2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hikayat Penyelamat Naskah Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer — Obituari Oei Hiem Hwie

Jaswanto by Jaswanto
September 4, 2025
in Khas
Hikayat Penyelamat Naskah Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer — Obituari Oei Hiem Hwie

Oei Hiem Hwie | Foto: Dok. Karyakarsa

PERPUSTAKAAN Medayu Agung, Surabaya, baru saja bergembira atas terselenggaranya “Pamer Koleksi” sepekan yang lalu. Pameran arsip itu berjalan lancar dan sangat mengesankan bagi pengunjung dan, tentu saja, bagi para Sahabat Medayu Agung. Namun, suka-cita itu sepertinya tak berlangsung lama. Pasalnya, sosok pendiri Medayu Agung, orang yang dihormati atas jasa-jasa dan peninggalan baiknya, mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu, 3 September 2025.

Sosok tersebut tak lain ialah Oei Hiem Hwie (1935-2025), seorang jurnalis, pustakawan partikelir, saksi Tapol 65 Pulau Buru, sahabat Pramoedya Ananta Toer, sekaligus penyelamat naskah-naskah Pram selama di Pulau Buru, termasuk naskah Bumi Manusia—novel yang legendaris itu.

Mengutip BBC Indonesia, Hwie lahir pada 26 November 1935 dari keluarga yang disebutnya “sulit bila disebut keluarga Tionghoa asli”. Ibunya, The Lekas Nio, adalah peranakan Tionghoa-Jawa yang sudah beberapa generasi tinggal di kaki Gunung Merbabu, Magelang, dan tidak bisa lagi bicara bahasa Tionghoa. Sedangkan ayahnya, Oei Tiong Han, lahir di Hokkian dan kemudian merantau ke Jawa.

“Saya lahir di Malang dari seorang lelaki Hokian totok dan perempuan peranakan dari Jawa Tengah. Papa berpendidikan Tionghoa, sementara mama yang peranakan Jawa bersekolah honocoroko. Itu yang membuat saya tertarik pada berbagai kebudayaan,” kisah Hwie kepada Soe Tjen Marching yang dipublikasikan di Islam Bergerak.

Hwie sekoah di TNHK (Tionghoa Hoe Kwan). Lulus SMA ia masuk sekolah wartawan, waktu itu ada sekolah wartawan, karena ia mengaku profesi itu dulu sangat dihormati—wartawan dianggap ratu dunia, segala tahu dan bisa—sebagaimana Soe Tjen Marching menuliskannya dalam artikel bertajuk Oei Hiem Hwie: Editor Pramoedya di Buru.

“Tujuh bulan kemudian saya lulus,” ujar Hwie. “Waktu itu tidak dikenal sistem kelas, jadi seperti akademi, asal sudah menyelesaikan tugas dan ketentuan, bisa lulus,” sambungnya.

Oei Hiem Hwie | Foto: Dok. Karyakarsa

Setelah berulangkali mengirimkan lamaran pekerjaan, ia diterima bekerja di Trompet Masjarakat —koran berhaluan tengah, bukan kiri dan bukan kanan—pimpinan Goei Poo An. Kantor Terompet berada di depan Tugu Pahlawan (sampai sekarang masih berdiri), satu lantai dengan percetakan Brantas. Di depannya terdapat banyak penjual koran.

Karir jurnalistik Hwie berhenti saat terjadi peristiwa 30 September 1965. Trompet Masjarakat ditutup dan Hwie ditangkap.

Tapol 65

Ia keturunan Tionghoa. Dan sebagaimana banyak kisah pada tragedi 1965, Hwie dituduh simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan harus ditindak. Tentu saja Hwie bukan anggota PKI. “Waktu Gestok terjadi, saya sedang di Malang. Tak lama sesudah peristiwa itu, puluhan orang berjubah hitam, berpenutup wajah dan hanya kelihatan mata, dan bersenjata datang ke rumah,” Hwie bercerita kepada Soe Tjen Marching.

Orang-orang berjubah hitam dan berpenutup mata itu mengaku ditugaskan untuk memeriksanya. Dokumen dan buku-buku di rumah Hwie di jl. Klojen Kidul nomer 26 Malang (sekarang jadi Jl Arismunandar) juga dirampas.

