WAJAH gembira tak dapat disembunyikan Isnaeni. Sebagai Kepala Laboratorium Komunikasi, Isnaeni baru saja mendapat kabar menyenangkan. Dana hibah dari pemerintah atas usulan yang dibuatnya telah turun. Kini laboratorium yang dikelolanya memiliki studio podcast.
Kabar gembira itu disambut antusias seluruh dosen, pegawai, dan mahasiswa. Sudah lama semua berharap memiliki studio podcast yang kini diminati banyak orang, baik tokoh maupun selebritis. Dengan memiliki studio, beragam siaran audio maupun visual dapat dilakukan di laboratorium. Ini akan menjadi nilai tambah program studi; dan tentu saja Isnaeni sebagai Kepala Laboratorium.
Tanpa menunda waktu, Isnaeni segera membentuk tim pengelola podcast. Ia ingin melibatkan semua civitas dalam pengelolaan podcast, mulai dari dosen, pegawai, dan mahasiswa. Harapannya, studio podcast itu nanti akan menghasilkan produk-produk komunikasi digital yang dapat dinikmati masyarakat.
Isnaeni sendiri menjadi podcaster, orang yang paling bertanggung jawab atas pembuatan dan pengelolaan podcast. Sebagai produser, Isnaeni menunjuk dosen muda Mira Yasinta yang akan mengelola proses produksi, dari perencanaan hingga distribusi. Nikita Anjani dan Putra Permana mewakili mahasiswa sebagai host atau pemandu acara podcast.
Proses pengeditan hasil rekaman diserahkan kepada pegawai, Wahyono sebagai editor. Dia pegawai yang menguasai teknik komputer. Wahyono diharapkan mampu mengantisipasi kesalahan dalam rekaman serta menambahkan efek suara maupun musik. Dengan kerjasama tim pengelola podcast diharapkan akan dihasilkan produk siaran yang bagus.
Setelah tim pengelola terbentuk, Isnaeni merencanakan untuk menyusun program acara podcast, mulai acara harian, mingguan, dan bulanan. Isnaeni berharap acara podcast bervariasi, mulai dari topik hingga narasumbernya, sehingga hasilnya tidak membosankan.
Untuk podcast harian akan diisi dengan narasumber mahasiswa. Banyak isu maupun aktivitas yang berkaitan dengan mahasiswa maupun remaja yang berkembang saat ini. Beberapa agenda isu, seperti FOMO, YOLO, Frugal Living, dan “Stecu “ mulai disusun untuk diskusi podcast.
Sedangkan program mingguan, Isnaeni akan mengundang narasumber dari jurusan, fakultas, dan universitas. Banyak dosen yang berprestasi di kampus Isnaeni. Beberapa dosen menyandang penghargaan dari luar negeri untuk riset maupun publikasi ilmiah. Gagasan-gagasan inovatif juga banyak dihasilkan dosen di kampusnya.
Program bulanan diharapkan menjadi agenda unggulan dari podcast yang dikelola Isnaeni. Ini bukan pekerjaan yang mudah. Ia berencana untuk mendatangkan narasumber yang berkiprah di kancah nasional dan internasional serta sedang menjadi perhatian publik. Sesekai Isnaeni juga akan mengundang pelaku seni budaya dan tokoh politik nasional serta artis untuk mendongkrak popularitas podcastnya.
***
Uji coba podcast dilakukan Isnaeni dengan menghadirkan dua narasumber sekaligus, yaitu mahasiswa Aprilia Wijayanti dan dosen Ageng Nugraha. Topik yang dibahas terkait kesehatan mental generasi Z dan milenial menghadapi kompleksitas kehidupan. Kebetulan Ageng Nugraha mengajar mata kuliah Komunikasi Kesehatan.
Nikita Anjani menjadi host yang memandu acara podcast di sore hari. Semua kru sudah siap untuk memastikan podcast berjalan lancar. Suasana laboratorium tidak begitu ramai. Hanya ada beberapa mahasiswa yang sedang praktikum fotografi di ruang sebelah.
Saat podcast sudah mulai berjalan, terjadi keanehan. Tercium aroma kopi di ruang podcast. Padahal tak ada seorang pun yang membawa kopi ke dalam studio. Meskipun Ageng Nugraha termasuk penggemar berat kopi. Semua saling pandang. Aroma kopi kian menyengat dihidung. Suasana sedikit menegangkan.
