25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gawai dan Waktu yang Tergadai

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 30, 2025
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

PAGI itu saya duduk di warung kopi langganan. Di hadapan saya, secangkir kopi hitam mengepul, baru diseduh. Tapi bukannya langsung saya nikmati, saya malah lebih dulu membuka gawai. Notifikasi WhatsApp, surel pekerjaan, kabar terbaru dari media daring, linimasa media sosial—semuanya bersahutan minta perhatian. Begitu sadar, kopi saya sudah tandas. Saya bahkan tak benar-benar mengingat rasanya.

Pada hari lain, saya berniat lebih santai, duduk tenang, menyeruput kopi hangat sambil membaca buku atau sekadar menikmati suasana. Tapi niat itu kembali kandas. Gawai lagi-lagi menjadi pusat perhatian. Ketika akhirnya saya menoleh ke cangkir, kopi sudah dingin, rasa pun berubah. Yang tersisa hanya sejenis rasa kehilangan, bukan kehilangan kopi itu sendiri, melainkan kehilangan momen—momen sederhana untuk hadir secara utuh dalam satu kegiatan.

Kita hidup di zaman ketika perhatian menjadi komoditas paling mahal. Segala aplikasi dirancang untuk mencuri perhatian, mempertahankannya selama mungkin, dan akhirnya memonetisasi kehadiran kita secara digital. Gawai bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan perpanjangan dari tubuh dan pikiran. Kita membawanya ke meja makan, ke tempat tidur, bahkan ke kamar mandi dan tempat ibadah.

Makan sambil membuka gawai adalah kebiasaan umum. Anak-anak hingga orang tua melakukannya. Tapi apakah kita masih bisa benar-benar merasakan makanan yang kita santap? Apakah kita mengenali aroma, tekstur, dan cita rasa yang tersaji di hadapan kita? Atau semuanya hanya lewat begitu saja, karena perhatian kita tercabik antara dunia nyata dan digital?

Tubuh kita makan, tapi pikiran berselancar entah ke mana. Perhatian terbagi. Otak memproses video pendek dan notifikasi berita, sementara lambung mengurai nasi dan lauk. Dua aktivitas yang mestinya terpisah kini dijalankan bersamaan. Akibatnya? Kita merasa kenyang tapi hampa, merasa lelah tapi tidak tahu apa yang melelahkan.

Kondisi ini bisa dijelaskan dengan teori simulacra dari Jean Baudrillard, filsuf asal Prancis. Ia menyebut bahwa kita kini hidup dalam era simulacra—yakni tiruan dari kenyataan yang begitu meyakinkan, hingga menggantikan kenyataan itu sendiri. Dunia digital, terutama yang kita akses lewat gawai, adalah dunia penuh simulacra. Di sana, realitas bukan lagi apa yang kita alami secara langsung, tapi apa yang tampak di layar.

Foto makanan di Instagram bisa lebih menggugah selera daripada hidangan aslinya. Liburan terasa “kurang sah” jika tidak dibagikan di media sosial. Bahkan perasaan pun kini harus diberi stempel digital—dalam bentuk emoji, likes, atau komentar. Dalam situasi ini, kata Baudrillard, kita bukan lagi mengalami kenyataan, melainkan hyperreality—sebuah realitas palsu yang justru lebih dipercaya daripada yang nyata.

Gawai menjadi gerbang ke dunia hyperreality itu. Ketika kita lebih memilih memotret makanan daripada menikmatinya, lebih asyik membuat video liburan daripada merasakan angin laut atau aroma hutan, kita sedang terjerat dalam tiruan-tiruan itu. Kita mulai lupa cara mengalami hidup secara langsung. Yang penting adalah tampilan, bukan kehadiran.

Gawai memang memberi banyak manfaat. Ia mempercepat komunikasi, memperluas jejaring, dan menghadirkan informasi dalam hitungan detik. Tapi ketika semua itu menumpuk tanpa jeda, yang terjadi adalah kelelahan mental yang samar. Kita merasa selalu harus update, takut tertinggal, terus-menerus terdorong untuk membuka layar, bahkan dalam momen-momen yang seharusnya kita nikmati secara penuh.