“Selain saya, di rumah ada mama dan adik. Papa sudah meninggal tahun 1960. Mereka berani sekali, sama sekali tidak ketakutan. Orang-orang itu mengambil buku-buku dan menaikkannya ke jip Russia yang besar. Karena tidak muat, sebagian buku akhirnya ditinggal. Oleh adik saya, buku yang tertinggal diambil dan disembunyikan di plafon, kebanyakan buku-buku Belanda. Sayangnya beberapa di antaranya hancur karena terkena hujan dan ada pula yang dimakan ngengat,” Soe Tjen Marching menulis pengakuan Hwie.

Sejak saat itu Hwie ditahan. Pertama kali ia ditahan di Batu, Malang, di kamp bekas pabrik kalengan, Kamp Gap Sin. Meskipun pabrik sudah ditutup, masih ada bekas-bekas kaleng, katanya. Di situ, bersama banyak orang, ia diperiksa dan ditanyai: “Kamu orang PKI ya?” Mereka—orang-orang berjubah hitam dan berpenutup mata itu—mencari-cari dan ketemu tulisannya tentang Sukarno. Ia dicap: “Sukarno-centris”. Hwie bilang: “Jadi saya bukan PKI, kan?” Orang itu berkata: “Tidak bisa, nanti kalau kamu saya bebaskan, akan membela Sukarno”.

Setelah 2 bulan di kamp Batu, tanggal 12 Januari 1966, ia dipindah ke penjara Lowokwaru, Malang. “Temboknya lapis 3, berpagar duri dan listrik. Mama saya yang belum mendengar kabar tentang saya, mengira saya sudah mati. Dia sempat mengadakan selamatan,” kisah Hwie.

Selepas dari Lowokwaru, Hwie dikirim ke penjara Kalisosok, sehari-hari diberi makan nasi jagung yang sudah keras dengan kelapa. Orang-orang berjubah hitam dan berpenutup mata memperlakukan para tahanan dengan kejam. “Tahanan di sana tidak diberi minum. Padahal panas luar biasa. Makanan hanya dibungkus daun jati dan dilempar sambil bilang: “Mampus lu!” Kadang didorong dengan kaki,” aku Hwie kepada Soe Tjen Marching.

Namun, nasib Hwie lebih baik daripada tahanan lain. Ia dikasih minum dan diberi makan yang agak lebih baik karena dianggap titipan, belum jelas PKI atau bukan. Sedangkan yang sudah jelas statusnya sebagai orang PKI, langsung diperlakukan buruk dan disiksa. Kalau orang-orang PKI itu haus, mereka mengulurkan keluar baju, kain, atau celana saat hujan. Lalu air itu diperas dan diminum. Banyak yang ususnya lengket karena kurang makan dan kurang minum. Tiap malam, mereka diambil dan disiksa atau hilang. Sungguh kejam.

Arsip koleksi Oei Hiem Hwie | Foto: Dok. Karyakarsa

Di Kalisosok, Hwie mengaku sempat melihat Murahman, bekas walikota Surabaya yang juga penasihat hukum Baperki dan penasihat hukum BTI. Menurut Hwie, Murahman sebenarnya bukan orang PKI, ia pendukung Sukarno dan anggota Baperki. Baperki waktu itu membuka perguruan, namanya Universitas Res Republika. Di Jakarta sekarang jadi Trisakti. Di Surabaya jadi UBAYA. “Saya lihat dia lewat dari jauh. Lalu, kami tidak tahu ke mana dia. Fotonya sekarang di kantor walikota pun tidak ada. Dihancurkan, karena dianggap PKI.”

“Setelah Kalisosok, saya dipindah di Koblen (Penjara Militer), lalu ke Nusakambanagan. Di sini, kami diberi bulgur dan ikan asin (kadang kepala dan buntut saja) atau tempe sepotong kecil sekali. Bulgur itu ampasnya bir, jadi tidak ada gizinya. Biasanya, apabila masih lapar, kami mencari rumput-rumputan dan kulit singkong di tempat sampah. Kami rajang, lalu diberi garam.”

Kira-kira 3-4 bulan Hwie ditahan di Nusakambangan, lalu ia diangkut ke pulau Buru tahun 1970. Karena kapal itu takut ketahuan dunia internasional, jadi sembunyi-sembunyi, lewat pulau-pulau kecil, tidak lewat jalan kapal besar. Gelombang tidak karuan, dan ia muntah-muntah. “Banyak yang muntah, sampai muntahan itu sekamar ada 2 drum. Terus dibuang ke laut, ada tukang buangnya, dari kami-kami juga. Sampai akhirnya kakus buntu. Baunya bukan main.”