Isnaeni yang turut menyaksikan podcast memberi isyarat agar podcast dihentikan dulu. Ia memeriksa dapur laboratorium yang berdekatan dengan ruang podcast untuk memastikan apakah ada orang yang sedang membuat kopi. Ternyata tidak ada. Lalu dari mana aroma kopi di ruang podcast, pikir Isnaeni.
Podcast yang baru berjalan lima menit pun terhenti karena aroma kopi. Wahyono sebagai editor memutuskan untuk menyetel hasil rekaman. Betapa terkejut semua yang hadir di studio podcast. Suara tangis wanita terdengar selama perbincangan host dengan narasumber. Studio podcast berubah menjadi ruangan yang mencekam.
Suara tangis wanita dalam rekaman itu begitu jelas. Isnaeni meminta Wahyono untuk memastikan proses rekaman tidak mengalami gangguan, sehingga ada suara dari luar studio yang masuk. Wahyono memutar kembali sambil mengecek hasil rekaman. Suara tangis wanita itu sangat menyayat hati. Semua merinding. Proses rekaman dihentikan. Semua keluar dari studio podcast.
Isnaeni sebagai Kepala Laboratorium dan penanggung jawab podcast masih penasaran. Ia bertanya kepada mahasiswa yang ada di luar studio, apakah ada yang menangis? Semua menjawab tidak. Mahasiswa sedang mengerjakan tugas dengan serius di laboratorium. Bulu kuduk Isnaeni berdiri. Berarti tangisan itu adalah hantu penunggu kampus, pikirnya ketakutan.
Minggu berikutnya giliran Putra Permana menjadi host podcast yang mengangkat isu seni budaya. Ia ditemani Mira Yasinta, dosen yang juga produser podcast. Narasumber podcast adalah Wagirah, tokoh penari lengger Banyumas yang terkenal. Wagirah berhasil memajukan dan melestarikan kesenian lengger. Bahkan beberapa kali ia diundang untuk tampil ke luar negeri.
Saat wawancara sedang berlangsung, Putra Permana mencium aroma kopi. Ia memandang Mira Yasinta yang juga memberi isyarat mencium aroma kopi. Perbincangan dengan Wagirah tetap berlanjut, namun Putra Permana sudah kehilangan konsentrasi.
“Kok bau kopi yaa..,” celetuk Wagirah di tengah acara podcast masih berlangsung.
Tidak ada seorang pun yang memberi jawaban. Putra Permana, Mira Yasinta, dan Wahyono tampak ketakutan. Aroma kopi yang tercium saat podcast pertama, kini muncul lagi. Wagirah sebagai narasumber juga ikut menahan rasa takut. Sebagai penari lengger Wagirah memang suka minum kopi. Tetapi di studio podcast tidak ada yang membuatkannya kopi. Tentu saja Wagirah heran.
Proses rekaman podcast dihentikan, karena celetukan Wagirah. Wahyono harus mengedit hasil rekaman agar tidak muncul pertanyaan Wagirah tentang bau kopi. Mereka kembali dikagetkan oleh suara tangisan wanita dalam rekaman podcast. Isak tangis wanita itu membuat orang-orang yang berada di studio podcast merinding ketakutan.
Mendapat kabar tentang suara tangis wanita dalam hasil rekaman, Isnaeni memutuskan untuk menghentikan sementara waktu proses produksi podcast. Ia ingin Wahyono dan staf teknisi di kampus memeriksa semua peralatan podcast. Isnaeni masih agak ragu, apakah suara tangisan wanita itu karena gangguan teknis rekaman; ataukah memang ada hantu wanita di studio podcast.
***
Hampir satu bulan kegiatan podcast dihentikan. Wahyono dan teknisi kampus memastikan semua peralatan di studio tidak mengalami masalah. Berarti selama ini suara tangisan wanita di studio podcast adalah misteri. Meski demikian Isnaeni tetap melanjutkan program rekaman.
Kali ini podcast menghadirkan Joni Dirgantara, seorang alumni yang sudah sukses menjadi pengusaha di Jakarta. Berbagai kiat untuk menjadi pengusaha ingin digali dari Joni Dirgantara. Nikita Anjani menjadi host yang akan memandu perbincangan, ditemani seluruh pengelola podcast. Semua ingin memastikan bahwa tidak ada lagi gangguan dalam proses rekaman.
