24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa Ada Angin di Jakarta

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 21, 2025
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

JIKA dihitung-hitung, telah tujuh belas tahun saya tinggal dan menetap di Kota Denpasar. Semenjak tamat SMA hingga kuliah (ada yang selesai, ada yang tidak bisa saya selesaikan karena sakit). Pulang ke kampung halaman untuk pemulihan. Kembali lagi ke kota ini, sejak sepuluh tahun lalu sampai sekarang. Bekerja sebagai wartawan dan penulis.

Kemarin, saya menulis di akun media sosial saya tentang keinginan untuk bekerja dan mencari pengalaman baru di luar Bali, Jabodetabek. Beberapa kali melalui laman pencari kerja saya melamar pekerjaan sebagai jurnalis, copywriter atau content writer. Di Jabodetabek, jenis pekerjaan ini banyak dibutuhkan. Gajinya juga besar—oleh pertimbangan itulah ada niat untuk meninggalkan Bali, mencoba peruntungan di kota besar lain meskipun usia tidak muda lagi.

Saya lalu menghubungi teman psikolog yang kini telah menikah dan pindah ke Tangerang Selatan sejak dua tahun lalu. Niat untuk mencari penghidupan di luar Bali saya utarakan padanya, seraya meminta pertimbangan darinya sebagai orang yang ahli bidang ilmu jiwa.

Dia menulis seperti ini: Kalau Bli Angga melihat Jabodetabek seperti apa? Hmm, mungkin bagi orang yang suka dengan dinamika (hidup) yang cepat, atau mau tidak mau beradaptasi dengan itu, lama-lama (akan) terbiasa. Tapi kalau dijadikan sebagai kota pensiun, saya sendiri tidak merekomendasikan. Terlalu hiruk-pikuk dan semua serba cepat. Tetapi untuk mencari pengalaman bekerja, tidak ada salahnya, Bli. Hanya harus bertahan mungkin 3-6 bulan untuk menemukan yang cocok untuk menyamai ritme orang-orang di sini (Jabodetabek).

Jawaban teman saya itu membuat saya bertanya ulang pada diri sendiri: Apa yang membuat saya ingin pindah ke kota lain di luar Bali? Jika ingin gaji yang lebih besar, bukankah itu soal jenis pekerjaan dan bukan tentang pindah tempat menetap? Apa yang saya ingin cari, sebenarnya? Tiga pertanyaan itu pelan-pelan saya jawab dalam hati. Lalu saya mendapat jawaban ini:

Selama ini, saya bekerja sebagai wartawan dengan upah di bawah upah minimum (UMK). Gaji wartawan di Bali memang masih jauh dari standar, jika dibandingkan dengan wartawan di kota-kota besar seperti Surabaya, Bandung, atau Jabodetabek.

Untuk bertahan hidup, wartawan di Bali selain menggandalkan gaji dari perusahaan media, mereka rajin mencari “ceperan”. Biasanya, jika kami meliput sebuah acara konferensi pers, juga misalkan seminar atau diskusi di kampus atau oleh lembaga pemerintah, panitia menyediakan uang transportasi atau uang pengganti pulsa internet. Dari berbagai kegiatan itulah wartawan mendapat penghasilan tambahan. Semakin sering mendapat undangan liputan seperti itu, tentu pendapatan semakin banyak. Apalagi bagi wartawan yang juga punya media online sendiri.

Belum lagi jika berita yang dibuat dihitung sebagai advertorial atau berita berbayar. Ada pembagian sekian persen untuk wartawan sebagai komisi. Wartawan kini mau tak mau juga merangkap sebagai “staf” marketing. Perusahaan media mengharapkan wartawan agar juga memberi kontribusi dengan membantu mencari iklan, untuk membuat media bisa bertahan.

Sebagai wartawan, saya memang pernah beberapa kali mendapatkan iklan. Namun, karakter idealis saya seakan meronta-ronta. Bekerja dalam dunia pers, yang telah juga kini menjadi industri, membuat saya banyak bertanya; bagaimana berita bisa berimbang wartawan menerima imbalan (uang atau barang)? Bukankah UU Pers melarang hal tersebut? Hal yang ideal itu tak ada, terlebih lagi di Indonesia. Itu kesimpulan saya. Dimana-mana orang mesti berkompromi dengan realitas hidup. Idealisme memang penting, tapi sering kali justru mesti dilupakan.

