31 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi dan Simbol: Sebuah Paradoks dari Kacamata Fenomenologi, Hermeneutika, dan Psikoanalisis

Krisna Aji by Krisna Aji
August 26, 2025
in Ulas Buku
Puisi dan Simbol: Sebuah Paradoks dari Kacamata Fenomenologi, Hermeneutika, dan Psikoanalisis

Buku kumpulan puisi Prihentemen

SAYA tidak paham sastra. Saya benar-benar buta terhadap telaah artistik simbol berbentuk rentetan kata. Saya hanya bisa menikmatinya semau saya. Dengan menikmati puisi dengan sendok-garpu berupa psikoanalisis, hermeneutika, dan fenomenologi. Alat-alat yang paling familiar bagi saya sebagai psikiater dan dosen pendidik klinis untuk menelaah bagaimana manusia berperilaku dan menciptakan sesuatu. Hal yang juga saya lakukan saat diberi buku kumpulan puisi berjudul Prihentemen oleh penulisnya, bu Sonia.

Bagi yang belum tahu, buku ini merupakan kumpulan puisi dari seorang perempuan yang kehilangan ayahnya secara mendadak. Bagi yang sudah pernah membacanya, akan banyak yang setuju bahwa tulisan di dalam buku ini sangatlah bagus. Tetapi, yang menarik bagi saya untuk dibahas bukan dari bentuk puisi, melainkan bagaimana kata sebagai simbol dapat menjadi jalan keluar bagi emosi yang terlalu menyesaki balon bawah sadar. Balon yang terus mengembung saat disesaki masalah yang tidak diselesaikan di alam sadar, lalu akan meledak saat sudah melampaui batasannya. Ledakan yang pada perjalanannya perlu diantisipasi dengan mengeluarkan isinya secara perlahan. Seperti mengeluarkan isi nanah yang sudah matang agar lebih melegakan.

Sebagai orang yang terbiasa membaca gejala psikologis melalui simbol, asosiasi bebas, dan narasi bawah sadar, saya memulainya dengan konsep hermeneutika untuk ikut meraba apa yang dirasakan oleh pembuat puisi tersebut. Kata dan susunan kata tampak seperti simbol memadatkan sesuatu yang abstrak agar bisa “disentuh” oleh diri sendiri dan orang lain. Seperti memadatkan perasaan kehilangan, duka, putus asa, kerinduan, dan berbagai hal lain yang sejatinya tidak bisa diwakilkan oleh objek konkret apapun.

Jika menggunakan konsep psikoanalisis dalam memahami metakonflik seseorang, konsep perabaan akan berlanjut ke penelusuran asal-muasal dari lahirnya simbol. Bekerja sama dengan pasien membuka lapis demi lapis arti dari simbol yang berserakan. Seperti mencari pecahan-pecahan puzzle dan menatanya kembali. Agar konflik abstrak yang berada di alam bawah sadar karena ditakuti, akhirnya berani diterima dan diselesaikan di alam sadar.

Dengan menggunakan kaca mata tersebut, simbol perlu diartikan. Tetapi di sinilah saya mulai menemui paradoks ketika berbicara mengenai puisi. Paradoks yang juga bisa terjadi pada konsep-konsep psikoanalisis.

Dalam puisi–setidaknya dari perbincangan dengan Ole (Made Adnyana Ole), kata-kata yang digunakan bisa saja adalah bentuk paling otentik dari perasaan yang dialami oleh penulisnya. Bagi penulis, simbol dalam puisi bukan awal dari sesuatu yang harus dibongkar. Ia adalah titik akhir dari perjalanan emosional. Kata sebagai simbol tidak perlu ditafsirkan lagi. Penggunaan kata lain atau penafsiran berkelanjutan hanya akan mengaburkan abstraksi emosional yang sesungguhnya. Ia sudah final.

Paradoks ini menantang cara berpikir yang biasa saya gunakan sebagai profesional yang paling sering menggunakan konsep psikoanalisis dalam praktik klinis. Karena dalam praktik terapi, simbol adalah jalan awal menuju kesadaran. Sedangkan dalam puisi, simbol justru bisa menjadi wujud kesadaran itu sendiri.

Untuk membahas lebih dalam mengenai paradoks ini, saya kembali menggunakan konsep hermeneutika dengan sedikit lebih dalam. Ilmu yang berbicara tentang bagaimana memahami seseorang yang memahami sesuatu; memahami fenomenologi yang terjadi pada orang lain. Dari teori Schleiermacher, Dilthey, sampai Derida–karena menurut saya, tiga teori ini yang paling relevan.

