22 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa Ada Angin di Jakarta

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 21, 2025
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

JIKA dihitung-hitung, telah tujuh belas tahun saya tinggal dan menetap di Kota Denpasar. Semenjak tamat SMA hingga kuliah (ada yang selesai, ada yang tidak bisa saya selesaikan karena sakit). Pulang ke kampung halaman untuk pemulihan. Kembali lagi ke kota ini, sejak sepuluh tahun lalu sampai sekarang. Bekerja sebagai wartawan dan penulis.

Kemarin, saya menulis di akun media sosial saya tentang keinginan untuk bekerja dan mencari pengalaman baru di luar Bali, Jabodetabek. Beberapa kali melalui laman pencari kerja saya melamar pekerjaan sebagai jurnalis, copywriter atau content writer. Di Jabodetabek, jenis pekerjaan ini banyak dibutuhkan. Gajinya juga besar—oleh pertimbangan itulah ada niat untuk meninggalkan Bali, mencoba peruntungan di kota besar lain meskipun usia tidak muda lagi.

Saya lalu menghubungi teman psikolog yang kini telah menikah dan pindah ke Tangerang Selatan sejak dua tahun lalu. Niat untuk mencari penghidupan di luar Bali saya utarakan padanya, seraya meminta pertimbangan darinya sebagai orang yang ahli bidang ilmu jiwa.

Dia menulis seperti ini: Kalau Bli Angga melihat Jabodetabek seperti apa? Hmm, mungkin bagi orang yang suka dengan dinamika (hidup) yang cepat, atau mau tidak mau beradaptasi dengan itu, lama-lama (akan) terbiasa. Tapi kalau dijadikan sebagai kota pensiun, saya sendiri tidak merekomendasikan. Terlalu hiruk-pikuk dan semua serba cepat. Tetapi untuk mencari pengalaman bekerja, tidak ada salahnya, Bli. Hanya harus bertahan mungkin 3-6 bulan untuk menemukan yang cocok untuk menyamai ritme orang-orang di sini (Jabodetabek).

Jawaban teman saya itu membuat saya bertanya ulang pada diri sendiri: Apa yang membuat saya ingin pindah ke kota lain di luar Bali? Jika ingin gaji yang lebih besar, bukankah itu soal jenis pekerjaan dan bukan tentang pindah tempat menetap? Apa yang saya ingin cari, sebenarnya? Tiga pertanyaan itu pelan-pelan saya jawab dalam hati. Lalu saya mendapat jawaban ini:

Selama ini, saya bekerja sebagai wartawan dengan upah di bawah upah minimum (UMK). Gaji wartawan di Bali memang masih jauh dari standar, jika dibandingkan dengan wartawan di kota-kota besar seperti Surabaya, Bandung, atau Jabodetabek.

Untuk bertahan hidup, wartawan di Bali selain menggandalkan gaji dari perusahaan media, mereka rajin mencari “ceperan”. Biasanya, jika kami meliput sebuah acara konferensi pers, juga misalkan seminar atau diskusi di kampus atau oleh lembaga pemerintah, panitia menyediakan uang transportasi atau uang pengganti pulsa internet. Dari berbagai kegiatan itulah wartawan mendapat penghasilan tambahan. Semakin sering mendapat undangan liputan seperti itu, tentu pendapatan semakin banyak. Apalagi bagi wartawan yang juga punya media online sendiri.

Belum lagi jika berita yang dibuat dihitung sebagai advertorial atau berita berbayar. Ada pembagian sekian persen untuk wartawan sebagai komisi. Wartawan kini mau tak mau juga merangkap sebagai “staf” marketing. Perusahaan media mengharapkan wartawan agar juga memberi kontribusi dengan membantu mencari iklan, untuk membuat media bisa bertahan.

Sebagai wartawan, saya memang pernah beberapa kali mendapatkan iklan. Namun, karakter idealis saya seakan meronta-ronta. Bekerja dalam dunia pers, yang telah juga kini menjadi industri, membuat saya banyak bertanya; bagaimana berita bisa berimbang wartawan menerima imbalan (uang atau barang)? Bukankah UU Pers melarang hal tersebut? Hal yang ideal itu tak ada, terlebih lagi di Indonesia. Itu kesimpulan saya. Dimana-mana orang mesti berkompromi dengan realitas hidup. Idealisme memang penting, tapi sering kali justru mesti dilupakan.

