24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ekspresi Agraris Seniman Tabanan

I Gede Made Surya Darma by I Gede Made Surya Darma
September 7, 2025
in Ulas Rupa
Ekspresi Agraris Seniman Tabanan

Lukisan “Padi Jatiluwih” karya I Made Subrata

Di jantung lumbung padi Bali, gema kreativitas seniman Tabanan meletup dalam pameran seni rupa bertajuk Aneka Warna Gaya di Kota Pelangi. Momentum ini bukan sekadar pameran, melainkan ruang komunikasi imersif di mana para seniman menyambut Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. H. Fadli Zon, dengan bahasa yang paling mereka kuasai: seni rupa.

Pameran yang digelar oleh komunitas Maha Rupa Batu Karu ini berlangsung sehari, pada 5 Agustus 2025, menghadirkan karya dari 30 seniman lintas generasi. Dari jumlah tersebut, sejumlah perupa secara khusus merespons tema agraris, menampilkan karya-karya yang menggugah kesadaran tentang ketahanan pangan, keberlanjutan tanah, serta keterhubungan spiritual antara manusia dan alam.

Sejak langkah pertama Menteri memasuki ruang pamer, aroma cat minyak dan akrilik berpadu dengan nuansa tanah basah, sementara cahaya lembut memantulkan bayangan pada kanvas. Suasana itu menjadikan setiap karya seolah berbicara: menyapa, mengingatkan, sekaligus menggugah. Tabanan yang dikenal sebagai lumbung padi Bali menampilkan dirinya melalui karya-karya yang menyoroti isu agraris, ketahanan pangan, dan harapan akan keberlanjutan tanah serta budaya.

Karya yang Menghidupkan Lumbung Padi

Lukisan “Padi Jatiluwih” karya I Made Subrata menghidupkan hamparan sawah berundak yang bergoyang diterpa cahaya. Pada beberapa bagian, tampak burung kuntul beterbangan bebas, menandakan ekosistem yang hidup dan harmoni—sebuah pengingat bahwa hasil agraria bukan hanya dinikmati manusia, tetapi juga menopang keberlangsungan seluruh makhluk dalam lingkungannya.

“Harvest” karya I Made Gunawan menghadirkan ikatan padi raksasa dengan detail yang nyaris dapat disentuh. Di sekeliling ikatan padi itu tergambar manusia-manusia kecil, seakan larut dan bergantung pada ikatan tersebut. Lukisan ini menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga pangan, serta bahaya alih fungsi lahan yang mengancam keberlangsungan hidup manusia. Padi menjadi simbol sumber kehidupan, sementara tanah dipandang sebagai pusaka yang tak tergantikan—warisan leluhur yang mesti dijaga untuk masa depan.

Dalam “Subak”, I Ketut Mastrum menangkap ketegangan antara harmoni alam dan ancaman alih fungsi lahan. Burung-burung di atas pematang menjadi simbol kebebasan sekaligus kerentanan. Sementara I Wayan Naya Swantha melalui “Tekstur Tumbukan” menorehkan luka tanah akibat tekanan beton dan buldoser, sebuah kritik visual terhadap perubahan yang menggerus lahan pertanian.

Nyoman Wijaya menghadirkan “Wild”, lukisan yang menampilkan sapi Bali sebagai sahabat abadi petani dalam mengolah sawah. Di tengah derasnya penggunaan alat modern, karya ini menyuarakan kerinduan akan sentuhan alami dalam budaya agraris. Sapi Bali di sini menjadi simbol keliaran yang justru menyatukan manusia dengan alam—ekspresi liar namun tulus dari kehidupan pedesaan yang semakin jarang tersentuh.

Spiritualitas dan Filsafat Agraris

Dimensi spiritual hadir dalam “The Last Paradise” karya I Wayan Santrayana. Tarian lingga-yoni sebagai simbol kesuburan dipayungi cahaya hangat, mengajak pengunjung merenungi keterhubungan sakral antara manusia dan alam.

Ni Luh Gede Firda Yani melalui “My Self” melukis potret dirinya dalam lanskap agraris. Bukan semata representasi personal, karya ini menjelma simbol keterhubungan manusia dengan tanah tempat berpijak. Filosofi “Aku adalah kamu, kamu adalah aku” bergema kuat di kanvasnya, menegaskan kesatuan manusia dan bumi.