Sebagai alumni, Joni Dirgantara berbagi tips untuk memulai bisnis. Setiap lulusan sarjana di kampusnya diharapkan tidak hanya ingin menjadi pegawai negeri. Peluang usaha di luar instansi pemerintah begitu banyak. Terpenting harus berani merangkak dari bawah dan tangguh dalam menghadapi berbagai risiko.
Saat perbincangan begitu asyik, tiba-tiba tercium aroma kopi. Kembali semua pengelola podcast terkejut. Joni Dirgantara bingung melihat perubahan wajah Nikita Anjani yang tampak seperti orang ketakutan.
“Ada apa mbak? Kok bau kopi ya..?” tanya Joni Dirgantara kepada Nikita Anjani
“Anu kak.. anuu.. eee…,” jawab Nikita Anjani terbata-bata, sulit untuk menjelaskan.
Belum lagi terjawab pertanyaan Joni Dirgantara, terdengar suara tangisan wanita. Kali ini tangisan itu bukan ada di hasil rekaman, tetapi terdengar di ruangan podcast. Semua kaget dan ketakutan. Joni Dirgantara menatap seisi ruangan, mencari asal suara tangisan. Namun ia tak menemukannya. Suara tangisan itu begitu pilu, menggema ke suluruh ruangan podcast.
Nikita Anjani yang sedang memandu podcast pun ketakutan. Tangannya begitu gemetaran saat melepas headset di kepalanya. Suasana ruangan menjadi tegang. Suara tangisan itu kian menyayat hati. Dan tiba-tiba lampu di studio podcast padam. Semua berhamburan keluar dari studio. Acara rekaman terhenti.
Isnaeni menyerah. Untuk kali ini ia percaya bahwa suara tangis wanita itu adalah hantu yang mendiami studio podcast. Jika memang hanya masalah teknis, suara tangis wanita itu hanya akan muncul di hasil rekaman. Namun ternyata tangisan itu juga terdengar keras saat acara podcast sedang berlangsung.
Kegembiraan Isnaeni sebagai Kepala Laboratorium pupus oleh peristiwa tangis wanita di studio podcast. Padahal ia sangat berharap dengan hadirnya podcast akan mampu mengangkat citra kampusnya, sekaligus sebagai sarana praktikum bagi mahasiswa.
Diceritakan kejadian di studio podcast kepada paman Isnaeni. Kebetulan pamannya seorang pelaku tradisi Kejawen yang paham tentang hal-hal gaib. Harapannya, tak lagi terdengar suara tangis wanita di studio, sehingga program podcast dapat terus terlaksana.
“Itu suara wanita yang salah pati, meninggal belum saatnya di masa lalu. Ia menghuni ruangan di kampus, karena hawanya yang sejuk,” jelas paman Isnaeni.
“Bagaimana agar suara tangisan itu tidak muncul lagi, Paman?” tanya Isnaeni.
“Wanita itu di masa lalunya memang suka minum kopi. Coba setiap ada acara di studio podcast, disediakan secangkir kopi pahit di meja. Mudah-mudahan tidak terdengar lagi suara tangis,” saran paman Isnaeni.
Mendengar penjelasan dan saran dari pamannya, Isnaeni sedikit lega. Paling tidak, Isnaeni jadi tahu bahwa suara tangisan itu memang berasal dari makhluk halus yang ada di studio podcast. Perkara wanita itu meninggal dengan cara yang salah atau belum waktunya, Isnaeni tak begitu tertarik untuk memikirkannya.
Secangkir kopi pahit telah tersaji di meja podcast ketika Gondo Siswono, seorang politisi yang dermawan dihadirkan dalam diskusi tentang perilaku politik Gen Z. Perbincangan berlangsung menarik, karena Gondo Siswono juga politisi muda dari kalangan milenial.
Tidak terdengar suara tangis wanita selama diskusi berjalan. Putra Permana yang memandu diskusi tampak sumringah. Isnaeni dan para pengelola podcast juga penuh senyum mengikuti perbincangan. Kalau pun tercium aroma kopi, itu berasal dari secangkir kopi pahit yang disuguhkan di atas meja podcast. [T]
- Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:
![Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/01/chusmeru.-cover-cerita-misteri-750x375.jpg)


























