27 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lebih Dekat dengan Wiguna Mahayasa: Tidak Ada Jalan Buntu bagi Semangat

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 27, 2025
in Persona
Lebih Dekat dengan Wiguna Mahayasa: Tidak Ada Jalan Buntu bagi Semangat

I Made Prasetya Wiguna Mahayasa | Foto: Dok.pribadi

USIANYA baru 25 tahun. I Made Prasetya Wiguna Mahayasa lahir di Denpasar pada 21 Maret 2000. Baru saja ia menuntaskan studi Magister Manajemen dari Telkom University, Bandung. Studi S1 ditempuh di Universitas Negeri Malang jurusan Pendidikan Luar Biasa. Sejak mahasiswa, meskipun mendapat beasiswa, ia tetap bekerja sebagai pengajar musik untuk anak-anak dan remaja. Kini ia tercatat sebagai ketua Asosiasi Wirausaha Inklusif Indonesia (AWINDO), wadah bagi penyandang distabilitasi yang tertarik atau telah memulai bidang wirausaha.

Menariknya, ia menciptakan lapangan kerja bukan hanya untuk rekan sesama disabilitas. Pertemuan kami pada Minggu, 24 Agustus 2025 adalah kali pertama, setelah sebelumnya hanya lewat layar ponsel. Wiguna sering membaca tulisan-tulisan saya yang saya bagikan di story WhatsApp. Pemuda ini mengajarkan saya tentang semangat, passion, dan keteguhan untuk terus berbuat yang terbaik — bukan hanya bagi diri sendiri, tapi juga untuk keluarga dan masyarakat luas.

I Made Prasetya Wiguna Mahayasa (kanan) | Foto: Dok.pribadi

Sejak kecil Wiguna tumbuh dengan keterbatasan ganda. Ia sulit mendengar dan tidak bisa melihat. Pada masa kanak-kanak dan remaja, ia sempat mengalami penolakan terhadap dirinya sendiri. Ia merasa berbeda, terasing, bahkan sempat menolak identitas sebagai penyandang disabilitas. Hingga akhirnya di bangku kuliah, ia mulai menemukan arah. Di Malang, Jawa Timur, ia melihat banyak teman dengan kondisi serupa yang tetap berprestasi. Dari sana ia belajar menerima dirinya, sekaligus menyalakan semangat baru.

“Krisis itu pasti ada. Saya dulu sempat tidak menerima diri sendiri. Tapi lama-lama saya sadar, kalau saya tidak menerima, hidup tidak akan maju. Penerimaan diri itulah titik balik saya,” katanya.

Masa Sekolah di SLB

Sebelum sampai pada titik balik itu, perjalanan Wiguna di masa sekolah bukanlah hal mudah. Sejak kecil, ia bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri di Denpasar. Di sanalah ia pertama kali belajar mengenal dunia luar dengan segala keterbatasan yang dimiliki. Awalnya, Wiguna merasa kesulitan beradaptasi. Ia masih sering menutup diri, enggan berbaur, dan lebih banyak diam. Namun perlahan, guru-guru di SLB melihat bakatnya dalam musik dan dorongan untuk belajar.

Di sekolah itu, Wiguna tidak hanya belajar pelajaran umum, tetapi juga keterampilan hidup. Ia berlatih membaca dan menulis huruf braille. Dari SLB pula ia mulai mengenal alat musik, terutama piano dan gitar, yang kelak menjadi pintu masuknya mengajar anak-anak.

I Made Prasetya Wiguna Mahayasa dalam sebuah acara bisnis | Foto: Dok.pribadi

Yang menarik, meskipun keterbatasannya cukup berat, Wiguna selalu berusaha bersaing sehat dengan teman-teman sekolahnya. Ia sering mengikuti lomba seni tingkat SLB, seperti menyanyi dan menulis puisi. Dari beberapa lomba itulah, kepercayaan dirinya perlahan tumbuh. “Di SLB saya belajar bahwa kami semua punya cara masing-masing untuk bersinar. Tidak perlu sama dengan orang lain, yang penting tetap berjuang,” ucapnya.

Masa sekolah di SLB juga mengajarkan Wiguna arti persahabatan. Banyak sahabat yang ia temui di sana sama-sama memiliki keterbatasan, sehingga mereka saling memahami dan mendukung. Kebersamaan itu membuatnya tidak lagi merasa sendiri. Dukungan guru yang sabar dan lingkungan belajar yang inklusif menjadi bekal awal Wiguna menapaki pendidikan lebih tinggi.

Setelah menamatkan sekolah menengah ia lalu menembus bangku universitas. Jejak perjuangan di SLB itulah yang menempanya menjadi pribadi tangguh. Bagi Wiguna, sekolah khusus bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang menemukan diri. “Kalau tidak ada masa SLB, mungkin saya tidak akan punya pondasi untuk berani melangkah sejauh ini,” katanya.

Dari titik balik itulah ia mulai menekuni berbagai aktivitas. Selain kuliah, ia mengajar musik, menulis, dan berjejaring. Ia belajar bahwa keberanian untuk membuka diri justru menjadi pintu bagi banyak kesempatan.

