2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah di Balik Manisnya Dodol Bali Mula Mesari Desa Julah

Jaswanto by Jaswanto
August 26, 2025
in Khas
Kisah di Balik Manisnya Dodol Bali Mula Mesari Desa Julah

Kemasan produk Dodol Bali Mula Mesari | Foto: tatkala.co/Jaswanto

PAGI di dapur terbuka di samping rumahnya, I Komang Artayasa (29) sibuk menyalakan api. Mula-mula ia nyalakan setumpuk sabut kelapa kering di dalam tungku. Lalu, setelah api stabil, pelan-pelan ia masukkan kayu bakar ke dalamnya. Sedikit demi sedikit api mulai berkobar, memenuhi tungku tanah itu. Komang, begitu orang-orang akrab memanggilnya, kini meletakkan kuali besar berisi adonan di atas lubang tungku. “Baru mulai mengaduk,” katanya dengan logat Bali yang khas.

Komang mengaduk adonan tepung ketan, gula, santan kelapa, dan pewarna merah dari kayu secang dengan pelan, konsisten, sambil menjaga nyala api tetap stabil. Meski masih menggunakan tungku manual, ia tak terlihat kerepotan. Mudah saja ia mengatur api dalam tungku—dengan mengeluar-masukkan kayu-kayu yang sudah membara itu. “Kalau pakai kompor, lain rasanya,” ujarnya sambil tetap mengaduk dan mengaduk. “Soalnya saya pernah merasakannya di Bungkulan,” sambungnya. Dan itulah alasan kenapa Komang masih menggunakan tungku tradisional untuk dodol produksinya.

I Komang Artayasa saat mengaduk adonan dodol di dapur terbukanya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dodol, makanan (nyamikan) yang disebut dalam Serat Centhini (yang ditulis pada 1814 M) itu, bagi orang Bali, lebih-lebih orang Buleleng dan Karangasem, tak hanya sekadar cemilan manis buat oleh-oleh sebagaimana orang Jawa Barat, misalnya. Di Pulau Bali dodol memiliki nilai budaya dan religi yang kuat. Pada momen hari suci Galungan, misalnya, di samping kue satuh, dodol seperti tak boleh ketinggalan. Makanan manis semi-basah yang memiliki tekstur lengket dan kental itu merupakan sesaji penting dalam persembahan—apalagi bagi orang Julah, Tejakula, Buleleng.

“Setiap upacara di Julah selalu ada dodol, Mas. Tapi dodol yang pakai tepung ketan hitam—kalau di Bali injin, namanya,” terang Komang, sekali lagi, sambil mengaduk adonan dodol. Ia akan terus mengaduk sampai adonan itu benar-benar matang sempurna, sampai adukan terasa berat. “Untuk adonan sekilo tempung, kurang lebih satu setengah jam baru matang,” jelas pemuda yang pernah merantau ke Karangasem itu sembari menyunggingkan bibirnya.

Hari menjelang siang. Adonan dodol sebentar lagi masak. Komang mulai mengecilkan api, tapi ia belum berhenti mengaduk. Di kuali, dodol sudah mengental, sudah agak sulit diaduk. Wanginya sudah tercium. “Bentar lagi,” kata Komang sesaat setelah mencicip adonan yang menempel di kayu pengaduk.

Adonan dodol yang sudah masak dan tinggal dibungkus | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di Desa Julah, keluarga Komang dikenal sebagai penjual dodol. Wayan Sarining, ibu Komang, belajar membuat dodol sejak kecil. Sedangkan Komang baru belajar lima bulanan. Rupanya, keahlian ini didapat secara turun-temurun. Dari tahun 2005 Wayan Sarining berjualan dodol. Tapi tidak setiap hari. Hanya saat menjelang upacara agama saja. Sejak Komang mulai belajar membuat dodol—dan mau mengurus penjualan dan tetek bengeknya—, Sarining mulai memproduksi dodol setiap hari. Lalu Komang memberi nama usaha ibunya: Dodol Bali Mula Mesari.

Kini, Sarining dan Komang memproduksi sekilo adonan setiap hari. Tapi bisa berkali-lipat saat menjelang upaca keagamaan. Dari sekilo sehari di hari-hari biasa, bisa meningkat sampai delapan kilo saat hari-hari upacara. Berkah itu membuat Komang dan ibunya bertahan sampai sekarang.  

“Padahal dulu saya nggak mau buat dodol,” kata Komang tiba-tiba. Kemudian ia menceritakan masa lalu yang disesalinya. “Dulu kakak yang rajin membantu meme [ibu] membuat dodol. Sedangkan saya kerjaannya hanya mabuk-mabukan saja,” Komang bercerita. Terlihat senyum getir di bibirnya. Ia masih tetap mengaduk. Rupanya adonan belum juga matang.

