2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa Ada Angin di Jakarta

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 21, 2025
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

JIKA dihitung-hitung, telah tujuh belas tahun saya tinggal dan menetap di Kota Denpasar. Semenjak tamat SMA hingga kuliah (ada yang selesai, ada yang tidak bisa saya selesaikan karena sakit). Pulang ke kampung halaman untuk pemulihan. Kembali lagi ke kota ini, sejak sepuluh tahun lalu sampai sekarang. Bekerja sebagai wartawan dan penulis.

Kemarin, saya menulis di akun media sosial saya tentang keinginan untuk bekerja dan mencari pengalaman baru di luar Bali, Jabodetabek. Beberapa kali melalui laman pencari kerja saya melamar pekerjaan sebagai jurnalis, copywriter atau content writer. Di Jabodetabek, jenis pekerjaan ini banyak dibutuhkan. Gajinya juga besar—oleh pertimbangan itulah ada niat untuk meninggalkan Bali, mencoba peruntungan di kota besar lain meskipun usia tidak muda lagi.

Saya lalu menghubungi teman psikolog yang kini telah menikah dan pindah ke Tangerang Selatan sejak dua tahun lalu. Niat untuk mencari penghidupan di luar Bali saya utarakan padanya, seraya meminta pertimbangan darinya sebagai orang yang ahli bidang ilmu jiwa.

Dia menulis seperti ini: Kalau Bli Angga melihat Jabodetabek seperti apa? Hmm, mungkin bagi orang yang suka dengan dinamika (hidup) yang cepat, atau mau tidak mau beradaptasi dengan itu, lama-lama (akan) terbiasa. Tapi kalau dijadikan sebagai kota pensiun, saya sendiri tidak merekomendasikan. Terlalu hiruk-pikuk dan semua serba cepat. Tetapi untuk mencari pengalaman bekerja, tidak ada salahnya, Bli. Hanya harus bertahan mungkin 3-6 bulan untuk menemukan yang cocok untuk menyamai ritme orang-orang di sini (Jabodetabek).

Jawaban teman saya itu membuat saya bertanya ulang pada diri sendiri: Apa yang membuat saya ingin pindah ke kota lain di luar Bali? Jika ingin gaji yang lebih besar, bukankah itu soal jenis pekerjaan dan bukan tentang pindah tempat menetap? Apa yang saya ingin cari, sebenarnya? Tiga pertanyaan itu pelan-pelan saya jawab dalam hati. Lalu saya mendapat jawaban ini:

Selama ini, saya bekerja sebagai wartawan dengan upah di bawah upah minimum (UMK). Gaji wartawan di Bali memang masih jauh dari standar, jika dibandingkan dengan wartawan di kota-kota besar seperti Surabaya, Bandung, atau Jabodetabek.

Untuk bertahan hidup, wartawan di Bali selain menggandalkan gaji dari perusahaan media, mereka rajin mencari “ceperan”. Biasanya, jika kami meliput sebuah acara konferensi pers, juga misalkan seminar atau diskusi di kampus atau oleh lembaga pemerintah, panitia menyediakan uang transportasi atau uang pengganti pulsa internet. Dari berbagai kegiatan itulah wartawan mendapat penghasilan tambahan. Semakin sering mendapat undangan liputan seperti itu, tentu pendapatan semakin banyak. Apalagi bagi wartawan yang juga punya media online sendiri.

Belum lagi jika berita yang dibuat dihitung sebagai advertorial atau berita berbayar. Ada pembagian sekian persen untuk wartawan sebagai komisi. Wartawan kini mau tak mau juga merangkap sebagai “staf” marketing. Perusahaan media mengharapkan wartawan agar juga memberi kontribusi dengan membantu mencari iklan, untuk membuat media bisa bertahan.

Sebagai wartawan, saya memang pernah beberapa kali mendapatkan iklan. Namun, karakter idealis saya seakan meronta-ronta. Bekerja dalam dunia pers, yang telah juga kini menjadi industri, membuat saya banyak bertanya; bagaimana berita bisa berimbang wartawan menerima imbalan (uang atau barang)? Bukankah UU Pers melarang hal tersebut? Hal yang ideal itu tak ada, terlebih lagi di Indonesia. Itu kesimpulan saya. Dimana-mana orang mesti berkompromi dengan realitas hidup. Idealisme memang penting, tapi sering kali justru mesti dilupakan.

