14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menziarahi Van der Tuuk

Jaswanto by Jaswanto
August 18, 2025
in Tualang
Menziarahi Van der Tuuk

Kawasan Makam Belanda Peneleh, Surabaya, tempat Van der Tuuk dimakamkan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“DI sebelah sana, Mas. Di depan makam yang runtuh itu,” tunjuk Nano saat saya bertanya di mana letak makam Van der Tuuk—sosok yang hendak saya ziarahi. Nano sudah bekerja sebagai penjaga makam Belanda ini sejak 2010, lima belas tahun silam. Ia mengaku pernah bekerja sebagai karyawan swasta sebelumnya. Dan ia bercerita, dari sejak ia bekerja di Dinas Lingkungan Hidup Surabaya sebagai petugas penjaga makam Peneleh, sampai sekarang, ia tak kunjung diangkat menjadi pegawai negeri. “Di pemerintahan sekarang nggak bisa langsung diangkat seperti dulu. Perlu daftar dan persyaratannya banyak,” katanya.

Siang itu Surabaya sedang panas-panasnya. Pada musim kemarau seperti sekarang, kota ini seperti dipanggang. Jangan coba-coba keluar rumah tanpa mengenakan lengan panjang kalau tidak mau kulit Anda terbakar. Tapi kawasan kerkhof di Peneleh, Genteng, itu adalah pengecualian. Makam kuno yang dibuka pada 1846, enam belas tahun setelah Perang Jawa itu, begitu rindang dan semilir. Banyak pohon angsana di sana. Pun randu, asam, nangka, dan mangga. Semuanya besar—meski di beberapa bagian tak satu pohon pun tumbuh. “Ini lagi musim gugur, Mas. Biasanya lebih adem,” terang Nano sesaat sebelum saya sampai ke pusara sosok yang saya cari.

Saya berjalan pelan sambil mengamati makam-makam yang bentuknya tak biasa itu. Ada yang dibangun begitu megah dengan obelisk dari granit, batu pualam, atau dari batu alam lainnya; ada pula yang sederhana saja, cukup benton yang dipagar baja dan beratap lembaran besi—yang sudah berkarat. Ada yang masih kokoh, banyak pula yang hanya tersisa puing-puingnya—dan tak lagi jelas itu makam milik siapa. Dan di bawah pohon mangga itu, di depan sebuah makam besar yang runtuh, di samping makam pendek berkubah, di sanalah Van der Tuuk berbaring bersama ayahnya, Sefridus Van der Tuuk. Saya tertegun.

Makam Herman Neubronner van der Tuuk dan ayahnya Sefridus Van der Tuuk di kawasan Makam Belanda Peneleh, Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Namanya sering saya dengar saat saya masih tinggal di Singaraja, Bali, lebih tepatnya saat nongkrong di Rumah Belajar Komunitas Mahima. Tokoh seperti Sugi Lanus, misalnya, sang filolog itu, kerap menyebut namanya saat ia sedang berbicara tentang Gedong Kirtya atau satu istilah tertentu dalam bahasa Kawi-Bali. Benar. Sosok kelahiran Malaka, 23 Februari 1824 itu memang pernah cukup lama hidup di Singaraja—dari 1870-1873.

Angin berkesiur, menerbangkan dan merontokkan daun-daun sono dan nangka yang kering. Saya masih mematung di depan makam beton kubus bercat putih pudar yang di beberapa bagian plester semennya sudah mengelupas dan menampakkan bata merah yang kuat itu. Sejenak saya tak tahu harus melakukan apa, saya tidak yakin untuk membaca tahlil atau doa-doa lainnya—sebagaimana saat saya berziarah ke makam para wali. Akhirnya saya hanya menyentuh namanya yang terukir di marmer itu, tanpa doa-doa; tanpa berbicara.

Van der Tuuk (1824-1894), bernama lengkap Herman Neubronner van der Tuuk, merupakan anak sulung dari pasangan Sefridus Van der Tuuk (1776-1853) yang berasal dari Friesland, Belanda Utara, dengan Louise Neubronner (1795?-1845) dari Malaka—yang saat itu masih menjadi daerah koloni Belanda. Setelah Malaka ditukar pada April 1825 oleh pemerintah Hindia Belanda dengan Inggris sebagai dampak Perjanjian 1824, keluarga Van der Tuuk pindah ke Surabaya.

