WISUDA merupakan momentum yang paling ditunggu oleh setiap mahasiswa. Bukan hanya sebagai bukti kelulusan, namun juga langkah awal untuk menapaki dunia di luar kampus. Maka, wisuda akan disambut sukacita oleh mahasiswa dan keluarganya. Foto wisuda menjadi sesuatu yang wajib bagi mahasiswa.
Untuk sampai pada tahapan wisuda tentu banyak cerita yang berbeda di antara mahasiswa. Ada yang harus “berdarah-darah” sebelum wisuda, karena proses bimbingan skripsi yang begitu lama. Ada pula yang merasa begitu cepat selesai kuliah. Namun ada yang harus berada di kampus hingga tujuh tahun untuk wisuda, lantaran setiap semester menunggak mata kuliah.
Adalah Dewi Puspita, Candra Irawan, dan Putri Rengganis yang memiliki kisah berbeda dalam kuliah hingga wisuda. Mereka berbeda jurusan, namun dalam satu fakultas. Berbeda tahun angkatan, namun diwisuda pada hari, tanggal, dan tahun yang sama.
Dewi Puspita termasuk mahasiswa yang lulus dengan waktu normal, empat tahun lebih lima bulan. Namun bukan itu yang membuat Dewi Puspita exited menyambut wisuda. Proses bimbingan dan ujian skripsnya banyak diwarnai drama. Tiga orang dosen pembimbing skripsinya mempunyai perbedaan dalam gaya bimbingan dan persepsi tentang skripsinya.
Pernah suatu ketika Dewi Puspita bimbingan skripsi ke satu pembimbing. Tidak ada masalah, tidak ada catatan khusus, dan disarankan untuk melanjutkan analisis data. Tetapi tidak dengan pembimbing yang lain. Skripsinya banyak catatan dan coretan, mulai dari latar belakang masalah hingga metode penelitian. Hal itu terjadi hampir pada setiap proses bimbingan.
Kesabaran dan ketabahan adalah kunci sukses dalam proses bimbingan skripsi. Menuruti saja saran pembimbing kadang dapat memuluskan persetujuan skripsi. Kesabaran Dewi Puspita akhirnya terjawab. Semua pembimbing menyetujui untuk ujian skripsi. Lulus, yudisium, dan menunggu saat datangnya wisuda,
Candra Irawan punya cerita yang berbeda. Ia nyaris kena DO (Drop Out) karena habis masa studinya. Candra Irawan harus menempuh kuliah selama 14 semester atau tujuh tahun. Itu pun ia tempuh dengan perjuangan yang luar biasa. Alhasil, Candra Irawan lulus dengan pertimbangan kebijakan “baik hati” dari dosen pembimbingnya. Meski begitu ia tetap merasa bangga telah menjadi sarjana.
Putri Rengganis termasuk mahasiswa yang lulus spektakuler. Ia dinyatakan lulus dengan masa tempuh studi tercepat serta lulus dengan predikat cum laude. Itu semua ia peroleh dengan manajemen waktu yang ketat. Ia harus membagi waktu antara kuliah, mengerjakan tugas, berorganisasi di kampus, dan memenuhi hobinya menonton drama Korea.
***
Satu hal yang tak boleh terlewatkan dalam momentum wisuda adalah berfoto ria. Selain dokumentasi yang didapat dari fotografer resmi universitas, mahasiswa biasanya juga mengabadikan momen wisuda menunggunakan kamera telepon seluler mereka. Saat ini banyak ponsel yang memiliki kamera canggih dengan hasil yang memuaskan.
Setiap fakultas memiliki spot foto yang menarik. Kampus Dewi Puspita juga memiliki taman yang biasa dimanfaatkan mahasiswa untuk berfoto. Bukan hanya saat wisuda, selepas kuliah atau jika waktu senggang mahasiswa juga berfoto ria di taman kampus.
