24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 18, 2025
in Esai
Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi

Ilustrasi tatkala.co

Sepuluh tahun terakhir ini hidup saya lebih banyak dihabiskan di sebuah rumah kos di Denpasar. Sebelum itu, masa muda saya sempat berpindah-pindah. Setelah tamat SMA, setahun pertama, saya ikut menumpang di rumah kos kakak.

Lalu, empat tahun berikutnya, saya tinggal di sebuah ashram—tempat penuh disiplin dan spiritualitas yang didirikan oleh mendiang Ibu Gedong Bagoes Oka, dosen, aktivis, dan perempuan visioner yang sepanjang hidupnya menjadikan Mahatma Gandhi sebagai panutan. Hidup di ashram membuat saya belajar arti kebersahajaan, hidup bersama, dan menundukkan ego.

Setelah itu, saya sempat kos selama dua tahun di dekat kampus, hingga suatu ketika sakit memaksa saya pulang ke kampung halaman. Lima tahun kemudian barulah saya kembali lagi ke Denpasar dan menetap di kos-kosan yang sekarang saya huni.

Kos-kosan bagi saya selalu aneh sekaligus unik. Kita menyewa kamar, bukan rumah. Kamar itu seperti kotak kecil tempat kita bersembunyi, tapi dinding tipis dan pintu berjejeran justru membuat privasi rapuh. Kita tahu siapa yang baru pulang, siapa yang sedang bertengkar lewat telepon, siapa yang sakit, bahkan siapa yang sedang kasmaran—bukan karena ingin tahu, tetapi karena jarak antar-kamar memang terlalu dekat untuk tidak mendengar.

Kos saya berada di lantai paling atas, agak lebih tinggi dari enam kamar lainnya yang berjajar di bawah. Dari beranda, saya bisa duduk memandangi langit sore Denpasar, melihat awan bergerak pelan, atau menyaksikan lampu kota menyala satu per satu.

Namun suasana syahdu itu sering pecah ketika suara percakapan tetangga kos terdengar jelas. Mereka asyik mengobrol dengan keluarganya lewat telepon, atau sesama penghuni kos saling berteriak dari depan pintu. Topiknya jarang tentang hal-hal yang menggembirakan. Sebagian besar justru keluhan, kabar tentang teman kantor, atau membicarakan orang lain. Kasak-kusuk. Gosip.

Saya tidak ingin menghakimi, tetapi ada saat-saat ketika obrolan semacam itu membuat saya kurang nyaman. Saya pun memilih kembali ke kamar, menutup pintu, dan menyalakan musik pelan. Bukan berarti saya anti-sosial. Saya senang berbincang jika topiknya sehat. Hanya saja, gosip sering kali meninggalkan rasa getir. Menjadi semacam “racun” yang merusak batin.

Perubahan Demografi

Bali, terutama Denpasar, telah mengalami perubahan besar dalam dua–tiga dekade terakhir. Gelombang migrasi datang silih berganti. Orang-orang dari Jawa, Sumatra, Nusa Tenggara, Sulawesi, bahkan dari luar negeri, menjadikan Bali sebagai ladang penghidupan. Pekerjaan di sektor informal maupun pariwisata membuat banyak orang tergoda datang, dan rumah kos menjadi pilihan tempat tinggal paling realistis.

Menurut data BPS Kota Denpasar tahun 2023, jumlah penduduk mencapai sekitar 726 ribu jiwa, dan hampir 40 persennya adalah penduduk non-permanen atau pendatang. Angka itu cukup besar untuk menggambarkan betapa kos-kosan menjadi denyut kehidupan kota. Di satu sisi, kos-kosan melambangkan fleksibilitas—mudah pindah bila tidak betah. Di sisi lain, ia menegaskan keterbatasan: kamar kecil dengan dinding rapuh yang jarang benar-benar bisa disebut “rumah”.

Tak sedikit pula warga lokal Bali menjadikan kos sebagai bisnis keluarga. Satu-dua rumah yang dulunya sederhana, kini bertransformasi menjadi deretan kamar berbayar. Bisnis kos tumbuh subur karena selalu ada permintaan baru. Harga sewa memang bervariasi: ada yang murah dengan fasilitas seadanya, ada pula yang nyaris menyerupai apartemen mini. Tapi tetap saja, mayoritas penghuni kos adalah orang-orang yang hidup pas-pasan, berjuang dari gaji bulanan, dan hanya bisa bermimpi memiliki rumah sendiri.

Hidup di kos menuntut kita punya hati lapang. Suara musik dari kamar sebelah, aroma masakan yang berbeda, cara orang berbicara, bahkan kebiasaan mandi atau mencuci, bisa jadi sumber gesekan kecil. Untunglah saya pernah belajar antropologi budaya saat kuliah. Ilmu itu membuat saya lebih mudah memahami perbedaan. Saya bisa melihat bahwa tiap suku membawa caranya sendiri dalam berkomunikasi, bercanda, atau bergosip.

