23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Rasta Sindhu, Penulis Asal Badung yang Melahirkan 250 Karya Puisi dan 85 Cerpen antara 1964-1972

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
August 30, 2025
in Khas
Membaca Rasta Sindhu, Penulis Asal Badung yang Melahirkan 250 Karya Puisi dan 85 Cerpen antara 1964-1972

Suasana “Membaca Rasta Sindhu: Mengenang 82 Tahun Sastrawan Bali” | Foto: tatkala.co/Budarsana

MENDISKUSIKAN Rasta Sindhu, sastrawan Bali tempo dulu yang tak banyak orang membicarakannya, tentu tak sedingin di pagi yang hujan itu. Meski tak banyak peserta yang hadir, namun suasana diskusi tetap hangat saat diskusi dibuka oleh Ketua Komunitas Kawiya Bali I Putu Suryadi, yang menggelar acara itu. Antara peserta dan narasumber terkesan tak ada jarak—walau posisi mereka dibatasi dengan meja dan tempat duduk. Mereka hadir saling mengisi, sehingga diskusi menjadi lebih menarik.

Diskusi sastra bertajuk “Membaca Rasta Sindhu: Mengenang 82 Tahun Sastrawan Bali” ini digelar Komunitas Kawiya Bali bekerja sama dengan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di Sekretariat Kawiya Bali, Desa Darmasaba, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Jumat 29 Agustus 2025. Diskusi ini menghadirkan dua narasumber, yakni Dekan FBS UPMI Bali I Made Sujaya dan sastrawan sekaligus wartawan Putu Supartika dengan moderator I Made Subrata dari Kawiya Bali.

Poster “Membaca Rasta Sindhu: Mengenang 82 Tahun Sastrawan Bali” | Foto: Dok. Panitia

I Nyoman Rasta Sindhu (1943–1972)—sastrawan berasal dari Belok Sidan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung , Bali—sengaja diangkat dan dibicarakan karena karya-karyanya yang menginspirasi, dan memengaruhi perlembangan sastra Bali. Nama Rasta Sindhu mungkin tak sefamiliar Putu Wijaya atau Panji Tisna, namun bagi pencinta sastra Indonesia, ia adalah sosok penting. Nyoman Rasta Sindhu lahir pada tanggal 31 Agustus 1943 di Denpasar dan meninggal pada tanggal 14 Agustus 1972.

Ketika moderator mempersilakan Putu Supartika memaparkan materinya, ia langsung menyebut Rasta Sindhu sebagai tonggak penting dalam sejarah sastra di Pulau Dewata. Karya-karyanya tersebar di media massa, antara lain Kompas, Sinar Harapan, majalah sastra Horison, Mimbar Indonesia, Basis, Sastra.

“Pada tahun 1969, Rasta Sindhu memenangkan Hadiah Sastra Horison lewat cerpen Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar. Sayang, usianya begitu singkat. Rasta Sindhu meninggal dunia pada 1972, ketika baru berumur 29 tahun,” ujarnya.

Sementara I Made Sujaya mengatakan, minimnya dokumentasi menjadi salah satu persoalan utama ketika membicarakan kembali sosok Rasta Sindhu. Banyak karyanya tersebar di majalah sastra, surat kabar, hingga kliping lama yang kini sulit dilacak. Ketika dirinya berencana melakukan penelitian, namun terhalang dengan sumber dokumentasi mengenai karya-karya Rasta Sindhu yang masih sangat terbatas.

“Ada catatan yang menyebutkan beliau menulis hingga 85 cerpen antara 1964–1972, juga sekitar 250 puisi. Namun yang berhasil saya temukan hanya 18 cerpen. Itu pun sudah cukup representatif, meski jelas masih banyak yang hilang,” ujarnya.

Dari kiri ke kanan: Putu Supartika, I Made Subrata, dan I Made Sujaya | Foto: tatkala.co/Budarsana

Karena itu, Sujaya menekankan pentingnya upaya sistematis untuk mendokumentasikan karya maupun profil Rasta Sindhu, baik dalam bentuk buku maupun audiovisual. Hal ini bukan hanya soal dokumentasi karya sastra, tetapi juga bagian dari sejarah kebudayaan Bali.

“Rasta Sindhu adalah sastrawan fenomenal yang menulis dalam tekanan hidup namun menghasilkan karya-karya yang kuat. Rasta Sindhu adalah contoh nyata penulis yang hidup dari tulisan,” paparnya.

Meski wafat muda pada usia 29 tahun, Rasta Sindhu dikenang sebagai penulis yang berani, tajam, dan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan. Ia menyoroti konflik sosial, menyinggung adat, bahkan mengkritik tahayul yang masih kuat dalam masyarakat Bali.