Dimulai dari teori hermeneutika Friedrich Schleiermacher yang sering disebut dengan hermeneutika romantis. Konsep ini mengatakan bahwa untuk memahami suatu simbol, kita harus benar-benar menangkap dunia batin pembuat simbolnya. Tidak hanya meraba, tetapi juga “menjadi” orang yang membuat simbol. Dalam konteks penulisan puisi, kita tidak lagi melihat simbol sebagai hal yang harus dipecahkan, tetapi benar-benar menjadi penulis yang mengekspresikan dunianya. Dengan keutuhan dan batas yang ia rasakan sendiri. Deskripsi ini tampak sangat utopis tetapi tidak mungkin terjadi. Bagaimana saya bisa benar-benar menjadi si penulis puisi yang saya baca? Semakin saya berusaha menjadi penulis puisi yang saya baca dengan menafsirkan pengalamannya sekuat tenaga, saya hanya akan berkubang pada delusi saya semata, kan?

Kelemahan tersebut lalu dibenahi oleh teori hermeneutika Dilthey yang sering disebut dengan hermeneutika metodologis. Dalam hal ini, kita sebagai pengamat fenomenologi orang lain hanya boleh bergerak sejauh perabaan semata, dengan orang yang mengalami fenomenologinya sebagai standar baku kebenaran atas realitas yang dihadapinya. Dalam konteks menikmati puisi yang ditulis orang lain, puisi bisa dianggap sebagai wadah dari pengalaman yang ingin dibagikan. Kita mungkin tidak bisa merasakannya secara penuh, tapi kita bisa mendekat dengan memahaminya sebagai bagian dari pengalaman pembuatnya.

Apakah semua selesai sampai di situ? Tentu saja tidak. Ada yang lebih rumit. Bisa jadi, hal yang dirasakan oleh manusia yang mengalami fenomenologinya juga tidak sesederhana itu. Bisa jadi, kita juga bisa mempertanyakan subjek yang mengalami fenomenologinya sendiri dengan menggunakan pemikiran hermeneutika dekonstruksi Jacques Derrida.

Derrida membuatnya segalanya makin terbuka dengan kemungkinan yang tak hingga. Ia mengatakan bahwa tidak ada makna yang benar-benar selesai, bahkan oleh manusia yang mengalaminya. Simbol bersumber dari simbol lain. Simbol lain sebagai sumber simbol tersebut juga dapat dipertanyakan karena berasal dari simbol lainnya lagi. Terus menerus seperti itu hingga tidak ada ujung asalnya. Pemaknaan terhadap sesuatu akan terus bergerak dengan kemungkinan yang tak hingga, baik asal maupun akhirnya. Bahkan, bagi penulis puisi pun, kemungkinan pemaknaan fenomenologinya sendiri tidak berpangkal.

Konteks yang dipaparkan oleh Derrida mengenai makna yang tak berpangkal juga sejalan dengan teori Jacques Lacan, seorang militansi Freud. Ia memperkenalkan trias psikis–sering disebut dengan trias lacanian–yang membahasa bagaimana fenomenologi berlangsung pada area psikis manusia.

Dalam konteks teori Lacan, trias lacanian terdiri dari the real – “yang nyata”, the imaginary – imajiner, dan the symbolic – simbol. Ranah ini, jika menggunakan fenomenologi dari Martin Heidegger dan konsep Buddhism, adalah pembentuk dari sesuatu yang ada akibat subjek bertemu dengan objek. Pertemuan tersebut dijembatani oleh indera, yang jika merunut teori kesadaran yang bersinergi dengan nama-rupa Buddhism, indera terdiri dari enam pintu. Lima pintu indera fisik yang menangkap objek-objek fisik dan dilengkapi dengan satu pintu indera batin yang menangkap objek-objek batin.

Di mulai dari “yang nyata”, adalah ranah psikis yang tidak bisa digambarkan. Jika menggunakan pendekatan fenomenologi, kondisi ini dapat muncul seketika manusia bertemu objek (baik fisik maupun batin) dan menghasilkan sesuatu yang disebut dengan “ada”–das sein. Pertemuan antara subjek dan objek ini benar-benar bersih dan tak tersentuh oleh batasan konkret apapun. Dalam konteks Prihentemen, yang nyata adalah trauma, kehilangan, dan kekosongan yang terlalu mentah untuk diungkapkan. Benar-benar abstrak, tidak ada, tetapi juga ada. Dalam buku tersebut, kehilangan ayah adalah sesuatu yang mungkin berada di wilayah ini: terlalu besar, mendadak, dan asing untuk dikenali secara utuh.

