OLAHRAGA kini bukan hanya menjadi tren bagi anak muda, tetapi hampir menjadi kebutuhan dalam kehidupan. Banyak pilihan olahraga yang dapat dilakukan, mulai dari yang gratis, murah, hingga yang memerlukan biaya jutaan.
Jalan dan lari termasuk olahraga yang gratis dan murah. Meski demikian, jalan dan lari bisa juga menelan biaya hingga puluhan juta. Mahalnya bukan pada aktivitas fisik berjalan atau berlari, tetapi pada kalcer-nya. Peralatan, pakaian, dan asesori untuk jalan dan lari itu yang bisa menjadikannya mahal.
Bagi mahasiswa, olahraga hanya dilakukan untuk kebugaran dan mengisi waktu luang. Kegiatan perkuliahan yang padat membuat mahasiswa berolahraga sesuai kesempatan. Bisa dilakukan pagi hari, siang, hingga sore dan malam hari. Semua tergantung jadwal kuliah. Yang pasti hari Sabtu dan Minggu merupakan hari libur yang sering dimanfaatkan untuk olahraga.
Banyak pilihan olahraga bagi mahasiswa, baik olahraga permainan maupun ketangkasan. Sarana olahraga di kampus juga cukup banyak. Biasanya mahasiswa ikut olahraga yang ada dalam unit kegiatan mahasiswa (UKM) di fakultas maupun universitas.
Bagi Hendra Pradipta, mahasiswa Fisip, olahraga adalah hobi. Oleh karena itu ia memilih futsal sebagai upaya menjaga kebugaran sekaligus menyalurkan hobinya. Kebetulan banyak temannya yang memiliki hobi sama, sehingga ia memiliki klub untuk latihan secara rutin. Futsal tidak terlalu banyak mengeluarkan biaya, tetapi asyik karena bisa bermain di siang maupun malam hari.
Banyak lapangan futsal di sekitaran kampus. Futsal sendiri kabarnya berasal dari bahasa Spanyol, yaitu futbol dan sala, yang artinya sepak bola di dalam ruangan. Lapangan futsal berada di dalam gedung atau ruangan. Para pemain akan membayar biaya sewa gedung untuk bermain futsal dalam hitungan menit atau jam.
Bukan hanya laki-laki, mahasiswa perempuan juga banyak yang menyukai futsal. Olahraga ini cukup menguras keringat, tetapi santai karena para pemain bisa sambil bercanda. Lapangan yang tidak terlalu luas membuat olahraga futsal banyak diminati mahasiswa.
Futsal juga sering dipertandingkan di kampus. Setiap acara dies natalis fakultas maupun universitas biasanya diadakan pertandingan futsal. Acara akan berlangsung seru, karena suporter dari masing-masing fakultas akan meramaikan lapangan sebagaimana pertandingan sepak bola. Meski demikian para pendukung futsal lebih tertib dibanding sepakbola. Jarang terjadi kerusuhan dalam pertandingan futsal.
***
Dies natalis universitas kali ini mengadakan pertandingan futsal antarfakultas. Hendra Pradipta didapuk menjadi kapten tim futsal Fisip. Ia memiliki tim yang terdiri dari sepuluh pemain yang berasal dari semua jurusan yang ada di fakultas. Mereka rutin latihan setiap minggu. Tak heran jika tim futsal Fisip selalu menjadi juara pertama dalam setiap ajang dies natalis.
Sebenarnya tim futsal fakultas lain juga hebat. Fakultas ekonomi dan fakultas hukum merupakan saingan berat Fisip. Selain materi pemain yang bagus, kedua fakultas itu memiliki suporter yang sangat fanatik. Setiap fakultasnya bermain, suporter akan memadati lapangan dengan poster, spanduk, dan yel-yel.
Putaran pertama, tim Fisip berhadapan dengan tim fakultas pertanian. Hendra Pradipta bermain bersama Agus, Wily, Robert, dan Dino. Pertandingan baru berjalan tiga menit, Robert sudah berhasil mencetak gol. Tepuk tangan meriah dari suporter, termasuk dari Triasih Wulan, Wakil Dekan bidang kemahasiswaan.
