2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anjing Digantung dan Perjamuan di Sudut Hunian | Dari Pameran “Peta Tanpa Arah” Undiksha

Son Lomri by Son Lomri
December 30, 2024
in Ulas Rupa
Anjing Digantung dan Perjamuan di Sudut Hunian | Dari Pameran “Peta Tanpa Arah” Undiksha

Perjamuan di ruang pameran Peta Tanpa Arah mahasiswa Undiksha | Foto: tatkala.co

SETELAH tongkat trisula itu ditancapkan di sebuah tongkok, pintu pameran seni bertajuk “Peta Tanpa Arah” pun dibuka. Pameran itu dibuka oleh Drs. I Gede Nurjaya, M.Pd. selaku Dekan Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Jumat, 27 Desember 2024. Pameran akan ditutup pada 10 Januari 2025.

Pameran itu diisi oleh 21 mahasiswa prodi Pendidikan Seni Rupa semester 7 di Galeri Paduraksa, FBS.

“Seni bukan hanya memberikan ruang untuk kontemplasi. Tapi juga memaknai pesan,” kata I Gede Nurjaya, Dekan FBS itu.

Para pengunjung yang di antaranya adalah dosen dan mahasiswa lintas jurusan mulai bergegas masuk setelah pintu pada ruang pameran itu dibuka. Instrument musik jegog yang keluar—dalam ruangan menyambut mereka datang. Berderet lukisan dan beberapa karya kriya, tekstil dan prasi—cukup menarik perhatian semua mata.  

Terlebih lima ekor anjing digantung tanpa suara mengorok di sebuah tembok dekat pintu masuk. Ironis. Mata anjing itu pasrah sedih dengan lidah ngelel di mulut berdarah. Anjing itu mati di kanvas ukurun 130 x 80 cm dengan judul “Who Is The Next?” karya I Made Bayu Saka.

Bayu menunjukkan karyanya | Foto: tatkala.co/Son

Dengan teknik menumpuk beberapa warna pada lukisannya, Bayu Saka cukup memberi teror mengerikan. Ia menggambarkan anjing itu tersiksa dengan latar merah—darah.

“Ide dari lukisan yang saya buat memvisualkan ketimpangan atau kenistaan hewan (anjing) yang hidup di sekitar kita. Penampilan dari figure anjing yang merasakan ketidakadilan sehingga terabaikan oleh sifat manusia,” kata I Made Bayu Saka.

Secara sederhana, Bayu Saka merasa tidak suka jika anjing dimakan manusia, atau sebaliknya. Ia seakan ingin mempertegas kalau ikan lele boleh dimakan, kalau anjing jangan. Anjing jangan disiksa. Digebuk atau ditindih batu. Apalagi, “Naik Anjing aja, Naik Anjing”—JANGAN!

Memandang lukisan karya Bayu itu, saya memikirkan masyarakat di sejumlah daerah di Indonesia terbiasa makan daging B1 (anjing) sebagai hidangan khasnya. Dan hal itu, sebagaimana dalam lukisannya, hal-hal yang diprotes Bayu. Secara sederhana Bayu merasa kasihan pada anjing.

Hal itu tentu saja pikiran yang amat sederhana. Bagaimana kalau Bayu mengarahkan narasi, misalnya, ia membenci satu komunitas penyiksa anjing. Yang ketika anjing disiksa, si penyiksa merasa puas dan bahagia. Pula setelah anjing disiksa, mayat anjing digelontorkan di jalan atau digantung tanpa hormat. Itu barangkali lebih terasa protesnya.

Suasana pameran Peta Tanpa Arah di Undiskha | Foto: tatkala.co/Son

Tetapi kritik sosial tentang cinta kasih pada anjing lokal, melalui lukisan “Three Brother”, Made Bayu bolehlah dikatakan cukup menimpuk manusia kota yang kerap mengurus anjing-anjing top global ketimbang top lokal—sebagai pets.

Anjing lokal kerap ia lihat berserakan di jalan luntang-lantungdengan gudik. Sedangkan anjing impor, diajak jalan-jalan pagi menggunakan troli bayi dengan asik. Sehat. Jadi, siapa yang anjing?

Seorang pengunjung, Andi Wiryatama, tampak berdiri cukup lama di depan lukisan itu, lalu segera pergi setelah agak lama menatap lukisan dan mengobrol banyak hal.

Ia lanjut berkelana melihat-lihat isi pameran sampai mentok di lukisan tubuh telanjang milik Ni Made Sahsikirani dengan tajuk “Milikmu”, kemudian mentok lagi ke belakang tembok itu melihat beberapa karya patung dan beberapa karya lukisan dan photografi, hingga DKV.

Setelah 15 menit ia mondar-mandir dan merasakan secara detilnya karya-karya yang dipamerkan di sana. Tampaknya ia merasa puas hari itu karena dapat mengobrol langsung dengan si pemilik tentang proses kreatifnya.

Perjamuan Minimalis

Sementara di pojok kiri ruang pameran, ibu dosen—Bu Witari, duduk di kursi (karya seni tekstil) dengan hiasan dinding penuh corak dan warna yang menarik.

