4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Karya Dolar dan Bayu Beton: Surga yang Disemen dan Pesta Judi Para Babi

Son Lomri by Son Lomri
July 11, 2025
in Pameran
Melihat Karya Dolar dan Bayu Beton: Surga yang Disemen dan Pesta Judi Para Babi

Suasana Pameran Studi Khusus Mahasiswa Angkatan 2022 di Galeri Paduraksa FBS Undiksha | Foto: tatkala.co/Son

SAYA melihat kemunduran Indonesia dari potongan rusak pembangunan di pesisir dan pesta judi para babi di meja kuasa milik Dolar dan Bayu Beton pada Pameran Studi Khusus Mahasiswa Angkatan 2022 di Galeri Paduraksa FBS Undiksha, Singaraja, Rabu, 9 Juli 2025.

Pameran itu digelar oleh Artkara22 hingga tanggal 20 Juli mendatang. Adapun tema yang diangkat adalah “Kuasa Lipstik”, menghadirkan seni lukis, seni intermedia, kriya kayu, kriya tekstil, desain komunikasi visual (dkv), prasi, kriya keramik, dan grafis.

Ada sekitar 36 karya dari 19 mahaiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Semester 6 yang dipamerkan di sana. Di antaranya ada Made Ardy Saputra, I Putu Yogantara, I Gede Angga Jayastrawan, Kadek Windi Kurniadewi, Bonefasius Elan, Laela Farndatur Alifah, Muhammad Effendi, Komang Andi Laksmana Putra, Kadek Rifkyandi Septian, dan Kadek Ananda Budi Winaya.

Kemudian, juga ada Putri Ana Sabilillah, Sagita Imtias Rahmani, Ketut Sastrawan, Kadek Mas Sri Lestari, Ari Purnama Aji, Gusti Ayu Rani Hitayanti, Muhammad Haikal Fazri, Made Bayu Ariada (alias Bayu Beton) dan yang terakhir I Ketut Rai Ariadi Nugraha—alias Dolar.

Suasana Pameran Studi Khusus Mahasiswa Angkatan 2022 di Galeri Paduraksa FBS Undiksha | Foto: tatkala.co/Son

“Pengambilan tema besar ini berawal dari konsep masing-masing karya yang lumayan mengangkat isu-isu sensitif dari keresahan negara ini. Yang bisa dibilang, bahwa ekspresi dan kreasi itu bisa dianggap sebagai ancaman,” kata Ketua Pelaksana Kadek Rifkyandi Septyan.

Seperti yang terjadi pada 19 Desember 2024 silam di Galeri Nasional, pembredelan terhadap pameran tunggal Yos Suprapto menjadi persoalan cukup serius bagaimana negara menyikapi ruang seni dengan represif. Ya, menggagalkan adalah tindakan represif.

Tidak hanya itu, menyusul pencekalan pada lagu Suka Tani berjudul “Bayar Bayar Bayar” juga merupakan penampakan mengerikan lainnya yang ditunjukkan negara.

Sehingga, menurut Kadek Rifkyandi Septyan, dalam pameran lukisan yang dibredel atau lagu yang dicekal itu, menghasilkan pandangan lain bahwa negara ini sudah tak asyik lagi sebagai tempat bernyanyi dan tempat melukis. Tentu, secara tersirat pameran ini tumbuh atas kesadaran itu.

Acar itu dibuka oleh langsung oleh Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha Drs. I Gede Nurjaya, M.Pd, dan ia mengataka bahwa lipstik, sekilas hanyalah sebatang pewarna bibir—ringan, mudah dibawa, dan kerap dianggap sekadar pelengkap penampilan.

Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha Drs. I Gede Nurjaya, M.Pd saat berkunjung ke Pameran Studi Khusus Mahasiswa Angkatan 2022 di Galeri Paduraksa FBS Undiksha | Foto: tatkala.co/Son

Namun di balik tampilannya yang sederhana, lipstik memuat serangkaian makna, wacana, dan kontradiksi yang melekat erat pada pengalaman manusia modern.

Melalui karya-karya visual, instalasi, dan eksplorasi media yang ditampilkan dalam pameran itu, para mahasiswa memaknai lipstik sebagai metafora kompleks—mulai dari kritik terhadap konsumerisme hingga perayaan kebebasan berekspresi.

“Tema ini diangkat bukan hanya untuk menyoal keberadaan benda kecil ini sebagai produk kosmetik, tetapi untuk membedah bagaimana ia bekerja sebagai simbol kuasa yang hadir di ruang pribadi maupun publik,” kata I Gede Nurjaya.