Menit ke lima, pemain dengan nomor punggung 18 mencetaki gol ke gawang fakultas pertanian. Hendra Pradipta kaget. Seingat dia, timnya tidak ada yang menggunakan jersey dengan nomor 18. Lalu siapakah dia? Hendra Pradipta menghitung timnya. Hanya berlima. Mengapa tadi ada pemain keenam di timnya?.
Memasuki babak kedua, suasana pertandingan menjadi tegang. Fakultas pertanian kembali kebobolan pada menit awal. Dan lagi-lagi yang memasukkan gol pemain dengan nomor punggung 18. Kapten dan manajer tim fakultas pertanian mengajukan protes, karena tim Fisip terdiri dari enam pemain. Anehnya, saat wasit mengecek, jumlah pemain futsal Fisip hanya lima.
Semua pemain bingung. Tiba-tiba angin bertiup di dalam lapangan. Bau wangi melati menyebar ke penjuru lapangan. Wasit dan para pemain merinding ketakutan. Siapakah pemain keenam Fisip yang bernomor 18 itu? Apakah dia hantu di lapangan futsal?
Kemenangan tim Fisip atas fakultas pertanian dengan skor 6-0 mengundang kontroversi. Meskipun tim fakultas pertanian memang lemah. Kehadiran pemain”keenam” di tim Fisip membuat curiga. Banyak yang menduga tim Fisip menggunakan dukun dalam pertandingan itu, sehingga ada pemain misterius yang mencetak gol.
Babak perdelapan final, tim Fisip bertemu dengan tim fakultas biologi. Di atas kertas Fisip akan memenangkan pertandingan, karena secara kualitas pemainnya lebih unggul dibanding biologi. Terbukti baru menit pertama Hendra mencetak gol. Skor tersebut berubah menjadi 2-0 saat Wily mencetak gol. Peristiwa misterius kembali terjadi. Pemain dengan nomor punggung 18 di Fisip mencetak gol ketiga ke gawang biologi pada menit ke tujuh. Skor 3-0 untuk Fisip.
Hendra terkejut. Ia bertanya pada Wily.
“Siapa yang barusan mencetak gol?”.
“Entahlah.., bukan kawan kita,” jawab Wily dengan wajah bingung.
Bukan hanya Hendra dan Wily yang melihat pemain nomor 18 mencetak gol. Wakil Dekan, Triasih Wulan juga melihat ada pemain “keenam” Fisip yang mencetak gol. Padahal saat dihitung pemain Fisip hanya lima orang. Pemain nomor 18 tak tampak. Semua heran, sekaligus merinding. Mengapa ada pemain misterius di tim Fisip.
Setelah istirahat turun minum, pertandingan dilanjutkan. Pemain misterius bernomor 18 muncul kembali. Ia mencetak tiga gol sekaligus. Hal ini membuat tim biologi protes kepada wasit, karena menelan kekalahan 6-0. Tim biologi menuding Fisip pakai dukun dengan mengundang pemain hantu. Namun wasit tidak mampu berbuat banyak. Semua pemain yang terdaftar sudah dihitung. Tidak ada pemain bernomor punggung 18. Kemenangan tim Fisip dianggap sah, meskipun empat gol dicetak oleh pemain “keenam”.
Kejadian serupa kembali terulang pada perempat final, ketika Fisip bertemu fakultas ekonomi. Di menit awal, ekonomi berhasil unggul dengan mencetak gol ke gawang Fisip. Sorak sorai suporter fakultas ekonomi gemuruh di dalam gedung futsal. Fisip tertinggal. Memang fakultas ekonomi memiliki pemain yang berkualitas.
Menit ke delapan, Hendra menyamakan kedudukan dengan tendangannya ke gawang ekonomi. Skor 1-1 hanya bertahan dua menit. Fakultas ekonomi kembali mencetak gol ke gawang Fisip. Ketinggalan 1-2 membuat supoter Fisip memberikan dukungan yel-yel. Tiba-tiba pemain misterius muncul di tim Fisip dan langsung mencetak dua gol di babak pertama.