Ternyata keluarga Van der Tuuk bukan dari kalangan orang biasa. Pada 1826, ayahnya diangkat menjadi anggota Raad van Justitie (Kejaksaan Agung) dan sepuluh tahun kemudian diangkat menjadi Presiden di lembaga itu.

Herman, sebagaimana Dr. Kees Groeneboer memanggilnya, tumbuh di tengah-tengah masyarakat Surabaya yang heterogen. Di sana ia hidup bersama bahasa Belanda, Melayu, Jawa, dan Madura. Dari sinilah, mungkin, ia mulai belajar bahasa lain—Melayu, Jawa, Madura, bahkan Portugis, karena banyak (Indo-)Eropa yang lahir di Malaka yang sering berbicara dengan semacam bahasa Portugis Kreol (bahasa Portugis yang bercampur dengan bahasa lain)—selain bahasa Belanda. Di masa depan, van Der Tukk dikenal sebagai poliglot yang cerdas.

Salah satu bentuk di kawasan Makam Belanda Peneleh, Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Nah, benar yang itu, Mas.” Nano memecah hening yang sedari tadi berlangsung. Saya menghampiri lelaki 50an itu, yang kini duduk di sebuah makam usang di bawah pohon sono sambil mengisap rokok. Saya duduk di sampingnya, dan menyalakan sebatang kretek.

“Di kompleks pemakaman ini, Van der Tuuk cukup terkenal, bahkan mengalah nama Pieter Merkus.” Semula, Nano berceloteh dengan suara pelan. Tetapi makin ke ujung, suara lelaki paruh baya itu makin tinggi dan percaya diri. Tampaknya ia tidak mau dianggap sebagai penjaga makam kacangan. Ia merasa perlu membimbing saya untuk mengarungi kawasan Makam Belanda yang ditutup pada 1964 itu.

“Banyak sekali orang yang datang ke sini ingin melihat makam Van der Tuuk. Awalnya saya bertanya-tanya, siapa sosok ini, kok sepertinya mampu menarik para peneliti,” terang Nano sambil membenarkan letak topinya. Belakangan, Nano sedikit tahu sosok Van der Tuuk lewat beberapa pengunjung yang menjelaskan. “Saya tak baca, Mas. Tapi diberitahu langsung oleh para peneliti,” ujarnya dalam bahasa Jawa Suroboyoan yang khas.

Saya mendatangi pemakaman Belanda yang luasnya hampir 4,5 hektar—yang memancarkan suasana kuno—dan terdapat 3.547 makam itu di puncak musim panas yang garang. Udara, seperti kata Fatris, penuh debu dan gerah merambat hingga ke lipatan-lipatan selangkangan. “Kata para peneliti itu, Van der Tuuk ini ahli bahasa, Mas,” Nano berkata seolah pemandu wisata. Saya mengangguk dan sesekali menimpali.

Ya, apa yang dikatakan Nano memang tidak salah. Van der Tuuk adalah tokoh ahli bahasa, meski pada awalnya ia kuliah di Fakultas Sastra dan Hukum Universitas Groningen, Belanda. Tetapi, menurut penuturan Willem Doorenbos (sahabat Van der Tuuk), sesudah tahun 1843 Van der Tuuk hampir tidak pernah mengikuti kuliah hukum lagi. Ia sibuk dengan studi ilmu bahasa Arab, Persia, Portugis, dan Inggris. Dia pemuja Shakespeare. Oleh karena itu ia juga sibuk mempelajari bahasa Anglo-Saxon (bahasa Inggris kuno). Dari Doorenbos ia belajar dasar-dasar bahsa Arab, dan menambang ilmu bahasa-bahasa Semit dari para guru besar seperti Th. W.J. Juynboll.

