3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 18, 2025
in Esai
Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi

Ilustrasi tatkala.co

Sepuluh tahun terakhir ini hidup saya lebih banyak dihabiskan di sebuah rumah kos di Denpasar. Sebelum itu, masa muda saya sempat berpindah-pindah. Setelah tamat SMA, setahun pertama, saya ikut menumpang di rumah kos kakak.

Lalu, empat tahun berikutnya, saya tinggal di sebuah ashram—tempat penuh disiplin dan spiritualitas yang didirikan oleh mendiang Ibu Gedong Bagoes Oka, dosen, aktivis, dan perempuan visioner yang sepanjang hidupnya menjadikan Mahatma Gandhi sebagai panutan. Hidup di ashram membuat saya belajar arti kebersahajaan, hidup bersama, dan menundukkan ego.

Setelah itu, saya sempat kos selama dua tahun di dekat kampus, hingga suatu ketika sakit memaksa saya pulang ke kampung halaman. Lima tahun kemudian barulah saya kembali lagi ke Denpasar dan menetap di kos-kosan yang sekarang saya huni.

Kos-kosan bagi saya selalu aneh sekaligus unik. Kita menyewa kamar, bukan rumah. Kamar itu seperti kotak kecil tempat kita bersembunyi, tapi dinding tipis dan pintu berjejeran justru membuat privasi rapuh. Kita tahu siapa yang baru pulang, siapa yang sedang bertengkar lewat telepon, siapa yang sakit, bahkan siapa yang sedang kasmaran—bukan karena ingin tahu, tetapi karena jarak antar-kamar memang terlalu dekat untuk tidak mendengar.

Kos saya berada di lantai paling atas, agak lebih tinggi dari enam kamar lainnya yang berjajar di bawah. Dari beranda, saya bisa duduk memandangi langit sore Denpasar, melihat awan bergerak pelan, atau menyaksikan lampu kota menyala satu per satu.

Namun suasana syahdu itu sering pecah ketika suara percakapan tetangga kos terdengar jelas. Mereka asyik mengobrol dengan keluarganya lewat telepon, atau sesama penghuni kos saling berteriak dari depan pintu. Topiknya jarang tentang hal-hal yang menggembirakan. Sebagian besar justru keluhan, kabar tentang teman kantor, atau membicarakan orang lain. Kasak-kusuk. Gosip.

Saya tidak ingin menghakimi, tetapi ada saat-saat ketika obrolan semacam itu membuat saya kurang nyaman. Saya pun memilih kembali ke kamar, menutup pintu, dan menyalakan musik pelan. Bukan berarti saya anti-sosial. Saya senang berbincang jika topiknya sehat. Hanya saja, gosip sering kali meninggalkan rasa getir. Menjadi semacam “racun” yang merusak batin.

Perubahan Demografi

Bali, terutama Denpasar, telah mengalami perubahan besar dalam dua–tiga dekade terakhir. Gelombang migrasi datang silih berganti. Orang-orang dari Jawa, Sumatra, Nusa Tenggara, Sulawesi, bahkan dari luar negeri, menjadikan Bali sebagai ladang penghidupan. Pekerjaan di sektor informal maupun pariwisata membuat banyak orang tergoda datang, dan rumah kos menjadi pilihan tempat tinggal paling realistis.

Menurut data BPS Kota Denpasar tahun 2023, jumlah penduduk mencapai sekitar 726 ribu jiwa, dan hampir 40 persennya adalah penduduk non-permanen atau pendatang. Angka itu cukup besar untuk menggambarkan betapa kos-kosan menjadi denyut kehidupan kota. Di satu sisi, kos-kosan melambangkan fleksibilitas—mudah pindah bila tidak betah. Di sisi lain, ia menegaskan keterbatasan: kamar kecil dengan dinding rapuh yang jarang benar-benar bisa disebut “rumah”.

Tak sedikit pula warga lokal Bali menjadikan kos sebagai bisnis keluarga. Satu-dua rumah yang dulunya sederhana, kini bertransformasi menjadi deretan kamar berbayar. Bisnis kos tumbuh subur karena selalu ada permintaan baru. Harga sewa memang bervariasi: ada yang murah dengan fasilitas seadanya, ada pula yang nyaris menyerupai apartemen mini. Tapi tetap saja, mayoritas penghuni kos adalah orang-orang yang hidup pas-pasan, berjuang dari gaji bulanan, dan hanya bisa bermimpi memiliki rumah sendiri.

Hidup di kos menuntut kita punya hati lapang. Suara musik dari kamar sebelah, aroma masakan yang berbeda, cara orang berbicara, bahkan kebiasaan mandi atau mencuci, bisa jadi sumber gesekan kecil. Untunglah saya pernah belajar antropologi budaya saat kuliah. Ilmu itu membuat saya lebih mudah memahami perbedaan. Saya bisa melihat bahwa tiap suku membawa caranya sendiri dalam berkomunikasi, bercanda, atau bergosip.