Di Pulau Buru, Maluku, kata Hwie, saat ia datang sudah ada 13 unit yang ditempati para tahanan politik (tapol) 1965. Ia dimasukkan di unit 4—unit yang paling dekat dengan laut. “Kira-kira 3 kilo saja. Ada lapangan yang rata, dan juga tidak ada pohon besar-besar, jadi kami bisa bertani dengan cukup enak.”

Yang ditaruh bersama Hwie di unit 4—Unit Savanajaya, begitu para tapol menamainya—memang orang-orang pilihan. Kira-kira ada 1500 orang. Kebanyakan mahasiswa, pelajar, wartawan, dosen dan professor yang dianggap tidak ikut-ikutan partai. “Kalau ada di antara intelektual ini yang ketahuan aktif di partai, ya dibuang ke atas. Itu kata beberapa penjaga penjara,” kata Hwie bercerita kepada Soe Tjen Marching.

Membantu Pram Menulis

Di pulau yang sama, Pramoedya Ananta Toer juga diasingkan. “Dia ditaruh di atas, di unit 3,” kata Hwie. Pada saat itu, menurut kisah Hwie, banyak orang yang sudah mengenal Pram sebagai penulis yang hebat. “Saya sendiri sudah kagum dengan Pram,” ujar Hwie. “Kebetulan di belakang unitnya Pram itu, tepat ladang saya. Waktu melihat Pram, saya sudah ingin sekali bertemu. Jadi, saya menunggu kesempatan. Kalau yang jaga malas dan pergi, saya bisa ngobrol dengan Pram sebentar.”

Mengetahui Pram sebagai seorang penulis, bersama beberapa tahanan Hwie berusaha membantunya.   Bahkan ia mencoba pinjam mesin ketik dari kantor unit dan minta kertas barang sedikit. “Eh, diberi,” celetuk Hwie. Siang hari, waktu semuanya tidur, ia menemui Pram dan memberinya mesin ketik pinjaman itu. “Selesai ngetik, saya ambil lagi dan saya kembalikan ke kantor. Begitu terus. Kalau ada kesempatan, saya bisa menyelinap ke unit Pram dan membantu dia. Pram ngarang dan ngetik, saya ngoreksi ketikan yang salah-salah. Di kertas tipis sekali,” Hwie bercerita.

Naskah-naskah Pram disembunyikan di sebuah lubang mirip septic tank dan dibungkus dengan duan pisang. “Orang-orang berpikir itu tinja. Tidak ada yang berani buka. Jadi, naskah-naskah semua tersimpan di sana. Karena protes luar negeri, akhirnya Pram diizinkan menulis kembali. Waktu itu Kopkamtibnya Sumitro. Dia datang ke pulau Buru dan bilang: ‘Pram, ini mesin ketik buat kamu.’ Tapi, mesin tik itu sudah rusak dan harus diperbaiki sendiri oleh Pram. Pitanya hanya ada 1. Waktu sudah habis, saya carikan nila (indigofera), saya godog, saya basahi pita itu, lalu dijemur, ternyata bisa untuk tinta.”

Selain mesik ketik, Pram juga dikasih kertas, tapi kertas duslah (doorslag, ed)—kertas tipis, sering kali transparan. Waktu kertas itu habis, Pram tidak diberi lagi. “Ia mendapat kertas berkat telur ayam,” kata Hwie. Ya, saat menjadi tapol di Buru, Pram sempat pelihara ayam. Setiap kali teman-teman tapolnya pergi ke Kota Namlea, Pram titip telur. Telur-telur itu kemudian dibarter dengan kertas. Tapi jika tak ada telur untuk ditukar, Hwie mengambil kertas-kertas semen sisa pembangunan, lalu membersihkan dan memotongnya seukuran folio. Ketika Pram menulis buku “Perawan Remaja di Sarang Penyamun”, para tapol lain berusaha melakukan penyelidikan dengan mendatangi para bekas jugun ianfu di Pulau Buru. Hasilnya dilaporkan pada Pram.

Tugas Hwie yang lain terjadi ketika datang kabar bahwa dia akan dibebaskan. Dikutip dari BBC Indonesia, Pramoedya menitipkan beberapa naskah tulisannya untuk dibawa ke luar Pulau Buru. Salah satunya adalah Bumi Manusia dan Ensiklopedi Citrawi Indonesia, dalam bentuk naskah asli tulisan tangan, dan ada juga salinan yang diketik. Agar tidak ketahuan, naskah Pram dia sembunyikan dalam gulungan baju kotor, lalu dimasukkan ke dalam besek.