Sanad keilmuan bahasa Van der Tuuk tidak berhenti pada Juynboll, tapi mengalir sampai Ibrani A. Rutgers, yang mengajarinya seluk-beluk bahasa Sanskerta. Bersama guru besar Rutgers, Van der Tuuk muda bertungkus-lumus menyigi Sanskerta di sekitaran Universitas Leiden—meski ia tak pernah terdaftar sebagai mahasiswa di universitas tua yang didirikan pada tahun 1575 oleh Pangeran Willem van Oranje itu.

Salah satu bentuk kuburan di kawasan Makam Belanda Peneleh, Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Pada saat usianya baru menginjak 22 tahun, Van der Tuuk mempublikasikan suatu telaah mengenai naskah Melayu yang ditulis J.J. de Hollander, dosen bahasa Melayu di Breda. Tampaknya saat itu Van der Tuuk sudah fasih bahasa Melayu—meski telaah tersebut dipublikasikannya secara anonim, hanya ditandai dengan S.B, yang menurutnya berarti Surabaya.

Waktu melesat seperti peluru senapan Belanda. Sebagaimana tertulis dalam artikel panjang Dr. Kees Groeneboer Dari Radja Toek sampai Goesti Dertik, pada November 1847, setelah dari Leiden, Van der Tuuk tinggal di Delft dan mulai berkorespondensi dengan Persekutuan Alkitab Belanda mengenai pengangkatannya menjadi utusan bahasa (taalafgevaardigde) untuk daerah Batak di Hindia Belanda atas rekomendasi Juynboll, Rutgers, dan T. Roorda.

Sejak saat itulah, tepatnya pada tahun 1849, perjalanannya mengkaji, menerjemahkan, dan mendokumentasikan beberapa bahasa daerah di Nusantara dimulai.

Meski tugas mempelajari bahasa Batak dan menyusun kamus dan tata bahasa sesuai dengan minatnya, tapi Van der Tuuk agak ragu-ragu mengenai tugas untuk menerjemahkan Alkibab dari bahasa Belanda ke bahasa Batak. Ia bukan ahli teologi.

***

“Dia berhasil melahirkan kamus bahasa Batak-Belanda, Pak,” ujar saya kepada Nano. Dia diam dan manggut-manggut. Rokoknya tak putus-putus. Saya juga mengatakan bahwa ada satu film dokumenter hikayat Van der Tuuk, judulnya Risalah Van der Tuuk (2014) karya Irwan Wahyudi—yang saya tonton di Singaraja Literary Festival tahun 2023.

Perjalanan Van der Tuuk berlanjut. Pada Juni 1849, kapal Prinses Sophia membawanya berlayar dari Pulau Texel ke Hindia Belanda. Di kapal inilah ia menulis surat melankolis kepada karibnya, J. Roos, yang agak berbau ateis. Ia menulis “…Memang sebuah kontrak yang aneh, hubungan antara manusia dan Tuhan. Dia membiarkanmu merasa bosan di dunia tanpa menanyakan apakah kamu suka atau tidak… Tetapi sudahlah! Sekarang kita sudah berada di sini, dan karena itu biar kita menjadikan hidup ini semudah mungkin, tidak mengikuti syarat-syarat yang tidak masuk akal dan yang hanya berlaku bagi yang mempercayainya.”

Sebelum berangkat ke Padang, Van der Tuuk hidup di Batavia. Di kota ini ia menyibukkan diri dengan bahasa Melayu dan menulis sebuah telaah mengenai apa yang disebutnya bahasa ‘Melayu-Sentralisasi’ atau bahasa ‘Melayu-Tinggi’ yang digunakan oleh orang Melayu terpelajar di sekitar Selat Malaka. Pertengahan Oktober 1850, Van der Tuuk dirawat beberapa bulan di Buitenzorg (Bogor) setelah sakit cukup payah selama di Batavia. Di Bogor, ia mendalami bahasa Sunda.

Setahun setelah dirawat di Bogor, Van der Tuuk menetap di Sibolga, Keresidenan Tapanuli. Tetapi karena ia merasa daerah itu tidak cocok dalam menunjang studi bahasanya karena pengaruh besar Melayu, ia membangun rumah kecil di Barus. Pada 1852, ia melakukan perjalanan ke Mandailing.

