14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah di Balik Manisnya Dodol Bali Mula Mesari Desa Julah

Jaswanto by Jaswanto
August 26, 2025
in Khas
Kisah di Balik Manisnya Dodol Bali Mula Mesari Desa Julah

Kemasan produk Dodol Bali Mula Mesari | Foto: tatkala.co/Jaswanto

PAGI di dapur terbuka di samping rumahnya, I Komang Artayasa (29) sibuk menyalakan api. Mula-mula ia nyalakan setumpuk sabut kelapa kering di dalam tungku. Lalu, setelah api stabil, pelan-pelan ia masukkan kayu bakar ke dalamnya. Sedikit demi sedikit api mulai berkobar, memenuhi tungku tanah itu. Komang, begitu orang-orang akrab memanggilnya, kini meletakkan kuali besar berisi adonan di atas lubang tungku. “Baru mulai mengaduk,” katanya dengan logat Bali yang khas.

Komang mengaduk adonan tepung ketan, gula, santan kelapa, dan pewarna merah dari kayu secang dengan pelan, konsisten, sambil menjaga nyala api tetap stabil. Meski masih menggunakan tungku manual, ia tak terlihat kerepotan. Mudah saja ia mengatur api dalam tungku—dengan mengeluar-masukkan kayu-kayu yang sudah membara itu. “Kalau pakai kompor, lain rasanya,” ujarnya sambil tetap mengaduk dan mengaduk. “Soalnya saya pernah merasakannya di Bungkulan,” sambungnya. Dan itulah alasan kenapa Komang masih menggunakan tungku tradisional untuk dodol produksinya.

I Komang Artayasa saat mengaduk adonan dodol di dapur terbukanya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dodol, makanan (nyamikan) yang disebut dalam Serat Centhini (yang ditulis pada 1814 M) itu, bagi orang Bali, lebih-lebih orang Buleleng dan Karangasem, tak hanya sekadar cemilan manis buat oleh-oleh sebagaimana orang Jawa Barat, misalnya. Di Pulau Bali dodol memiliki nilai budaya dan religi yang kuat. Pada momen hari suci Galungan, misalnya, di samping kue satuh, dodol seperti tak boleh ketinggalan. Makanan manis semi-basah yang memiliki tekstur lengket dan kental itu merupakan sesaji penting dalam persembahan—apalagi bagi orang Julah, Tejakula, Buleleng.

“Setiap upacara di Julah selalu ada dodol, Mas. Tapi dodol yang pakai tepung ketan hitam—kalau di Bali injin, namanya,” terang Komang, sekali lagi, sambil mengaduk adonan dodol. Ia akan terus mengaduk sampai adonan itu benar-benar matang sempurna, sampai adukan terasa berat. “Untuk adonan sekilo tempung, kurang lebih satu setengah jam baru matang,” jelas pemuda yang pernah merantau ke Karangasem itu sembari menyunggingkan bibirnya.

Hari menjelang siang. Adonan dodol sebentar lagi masak. Komang mulai mengecilkan api, tapi ia belum berhenti mengaduk. Di kuali, dodol sudah mengental, sudah agak sulit diaduk. Wanginya sudah tercium. “Bentar lagi,” kata Komang sesaat setelah mencicip adonan yang menempel di kayu pengaduk.

Adonan dodol yang sudah masak dan tinggal dibungkus | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di Desa Julah, keluarga Komang dikenal sebagai penjual dodol. Wayan Sarining, ibu Komang, belajar membuat dodol sejak kecil. Sedangkan Komang baru belajar lima bulanan. Rupanya, keahlian ini didapat secara turun-temurun. Dari tahun 2005 Wayan Sarining berjualan dodol. Tapi tidak setiap hari. Hanya saat menjelang upacara agama saja. Sejak Komang mulai belajar membuat dodol—dan mau mengurus penjualan dan tetek bengeknya—, Sarining mulai memproduksi dodol setiap hari. Lalu Komang memberi nama usaha ibunya: Dodol Bali Mula Mesari.

Kini, Sarining dan Komang memproduksi sekilo adonan setiap hari. Tapi bisa berkali-lipat saat menjelang upaca keagamaan. Dari sekilo sehari di hari-hari biasa, bisa meningkat sampai delapan kilo saat hari-hari upacara. Berkah itu membuat Komang dan ibunya bertahan sampai sekarang.  

“Padahal dulu saya nggak mau buat dodol,” kata Komang tiba-tiba. Kemudian ia menceritakan masa lalu yang disesalinya. “Dulu kakak yang rajin membantu meme [ibu] membuat dodol. Sedangkan saya kerjaannya hanya mabuk-mabukan saja,” Komang bercerita. Terlihat senyum getir di bibirnya. Ia masih tetap mengaduk. Rupanya adonan belum juga matang.