Akibat tidak bisa tersentuh oleh batasan apapun, sesuatu “yang nyata” lalu menghasilkan gejolak di dalam diri untuk direngkuh. Tetapi karena sifatnya yang tidak berbentuk, akhirnya diri menghasilkan bentukan the imaginary–“imajiner” yang menyerupai kondisi “yang nyata”. “Imajiner” adalah ranah citra, imaji, dan ego. Tempat di mana pengalaman mulai dicitrakan, dijahit oleh narasi, dan dibentuk. Dalam puisi, ini terlihat bayangan yang ada dalam psikis penulisnya. Paling tidak, ini lebih konkret dari “yang nyata” dan lebih terasa “ada” karena sudah bisa diraba oleh psikis penulis. Menjadi sesuatu yang dapat direngkuh walau hanya dalam batasan psikis semata. Walaupun demikian, ini tetap ilusi; ini bukan “yang nyata” itu sendiri karena “yang nyata” tetap tidak bisa direngkuh oleh apapun, bahkan oleh abstraksi psikis sekalipun.

Bentukan “imajiner” sejatinya masih berjarak dengan “yang nyata”. Dengan kondisi seperti ini, gejolak psikis untuk menyatukan–paling tidak, menjembatani–kedua sisi ini muncul. Dari sinilah terciptalah kendaraan bernama “simbol”.

Dalam trias lacanian, “simbol” adalah dunia bahasa, hukum, struktur, objek visual, atau hal konkret apapun yang diciptakan oleh manusia untuk menjembatani “yang nyata” dan “imajiner” agar menjadi satu. Dalam ranah puisi, ketika penulis akhirnya menulis, ia masuk ke dalam ranah simbolik: perasaan yang tak tergambarkan kini menemukan bentuk dalam kata dan struktur puisi. Walaupun tampak menjadi solusi, di sinilah ketegangan baru muncul: begitu perasaan–sebagai objek “imajiner”– masuk ke dalam bahasa, ia juga kehilangan segalanya. Ia benar-benar menjadi “simbol”, bukan lagi “imajiner”, apa lagi “yang nyata”. Situasi ini selalu membawa keterbatasan. Ia menandai sekaligus mengaburkan.

Lalu, manakah pandangan yang lebih tepat? Apakah kata dalam puisi sebagai simbol adalah sesuatu yang  harus ditelan mentah-mentah karena telaah mendalam hanya akan mengaburkan makna sesungguhnya? Atau sebaliknya? Dikuliti lapis demi lapis agar makna sesungguhnya–siapa yang tahu–bisa lebih dipahami gambaran besarnya? Bisa jadi, asosiasi bebas dan interpretasi dalam metode psikoanalisis juga memiliki pola yang serupa seperti telaah terhadap puisi? Di mana mengurai simbol-simbol dari gestur dan kata-kata pasien juga adalah tindakan yang bersifat paradoks karena hanya akan menimbulkan berbagai simbol baru yang tak berujung?

Mungkin, diskusi ini akan menarik untuk dilanjutkan lagi sambil minum kopi di markas Mahima. Lain kali, dengan menambahkan tesis puisi sebagai media asosiasi bebas bagi penulisnya.

Oya, buku Prihentemen ini diberikan kepada saya oleh Bu Sonia (Kadek Sonia Piscayanti), ketika saya berkunjung dan berdiskusi panjang-lebar tentang puisi di markas Komunitas Mahima, Singaraja. Dan, kopi tubruk buatan Pak Ole enak sekali. Kapan-kapan saya akan minta dibuatkan dua cangkir. [T]

Penulis: Krisna Aji
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis KRISNA AJI

Tags: buku kumpulan puisibuku puisiFenomenologihermeneutikapsikoanalisisPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kisah di Balik Manisnya Dodol Bali Mula Mesari Desa Julah

Next Post

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [14]—Tanjakan dan Turunan di Rute Bima-Sape Seolah Tanpa Akhir

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [14]—Tanjakan dan Turunan di Rute Bima-Sape Seolah Tanpa Akhir

Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [14]—Tanjakan dan Turunan di Rute Bima-Sape Seolah Tanpa Akhir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co