Hidup pas-pasan sebagai wartawan “idealis”, membuat saya kemudian memilih pada sistem kerja freelance atau lepas. Agar saya tak terikat dengan target berita harian atau target iklan yang diharapkan bisa saya dapat sebagai wartawan oleh perusahaan. Konsekuensi tentu ada.

Upah saya dihitung per berita. Meskipun jika ditotal dalam sebulan jumlahnya jauh dari gaji bulanan, saya merasa lebih tenang. Punya banyak waktu untuk menulis esai atau puisi, yang saya kirim ke media online dan koran, dulu, ketika masih banyak ada rubrik sastra di media cetak. Kini hanya sedikit yang bertahan. Media massa di Indonesia banyak yang beralih ke jenis digital. Koran dan majalah punya versi digital juga selain versi cetak. Mau tak mau mereka beradaptasi.

Esai dan puisi yang terkumpul saya jadikan buku. Sudah 15 buku saya tulis sejak enam tahun lalu, pada 2018. Selain mendapat pengakuan, keuntungan finansial saya dapatkan juga meskipun tidak banyak. Semua itu menjadi berkah tersendiri bagi saya. Tidak hanya menjadi wartawan, saya juga dikenal sebagai penyair dan esais yang produktif dan punya banyak prestasi.

Maksud hati jika saya pindah ke luar Bali, akses untuk bisa berkarya lebih intens bisa saya dapatkan. Teman saya berkomentar pada unggahan saya di media sosial terkait hal tersebut: “Apakah di sana nanti masih bisa menulis puisi dan minum kopi?” Saya terdiam membacanya. Tiba-tiba saya teringat sebuah sajak dari mendiang Umbu Landu Paranggi, penyair legendaris Indonesia yang pernah hidup di berbagai kota. Sajak itu berjudul “Apa Ada Angin di Jakarta”.

Apa ada angin di Jakarta
Seperti dilepas desa Melati
Apa cintaku bisa lagi cari
Akar bukit Wonosari

Yang diam di dasar jiwaku
Terlontar jauh ke sudut kota
Kenangkanlah jua yang celaka
Orang usiran kota raya

Pulanglah ke desa
Membangun esok hari
Kembali ke huma berhati

“Desa” dalam larik “pulanglah ke desa” seperti menertawai saya —jarang pulang kampung ke Jembrana, dengan alasan “sibuk” atau “mengejar karir” di Denpasar. Terdengar hanya sebagai pembenaran, mungkin, bagi sebagian keluarga besar saya. Masih satu pulau saja jarang pulang, apalagi nanti kalau pindah ke luar Bali, mungkin akan selamanya tidak pulang—terlebih lagi tunangan saya berasal dari Jakarta, walau sejak beberapa tahun lalu ia telah menetap di Bali.

“Membangun esok hari”, tulis Pak Umbu, satu-satunya adalah “pulang ke desa”, untuk “kembali ke huma berhati”. Apakah tak ada “hati” di kota besar? Mungkin saja. Hidup yang serba cepat dan kompleks membuat warganya makin kehilangan sisi kemanusiannya. Kota besar “kejam”.

Semesta seperti mendengar “keluhan” saya. Kemarin, beberapa jam setelah saya menulis di akun media sosial saya tentang niat untuk bekerja di luar Bali, sebuah pesan masuk di ponsel saya. Undangan wawancara kerja sebagai copywriter pada perusahaan besar di Denpasar. Sekitar lima hari lalu saya mengirimkan lamaran itu. Doakan saya semoga wawancara kerja tahap pertama  lancar dan bisa berlanjut ke tahap rekrutmen berikutnya. Agar saya bisa bekerja dengan upah yang layak, sehingga bisa bebas—tidak lagi berutang untuk bisa terus bertahan hidup. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Bahkan Mencintai Dicurigai
Dilema Orang Kritis di Bali
Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi
“Brain Rot” Atawa Otak Busuk
Tags: baliJakartapenuliswartawan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hindu Towani  Tolotang di Sulawesi Selatan, Wajah Hindu Nusantara Berbalut Adat Bugis Kuno

Next Post

Alasan Utama Pilih Agen Tour Travel Medan Jakarta

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Alasan Utama Pilih Agen Tour Travel Medan Jakarta

Alasan Utama Pilih Agen Tour Travel Medan Jakarta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co