2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ekspresi Agraris Seniman Tabanan

I Gede Made Surya Darma by I Gede Made Surya Darma
September 7, 2025
in Ulas Rupa
Ekspresi Agraris Seniman Tabanan

Lukisan “Padi Jatiluwih” karya I Made Subrata

Di jantung lumbung padi Bali, gema kreativitas seniman Tabanan meletup dalam pameran seni rupa bertajuk Aneka Warna Gaya di Kota Pelangi. Momentum ini bukan sekadar pameran, melainkan ruang komunikasi imersif di mana para seniman menyambut Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. H. Fadli Zon, dengan bahasa yang paling mereka kuasai: seni rupa.

Pameran yang digelar oleh komunitas Maha Rupa Batu Karu ini berlangsung sehari, pada 5 Agustus 2025, menghadirkan karya dari 30 seniman lintas generasi. Dari jumlah tersebut, sejumlah perupa secara khusus merespons tema agraris, menampilkan karya-karya yang menggugah kesadaran tentang ketahanan pangan, keberlanjutan tanah, serta keterhubungan spiritual antara manusia dan alam.

Sejak langkah pertama Menteri memasuki ruang pamer, aroma cat minyak dan akrilik berpadu dengan nuansa tanah basah, sementara cahaya lembut memantulkan bayangan pada kanvas. Suasana itu menjadikan setiap karya seolah berbicara: menyapa, mengingatkan, sekaligus menggugah. Tabanan yang dikenal sebagai lumbung padi Bali menampilkan dirinya melalui karya-karya yang menyoroti isu agraris, ketahanan pangan, dan harapan akan keberlanjutan tanah serta budaya.

Karya yang Menghidupkan Lumbung Padi

Lukisan “Padi Jatiluwih” karya I Made Subrata menghidupkan hamparan sawah berundak yang bergoyang diterpa cahaya. Pada beberapa bagian, tampak burung kuntul beterbangan bebas, menandakan ekosistem yang hidup dan harmoni—sebuah pengingat bahwa hasil agraria bukan hanya dinikmati manusia, tetapi juga menopang keberlangsungan seluruh makhluk dalam lingkungannya.

“Harvest” karya I Made Gunawan menghadirkan ikatan padi raksasa dengan detail yang nyaris dapat disentuh. Di sekeliling ikatan padi itu tergambar manusia-manusia kecil, seakan larut dan bergantung pada ikatan tersebut. Lukisan ini menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga pangan, serta bahaya alih fungsi lahan yang mengancam keberlangsungan hidup manusia. Padi menjadi simbol sumber kehidupan, sementara tanah dipandang sebagai pusaka yang tak tergantikan—warisan leluhur yang mesti dijaga untuk masa depan.

Dalam “Subak”, I Ketut Mastrum menangkap ketegangan antara harmoni alam dan ancaman alih fungsi lahan. Burung-burung di atas pematang menjadi simbol kebebasan sekaligus kerentanan. Sementara I Wayan Naya Swantha melalui “Tekstur Tumbukan” menorehkan luka tanah akibat tekanan beton dan buldoser, sebuah kritik visual terhadap perubahan yang menggerus lahan pertanian.

Nyoman Wijaya menghadirkan “Wild”, lukisan yang menampilkan sapi Bali sebagai sahabat abadi petani dalam mengolah sawah. Di tengah derasnya penggunaan alat modern, karya ini menyuarakan kerinduan akan sentuhan alami dalam budaya agraris. Sapi Bali di sini menjadi simbol keliaran yang justru menyatukan manusia dengan alam—ekspresi liar namun tulus dari kehidupan pedesaan yang semakin jarang tersentuh.

Spiritualitas dan Filsafat Agraris

Dimensi spiritual hadir dalam “The Last Paradise” karya I Wayan Santrayana. Tarian lingga-yoni sebagai simbol kesuburan dipayungi cahaya hangat, mengajak pengunjung merenungi keterhubungan sakral antara manusia dan alam.

Ni Luh Gede Firda Yani melalui “My Self” melukis potret dirinya dalam lanskap agraris. Bukan semata representasi personal, karya ini menjelma simbol keterhubungan manusia dengan tanah tempat berpijak. Filosofi “Aku adalah kamu, kamu adalah aku” bergema kuat di kanvasnya, menegaskan kesatuan manusia dan bumi.

