22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah di Balik Manisnya Dodol Bali Mula Mesari Desa Julah

Jaswanto by Jaswanto
August 26, 2025
in Khas
Kisah di Balik Manisnya Dodol Bali Mula Mesari Desa Julah

Kemasan produk Dodol Bali Mula Mesari | Foto: tatkala.co/Jaswanto

PAGI di dapur terbuka di samping rumahnya, I Komang Artayasa (29) sibuk menyalakan api. Mula-mula ia nyalakan setumpuk sabut kelapa kering di dalam tungku. Lalu, setelah api stabil, pelan-pelan ia masukkan kayu bakar ke dalamnya. Sedikit demi sedikit api mulai berkobar, memenuhi tungku tanah itu. Komang, begitu orang-orang akrab memanggilnya, kini meletakkan kuali besar berisi adonan di atas lubang tungku. “Baru mulai mengaduk,” katanya dengan logat Bali yang khas.

Komang mengaduk adonan tepung ketan, gula, santan kelapa, dan pewarna merah dari kayu secang dengan pelan, konsisten, sambil menjaga nyala api tetap stabil. Meski masih menggunakan tungku manual, ia tak terlihat kerepotan. Mudah saja ia mengatur api dalam tungku—dengan mengeluar-masukkan kayu-kayu yang sudah membara itu. “Kalau pakai kompor, lain rasanya,” ujarnya sambil tetap mengaduk dan mengaduk. “Soalnya saya pernah merasakannya di Bungkulan,” sambungnya. Dan itulah alasan kenapa Komang masih menggunakan tungku tradisional untuk dodol produksinya.

I Komang Artayasa saat mengaduk adonan dodol di dapur terbukanya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dodol, makanan (nyamikan) yang disebut dalam Serat Centhini (yang ditulis pada 1814 M) itu, bagi orang Bali, lebih-lebih orang Buleleng dan Karangasem, tak hanya sekadar cemilan manis buat oleh-oleh sebagaimana orang Jawa Barat, misalnya. Di Pulau Bali dodol memiliki nilai budaya dan religi yang kuat. Pada momen hari suci Galungan, misalnya, di samping kue satuh, dodol seperti tak boleh ketinggalan. Makanan manis semi-basah yang memiliki tekstur lengket dan kental itu merupakan sesaji penting dalam persembahan—apalagi bagi orang Julah, Tejakula, Buleleng.

“Setiap upacara di Julah selalu ada dodol, Mas. Tapi dodol yang pakai tepung ketan hitam—kalau di Bali injin, namanya,” terang Komang, sekali lagi, sambil mengaduk adonan dodol. Ia akan terus mengaduk sampai adonan itu benar-benar matang sempurna, sampai adukan terasa berat. “Untuk adonan sekilo tempung, kurang lebih satu setengah jam baru matang,” jelas pemuda yang pernah merantau ke Karangasem itu sembari menyunggingkan bibirnya.

Hari menjelang siang. Adonan dodol sebentar lagi masak. Komang mulai mengecilkan api, tapi ia belum berhenti mengaduk. Di kuali, dodol sudah mengental, sudah agak sulit diaduk. Wanginya sudah tercium. “Bentar lagi,” kata Komang sesaat setelah mencicip adonan yang menempel di kayu pengaduk.

Adonan dodol yang sudah masak dan tinggal dibungkus | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di Desa Julah, keluarga Komang dikenal sebagai penjual dodol. Wayan Sarining, ibu Komang, belajar membuat dodol sejak kecil. Sedangkan Komang baru belajar lima bulanan. Rupanya, keahlian ini didapat secara turun-temurun. Dari tahun 2005 Wayan Sarining berjualan dodol. Tapi tidak setiap hari. Hanya saat menjelang upacara agama saja. Sejak Komang mulai belajar membuat dodol—dan mau mengurus penjualan dan tetek bengeknya—, Sarining mulai memproduksi dodol setiap hari. Lalu Komang memberi nama usaha ibunya: Dodol Bali Mula Mesari.

Kini, Sarining dan Komang memproduksi sekilo adonan setiap hari. Tapi bisa berkali-lipat saat menjelang upaca keagamaan. Dari sekilo sehari di hari-hari biasa, bisa meningkat sampai delapan kilo saat hari-hari upacara. Berkah itu membuat Komang dan ibunya bertahan sampai sekarang.  

“Padahal dulu saya nggak mau buat dodol,” kata Komang tiba-tiba. Kemudian ia menceritakan masa lalu yang disesalinya. “Dulu kakak yang rajin membantu meme [ibu] membuat dodol. Sedangkan saya kerjaannya hanya mabuk-mabukan saja,” Komang bercerita. Terlihat senyum getir di bibirnya. Ia masih tetap mengaduk. Rupanya adonan belum juga matang.

