3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gawai dan Waktu yang Tergadai

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 30, 2025
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

PAGI itu saya duduk di warung kopi langganan. Di hadapan saya, secangkir kopi hitam mengepul, baru diseduh. Tapi bukannya langsung saya nikmati, saya malah lebih dulu membuka gawai. Notifikasi WhatsApp, surel pekerjaan, kabar terbaru dari media daring, linimasa media sosial—semuanya bersahutan minta perhatian. Begitu sadar, kopi saya sudah tandas. Saya bahkan tak benar-benar mengingat rasanya.

Pada hari lain, saya berniat lebih santai, duduk tenang, menyeruput kopi hangat sambil membaca buku atau sekadar menikmati suasana. Tapi niat itu kembali kandas. Gawai lagi-lagi menjadi pusat perhatian. Ketika akhirnya saya menoleh ke cangkir, kopi sudah dingin, rasa pun berubah. Yang tersisa hanya sejenis rasa kehilangan, bukan kehilangan kopi itu sendiri, melainkan kehilangan momen—momen sederhana untuk hadir secara utuh dalam satu kegiatan.

Kita hidup di zaman ketika perhatian menjadi komoditas paling mahal. Segala aplikasi dirancang untuk mencuri perhatian, mempertahankannya selama mungkin, dan akhirnya memonetisasi kehadiran kita secara digital. Gawai bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan perpanjangan dari tubuh dan pikiran. Kita membawanya ke meja makan, ke tempat tidur, bahkan ke kamar mandi dan tempat ibadah.

Makan sambil membuka gawai adalah kebiasaan umum. Anak-anak hingga orang tua melakukannya. Tapi apakah kita masih bisa benar-benar merasakan makanan yang kita santap? Apakah kita mengenali aroma, tekstur, dan cita rasa yang tersaji di hadapan kita? Atau semuanya hanya lewat begitu saja, karena perhatian kita tercabik antara dunia nyata dan digital?

Tubuh kita makan, tapi pikiran berselancar entah ke mana. Perhatian terbagi. Otak memproses video pendek dan notifikasi berita, sementara lambung mengurai nasi dan lauk. Dua aktivitas yang mestinya terpisah kini dijalankan bersamaan. Akibatnya? Kita merasa kenyang tapi hampa, merasa lelah tapi tidak tahu apa yang melelahkan.

Kondisi ini bisa dijelaskan dengan teori simulacra dari Jean Baudrillard, filsuf asal Prancis. Ia menyebut bahwa kita kini hidup dalam era simulacra—yakni tiruan dari kenyataan yang begitu meyakinkan, hingga menggantikan kenyataan itu sendiri. Dunia digital, terutama yang kita akses lewat gawai, adalah dunia penuh simulacra. Di sana, realitas bukan lagi apa yang kita alami secara langsung, tapi apa yang tampak di layar.

Foto makanan di Instagram bisa lebih menggugah selera daripada hidangan aslinya. Liburan terasa “kurang sah” jika tidak dibagikan di media sosial. Bahkan perasaan pun kini harus diberi stempel digital—dalam bentuk emoji, likes, atau komentar. Dalam situasi ini, kata Baudrillard, kita bukan lagi mengalami kenyataan, melainkan hyperreality—sebuah realitas palsu yang justru lebih dipercaya daripada yang nyata.

Gawai menjadi gerbang ke dunia hyperreality itu. Ketika kita lebih memilih memotret makanan daripada menikmatinya, lebih asyik membuat video liburan daripada merasakan angin laut atau aroma hutan, kita sedang terjerat dalam tiruan-tiruan itu. Kita mulai lupa cara mengalami hidup secara langsung. Yang penting adalah tampilan, bukan kehadiran.

Gawai memang memberi banyak manfaat. Ia mempercepat komunikasi, memperluas jejaring, dan menghadirkan informasi dalam hitungan detik. Tapi ketika semua itu menumpuk tanpa jeda, yang terjadi adalah kelelahan mental yang samar. Kita merasa selalu harus update, takut tertinggal, terus-menerus terdorong untuk membuka layar, bahkan dalam momen-momen yang seharusnya kita nikmati secara penuh.

