23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anjing Digantung dan Perjamuan di Sudut Hunian | Dari Pameran “Peta Tanpa Arah” Undiksha

Son Lomri by Son Lomri
December 30, 2024
in Ulas Rupa
Anjing Digantung dan Perjamuan di Sudut Hunian | Dari Pameran “Peta Tanpa Arah” Undiksha

Perjamuan di ruang pameran Peta Tanpa Arah mahasiswa Undiksha | Foto: tatkala.co

SETELAH tongkat trisula itu ditancapkan di sebuah tongkok, pintu pameran seni bertajuk “Peta Tanpa Arah” pun dibuka. Pameran itu dibuka oleh Drs. I Gede Nurjaya, M.Pd. selaku Dekan Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Jumat, 27 Desember 2024. Pameran akan ditutup pada 10 Januari 2025.

Pameran itu diisi oleh 21 mahasiswa prodi Pendidikan Seni Rupa semester 7 di Galeri Paduraksa, FBS.

“Seni bukan hanya memberikan ruang untuk kontemplasi. Tapi juga memaknai pesan,” kata I Gede Nurjaya, Dekan FBS itu.

Para pengunjung yang di antaranya adalah dosen dan mahasiswa lintas jurusan mulai bergegas masuk setelah pintu pada ruang pameran itu dibuka. Instrument musik jegog yang keluar—dalam ruangan menyambut mereka datang. Berderet lukisan dan beberapa karya kriya, tekstil dan prasi—cukup menarik perhatian semua mata.  

Terlebih lima ekor anjing digantung tanpa suara mengorok di sebuah tembok dekat pintu masuk. Ironis. Mata anjing itu pasrah sedih dengan lidah ngelel di mulut berdarah. Anjing itu mati di kanvas ukurun 130 x 80 cm dengan judul “Who Is The Next?” karya I Made Bayu Saka.

Bayu menunjukkan karyanya | Foto: tatkala.co/Son

Dengan teknik menumpuk beberapa warna pada lukisannya, Bayu Saka cukup memberi teror mengerikan. Ia menggambarkan anjing itu tersiksa dengan latar merah—darah.

“Ide dari lukisan yang saya buat memvisualkan ketimpangan atau kenistaan hewan (anjing) yang hidup di sekitar kita. Penampilan dari figure anjing yang merasakan ketidakadilan sehingga terabaikan oleh sifat manusia,” kata I Made Bayu Saka.

Secara sederhana, Bayu Saka merasa tidak suka jika anjing dimakan manusia, atau sebaliknya. Ia seakan ingin mempertegas kalau ikan lele boleh dimakan, kalau anjing jangan. Anjing jangan disiksa. Digebuk atau ditindih batu. Apalagi, “Naik Anjing aja, Naik Anjing”—JANGAN!

Memandang lukisan karya Bayu itu, saya memikirkan masyarakat di sejumlah daerah di Indonesia terbiasa makan daging B1 (anjing) sebagai hidangan khasnya. Dan hal itu, sebagaimana dalam lukisannya, hal-hal yang diprotes Bayu. Secara sederhana Bayu merasa kasihan pada anjing.

Hal itu tentu saja pikiran yang amat sederhana. Bagaimana kalau Bayu mengarahkan narasi, misalnya, ia membenci satu komunitas penyiksa anjing. Yang ketika anjing disiksa, si penyiksa merasa puas dan bahagia. Pula setelah anjing disiksa, mayat anjing digelontorkan di jalan atau digantung tanpa hormat. Itu barangkali lebih terasa protesnya.

Suasana pameran Peta Tanpa Arah di Undiskha | Foto: tatkala.co/Son

Tetapi kritik sosial tentang cinta kasih pada anjing lokal, melalui lukisan “Three Brother”, Made Bayu bolehlah dikatakan cukup menimpuk manusia kota yang kerap mengurus anjing-anjing top global ketimbang top lokal—sebagai pets.

Anjing lokal kerap ia lihat berserakan di jalan luntang-lantungdengan gudik. Sedangkan anjing impor, diajak jalan-jalan pagi menggunakan troli bayi dengan asik. Sehat. Jadi, siapa yang anjing?

Seorang pengunjung, Andi Wiryatama, tampak berdiri cukup lama di depan lukisan itu, lalu segera pergi setelah agak lama menatap lukisan dan mengobrol banyak hal.

Ia lanjut berkelana melihat-lihat isi pameran sampai mentok di lukisan tubuh telanjang milik Ni Made Sahsikirani dengan tajuk “Milikmu”, kemudian mentok lagi ke belakang tembok itu melihat beberapa karya patung dan beberapa karya lukisan dan photografi, hingga DKV.

Setelah 15 menit ia mondar-mandir dan merasakan secara detilnya karya-karya yang dipamerkan di sana. Tampaknya ia merasa puas hari itu karena dapat mengobrol langsung dengan si pemilik tentang proses kreatifnya.

Perjamuan Minimalis

Sementara di pojok kiri ruang pameran, ibu dosen—Bu Witari, duduk di kursi (karya seni tekstil) dengan hiasan dinding penuh corak dan warna yang menarik.

Ada empat karya di pojok kiri itu, yaitu hiasan dinding, hiasan kursi dan meja, dan hiasan lampu dengan judul “Hunian Penuh Untaian” karya Ni Luh Putu Vanehsa Axelia Damayanti.

