6 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi dan Simbol: Sebuah Paradoks dari Kacamata Fenomenologi, Hermeneutika, dan Psikoanalisis

Krisna Aji by Krisna Aji
August 26, 2025
in Ulas Buku
Puisi dan Simbol: Sebuah Paradoks dari Kacamata Fenomenologi, Hermeneutika, dan Psikoanalisis

Buku kumpulan puisi Prihentemen

SAYA tidak paham sastra. Saya benar-benar buta terhadap telaah artistik simbol berbentuk rentetan kata. Saya hanya bisa menikmatinya semau saya. Dengan menikmati puisi dengan sendok-garpu berupa psikoanalisis, hermeneutika, dan fenomenologi. Alat-alat yang paling familiar bagi saya sebagai psikiater dan dosen pendidik klinis untuk menelaah bagaimana manusia berperilaku dan menciptakan sesuatu. Hal yang juga saya lakukan saat diberi buku kumpulan puisi berjudul Prihentemen oleh penulisnya, bu Sonia.

Bagi yang belum tahu, buku ini merupakan kumpulan puisi dari seorang perempuan yang kehilangan ayahnya secara mendadak. Bagi yang sudah pernah membacanya, akan banyak yang setuju bahwa tulisan di dalam buku ini sangatlah bagus. Tetapi, yang menarik bagi saya untuk dibahas bukan dari bentuk puisi, melainkan bagaimana kata sebagai simbol dapat menjadi jalan keluar bagi emosi yang terlalu menyesaki balon bawah sadar. Balon yang terus mengembung saat disesaki masalah yang tidak diselesaikan di alam sadar, lalu akan meledak saat sudah melampaui batasannya. Ledakan yang pada perjalanannya perlu diantisipasi dengan mengeluarkan isinya secara perlahan. Seperti mengeluarkan isi nanah yang sudah matang agar lebih melegakan.

Sebagai orang yang terbiasa membaca gejala psikologis melalui simbol, asosiasi bebas, dan narasi bawah sadar, saya memulainya dengan konsep hermeneutika untuk ikut meraba apa yang dirasakan oleh pembuat puisi tersebut. Kata dan susunan kata tampak seperti simbol memadatkan sesuatu yang abstrak agar bisa “disentuh” oleh diri sendiri dan orang lain. Seperti memadatkan perasaan kehilangan, duka, putus asa, kerinduan, dan berbagai hal lain yang sejatinya tidak bisa diwakilkan oleh objek konkret apapun.

Jika menggunakan konsep psikoanalisis dalam memahami metakonflik seseorang, konsep perabaan akan berlanjut ke penelusuran asal-muasal dari lahirnya simbol. Bekerja sama dengan pasien membuka lapis demi lapis arti dari simbol yang berserakan. Seperti mencari pecahan-pecahan puzzle dan menatanya kembali. Agar konflik abstrak yang berada di alam bawah sadar karena ditakuti, akhirnya berani diterima dan diselesaikan di alam sadar.

Dengan menggunakan kaca mata tersebut, simbol perlu diartikan. Tetapi di sinilah saya mulai menemui paradoks ketika berbicara mengenai puisi. Paradoks yang juga bisa terjadi pada konsep-konsep psikoanalisis.

Dalam puisi–setidaknya dari perbincangan dengan Ole (Made Adnyana Ole), kata-kata yang digunakan bisa saja adalah bentuk paling otentik dari perasaan yang dialami oleh penulisnya. Bagi penulis, simbol dalam puisi bukan awal dari sesuatu yang harus dibongkar. Ia adalah titik akhir dari perjalanan emosional. Kata sebagai simbol tidak perlu ditafsirkan lagi. Penggunaan kata lain atau penafsiran berkelanjutan hanya akan mengaburkan abstraksi emosional yang sesungguhnya. Ia sudah final.

Paradoks ini menantang cara berpikir yang biasa saya gunakan sebagai profesional yang paling sering menggunakan konsep psikoanalisis dalam praktik klinis. Karena dalam praktik terapi, simbol adalah jalan awal menuju kesadaran. Sedangkan dalam puisi, simbol justru bisa menjadi wujud kesadaran itu sendiri.

Untuk membahas lebih dalam mengenai paradoks ini, saya kembali menggunakan konsep hermeneutika dengan sedikit lebih dalam. Ilmu yang berbicara tentang bagaimana memahami seseorang yang memahami sesuatu; memahami fenomenologi yang terjadi pada orang lain. Dari teori Schleiermacher, Dilthey, sampai Derida–karena menurut saya, tiga teori ini yang paling relevan.