Van der Tuuk menempuh jarak yang panjang ke Padang Sidempuan, Sipirok, dan Panyabungan sebagian besar dengan berjalan kaki. Di mana pun ia singgah, Van der Tuuk selalu membuat catatan, atau menulis lagu-lagu, anekdot, cerita, menyalin pustaha (buku dari kulit kayu), dan mengunjungi kuburan-kuburan kuno.

Di tanah Batak, Van der Tuuk dikenal dengan nama Pan Dor Toek atau si Radja Toek. Dan ia sangat akrab dengan penduduk asli. Meskipun dia sering merasa terganggu dengan apa yang disebutnya dengan ‘kemalasan, kejorokan, dan keserakahan orang Batak’—tatapan khas kolonial berkulit pucat terhadap penduduk pribumi—Van der Tuuk tetap melakukan apa saja untuk mendapatkan kepercayaan orang Batak. Keakraban itu ia manfaatkan—atas permintaan Pemerintah Hindia Belanda, tentu saja—untuk menerjemahkan pengumuman-pengumuman dalam berbagai dialek Batak, menyusun kamus, tata bahasa, dan menerjemahkan Alkitab.

Dan sebelum berangkat ke Eropa lagi, sepanjang perjalanan dari Barus ke Padang ia tempuh dengan berjalan kaki supaya dapat memperoleh tambahan data bahasa Batak-Mandailing. Pada Oktober 1857 ia tiba di Belanda dan menetap di Amsterdam. Di kota inilah ia mengolah bahan-bahan—yang sangat banyak itu—yang ia dapat selama enam tahun di tanah Batak dan mempublikasikannya.

Makam Herman Neubronner van der Tuuk dan ayahnya Sefridus Van der Tuuk di kawasan Makam Belanda Peneleh, Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Van der Tuuk merupakan sosok pembela bahasa daerah yang ulet dan militan. Ia menentang bahasa Melayu, yang menurutnya memberi dampak tidak menguntungkan pada hampir seluruh bahasa Nusantara. Oleh karena itu, bahasa-bahasa Nusantara dalam waktu singkat mengalami perubahan besar. Dia takut bahwa setelah lima puluh tahun terjemahan Alkitab yang dikerjakannya tidak lagi dimengerti, dan ramalan itu memang terjadi.

***

“Makam Van der Tuuk ini memang sering didatangi orang-orang,” Nano kembali mengulangi perkataannya setelah diam beberapa saat. Rokoknya tak kunjung padam.

Mendengar Nano menyebut nama Van der Tuuk lagi, saya kembali mengingat perjalanan sang “raja pakar bahasa”. Setelah setahun tinggal di Lampung (1868-1869), Van der Tuuk berangkat ke Buleleng, Bali, tepatnya pada awal April 1870. Awalnya ia tinggal di rumah zendeling R. van Eck. Namun, supaya dapat bekerja di lingkungan yang benar-benar Bali, sebagaimana saat ia tinggal di Batak, Van der Tuuk mendirikan rumah di Kampung Baratan, beberapa kilometer dari Kota Singaraja.

Menurut Dr. Kees Groeneboer, di Buleleng ia tinggal bersama seorang pembantu yang ia bawa dari Batavia—lelaki berusia tiga puluh tahun—dan seorang koki dari Surabaya beserta suaminya. Dalam suratnya kepada NBG (Nederlandsch Bijbelgenootschp), tertanggal 9 November 1871, Van der Tuuk menilai orang Bali dengan nada tak mengenakkan—seperti saat ia menilai orang Batak.

Ia menulis, “Hidup di sini cukup membosankan, meskipun demikian, saya tidak ingin meninggalkan tempat ini lagi… Percakapan yang ada di sini tidak terlalu menggairahkan. Kebanyakan saya mengobrol dengan orang-orang Bali… Mereka tidak lebih beradab dibandingkan orang Batak (agama Hindu hanya ada dalam syair-syair berbahasa Kawi; orang Bali biasa bahkan tidak mengenal nama satu dewa pun) dan mereka agak lebih buruk tabiatnya. Sebuah contoh dari kurangnya moral di sini adalah popularitas gandrung (penari laki-laki yang berpakaian seperti perempuan) yang dapat diajak menari, bercanda, dan sebagainya. Apabila di suatu tempat ada gandrung, maka penari perempuan tidak akan mendapat uang! Memuakkan melihatnya, bagaimana mereka itu diciumi dan dijamah oleh publik.”