Perjamuan flora dan fauna di ruang pameran | Foto: tatkala.co/Son

Anyaman makrame dan Bu Dosen | Foto: tatkala.co/Son

Vanesha tampaknya sangat perhatian dengan tali-temali yang ia rajut. Tak sedikitpun karyanya menyon atau off side dari pola yang ia buat. Apik. Walaupun visual yang ditampilkan hanya memperlihatkan bagaimana anyaman makrame yang menjadi hiasan dekorasi pada sebuah ruangan terbatas. Tapi itu cukup memberi kesan sederhana dan minimalis yang nyaman untuk hidup slow living.

Anyaman tali katun berwarna putih tampak manis dipadu-padankan dengan cahaya lampu berwarna jingga. Meja di bawahnya jadi lebih menarik dilihat karena anyaman taplak meja yang berwarna hijau toska. Bantal kursi coklat dapat membantu rasa nyaman seseorang saat duduk di kursi itu.

Hiasan dinding di belakangnya juga dapat dinikmati secara visual karena memiliki perpaduan warna dan corak yang beragam. Menandakan gejolak emosi si pembuat.

“Suatu saat, nanti saya akan membuatkannya untuk rumah sendiri,” kata Vanesha berencana.

Dengan jarak yang tak jauh dari ibu dosen yang sedang mampir di Hunian Vanesha, Andi Wiryatama mengambil tempat duduknya di sebuah perjamuan “Flora dan Fauna” karya Ketsia Rahel yang tak jauh dari karya tekstil tadi.

Di sana, terdapat beberapa karya keramik yang berbentuk bulatan menyerupai bentuk seperti piring yang di atas piring itu dibentuk dengan bentuk flora seperti bunga mawar, bunga matahari, bunga raflesia, bunga teratai, dan bentuk fauna seperti kepiting, kuda laut, dan gurita.

Perjamuan itu diletakkan di meja berbentuk bundar dengan beberapa kursi untuk pengunjung duduk menikmatinya. Bukan untuk dimakan. Hidangan itu hanya untuk dinikmati secara visual. Boleh disentuh sedikit, tapi tidak boleh digigit. Awas retak!

Menariknya, untuk menentukan binatang apa yang akan dibuatnya, Rahel —telah menghabiskan waktu sekurangnya satu bulan untuk melakukan pertapaan di ruang kelas atau kamarnya. Juga dengan segala macam konsultasi sana-sini dalam menentukan, hewan apa yang akan di bentuk.

Ada banyak binatang di dunia ini. Ada buaya di sungai dan kucing di darat. Ada ikan emas juga di pasar. Atau mengapa pilih cumi-cumi dan kura-kura serta kuda laut?

“Karena bentuknya yang unik. Kalau ikan dan kucing, itu sudah biasa,” jelas Rahel.

Pameran kriya Perjamuan Folar dan Fauna | Foto: tatkala.co/Son

Dalam proses pembuatannya, perempuan asal Medan itu telah menghabiskan delapan kilo tanah dan membutuhkan tiga sampai empat hari untuk membuat satu perjamuan. Pertama, ia membuat piringnya terlebih dahulu dengan alat memutar atau mesin, kemudian barulah miniatur flora atau atau fauna itu dibuatnya menyusul setelah agak kering si piring.  

Yang membuat lama, lanjut Rahel, terkadang ada yang tidak sesuai sama bentuknya, bongkar lagi. Apalagi kalau pecah, katanya, diulangi lagi dari awal. Terus terkadang juga retak ketika sudah setengah kering. Membuat pikirannya koprol satu hari di hadapan tanah liat.

Di perjamuan karakter kura-kura, ia menggambar laut dan pasir. Bercerita kura-kura itu hendak pergi ke laut dari pesisir. Hanya saja, pewarnaannya dengan cat akrilik menutupi bahan dasarnya dari tanah liat, sehingga, untuk dikatakan ini jenis keramik atau bukan, membuat misteri para pengunjung karena tertutup oleh cat. Sehingga tidak ternikmati secara mendalam bahwa itu dari tanah liat, bukan dari kertas atau kayu.

Kata seorang dosen, cerita Rahel, “Harusnya menggunakan cat untuk gelatsir bukan akrilik biar terlihat karakter tanahnya!”

Bagaimana menurut, Bung Andi?

“Keren!” kata Andi Wiryatama.

“Oke!” kata saya. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

“Peta Tanpa Arah”, Pameran Seni Rupa Mahasiswa Undiksha dengan Beragam Gagasan Kritis
Menantang Definisi Prasi | Catatan Pameran “Peta Tanpa Arah” Mahasiswa Seni Rupa Undiksha
Tags: Fakultas Bahasa dan Seni UndikshaPameran Seni RupaSeni RupaUndiksha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merayakan Gagasan Perempuan di Panggung Teater | Catatan Pentas ”Karena Aku Perempuan” di Galeri Indonesia Kaya

Next Post

Kalender Adat dan “Kolenjer” — [Bagian 2]: Waktu Sakral di Baduy

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

by Angga Wijaya
August 7, 2026
0
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

Read moreDetails

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

by Hartanto
August 7, 2026
0
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

Read moreDetails

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

by Hartanto
July 30, 2026
0
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

Read moreDetails
Next Post
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Kalender Adat dan “Kolenjer” --- [Bagian 2]: Waktu Sakral di Baduy

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co