25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Biji Kuning yang Hilang Menjelma Kunyit – Renungan Hari Raya Kuningan

Abdi Jaya Prawira by Abdi Jaya Prawira
May 3, 2025
in Esai
Biji Kuning yang Hilang Menjelma Kunyit – Renungan Hari Raya Kuningan

Ilustrasi tatkala.co | Arix

MENJELANG Hari Suci Kuningan, nasi kuning menjadi bagian sajen yang wajib ada. Secara tradisional, nasi kuning untuk sajen dapat dibuat dari kunyit yang dilumatkan, dicampur minyak dan diaduk bersama nasi. Berbeda lagi dengan nasi kuning untuk nasi yasa atau nasi pradnyan yang biasanya juga dicampur bumbu-bumbu khusus agar lebih gurih dan sedap di lidah.

Perkembangannya, dua per tiga masyarakat belakangan ini mungkin lebih praktis menggunakan pewarna makanan guna membuat nasi kuning untuk sajen, selain juga ada yang lebih praktis lagi dengan membeli tumpeng dan penek kuning yang dijual di pasaran.

Cara membuat nasi kuning dengan bahan kunyit, asal-muasalnya secara tersirat saya simak dalam segmen cerita di lontar berjudul Tantu Panggelaran. Jika dipikir-pikir, mitos sederhana ini punya kupasan makna yang berelasi dengan dinamika hidup kita saat ini.

Alkisah, dalam narasi mistikal ini ada empat jenis burung yang merupakan wahana Bhatari Sri. Bhatari Sri kita kenal sebagai dewi padi, dewi sawah dan dewi kemakmuran. Empat burung itu adalah titiran ‘perkutut’, puter ‘puter’, wuru-wuru sepang ‘dara merah’, dan dara wulung ‘dara hitam’. Masing-masing burung membawa empat jenis biji (lebih tepatnya benih), perkutut membawa biji putih, puter membawa biji kuning, wuru-wuru membawa biji merah dan dara hitam membawa biji hitam.

Suatu ketika, ada lima orang anak kecil yang memburu burung-burung itu. Para burung ditembak jatuh. Keempat tembolok burung itu dilukai dan ternyata berisi empat jenis biji. Biji berwarna kuning yang dibawa puter ternyata yang paling menggiurkan. Biji itu berbau harum semerbak. Aromanya menggoda anak kecil ini untuk memakan habis biji kuning, hingga yang tersisa hanya kulit bijinya. Ketiga biji yang masih tersisa lalu ditanam sehingga tumbuh menjadi padi. Oleh sebab itu ada beras berwarna putih, merah dan hitam. Tidak ada beras berwarna kuning.

Dalam teks disebutkan: kang wija kuning kulitnya pineṇḍemnira matĕmahan kunir ‘biji kuning itu kulitnya mereka tanam sehingga menjadi kunyit’. Kulit dari biji yang hanya tinggal kenangan, setelah ditanam ternyata menjelma menjadi kunyit. Semenjak itu, orang yang ingin membuat beras maupun nasi berwarna kuning menggunakan ekstrak kunyit sebagai pewarnanya.

Kita yang Kehilangan Biji Kuning

Biji kuning yang harum semerbak, mewujud bukan hanya sekadar warna, tetapi makna. Kuning diamini sebagai warna yang mewakili kemakmuran, kesejahteraan dan kekayaan. Secara tak langsung kuning adalah simbol kenikmatan hidup. Kenikmatan ini, oleh lima anak kecil tadi sebatas dimaknai sebagai kenikmatan rasa. Kelimanya bisa saja mewakili lima indra, lima unsur diri manusia yang paling rakus pada yang paling menggiurkan. Mungkin karena itu, biji kuning tak tersisa untuk ditanam. Apa yang terlalu dinikmati, seringkali justru gagal diwariskan.

Sebuah sindiran filosofis tersirat dalam fragmen ini, bahwa kekayaan yang hanya dikonsumsi akan musnah dan berubah dengan substitusi yang lain. Biji kuning sebagai simbol kekayaan tak bisa diabadikan jika hanya dikejar untuk dinikmati. Biji putih, merah, dan hitam yang bisa dimaknai sebagai kesucian, darah semangat, dan wibawa masih tersisa untuk ditanam, justru biji kuning yang mewakili nilai tertinggi yang berusaha kita capai selagi hidup tak sempat tumbuh.

