2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jendela Tanpa Kaca: Menatap Luka, Menyusuri Cahaya

Emi Suy by Emi Suy
September 29, 2025
in Ulas Buku
Jendela Tanpa Kaca: Menatap Luka, Menyusuri Cahaya

Penulis dan buku puisi Jendela Tanpa Kaca

BEBERAPA hari lalu, saya menerima sebuah kiriman istimewa dari Bang Nestor Rico Tambunan: sebuah buku puisi yang langsung memanggil mata dan rasa sejak pertama disentuh. Sampulnya menampilkan lukisan sebuah gedung dengan jendela-jendela tanpa kaca, latar pegunungan yang hening, dan segerombolan burung yang terbang semuanya tersaji dalam gradasi monokrom, seakan membawa kita masuk ke ruang waktu yang tak pernah selesai diceritakan. Buku setebal 70 halaman ini diterbitkan oleh TB pada Agustus 2025, namun hadir di tangan saya bukan sekadar sebagai bacaan, melainkan sebagai undangan untuk menyimak suara sunyi yang ditorehkan penyair di antara kaca yang absen dan pandangan yang terbuka lebar.

Membaca Jendela Tanpa Kaca karya Bang Nestor Rico Tambunan, saya seperti diajak menatap dunia tanpa perantara langsung ke dalam luka, ingatan, juga harapan yang sering disembunyikan di balik kaca-kaca kehidupan. Puisi-puisinya tidak sedang mencari indah yang rapi, melainkan menyingkap celah: di mana cahaya masuk, sekaligus di mana angin dingin menusuk.

Ada judul-judul yang seperti mengetuk kesadaran, misalnya “Saksi dari Ketinggian”, yang membuat kita merasa kecil di hadapan semesta namun tetap diingatkan tentang tanggung jawab manusia. Lalu “Burung-Burung yang Hilang dari Layar”, seolah menggugat keheningan yang justru lebih bising daripada keramaian. Atau “Langit yang Tak Menutup Mata”, yang menyiratkan bahwa tak ada yang benar-benar tersembunyi dari pengawasan semesta.

Di balik larik-larik itu, saya merasakan denyut yang sangat manusiawi: kesepian, keterasingan, sekaligus kerinduan pada ruang yang lebih lapang. Buku ini, menurut saya, bukan hanya kumpulan puisi, melainkan juga catatan perjalanan jiwa bagaimana seorang penyair memandang jendela bukan sekadar bukaan pada dinding, melainkan metafora bagi hidup yang tak pernah sepenuhnya terlindungi.

Membaca puisi-puisi Nestor Rico Tambunan membuat saya teringat: sering kali kita tak membutuhkan kaca untuk melihat lebih jelas. Justru dari keterbukaan itulah kita belajar menanggung debu, dingin, dan silau cahaya. Dari sanalah kita akhirnya menyadari, hidup memang menuntut keberanian untuk menatap langsung tanpa tabir.

Di antara banyak buku puisi yang lahir di negeri ini, Jendela Tanpa Kaca karya Bang Nestor Rico Tambunan menempati ruang yang berbeda. Ia tidak sibuk membangun metafora megah, tidak pula mengejar kemewahan diksi. Buku ini justru hadir dengan kesederhanaan yang rawan, seakan-akan sebuah jendela dibiarkan terbuka tanpa kaca: siapa pun bisa menengok keluar, siapa pun bisa masuk, debu dan hujan bisa menerpa kapan saja. Dari kerapuhan itulah puisi-puisi ini memperoleh tenaganya.

Membaca buku ini, saya merasa seperti duduk di sebuah rumah tua di pinggir jalan. Dari balik jendela, saya melihat lalu-lalang manusia: pedagang, anak sekolah, buruh yang pulang dengan wajah letih. Semua tampak biasa, namun dalam puisi Bang Nestor, yang biasa itu justru memantulkan sesuatu yang tak terduga: luka, sunyi, sekaligus keteguhan untuk tetap hidup.

Puisi sebagai Luka yang Tak Disembunyikan

Puisi-puisi dalam Jendela Tanpa Kaca tidak bermaksud memoles kenyataan. Ia mengakui keberadaan luka, lalu membiarkannya hadir di hadapan pembaca. Dalam “Bayangan di Dinding Pasar”, misalnya, keramaian pasar yang riuh justru memperlihatkan kelaparan yang tersembunyi. Penyair menulis: “suara tawar-menawar hanya menutupi perut yang tak pernah kenyang.”

Membaca bait itu, saya teringat wajah para ibu yang sering saya lihat di pasar pagi, membawa anak sambil menimbang harga. Ada getir yang sama, ada perut yang sama-sama merintih meski mulut mencoba tersenyum. Puisi ini tidak sedang mengasihani, tetapi memotret. Dan justru dari potret itulah rasa pedih hadir.

Kesepian yang Bersifat Kolektif

Banyak orang mengira kesepian adalah urusan pribadi. Namun lewat puisinya, Bang Nestor menunjukkan bahwa kesepian kita sesungguhnya bertaut dengan orang lain. Dalam “Jam Dinding yang Berhenti”, waktu digambarkan lumpuh, seakan hidup menolak bergerak. Sedangkan di “Kursi Tua di Beranda”, benda sederhana menjadi saksi dari sepi yang tak pernah benar-benar bisa dijelaskan.

