KABAR terakhir yang kuterima beringin tua yang tumbuh ratusan tahun itu sekarang ini harus mati. Katanya akan ada pembangunan dan pelebaran jalan entah apa nama proyeknya. Orang-orang desa yang telah lama merawat pohon itu merasa berhutang nyawa padanya. Oksigen yang dihasilkan dari pohon itu telah menyelamatkan ratusan jiwa yang berada di dekatnya. Semestinya ucapan terima kasih yang harus diterima oleh pohon itu. Tapi, nyatanya, batang-batangnya sudah mulai ditebas satu per satu. Setiap batang yang terjatuh seperti menyuarakan kepiluan yang mendalam. Getah pohon yang meleleh berwarna merah semerah darah. Beberapa orang di sana mulai kerauhan. Ia berteriak-teriak tak bisa terima dengan kenyataan itu. Tapi, itu hanya teriakkan kecil yang tak punya makna. Gergaji terus bergerak memotong setiap dahan hingga tak ada lagi dahan-dahan yang merindanginya.
Dulu, memang pohon itu sebagai pengingat pendirian desa. Satu pohon ditanam di simpang empat desa. Di bawahnya ada tenten, tempat orang-orang berjualan. Tetua sepakat menandai desanya dengan pohon beringin. Orang-orang desa juga menjaganya dengan memakaikan saput poleng dan mengeramatkan pohon beringin itu. Setiap hari, ada saja yang menghaturkan sajen. Jika belum sempat mempersembahkan sepasang canang sekar, rasanya belum tenang hati orang-orang di sana. Jika ada upacara ngroras, dilakukan upacara memohon daun beringin yang digunakan sebagai sekah saat upacara ngroras. Wangi dupa seakan memberikan kesadaran murni bagi yang melewati simpang empat itu.
“Apa yang mesti kita lakukan?” Tetua desa itu memulai pembicaraan. “Kita merasa bersalah tidak bisa menjaga warisan tetua desa kita. Kita hanya bisa pasrah dan tidak berbuat apapun? Ini baru satu pohon. Pohon-pohon yang lain akan menunggu gilirannya.” Tetua desa menyeka keringatnya sambil menatap warganya. Sepi. Tak ada yang berani berkata. Mereka orang-orang kalah karena kebijakan. “Baiklah! Jika tidak ada yang berani berbicara, biar tiang yang menjadi caru di desa ini. Besok, rencananya pohon beringin itu ditumbangkan. Akar-akarnya akan dicabut dan membusuk. Kita sudah mengamputasi satu per satu pohon-pohon di desa kita dan kita yang mematung melihat pohon itu dimutilasi.”
Malam itu, tetua desa menyampaikan hati nuraninya ke hadapan pohon beringin yang tinggal batang tunggalnya. Ia tatap pohon itu beralama-lama. Ia seperti mendengar jerit tangisan dari pohon beringin itu. “Tak ada yang mau berterima kasih padaku. Pohon ini bukan sekadar pengingat desa. Ia juga pengingat napas. Berapa polusi dimurnikan kembali oleh pohon ini. Tapi nyatanya, satupun tak ada yang berani belapati. Jika pohon di simpang empat ini mati, bersiaplah bencana akan mendatangi desa ini.”
Tetua itu duduk tepekur. Ia mengusap-usap air matanya. Ketidakberaniannya membuatnya seperti ini. Pasrah bukanlah jalan keluar terbaik. Ia mesti berbuat walau dengan segala kemungkinan bisa terjadi. Ia naiki pohon itu. Ia duduk menunggu matahari pagi. Pagi menhampiri hidupnya. Ia tatap matahari sambil menyampaikan isi hatinya. Matahri dan pohon adalah satu kesatuan. Kedua energinya memberikan hidup pada semesta. Orang-orang yang melewati jalanan itu memandangnya dengan beragam raut wajah. Ada yang nyengir, ada yang menganggapnya gila, ada yang merasa kasihan. Ia tak pedulikan orang-orang itu. Hanya satu di hatinya. Pohon itu masih bisa hidup walau batang-batangnya telah dimutilasi dengan gergaji.