I Komang Artayasa saat mengaduk adonan dodol di dapur terbukanya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Sebelum membuat dodol, Komang pernah bekerja di banyak tempat. Ia pernah bekerja di Karangasem. “Di tempat percetakan,” katanya. Lalu pindah ke Singaraja, bekerja di industri yang sama. Kemudian ia bekerja di Bali Pure—tempat produksi minyak kelapa serta rempah-rempah tradisional buatan tangan di Sembiran, Tejakula. “Saya bekerja selama tujuh tahun di sana,” jelasnya. Kini ia mulai memelankan adukannya.

Matahari mulai meninggi. Panas sudah mulai menyengat. Di ruang tamu, Wayan Sarining sibuk dengan kulit jagung (kelobot) yang sudah diolah. Perempuan paruh baya itu merobek-robek lembaran kelobot lalu mengisinya dengan adonan dodol yang sudah mendingin. Dengan kecepatan yang sulit ditiru, Sarining membukus dodol tanpa alat bantu apa pun.

Ya, alih-alih menggunakan bungkus plastik layaknya di banyak tempat, rumah usaha Dodol Bali Mula Mesari masih mempertahankan kelobot jagung sebagai pembungkus. Bahkan, dodol-dodol mereka dibungkus tanpa tali pengikat. Ujung pembukus cukup dilipat sedemikian rupa. Sebuah teknik bungkus sederhana namun mengesankan. Sedangkan untuk kemasannya, Komang memakai keranjang anyaman bambu dan besek bambu. Sangat berkarakter.

Kemasan produk Dodol Bali Mula Mesari | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Kulit jagung ini kami datangkan dari Karangasem,” ujar Sarining. Menurutnya, sangat sulit mendapat kelobot jagung di Buleleng. “Orang Julah sendiri sudah jarang menanam jagung,” tambahnya. “Kalah sama bibit jeruk,” Komang menimpali. Ia sudah berhenti mengaduk. Kuali besar itu sudah ia angkat dan ditaruh di atas tanah dekat balai bambu di belakang tungku. Sedangkan adonan dodol yang sudah matang ia pindah ke ember plastik. “Sini coba, Mas!” serunya.

Sambil menunggu jenang dodol mendingin, Komang mengambil sedikit dodol lalu meletakannya di palinggih—bangunan suci atau tugu yang berfungsi sebagai tempat pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan para dewa, dewi, serta leluhur—di samping dapur terbukanya dan di atas tungkunya yang kini tanpa nyala api. “Untuk persembahan,” katanya kemudian.

Dodol Bali Mula Mesari siap dinikmati. Rasanya gurih dan manis—manis yang terukur, tak terlalu, pas. Teksturnya lembut cenderung lengket; tapi tak menempel saat dikunyah. Sungguh cemilan yang cocok bersanding dengan secangkir kopi atau teh. Atau kudapan di tengah obrolan. Dodol Bali Mula Mesari memiliki banyak varian rasa, seperti nangka, durian, kayu secang, dll.

Dodol Bali Mula Mesari berbungkus kelobot jagung | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Dodol-dodol ini saya pasarkan melalui media sosial: TikTok, Instagram, Facebook,” terang Komang. Dari situlah, Dodol Bali Mula Mesari sudah dinikmati orang-orang di Denpasar, Ubud, Singaraja, dan Lombok. “Kemarin juga dipakai oleh-oleh ke Inggris,” imbunya sembari tersenyum. Selain jualan secara online, Komang juga mulai membuka lapak di beberapa festival, seperti Buleleng Festival, Lovina Festival, Singaraja Literary Festival, dan acara-acara lainnya. Ia benar-benar ingin mengembangkan dodol ibunya. “Saya akan pertahankan,” katanya. Komang tampak serius dengan kata-katanya.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: balibulelengDesa JulahdodolDodol Bali Mula MesariTejakula
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kesetiaan Seekor Anjing, Dharma, dan Kesadaran Manusia

Next Post

Puisi dan Simbol: Sebuah Paradoks dari Kacamata Fenomenologi, Hermeneutika, dan Psikoanalisis

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Puisi dan Simbol: Sebuah Paradoks dari Kacamata Fenomenologi, Hermeneutika, dan Psikoanalisis

Puisi dan Simbol: Sebuah Paradoks dari Kacamata Fenomenologi, Hermeneutika, dan Psikoanalisis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co