Sebagai orang Jembrana—daerah yang sejak ratusan tahun lalu terbiasa hidup dalam heterogenitas—saya relatif tidak kaget dengan keragaman itu. Di kampung saya, orang Bali, Jawa, Bugis, Madura, dan Tionghoa hidup berdampingan. Saya terbiasa mendengar bahasa berbeda di pasar, mencicipi masakan lintas tradisi, dan merayakan hari besar agama bersama-sama. Maka tinggal di kos di Denpasar seperti kembali pada miniatur Jembrana: segala perbedaan bertemu, dan kita dituntut untuk tidak mudah tersinggung.

Namun tetap saja, gosip adalah hal yang saya sulit terima. Ia seperti duri yang menyelinap di sela-sela harmoni. Gosip bukan sekadar hiburan ringan. Ia bisa menjadi racun sosial.

Tentang Gosip

Gosip memang bagian dari budaya. Hampir semua komunitas manusia memilikinya. Sebagian antropolog bahkan menyebut gosip sebagai “lem sosial” yang mengikat kelompok, karena dari gosip orang saling berbagi informasi, membangun norma, hingga menentukan siapa yang bisa dipercaya. Tapi gosip juga punya sisi gelap. Ia mudah berubah menjadi fitnah, memecah belah, dan menciptakan stigma yang tidak adil.

Di kos, gosip sering kali muncul karena orang-orang hidup berdekatan tetapi tidak saling mengenal cukup dalam. Dari obrolan ringan tentang siapa yang sering pulang larut malam, bisa merembet jadi tuduhan macam-macam. Dari komentar kecil soal siapa yang sering dikunjungi pacar, bisa berkembang menjadi cerita penuh bumbu. Yang paling berbahaya, gosip kerap menjalar ke media sosial. Sekali sudah menyebar, sulit diluruskan.

Saya kritis terhadap gosip bukan karena merasa diri lebih baik. Justru sebaliknya, saya tahu betapa mudahnya kita tergoda untuk ikut mendengarkan atau menimpali. Ada sensasi tertentu saat membicarakan orang lain. Namun di titik itu, kita harus bertanya: apakah gosip menambah kebaikan bagi kita? Apakah ia membuat kita lebih manusiawi? Atau hanya melahirkan rasa iri, dengki, dan sakit hati?

Jika ditarik lebih luas, gosip di kos hanyalah cerminan dari problem sosial Bali yang semakin heterogen. Ketika pendatang dari berbagai daerah bertemu, perbedaan budaya, bahasa, dan kebiasaan mudah menimbulkan salah paham. Di beberapa titik, friksi bahkan bisa berujung konflik. Bali yang terkenal ramah pun tidak luput dari ketegangan semacam ini.

Namun sejarah Bali menunjukkan hal lain: keterbukaan. Istilah “Nyama Selam” untuk saudara Muslim, atau “Nyama Kristen” untuk saudara Kristen, menandakan bahwa masyarakat Bali sejak lama punya cara sendiri merangkul perbedaan. Bahkan di Buleleng, pelabuhan kuno sudah mempertemukan orang Bali dengan pedagang Tiongkok, Arab, hingga Eropa, jauh sebelum globalisasi menjadi istilah populer.

Tugas kita sekarang adalah merawat warisan keterbukaan itu. Akademisi, mahasiswa, dan penulis harus ikut menyuarakan pentingnya toleransi, membongkar wacana primordial yang bisa memecah belah, serta memberi ruang dialog yang sehat. Sebab jika tidak, gosip kecil di beranda kos bisa membesar menjadi prasangka sosial yang lebih serius.

Setiap sore saya masih sering duduk di beranda kos. Angin Denpasar membawa bau asin laut dari kejauhan, suara motor bersahutan, dan langit perlahan berubah jingga. Di saat yang sama, suara-suara dari kamar bawah terdengar: kadang tawa, kadang keluhan, kadang gosip. Saya tersenyum tipis.

Gosip mungkin tak bisa sepenuhnya dihapus. Ia bagian dari kehidupan sehari-hari. Tapi setidaknya, saya bisa memilih bagaimana menyikapinya: apakah membiarkan ia meracuni hati, atau mengubahnya jadi refleksi kecil bahwa hidup selalu lebih indah bila kita saling memahami, bukan saling membicarakan di belakang.

Tulisan ini bukan gosip. Ia sekadar catatan dari seorang penghuni kos yang mencoba melihat Denpasar—dan Bali—dari beranda kamar mungilnya. [T]

Denpasar, 17 Agustus 2025

Catatan: Mohon maaf kepada Goenawan Mohamad, salah satu penyair besar negeri ini, yang sajaknya luar biasa “Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi” saya pinjam dan ubah untuk menjadi judul tulisan ini.

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Brain Rot” Atawa Otak Busuk
“Masiat Paturu Bali”, Ketika Saudara Menjadi Lawan
Menghapus Stigma Anak Muda Bali Apatis
Tags: gosip
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Blibli, Platform E-Commerce Penyedia Brand Produk Elektronik Terlengkap Dengan Gratis Ongkir

Next Post

Menziarahi Van der Tuuk

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Menziarahi Van der Tuuk

Menziarahi Van der Tuuk

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co