Suara tawa bisa menjadi sesuatu yang demikian traumatis. Tujuh tahun sejak peristiwa 1998, begitu banyak luka dan kenangan pahit yang menyertai manusia di bumi pertiwi. Melalui Ingatan Ikan-ikan karya sasti gotama, saya berkenalan dengan Lian Wen dan Ombak Samudera. Nggak butuh waktu lebih dari dua hari buat menyelami dunia mereka hingga tinta terakhir.
Nama Lian seketika menghubungkan saya dengan konsep “the others” dalam wacana poskolonial dan kajian budaya. Liyan berarti mereka yang berbeda, yang dieliminasi dan diasingkan. Sebagaimana Lian Wen pula yang merupakan seorang Tionghoa. Dalam paruh awal saya diajak bertamasya dengan nama-nama kota dan tokoh yang menggunakan inisial. Semula membingungkan, tapi sepadan karena selanjutnya menjelma magnetik.
Lian Wen adalah seorang dokter hewan. Ia tidak menyukai suara tawa. Perut bagian bawahnya akan terasa sakit setiap ia mendengar suara itu. Lambat laun saya pun mengerti apa penyebabnya. Salah satu pegawainya pernah secara tidak sengaja tertawa terbahak dan membuat Lian pingsan.
Di belahan kota yang lain, Ombak sang protagonis pria adalah pedagang ikan mas koki. Hidupnya pas-pasan untuk membiayai istri dan putrinya. Perihal ikan mas koki, Lian memelihara ikan mas koki buta. Seorang pelanggan yang datang memeriksakan ikannya memberikan si mas koki itu kepadanya. Itu belum mencakup keseluruhan premisnya.
Waktu bergerak mundur, saya diajak melihat masa lalu Ombak. Tentang orang tuanya yang berselisih, juga ia dan sang adik yang harus pergi dari rumah untuk mengadu nasib sendiri. Ombak berjualan koran, bercita-cita ingin menjadi dokter. Baginya, dokter adalah simbol kemapanan yang akan melepaskannya dari belenggu kemiskinan.
Di masa lalu, Lian dan Ombak ternyata berteman. Ombak menyukai buku dan mengajak Lian untuk berburu buku cerita silat bekas di tempat langganannya. Beruntung karena Ombak terlebih dahulu mengenal ayahnya Lian dengan baik, sehingga ada cara untuk bisa berkenalan dan mendekati Lian. Pertemanan mereka manis. Ombak menghadiahi ikan mas koki untuk dirawat Lian. Ia mempelajari bagaimana merawat dan mengenali penyakit ikan mas koki. Ikan itu seperti anak yang mereka jaga bersama. Ikan mas koki, seturut Ombak merupakan ikan asli dari Cina, namun kini dibudidaya di Indonesia. Sama halnya dengan Lian yang nenek moyangnya dari sana, tapi Lian lebih lancar berbahasa Jawa.
Saya jadi teringat Meilien dan Dilan dari semestanya Pidi Baiq, juga Laskar Pelangi dengan Ikal dan Aling. Manisnya kedekatan mereka nggak bertahan lama, sebagaimana Lian dan Ombak yang akhirnya juga harus terpisah. Ada penjarahan besar-besaran menjelang reformasi. Toko milik ayahnya Lian menjadi korban, dan setelah itu pula garis hidup Lian berubah. Suara tawa yang begitu traumatis itu, tak lain adalah suara tawa dari pemerkosa yang memandang para minoritas Tionghoa sebagai golongan yang harus dipersekusi. Lian mengalami hal buruk dan menyimpan trauma atas hal itu selama menahun.
Kepingan demi kepingan teka-teki akhirnya tersusun. Trauma masa lalu yang dialami Lian membawanya untuk menjalani terapi. Namun ia belum sepenuhnya sembuh. Tak ada sedikit pun bagian dari pikiran dan tubuhnya yang pulih dari trauma itu. Alasannya menjadi dokter hewan sedikit demi sedikit terjawab. Tidak jauh dari yang dulu pernah ia ceritakan pada Ombak, bahwa Lian ingin jadi dokter.
Ingatan Ikan-ikan mencoba bertutur soal masa lalu lewat perspektif yang berbeda. Saya tidak melihat formula fiksi sejarah yang lazim digunakan para penulis perempuan yang biasa saya baca. Ada kedalaman yang intim dan mendorong saya masuk. Tiap bab menyuguhkan ikatan emosi, begitu juga narasi-narasi metaforik dan simbolis, seperti bagaimana tubuh Lian dapat dikiaskan menjadi tubuh ikan mas koki dengan sisik-sisiknya yang terlepas, membuatnya tak berdaya. Tiap tokohnya juga begitu melekat dan segera bisa dihafal kekhasan tindak tuturnya. Seketika saya jadi teringat Orang-orang Bloomington dari Budi Darma dengan karakter demi karakternya yang begitu ikonik dan brutal.
Sang penulis pun ternyata merupakan seorang dokter. Referensi tentang dunia medis ternarasikan dengan kuat, tentang neurotransmitter, oksitosin, dan senyawa yang bisa distimulasi untuk menghilangkan kenangan buruk, begitu pun kehadiran buah alara yang juga penting dalam jalinan cerita. Ingatan mas koki yang hanya tiga detik— mewujud sebagai adagium maupun benang merah yang dengan briliannya memposisikan keunggulan karya ini. Upaya penghapusan kenangan buruk yang dilakukan oleh ilmuwan yang menjadi salah satu tokohnya melalui eksperimen yang diceritakan— melambangkan sebentuk kritik dan pukulan terhadap rezim yang sedang kita alami.
Dengan takdir semesta, Ombak dan Lian memang dipertemukan kembali. Tapi banyak hal yang harus ditata oleh kedua hati mereka. Penulis juga tidak menawarkan konklusi atau hidup bahagia selamanya sebagai sebuah ujung yang klise. Setelah itu kita justru kembali diminta untuk melihat bahwa realita harus berjalan, dan kenangan pahit justru bukan untuk dihilangkan, tapi disimpan dan ada untuk menjadi sumber kekuatan. Sebagaimana yang dituliskan sasti, “Dengan ingatan, kita melawan lupa. Dan dengan ingatan pula, kita melawan kekuasaan dan ketidakadilan”.
Ini adalah novel pertama dari sasti gotama– nama yang menolak memakai kapital di huruf pertama— yang terbit perdana pada Agustus 2024 lalu. Saya menanti untuk membaca karya lainnya dari sasti gotama, Emerging Author Ubud Writer Festival yang menaruh seluruh hati dan penjiwaannya dalam menulis Ingatan Ikan-ikan. [T]
Penulis: Lintang Pramudia Swara
Editor: Adnyana Ole



