Hidup pas-pasan sebagai wartawan “idealis”, membuat saya kemudian memilih pada sistem kerja freelance atau lepas. Agar saya tak terikat dengan target berita harian atau target iklan yang diharapkan bisa saya dapat sebagai wartawan oleh perusahaan. Konsekuensi tentu ada.

Upah saya dihitung per berita. Meskipun jika ditotal dalam sebulan jumlahnya jauh dari gaji bulanan, saya merasa lebih tenang. Punya banyak waktu untuk menulis esai atau puisi, yang saya kirim ke media online dan koran, dulu, ketika masih banyak ada rubrik sastra di media cetak. Kini hanya sedikit yang bertahan. Media massa di Indonesia banyak yang beralih ke jenis digital. Koran dan majalah punya versi digital juga selain versi cetak. Mau tak mau mereka beradaptasi.

Esai dan puisi yang terkumpul saya jadikan buku. Sudah 15 buku saya tulis sejak enam tahun lalu, pada 2018. Selain mendapat pengakuan, keuntungan finansial saya dapatkan juga meskipun tidak banyak. Semua itu menjadi berkah tersendiri bagi saya. Tidak hanya menjadi wartawan, saya juga dikenal sebagai penyair dan esais yang produktif dan punya banyak prestasi.

Maksud hati jika saya pindah ke luar Bali, akses untuk bisa berkarya lebih intens bisa saya dapatkan. Teman saya berkomentar pada unggahan saya di media sosial terkait hal tersebut: “Apakah di sana nanti masih bisa menulis puisi dan minum kopi?” Saya terdiam membacanya. Tiba-tiba saya teringat sebuah sajak dari mendiang Umbu Landu Paranggi, penyair legendaris Indonesia yang pernah hidup di berbagai kota. Sajak itu berjudul “Apa Ada Angin di Jakarta”.

Apa ada angin di Jakarta
Seperti dilepas desa Melati
Apa cintaku bisa lagi cari
Akar bukit Wonosari

Yang diam di dasar jiwaku
Terlontar jauh ke sudut kota
Kenangkanlah jua yang celaka
Orang usiran kota raya

Pulanglah ke desa
Membangun esok hari
Kembali ke huma berhati

“Desa” dalam larik “pulanglah ke desa” seperti menertawai saya —jarang pulang kampung ke Jembrana, dengan alasan “sibuk” atau “mengejar karir” di Denpasar. Terdengar hanya sebagai pembenaran, mungkin, bagi sebagian keluarga besar saya. Masih satu pulau saja jarang pulang, apalagi nanti kalau pindah ke luar Bali, mungkin akan selamanya tidak pulang—terlebih lagi tunangan saya berasal dari Jakarta, walau sejak beberapa tahun lalu ia telah menetap di Bali.

“Membangun esok hari”, tulis Pak Umbu, satu-satunya adalah “pulang ke desa”, untuk “kembali ke huma berhati”. Apakah tak ada “hati” di kota besar? Mungkin saja. Hidup yang serba cepat dan kompleks membuat warganya makin kehilangan sisi kemanusiannya. Kota besar “kejam”.

Semesta seperti mendengar “keluhan” saya. Kemarin, beberapa jam setelah saya menulis di akun media sosial saya tentang niat untuk bekerja di luar Bali, sebuah pesan masuk di ponsel saya. Undangan wawancara kerja sebagai copywriter pada perusahaan besar di Denpasar. Sekitar lima hari lalu saya mengirimkan lamaran itu. Doakan saya semoga wawancara kerja tahap pertama  lancar dan bisa berlanjut ke tahap rekrutmen berikutnya. Agar saya bisa bekerja dengan upah yang layak, sehingga bisa bebas—tidak lagi berutang untuk bisa terus bertahan hidup. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Bahkan Mencintai Dicurigai
Dilema Orang Kritis di Bali
Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi
“Brain Rot” Atawa Otak Busuk
Tags: baliJakartapenuliswartawan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hindu Towani  Tolotang di Sulawesi Selatan, Wajah Hindu Nusantara Berbalut Adat Bugis Kuno

Next Post

Alasan Utama Pilih Agen Tour Travel Medan Jakarta

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Alasan Utama Pilih Agen Tour Travel Medan Jakarta

Alasan Utama Pilih Agen Tour Travel Medan Jakarta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co