Energi transformasi hadir lewat “Triangle of Brahma” karya I Kadek Dedy Sumantrayasa. Api merah berkobar menjadi metafora proses padi yang berubah menjadi nasi, sumber energi kehidupan. Bentuk segitiga dipilih sebagai lambang stabilitas, keseimbangan, sekaligus arah kemajuan.

Astikayasa, pelukis sekaligus petani, menampilkan “Spirit Harmony”: guratan menyerupai sisa pembakaran jerami yang tertiup angin, menandakan akhir siklus panen dan rekonsiliasi manusia dengan alam. Sementara Made Gama dalam “Wanita Bali” menegaskan peran vital perempuan dalam budaya agraris. Wajah tegar yang ia lukiskan mencerminkan ketangguhan dan kesetiaan perempuan Bali menjaga bumi dan tradisi.

Tak kalah penting, Dr. I Nengah Wirakesuma menampilkan karya berjudul “Earth Mandala”. Dalam lukisan ini, ia meramu simbol kosmologi Bali dengan lanskap agraris Tabanan. Pola mandala tanah dipenuhi warna-warna bumi, padi, dan air, menyiratkan keseimbangan unsur semesta yang menopang kehidupan. Pusaran garis dan warna menghadirkan doa visual agar bumi tetap subur dan lestari, sekaligus menegaskan bahwa tanah bukan sekadar ruang pijakan, melainkan pusat energi yang menyatukan manusia, alam, dan kosmos. Karya ini menjadi jembatan antara filosofi spiritual dan realitas agraris, mengajak penonton merenungkan keterhubungan sakral antara manusia dengan bumi yang menumbuhkan kehidupan.

Seni Rupa sebagai Dialog dan Doa

Lebih dari sekadar estetika, setiap karya dalam pameran ini menjelma doa, kritik, sekaligus harapan kolektif. Warna, tekstur, cahaya, dan simbol-simbol agraris berpadu, menuturkan kisah tentang tanah, budaya, dan masa depan.

Warisan yang Harus Dijaga

Pameran Aneka Warna Gaya di Kota Pelangi menegaskan bahwa seni rupa Tabanan bukan hanya soal keindahan visual, melainkan refleksi mendalam tentang tanah, pangan, dan identitas budaya. Kehadiran Menteri Kebudayaan memberi semangat baru bahwa suara seniman dapat bergema lebih luas, sekaligus menjadi bagian dari arah pembangunan kebudayaan nasional.

Di penghujung kunjungan, yang tertinggal bukan hanya apresiasi, melainkan kesadaran kolektif: bahwa Tabanan sebagai lumbung padi Bali adalah warisan yang harus dijaga bersama. Melalui seni rupa, para seniman menegaskan peran mereka sebagai penjaga alam, budaya, dan spiritualitas masyarakat.[T]

Kintamani, 27 September 2025

Penulis: I Gede Made Surya Darma
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Aneka Warna Gaya di Kota Pelangi”, Pameran Maha Rupa Batukaru, Diharap Jadi  Momentum Titik Balik Perkembangan Seni Rupa di Tabanan
Pergelaran Seni Budaya di Tabanan: Menteri Kebudayaan Hadir, dan Seniman Juga Berharap Hadirnya Museum dan Ruang Pameran Internasional
Tags: agrarisKomunitas Maha Rupa BatukaruPameran Seni RupaSeni Rupatabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merajut Kebersamaan dalam Lomba Lawar dan Gebogan — Cerita Hari Saraswati di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

Next Post

Pertemuan Dua Dunia: Titik Temu Gandhi dan Einstein dalam Etika Peradaban

I Gede Made Surya Darma

I Gede Made Surya Darma

Pelukis. Lulusan ISI Yogyakarta. Founder Lepud Art Management

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Pertemuan Dua Dunia: Titik Temu Gandhi dan Einstein dalam Etika Peradaban

Pertemuan Dua Dunia: Titik Temu Gandhi dan Einstein dalam Etika Peradaban

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co