Energi transformasi hadir lewat “Triangle of Brahma” karya I Kadek Dedy Sumantrayasa. Api merah berkobar menjadi metafora proses padi yang berubah menjadi nasi, sumber energi kehidupan. Bentuk segitiga dipilih sebagai lambang stabilitas, keseimbangan, sekaligus arah kemajuan.

Astikayasa, pelukis sekaligus petani, menampilkan “Spirit Harmony”: guratan menyerupai sisa pembakaran jerami yang tertiup angin, menandakan akhir siklus panen dan rekonsiliasi manusia dengan alam. Sementara Made Gama dalam “Wanita Bali” menegaskan peran vital perempuan dalam budaya agraris. Wajah tegar yang ia lukiskan mencerminkan ketangguhan dan kesetiaan perempuan Bali menjaga bumi dan tradisi.

Tak kalah penting, Dr. I Nengah Wirakesuma menampilkan karya berjudul “Earth Mandala”. Dalam lukisan ini, ia meramu simbol kosmologi Bali dengan lanskap agraris Tabanan. Pola mandala tanah dipenuhi warna-warna bumi, padi, dan air, menyiratkan keseimbangan unsur semesta yang menopang kehidupan. Pusaran garis dan warna menghadirkan doa visual agar bumi tetap subur dan lestari, sekaligus menegaskan bahwa tanah bukan sekadar ruang pijakan, melainkan pusat energi yang menyatukan manusia, alam, dan kosmos. Karya ini menjadi jembatan antara filosofi spiritual dan realitas agraris, mengajak penonton merenungkan keterhubungan sakral antara manusia dengan bumi yang menumbuhkan kehidupan.

Seni Rupa sebagai Dialog dan Doa

Lebih dari sekadar estetika, setiap karya dalam pameran ini menjelma doa, kritik, sekaligus harapan kolektif. Warna, tekstur, cahaya, dan simbol-simbol agraris berpadu, menuturkan kisah tentang tanah, budaya, dan masa depan.

Warisan yang Harus Dijaga

Pameran Aneka Warna Gaya di Kota Pelangi menegaskan bahwa seni rupa Tabanan bukan hanya soal keindahan visual, melainkan refleksi mendalam tentang tanah, pangan, dan identitas budaya. Kehadiran Menteri Kebudayaan memberi semangat baru bahwa suara seniman dapat bergema lebih luas, sekaligus menjadi bagian dari arah pembangunan kebudayaan nasional.

Di penghujung kunjungan, yang tertinggal bukan hanya apresiasi, melainkan kesadaran kolektif: bahwa Tabanan sebagai lumbung padi Bali adalah warisan yang harus dijaga bersama. Melalui seni rupa, para seniman menegaskan peran mereka sebagai penjaga alam, budaya, dan spiritualitas masyarakat.[T]

Kintamani, 27 September 2025

Penulis: I Gede Made Surya Darma
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Aneka Warna Gaya di Kota Pelangi”, Pameran Maha Rupa Batukaru, Diharap Jadi  Momentum Titik Balik Perkembangan Seni Rupa di Tabanan
Pergelaran Seni Budaya di Tabanan: Menteri Kebudayaan Hadir, dan Seniman Juga Berharap Hadirnya Museum dan Ruang Pameran Internasional
Tags: agrarisKomunitas Maha Rupa BatukaruPameran Seni RupaSeni Rupatabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merajut Kebersamaan dalam Lomba Lawar dan Gebogan — Cerita Hari Saraswati di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

Next Post

Pertemuan Dua Dunia: Titik Temu Gandhi dan Einstein dalam Etika Peradaban

I Gede Made Surya Darma

I Gede Made Surya Darma

Pelukis. Lulusan ISI Yogyakarta. Founder Lepud Art Management

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Pertemuan Dua Dunia: Titik Temu Gandhi dan Einstein dalam Etika Peradaban

Pertemuan Dua Dunia: Titik Temu Gandhi dan Einstein dalam Etika Peradaban

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co