Tak ingin menyia-nyiakan momen wisuda, Dewi Puspita berfoto di taman kampus. Berbagai gaya ia peragakan. Beragam ekspresi ia tunjukkan. Ada foto dia sendirian, ada pula foto bersama teman-teman kuliahnya. Tak luput foto bersama keluarga dan pacarnya.
Akan tetapi betapa terkejut Dewi Puspita. Beberapa hasil fotonya ada yang menyeramkan. Foto dia yang sendirian menggunakan toga, setelah dilihat tampak ada perempuan berambut panjang, bergaun putih, dan berwajah pucat berada di sampingnya. Berulang kali ia lihat, perempuan itu sungguh menyeramkan. Apalagi saat di-zoom, sorot mata perempuan itu begitu mengerikan.
“Ada hantu di sebelahku..!” teriak Dewi Puspita sambil menunjukkan hasil jepretan kamera ponsel.
Teman-teman kuliah dan keluarga Dewi Puspita terkejut. Mereka seolah tak percaya. Satu per satu meminta untuk melihatnya. Mereka pun merinding melihat perempuan berambut panjang berada di sisi Dewi Puspita. Anehnya, fotonya yang berdua dengan pacarnya hasilnya bagus, tak ada makhluk asing yang ikut berfoto.
Beberapa foto yang ada di galeri ponsel Dewi Puspita diperiksa kembali. Fotonya yang beriga bersama kedua orang tuanya juga muncul perempuan misterius di sampingnya. Namun fotonya bersama Caroline teman akrabnya, hasilnya bagus. Dewi Puspita tak habis pikir. Mengapa semua foto yang orangnya berjumlah ganjil selalu ada penampakan perempuan yang menyeramkan.
Kejadian serupa dialami Candra Irawan. Ia bermaksud mengabadikan momen wisuda dengan berfoto-foto di taman kampus. Teman-teman seangkatannya yang sudah lulus terlebih dahulu turut memeriahkan wisudanya. Bahkan Candra Irawan mengajak bapak kostnya untuk berfoto di taman kampus.
Semua foto diambil dari ponsel Candra Irawan. Banyak ekspresi lucu dan juga haru dalam foto tersebut. Bayangkan. Nasib Candra Irawan untuk menjadi sarjana hanya tersisa waktu satu minggu sebelum ia dinyatakan lulus. Terlambat sedikit saja ia akan didepak dari kampus, alias DO.
Candra Irawan tidak melihat langsung hasil jepretan di ponselnya. Pikirnya, ia ingin mengambil gambar sebanyak-banyaknya. Setelah kembali ke tempat kost, ia buka-buka galeri fotonya. Betapa kaget dia. Beberapa hasil fotonya tampak aneh.
Fotonya yang sendirian sambil bergaya di taman kampus ditemani laki-laki tua yang berdiri di sampingnya. Laki-laki itu berambut putih dengan pakaian layaknya zaman dahulu. Tatapan mata laki-laki misterius itu mengarah ke lensa kamera dengan sorot mata yang menyeramkan. Berulang kali Candra Irawan mengusap-usap matanya, tak percaya atas hasil foto itu.
Bukan hanya fotonya yang sendirian. Foto bertiga bersama sobat kentalnya Rio dan Boy juga didampingi laki-laki tua. Padahal saat berfoto ia yakin betul tak ada orang lain di sisinya. Ia jadi merinding. Siapa gerangan laki-laki tua itu?
Tak ingin hasil fotonya didampingi makhluk asing, Candra Irawan berinisiatif untuk foto ulang esok harinya. Ia hanya berdua bersama Rio, yang dimintanya untuk mengambil gambar. Ia langsung melihat foto jepretan Rio. Hasilnya sama. Aneh dan menyeramkan. Laki-laki misterius itu muncul lagi pada fotonya yang sendirian. Kali ini mata laki-laki itu sedikit melotot, seolah marah.
Candra Irawan dan Rio terkejut. Mereka saling tatap. Taman kampus yang sering digunakan sebagai spot foto berubah menjadi taman hantu. Rasa takut muncul pada diri mereka. Meski rasa penasaran juga menyelimuti mereka. Dicobanya swafoto berdua. Hasilnya, laki-laki tua itu tidak menampakkan diri.
