5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Biji Kuning yang Hilang Menjelma Kunyit – Renungan Hari Raya Kuningan

Abdi Jaya Prawira by Abdi Jaya Prawira
May 3, 2025
in Esai
Biji Kuning yang Hilang Menjelma Kunyit – Renungan Hari Raya Kuningan

Ilustrasi tatkala.co | Arix

MENJELANG Hari Suci Kuningan, nasi kuning menjadi bagian sajen yang wajib ada. Secara tradisional, nasi kuning untuk sajen dapat dibuat dari kunyit yang dilumatkan, dicampur minyak dan diaduk bersama nasi. Berbeda lagi dengan nasi kuning untuk nasi yasa atau nasi pradnyan yang biasanya juga dicampur bumbu-bumbu khusus agar lebih gurih dan sedap di lidah.

Perkembangannya, dua per tiga masyarakat belakangan ini mungkin lebih praktis menggunakan pewarna makanan guna membuat nasi kuning untuk sajen, selain juga ada yang lebih praktis lagi dengan membeli tumpeng dan penek kuning yang dijual di pasaran.

Cara membuat nasi kuning dengan bahan kunyit, asal-muasalnya secara tersirat saya simak dalam segmen cerita di lontar berjudul Tantu Panggelaran. Jika dipikir-pikir, mitos sederhana ini punya kupasan makna yang berelasi dengan dinamika hidup kita saat ini.

Alkisah, dalam narasi mistikal ini ada empat jenis burung yang merupakan wahana Bhatari Sri. Bhatari Sri kita kenal sebagai dewi padi, dewi sawah dan dewi kemakmuran. Empat burung itu adalah titiran ‘perkutut’, puter ‘puter’, wuru-wuru sepang ‘dara merah’, dan dara wulung ‘dara hitam’. Masing-masing burung membawa empat jenis biji (lebih tepatnya benih), perkutut membawa biji putih, puter membawa biji kuning, wuru-wuru membawa biji merah dan dara hitam membawa biji hitam.

Suatu ketika, ada lima orang anak kecil yang memburu burung-burung itu. Para burung ditembak jatuh. Keempat tembolok burung itu dilukai dan ternyata berisi empat jenis biji. Biji berwarna kuning yang dibawa puter ternyata yang paling menggiurkan. Biji itu berbau harum semerbak. Aromanya menggoda anak kecil ini untuk memakan habis biji kuning, hingga yang tersisa hanya kulit bijinya. Ketiga biji yang masih tersisa lalu ditanam sehingga tumbuh menjadi padi. Oleh sebab itu ada beras berwarna putih, merah dan hitam. Tidak ada beras berwarna kuning.

Dalam teks disebutkan: kang wija kuning kulitnya pineṇḍemnira matĕmahan kunir ‘biji kuning itu kulitnya mereka tanam sehingga menjadi kunyit’. Kulit dari biji yang hanya tinggal kenangan, setelah ditanam ternyata menjelma menjadi kunyit. Semenjak itu, orang yang ingin membuat beras maupun nasi berwarna kuning menggunakan ekstrak kunyit sebagai pewarnanya.

Kita yang Kehilangan Biji Kuning

Biji kuning yang harum semerbak, mewujud bukan hanya sekadar warna, tetapi makna. Kuning diamini sebagai warna yang mewakili kemakmuran, kesejahteraan dan kekayaan. Secara tak langsung kuning adalah simbol kenikmatan hidup. Kenikmatan ini, oleh lima anak kecil tadi sebatas dimaknai sebagai kenikmatan rasa. Kelimanya bisa saja mewakili lima indra, lima unsur diri manusia yang paling rakus pada yang paling menggiurkan. Mungkin karena itu, biji kuning tak tersisa untuk ditanam. Apa yang terlalu dinikmati, seringkali justru gagal diwariskan.

Sebuah sindiran filosofis tersirat dalam fragmen ini, bahwa kekayaan yang hanya dikonsumsi akan musnah dan berubah dengan substitusi yang lain. Biji kuning sebagai simbol kekayaan tak bisa diabadikan jika hanya dikejar untuk dinikmati. Biji putih, merah, dan hitam yang bisa dimaknai sebagai kesucian, darah semangat, dan wibawa masih tersisa untuk ditanam, justru biji kuning yang mewakili nilai tertinggi yang berusaha kita capai selagi hidup tak sempat tumbuh.