Karya-karyanya banyak mengangkat lokalitas Bali sekaligus kritik sosial, menjadikannya salah satu pionir dalam mengawinkan tradisi dengan realitas modern. “Ia sudah mengangkat lokalitas Bali ke dalam sastra jauh sebelum ramai dibicarakan tahun 1980-an,” ucap Sujaya.

Usai pemaparannya itu, I Kadek Adhi Dwipayana dan Gede Sidi Artajaya, dua dosen Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, FBS, UPMI Bali secara bergantian bertanya sekaligus memberikan masukan.

Dwipayana mengakui Rasta Sindhu sebagai seorang sastrawan memang jarang dikenal masyarakat, utamanya penghobi sastra. Ketika mengajar, dan menyinggung nama Rasta Sindhu, tak ada respon dari mahasiswa. Itu menandakan mereka tak mengenal dan mengetahuinya.

Suasana “Membaca Rasta Sindhu: Mengenang 82 Tahun Sastrawan Bali” | Foto: tatkala.co/Budarsana

Sebagai sastrawan, nama Rasta Sindhu memang tak seterkenal Panji Tisna dan Putu Wijaya, meski ia telah melahirkan karya-karya yang menggelitik.

“Ke depan, ada niatan kita untuk mereproduksi Rasta Sindju. Saya memang tidak banyak mendapatkan karya-karya beliau yang bisa dibaca. Melalui kegiatan itu semoga karya-karyanya bisa dikumpulkan semua, sehingga bisa dibaca secara utuh dan dapat dijadikan bahan pembelajaran dalam konteks akademik,” harapnya.

Sementara Sudi Artajaya mengatakan, acara diskusi sastra ini dapat menambah pengetahuan khususnya dalam bidang sastra. Karena itu, kegiatan diskusi ini jangan hanya dilakukan di komunitas, terapi mengundang dan melibatkan mahsiswa. Kegiatan seperi ini akan dapat membah pengetahuan mereka. Artinya, selain menimbal ilmu di kampus, mereka juga mengasah pengalamannya di masyarakat.

Kepala Bidang (Kabid) Sejarah Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung Ni Nyoman Indrawati bersama Tim yang saat itu sedang melakukan verifikasi terhadap Kawiya sebagai syarat mendapatkan Surat Keterangan Terdaftar (SKT) memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan diskusi sastra ini.

“Diskusi ini juga membuka wawasan baru bahwa ternyata ada sosok sastrawan besar dari Badung yang selama ini mungkin kurang mendapat perhatian,” ujarnya.

Suasana “Membaca Rasta Sindhu: Mengenang 82 Tahun Sastrawan Bali” | Foto: tatkala.co/Budarsana

Diskusi ini sekaligus menghasilkan kesepahaman bahwa perlu ada langkah nyata untuk mengawal program dokumentasi karya dan sosok Rasta Sindhu. Dengan demikian, jejaknya tidak hanya dikenang, tetapi juga dapat menjadi bahan kajian akademis maupun inspirasi bagi sastrawan muda Bali

“Kami berharap, ke depan, Kawiya Bali dapat terus bersinergi dengan pemerintah daerah dalam menyebarluaskan informasi, tidak hanya lewat media tulis, tetapi juga sebagai media sosialisasi budaya. Kami bangga bisa menyambut komunitas Kawiya Bali sebagai mitra strategis,” imbuhnya.

Komunitas Kawiya tentu telah melakukan pecarian data dan informasi sebelum menjadikannya berita. Hal itu sebagai bentuk sosialisasi sebagai penyambung lidah untuk masyarakat. Karena itu, nantinya bisa melakukan  kerjasama betkesinambungan untuk membangun Badung.

“Walau anggota komunitas ini tak semuanya dari Badung, tetapi domisili komunitas ini kan ada di Badung, sehingga informasi Badung ini akan bisa sampai di luar Badung,” harapnya.

Ketua Komunitas Kawiya Bali I Putu Suryadi menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi langkah awal menjalin kerja sama lebih intens dengan pemerintah daerah, sekaligus membuka peluang penggalian potensi sastra di desa-desa. “Kami berharap bisa berkontribusi melalui festival, kajian, maupun pemberitaan, serta melibatkan masyarakat luas,” paparnya.[T]

Penulis/Reporter: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: asta SindhuBadungCerpensastrasastrawan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesta Rakyat Dulu, Sebelum Perhelatan Internasional CHANDI 2025 Kementerian Kebudayaan Dimulai

Next Post

ACAB dan 1312, Simbol Protes Digital yang Menggema Usai Tragedi Affan

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
ACAB dan 1312, Simbol Protes Digital yang Menggema Usai Tragedi Affan

ACAB dan 1312, Simbol Protes Digital yang Menggema Usai Tragedi Affan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co