23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gawai dan Waktu yang Tergadai

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 30, 2025
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

PAGI itu saya duduk di warung kopi langganan. Di hadapan saya, secangkir kopi hitam mengepul, baru diseduh. Tapi bukannya langsung saya nikmati, saya malah lebih dulu membuka gawai. Notifikasi WhatsApp, surel pekerjaan, kabar terbaru dari media daring, linimasa media sosial—semuanya bersahutan minta perhatian. Begitu sadar, kopi saya sudah tandas. Saya bahkan tak benar-benar mengingat rasanya.

Pada hari lain, saya berniat lebih santai, duduk tenang, menyeruput kopi hangat sambil membaca buku atau sekadar menikmati suasana. Tapi niat itu kembali kandas. Gawai lagi-lagi menjadi pusat perhatian. Ketika akhirnya saya menoleh ke cangkir, kopi sudah dingin, rasa pun berubah. Yang tersisa hanya sejenis rasa kehilangan, bukan kehilangan kopi itu sendiri, melainkan kehilangan momen—momen sederhana untuk hadir secara utuh dalam satu kegiatan.

Kita hidup di zaman ketika perhatian menjadi komoditas paling mahal. Segala aplikasi dirancang untuk mencuri perhatian, mempertahankannya selama mungkin, dan akhirnya memonetisasi kehadiran kita secara digital. Gawai bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan perpanjangan dari tubuh dan pikiran. Kita membawanya ke meja makan, ke tempat tidur, bahkan ke kamar mandi dan tempat ibadah.

Makan sambil membuka gawai adalah kebiasaan umum. Anak-anak hingga orang tua melakukannya. Tapi apakah kita masih bisa benar-benar merasakan makanan yang kita santap? Apakah kita mengenali aroma, tekstur, dan cita rasa yang tersaji di hadapan kita? Atau semuanya hanya lewat begitu saja, karena perhatian kita tercabik antara dunia nyata dan digital?

Tubuh kita makan, tapi pikiran berselancar entah ke mana. Perhatian terbagi. Otak memproses video pendek dan notifikasi berita, sementara lambung mengurai nasi dan lauk. Dua aktivitas yang mestinya terpisah kini dijalankan bersamaan. Akibatnya? Kita merasa kenyang tapi hampa, merasa lelah tapi tidak tahu apa yang melelahkan.

Kondisi ini bisa dijelaskan dengan teori simulacra dari Jean Baudrillard, filsuf asal Prancis. Ia menyebut bahwa kita kini hidup dalam era simulacra—yakni tiruan dari kenyataan yang begitu meyakinkan, hingga menggantikan kenyataan itu sendiri. Dunia digital, terutama yang kita akses lewat gawai, adalah dunia penuh simulacra. Di sana, realitas bukan lagi apa yang kita alami secara langsung, tapi apa yang tampak di layar.

Foto makanan di Instagram bisa lebih menggugah selera daripada hidangan aslinya. Liburan terasa “kurang sah” jika tidak dibagikan di media sosial. Bahkan perasaan pun kini harus diberi stempel digital—dalam bentuk emoji, likes, atau komentar. Dalam situasi ini, kata Baudrillard, kita bukan lagi mengalami kenyataan, melainkan hyperreality—sebuah realitas palsu yang justru lebih dipercaya daripada yang nyata.

Gawai menjadi gerbang ke dunia hyperreality itu. Ketika kita lebih memilih memotret makanan daripada menikmatinya, lebih asyik membuat video liburan daripada merasakan angin laut atau aroma hutan, kita sedang terjerat dalam tiruan-tiruan itu. Kita mulai lupa cara mengalami hidup secara langsung. Yang penting adalah tampilan, bukan kehadiran.

Gawai memang memberi banyak manfaat. Ia mempercepat komunikasi, memperluas jejaring, dan menghadirkan informasi dalam hitungan detik. Tapi ketika semua itu menumpuk tanpa jeda, yang terjadi adalah kelelahan mental yang samar. Kita merasa selalu harus update, takut tertinggal, terus-menerus terdorong untuk membuka layar, bahkan dalam momen-momen yang seharusnya kita nikmati secara penuh.

