3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa Ada Angin di Jakarta

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 21, 2025
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

JIKA dihitung-hitung, telah tujuh belas tahun saya tinggal dan menetap di Kota Denpasar. Semenjak tamat SMA hingga kuliah (ada yang selesai, ada yang tidak bisa saya selesaikan karena sakit). Pulang ke kampung halaman untuk pemulihan. Kembali lagi ke kota ini, sejak sepuluh tahun lalu sampai sekarang. Bekerja sebagai wartawan dan penulis.

Kemarin, saya menulis di akun media sosial saya tentang keinginan untuk bekerja dan mencari pengalaman baru di luar Bali, Jabodetabek. Beberapa kali melalui laman pencari kerja saya melamar pekerjaan sebagai jurnalis, copywriter atau content writer. Di Jabodetabek, jenis pekerjaan ini banyak dibutuhkan. Gajinya juga besar—oleh pertimbangan itulah ada niat untuk meninggalkan Bali, mencoba peruntungan di kota besar lain meskipun usia tidak muda lagi.

Saya lalu menghubungi teman psikolog yang kini telah menikah dan pindah ke Tangerang Selatan sejak dua tahun lalu. Niat untuk mencari penghidupan di luar Bali saya utarakan padanya, seraya meminta pertimbangan darinya sebagai orang yang ahli bidang ilmu jiwa.

Dia menulis seperti ini: Kalau Bli Angga melihat Jabodetabek seperti apa? Hmm, mungkin bagi orang yang suka dengan dinamika (hidup) yang cepat, atau mau tidak mau beradaptasi dengan itu, lama-lama (akan) terbiasa. Tapi kalau dijadikan sebagai kota pensiun, saya sendiri tidak merekomendasikan. Terlalu hiruk-pikuk dan semua serba cepat. Tetapi untuk mencari pengalaman bekerja, tidak ada salahnya, Bli. Hanya harus bertahan mungkin 3-6 bulan untuk menemukan yang cocok untuk menyamai ritme orang-orang di sini (Jabodetabek).

Jawaban teman saya itu membuat saya bertanya ulang pada diri sendiri: Apa yang membuat saya ingin pindah ke kota lain di luar Bali? Jika ingin gaji yang lebih besar, bukankah itu soal jenis pekerjaan dan bukan tentang pindah tempat menetap? Apa yang saya ingin cari, sebenarnya? Tiga pertanyaan itu pelan-pelan saya jawab dalam hati. Lalu saya mendapat jawaban ini:

Selama ini, saya bekerja sebagai wartawan dengan upah di bawah upah minimum (UMK). Gaji wartawan di Bali memang masih jauh dari standar, jika dibandingkan dengan wartawan di kota-kota besar seperti Surabaya, Bandung, atau Jabodetabek.

Untuk bertahan hidup, wartawan di Bali selain menggandalkan gaji dari perusahaan media, mereka rajin mencari “ceperan”. Biasanya, jika kami meliput sebuah acara konferensi pers, juga misalkan seminar atau diskusi di kampus atau oleh lembaga pemerintah, panitia menyediakan uang transportasi atau uang pengganti pulsa internet. Dari berbagai kegiatan itulah wartawan mendapat penghasilan tambahan. Semakin sering mendapat undangan liputan seperti itu, tentu pendapatan semakin banyak. Apalagi bagi wartawan yang juga punya media online sendiri.

Belum lagi jika berita yang dibuat dihitung sebagai advertorial atau berita berbayar. Ada pembagian sekian persen untuk wartawan sebagai komisi. Wartawan kini mau tak mau juga merangkap sebagai “staf” marketing. Perusahaan media mengharapkan wartawan agar juga memberi kontribusi dengan membantu mencari iklan, untuk membuat media bisa bertahan.

Sebagai wartawan, saya memang pernah beberapa kali mendapatkan iklan. Namun, karakter idealis saya seakan meronta-ronta. Bekerja dalam dunia pers, yang telah juga kini menjadi industri, membuat saya banyak bertanya; bagaimana berita bisa berimbang wartawan menerima imbalan (uang atau barang)? Bukankah UU Pers melarang hal tersebut? Hal yang ideal itu tak ada, terlebih lagi di Indonesia. Itu kesimpulan saya. Dimana-mana orang mesti berkompromi dengan realitas hidup. Idealisme memang penting, tapi sering kali justru mesti dilupakan.

