6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siklus Hidup Warna Warni dalam Pertunjukkan Ayu Laksmi

Primanindya Dini Maheswari by Primanindya Dini Maheswari
August 6, 2025
in Ulas Pentas
Siklus Hidup Warna Warni dalam Pertunjukkan Ayu Laksmi

Monolog Ayu Laksmi di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Revino Yudistira

CAHAYA gelap lalu perlahan temaram mengawali pertunjukkan malam itu. Dalam temaram, muncul keanggunan dalam balutan kain putih-kontras-membius perhatian. Si putih cantik itu langsung duduk di meja rias membelakangi penonton. Tanpa ragu mematut di depan cermin seolah menyapa yang ada di dalam diri sebelum bertemu dunia. Setelahnya liukan tubuh seirama alunan kelembutan musik yang sayup-sayup mengiringi.

Perkenalan. Itu kalimat pertama yang dilontarkan lisannya. Klise, sebagaimana semua orang memperkenalkan diri pertama kali. Berbeda pada perkenalan pada umumnya, ia memperkenalkan dalam maksud lain. Ia mengoneksi pada ‘kelahirannya’ kembali. Kami diseret ke hari dimana ia dilahirkan dan diberi nama “I Gusti Ayu Laksmiyani” yang dua dasawarsa kemudian dikenal dengan “Ayu Laksmi”.

Demikian pembukaan pentas monolog Ayu Laksmi di panggung Sasana Budaya Singaraja, serangkaian Singaraja Literary Festival, Sabtu, 26 Juli 2025. Monolog itu berjudul “Apabila Aku Kembali dan Mengobati Diri Sendiri” yang naskahnya ditulis Kadek Sonia Piscayanti.

Monolog Ayu Laksmi di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Revino Yudistira

Sebagaimana menaiki mesin waktu, kita pergi ke masa yang semua orang setuju bahwa masa paling bahagia. Ya, masa kanak-kanak. Dimana tidak ada tanggungjawab, tidak ada aturan baku, tidak ada pembawaan diri. Hanya bermain dan bermain. Ayu Laksmi apik mengeluarkan Ayu cilik di panggung pementasan itu.

Alunan lembut berubah menjadi hening sebelum kemudian mendebarkan. Layar polos berubah menjadi visual hitam putih garis-garis. Senyum kanak-kanak itu berubah menjadi tatapan nanar kehilangan. Kehilangan ayah menjadi luka dalam yang bahkan sampai saat ini garisnya tak akan hilang. Si bungsu ketiga yang mungil itu harus kehilangan ayah yang menjadi sosok pelindung. Ibu, menjalani super multi peran. Ibu menjadi tumpuan bagi anak-anaknya yang menghidupi dengan musik dan lagu.

When I was just a little girl
I asked my mother
What will I be
Will I be pretty
Will I be rich
Here’s what she said to me
Que sera, sera
Whatever will be, will be
The future’s not ours to see
Que sera, sera
What will be, will be
Que sera, sera
What will be, will be
Que sera, sera
What will be, will be

Dari ibunya-lah ia mengenal warna-warni indahnya seni, musik dan lagu. Que Sera-sera menjadi lagu yang sangat emosional. Kebingungan masa kecil yang membelenggu, tanpa ragu ibunya meyakinkan dengan sungguh bahwa masa depan akan baik-baik saja. Bahkan saat ini, saat Ibunda Ayu kehilangan dirinya sendiri, ketika mendengar lagu itu, sorot matanya hidup dan menyiratkan semangat membuncah. Sungguh Ajaib.

Musik dan lagu bukan hanya menguatkan jiwa Ayu, namun juga menghidupkan. Awal karir di tengah gegap gempitanya kota Jakarta pada sebuah ajang pencarian bakat.  Mengharumkan nama Bali dan Singaraja di Ibu Kota. “Istana yang Hilang” menjadi titik melejitnya Ayu Laksmi. Lagu art rock sangat pas dibawakan dengan warna suara dan interpretasi seorang Ayu Laksmi. Terang dan redup, naik dan turun, kata-kata itu teramat dekat. Titik melejit bersamaan dengan titik terbawahnya, sebagaimana judulnya, Ayu benar-benar menghilang dari industri musik tanah air. Ia belajar dalam kesunyian, keheningan.

Dalam keheningan, Ayu mencari kedamaian. Saking heningnya bahkan ia mendengarkan ke dalam jiwanya sendiri. Lika-liku hidupnya benar-benar dinikmati, bukan hanya dilalui tanpa arti. Pada pertunjukan matembang, ia menyisipkan nilai-nilai luhur yang terus dipegang dalam hidupnya.