Ada empat karya di pojok kiri itu, yaitu hiasan dinding, hiasan kursi dan meja, dan hiasan lampu dengan judul “Hunian Penuh Untaian” karya Ni Luh Putu Vanehsa Axelia Damayanti.

Perjamuan flora dan fauna di ruang pameran | Foto: tatkala.co/Son

Anyaman makrame dan Bu Dosen | Foto: tatkala.co/Son

Vanesha tampaknya sangat perhatian dengan tali-temali yang ia rajut. Tak sedikitpun karyanya menyon atau off side dari pola yang ia buat. Apik. Walaupun visual yang ditampilkan hanya memperlihatkan bagaimana anyaman makrame yang menjadi hiasan dekorasi pada sebuah ruangan terbatas. Tapi itu cukup memberi kesan sederhana dan minimalis yang nyaman untuk hidup slow living.

Anyaman tali katun berwarna putih tampak manis dipadu-padankan dengan cahaya lampu berwarna jingga. Meja di bawahnya jadi lebih menarik dilihat karena anyaman taplak meja yang berwarna hijau toska. Bantal kursi coklat dapat membantu rasa nyaman seseorang saat duduk di kursi itu.

Hiasan dinding di belakangnya juga dapat dinikmati secara visual karena memiliki perpaduan warna dan corak yang beragam. Menandakan gejolak emosi si pembuat.

“Suatu saat, nanti saya akan membuatkannya untuk rumah sendiri,” kata Vanesha berencana.

Dengan jarak yang tak jauh dari ibu dosen yang sedang mampir di Hunian Vanesha, Andi Wiryatama mengambil tempat duduknya di sebuah perjamuan “Flora dan Fauna” karya Ketsia Rahel yang tak jauh dari karya tekstil tadi.

Di sana, terdapat beberapa karya keramik yang berbentuk bulatan menyerupai bentuk seperti piring yang di atas piring itu dibentuk dengan bentuk flora seperti bunga mawar, bunga matahari, bunga raflesia, bunga teratai, dan bentuk fauna seperti kepiting, kuda laut, dan gurita.

Perjamuan itu diletakkan di meja berbentuk bundar dengan beberapa kursi untuk pengunjung duduk menikmatinya. Bukan untuk dimakan. Hidangan itu hanya untuk dinikmati secara visual. Boleh disentuh sedikit, tapi tidak boleh digigit. Awas retak!

Menariknya, untuk menentukan binatang apa yang akan dibuatnya, Rahel —telah menghabiskan waktu sekurangnya satu bulan untuk melakukan pertapaan di ruang kelas atau kamarnya. Juga dengan segala macam konsultasi sana-sini dalam menentukan, hewan apa yang akan di bentuk.

Ada banyak binatang di dunia ini. Ada buaya di sungai dan kucing di darat. Ada ikan emas juga di pasar. Atau mengapa pilih cumi-cumi dan kura-kura serta kuda laut?

“Karena bentuknya yang unik. Kalau ikan dan kucing, itu sudah biasa,” jelas Rahel.

Pameran kriya Perjamuan Folar dan Fauna | Foto: tatkala.co/Son

Dalam proses pembuatannya, perempuan asal Medan itu telah menghabiskan delapan kilo tanah dan membutuhkan tiga sampai empat hari untuk membuat satu perjamuan. Pertama, ia membuat piringnya terlebih dahulu dengan alat memutar atau mesin, kemudian barulah miniatur flora atau atau fauna itu dibuatnya menyusul setelah agak kering si piring.  

Yang membuat lama, lanjut Rahel, terkadang ada yang tidak sesuai sama bentuknya, bongkar lagi. Apalagi kalau pecah, katanya, diulangi lagi dari awal. Terus terkadang juga retak ketika sudah setengah kering. Membuat pikirannya koprol satu hari di hadapan tanah liat.

Di perjamuan karakter kura-kura, ia menggambar laut dan pasir. Bercerita kura-kura itu hendak pergi ke laut dari pesisir. Hanya saja, pewarnaannya dengan cat akrilik menutupi bahan dasarnya dari tanah liat, sehingga, untuk dikatakan ini jenis keramik atau bukan, membuat misteri para pengunjung karena tertutup oleh cat. Sehingga tidak ternikmati secara mendalam bahwa itu dari tanah liat, bukan dari kertas atau kayu.

Kata seorang dosen, cerita Rahel, “Harusnya menggunakan cat untuk gelatsir bukan akrilik biar terlihat karakter tanahnya!”

Bagaimana menurut, Bung Andi?

“Keren!” kata Andi Wiryatama.

“Oke!” kata saya. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

“Peta Tanpa Arah”, Pameran Seni Rupa Mahasiswa Undiksha dengan Beragam Gagasan Kritis
Menantang Definisi Prasi | Catatan Pameran “Peta Tanpa Arah” Mahasiswa Seni Rupa Undiksha
Tags: Fakultas Bahasa dan Seni UndikshaPameran Seni RupaSeni RupaUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merayakan Gagasan Perempuan di Panggung Teater | Catatan Pentas ”Karena Aku Perempuan” di Galeri Indonesia Kaya

Next Post

Kalender Adat dan “Kolenjer” — [Bagian 2]: Waktu Sakral di Baduy

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Kalender Adat dan “Kolenjer” --- [Bagian 2]: Waktu Sakral di Baduy

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co