I Komang Artayasa saat mengaduk adonan dodol di dapur terbukanya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sebelum membuat dodol, Komang pernah bekerja di banyak tempat. Ia pernah bekerja di Karangasem. “Di tempat percetakan,” katanya. Lalu pindah ke Singaraja, bekerja di industri yang sama. Kemudian ia bekerja di Bali Pure—tempat produksi minyak kelapa serta rempah-rempah tradisional buatan tangan di Sembiran, Tejakula. “Saya bekerja selama tujuh tahun di sana,” jelasnya. Kini ia mulai memelankan adukannya.

Matahari mulai meninggi. Panas sudah mulai menyengat. Di ruang tamu, Wayan Sarining sibuk dengan kulit jagung (kelobot) yang sudah diolah. Perempuan paruh baya itu merobek-robek lembaran kelobot lalu mengisinya dengan adonan dodol yang sudah mendingin. Dengan kecepatan yang sulit ditiru, Sarining membukus dodol tanpa alat bantu apa pun.

Ya, alih-alih menggunakan bungkus plastik layaknya di banyak tempat, rumah usaha Dodol Bali Mula Mesari masih mempertahankan kelobot jagung sebagai pembungkus. Bahkan, dodol-dodol mereka dibungkus tanpa tali pengikat. Ujung pembukus cukup dilipat sedemikian rupa. Sebuah teknik bungkus sederhana namun mengesankan. Sedangkan untuk kemasannya, Komang memakai keranjang anyaman bambu dan besek bambu. Sangat berkarakter.

Kemasan produk Dodol Bali Mula Mesari | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Kulit jagung ini kami datangkan dari Karangasem,” ujar Sarining. Menurutnya, sangat sulit mendapat kelobot jagung di Buleleng. “Orang Julah sendiri sudah jarang menanam jagung,” tambahnya. “Kalah sama bibit jeruk,” Komang menimpali. Ia sudah berhenti mengaduk. Kuali besar itu sudah ia angkat dan ditaruh di atas tanah dekat balai bambu di belakang tungku. Sedangkan adonan dodol yang sudah matang ia pindah ke ember plastik. “Sini coba, Mas!” serunya.

Sambil menunggu jenang dodol mendingin, Komang mengambil sedikit dodol lalu meletakannya di palinggih—bangunan suci atau tugu yang berfungsi sebagai tempat pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan para dewa, dewi, serta leluhur—di samping dapur terbukanya dan di atas tungkunya yang kini tanpa nyala api. “Untuk persembahan,” katanya kemudian.

Dodol Bali Mula Mesari siap dinikmati. Rasanya gurih dan manis—manis yang terukur, tak terlalu, pas. Teksturnya lembut cenderung lengket; tapi tak menempel saat dikunyah. Sungguh cemilan yang cocok bersanding dengan secangkir kopi atau teh. Atau kudapan di tengah obrolan. Dodol Bali Mula Mesari memiliki banyak varian rasa, seperti nangka, durian, kayu secang, dll.

Dodol Bali Mula Mesari berbungkus kelobot jagung | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Dodol-dodol ini saya pasarkan melalui media sosial: TikTok, Instagram, Facebook,” terang Komang. Dari situlah, Dodol Bali Mula Mesari sudah dinikmati orang-orang di Denpasar, Ubud, Singaraja, dan Lombok. “Kemarin juga dipakai oleh-oleh ke Inggris,” imbunya sembari tersenyum. Selain jualan secara online, Komang juga mulai membuka lapak di beberapa festival, seperti Buleleng Festival, Lovina Festival, Singaraja Literary Festival, dan acara-acara lainnya. Ia benar-benar ingin mengembangkan dodol ibunya. “Saya akan pertahankan,” katanya. Komang tampak serius dengan kata-katanya.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: balibulelengDesa JulahdodolDodol Bali Mula MesariTejakula
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kesetiaan Seekor Anjing, Dharma, dan Kesadaran Manusia

Next Post

Puisi dan Simbol: Sebuah Paradoks dari Kacamata Fenomenologi, Hermeneutika, dan Psikoanalisis

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi dan Simbol: Sebuah Paradoks dari Kacamata Fenomenologi, Hermeneutika, dan Psikoanalisis

Puisi dan Simbol: Sebuah Paradoks dari Kacamata Fenomenologi, Hermeneutika, dan Psikoanalisis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co