Yang tergadai sebenarnya bukan sekadar waktu, tapi kualitas kehadiran. Kita mungkin duduk bersama keluarga, tapi masing-masing sibuk dengan gawainya. Kita menghadiri acara pernikahan, tapi lebih fokus mencari sudut foto terbaik ketimbang menyimak janji sakral dua insan. Kita bertatap muka, tapi lebih banyak menunduk ke layar.

Lambat laun, relasi sosial pun menjadi datar. Keintiman tergantikan oleh reaksi emoji. Perhatian berganti menjadi balasan singkat. Percakapan tatap muka menjadi canggung, karena kita lebih terbiasa dengan jempol dan layar sentuh daripada tatapan dan jeda.

Kita mungkin mengira ini hal biasa, bagian dari modernitas. Tapi jika dibiarkan terus-menerus, kita bisa kehilangan sesuatu yang lebih dalam: kesadaran atas keberadaan kita sendiri. Tanpa sadar, kita menjalani hari dalam mode otomatis, berpindah dari satu notifikasi ke notifikasi lain, tanpa benar-benar hadir. Pikiran ke mana-mana, tubuh ke mana-mana, hati entah di mana.

Padahal, menikmati secangkir kopi secara sadar bisa menjadi bentuk meditasi kecil. Makan tanpa distraksi adalah cara menghormati tubuh dan rasa. Duduk diam tanpa layar adalah bentuk keheningan yang menyehatkan. Hal-hal sederhana ini, jika dijalani dengan kesadaran penuh, bisa menjadi penawar dari kecanduan digital yang melanda hampir semua orang hari ini.

Saya tidak sedang mengajak untuk meninggalkan teknologi. Tidak juga sedang bersikap puritan. Saya menulis ini karena saya pun terjebak dalam kebiasaan yang sama. Saya pun sering merasa bahwa waktu saya terkikis sedikit demi sedikit, bukan oleh pekerjaan atau perjalanan, melainkan oleh layar kecil di genggaman tangan saya sendiri.

Namun dari pengalaman-pengalaman kecil itu, saya belajar bahwa kita tetap bisa mengambil kembali sebagian kendali. Misalnya dengan memutuskan untuk menikmati makan siang tanpa membuka gawai. Atau memberi jeda lima menit setiap jam untuk melepaskan diri dari layar. Atau sekadar mengingatkan diri sendiri bahwa tidak semua momen harus didokumentasikan dan dibagikan.

Barangkali, inilah bentuk perlawanan paling sederhana, yakni hadir sepenuhnya dalam satu aktivitas. Menikmati kopi tanpa distraksi. Mengobrol tanpa gawai di meja. Tidur tanpa layar menyala di samping bantal. Bukan untuk menjadi sempurna, tetapi agar kita tidak kehilangan sepenuhnya diri kita sendiri.

Karena pada akhirnya, waktu yang tergadai itu bukan hanya soal hitungan jam, melainkan soal hilangnya kesempatan untuk hidup dengan sadar. Dan hidup yang dijalani tanpa kesadaran pelan-pelan berubah menjadi sekadar rutinitas; tubuh bergerak, tetapi jiwa tertinggal di belakang.

Kelak, saat menoleh ke belakang, yang kita inginkan mungkin bukan kenangan digital, tapi momen-momen sederhana yang pernah kita alami dengan utuh. Bukan status yang viral, tapi percakapan hangat dengan orang terdekat. Bukan ribuan penonton, tapi satu pelukan yang tulus. Dan semua itu hanya mungkin jika kita berani, walau sesekali, meletakkan gawai—dan mengambil kembali waktu yang telah tergadai. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA

Jurnalis Sebagai Terapis
ODGJ Bisa Pulih, Mengapa Sulit Percaya?
Pengalaman Awal Mula Didiagnosa Skizofrenia
Post-Therapy: Semua Orang Pernah Sakit dan Terluka
Tags: media sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Taman Kota yang Multifungsi

Next Post

Tunggu, “The Mask History of Buleleng” di Bulelelng Festival 2025

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Tunggu, “The Mask History of Buleleng” di Bulelelng Festival 2025

Tunggu, "The Mask History of Buleleng" di Bulelelng Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co