“Tulisan-tulisan Pram itu saya kumpulkan, saya lem dengan singkong yang direbus sampai tanak, dan dibendel. Saya press dengan tutupan yang mirip tutup septic tank itu. Saya diberi rangkapan naskah Pram tahun 1975.”

Tahun 1978 Hwie dibebaskan. “Tapi Pram belum, rupanya Suharto masih belum rela,” katanya. Baru setahun kemudian, Pram dan Oei Hai Joen dibebaskan. Sebelum pulang, ia dititipi naskah asli Pramoedya, Bumi Manusia. Ia bawa juga penutup naskah-naskah Pram di Pulau Buru, yang terbuat dari semen itu.

“Saya dinaikkan kapal haji. Sampai di kapal, saya takut sekali karena ada pemeriksaan beberapa kali. Buku Pram dan tutupan semen yang berat ini pasti tidak lolos, atau saya sendiri bisa dicemplungkan ke laut bersama kedua barang ini. Untung sekali saya tidak diperiksa,” ujar jurnalis Trompet Masjarakat  itu.

Kembali ke Malang, Hwie mengaku seperti Tarzan masuk kota. Ia kaget dengan perubahan Indonesia yang pesat. Ia tercengang melihat ada bis besar yang di dalam terdapat sebuah TV. Jalanan tiba-tiba besar, mobil-mobil besar dan banyak. “Juga macet, saya bingung,” katanya.

Sampai di Malang, ia ditaruh di Kodim, wajib lapor. Hwie diberitahu bahwa ia wajib lapor seminggu 3 kali. Setelah itu, ia diperbolehkan pulang. Di sana, orang-orang lain dijemput anak dan istri, juga keluarga. Tapi Hwie tidak melihat anggota keluarganya. “Sudah agak lama saya melihat-lihat, tetap saja tidak ada wajah adik dan mama saya.” Hwie pulang sendiri naik becak. Ia mengaku saat itu agak takut, karena sudah bertahun-tahun tidak di Malang. “Apa saya masih ingat jalan pulang?” gumamnya. “Ternyata masih.”

“Mama sudah meninggal 50 hari yang lalu.” Adik Hwie memberitahunya. Seketika dunianya seolah runtuh. Luar biasa sedihnya. “Saya mengharap bisa bertemu mama, tapi ternyata terlambat 50 hari.” Sepulang dari Pulau Buru, Hwie tak kunjung mendapat pekerjaan karena di KTP-nya terdapat cap ET.

Pustakawan dan Arsiparis Partikelir

Setelah bebas dari penjara, Hwie kembali menekuni hobinya membaca dan membuat kliping. Meski bebas, ruang geraknya terasa terbatas karena dia merasa terus dimata-matai—bahkan di tingkat RT dan RW. “Lalu datang seorang Tionghoa, namanya Haji Masagung yang punya Gunung Agung. Dia bilang, ‘Hwie, kamu kalau di Malang terus nggak bisa maju, sini saya bantu,’ jadi saya pindah ke Surabaya,” kata Hwie seperti dikutip BBC Indonesia. Dia lalu bekerja di perusahaan Haji Masagung hingga pensiun dan memutuskan untuk membuat perpustakaan umum di Surabaya, bernama Perpustakaan Medayu Agung.

Di Jakarta Hwie mengaku sempat belajar tentang perpustakaan. Itu menjadi modal penting saat ia mendirikan Medayu Agung pada 2001 silam. “Buku-buku dan arisp di Malang saya bawa ke sini. Rumah saya jadi penuh buku. Hampir tidak ada ruang untuk manusia.”

Perpustakaan ini dibuka untuk umum, dan berisi berbagai macam buku, puluhan ribu eksemplar koleksi koran, dan beberapa memorabilia. Hwie pernah mendapatkan penghargaan Museum Rekor Indonesia sebagai “kolektor surat kabar terlengkap sejak awal terbit”.