Yang tergadai sebenarnya bukan sekadar waktu, tapi kualitas kehadiran. Kita mungkin duduk bersama keluarga, tapi masing-masing sibuk dengan gawainya. Kita menghadiri acara pernikahan, tapi lebih fokus mencari sudut foto terbaik ketimbang menyimak janji sakral dua insan. Kita bertatap muka, tapi lebih banyak menunduk ke layar.

Lambat laun, relasi sosial pun menjadi datar. Keintiman tergantikan oleh reaksi emoji. Perhatian berganti menjadi balasan singkat. Percakapan tatap muka menjadi canggung, karena kita lebih terbiasa dengan jempol dan layar sentuh daripada tatapan dan jeda.

Kita mungkin mengira ini hal biasa, bagian dari modernitas. Tapi jika dibiarkan terus-menerus, kita bisa kehilangan sesuatu yang lebih dalam: kesadaran atas keberadaan kita sendiri. Tanpa sadar, kita menjalani hari dalam mode otomatis, berpindah dari satu notifikasi ke notifikasi lain, tanpa benar-benar hadir. Pikiran ke mana-mana, tubuh ke mana-mana, hati entah di mana.

Padahal, menikmati secangkir kopi secara sadar bisa menjadi bentuk meditasi kecil. Makan tanpa distraksi adalah cara menghormati tubuh dan rasa. Duduk diam tanpa layar adalah bentuk keheningan yang menyehatkan. Hal-hal sederhana ini, jika dijalani dengan kesadaran penuh, bisa menjadi penawar dari kecanduan digital yang melanda hampir semua orang hari ini.

Saya tidak sedang mengajak untuk meninggalkan teknologi. Tidak juga sedang bersikap puritan. Saya menulis ini karena saya pun terjebak dalam kebiasaan yang sama. Saya pun sering merasa bahwa waktu saya terkikis sedikit demi sedikit, bukan oleh pekerjaan atau perjalanan, melainkan oleh layar kecil di genggaman tangan saya sendiri.

Namun dari pengalaman-pengalaman kecil itu, saya belajar bahwa kita tetap bisa mengambil kembali sebagian kendali. Misalnya dengan memutuskan untuk menikmati makan siang tanpa membuka gawai. Atau memberi jeda lima menit setiap jam untuk melepaskan diri dari layar. Atau sekadar mengingatkan diri sendiri bahwa tidak semua momen harus didokumentasikan dan dibagikan.

Barangkali, inilah bentuk perlawanan paling sederhana, yakni hadir sepenuhnya dalam satu aktivitas. Menikmati kopi tanpa distraksi. Mengobrol tanpa gawai di meja. Tidur tanpa layar menyala di samping bantal. Bukan untuk menjadi sempurna, tetapi agar kita tidak kehilangan sepenuhnya diri kita sendiri.

Karena pada akhirnya, waktu yang tergadai itu bukan hanya soal hitungan jam, melainkan soal hilangnya kesempatan untuk hidup dengan sadar. Dan hidup yang dijalani tanpa kesadaran pelan-pelan berubah menjadi sekadar rutinitas; tubuh bergerak, tetapi jiwa tertinggal di belakang.

Kelak, saat menoleh ke belakang, yang kita inginkan mungkin bukan kenangan digital, tapi momen-momen sederhana yang pernah kita alami dengan utuh. Bukan status yang viral, tapi percakapan hangat dengan orang terdekat. Bukan ribuan penonton, tapi satu pelukan yang tulus. Dan semua itu hanya mungkin jika kita berani, walau sesekali, meletakkan gawai—dan mengambil kembali waktu yang telah tergadai. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

Jurnalis Sebagai Terapis
ODGJ Bisa Pulih, Mengapa Sulit Percaya?
Pengalaman Awal Mula Didiagnosa Skizofrenia
Post-Therapy: Semua Orang Pernah Sakit dan Terluka
Tags: media sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Taman Kota yang Multifungsi

Next Post

Tunggu, “The Mask History of Buleleng” di Bulelelng Festival 2025

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Tunggu, “The Mask History of Buleleng” di Bulelelng Festival 2025

Tunggu, "The Mask History of Buleleng" di Bulelelng Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co