14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Blackout, Romantisme Gelap Bersama Strongking, Lilin dan Lentera

Arix Wahyudhi Jana Putra by Arix Wahyudhi Jana Putra
May 3, 2025
in Esai
Bali Blackout, Romantisme Gelap Bersama Strongking, Lilin dan Lentera

Foto: Arix

JUMAT sore hingga malam, tepat sehari sebelum umat Hindu merayakan Hari Raya Kuningan, 2 Mei 2025, Bali gelap. Blackout. Tidak ada lampu jalan yang menyala, hanya ada sorotan layar ponsel di rumah-rumah, dan lampu kendaraan di jalan-jalan.

Listrik padam. Jika ingin tahu penyebabnya, bacalah media sosial. PLN, sebuah perusahaan negara yang mengurus listrik, sudah minta maaf dan menjelaskan apa yang terjadi. Salah satu penyebab yang disebutkan adalah kemungkinan ada gangguan pada kabel bawah laut yang mengalirkan listrik dari Jawa ke Bali.

Namun, PLN boleh dipuji. Lewat tengah malam, PLN berhasil menormalkan kembali listrik di Bali. Semua tempat sudah menyala.

Namun, malam ketika Bali gelap total, menimbulkan perasaan tersendiri bagi saya, seseorang yang tinggal di pinggiran kota Singaraja-Bali. Ini tentu saja bukan Nyepi. Pada Hari Nyepi, kita tak boleh menyalakan lampu sama sekali. Tapi saat Bali blackout, listrik padam di mana-mana, kita akan berusaha mencari alternatif penerangan lainnya, semisal menyalakan lampu HP.

Untuk nyala yang lebih lama, kita bisa menggunakan lilin. Tapi lilin, yang kini banyak dijual di warung-warung Madura, bisa saja habis, karena semua orang tiba-tiba membutuhkannya.

Maka, banyak orang di Bali, menyalakan lentera. Satu wadah—bisa mangkok atau piring—diisi minyak kelapa, lalu diisi kapas yang sudah dipelintir. Ujung kapas bagian bawang mencelup pada minyak, ujung kapas bagian atas dinyalakan. Api kecil pun menyinari ruangan.

Atau yang masih menyimpan lampu pompa, yang biasa disebut dengan nama Strongking, bisa menyalakan strongking. Namun, saya yakin, tak banyak yang masih menyimpan lampu paling terang di masa lalu itu. Kalau pun ada, perangkat lainnya pasti juga susah dicari, terutama minyak tanah.

 Strongking, lentera kelapa atau sentir minyak tanah, adalah teman setia keluarga di Bali pada masa sebelum listrik masuks ecara merata di Bali. Dulu, sesuai cerita bapak saya, di Bali, listrik hanya ada di kota-kota. Di desa-desa gelap. Namun, akibat program Listrik Masuk Desa di zaman Soeharto, listrik secara perlahan menyala di desa-desa, dan kini sudah bisa dianggap merata.  

Gelap Bukan Hal Luar Biasa

Zaman dulu, sebelum ada listrik, gelap bukanlah sesuatu yang luar biasa. Tak ada berita heboh. Gelap adalah bagian dari kehidupan, dan strongking adalah solusi sederhana nan elegan.

Di dapur, ibu-ibu memasak ditemani oleh nyala kecil yang memancar dari kaca bulatnya. Anak-anak belajar di meja kayu tua, cahaya redup strongking menari-nari di atas buku tulis mereka. Dan di bale-bale, bapak-bapak duduk sambil menyeruput kopi, ditemani oleh bayangan mereka sendiri yang melengkung di dinding bambu.

Lilin punya kisahnya sendiri. Dulu, lilin bukan hanya cadangan saat strongking kehabisan minyak tanah, lilin justru menjadi simbol kehangatan. Ketika hujan turun deras dan angin kencang meniup-niup atap rumah, lilin dinyalakan. Orang-orang duduk melingkar di sekitar meja kecil, berbagi cerita sambil mendengarkan suara hujan yang mengetuk genteng. Ada rasa aman yang tidak bisa dijelaskan ketika lilin menyala di tengah kegelapan.

