12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah di Balik Manisnya Dodol Bali Mula Mesari Desa Julah

Jaswanto by Jaswanto
August 26, 2025
in Khas
Kisah di Balik Manisnya Dodol Bali Mula Mesari Desa Julah

Kemasan produk Dodol Bali Mula Mesari | Foto: tatkala.co/Jaswanto

PAGI di dapur terbuka di samping rumahnya, I Komang Artayasa (29) sibuk menyalakan api. Mula-mula ia nyalakan setumpuk sabut kelapa kering di dalam tungku. Lalu, setelah api stabil, pelan-pelan ia masukkan kayu bakar ke dalamnya. Sedikit demi sedikit api mulai berkobar, memenuhi tungku tanah itu. Komang, begitu orang-orang akrab memanggilnya, kini meletakkan kuali besar berisi adonan di atas lubang tungku. “Baru mulai mengaduk,” katanya dengan logat Bali yang khas.

Komang mengaduk adonan tepung ketan, gula, santan kelapa, dan pewarna merah dari kayu secang dengan pelan, konsisten, sambil menjaga nyala api tetap stabil. Meski masih menggunakan tungku manual, ia tak terlihat kerepotan. Mudah saja ia mengatur api dalam tungku—dengan mengeluar-masukkan kayu-kayu yang sudah membara itu. “Kalau pakai kompor, lain rasanya,” ujarnya sambil tetap mengaduk dan mengaduk. “Soalnya saya pernah merasakannya di Bungkulan,” sambungnya. Dan itulah alasan kenapa Komang masih menggunakan tungku tradisional untuk dodol produksinya.

I Komang Artayasa saat mengaduk adonan dodol di dapur terbukanya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dodol, makanan (nyamikan) yang disebut dalam Serat Centhini (yang ditulis pada 1814 M) itu, bagi orang Bali, lebih-lebih orang Buleleng dan Karangasem, tak hanya sekadar cemilan manis buat oleh-oleh sebagaimana orang Jawa Barat, misalnya. Di Pulau Bali dodol memiliki nilai budaya dan religi yang kuat. Pada momen hari suci Galungan, misalnya, di samping kue satuh, dodol seperti tak boleh ketinggalan. Makanan manis semi-basah yang memiliki tekstur lengket dan kental itu merupakan sesaji penting dalam persembahan—apalagi bagi orang Julah, Tejakula, Buleleng.

“Setiap upacara di Julah selalu ada dodol, Mas. Tapi dodol yang pakai tepung ketan hitam—kalau di Bali injin, namanya,” terang Komang, sekali lagi, sambil mengaduk adonan dodol. Ia akan terus mengaduk sampai adonan itu benar-benar matang sempurna, sampai adukan terasa berat. “Untuk adonan sekilo tempung, kurang lebih satu setengah jam baru matang,” jelas pemuda yang pernah merantau ke Karangasem itu sembari menyunggingkan bibirnya.

Hari menjelang siang. Adonan dodol sebentar lagi masak. Komang mulai mengecilkan api, tapi ia belum berhenti mengaduk. Di kuali, dodol sudah mengental, sudah agak sulit diaduk. Wanginya sudah tercium. “Bentar lagi,” kata Komang sesaat setelah mencicip adonan yang menempel di kayu pengaduk.

Adonan dodol yang sudah masak dan tinggal dibungkus | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di Desa Julah, keluarga Komang dikenal sebagai penjual dodol. Wayan Sarining, ibu Komang, belajar membuat dodol sejak kecil. Sedangkan Komang baru belajar lima bulanan. Rupanya, keahlian ini didapat secara turun-temurun. Dari tahun 2005 Wayan Sarining berjualan dodol. Tapi tidak setiap hari. Hanya saat menjelang upacara agama saja. Sejak Komang mulai belajar membuat dodol—dan mau mengurus penjualan dan tetek bengeknya—, Sarining mulai memproduksi dodol setiap hari. Lalu Komang memberi nama usaha ibunya: Dodol Bali Mula Mesari.

Kini, Sarining dan Komang memproduksi sekilo adonan setiap hari. Tapi bisa berkali-lipat saat menjelang upaca keagamaan. Dari sekilo sehari di hari-hari biasa, bisa meningkat sampai delapan kilo saat hari-hari upacara. Berkah itu membuat Komang dan ibunya bertahan sampai sekarang.  

“Padahal dulu saya nggak mau buat dodol,” kata Komang tiba-tiba. Kemudian ia menceritakan masa lalu yang disesalinya. “Dulu kakak yang rajin membantu meme [ibu] membuat dodol. Sedangkan saya kerjaannya hanya mabuk-mabukan saja,” Komang bercerita. Terlihat senyum getir di bibirnya. Ia masih tetap mengaduk. Rupanya adonan belum juga matang.

