2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 18, 2025
in Esai
Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi

Ilustrasi tatkala.co

Sepuluh tahun terakhir ini hidup saya lebih banyak dihabiskan di sebuah rumah kos di Denpasar. Sebelum itu, masa muda saya sempat berpindah-pindah. Setelah tamat SMA, setahun pertama, saya ikut menumpang di rumah kos kakak.

Lalu, empat tahun berikutnya, saya tinggal di sebuah ashram—tempat penuh disiplin dan spiritualitas yang didirikan oleh mendiang Ibu Gedong Bagoes Oka, dosen, aktivis, dan perempuan visioner yang sepanjang hidupnya menjadikan Mahatma Gandhi sebagai panutan. Hidup di ashram membuat saya belajar arti kebersahajaan, hidup bersama, dan menundukkan ego.

Setelah itu, saya sempat kos selama dua tahun di dekat kampus, hingga suatu ketika sakit memaksa saya pulang ke kampung halaman. Lima tahun kemudian barulah saya kembali lagi ke Denpasar dan menetap di kos-kosan yang sekarang saya huni.

Kos-kosan bagi saya selalu aneh sekaligus unik. Kita menyewa kamar, bukan rumah. Kamar itu seperti kotak kecil tempat kita bersembunyi, tapi dinding tipis dan pintu berjejeran justru membuat privasi rapuh. Kita tahu siapa yang baru pulang, siapa yang sedang bertengkar lewat telepon, siapa yang sakit, bahkan siapa yang sedang kasmaran—bukan karena ingin tahu, tetapi karena jarak antar-kamar memang terlalu dekat untuk tidak mendengar.

Kos saya berada di lantai paling atas, agak lebih tinggi dari enam kamar lainnya yang berjajar di bawah. Dari beranda, saya bisa duduk memandangi langit sore Denpasar, melihat awan bergerak pelan, atau menyaksikan lampu kota menyala satu per satu.

Namun suasana syahdu itu sering pecah ketika suara percakapan tetangga kos terdengar jelas. Mereka asyik mengobrol dengan keluarganya lewat telepon, atau sesama penghuni kos saling berteriak dari depan pintu. Topiknya jarang tentang hal-hal yang menggembirakan. Sebagian besar justru keluhan, kabar tentang teman kantor, atau membicarakan orang lain. Kasak-kusuk. Gosip.

Saya tidak ingin menghakimi, tetapi ada saat-saat ketika obrolan semacam itu membuat saya kurang nyaman. Saya pun memilih kembali ke kamar, menutup pintu, dan menyalakan musik pelan. Bukan berarti saya anti-sosial. Saya senang berbincang jika topiknya sehat. Hanya saja, gosip sering kali meninggalkan rasa getir. Menjadi semacam “racun” yang merusak batin.

Perubahan Demografi

Bali, terutama Denpasar, telah mengalami perubahan besar dalam dua–tiga dekade terakhir. Gelombang migrasi datang silih berganti. Orang-orang dari Jawa, Sumatra, Nusa Tenggara, Sulawesi, bahkan dari luar negeri, menjadikan Bali sebagai ladang penghidupan. Pekerjaan di sektor informal maupun pariwisata membuat banyak orang tergoda datang, dan rumah kos menjadi pilihan tempat tinggal paling realistis.

Menurut data BPS Kota Denpasar tahun 2023, jumlah penduduk mencapai sekitar 726 ribu jiwa, dan hampir 40 persennya adalah penduduk non-permanen atau pendatang. Angka itu cukup besar untuk menggambarkan betapa kos-kosan menjadi denyut kehidupan kota. Di satu sisi, kos-kosan melambangkan fleksibilitas—mudah pindah bila tidak betah. Di sisi lain, ia menegaskan keterbatasan: kamar kecil dengan dinding rapuh yang jarang benar-benar bisa disebut “rumah”.

Tak sedikit pula warga lokal Bali menjadikan kos sebagai bisnis keluarga. Satu-dua rumah yang dulunya sederhana, kini bertransformasi menjadi deretan kamar berbayar. Bisnis kos tumbuh subur karena selalu ada permintaan baru. Harga sewa memang bervariasi: ada yang murah dengan fasilitas seadanya, ada pula yang nyaris menyerupai apartemen mini. Tapi tetap saja, mayoritas penghuni kos adalah orang-orang yang hidup pas-pasan, berjuang dari gaji bulanan, dan hanya bisa bermimpi memiliki rumah sendiri.

Hidup di kos menuntut kita punya hati lapang. Suara musik dari kamar sebelah, aroma masakan yang berbeda, cara orang berbicara, bahkan kebiasaan mandi atau mencuci, bisa jadi sumber gesekan kecil. Untunglah saya pernah belajar antropologi budaya saat kuliah. Ilmu itu membuat saya lebih mudah memahami perbedaan. Saya bisa melihat bahwa tiap suku membawa caranya sendiri dalam berkomunikasi, bercanda, atau bergosip.