Sebagai orang Jembrana—daerah yang sejak ratusan tahun lalu terbiasa hidup dalam heterogenitas—saya relatif tidak kaget dengan keragaman itu. Di kampung saya, orang Bali, Jawa, Bugis, Madura, dan Tionghoa hidup berdampingan. Saya terbiasa mendengar bahasa berbeda di pasar, mencicipi masakan lintas tradisi, dan merayakan hari besar agama bersama-sama. Maka tinggal di kos di Denpasar seperti kembali pada miniatur Jembrana: segala perbedaan bertemu, dan kita dituntut untuk tidak mudah tersinggung.

Namun tetap saja, gosip adalah hal yang saya sulit terima. Ia seperti duri yang menyelinap di sela-sela harmoni. Gosip bukan sekadar hiburan ringan. Ia bisa menjadi racun sosial.

Tentang Gosip

Gosip memang bagian dari budaya. Hampir semua komunitas manusia memilikinya. Sebagian antropolog bahkan menyebut gosip sebagai “lem sosial” yang mengikat kelompok, karena dari gosip orang saling berbagi informasi, membangun norma, hingga menentukan siapa yang bisa dipercaya. Tapi gosip juga punya sisi gelap. Ia mudah berubah menjadi fitnah, memecah belah, dan menciptakan stigma yang tidak adil.

Di kos, gosip sering kali muncul karena orang-orang hidup berdekatan tetapi tidak saling mengenal cukup dalam. Dari obrolan ringan tentang siapa yang sering pulang larut malam, bisa merembet jadi tuduhan macam-macam. Dari komentar kecil soal siapa yang sering dikunjungi pacar, bisa berkembang menjadi cerita penuh bumbu. Yang paling berbahaya, gosip kerap menjalar ke media sosial. Sekali sudah menyebar, sulit diluruskan.

Saya kritis terhadap gosip bukan karena merasa diri lebih baik. Justru sebaliknya, saya tahu betapa mudahnya kita tergoda untuk ikut mendengarkan atau menimpali. Ada sensasi tertentu saat membicarakan orang lain. Namun di titik itu, kita harus bertanya: apakah gosip menambah kebaikan bagi kita? Apakah ia membuat kita lebih manusiawi? Atau hanya melahirkan rasa iri, dengki, dan sakit hati?

Jika ditarik lebih luas, gosip di kos hanyalah cerminan dari problem sosial Bali yang semakin heterogen. Ketika pendatang dari berbagai daerah bertemu, perbedaan budaya, bahasa, dan kebiasaan mudah menimbulkan salah paham. Di beberapa titik, friksi bahkan bisa berujung konflik. Bali yang terkenal ramah pun tidak luput dari ketegangan semacam ini.

Namun sejarah Bali menunjukkan hal lain: keterbukaan. Istilah “Nyama Selam” untuk saudara Muslim, atau “Nyama Kristen” untuk saudara Kristen, menandakan bahwa masyarakat Bali sejak lama punya cara sendiri merangkul perbedaan. Bahkan di Buleleng, pelabuhan kuno sudah mempertemukan orang Bali dengan pedagang Tiongkok, Arab, hingga Eropa, jauh sebelum globalisasi menjadi istilah populer.

Tugas kita sekarang adalah merawat warisan keterbukaan itu. Akademisi, mahasiswa, dan penulis harus ikut menyuarakan pentingnya toleransi, membongkar wacana primordial yang bisa memecah belah, serta memberi ruang dialog yang sehat. Sebab jika tidak, gosip kecil di beranda kos bisa membesar menjadi prasangka sosial yang lebih serius.

Setiap sore saya masih sering duduk di beranda kos. Angin Denpasar membawa bau asin laut dari kejauhan, suara motor bersahutan, dan langit perlahan berubah jingga. Di saat yang sama, suara-suara dari kamar bawah terdengar: kadang tawa, kadang keluhan, kadang gosip. Saya tersenyum tipis.

Gosip mungkin tak bisa sepenuhnya dihapus. Ia bagian dari kehidupan sehari-hari. Tapi setidaknya, saya bisa memilih bagaimana menyikapinya: apakah membiarkan ia meracuni hati, atau mengubahnya jadi refleksi kecil bahwa hidup selalu lebih indah bila kita saling memahami, bukan saling membicarakan di belakang.

Tulisan ini bukan gosip. Ia sekadar catatan dari seorang penghuni kos yang mencoba melihat Denpasar—dan Bali—dari beranda kamar mungilnya. [T]

Denpasar, 17 Agustus 2025

Catatan: Mohon maaf kepada Goenawan Mohamad, salah satu penyair besar negeri ini, yang sajaknya luar biasa “Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi” saya pinjam dan ubah untuk menjadi judul tulisan ini.

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Brain Rot” Atawa Otak Busuk
“Masiat Paturu Bali”, Ketika Saudara Menjadi Lawan
Menghapus Stigma Anak Muda Bali Apatis
Tags: gosip
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Blibli, Platform E-Commerce Penyedia Brand Produk Elektronik Terlengkap Dengan Gratis Ongkir

Next Post

Menziarahi Van der Tuuk

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Menziarahi Van der Tuuk

Menziarahi Van der Tuuk

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co