Hidup pas-pasan sebagai wartawan “idealis”, membuat saya kemudian memilih pada sistem kerja freelance atau lepas. Agar saya tak terikat dengan target berita harian atau target iklan yang diharapkan bisa saya dapat sebagai wartawan oleh perusahaan. Konsekuensi tentu ada.

Upah saya dihitung per berita. Meskipun jika ditotal dalam sebulan jumlahnya jauh dari gaji bulanan, saya merasa lebih tenang. Punya banyak waktu untuk menulis esai atau puisi, yang saya kirim ke media online dan koran, dulu, ketika masih banyak ada rubrik sastra di media cetak. Kini hanya sedikit yang bertahan. Media massa di Indonesia banyak yang beralih ke jenis digital. Koran dan majalah punya versi digital juga selain versi cetak. Mau tak mau mereka beradaptasi.

Esai dan puisi yang terkumpul saya jadikan buku. Sudah 15 buku saya tulis sejak enam tahun lalu, pada 2018. Selain mendapat pengakuan, keuntungan finansial saya dapatkan juga meskipun tidak banyak. Semua itu menjadi berkah tersendiri bagi saya. Tidak hanya menjadi wartawan, saya juga dikenal sebagai penyair dan esais yang produktif dan punya banyak prestasi.

Maksud hati jika saya pindah ke luar Bali, akses untuk bisa berkarya lebih intens bisa saya dapatkan. Teman saya berkomentar pada unggahan saya di media sosial terkait hal tersebut: “Apakah di sana nanti masih bisa menulis puisi dan minum kopi?” Saya terdiam membacanya. Tiba-tiba saya teringat sebuah sajak dari mendiang Umbu Landu Paranggi, penyair legendaris Indonesia yang pernah hidup di berbagai kota. Sajak itu berjudul “Apa Ada Angin di Jakarta”.

Apa ada angin di Jakarta
Seperti dilepas desa Melati
Apa cintaku bisa lagi cari
Akar bukit Wonosari

Yang diam di dasar jiwaku
Terlontar jauh ke sudut kota
Kenangkanlah jua yang celaka
Orang usiran kota raya

Pulanglah ke desa
Membangun esok hari
Kembali ke huma berhati

“Desa” dalam larik “pulanglah ke desa” seperti menertawai saya —jarang pulang kampung ke Jembrana, dengan alasan “sibuk” atau “mengejar karir” di Denpasar. Terdengar hanya sebagai pembenaran, mungkin, bagi sebagian keluarga besar saya. Masih satu pulau saja jarang pulang, apalagi nanti kalau pindah ke luar Bali, mungkin akan selamanya tidak pulang—terlebih lagi tunangan saya berasal dari Jakarta, walau sejak beberapa tahun lalu ia telah menetap di Bali.

“Membangun esok hari”, tulis Pak Umbu, satu-satunya adalah “pulang ke desa”, untuk “kembali ke huma berhati”. Apakah tak ada “hati” di kota besar? Mungkin saja. Hidup yang serba cepat dan kompleks membuat warganya makin kehilangan sisi kemanusiannya. Kota besar “kejam”.

Semesta seperti mendengar “keluhan” saya. Kemarin, beberapa jam setelah saya menulis di akun media sosial saya tentang niat untuk bekerja di luar Bali, sebuah pesan masuk di ponsel saya. Undangan wawancara kerja sebagai copywriter pada perusahaan besar di Denpasar. Sekitar lima hari lalu saya mengirimkan lamaran itu. Doakan saya semoga wawancara kerja tahap pertama  lancar dan bisa berlanjut ke tahap rekrutmen berikutnya. Agar saya bisa bekerja dengan upah yang layak, sehingga bisa bebas—tidak lagi berutang untuk bisa terus bertahan hidup. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Bahkan Mencintai Dicurigai
Dilema Orang Kritis di Bali
Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi
“Brain Rot” Atawa Otak Busuk
Tags: baliJakartapenuliswartawan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hindu Towani  Tolotang di Sulawesi Selatan, Wajah Hindu Nusantara Berbalut Adat Bugis Kuno

Next Post

Alasan Utama Pilih Agen Tour Travel Medan Jakarta

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

by Hartanto
May 22, 2026
0
King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

SAAT gelisahku, saat bongkar-bongkar buku lama berdebu – saya justru tertarik drama-drama karya William Shakespeare. Setelah mencoba memahami lakon Macbeth...