Semakin siang, alat pencabut nyawa pohon mulai mendekat. Negosiasi berjalan. Tetua desa tak mau menjawab. Ia seperti seorang pertapa yang khususk memuja semesta. “Pak, kami menjalan perintah. Kami juga kasihan pohon ini dicabut. Tapi, kami mesti menjalankan perintah. Tolong hormati tugas kami juga.” Tetua desa itu tetap mematung. Ia semakin khusuk memohon agar pohon itu masih hidup.
Orang-orang itu menelepon seseorang, ia katakan situasi yang dihadapi. “Jika demikian urungkan saja pencabutan pohon itu hari ini. Kita pilih hari lain lagi. Tiang yakin, tetua itu tak akan kuat bertahan di pohon itu. Saat ia lengah, kesempatan itu dimanfaatkan sebaik-baiknya.”
“Baik Pak!” Orang-orang pencabut itu kembali. Tak ada pencabutan hari itu. Untuk sementara masih bisa berdiri batang pohon beringin itu. Wajah ceria terlihat pada orang-orang di tempat itu. Semua memuji keberanian tetua desanya. Tetua desa tak mau berkomentar banyak. Ia menyadari kekalahan akan mendekatinya. Ia tahu kekuatannya tak seberapa. Tapi, itu lebih baik dibandingkan tanpa ada perlawanan. Ia turun setelah pencabut pohon itu menjauh. Ia peluk pohon beringin itu erat sekali. Rasa sayangnya teramat amat. Ia pergi setelah dirasakan cukup. “Maaf, tiang mungkin tak bisa menjagamu lagi. Tiang sudah berusaha, tapi tak mungkin bisa bertahan. Maaf, jika tiang tidak bisa menjaga kehidupanmu lagi.” Ia tinggalkan pohon beringin itu. Ia menenangkan hatinya. Ia temui istri tercintanya.
“Beli, tiang sudah dengar Beli menjaga pohon itu hingga semalaman. Kita tak akan bisa terus menjaganya. Kita orang-orang kalah Beli. Kita hanya bisa memohon pada Hyang Widhi agar tidak terjadi apapun di desa kita. Kita sudah berusaha merawat dan menjaganya. Tapi, tiang yakin tak akan bisa.” Perempuan yang setia pada suaminya itu menyuguhkan kopi pahit kesukaan suaminya. Ia ceruput kopi itu bertemankan ubi rebus. Aromanya menyegarkan kembali pikirannya. Ia menatap wajah istrinya. “Jika terjadi sesuatu terhadap beli. Tolong rawat anak-anak kita. Dia adalah masa depan kita. Beli yakin ada yang tidak etrima dengan sikap beli ini.”
Perempuan pemegang janji setia itu memeluknya. “Tak usah meragukan kesetiaan tiang Beli. Apapun yang Beli lakukan di rel kebenaran, tiang akan tetap mendampingi Beli.”
Tetua desa itu melepaskan rasa lelahnya. Ia tertidur lelap sekali. Alam mimpinya membawanya pada pohon beringin itu. Ia lihat gergaji dan alat pencabut pohon beringin berdatangan. Wajah-wajah ceria tanda kemenangan berseliweran di matanya. Ia marah pada dirinya. Ia benci pada hidupnya. Ia mau bangun, tapi matanya tak bisa dibukanya. Ia gerak-gerakkan tubuhnya mau berlari menuju pohon beringin itu, tapi tubuhnya terasa kaku. [T]
Catatan:
- Beli: kakkak
- Kerauhan: kesurupan
- tenten,: pasar kecil
- saput poleng: kain berwarna hitam putih
- canang sekar: saji kembang rampai
- caru: kurban
- belapati: bertaruh nyawa
- tiang: saya
- ngoras: upacara penyucian roh setelah upacara ngaben
- sekah: stana roh pada upacara ngroras
Penulis: IBW Widiasa Keniten
Editor: Made Adnyana Ole



