Asosiasi Wirausaha Inklusif Indonesia

Asosiasi Wirausaha Inklusif Indonesia berdiri pada 20 April 2024 di Denpasar. Wiguna mendirikan bersama lima orang temannya. Visi asosiasi ini sederhana tetapi mendasar, yakni membuka akses kewirausahaan yang inklusif bagi teman-teman disabilitas. Mereka yang kesulitan mendapatkan pekerjaan dan terjun ke dunia usaha tetap bisa mengembangkan diri, menjadi mandiri, sekaligus berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.

“Alasan saya mendirikan organisasi ini adalah saya ingin memperjuangkan apa saja masalah yang dihadapi pengusaha disabilitas,” kata Wiguna.

Sejak resmi membuka pendaftaran pada Januari 2025, asosiasi ini sudah memiliki 334 anggota. Anggota itu tersebar dari Sabang sampai Merauke dengan bidang usaha yang beragam. Ada yang menjadi seniman, terapis pijat, petani, hingga pengusaha teknologi. “Sekarang trennya banyak ke teknologi. Ada anggota kami juga yang punya usaha di bidang advertising digital. Ini menurut saya sangat menarik,” ujarnya.

Namun perjalanan menuju kemandirian tentu tidak mudah. Wiguna sendiri merasakannya. “Ketika menjalankan usaha, mau ketemu klien itu susah, komunikasi secara langsung juga sulit. Jadi di sisi lain kami tahu ilmunya, tapi hambatan sebagai disabilitas itu dua kali lipat,” ungkapnya.

Kesulitan serupa dialami rekan-rekannya. Seorang tunanetra mengeluhkan rumitnya mengurus legalitas usaha karena tampilan laman pendaftaran tidak ramah pembaca layar. Yang lain kesulitan memahami pemasaran digital. Wiguna menegaskan, “Nanti dengan volunteer kami bantu. Bagaimana pendaftarannya, edukasinya, sampai ke ilmu pemasaran. Intinya mempermudah teman-teman pengusaha disabilitas menjalankan usaha mereka”.

I Made Prasetya Wiguna Mahayasa | Foto: Dok.pribadi

Menariknya, Wiguna tidak hanya menjadi penggerak organisasi, tapi juga pernah berperan sebagai pemberi kerja. Ia merekrut beberapa teman untuk membantunya dalam usaha yang ia jalankan. Dari pengalaman itu, ia semakin paham betapa besar tantangan yang dihadapi penyandang disabilitas. Ada yang sulit mengakses teknologi, ada pula yang terkendala mobilitas.

“Ketika saya merekrut karyawan, saya tahu betul bahwa tidak semua bisa langsung mahir. Ada proses adaptasi. Tapi bagi saya yang penting adalah kemauan belajar. Kalau ada niat, keterampilan bisa ditingkatkan,” katanya.

Selain aktif di AWINDO, Wiguna juga mendirikan PT Mahayasa Teknologi Nusantara (PT MTN) pada 4 September 2021 di Denpasar. Awalnya perusahaan ini meluncurkan aplikasi Wiguna Payment, lalu berkembang menjadi Mpay Komunika, Smart Saldo, dan Teman Pay. PT MTN juga berkomitmen membuka lapangan kerja setara, bahkan pernah melakukan perekrutan daring dengan melibatkan panitia rekrutmen disabilitas. Prinsipnya sederhana, yakni kesempatan dan kompetensi yang setara bagi semua.

Tak berhenti di sana, Wiguna juga mendirikan Sunar Sanggita, sebuah kursus musik inklusif yang melibatkan pengajar tunanetra. Di tempat inilah musik menjadi ruang tumbuh, bukan sekadar hiburan. Sunar Sanggita menawarkan les musik, studio rekaman, sewa alat, hingga pengisi acara. Pada 2023, Sunar Sanggita meraih juara satu di Astra Disability Connection Program, mengalahkan berbagai model bisnis lain dan membuktikan bahwa inklusi bisa punya daya saing tinggi.

Sunar Sanggita juga menjadi bahan riset akademik. Pada 2025, terbit sebuah publikasi di ResearchGate yang membahas perjalanan pelanggan kursus musik inklusif dengan studi kasus Sunar Sanggita. Riset ini penting untuk memetakan pengalaman murid dan orang tua, sekaligus meningkatkan kualitas layanan. Dengan demikian, Sunar Sanggita bukan hanya bisnis, tetapi juga laboratorium pengetahuan.

Pendidikan dan Visi ke Depan

Keputusan Wiguna melanjutkan pendidikan hingga S2 bukan hanya untuk dirinya. Ia ingin memberi contoh bahwa penyandang disabilitas juga mampu meraih pendidikan tinggi. Di Telkom University, ia mengambil jurusan Manajemen Bisnis Digital, sebuah bidang yang sejalan dengan visinya membangun wirausaha berbasis teknologi.

“Bagi saya, pendidikan itu bukan sekadar gelar. Tapi cara untuk membuka wawasan. Saya ingin teman-teman disabilitas lain juga berani kuliah setinggi mungkin. Jangan takut dengan keterbatasan,” katanya mantap.

