23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ekspresi Agraris Seniman Tabanan

I Gede Made Surya Darma by I Gede Made Surya Darma
September 7, 2025
in Ulas Rupa
Ekspresi Agraris Seniman Tabanan

Lukisan “Padi Jatiluwih” karya I Made Subrata

Di jantung lumbung padi Bali, gema kreativitas seniman Tabanan meletup dalam pameran seni rupa bertajuk Aneka Warna Gaya di Kota Pelangi. Momentum ini bukan sekadar pameran, melainkan ruang komunikasi imersif di mana para seniman menyambut Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. H. Fadli Zon, dengan bahasa yang paling mereka kuasai: seni rupa.

Pameran yang digelar oleh komunitas Maha Rupa Batu Karu ini berlangsung sehari, pada 5 Agustus 2025, menghadirkan karya dari 30 seniman lintas generasi. Dari jumlah tersebut, sejumlah perupa secara khusus merespons tema agraris, menampilkan karya-karya yang menggugah kesadaran tentang ketahanan pangan, keberlanjutan tanah, serta keterhubungan spiritual antara manusia dan alam.

Sejak langkah pertama Menteri memasuki ruang pamer, aroma cat minyak dan akrilik berpadu dengan nuansa tanah basah, sementara cahaya lembut memantulkan bayangan pada kanvas. Suasana itu menjadikan setiap karya seolah berbicara: menyapa, mengingatkan, sekaligus menggugah. Tabanan yang dikenal sebagai lumbung padi Bali menampilkan dirinya melalui karya-karya yang menyoroti isu agraris, ketahanan pangan, dan harapan akan keberlanjutan tanah serta budaya.

Karya yang Menghidupkan Lumbung Padi

Lukisan “Padi Jatiluwih” karya I Made Subrata menghidupkan hamparan sawah berundak yang bergoyang diterpa cahaya. Pada beberapa bagian, tampak burung kuntul beterbangan bebas, menandakan ekosistem yang hidup dan harmoni—sebuah pengingat bahwa hasil agraria bukan hanya dinikmati manusia, tetapi juga menopang keberlangsungan seluruh makhluk dalam lingkungannya.

“Harvest” karya I Made Gunawan menghadirkan ikatan padi raksasa dengan detail yang nyaris dapat disentuh. Di sekeliling ikatan padi itu tergambar manusia-manusia kecil, seakan larut dan bergantung pada ikatan tersebut. Lukisan ini menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga pangan, serta bahaya alih fungsi lahan yang mengancam keberlangsungan hidup manusia. Padi menjadi simbol sumber kehidupan, sementara tanah dipandang sebagai pusaka yang tak tergantikan—warisan leluhur yang mesti dijaga untuk masa depan.

Dalam “Subak”, I Ketut Mastrum menangkap ketegangan antara harmoni alam dan ancaman alih fungsi lahan. Burung-burung di atas pematang menjadi simbol kebebasan sekaligus kerentanan. Sementara I Wayan Naya Swantha melalui “Tekstur Tumbukan” menorehkan luka tanah akibat tekanan beton dan buldoser, sebuah kritik visual terhadap perubahan yang menggerus lahan pertanian.

Nyoman Wijaya menghadirkan “Wild”, lukisan yang menampilkan sapi Bali sebagai sahabat abadi petani dalam mengolah sawah. Di tengah derasnya penggunaan alat modern, karya ini menyuarakan kerinduan akan sentuhan alami dalam budaya agraris. Sapi Bali di sini menjadi simbol keliaran yang justru menyatukan manusia dengan alam—ekspresi liar namun tulus dari kehidupan pedesaan yang semakin jarang tersentuh.

Spiritualitas dan Filsafat Agraris

Dimensi spiritual hadir dalam “The Last Paradise” karya I Wayan Santrayana. Tarian lingga-yoni sebagai simbol kesuburan dipayungi cahaya hangat, mengajak pengunjung merenungi keterhubungan sakral antara manusia dan alam.

Ni Luh Gede Firda Yani melalui “My Self” melukis potret dirinya dalam lanskap agraris. Bukan semata representasi personal, karya ini menjelma simbol keterhubungan manusia dengan tanah tempat berpijak. Filosofi “Aku adalah kamu, kamu adalah aku” bergema kuat di kanvasnya, menegaskan kesatuan manusia dan bumi.