Bentuk-bentuk kuburan di kawasan Makam Belanda Peneleh, Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Meski ia bagian dari Pemerintah Hindia Belanda—Van der Tuuk bekerja untuk Pemerintah Belanda di bidang bahasa dari 1873-1894 setelah berhenti menjadi penerjemah Alkitab di NBG—, seperti saat masih di Batak, ia terusik oleh penindasan terhadap penduduk (wong cilik) yang dilakukan oleh raja-raja Bali, oleh ketidakberdayaan Pemerintah Hindia Belanda akan hal itu, dan oleh tingkah polah para zendeling—merujuk pada misionaris Protestan yang diutus untuk menyebarkan agama Kristen, terutama di masa penjajahan Belanda di Hindia. Ia juga muak dengan “keserakahan” orang Cina dan Arab. Namun, meski begitu, Van der Tuuk mengaku lebih tertarik dengan kehidupan di Bali (Buleleng) daripada di Sumatra karena ia menganggap orang Bali lebih berbudaya dan lebih halus perangainya, pun kesusastraannya—sesuatu yang ia minati dan geluti sejak muda.

Di Buleleng, Van der Tuuk mengerjakan kamus bahasa Kawi-Bali-Belanda dengan sangat serius. Di sela-sela itu, ia memperbaiki kamus bahasa Melayu—yang gemuk—karya H. von de Wall, yang diterbitkan tiga jilid, dan menerbitkan kamus bahasa Kawi-Jawa karya C.F. Winter. Dalam masa dua puluh tahun terakhir dari hidupnya, menurut Dr. Kees Groeneboer, Van der Tuuk juga mengerjakan berbagai karya ilmiah yang lain sambil tetap mengkritik banyak karya ahli bahasa dan menulis artikel-artikel di koran-koran Hindia-Belanda.

Pada masa-masa itulah, ia hidup “seperti orang Bali”—tinggal di sebuh rumah kecil terbuat dari bambu dan kayu dan memelihara berbagai hewan. Lalu beredar banyak cerita, misalnya dia mandi di antara orang Bali di pancuran dekat rumahnya; dia jalan-jalan hanya mengenakan sarung setengah telanjang dan selalu membawa sebuah pentungan besar.

Rumah Van der Tuuk selalu ramai didatangi orang Bali. Ia banyak dimintai pendapat (nasihat) oleh orang-orang Bali terkemuka. J. Jacobs (1883) menulis, salah satu dari raja Bali mengatakan, “Hanya ada satu orang di seluruh Bali yang mengenal dan memahami bahasa Bali, dan orang itu adalah Goesti Dertik—panggilan Van der Tuuk di Bali.”

Hingga 17 Agustus 1894, Van der Tuuk, sosok legendaris—meminjam kata Dr. Kees Groeneboer—ilmuan besar, tetapi juga pribadi yang mengesankan, berbuat sekehendak hatinya, kurang sopan-santun dan eksentrik itu, saat berusia tujuh puluh tahun, meninggal di Rumah Sakit Militer di Surabaya karena penyakit disentri dan dikuburkan di makam Belanda Peneleh—yang sejak 2010 dijaga oleh Nano itu.

Sedangkan kamus bahasa Kawi-Bali-Belanda yang ia kerjakan—sebuah maha karyanya—belum juga selesai. Kamus—yang oleh Dr. Kees Groeneboer disebut sebagai “mahkota dari seluruh karya Van der Tuuk—itu baru diterbitkan setelah kematiannya dalam empat jilid tebal dengan 3.600 halaman.

***

Suara kendaraan yang menyemut di seberang kerkhof Peneleh membuat apa yang dikatakan Nano tak terdengar jelas. Tapi sebelumnya ia menyampaikan bahwa tak hanya tokoh bahasa macam Van der Tuuk saja yang dikebumikan di makam Belanda itu. Ada beberapa orang penting pada masa itu yang kini berbaring di tanah kampung Peneleh—di mana sosok seperti H.O.S Tjokroaminoto pernah tinggal dan di kampung ini pula Soekarno dilahirkan.