  • BACA JUGA:
Menonton Ayu Laksmi di Panggung Singaraja Literary Festival 2025

Prosesnya begitu jauh hingga Ayu bergelut di dunia seni peran. Kadang ia menjadi ibu penghidupan, kadang ia menjadi sosok misterius yang ditakuti, kadang ia menjadi seorang yang digandrungi. Hidupnya menjadi siapa dan apa tergantung arahan sutradara. Ayu melepaskan dirinya di dunia seni peran ini untuk diatur sesuai keinginan kehendak. Seni peran menariknya kembali ke hiruk pikuk kerasnya kota Jakarta. Lebih banyak lagi yang mengenalinya dari sini. Sejauh-jauh ia melangkah, tak lupa arah pulang.

Ketika pulang, ia tersadar bahwa ibunya-yang mengenalkannya pada dunia-sudah tak lagi mengenali dirinya sendiri. Bahkan ibunya lupa apakah dirinya laki-laki atau perempuan. “Aku disini, ibu,” pekiknya berulang kali.

Monolog yang dimainkan Ayu Laksmi itu memang lebih banyak bercerita tentang kisah hidup dirinya sendiri, terutama kisah hubungan antara dia dan ibunya. Pada bagian cerita tentang ibu, kisah itu sepertinya masuk ke setiap diri penonton dan penonton seperti merasakan kisah yang sama.

Saya, sebagai penonton, bahkan mengeluarkan air mata, membayangkan raga orang tersayang masih ada namun jiwanya terbang entah kemana. Tak mengenali diri kita lagi.

“Mesuk sukma” mantra yang ia lantunkan terus menerus di penghujung pertunjukkan. Secara harfiah berarti “memasuki sukma” artinya “masuk ke dalam jiwa”. Penghambaan diri Ayu terhadap takdir. Ia sudah berserah jika kelak nanti ia akan menyatu kembali dengan ayahnya dan ibunya. Itulah daur hidup yang mesti dilalui. [T]

Penulis: Primanindya Dini Maheswari
Editor: Adnyana Ole

  • Artikel ini ditulis peserta pelatihan risidensi Menulis Festival yang diselenggarakan tatkala.co bekerjasama dengan Singaraja Literary Festival, 25-27 Juli 2025
  • BACA JUGA:
“Cerita Made” Karya Mandy Fessenden Brauer: Mendekatkan Anak pada Cerita dan Imajinasi
Rekam 100 Tahun Dinamika Batur dalam Bedah Buku “Seabad Relokasi Batur” di Singaraja Literary Festival 2025
Ekologi Sastra dalam Buda Kecapi di Singaraja Literary Festival 2025
Sembuh Oleh Sastra, Mengapa Tidak? — Cerita Ratih Kumala, Oka Rusmini dan Cyntha Hariadi di Singaraja Literary Festival 2025
“Tribute to Umbu”: Hikayat Puisi, Hikayat Umbu Landu Paranggi
Tags: Ayu LaksmiMonologSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025Teater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Barong, Wayang, Janggan dan Jazz yang Membumi di UVJF 2025

Next Post

Indonesia Kumpulan Pohon Tumbang — Lukisan “Sisa-sisa Pembangunan” dan “Awas Sigap” Karya Polenk Rediasa di Singaraja Literary Festival 2025

Primanindya Dini Maheswari

Primanindya Dini Maheswari

Berasal dari Purwokerto, Jawa Tengah yang lahir tahun 2002. Seorang karyawan biasa di salah satu media yang suka makan bakso tanpa kecap dan saos. Identitasnya tergantung dimana ia dikenal. Kadang menjadi voice over talent, kadang MC, kadang Social Media Specialist, kadang traveller, kadang suka hibernasi. Di tengah hiruk pikuk duniawi, ia menuangkan kepalanya yang penuh dengan tulisan. Baginya, menulis menjadi sarana tenang dari riuh.

Related Posts

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails

Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

by Moch. Anil Syidqi
January 24, 2026
0
Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

Lebih baik aku jadi debu di tanah bayu. Asal ku menyatu dalam perlawanan. Begitulah monolog Sayu Wiwit dalam drama musikal...

Read moreDetails

Guru Seni Budaya yang Mencipta Karya —Catatan  Uji Komposisi dan Pameran Karya Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni di Bali Utara

by I Putu Ardiyasa
January 23, 2026
0
Guru Seni Budaya yang Mencipta Karya —Catatan  Uji Komposisi dan Pameran Karya Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni di Bali Utara

PENDIDIKAN tinggi seni hari ini tidak lagi cukup hanya berkutat pada penguasaan teknik di dalam studio atau penghapalan teori di...

Read moreDetails

Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

by Agus Arta Wiguna
December 25, 2025
0
Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

MALAM, 19 Desember 2025, di halaman belakang gedung Desain Hub, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, sebuah karya pertunjukan kolektif dipentaskan...

Read moreDetails
Next Post
Indonesia Kumpulan Pohon Tumbang  — Lukisan “Sisa-sisa Pembangunan” dan “Awas Sigap” Karya Polenk Rediasa di Singaraja Literary Festival 2025

Indonesia Kumpulan Pohon Tumbang -- Lukisan "Sisa-sisa Pembangunan" dan "Awas Sigap" Karya Polenk Rediasa di Singaraja Literary Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co