FILM “1 Kakak 7 Ponakan” di Netflix menjadi teman gabut saya di siang hari. Film ini memang sudah rilis sejak 23 Januari 2025 di bioskop, tetapi baru menampakan diri di Netflix, Rabu malam 10 Juli. Apresiasi untuk film ini karena sudah meraih penonton lebih dari 1 juta dalam 17 hari penayangan bioskop.
Sedikit sharing, saya bukan bagian dari generasai sandwich, setidaknya belum. Saya tidak pernah benar-benar tahu rasanya menanggung beban hidup, tetapi saya mengenal yang namanya rasa lelah, bingung, dan saya tahu banyak orang mungkin merasa demikian, yang merasa hidupnya tak lagi tentang dirinya sendiri, seperti yang saya temui di film ini. Mari berkenalan dengan Moko, inilah sosok inspiratif di film “1 Kakak 7 Ponakan”.
Film ini berkisah tentang Moko (diperankan oleh Chicco Kurniawan), seorang mahasiswa arsitektur yang hidupnya seketika jungkir balik saat kakak dan iparnya meninggal dunia dan menyisakan keponakannya yang kini menjadi tanggung jawabnya. Padahal Moko masih muda, masih ingin merasakan untuk berpacaran, masih merangkai kerangka-kerangka mimpinya, kini kandas sudah. Tetapi seperti hidup yang seringkali punya rencana sendiri, Moko terpaksa memeluk semua tanggung jawab itu sendirian. Tanpa sempat benar-benar mengucap “Aku belum siap”.
Menonton adegan demi adegan yang bisa dikatakan tidak berlebihan, sederhana tapi pesannya tersampaikan. Kesederhanaannya itulah yang menohok. Membawa kita dalam suasana yang dimana semua tidak harus meledak-ledak untuk menghantarkan pesan haru, cukup melihat seseorang yang menghela napas pelan di dapur sambil mengenyang bayi mungil, atau menahan rasa sesak di kamar mandi, seperti yang dilakonkan oleh Moko.
Bagi para generasi sandwich, mungkin banyak dari kalian akan merasa seperti Moko. Tidak mati, tetapi selalu membawa rasa kehilangan hidup sendiri, terjebak diantara membahagiakan dan menjaga yang tidak secara plong-plongan dilakukan oleh sesosok paman. Yang belum selesai dengan diri sendiri, tetapi sudah diminta untuk jadi dewasa untuk banyak orang. Apakah bisa seorang paman menggantikan peran menjadi orang tua yang harus menghidupi anak-anaknya? Di film ini, Moko bisa.
Film ini tidak menawarkan solusi, tidak juga menghadirkan akhir bahagia yang ideal. Karena kenyataannya, hidup tak selalu selesai dalam dua jam, dan tidak semua luka sembuh seiring credit title bergulir. Yang ada adalah penerimaan yang lahir dari keikhlasaan.
Saya suka film ini karena tidak semata membuat Moko menjadi sosok pahlawan. Dia kadang marah, lelah, dan bahkan kadang ingin menyerah terlihat dari raut mukanya. Tetapi di situlah ia menjadi manusia. Dan mungkin itu yang kita butuhkan sekarang, cerita tentang manusia biasa yang mencoba bertahan. Bukan karena dia kuat, tapi karena tidak ada pilihan lain.
Mari berkenalan dengan kelima keponakannya, yang bukan hanya sekadar karakter pendukung. Mereka adalah denyut nadi dari cerita ini, mereka adalah roda penggerak kehidupan Moko. Ada Woko (Fatih Unru) keponakan tertua yang sering merasa harus menjadi pengganti sosok ayah, walau dalam diam juga memikul duka, ia memutuskan untuk tidak kuliah dan lebih memilih untuk menjadi tukang fotocopy untuk mengurangi beban pamannya.