“Pieter Merkus itu dikuburkan di sini,” Nano menerangkan. Sekadar informasi, Pieter Merkus adalah Gubernur Jendral Hindia-Belanda ke-47 yang memerintah mulai tahun 1841-1844. Tak hanya menyebut nama Peter, Nano juga memberitahu saya nama lain seperti Daniel François Pietermaat, Resident van Soerabaia; P. J. B. de Perez, Wakil Kepala Dewan Hindia Belanda; F.J.H. Bayer yang bergelar Ridder der Orde van den Nederlandschen Leeuw; Ohannes Kurkdjian, fotografer terkenal; Julius Schmutzer, dikenal sebagai keluarga peletak politik etik pertama di Hindia Belanda; sampai Moeder Louise, suster kepala ursulin pertama di Surabaya sekaligus pendiri cikal bakal SMA Santa Maria Surabaya—yang makamnya begitu indah. (GH Von Faber mencatat dalam buku Oud Soerabaia (1935), jenazah Moeder Louise diiring 92 kereta menuju rumah terakhirnya.)

Menurut keterangan Nano, pada kisaran tahun 1847 hingga 1947, lahan di kawasan Peneleh ini melayani pemakaman warga Eropa di Surabaya. Ada orang Belanda, Inggris, Perancis, Jerman, dan Italia. Beragam kebangsaan ini terlihat dari nama-nama serta bahasa yang dipakai sebagai deskripsi dan inkripsi pada nisan makam mereka. “Ada sekitar 15 sampai 25 ribu jasad orang Eropa yang dikuburkan di sini,” terang Nano.

Makam Pieter Merkus, Gubernur Jendral Hindia-Belanda ke-47, di kawasan Makam Belanda Peneleh, Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Bersama desau angin, suara anak-anak memecah hening. Gerombolan bocah sedang asyik bermain di atas sebuah makam di bawah pohon rindang. Beberapa sekadar duduk dan bercanda, lainnya joget-joget di depan kamera. Anak-anak ini, laki-perempuan, tinggal di sekitar pemakaman kuno ini. Setiap sore, akan lebih banyak warga kampung sekitar yang menjadikan kompleks makam sebagai tempat nongkrong dan bermain. Bagi warga Peneleh, sepertinya pemakaman ini dianggap sebagai halaman rumah alih-alih cagar budaya yang dilindungi. Nano was-was. Tak sekali-dua Nano mengingatkan, tapi itu bagai angin lalu. “Kalau aku larang, justru aku yang dimarahi warga. Padahal aktivitas mereka bisa merusak makam,” ujar Nano.

Begitulah prilaku kebanyakan masyarakat terhadap situs cagar budaya, pun pemimpin birokrasinya—lebih banyak merusak daripada menjaga dan merawatnya. Pada 2020, aparatur Pemerintah Kota Surabaya secara gegabah mengecat beberapa makam kuno. Padahal, makam terbuat dari batu pahatan halus dari Italia yang memang tidak perlu dicat. Pengecatan terhadap objek bersejarah merupakan tindakan sembrono—untuk tidak mengatakan bodoh—karena menghilangkan keaslian yang merupakan sumber informasi atau narasi.

Sejak diresmikan pada 1 Desember 1847 oleh WR van Hoevell, Makam Belanda Peneleh (De Begraafplaats Peneleh Soerabaja) baru mendapat perhatian untuk dipugar pada tahun 2024 setelah mengalami banyak kerusakan secara alami dan penjarahan. Pemugaran diinisiasi oleh Perkumpulan Begandring Soerabaia dengan melibatkan TiMe Amsterdam dan mendapat dukungan pendanaan dari DutchCulture, pusat kerja sama internasional Belanda. Selain itu, Pemkot Surabaya juga mendorong keterlibatan Tim Ahli Cagar Budaya dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilyah XI Jawa Timur.

Saya memandangi makam Van der Tuuk dari jauh. Di bawahnya terdapat lubang setengah lingkaran. Saya tidak tahu makam itu telah dirusak, digali untuk dijarah isnya, atau berlubang karena hal lain. Yang jelas, bangunannya tak terlalu mengalami kerusakan seperti kebanyakan makam lainnya.