I Komang Artayasa saat mengaduk adonan dodol di dapur terbukanya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sebelum membuat dodol, Komang pernah bekerja di banyak tempat. Ia pernah bekerja di Karangasem. “Di tempat percetakan,” katanya. Lalu pindah ke Singaraja, bekerja di industri yang sama. Kemudian ia bekerja di Bali Pure—tempat produksi minyak kelapa serta rempah-rempah tradisional buatan tangan di Sembiran, Tejakula. “Saya bekerja selama tujuh tahun di sana,” jelasnya. Kini ia mulai memelankan adukannya.

Matahari mulai meninggi. Panas sudah mulai menyengat. Di ruang tamu, Wayan Sarining sibuk dengan kulit jagung (kelobot) yang sudah diolah. Perempuan paruh baya itu merobek-robek lembaran kelobot lalu mengisinya dengan adonan dodol yang sudah mendingin. Dengan kecepatan yang sulit ditiru, Sarining membukus dodol tanpa alat bantu apa pun.

Ya, alih-alih menggunakan bungkus plastik layaknya di banyak tempat, rumah usaha Dodol Bali Mula Mesari masih mempertahankan kelobot jagung sebagai pembungkus. Bahkan, dodol-dodol mereka dibungkus tanpa tali pengikat. Ujung pembukus cukup dilipat sedemikian rupa. Sebuah teknik bungkus sederhana namun mengesankan. Sedangkan untuk kemasannya, Komang memakai keranjang anyaman bambu dan besek bambu. Sangat berkarakter.

Kemasan produk Dodol Bali Mula Mesari | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Kulit jagung ini kami datangkan dari Karangasem,” ujar Sarining. Menurutnya, sangat sulit mendapat kelobot jagung di Buleleng. “Orang Julah sendiri sudah jarang menanam jagung,” tambahnya. “Kalah sama bibit jeruk,” Komang menimpali. Ia sudah berhenti mengaduk. Kuali besar itu sudah ia angkat dan ditaruh di atas tanah dekat balai bambu di belakang tungku. Sedangkan adonan dodol yang sudah matang ia pindah ke ember plastik. “Sini coba, Mas!” serunya.

Sambil menunggu jenang dodol mendingin, Komang mengambil sedikit dodol lalu meletakannya di palinggih—bangunan suci atau tugu yang berfungsi sebagai tempat pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan para dewa, dewi, serta leluhur—di samping dapur terbukanya dan di atas tungkunya yang kini tanpa nyala api. “Untuk persembahan,” katanya kemudian.

Dodol Bali Mula Mesari siap dinikmati. Rasanya gurih dan manis—manis yang terukur, tak terlalu, pas. Teksturnya lembut cenderung lengket; tapi tak menempel saat dikunyah. Sungguh cemilan yang cocok bersanding dengan secangkir kopi atau teh. Atau kudapan di tengah obrolan. Dodol Bali Mula Mesari memiliki banyak varian rasa, seperti nangka, durian, kayu secang, dll.

Dodol Bali Mula Mesari berbungkus kelobot jagung | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Dodol-dodol ini saya pasarkan melalui media sosial: TikTok, Instagram, Facebook,” terang Komang. Dari situlah, Dodol Bali Mula Mesari sudah dinikmati orang-orang di Denpasar, Ubud, Singaraja, dan Lombok. “Kemarin juga dipakai oleh-oleh ke Inggris,” imbunya sembari tersenyum. Selain jualan secara online, Komang juga mulai membuka lapak di beberapa festival, seperti Buleleng Festival, Lovina Festival, Singaraja Literary Festival, dan acara-acara lainnya. Ia benar-benar ingin mengembangkan dodol ibunya. “Saya akan pertahankan,” katanya. Komang tampak serius dengan kata-katanya.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: balibulelengDesa JulahdodolDodol Bali Mula MesariTejakula
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kesetiaan Seekor Anjing, Dharma, dan Kesadaran Manusia

Next Post

Puisi dan Simbol: Sebuah Paradoks dari Kacamata Fenomenologi, Hermeneutika, dan Psikoanalisis

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Puisi dan Simbol: Sebuah Paradoks dari Kacamata Fenomenologi, Hermeneutika, dan Psikoanalisis

Puisi dan Simbol: Sebuah Paradoks dari Kacamata Fenomenologi, Hermeneutika, dan Psikoanalisis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co