Sampai di situ, ia juga melanjutkan bahwa pameran karya akhir ini mempertemukan dua sisi yang saling bersinggungan. Di satu sisi, lipstik hadir sebagai alat kuasa yang dilekatkan dari luar—sebuah representasi standar kecantikan, norma gender, dan industri yang menjual citra tubuh ideal.

Sementara di sisi lain, lipstik pun memiliki kuasanya sendiri: kemampuan mengubah cara pandang, mempertebal rasa percaya diri, serta menjadi penanda identitas dan perlawanan.

Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha Drs. I Gede Nurjaya, M.Pd menggoreskan lipstik merah pada kanvas sebagai tanda pameran dibuka | Foto: tatkala.co/Son

“Pertanyaan kunci pun muncul: benarkah kekuasaan hanya sekadar polesan tipis di permukaan bibir, atau justru lipstik sendiri yang berkuasa menggerakkan perilaku, persepsi, dan relasi sosial?” tanya Pak Dekan.

Selepas sambutan, I Gede Nurjaya mempoleskan lipstik warna merah pada kanvas sebagai tanda pameran dibuka.

Judi: Rakyat dan Bandar

Ketika para pengunjung mulai masuk ke dalam ruangan pameran, di salah satu sudut di pameran itu, terlihat tiga karya grafis tingkat tinggi dari Dolar dengan judul “Game Stage”, “Justice Market”, dan “Main Meal”.

Ketiga karya itu memiliki cerita dengan keterkaitan yang sama, yaitu mencitrakan tentang kondisi sosial dengan ketergantungan berjudi sangat kuat, dan permainan manipulatif para bandar.

Pada “Justice Market”—dari wood cut berukur 60 x 90 cm itu—Dolar menyematkan timbangan pasar. Dalam timbangan tersebut, terdapat dua sisi dengan isi yang kontras. Pada satu sisi timbangan diisi dengan dadu, kartu domino, dan segepok uang seratus ribuan. Sementara itu, timbangan yang satu lagi diisi dengan bidak-bidak catur seperti raja, ratu, dan kuda, serta sosok Dewi Keadilan tanpa penutup mata pada “Justice Market”.

I Ketut Rai Ariadi Nugraha (Dolar) sedang berpose di depan “Justice Market” dan “Main Meal” | Foto: Dok. Panitia

“Unsur-unsur itu merepresentasikan dunia perjudian yang kini seakan menjadi hal biasa, bahkan dipasarkan secara terbuka dan luas,” kata Dolar.

Yang membuat Dolar terdorong untuk memasukan fenomena perjudian ke dalam karyanya adalah karena ia merasakan fenomena itu sangat dekat di lingkungan tempatnya tinggalnya di Busungbiu, tua-muda bahkan anak-anak juga melakukannya, katanya.

Menurut Dolar, daya tarik uang dan keberuntungan instanlah yang menggoda masyarakat dari berbagai lapisan itu untuk bermain, sekalipun sudah diketahui membawa kerugian dan penderitaan jangka panjang.

Sedangkan bidak catur dalam karya Dolar melambangkan permainan strategi dan kuasa yang dijalankan oleh pihak-pihak tertentu dari bandar hingga oknum penguasa yang sebenarnya memiliki kendali atas permainan.

“Dewi Keadilan yang seharusnya menjadi simbol keadilan dan kebenaran, dihadirkan tanpa penutup mata, menandakan bahwa keadilan tahu dan melihat ketimpangan ini, namun tidak bertindak,” kata Dolar menyikapi maraknya praktik perjudian di lingkungan tempatnya tinggal.

Beberapa orang berkunjung ke Pameran Studi Khusus Mahasiswa Angkatan 2022 di Galeri Paduraksa FBS Undiksha | Foto: tatkala.co/Son

Dewi Keadilan—atau dalam mitologi Yunani disebut Themis, tidak melulu sibuk menimbang siapa salah siapa benar, tetapi juga ikut masuk ke dalam timbangan, ikut terkilo dengan mata terbuka bahkan.

Menurut Dolar, Dewi Keadilan itu menjadi saksi bisu dalam sistem yang sarat kepentingan. Sehingga, pada sisi timbangan yang berisi perjudian terlihat lebih tinggi dan lebih ringan seolah tidak berbeban, sementara sisi yang memuat keadilan justru yang tertindih, menggambarkan bahwa dalam realitas sosial, suara keadilan sering kali dikalahkan oleh kekuatan uang dan manipulasi kekuasaan.

Dan ia sangat yakin bahwa sistemlah yang membiarkan perjudian tumbuh subur tanpa penanganan yang tegas dari pemerintah. Sehingga masyarakat menjadi korban dari sebuah permainan besar yang sudah diatur, yang menjadikan keadilan sekadar simbol tanpa kuasa.