Sebagai orang Jembrana—daerah yang sejak ratusan tahun lalu terbiasa hidup dalam heterogenitas—saya relatif tidak kaget dengan keragaman itu. Di kampung saya, orang Bali, Jawa, Bugis, Madura, dan Tionghoa hidup berdampingan. Saya terbiasa mendengar bahasa berbeda di pasar, mencicipi masakan lintas tradisi, dan merayakan hari besar agama bersama-sama. Maka tinggal di kos di Denpasar seperti kembali pada miniatur Jembrana: segala perbedaan bertemu, dan kita dituntut untuk tidak mudah tersinggung.

Namun tetap saja, gosip adalah hal yang saya sulit terima. Ia seperti duri yang menyelinap di sela-sela harmoni. Gosip bukan sekadar hiburan ringan. Ia bisa menjadi racun sosial.

Tentang Gosip

Gosip memang bagian dari budaya. Hampir semua komunitas manusia memilikinya. Sebagian antropolog bahkan menyebut gosip sebagai “lem sosial” yang mengikat kelompok, karena dari gosip orang saling berbagi informasi, membangun norma, hingga menentukan siapa yang bisa dipercaya. Tapi gosip juga punya sisi gelap. Ia mudah berubah menjadi fitnah, memecah belah, dan menciptakan stigma yang tidak adil.

Di kos, gosip sering kali muncul karena orang-orang hidup berdekatan tetapi tidak saling mengenal cukup dalam. Dari obrolan ringan tentang siapa yang sering pulang larut malam, bisa merembet jadi tuduhan macam-macam. Dari komentar kecil soal siapa yang sering dikunjungi pacar, bisa berkembang menjadi cerita penuh bumbu. Yang paling berbahaya, gosip kerap menjalar ke media sosial. Sekali sudah menyebar, sulit diluruskan.

Saya kritis terhadap gosip bukan karena merasa diri lebih baik. Justru sebaliknya, saya tahu betapa mudahnya kita tergoda untuk ikut mendengarkan atau menimpali. Ada sensasi tertentu saat membicarakan orang lain. Namun di titik itu, kita harus bertanya: apakah gosip menambah kebaikan bagi kita? Apakah ia membuat kita lebih manusiawi? Atau hanya melahirkan rasa iri, dengki, dan sakit hati?

Jika ditarik lebih luas, gosip di kos hanyalah cerminan dari problem sosial Bali yang semakin heterogen. Ketika pendatang dari berbagai daerah bertemu, perbedaan budaya, bahasa, dan kebiasaan mudah menimbulkan salah paham. Di beberapa titik, friksi bahkan bisa berujung konflik. Bali yang terkenal ramah pun tidak luput dari ketegangan semacam ini.

Namun sejarah Bali menunjukkan hal lain: keterbukaan. Istilah “Nyama Selam” untuk saudara Muslim, atau “Nyama Kristen” untuk saudara Kristen, menandakan bahwa masyarakat Bali sejak lama punya cara sendiri merangkul perbedaan. Bahkan di Buleleng, pelabuhan kuno sudah mempertemukan orang Bali dengan pedagang Tiongkok, Arab, hingga Eropa, jauh sebelum globalisasi menjadi istilah populer.

Tugas kita sekarang adalah merawat warisan keterbukaan itu. Akademisi, mahasiswa, dan penulis harus ikut menyuarakan pentingnya toleransi, membongkar wacana primordial yang bisa memecah belah, serta memberi ruang dialog yang sehat. Sebab jika tidak, gosip kecil di beranda kos bisa membesar menjadi prasangka sosial yang lebih serius.

Setiap sore saya masih sering duduk di beranda kos. Angin Denpasar membawa bau asin laut dari kejauhan, suara motor bersahutan, dan langit perlahan berubah jingga. Di saat yang sama, suara-suara dari kamar bawah terdengar: kadang tawa, kadang keluhan, kadang gosip. Saya tersenyum tipis.

Gosip mungkin tak bisa sepenuhnya dihapus. Ia bagian dari kehidupan sehari-hari. Tapi setidaknya, saya bisa memilih bagaimana menyikapinya: apakah membiarkan ia meracuni hati, atau mengubahnya jadi refleksi kecil bahwa hidup selalu lebih indah bila kita saling memahami, bukan saling membicarakan di belakang.

Tulisan ini bukan gosip. Ia sekadar catatan dari seorang penghuni kos yang mencoba melihat Denpasar—dan Bali—dari beranda kamar mungilnya. [T]

Denpasar, 17 Agustus 2025

Catatan: Mohon maaf kepada Goenawan Mohamad, salah satu penyair besar negeri ini, yang sajaknya luar biasa “Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi” saya pinjam dan ubah untuk menjadi judul tulisan ini.

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Brain Rot” Atawa Otak Busuk
“Masiat Paturu Bali”, Ketika Saudara Menjadi Lawan
Menghapus Stigma Anak Muda Bali Apatis
Tags: gosip
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Blibli, Platform E-Commerce Penyedia Brand Produk Elektronik Terlengkap Dengan Gratis Ongkir

Next Post

Menziarahi Van der Tuuk

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Menziarahi Van der Tuuk

Menziarahi Van der Tuuk

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co