Sampa di sini, S. Coolsma (1883) mengatakan, Van der Tuuk adalah “raja dari pakar bahasa”. Namun, cara-caranya yang langsung dan bahkan cenderung kasar dalam mempresentasikan hasil penelitiannya, membuatnya mempunyai banyak musuh alih-alih teman diskusi. “Orang lebih suka menyingkir daripada berdiskusi dengannya,” tulis Kees Groeneboer.

Kuburan-kuburan yang rusak di kawasan Makam Belanda Peneleh, Surabaya | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Menurut ahli bahasa Jawa dari Leiden E.M. Uhlenbeck, gaya penulisan Van der Tuuk—yang terang-terangan tanpa tedeng aling-aling itu—disebabkan karena kurangnya pengakuan di kalangan ilmuan Belanda—Van der Tuuk relatif tidak dikenal dalam dunia ilmiah Belanda. Mungkin karena ia tak lahir dari ruang kampus “resmi”, atau juga oleh sebab ia telalu kritis terhadap tokoh agama dan Pemerintah Hindia Belanda, atau justru ada hal lain yang saya tak tahu itu apa. Yang jelas, Rob Nieuwenhuys menunjukkan bahwa di balik prilakunya yang agresif, pada kenyataannya Van der Tuuk merupakan sosok yang peka, kesepian, tidak bahagia, dan sering terserang depresi.

Pada 1962, pakar bahasa Jawa yang bekerja untuk University of London, C. Hooykaas menulis, “kekasaran” dan “rasa dendam” dalam karakter Van der Tuuk adalah pelengkap dari suatu hasrat keingintahuan dan menganalisis sesuatu menjadikannya seseorang yang dari segi ilmiah sepenuhnya jujur. Hooykaas mengagumi integritas figur tragis yang hebat ini.

Di mata orang Eropa Van der Tuuk sudah berubah menjadi setengah pribumi, tetapi di mata orang Bali Van der Tuuk tetap orang Eropa, seperti diceritakan N. Adriani, wakil dari NBG setelah mengunjungi rumah Van der Tuuk di Buleleng.

Dan di Buleleng, kini, nama Van der Tuuk masih samar-samar disebut. Pada 2 Juni 1928, bersama para raja dan pemuka agama dari seluruh Bali dan nama-nama seperti Dr. Purbacaraka, Dr. Wr. Stuterheim, Dr. R. Goris, Dr. Th Pigeand, dan Dr. C. Hooykaas, L.J.J. Caron—residen pemerintah Belanda untuk Bali dan Lombok—membentuk yayasan (stichting) yang diberi nama Kirtya Liefrink-Van der Tuuk—yang sekarang sering orang sebut Gedong Kirtya. Hingga pada tanggal 14 September 1928, yayasan ini dibuka untuk umum oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda A.C.D. de Graff sampai sekarang.

Saya pamit. Nano membukaan gerbang. Di area pemakaman, petugas kebersihan sibuk menyapu daunan kering yang berserak. Sementara anak-anak masih bermain sesuka hati, beberapa tukang bangunan fokus menata batu kumbung di dekat pusat informasi. “Mau bangun toilet, Mas,” ujar Nano. Saya tersenyum dan benar-benar meninggalkan situs cagar budaya yang konon katanya angker itu.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Berkunjung ke Rumah H.O.S Tjokroaminoto
Menengok Sejarah Neraka di Sisi Timur Jawa
Melihat Wajah Dolly, Kini
Tags: Bahasa Balibahasa jawabahasa kawiGedong KirtyaPenelehSurabayaVan der Tuuk
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi

Next Post

Suara dalam Keheningan: Takarir “Sore: Istri dari Masa Depan” Bisa menjadi Pelajaran Penting bagi Sinema Indonesia

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails
Next Post
Demokratisasi Sinema: TikTok dan “Reels” sebagai Panggung Baru Film Pendek Indie

Suara dalam Keheningan: Takarir “Sore: Istri dari Masa Depan” Bisa menjadi Pelajaran Penting bagi Sinema Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co