Nasib yang sama dialami Putri Rengganis. Sebagai wisudawan terbaik di fakultasnya tentu saja membuat ia tak ingin melupakan begitu saja almamaternya. Bersama kedua orang tuanya yang begitu bangga pada putrinya, dan beberapa teman kuliahnya yang masih belum wisuda, mereka berfoto di taman kampus.
Putri Rengganis membawa buket bunga dari orang tuanya untuk berfoto. Teman-temannya juga memberi buket yang berisi kue kering, cokelat, dan pernak-pernik lain. Sesi pertama ia berfoto sendirian. Ada beberapa gaya saat ia foto sendiri. Betapa terkejutnya Putri Rengganis. Semua hasil fotonya membuatnya merinding. Seorang anak kecil dengan tatapan mata kosong berada di sampingnya.
“Haahhh… ada anak kecil di foto..!” teriak Putri Rengganis ketakutan.
Semua yang berada di taman kampus terkejut. Mereka melihat foto dari kamera teman-temannya. Semua hasilnya sama. Foto Putri Rengganis didampingi seorang anak kecil yang hanya memakai celana pendek dan telanjang dada.
“Siapa bocah itu…?” tanya Febrianti teman duduknya saat kuliah.
Sejenak mereka menghentikan sesi foto. Mencoba menerka hasil foto mereka. Kemudian mereka menyarankan Putri Rengganis berfoto bersama ayah dan ibunya. Hasilnya sama menyeramkan. Anak kecil itu berdiri di samping dengan wajah memelas namun menakutkan. Semua merinding. Semua mengamati taman kampus. Tidak tampak seorang anak kecil di taman itu.
“Hantu anak kecil…,” kata Feberianti sambil gemetaran.
Taman kampus yang asri berubah menjadi mengerikan. Makhluk gaib satu per satu menampakkan diri dalam foto mahasiswa yang baru saja diwisuda. Putri Rengganis mencoba kembali berfoto berdua bersama Febrianti. Anak kecil itu tak tampak. Sungguh aneh.
***
Dewi Puspita, Candra Irawan, dan Putri Rengganis saling bercerita. Mereka semua diliputi rasa takut. Momen wisuda yang semestinya mereka nikmati dengan gembira berubah menjadi menyeramkan. Taman kampus tempat mereka berfoto ternyata taman hantu. Penasaran atas kejadian yang menimpa, mereka mencoba bertanya kepada Suparman, tukang kebun fakultas.
Suparman tertawa mendengar cerita mereka. Ia tahu betul tentang taman kampus. Sudah lebih dari sepuluh tahun ia bekerja sebagai tukang kebun di kampus. Bukan hanya melihat, Suparman juga kerap diganggu oleh makhluk asing yang usil saat ia membersihkan taman.
“Mereka hantu ganjil..,” kata Suparman kepada Dewi Puspita, Candra Irawan, dan Putri Rengganis.
“Hantu ganjil..?” tanya ketiga mahasiswa serempak.
“Iya.. hantu-hantu itu akan muncul jika ada orang yang berfoto sendirian atau dalam jumlah ganjil. Hantu itu akan menggenapkan,” terang Suparman.
Aneh. Bukan hanya lalu lintas jalan raya saja yang mengenal ganjil genap. Dunia gaib juga dihuni oleh hantu ganjil. Lebih aneh lagi, hantu tidak lagi tinggal pada tempat-tempat yang kumuh dan bangunan kuno sebagaimana cerita banyak orang.
Kampus yang megah dan bersih serta taman yang indah ternyata juga dihuni oleh hantu yang bergentayangan. Begitulah kehidupan. Tempat yang bersih, indah, dan sejuk kadang juga menyimpan aroma kebusukan karena perilaku manusianya. [T]
- Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole
![Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/01/chusmeru.-cover-cerita-misteri-750x375.jpg)


























