25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tiga Air Terjun yang Eksotik, Pemikat Wisata di Desa Munduk-Buleleng

Putu Ayu Ariani by Putu Ayu Ariani
September 4, 2025
in Khas
Tiga Air Terjun yang Eksotik, Pemikat Wisata di Desa Munduk-Buleleng

Air Terjun Tanah Barak di Desa Munduk | Foto: Ariani

DESA Munduk, salah satu desa wisata yang terkenal di wilayah  Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng-Bali. Desa pegunungan ini berada pada ketinggian sekitar 800 meter dengan udaranya sejuk, pemandangan hijau kebun dan hutan memanjakan mata, dan pesona air terjun yang sangat memikat para wisatawan.

Dari Denpasar menuju Desa Munduk ditempuh sekitar 2-2,5 jam melewati obyek wisata Bedugul, melewati Danau Beratan, Danau Buyan dan Danau Tamblingan.

Jika bergerak dari Denpasar ke Desa Munduk, suasana akan terasa sangat berubah. Dari udara panas di kota, kita menikmati udara sejuk sejak mulai dari daerah Bedugul.

Jalanan yang berliku khas pegunungan dengan tanjakan dan turunan landai, sesekali tajam,  kita lewati dengan asyik. Apalagi jalan-jalan itu dikelilingi oleh hutan, perkebunan sayur, dan pemandangan danau.

Para wisatawan bisa berhenti sejenak menikmati pemandangan Danau Beratan, Danau Buyan, dan Danau Tamblingan. Jalur menuju Munduk terkenal sangat indah namun jalannya cukup menantang sehingga banyak wisatawan lebih memilih menggunakan jasa sopir lokal ketimbang mengendarai mobil sendiri.

“Kalau pagi hari kabutnya masih tebal di atas danau tapi justru disitulah keindahanya seperti berada di atas awan,” kata Kadek Hendry, sopir wisata yang sering menjemput tamu dari Denpasar untuk diantar ke Desa Munduk.

Di Desa Munduk, wisatawan bisa menikmati suasana desa yang asri dengan pemandangan bukit-bukit melingkari desa. Belakangan, banyak wisatawan yang menikmati suasana air terjun di desa itu, termasuk suasana perjalanan menuju ke air terjun.

Untuk menuju lokasi air terjun, wisatawan berjalan kaki sembari menikmati pemandangan kebun kopi serta cengkeh. Jalan yang dilalui adalah jalan setapak yang di kiri-kanan dipenuhi pepohonan.

Air Terjun Tanah Barak di Desa Munduk | Foto: Ariani

Air terjun yang paling populer di Desa Munduk adalah air terjun Tanah Barak atau Redcolar waterfal. Air terjun ini menjulang dengan ketinggian sekitar 15 meter. Airnya jatuh begitu deras menimpa bebatuan yang memunculkan kabut- kabut halus. Itu membuat udara terasa semakin sejuk dan segar.

Air terjun Tanah Barak ini lebih banyak digemari para wisatawan dari airv terjuan lain di Desa Munduk karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dati jalan raya. Wisatawan biasanya duduk di bebatuan sambil menikmati air terjun yang menyejukkan.

Air terjun yang lebih tinggi dari Tanah Barak adalah Air Terjun Melanting. Letaknya tidak jauh dati Air Terjun Tanah Barak, hanya membutuhkan waktuk 20 menit berjalan kaki.

Air Terjun Melanting termasuk air terjun tertinggi di Desa Munduk dengan ketinggian kurang lebih 20 meter. Di sepanjang perjalanan menuju Air Terjun Melanting banyak terdapat perkebunan kopi, cengkeh dan berbagai jenis buah-buahan  lokal. Sayangnya di air terjun ini para wisatawan tidak bisa berenang seperti di Air Terjun Tanah Barak. Meski begitu, para wisatawan tetap ingin mengunjungi air terjun ini karena terpikat dengan ketinggian tebing dan curah airnya.

Ada juga air terjun yang disebut Golden Valley Waterfall. Di lokasi air terjun  ini terdapat sebuah restoran yang bernama Eco Cafe. Di situ kita bisa minum kopi atau makan siang sambil menikmati pemandangan air terjun. Air terjun ini termasuk air terjun yang kecil tetapi sangat indah dan memukau. Dengan ketinggiannya yang berkisar antara 8 sampai 10 meter, air terjun ini cukup indah untuk dinikmati sambil minum secangkir kopi.