Read moreDetails

‘Trust the Process’: Arsenal-Arteta Bisa, Bagaimana Indonesia-Prabowo?

by Afgan Fadilla
May 22, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

ADA satu kalimat yang beberapa tahun terakhir identik dengan Arsenal: trust the process. Kalimat itu awalnya lebih sering menjadi bahan...

Read moreDetails

Besar Cerita, Besar Berita

by Angga Wijaya
May 21, 2026
0
Besar Cerita, Besar Berita

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

Read moreDetails

Hati-Hati Ada Proyek!

by Dede Putra Wiguna
May 21, 2026
0
Hati-Hati Ada Proyek!

DI Bali, terutama wilayah selatan, papan bertuliskan ‘Hati-Hati Ada Proyek’ bukan lagi sekadar penanda pembangunan. Ia telah menjadi semacam slogan...

Read moreDetails

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

by Lailatus Sholihah
May 20, 2026
0
‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

Read moreDetails

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

by Chusmeru
May 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

Read moreDetails

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

by Emi Suy
May 19, 2026
0
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

Read moreDetails

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

by Early NHS
May 19, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

Read moreDetails

Emansipasi Wanita di Baduy  [Satu Sudut Pandang]

by Asep Kurnia
May 19, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KESETARAAN gender telah lama dikumandangkan, namun secara pasti entah mulai abad keberapa muncul kesadaran kolektif tentang tuntutan kesetaraan gender oleh...

Read moreDetails

Artikulasi atau Bisik-Bisik, Penting Mana?

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 19, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, Hari Buruh kemarin, yang hampir kita lupakan, sebenarnya menyimpan satu momen kecil yang lebih menarik daripada...

Read moreDetails
Next Post
Alasan Utama Pilih Agen Tour Travel Medan Jakarta

Alasan Utama Pilih Agen Tour Travel Medan Jakarta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali
Persona

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang
Puisi

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Jamaras Hujan rintik di jalanan becek tak hentikan langkah untuk berikrarKampung itu menjadi saksi dua hati jatuh hati dengan hati-hatiSiapa...

by Chusmeru
May 22, 2026
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto
Cerpen

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

by Dody Widianto
May 22, 2026
King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini
Esai

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

SAAT gelisahku, saat bongkar-bongkar buku lama berdebu – saya justru tertarik drama-drama karya William Shakespeare. Setelah mencoba memahami lakon Macbeth...

by Hartanto
May 22, 2026
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara
Ulas Musik

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
(Bukan) Demokrasi Kita
Esai

‘Trust the Process’: Arsenal-Arteta Bisa, Bagaimana Indonesia-Prabowo?

ADA satu kalimat yang beberapa tahun terakhir identik dengan Arsenal: trust the process. Kalimat itu awalnya lebih sering menjadi bahan...

by Afgan Fadilla
May 22, 2026
Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh
Panggung

Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

DI sebuah pagi yang riuh, sekelompok anak muda berjalan beriringan di jalanan desa Ketewel, Gianyar. Di tangan mereka, suling, kendang,...

by Dede Putra Wiguna
May 22, 2026
Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan
Panggung

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

DUA sekaa gong yang mebarung atau tampil berhadap-hadapan memenuhi Bale Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng, dalam sebuah pertukaran...

by Komang Puja Savitri
May 21, 2026
Berguru ke Baduy Luar
Tualang

Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
Besar Cerita, Besar Berita
Esai

Besar Cerita, Besar Berita

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

by Angga Wijaya
May 21, 2026
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali
Khas

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
Hati-Hati Ada Proyek!
Esai

Hati-Hati Ada Proyek!

DI Bali, terutama wilayah selatan, papan bertuliskan ‘Hati-Hati Ada Proyek’ bukan lagi sekadar penanda pembangunan. Ia telah menjadi semacam slogan...

by Dede Putra Wiguna
May 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co