Lalu ada Nina (Freya JKT48) ini ponakan puber yang judes tapi sangat memperhatikan Moko, kalau ditanya siapa sosok ponakan yang sering berdebat dengan Moko, maka ialah orangnya. Ada juga Rivano alias Ano (Ahmad Nadif), berbadan besar dan terlihat lugu, berbekal penyakit radang usus, yang dimana lagi-lagi biaya pengobatannya harus ditanggung oleh Moko.
Lanjut, ada Gadis atau Ais (Kawai Labiba) anak titipan dari guru les piano Moko yang kemudian ikut tinggal bersama mereka, menambah nuansa cinta di keluarga itu. Dan terakhir Imah, si bayi mungil yang belum bisa bicara, kelahirannya menjadi kematian bagi ibunya.
Mereka hadir bukan semerta-merta menjadi beban bagi Moko, Moko tidak pernah merasa terbebani, walaupun raut mukanya jelas berpikir demikian. Keponakannya menjadi flora keikhlasan yang tumbuh perlahan.
Kalian pasti bertanya-tanya kenapa yang ditampilkan hanya lima keponakan saja, tetapi sebenarnya ada satu adegan yang menjadi kunci jawaban bahwa memang benar Moko memiliki tujuh ponakan. Seperti adegan dimana Moko sedikit berdebat dengan teman perempuannya yang selalu menemani dari awal hingga akhir film ini. Namanya Mauri (Amanda Rawles) yang tetiba nyeletuk kalau sebenarnya Moko memliki tujuh ponakan, yang lima ponakan ditambah dengan 1 kakak perempuan kedua dan ipar Moko. Mereka hadir disini bukan sebagai orang yang membantu Moko, tetapi mereka bagai pemotivasi yang keji.
Mereka datang seolah berkunjung ke rumah Moko, tetapi nyatanya hanya menumpang untuk dinafkahi juga. Iparnya bernama Eka (Ringgo Agus Rahman) seolah memotivasi Moko tetapi secara halus merendahkan derajat Moko dan selalu memeras Moko untuk memberikan uang dengan iming-iming membenahi rumah tangga. Dari situlah diibaratkan Moko menafkahi ketujuh ponakannya.
Sebagai karya sinema, film karya sutradara Yandi Laurens ini berhasil menyampaikan pesan tersiratnya kepada para generasi sandwich diluar sana. Filmnya tidak memaksakan adegan dramatika, tapi justru merangkai perasaan lewat hal-hal kecil yang terlihat nyata dan relevan. Ditambah alunan musik dari Sal Priadi, musik yang tidak sedih, tetapi maknanya dalam sesuai dengan scene. Para pemeran anak tidak terlihat seperti akting, mereka benar-benar hidup sebagai anak-anak yang keras kepala, yang polos, yang sedikit manja, itulah pembawa nuansa film ini.
Memang ada beberapa adegan yang dirasa kurang plong nih untuk dibahas seperti bagaimana pesan terakhir kepergian kakak dan ipar Moko, proses hukum hak asuh yang mungkin secara logika akan menimbulkan pertanyaan. Tetapi balik lagi, film ini bagi saya bukan untuk dianalisis, tetapi mengajak kita untuk melihat bagaimana titik rendah dan perjuangan seorang kakak (paman) dengan ketujuh ponakannya. Melihat bahwa hidup tak selalu memberi kita waktu untuk siap, tetapi justru dari ketidaksiapan itu, kita belajar tumbuh.
Pada akhirnya, film “1 Kakak 7 Ponakan” ini menyuguhkan kita para penonton bagaimana tanggung jawab yang tidak dipilih, tetapi dijalani. Cinta yang tidak diucapkan secara klise, tetapi diutarakan disetiap kehadiran sosok Moko bagi para keponakannya.
Ada satu kalimat yang mungkin bisa mewakili perasaan untuk seorang Moko bahwa “yang harus ditanggung itu biaya hidup, bukan gaya hidup”. Percayalah teman-teman, di saat saya menulis ini, saya kembali ditemani oleh Moko dan ketujuh ponakannya. [T]
Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor: Adnyana Ole
Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.
- BACA JUGA:



