Energi transformasi hadir lewat “Triangle of Brahma” karya I Kadek Dedy Sumantrayasa. Api merah berkobar menjadi metafora proses padi yang berubah menjadi nasi, sumber energi kehidupan. Bentuk segitiga dipilih sebagai lambang stabilitas, keseimbangan, sekaligus arah kemajuan.

Astikayasa, pelukis sekaligus petani, menampilkan “Spirit Harmony”: guratan menyerupai sisa pembakaran jerami yang tertiup angin, menandakan akhir siklus panen dan rekonsiliasi manusia dengan alam. Sementara Made Gama dalam “Wanita Bali” menegaskan peran vital perempuan dalam budaya agraris. Wajah tegar yang ia lukiskan mencerminkan ketangguhan dan kesetiaan perempuan Bali menjaga bumi dan tradisi.

Tak kalah penting, Dr. I Nengah Wirakesuma menampilkan karya berjudul “Earth Mandala”. Dalam lukisan ini, ia meramu simbol kosmologi Bali dengan lanskap agraris Tabanan. Pola mandala tanah dipenuhi warna-warna bumi, padi, dan air, menyiratkan keseimbangan unsur semesta yang menopang kehidupan. Pusaran garis dan warna menghadirkan doa visual agar bumi tetap subur dan lestari, sekaligus menegaskan bahwa tanah bukan sekadar ruang pijakan, melainkan pusat energi yang menyatukan manusia, alam, dan kosmos. Karya ini menjadi jembatan antara filosofi spiritual dan realitas agraris, mengajak penonton merenungkan keterhubungan sakral antara manusia dengan bumi yang menumbuhkan kehidupan.

Seni Rupa sebagai Dialog dan Doa

Lebih dari sekadar estetika, setiap karya dalam pameran ini menjelma doa, kritik, sekaligus harapan kolektif. Warna, tekstur, cahaya, dan simbol-simbol agraris berpadu, menuturkan kisah tentang tanah, budaya, dan masa depan.

Warisan yang Harus Dijaga

Pameran Aneka Warna Gaya di Kota Pelangi menegaskan bahwa seni rupa Tabanan bukan hanya soal keindahan visual, melainkan refleksi mendalam tentang tanah, pangan, dan identitas budaya. Kehadiran Menteri Kebudayaan memberi semangat baru bahwa suara seniman dapat bergema lebih luas, sekaligus menjadi bagian dari arah pembangunan kebudayaan nasional.

Di penghujung kunjungan, yang tertinggal bukan hanya apresiasi, melainkan kesadaran kolektif: bahwa Tabanan sebagai lumbung padi Bali adalah warisan yang harus dijaga bersama. Melalui seni rupa, para seniman menegaskan peran mereka sebagai penjaga alam, budaya, dan spiritualitas masyarakat.[T]

Kintamani, 27 September 2025

Penulis: I Gede Made Surya Darma
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Aneka Warna Gaya di Kota Pelangi”, Pameran Maha Rupa Batukaru, Diharap Jadi  Momentum Titik Balik Perkembangan Seni Rupa di Tabanan
Pergelaran Seni Budaya di Tabanan: Menteri Kebudayaan Hadir, dan Seniman Juga Berharap Hadirnya Museum dan Ruang Pameran Internasional
Tags: agrarisKomunitas Maha Rupa BatukaruPameran Seni RupaSeni Rupatabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merajut Kebersamaan dalam Lomba Lawar dan Gebogan — Cerita Hari Saraswati di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

Next Post

Pertemuan Dua Dunia: Titik Temu Gandhi dan Einstein dalam Etika Peradaban

I Gede Made Surya Darma

I Gede Made Surya Darma

Pelukis. Lulusan ISI Yogyakarta. Founder Lepud Art Management

Related Posts

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

by Angga Wijaya
August 7, 2026
0
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

Read moreDetails

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

by Hartanto
August 7, 2026
0
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

Read moreDetails

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

by Hartanto
July 30, 2026
0
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

Read moreDetails
Next Post
Pertemuan Dua Dunia: Titik Temu Gandhi dan Einstein dalam Etika Peradaban

Pertemuan Dua Dunia: Titik Temu Gandhi dan Einstein dalam Etika Peradaban

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co