Dimulai dari teori hermeneutika Friedrich Schleiermacher yang sering disebut dengan hermeneutika romantis. Konsep ini mengatakan bahwa untuk memahami suatu simbol, kita harus benar-benar menangkap dunia batin pembuat simbolnya. Tidak hanya meraba, tetapi juga “menjadi” orang yang membuat simbol. Dalam konteks penulisan puisi, kita tidak lagi melihat simbol sebagai hal yang harus dipecahkan, tetapi benar-benar menjadi penulis yang mengekspresikan dunianya. Dengan keutuhan dan batas yang ia rasakan sendiri. Deskripsi ini tampak sangat utopis tetapi tidak mungkin terjadi. Bagaimana saya bisa benar-benar menjadi si penulis puisi yang saya baca? Semakin saya berusaha menjadi penulis puisi yang saya baca dengan menafsirkan pengalamannya sekuat tenaga, saya hanya akan berkubang pada delusi saya semata, kan?

Kelemahan tersebut lalu dibenahi oleh teori hermeneutika Dilthey yang sering disebut dengan hermeneutika metodologis. Dalam hal ini, kita sebagai pengamat fenomenologi orang lain hanya boleh bergerak sejauh perabaan semata, dengan orang yang mengalami fenomenologinya sebagai standar baku kebenaran atas realitas yang dihadapinya. Dalam konteks menikmati puisi yang ditulis orang lain, puisi bisa dianggap sebagai wadah dari pengalaman yang ingin dibagikan. Kita mungkin tidak bisa merasakannya secara penuh, tapi kita bisa mendekat dengan memahaminya sebagai bagian dari pengalaman pembuatnya.

Apakah semua selesai sampai di situ? Tentu saja tidak. Ada yang lebih rumit. Bisa jadi, hal yang dirasakan oleh manusia yang mengalami fenomenologinya juga tidak sesederhana itu. Bisa jadi, kita juga bisa mempertanyakan subjek yang mengalami fenomenologinya sendiri dengan menggunakan pemikiran hermeneutika dekonstruksi Jacques Derrida.

Derrida membuatnya segalanya makin terbuka dengan kemungkinan yang tak hingga. Ia mengatakan bahwa tidak ada makna yang benar-benar selesai, bahkan oleh manusia yang mengalaminya. Simbol bersumber dari simbol lain. Simbol lain sebagai sumber simbol tersebut juga dapat dipertanyakan karena berasal dari simbol lainnya lagi. Terus menerus seperti itu hingga tidak ada ujung asalnya. Pemaknaan terhadap sesuatu akan terus bergerak dengan kemungkinan yang tak hingga, baik asal maupun akhirnya. Bahkan, bagi penulis puisi pun, kemungkinan pemaknaan fenomenologinya sendiri tidak berpangkal.

Konteks yang dipaparkan oleh Derrida mengenai makna yang tak berpangkal juga sejalan dengan teori Jacques Lacan, seorang militansi Freud. Ia memperkenalkan trias psikis–sering disebut dengan trias lacanian–yang membahasa bagaimana fenomenologi berlangsung pada area psikis manusia.

Dalam konteks teori Lacan, trias lacanian terdiri dari the real – “yang nyata”, the imaginary – imajiner, dan the symbolic – simbol. Ranah ini, jika menggunakan fenomenologi dari Martin Heidegger dan konsep Buddhism, adalah pembentuk dari sesuatu yang ada akibat subjek bertemu dengan objek. Pertemuan tersebut dijembatani oleh indera, yang jika merunut teori kesadaran yang bersinergi dengan nama-rupa Buddhism, indera terdiri dari enam pintu. Lima pintu indera fisik yang menangkap objek-objek fisik dan dilengkapi dengan satu pintu indera batin yang menangkap objek-objek batin.

Di mulai dari “yang nyata”, adalah ranah psikis yang tidak bisa digambarkan. Jika menggunakan pendekatan fenomenologi, kondisi ini dapat muncul seketika manusia bertemu objek (baik fisik maupun batin) dan menghasilkan sesuatu yang disebut dengan “ada”–das sein. Pertemuan antara subjek dan objek ini benar-benar bersih dan tak tersentuh oleh batasan konkret apapun. Dalam konteks Prihentemen, yang nyata adalah trauma, kehilangan, dan kekosongan yang terlalu mentah untuk diungkapkan. Benar-benar abstrak, tidak ada, tetapi juga ada. Dalam buku tersebut, kehilangan ayah adalah sesuatu yang mungkin berada di wilayah ini: terlalu besar, mendadak, dan asing untuk dikenali secara utuh.