Aroma bunga melati menebar ke penjuru lapangan dan ke tribun supoter di babak kedua pertandingan. Beberapa pemain saling pandang. Sebagian penonton juga terkejut dengan aroma melati. Suasana pertandingan menjadi mencekam. Pemain “keenam” muncul kembali mencetak tiga gol tanpa balas ke gawang ekonomi.
Kedudukan berakhir 6-2 untuk kemenangan Fisip. Para pemain dan manajer tim fakultas ekonomi heran, mengapa Fisip tiba-tiba mampu mencetak enam gol. Dugaan bermain dukun kembali dialamatkan kepada Fisip. Namun tidak ada seorang pun yang bisa membuktikannya.
***
Fisip akan bertemu fakultas hukum di babak final. Pertandingan yang menarik dan klasik, karena kedua tim sudah sering bertemu di final. Masing-masing optimis akan merebut juara pertama. Hendra Pradipta sangat yakin akan menang, meskipun tanpa kehadiran pemain hantu nomor 18.
Manajer tim fakultas hukum menduga ada sesuatu yang tidak beres pada tim Fisip yang selalu menang dengan skor banyak. Apalagi peristiwa menyeramkan selalu terjadi saat Fisip bertanding. Aroma bunga melati dan kehadiran pemain “keenam” menambah kecurigaan tim fakultas hukum.
Diam-diam manajer tim fakultas hukum mendatangi pengelola lapangan futsal. Mereka ingin melihat rekaman kamera CCTV untuk melihat permainan tim Fisip. Betapa terkejut mereka saat melihat ada pemain “keenam” bernomor punggung 18 selalu ikut bermain saat tim Fisip bertanding. Manajer tim fakultas hukum menanyakan kepada pengelola tentang pemain misterius itu.
“Wajahnya mirip dengan pemain futsal yang dulu meninggal di lapangan,” kata pengelola futsal.
“Haaahh…! Bagaimana kejadiannya?” tanya manajer tim fakultas hukum.
“Tahun lalu ada pemain futsal bernomor 18 yang tewas di pinggir lapangan. Hasil diagnosis dokter, terkena serangan jantung,” jelas pengelola futsal.
Manajer tim fakultas hukum dan beberapa pemain yang ikut menonton CCTV itu kaget. Ternyata selama ini tim Fisip bertanding dengan bantuan pemain “keenam”, arwah pemain futsal nomor 18 yang tewas di lapangan. Anehnya, ketika CCTV itu diputar ulang untuk dokumentasi, pemain “keenam” itu tidak lagi kelihatan.
Mengantisipasi kejadian hadirnya pemain “keenam” terulang kembali, pihak pengelola membuatkan jersey bernomor 18 dan dipasang di tembok pinggir lapangan. Jersey itu juga sebagai bentuk penghormatan atas wafatnya pemain nomor 18 di pinggir lapangan setahun yang lalu. Dengan harapan arwahnya tenang di alam baka dan tidak ikutan bermain futsal di lapangan.
Babak final berlangsung sangat ketat. Tim Fisip dan fakultas hukum memiliki kekuatan yang seimbang. Supoter kedua tim juga sama-sama bersemangat. Disaksikan Rektor, pertandingan dua tim yang selalu jadi langganan final itu sangat seru, saling jual beli serangan.
Tidak tercipta banyak gol dalam laga final. Fisip hanya menang tipis 2-1 atas fakultas hukum. Tidak tampak lagi pemain “keenam” yang ikut menceatk gol. Namun bukan berarti kemenangan Fisip selama ini karena bantuan pemain “keenam” itu. Kekompakan dan kualitas para pemain, dan kepemimpinan tim di bawah kapten Hendra Pradipta adalah kunci kemenangan. [T]
- Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole
![Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/01/chusmeru.-cover-cerita-misteri-750x375.jpg)


