I Komang Artayasa saat mengaduk adonan dodol di dapur terbukanya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sebelum membuat dodol, Komang pernah bekerja di banyak tempat. Ia pernah bekerja di Karangasem. “Di tempat percetakan,” katanya. Lalu pindah ke Singaraja, bekerja di industri yang sama. Kemudian ia bekerja di Bali Pure—tempat produksi minyak kelapa serta rempah-rempah tradisional buatan tangan di Sembiran, Tejakula. “Saya bekerja selama tujuh tahun di sana,” jelasnya. Kini ia mulai memelankan adukannya.

Matahari mulai meninggi. Panas sudah mulai menyengat. Di ruang tamu, Wayan Sarining sibuk dengan kulit jagung (kelobot) yang sudah diolah. Perempuan paruh baya itu merobek-robek lembaran kelobot lalu mengisinya dengan adonan dodol yang sudah mendingin. Dengan kecepatan yang sulit ditiru, Sarining membukus dodol tanpa alat bantu apa pun.

Ya, alih-alih menggunakan bungkus plastik layaknya di banyak tempat, rumah usaha Dodol Bali Mula Mesari masih mempertahankan kelobot jagung sebagai pembungkus. Bahkan, dodol-dodol mereka dibungkus tanpa tali pengikat. Ujung pembukus cukup dilipat sedemikian rupa. Sebuah teknik bungkus sederhana namun mengesankan. Sedangkan untuk kemasannya, Komang memakai keranjang anyaman bambu dan besek bambu. Sangat berkarakter.

Kemasan produk Dodol Bali Mula Mesari | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Kulit jagung ini kami datangkan dari Karangasem,” ujar Sarining. Menurutnya, sangat sulit mendapat kelobot jagung di Buleleng. “Orang Julah sendiri sudah jarang menanam jagung,” tambahnya. “Kalah sama bibit jeruk,” Komang menimpali. Ia sudah berhenti mengaduk. Kuali besar itu sudah ia angkat dan ditaruh di atas tanah dekat balai bambu di belakang tungku. Sedangkan adonan dodol yang sudah matang ia pindah ke ember plastik. “Sini coba, Mas!” serunya.

Sambil menunggu jenang dodol mendingin, Komang mengambil sedikit dodol lalu meletakannya di palinggih—bangunan suci atau tugu yang berfungsi sebagai tempat pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan para dewa, dewi, serta leluhur—di samping dapur terbukanya dan di atas tungkunya yang kini tanpa nyala api. “Untuk persembahan,” katanya kemudian.

Dodol Bali Mula Mesari siap dinikmati. Rasanya gurih dan manis—manis yang terukur, tak terlalu, pas. Teksturnya lembut cenderung lengket; tapi tak menempel saat dikunyah. Sungguh cemilan yang cocok bersanding dengan secangkir kopi atau teh. Atau kudapan di tengah obrolan. Dodol Bali Mula Mesari memiliki banyak varian rasa, seperti nangka, durian, kayu secang, dll.

Dodol Bali Mula Mesari berbungkus kelobot jagung | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Dodol-dodol ini saya pasarkan melalui media sosial: TikTok, Instagram, Facebook,” terang Komang. Dari situlah, Dodol Bali Mula Mesari sudah dinikmati orang-orang di Denpasar, Ubud, Singaraja, dan Lombok. “Kemarin juga dipakai oleh-oleh ke Inggris,” imbunya sembari tersenyum. Selain jualan secara online, Komang juga mulai membuka lapak di beberapa festival, seperti Buleleng Festival, Lovina Festival, Singaraja Literary Festival, dan acara-acara lainnya. Ia benar-benar ingin mengembangkan dodol ibunya. “Saya akan pertahankan,” katanya. Komang tampak serius dengan kata-katanya.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: balibulelengDesa JulahdodolDodol Bali Mula MesariTejakula
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kesetiaan Seekor Anjing, Dharma, dan Kesadaran Manusia

Next Post

Puisi dan Simbol: Sebuah Paradoks dari Kacamata Fenomenologi, Hermeneutika, dan Psikoanalisis

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Puisi dan Simbol: Sebuah Paradoks dari Kacamata Fenomenologi, Hermeneutika, dan Psikoanalisis

Puisi dan Simbol: Sebuah Paradoks dari Kacamata Fenomenologi, Hermeneutika, dan Psikoanalisis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co