Di balik perjuangan itu, Wiguna tidak melupakan keluarga. Ia ingin kelak bisa membahagiakan orang tua, memberi mereka kehidupan yang lebih baik. Baginya, keluarga adalah alasan utama untuk terus maju.

I Made Prasetya Wiguna Mahayasa | Foto: Dok.pribadi

Wiguna selalu menekankan pentingnya penerimaan diri. Baginya, itu adalah fondasi. “Kalau tidak menerima, kami hanya akan terjebak pada kesedihan. Tapi kalau menerima, kami bisa melangkah. Hidup memang tidak mudah, tapi selalu ada jalan,” ucapnya.

Ia percaya bahwa setiap keterbatasan membawa ruang untuk kreativitas. Justru karena sulit, orang disabilitas bisa menemukan cara-cara baru yang lebih kreatif dalam menjalani hidup. Semangat itulah yang ia bagikan kepada anggotanya, kepada siapa pun yang ia temui.

Wiguna tahu betul, menjadi pengusaha itu sulit. Bukan hanya bagi disabilitas, bahkan bagi non-disabilitas pun riset menunjukkan hanya sebagian kecil yang benar-benar berhasil. Tetapi ia percaya semangat bisa mengalahkan jalan buntu. “Minimal mereka bisa mandiri dulu,” katanya mantap.

Dari Denpasar, Wiguna menyalakan api kecil. Api yang menyala dari keterbatasan, tumbuh menjadi bara yang menghangatkan banyak orang. Ia percaya, jalan pengusaha disabilitas mungkin penuh kelok, tapi tidak ada jalan buntu bagi semangat.

Dan di hadapan saya kala itu, saya melihat bukan hanya seorang pemuda berusia 25 tahun dengan segudang keterbatasan. Saya melihat seorang guru yang mengingatkan, bahwa hidup betapapun sulit selalu bisa dicari celahnya. Bahwa kita semua pada akhirnya dituntut untuk tidak menyerah pada keadaan. Wiguna telah memilih jalannya. Pertanyaannya, apakah kita berani memilih jalan kita sendiri. [T]

Reporter/Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: bisnisekonomiEkonomi dan Bisnissekolah luar biasa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [15-Habis]—Di Labuan Bajo Saya Hanya Numpang Lewat

Next Post

Lawan Gas Bocor Wajan Dilalap Api dengan Tenang — Cerita dari Pelatihan dan Simulasi Kebakaran di Bulfest 2025

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails
Next Post
Lawan Gas Bocor Wajan Dilalap Api dengan Tenang — Cerita dari Pelatihan dan Simulasi Kebakaran di Bulfest 2025

Lawan Gas Bocor Wajan Dilalap Api dengan Tenang -- Cerita dari Pelatihan dan Simulasi Kebakaran di Bulfest 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Rasa penasaran tampak jelas dari raut wajah ribuan penonton yang memadati Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Kamis 25 Juni 2026....

by Nyoman Budarsana
June 26, 2026
Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’
Esai

Tak Ada Kata Terlambat —Dari Ratnakara, Lubdhaka, Sri Ramakrishna hingga ‘The Turning Point Fritjof Capra’

"Di mata Sang Guru, tidak ada dosa yang tidak dapat ditebus, tidak ada jiwa yang berada di luar pelukan kasih-Nya."...

by Agung Sudarsa
June 26, 2026
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro
Cerpen

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu
Puisi

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali
Kritik Seni

Dari Ornamen ke Gagasan: Menata Ulang Masa Depan Seni Tradisional Bali

“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.” PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika...

by Wayan Gde Yudane
June 26, 2026
Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali
Esai

Tanggung Jawab Moral Media Massa pada Pesta Kesenian Bali

PESTA Kesenian Bali (PKB) memerlukan media massa untuk publikasi dan dokumentasi, sedangkan media massa memerlukan PKB untuk menunjukkan tanggung jawab...

by I Nyoman Darma Putra
June 26, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Negeri Pesugihan

SIDANG pembaca yang budiman, coba anda buka Netflix atau platform streaming apa pun yang sedang populer. Tidak perlu menggulir lama-lama,...

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 26, 2026
Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?
Khas

Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?

 “Karya sampah ini. Kok bisa muncul di PKB?" KALIMAT itu masih diingat betul oleh Agung Rahma Putra. Sekitar satu dekade...

by Dede Putra Wiguna
June 26, 2026
Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand
Pendidikan

Pengabdian Internasional Undiksha & Ubon Ratchathani University —Perkuat Kesadaran Antarbudaya Bali-Thailand

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING...

by tatkala
June 25, 2026
Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket
Bahasa

Semantik Logistik Modern: Kargo, Ekspedisi, dan Paket

BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma...

by I Made Sudiana
June 25, 2026
Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?
Khas

Buat Apa Merekonstruksi Kesenian Langka?

DI Selat Duda, Karangasem, pada 1983 silam, puluhan kesenian sakral Sanghyang pernah dipentaskan dalam satu kesempatan. Ada 31 jenis Sanghyang...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal
Panggung

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co