Yang tergadai sebenarnya bukan sekadar waktu, tapi kualitas kehadiran. Kita mungkin duduk bersama keluarga, tapi masing-masing sibuk dengan gawainya. Kita menghadiri acara pernikahan, tapi lebih fokus mencari sudut foto terbaik ketimbang menyimak janji sakral dua insan. Kita bertatap muka, tapi lebih banyak menunduk ke layar.

Lambat laun, relasi sosial pun menjadi datar. Keintiman tergantikan oleh reaksi emoji. Perhatian berganti menjadi balasan singkat. Percakapan tatap muka menjadi canggung, karena kita lebih terbiasa dengan jempol dan layar sentuh daripada tatapan dan jeda.

Kita mungkin mengira ini hal biasa, bagian dari modernitas. Tapi jika dibiarkan terus-menerus, kita bisa kehilangan sesuatu yang lebih dalam: kesadaran atas keberadaan kita sendiri. Tanpa sadar, kita menjalani hari dalam mode otomatis, berpindah dari satu notifikasi ke notifikasi lain, tanpa benar-benar hadir. Pikiran ke mana-mana, tubuh ke mana-mana, hati entah di mana.

Padahal, menikmati secangkir kopi secara sadar bisa menjadi bentuk meditasi kecil. Makan tanpa distraksi adalah cara menghormati tubuh dan rasa. Duduk diam tanpa layar adalah bentuk keheningan yang menyehatkan. Hal-hal sederhana ini, jika dijalani dengan kesadaran penuh, bisa menjadi penawar dari kecanduan digital yang melanda hampir semua orang hari ini.

Saya tidak sedang mengajak untuk meninggalkan teknologi. Tidak juga sedang bersikap puritan. Saya menulis ini karena saya pun terjebak dalam kebiasaan yang sama. Saya pun sering merasa bahwa waktu saya terkikis sedikit demi sedikit, bukan oleh pekerjaan atau perjalanan, melainkan oleh layar kecil di genggaman tangan saya sendiri.

Namun dari pengalaman-pengalaman kecil itu, saya belajar bahwa kita tetap bisa mengambil kembali sebagian kendali. Misalnya dengan memutuskan untuk menikmati makan siang tanpa membuka gawai. Atau memberi jeda lima menit setiap jam untuk melepaskan diri dari layar. Atau sekadar mengingatkan diri sendiri bahwa tidak semua momen harus didokumentasikan dan dibagikan.

Barangkali, inilah bentuk perlawanan paling sederhana, yakni hadir sepenuhnya dalam satu aktivitas. Menikmati kopi tanpa distraksi. Mengobrol tanpa gawai di meja. Tidur tanpa layar menyala di samping bantal. Bukan untuk menjadi sempurna, tetapi agar kita tidak kehilangan sepenuhnya diri kita sendiri.

Karena pada akhirnya, waktu yang tergadai itu bukan hanya soal hitungan jam, melainkan soal hilangnya kesempatan untuk hidup dengan sadar. Dan hidup yang dijalani tanpa kesadaran pelan-pelan berubah menjadi sekadar rutinitas; tubuh bergerak, tetapi jiwa tertinggal di belakang.

Kelak, saat menoleh ke belakang, yang kita inginkan mungkin bukan kenangan digital, tapi momen-momen sederhana yang pernah kita alami dengan utuh. Bukan status yang viral, tapi percakapan hangat dengan orang terdekat. Bukan ribuan penonton, tapi satu pelukan yang tulus. Dan semua itu hanya mungkin jika kita berani, walau sesekali, meletakkan gawai—dan mengambil kembali waktu yang telah tergadai. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

Jurnalis Sebagai Terapis
ODGJ Bisa Pulih, Mengapa Sulit Percaya?
Pengalaman Awal Mula Didiagnosa Skizofrenia
Post-Therapy: Semua Orang Pernah Sakit dan Terluka
Tags: media sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Taman Kota yang Multifungsi

Next Post

Tunggu, “The Mask History of Buleleng” di Bulelelng Festival 2025

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Tunggu, “The Mask History of Buleleng” di Bulelelng Festival 2025

Tunggu, "The Mask History of Buleleng" di Bulelelng Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co