Akibat tidak bisa tersentuh oleh batasan apapun, sesuatu “yang nyata” lalu menghasilkan gejolak di dalam diri untuk direngkuh. Tetapi karena sifatnya yang tidak berbentuk, akhirnya diri menghasilkan bentukan the imaginary–“imajiner” yang menyerupai kondisi “yang nyata”. “Imajiner” adalah ranah citra, imaji, dan ego. Tempat di mana pengalaman mulai dicitrakan, dijahit oleh narasi, dan dibentuk. Dalam puisi, ini terlihat bayangan yang ada dalam psikis penulisnya. Paling tidak, ini lebih konkret dari “yang nyata” dan lebih terasa “ada” karena sudah bisa diraba oleh psikis penulis. Menjadi sesuatu yang dapat direngkuh walau hanya dalam batasan psikis semata. Walaupun demikian, ini tetap ilusi; ini bukan “yang nyata” itu sendiri karena “yang nyata” tetap tidak bisa direngkuh oleh apapun, bahkan oleh abstraksi psikis sekalipun.

Bentukan “imajiner” sejatinya masih berjarak dengan “yang nyata”. Dengan kondisi seperti ini, gejolak psikis untuk menyatukan–paling tidak, menjembatani–kedua sisi ini muncul. Dari sinilah terciptalah kendaraan bernama “simbol”.

Dalam trias lacanian, “simbol” adalah dunia bahasa, hukum, struktur, objek visual, atau hal konkret apapun yang diciptakan oleh manusia untuk menjembatani “yang nyata” dan “imajiner” agar menjadi satu. Dalam ranah puisi, ketika penulis akhirnya menulis, ia masuk ke dalam ranah simbolik: perasaan yang tak tergambarkan kini menemukan bentuk dalam kata dan struktur puisi. Walaupun tampak menjadi solusi, di sinilah ketegangan baru muncul: begitu perasaan–sebagai objek “imajiner”– masuk ke dalam bahasa, ia juga kehilangan segalanya. Ia benar-benar menjadi “simbol”, bukan lagi “imajiner”, apa lagi “yang nyata”. Situasi ini selalu membawa keterbatasan. Ia menandai sekaligus mengaburkan.

Lalu, manakah pandangan yang lebih tepat? Apakah kata dalam puisi sebagai simbol adalah sesuatu yang  harus ditelan mentah-mentah karena telaah mendalam hanya akan mengaburkan makna sesungguhnya? Atau sebaliknya? Dikuliti lapis demi lapis agar makna sesungguhnya–siapa yang tahu–bisa lebih dipahami gambaran besarnya? Bisa jadi, asosiasi bebas dan interpretasi dalam metode psikoanalisis juga memiliki pola yang serupa seperti telaah terhadap puisi? Di mana mengurai simbol-simbol dari gestur dan kata-kata pasien juga adalah tindakan yang bersifat paradoks karena hanya akan menimbulkan berbagai simbol baru yang tak berujung?

Mungkin, diskusi ini akan menarik untuk dilanjutkan lagi sambil minum kopi di markas Mahima. Lain kali, dengan menambahkan tesis puisi sebagai media asosiasi bebas bagi penulisnya.

Oya, buku Prihentemen ini diberikan kepada saya oleh Bu Sonia (Kadek Sonia Piscayanti), ketika saya berkunjung dan berdiskusi panjang-lebar tentang puisi di markas Komunitas Mahima, Singaraja. Dan, kopi tubruk buatan Pak Ole enak sekali. Kapan-kapan saya akan minta dibuatkan dua cangkir. [T]

Penulis: Krisna Aji
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis KRISNA AJI

Tags: buku kumpulan puisibuku puisiFenomenologihermeneutikapsikoanalisisPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kisah di Balik Manisnya Dodol Bali Mula Mesari Desa Julah

Next Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [14]—Tanjakan dan Turunan di Rute Bima-Sape Seolah Tanpa Akhir

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [14]—Tanjakan dan Turunan di Rute Bima-Sape Seolah Tanpa Akhir

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [14]—Tanjakan dan Turunan di Rute Bima-Sape Seolah Tanpa Akhir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan
Khas

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

by tatkala
August 6, 2026
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana
Esai

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

by Angga Wijaya
August 6, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

by Chusmeru
August 6, 2026
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur
Ulas Musik

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co