca ini, saya teringat pada pesan-pesan singkat yang kita ketik di ponsel, tetapi tak pernah benar-benar berani kita kirim.

Sedangkan “Suara di Balik Jendela” membawa kita pada pilihan antara membuka diri atau menutup rapat. Jendela di sini menjadi metafora yang kuat: membuka berarti berisiko disakiti, menutup berarti aman namun terasing. Dan kita, entah sadar atau tidak, setiap hari berhadapan dengan pilihan itu.

Ingatan Sosial yang Menyelinap

Buku ini juga berfungsi sebagai catatan kecil tentang Indonesia. Dalam “Gerimis di Jalan Raya”, penyair menulis tentang buruh dan pedagang kaki lima yang tetap bekerja meski hujan turun. Tidak ada romantisasi, hanya kenyataan: tubuh-tubuh yang dipaksa terus bergerak agar dapur tetap menyala.

“Luka di Tepi Trotoar” bahkan lebih getir. Anak-anak jalanan tampil sebagai wajah yang jarang diingat. Mereka bukan angka di laporan statistik, melainkan manusia dengan tubuh rapuh yang menghadap trotoar sebagai rumah. Membaca puisi ini, saya merasa ada tamparan halus: seberapa sering kita berjalan di trotoar sambil pura-pura tidak melihat?

Cahaya yang Tetap Menyelinap

Namun, meski banyak puisi berbicara tentang luka, buku ini tidak menenggelamkan pembacanya dalam keputusasaan. Ada juga cahaya yang menyelinap. Dalam “Langkah Anak Sekolah”, kita menemukan masa depan yang tetap berjalan, betapapun beratnya dunia orang dewasa. Anak-anak itu membawa buku, membawa mimpi, dan di sanalah secercah harapan hidup.

Begitu pula “Pohon yang Terus Bertumbuh”, yang menggambarkan sebuah pohon kecil di trotoar sempit. Akarnya meretakkan batu, batangnya tumbuh meski terjepit. Pohon itu adalah alegori tentang daya hidup manusia: selalu ada kekuatan yang menolak mati, selalu ada yang bertumbuh meski ruang begitu sempit.

Refleksi Personal: Membaca dengan Tubuh Sendiri

Sebagai pembaca, saya tidak bisa hanya menaruh buku ini di rak. Setiap kali menutup halaman, saya merasa seolah ada suara yang menuntut saya bercermin. Apakah saya termasuk yang selama ini menutup jendela rapat-rapat agar tidak mendengar jeritan di luar? Atau saya berani membuka, meski berarti menerima debu, hujan, bahkan rasa takut?

Membaca Jendela Tanpa Kaca sama seperti berdiri di depan cermin besar: kita melihat wajah sendiri, tetapi di baliknya ada wajah orang lain yang ikut menatap. Puisi-puisi ini membuat batas antara “aku” dan “mereka” mengabur. Kesepian mereka adalah kesepian saya. Luka mereka adalah luka saya. Dan harapan mereka, entah bagaimana, ikut membuat saya masih ingin bertahan.

Keberanian Membuka Jendela

Keseluruhan Jendela Tanpa Kaca dapat dipahami sebagai perjalanan dari luka menuju keberanian. Dari “Bayangan di Dinding Pasar” hingga “Pohon yang Terus Bertumbuh”, penyair mengajak kita untuk tidak menutup mata, tidak menyamarkan realitas. Justru dengan membuka jendela lebar-lebar meski tanpa kaca pelindung kita bisa merasakan dunia secara utuh.

Sebagaimana ditulis Bang Nestor Rico Tambunan:

“jendela terbuka, dan aku tak ingin menutupnya lagi, meski angin membawa debu dan dingin yang menusuk.”

Itulah pilihan seorang penyair : memilih rapuh tetapi jujur, memilih terbuka meski berisiko sakit. Dan barangkali, di situlah letak keberanian paling hakiki: tetap membuka jendela, agar kita tidak sekadar hidup, tetapi benar-benar melihat.

Tabik

Salam hormat dan sukses selalu Bang Nestor Rico Tambun menginspirasi semua orang. [T]

Tegal Alur, 29 September 2025

Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole

BACA tulisan-tulisan lain dari penulis EMI SUY

Jose Rizal Manua: Membuka Gerbang Imajinasi Anak dari Emperan TIM ke Panggung Dunia
Tags: antologi puisibuku puisiNestor Rico TambunanSastra Indonesiasastrawan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anak-anak Main Pukul Main Warna dari Tumbuhan dalam Workshop Ecoprint Festival ke Uma 2025

Next Post

Einstein dan Tagore: Pertemuan Sains dan Spiritualitas

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails
Next Post
Einstein dan Tagore: Pertemuan Sains dan Spiritualitas

Einstein dan Tagore: Pertemuan Sains dan Spiritualitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co