“Dalam permainan kocokan dadu, bandar digambarkan sebagai ‘manusia berkepala anjing’ simbol kelicikan dan pengendali permainan. Sementara para pemain berkepala babi, mencerminkan sifat rakus, bodoh, dan mudah ditipu mereka tahu mereka kalah, tapi tetap bermain,” kata Dolar menjelaskan karyanya.

Kemudian pada karyanya berjudul “Game Stage”, di tengah komposisi terdapat timbangan keadilan. Sisi yang berisi dadu dan uang justru lebih tinggi, melambangkan bagaimana kekuasaan uang begitu sangat ringan, nyaris tanpa beban.

Beberapa karya yang dipajang di Pameran Studi Khusus Mahasiswa Angkatan 2022 di Galeri Paduraksa FBS Undiksha | Foto: tatkala.co/Son

Sedangkan sisi yang berisi palu hakim dan tertindih, menyimbolkan betapa hukum dan keadilan tak lagi punya bobot. Ia menyindir bahwa sebuah sistem yang membiarkan kebodohan dan keserakahan itu dipelihara, sementara keadilan terus dilemahkan.

Dan ia menganggap, hal itu bukan lagi sekadar permainan, tapi sebuah panggung manipulasi—tempat keadilan hanya menjadi simbol, dan rakyat dijadikan bahan taruhan.

Pada karyanya berjudul “Main Meal” misalnya, ia menggambarkan bagaimana judi menjadi “makanan pokok” bagi mereka yang hidup dalam tekanan ekonomi, dan seakan rakyat—yang disimbolkan sebagai babi itu, seakan sedang berpesta, padahal mereka adalah makanan si bandar—anjing yang licik.

Tiga mahasiswi Universitas Pendidikan Ganesha berswafoto di Pameran Studi Khusus Mahasiswa Angkatan 2022 di Galeri Paduraksa FBS Undiksha | Foto: Dok. Pamitia

Dalam piring bukan terhidang nasi, jagung, atau singkong, melainkan kartu domino dan dadu, simbol dari harapan palsu yang terpaksa dikunyah setiap hari.

Secara sederhana, ketiga karya ini mencoba menyoroti kondisi masyarakat yang berjudi atas keadaan terpaksa, atau dipaksa keadaan; lingkungan penuh perjudian dan perekonomian yang ruwet. Sehingga mereka sebenarnya membutuhkan penanganan yang serius secara psikis, dan kebutuhan lapangan pekerjaan yang baru, untuk suasana yang baru.

“Ketika pekerjaan sulit, penghasilan minim, dan sistem tak peduli, judi tampak seperti satu-satunya jalan bertahan. Lewat karya ini saya hendak mengajak untuk tidak menghakimi, tapi merenung: apakah kita sedang melihat pilihan, atau keterpaksaan yang menyamar sebagai harapan?” kata Dolar.

Remah-Remah Pembangunan

Berbeda dengan Dolar, Made Bayu Ariada—atawa dikenal Bayu Beton—membawa remah-remah pembangunan yang sering ia jumpai di kawasan pantai ketika nyenja. Beberapa langkah dari pintu masuk pameran, Bayu Beton menyeret benda-benda itu ke dalam pameran.

Apa yang dibawa oleh Bayu Beton tentu saja bukan sebenarnya sisa potongan bangunan rusak di kawasan pantai yang kerap ia saksikan ketika bersantai. Ia mengkonstruk ulang, atau dalam kata lain meniru (mimesis) dari apa yang sering dilihatnya di daerah pesisir itu.

Ia memberi nama pada karya instalasinya dengan judul  “Surga yang di Semen” Papier Mache, Resin Dimension Variable.

Bayu Beton berdiri di depan karyanya, Surga yang Disemen | Foto: Dok. Panitia

Karya itu dibuat dari media bubur kertas dan resin, karya ini merepresentasikan bentuk-bentuk yang diambil dari dokumentasi nyata atas kondisi pesisir yang telah tereksploitasi.

Material tersebut dipilih oleh Bayu Beton untuk merekam kecacatan ekologis secara visual dan tekstural, menekankan bahwa pembangunan yang tak memperhitungkan keberlanjutan justru menciptakan kerusakan pada alam.

Tapi kritik yang dihadirkan juga bukan hanya pada aspek fisik lingkungan, melainkan juga menyentuh nilai-nilai sosial dan spiritual yang perlahan hilang akibat tindakan yang ugal-ugalan.