Hidup pas-pasan sebagai wartawan “idealis”, membuat saya kemudian memilih pada sistem kerja freelance atau lepas. Agar saya tak terikat dengan target berita harian atau target iklan yang diharapkan bisa saya dapat sebagai wartawan oleh perusahaan. Konsekuensi tentu ada.

Upah saya dihitung per berita. Meskipun jika ditotal dalam sebulan jumlahnya jauh dari gaji bulanan, saya merasa lebih tenang. Punya banyak waktu untuk menulis esai atau puisi, yang saya kirim ke media online dan koran, dulu, ketika masih banyak ada rubrik sastra di media cetak. Kini hanya sedikit yang bertahan. Media massa di Indonesia banyak yang beralih ke jenis digital. Koran dan majalah punya versi digital juga selain versi cetak. Mau tak mau mereka beradaptasi.

Esai dan puisi yang terkumpul saya jadikan buku. Sudah 15 buku saya tulis sejak enam tahun lalu, pada 2018. Selain mendapat pengakuan, keuntungan finansial saya dapatkan juga meskipun tidak banyak. Semua itu menjadi berkah tersendiri bagi saya. Tidak hanya menjadi wartawan, saya juga dikenal sebagai penyair dan esais yang produktif dan punya banyak prestasi.

Maksud hati jika saya pindah ke luar Bali, akses untuk bisa berkarya lebih intens bisa saya dapatkan. Teman saya berkomentar pada unggahan saya di media sosial terkait hal tersebut: “Apakah di sana nanti masih bisa menulis puisi dan minum kopi?” Saya terdiam membacanya. Tiba-tiba saya teringat sebuah sajak dari mendiang Umbu Landu Paranggi, penyair legendaris Indonesia yang pernah hidup di berbagai kota. Sajak itu berjudul “Apa Ada Angin di Jakarta”.

Apa ada angin di Jakarta
Seperti dilepas desa Melati
Apa cintaku bisa lagi cari
Akar bukit Wonosari

Yang diam di dasar jiwaku
Terlontar jauh ke sudut kota
Kenangkanlah jua yang celaka
Orang usiran kota raya

Pulanglah ke desa
Membangun esok hari
Kembali ke huma berhati

“Desa” dalam larik “pulanglah ke desa” seperti menertawai saya —jarang pulang kampung ke Jembrana, dengan alasan “sibuk” atau “mengejar karir” di Denpasar. Terdengar hanya sebagai pembenaran, mungkin, bagi sebagian keluarga besar saya. Masih satu pulau saja jarang pulang, apalagi nanti kalau pindah ke luar Bali, mungkin akan selamanya tidak pulang—terlebih lagi tunangan saya berasal dari Jakarta, walau sejak beberapa tahun lalu ia telah menetap di Bali.

“Membangun esok hari”, tulis Pak Umbu, satu-satunya adalah “pulang ke desa”, untuk “kembali ke huma berhati”. Apakah tak ada “hati” di kota besar? Mungkin saja. Hidup yang serba cepat dan kompleks membuat warganya makin kehilangan sisi kemanusiannya. Kota besar “kejam”.

Semesta seperti mendengar “keluhan” saya. Kemarin, beberapa jam setelah saya menulis di akun media sosial saya tentang niat untuk bekerja di luar Bali, sebuah pesan masuk di ponsel saya. Undangan wawancara kerja sebagai copywriter pada perusahaan besar di Denpasar. Sekitar lima hari lalu saya mengirimkan lamaran itu. Doakan saya semoga wawancara kerja tahap pertama  lancar dan bisa berlanjut ke tahap rekrutmen berikutnya. Agar saya bisa bekerja dengan upah yang layak, sehingga bisa bebas—tidak lagi berutang untuk bisa terus bertahan hidup. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Bahkan Mencintai Dicurigai
Dilema Orang Kritis di Bali
Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi
“Brain Rot” Atawa Otak Busuk
Tags: baliJakartapenuliswartawan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hindu Towani  Tolotang di Sulawesi Selatan, Wajah Hindu Nusantara Berbalut Adat Bugis Kuno

Next Post

Alasan Utama Pilih Agen Tour Travel Medan Jakarta

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Alasan Utama Pilih Agen Tour Travel Medan Jakarta

Alasan Utama Pilih Agen Tour Travel Medan Jakarta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co