Kursi itu bisa jadi kursi siapa saja: kursi di rumah orang tua yang ditinggal anak-anaknya merantau, kursi di beranda rumah kontrakan yang setiap sore hanya dihuni diam. Membaca puisi-puisi ini, saya merasa sepi bukan lagi milik saya seorang, melainkan gema kolektif yang merayapi banyak rumah di negeri ini.

Suara yang Tertinggal

Ada pula puisi-puisi yang menyinggung soal komunikasi yang gagal. “Surat yang Tak Pernah Sampai” menyingkap betapa banyak pesan dalam hidup kita yang berhenti di tengah jalan. Ada rindu yang tersangkut di pos, ada kata-kata yang tercecer di udara. Membaca ini, saya teringat pada pesan-pesan singkat yang kita ketik di ponsel, tetapi tak pernah benar-benar berani kita kirim.

Sedangkan “Suara di Balik Jendela” membawa kita pada pilihan antara membuka diri atau menutup rapat. Jendela di sini menjadi metafora yang kuat: membuka berarti berisiko disakiti, menutup berarti aman namun terasing. Dan kita, entah sadar atau tidak, setiap hari berhadapan dengan pilihan itu.

Ingatan Sosial yang Menyelinap

Buku ini juga berfungsi sebagai catatan kecil tentang Indonesia. Dalam “Gerimis di Jalan Raya”, penyair menulis tentang buruh dan pedagang kaki lima yang tetap bekerja meski hujan turun. Tidak ada romantisasi, hanya kenyataan: tubuh-tubuh yang dipaksa terus bergerak agar dapur tetap menyala.

“Luka di Tepi Trotoar” bahkan lebih getir. Anak-anak jalanan tampil sebagai wajah yang jarang diingat. Mereka bukan angka di laporan statistik, melainkan manusia dengan tubuh rapuh yang menghadap trotoar sebagai rumah. Membaca puisi ini, saya merasa ada tamparan halus: seberapa sering kita berjalan di trotoar sambil pura-pura tidak melihat?

Cahaya yang Tetap Menyelinap

Namun, meski banyak puisi berbicara tentang luka, buku ini tidak menenggelamkan pembacanya dalam keputusasaan. Ada juga cahaya yang menyelinap. Dalam “Langkah Anak Sekolah”, kita menemukan masa depan yang tetap berjalan, betapapun beratnya dunia orang dewasa. Anak-anak itu membawa buku, membawa mimpi, dan di sanalah secercah harapan hidup.

Begitu pula “Pohon yang Terus Bertumbuh”, yang menggambarkan sebuah pohon kecil di trotoar sempit. Akarnya meretakkan batu, batangnya tumbuh meski terjepit. Pohon itu adalah alegori tentang daya hidup manusia: selalu ada kekuatan yang menolak mati, selalu ada yang bertumbuh meski ruang begitu sempit.

Refleksi Personal: Membaca dengan Tubuh Sendiri

Sebagai pembaca, saya tidak bisa hanya menaruh buku ini di rak. Setiap kali menutup halaman, saya merasa seolah ada suara yang menuntut saya bercermin. Apakah saya termasuk yang selama ini menutup jendela rapat-rapat agar tidak mendengar jeritan di luar? Atau saya berani membuka, meski berarti menerima debu, hujan, bahkan rasa takut?

Membaca Jendela Tanpa Kaca sama seperti berdiri di depan cermin besar: kita melihat wajah sendiri, tetapi di baliknya ada wajah orang lain yang ikut menatap. Puisi-puisi ini membuat batas antara “aku” dan “mereka” mengabur. Kesepian mereka adalah kesepian saya. Luka mereka adalah luka saya. Dan harapan mereka, entah bagaimana, ikut membuat saya masih ingin bertahan.

Keberanian Membuka Jendela

Keseluruhan Jendela Tanpa Kaca dapat dipahami sebagai perjalanan dari luka menuju keberanian. Dari “Bayangan di Dinding Pasar” hingga “Pohon yang Terus Bertumbuh”, penyair mengajak kita untuk tidak menutup mata, tidak menyamarkan realitas. Justru dengan membuka jendela lebar-lebar meski tanpa kaca pelindung kita bisa merasakan dunia secara utuh.

Sebagaimana ditulis Bang Nestor Rico Tambunan:

“jendela terbuka, dan aku tak ingin menutupnya lagi, meski angin membawa debu dan dingin yang menusuk.”

Itulah pilihan seorang penyair : memilih rapuh tetapi jujur, memilih terbuka meski berisiko sakit. Dan barangkali, di situlah letak keberanian paling hakiki: tetap membuka jendela, agar kita tidak sekadar hidup, tetapi benar-benar melihat.

Tabik

Salam hormat dan sukses selalu Bang Nestor Rico Tambun menginspirasi semua orang. [T]

Tegal Alur, 29 September 2025

Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole

BACA tulisan-tulisan lain dari penulis EMI SUY

Jose Rizal Manua: Membuka Gerbang Imajinasi Anak dari Emperan TIM ke Panggung Dunia
Tags: antologi puisibuku puisiNestor Rico TambunanSastra Indonesiasastrawan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anak-anak Main Pukul Main Warna dari Tumbuhan dalam Workshop Ecoprint Festival ke Uma 2025

Next Post

Einstein dan Tagore: Pertemuan Sains dan Spiritualitas

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails
Next Post
Einstein dan Tagore: Pertemuan Sains dan Spiritualitas

Einstein dan Tagore: Pertemuan Sains dan Spiritualitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co