Steven, wisatawan yang berasal dari Prancis mengatakan Munduk tenang, sepi dan asri.

“Saya datang ke Bali untuk melihat alam, bukan hanya melihat pantai. Di Munduk saya juga bisa merasakan suasana pedesaan, mencoba kopi lokal dan melihat air terjun yang sangat memukau rasanya seperti surga kecil,” kata Steven.

Sementara itu Nora, wisatawan yang berasal dari Belanda mengaku jatuh cinta dengan jalur treking menuju air terjun.

“Di sepanjang jalan saya bisa lihat perkebunan, berkenalan dengan orang-orang di sekitar air terjun, bahkan saya mencoba buah lokal yang ada di sana. Bagi saya treking ke air terjun di sini rasanya seperti sedang berolahraga,” katanya.

Bagi Nora treking di Munduk menuju air terjun bukan hanya aktivitas fisik saja tapi kesempatan berinteraksi dengan alam di Desa Munduk.

Linda, wisatawan lokal yang berasal dari Jakarta juga terpesona melihat keindahan Munduk, dia mengaku Munduk memberikan pengalaman baru baginya.

“Biasanya kalau ke Bali, pasti ketemu dengan pantai, Kuta, Seminyak, dan Canggu yang sangat ramai, tapi setelah saya coba ke Bali bagian utara ternyata di sini jauh lebih tenang udaranya sangat sejuk cocok banget buat healing untuk melepaskan penat,” katanya.

Menurut Putu Yudiantara, pemandu wisatawan di Desa Munduk, mengatakan air terjun di Desa Munduk bukan hanya sumber daya alam tetapi juga warisan yang harus dijaga.

“Kami di desa bekerja sama untuk menjaga kebersihan jalur treking menuju ke air terjun. Kami juga memasang papan petunjuk dan menyediakan homestay sederhana agar para wisatawan lebih senang lagi datang ke Munduk,” katanya.

Air Terjun Melanting di Desa Munduk | Foto: Ariani

Putu Yudiantara juga menekankan bahwa masyarakat Desa Munduk aktif mejaga kebersihan, masyarakat Munduk juga selalu bersih-bersih bersama- sama setiap hari Jumat yang diberi nama Jumat Bersih sekaligus memastikan suasana tetap alami.

Pemilik warung kecil dekat air terjun yang menjual rempah- rempah, Wayan Tami, mengatakan usahanya semakin ramai sejak Munduk dikenal sebagai desa wisata.

“Dulu jarang ada yang datang untuk membeli rempah-rempah tapi sekarang sudah lumayan banyak yang membelinya,  seperti cengkeh, cabai dan kopi yang sudah kering-kering ini sangat membantu perekonomian keluarga saya,” katanya.

Wayan Tami sangat merasakan dampak dari datangnya para wisatawan ke Desa Munduk, karena dengan meningkatnya kunjungan wisatawan membuat usahanya semakin berkembang.

Dengan udara pegunungan yang segar dan deretan air terjun yang sangat menawan serta keramahan masyarakat Munduk menjadikan Desa Munduk seperti permata tersembunyi di Bali Utara, sebuah desa yang alamnya masih asri dan kehidupan pedesaan yang masih sangat harmonis. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Reporter/Penulis: Putu Ayu Ariani
Editor: Adnyana Ole

Tags: air terjunDesa MundukPariwisatapariwisata balipariwisata buleleng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hikayat Penyelamat Naskah Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer — Obituari Oei Hiem Hwie

Next Post

Citra Lestari dan Satia Budi, Pemenang Truna-Truni Dharma Duta Week IMK Singaraja: Bicara Era Digital dan Mental Health Matters di Lingkungan Kampus  

Putu Ayu Ariani

Putu Ayu Ariani

Mahasiswa Universitas PGRI Mahadewa Indonesia Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah

Related Posts

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails
Next Post
Citra Lestari dan Satia Budi, Pemenang Truna-Truni Dharma Duta Week IMK Singaraja:  Bicara Era Digital dan Mental Health Matters di Lingkungan Kampus  

Citra Lestari dan Satia Budi, Pemenang Truna-Truni Dharma Duta Week IMK Singaraja: Bicara Era Digital dan Mental Health Matters di Lingkungan Kampus  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani
Puisi

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu
Esai

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’
Ulas Musik

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co