Biji kuning tersubstitusi sebagai kunyit, yang juga bertindak sebagai rempah penyembuh dan zat pewarna. Kunyit tak hadir sebagai tanaman pokok, melainkan sebagai esensi pengingat bahwa sesuatu yang pernah ada, kini dijaga dalam wujud lain. Kunyit bukan makanan utama, melainkan pemberi warna dalam makanan. Mungkin inilah petunjuk bahwa biji kuning harus ditemukan dalam pengalaman batin, bukan ladang duniawi belaka.

Narasi ini seakan mengajak kita merenungi ulang apa yang kita buru dan telan habis dalam hidup. Apakah kita terlalu tergoda dengan aroma biji kuning tanpa berpikir bahwa yang harum itu bisa musnah jika tidak diwariskan? Di era konsumsi cepat dan pencarian kenikmatan instan, cerita ini memberi jeda maknawi bahwa yang seolah paling nikmat tidak selalu bijak untuk dihabiskan sekaligus.

Jika tembolok burung menjadi lambang alam, maka biji yang tersimpan di dalamnya ialah benih-benih makna yang hendak dititipkan alam pada manusia. Warna-warni dalam biji itu bukan sekadar visual, tetapi mengandung resonansi kosmologis dan psikologis. Putih untuk kesucian dan permulaan (purwa), hitam untuk gelap dan kedalaman batin, merah untuk semangat dan keberanian, dan kuning yang paling harum dan paling cepat habis ialah lambang kekayaan yang menggoda dan yang paling sulit dijaga karena disukai semua.

Mengapa biji kuning dimakan sampai habis, sementara yang lain mampu ditanam ulang? Anak-anak dalam cerita itu tidak menanam apa yang mereka sukai, justru menanam apa yang tersisa. Kunyit, sebagai jelmaan kulit biji kuning, hanyalah sisa dari esensi biji itu. Maka tak heran jika dalam kehidupan sehari-hari, kunyit juga identik dengan obat penawar luka. Ia pernah terluka dan menyembuhkan dirinya sendiri.

Biji kuning menjadi perumpamaan untuk segala hal yang kita habiskan tanpa berpikir panjang. Tanah subur yang kita jadikan akomodasi pariwisata, hutan yang kita bakar, air tanah yang kita sedot nyaris habis, tanaman upakara yang kita pakai besar-besaran tanpa budidaya atau bahkan investasi yang dihabiskan di generasi ini tanpa benih untuk masa depan. Cerita ini mengingatkan bahwa kebahagiaan yang tidak disemai takkan bisa dituai. Kegembiraan kelima anak itu seperti pesta panen tanpa menabur benih. Gairah sesaat itu kemudian melahirkan kekosongan panjang karena aroma semerbak yang dinikmati satu lahapan itu tidak ada lagi saat ini.

Tafsir maknawi yang lebih luas, membuat cerita ini menyuguhkan renungan tentang kebijaksanaan dalam memilih keseimbangan antara memakan dan menanam, antara menikmati dan menyisakan, antara hasrat dan warisan, antara konsumsi dan produksi. Apakah kita tengah menjadi anak-anak yang gembira memakan biji kuning, atau kita tengah berusaha menanam makna dari sisa yang tertinggal? [T]

Penulis: Abdi Jaya Prawira
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Kuningan Tradisi Sunda Kuno?
Tren ‘Serba Kuning’ di Hari Suci Kuningan
Sejumlah Resep Membuat “Leburan Cake” di Sekitar Hari Galungan & Kuningan
GALUNGAN BELANDA DI BESAKIH
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih
Tags: hinduKuningan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali Blackout, Romantisme Gelap Bersama Strongking, Lilin dan Lentera

Next Post

Puisi-puisi Muhammad Rafi’ Hanif | Kenang-Kenangan Seorang Mahasiswa

Abdi Jaya Prawira

Abdi Jaya Prawira

Pande Putu Abdi Jaya Prawira, tinggal di Tulikup, Gianyar. Alumnus Sastra Jawa Kuno Udayana.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Muhammad Rafi’ Hanif | Kenang-Kenangan Seorang Mahasiswa

Puisi-puisi Muhammad Rafi’ Hanif | Kenang-Kenangan Seorang Mahasiswa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co