Biji kuning tersubstitusi sebagai kunyit, yang juga bertindak sebagai rempah penyembuh dan zat pewarna. Kunyit tak hadir sebagai tanaman pokok, melainkan sebagai esensi pengingat bahwa sesuatu yang pernah ada, kini dijaga dalam wujud lain. Kunyit bukan makanan utama, melainkan pemberi warna dalam makanan. Mungkin inilah petunjuk bahwa biji kuning harus ditemukan dalam pengalaman batin, bukan ladang duniawi belaka.

Narasi ini seakan mengajak kita merenungi ulang apa yang kita buru dan telan habis dalam hidup. Apakah kita terlalu tergoda dengan aroma biji kuning tanpa berpikir bahwa yang harum itu bisa musnah jika tidak diwariskan? Di era konsumsi cepat dan pencarian kenikmatan instan, cerita ini memberi jeda maknawi bahwa yang seolah paling nikmat tidak selalu bijak untuk dihabiskan sekaligus.

Jika tembolok burung menjadi lambang alam, maka biji yang tersimpan di dalamnya ialah benih-benih makna yang hendak dititipkan alam pada manusia. Warna-warni dalam biji itu bukan sekadar visual, tetapi mengandung resonansi kosmologis dan psikologis. Putih untuk kesucian dan permulaan (purwa), hitam untuk gelap dan kedalaman batin, merah untuk semangat dan keberanian, dan kuning yang paling harum dan paling cepat habis ialah lambang kekayaan yang menggoda dan yang paling sulit dijaga karena disukai semua.

Mengapa biji kuning dimakan sampai habis, sementara yang lain mampu ditanam ulang? Anak-anak dalam cerita itu tidak menanam apa yang mereka sukai, justru menanam apa yang tersisa. Kunyit, sebagai jelmaan kulit biji kuning, hanyalah sisa dari esensi biji itu. Maka tak heran jika dalam kehidupan sehari-hari, kunyit juga identik dengan obat penawar luka. Ia pernah terluka dan menyembuhkan dirinya sendiri.

Biji kuning menjadi perumpamaan untuk segala hal yang kita habiskan tanpa berpikir panjang. Tanah subur yang kita jadikan akomodasi pariwisata, hutan yang kita bakar, air tanah yang kita sedot nyaris habis, tanaman upakara yang kita pakai besar-besaran tanpa budidaya atau bahkan investasi yang dihabiskan di generasi ini tanpa benih untuk masa depan. Cerita ini mengingatkan bahwa kebahagiaan yang tidak disemai takkan bisa dituai. Kegembiraan kelima anak itu seperti pesta panen tanpa menabur benih. Gairah sesaat itu kemudian melahirkan kekosongan panjang karena aroma semerbak yang dinikmati satu lahapan itu tidak ada lagi saat ini.

Tafsir maknawi yang lebih luas, membuat cerita ini menyuguhkan renungan tentang kebijaksanaan dalam memilih keseimbangan antara memakan dan menanam, antara menikmati dan menyisakan, antara hasrat dan warisan, antara konsumsi dan produksi. Apakah kita tengah menjadi anak-anak yang gembira memakan biji kuning, atau kita tengah berusaha menanam makna dari sisa yang tertinggal? [T]

Penulis: Abdi Jaya Prawira
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Kuningan Tradisi Sunda Kuno?
Tren ‘Serba Kuning’ di Hari Suci Kuningan
Sejumlah Resep Membuat “Leburan Cake” di Sekitar Hari Galungan & Kuningan
GALUNGAN BELANDA DI BESAKIH
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih
Tags: hinduKuningan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali Blackout, Romantisme Gelap Bersama Strongking, Lilin dan Lentera

Next Post

Puisi-puisi Muhammad Rafi’ Hanif | Kenang-Kenangan Seorang Mahasiswa

Abdi Jaya Prawira

Abdi Jaya Prawira

Pande Putu Abdi Jaya Prawira, tinggal di Tulikup, Gianyar. Alumnus Sastra Jawa Kuno Udayana.

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Muhammad Rafi’ Hanif | Kenang-Kenangan Seorang Mahasiswa

Puisi-puisi Muhammad Rafi’ Hanif | Kenang-Kenangan Seorang Mahasiswa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co