“Sebagai refleksi atas kegelisahan saya terhadap pembangunan pesisir yang tidak berkelanjutan,” kata Bayu Beton.

Melalui observasi langsung terhadap pantai-pantai dan kawasan pelabuhan yang semakin dipenuhi proyek konstruksi, menurut Bayu Beton, manusia kerap meningglakan jejak ambisinya dalam bentuk remah-remah pembangunan yang abai terhadap keseimbangan alam.

Sehingga dengan detail benda-benda itu dikonstruk ulang sebagai sebuah potongan bangunan rusak dari pinggiran pantai, dipenuhi karang-kerang-keong laut, dibuatnya dengan totalitas, tidak berlebihan semacam sebagai barang bukti.

Karya yang dipajang di Pameran Studi Khusus Mahasiswa Angkatan 2022 di Galeri Paduraksa FBS Undiksha | Foto: tatkala.co/Son

Ini bukan hanya keterampilan Bayu Beton secara karya; perhitungan terhadap bentuk hingga pewarnaan yang membuat benda-benda itu terlihat seperti asli, tetapi juga menjadikannya sebagai bahan refleksi, bahwa orang-orang mestilah kembali perhatian tentang pembangunan di daerah pesisir di Indonesia akhir-akhir ini yang tidak melibatkan alam secara detail, apalagi setelah pembangunan itu tidak lagi berfungsi.

“Pembangunan yang terus bergulir tanpa henti kini kian mendesak batas alam, menggerus pesisir pantai yang dahulu menjadi ruang hidup bagi berbagai ekosistem, dari berbagai wilayah yang mengalami eksploitasi. Kita menyaksikan jejak-jejak ambisi manusia, beton-beton mencuat seperti tiang harapan yang terlantar, berserakan seperti sampah yang tertinggal di balik janji kemajuan,” kata Bayu Beton tentang karyanya.

Dan semisal laut adalah ibu yang mengandaikan memberikan kehidupan—termasuk rasa asin, tapi jika terkena reklamasi atau di pagar-pagar itu, di mana para nelayan mesti berlayar pergi melaut? Di mana ikan-ikan mesti berenang?

Sehingga Bayu Ariada mengandaikan reruntuhan beton yang dibuatnya itu bukan sekadar sisa bangunan, tetapi juga fragmen dari kerusakan ekologis dan keterputusan manusia dari alamnya.

Tiang-tiang dan beton bangunan menjulang menjadi simbol paradoks: antara harapan kemajuan dan jejak kehancuran. Melalui karyanya itulah, Bayu Beton hendak mempertanyakan makna pembangunan dan bagaimana ambisi manusia bisa menciptakan luka permanen bagi alam.

Sebagai bahan renungan, tentu saja, karya Bayu Beton itu mengajak kita untuk melihat kembali: apakah yang kita sebut sebagai “kemajuan” benar-benar membawa kehidupan, atau justru menyingkirkan ruang hidup? [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto

  • BACA JUGA
Anjing Digantung dan Perjamuan di Sudut Hunian | Dari Pameran “Peta Tanpa Arah” Undiksha
Menantang Definisi Prasi | Catatan Pameran “Peta Tanpa Arah” Mahasiswa Seni Rupa Undiksha
“Peta Tanpa Arah”, Pameran Seni Rupa Mahasiswa Undiksha dengan Beragam Gagasan Kritis
Dirah dan Pilkada dalam Mozaik Asik,  Sebuah Pameran Kebebasan Seniman Muda Undiksha
Upload ke Dunia Nyata, Sebab Dunia Tak Selebar Layar : Catatan Pameran TA Mahasiswa Seni Rupa Undiksha
Tags: PameranSeni Rupaseni rupa undikshaUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sebuah Renungan dari Selinting Rokok — Catatan Film ”Rita Coba Rokok” pada Layar Kolektif Bali Utara

Next Post

Pantai dan Perihal yang Tak Sempat Kita Bicarakan — Pentas Teater Komunitas KAHE dan AGHUMI

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

Read moreDetails

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

by Nyoman Budarsana
August 5, 2026
0
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

Read moreDetails

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
0
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

Read moreDetails

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

Read moreDetails

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
0
Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

BALI selama bertahun-tahun dikenal dunia sebagai pulau yang eksotis. Namun, di balik citra itu, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana representasi...

Read moreDetails
Next Post
Pantai dan Perihal yang Tak Sempat Kita Bicarakan — Pentas Teater Komunitas KAHE dan AGHUMI

Pantai dan Perihal yang Tak Sempat Kita Bicarakan -- Pentas Teater Komunitas KAHE dan AGHUMI

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co