Oei Hiem Hwie | Foto: Dok. Karyakarsa

Sekitar tahun 1998, kisah Hwie kepada Soe Tjen Marching, ada 2 orang Australia mendatanginya. Buku-buku, majalah, dan koran yang ia miliki mau dibeli. “Semua pokoknya. Saya ditawari 1 Milliar,” ujarnya. Waktu itu, uang 1 M tentu saja sangat banyak. Kata Hwie bisa dibelikan rumah yang besar dan mewah di Surabaya. Tapi ia bilang tidak—walaupun sebenarnya ia kebingungan dengan biaya perawatan buku-buku itu.

Ia mendirikan Medayu Agung berkat bantuan pengusaha Sindhunata Sambudi dan Ongko Tikdoyo dari Surabaya. Mereka membelikan rumah yang kini dijadikan gedung perpustakaan di JL. Medayu Selatan Gang IV No. 42-44, Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya.

Sebuah liputan di Kumparan menyebut puluhan ribu eksemplar koran memenuhi lantai dua Medayu Agung. Sebagian dijilid, sisanya dibungkus plastik sesuai bulan terbitnya masing-masing. Kamar-kamar dan ruangan di lantai satu penuh dengan rak berisi buku dan majalah, juga beberapa memorabilia. Di antara berbagai dokumen itu, ada naskah asli salah Pramoedya Ananta Toer yang ditulis di kertas pembungkus semen.

Dalam wawancaranya dengan Soe Tjen Marching, Hwie mengaku banyak peneliti dari berbagai negara, termasuk Ben Anderson (Cornell University) dan Daniel S. Lev (Washington University) datang ke Medayu Agung.

“Harapan saya, semoga perpustakaan ini bisa terus berkembang, koleksi buku yang bermutu juga bisa bertambah, dan kalau bisa juga terus gratisan seperti ini, supaya generasi muda bisa belajar dari sini. Saya tidak pernah menyesal akan apa yang terjadi pada saya. Saya anggap “disekolahke karo Pak Harto [Disekolahkan oleh Soeharto]”, supaya tambah pengalaman dan tabah,” kata Hwie menutup wawancaranya.

Memilih menjadi Indonesia

Satu hal penting yang tidak boleh dilupakan dari sosok Oei Hiem Hwie adalah tetap memilih Indonesia sebagai negaranya—walaupun ia pernah diperlakukan semena-mena.

Sebagai keturunan Tionghoa pada masa itu, seperti yang dilaporkan BBC Indonesia, menjadi Indonesia bukan hal yang otomatis terjadi. Hwie memutuskan menjadi warga negara Indonesia atas pilihannya sendiri. Karena ayahnya adalah warga negara asing, meskipun lahir dan besar di Indonesia, awalnya Hwie mengikuti kewarganegaraan ayahnya. Hingga muncul aturan baru pada tahun 50-an, bahwa warga keturunan Tionghoa harus memilih untuk menjadi WNI atau warga negara Tiongkok. Dan ia memilih menjadi WNI.

Dalam memoarnya Dari Pulau Buru Sampai Medayu Agung, Hwie menulis bahwa dia memilih menjadi WNI karena “berarti ikut membantu kemajuan Indonesia dan sosialisme yang kami banggakan”. Untuk mencapai tujuan itu, Hwie aktif berorganisasi di Baperki—Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia, organisasi massa yang didirikan oleh warga keturunan Tionghoa yang bertujuan menentang diskriminasi berdasarkan keturunan seseorang.

“Di kepala dan hati saya tertanam perjuangan melawan diskriminasi, bagaimana berintegrasi dengan rakyat Indonesia dan berjuang bersama-sama mewujudkan tatanan sosialisme,” kata Hwie dalam memoarnya.

Kini, Oei Hiem Hwie telah berpulang. Kembali ke Asal, sangkan paraning dumadi, dengan peninggalan yang tak ternilai. Selama Perpustakaan Medayu Agung masih ada, namanya akan tetap harum. Perjuangan dan kisah-kisahnya akan terus hidup selamanya. Selama-lamanya. Terima kasih sudah turut menumbuhkan literasi di Indonesia. Selamat jalan, Pak Hwie.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Oei Hiem HwiePerpustakaan Medayu AgungPramoedya Ananta ToerSurabaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rumah Kecil di Atas Kepala Gangga

Next Post

Tiga Air Terjun yang Eksotik, Pemikat Wisata di Desa Munduk-Buleleng

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Tiga Air Terjun yang Eksotik, Pemikat Wisata di Desa Munduk-Buleleng

Tiga Air Terjun yang Eksotik, Pemikat Wisata di Desa Munduk-Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co