Namun, zaman berubah. Listrik masuk ke desa-desa, menggantikan peran strongking dan lilin, bahkan minyak tanah pun langka. Lampu neon menggantikan cahaya redup yang lembut. Kerlip bohlam menyingkirkan tarian bayangan yang dulu menjadi penghias dinding. Ketika listrik mulai mendominasi, benda-benda kecil itu perlahan-lahan tersingkir ke sudut gudang, ditinggalkan seperti kenangan masa lalu.

Romantisme Gelap

Pada Jumat ketika Bali blackout, tanpa listrik, ingatan tentang masa-masa itu tiba-tiba menyeruak. Dalam kegelapan, kita dipaksa kembali ke romantisme yang sederhana, ke masa ketika gelap bukanlah sesuatu yang menakutkan. Ketika kita menyulut lilin atau mencari-cari lentera tua yang sudah berkarat, kita tak hanya mencari penerangan, tapi juga mencari rasa yang pernah hilang.

Mengingat dulu saya kecil, berkunjung ke rumah nenek di Desa Tembok, ujung timur Kabupaten Buleleng. Pada malam hari, nenek mengeluarkan lampu minyak dari lemari tua. “Ini tidak perlu listrik, Rik, cuma ya bangun-bangun hidung kita bisa hitam,” katanya.

Dulu saya tak bertanya. Tapi sekarang saya malah bertanya-tanya, kenapa hidung kita bisa hitam?

Sempat saya tanya ke Ibu. Dan Ibu menjelaskan,  “Dulu, lampu kan pakai minyak tanah. Nah, asap hitam yang dihasilkan menyebabkan muka kita kadang baru bangun, hitam!”

Membayangkannya saja membuat saya tertawa.

Bapak bercerita: “Dulu di desa, justru strongking digunakan saat paum atau acara yang lama, bahan bakarnya menggunakan spritus atau minyak tanah, dan tekanan udara harus dibuat di dalam tangki minyak dengan memompa menggunakan pompa tangan. Tekanan ini akan memaksa minyak tanah keluar dari tangki!”.

Di desa-desa, lilin kembali menjadi bintang utama. Mungkin di Desa Tembok saat ini, keluarga berkumpul di ruang tamu yang diterangi oleh tiga batang lilin. Suasana seperti ini sudah jarang terjadi, karena biasanya setiap anggota keluarga sibuk dengan ponsel atau televisi masing-masing. Tapi malam ini berbeda. Dalam temaram lilin, mereka saling bercerita. Tertawa, berbagi kisah, seperti masa lalu yang mereka pikir sudah hilang.

Apa kabar nenek di rumah ya. Nenek sudah biasa hidup tanpa penerangan yang memadai, karena di rumah nenek lebih sering menggunakan lilin, dan jarang menggunakan listrik, hitung-hitung hemat energi listrik. Sebenarnya sih, karena tidak punya uang juga.

Ada sesuatu yang ajaib tentang lilin dan strongking. Keduanya bukan sekadar alat penerangan, mereka adalah pengikat kenangan. Nyala api mereka yang kecil dan lembut mengundang keintiman, menghapus jarak, dan membuat kita menghargai kebersamaan. Dalam kegelapan, kita menyadari betapa terang bukan sekadar soal cahaya, tapi juga soal rasa kebersamaan.

Pemadaman listrik ini, meski merepotkan, adalah pengingat yang manis. Kita diingatkan bahwa teknologi, betapapun canggihnya, tak akan pernah bisa menggantikan kehangatan sederhana dari lilin yang menyala di meja kayu, atau lentera minyak yang menemani obrolan malam.

Jumat malam itu, Bali seperti kembali ke masa lalu. Di luar sana, bintang-bintang tampak lebih terang karena tidak ada polusi cahaya. Anak-anak yang biasanya sibuk dengan gawai kini duduk di samping orang tua mereka, mendengarkan cerita tentang bagaimana hidup dulu tanpa listrik. Beberapa bahkan mungkin mempelajari bagaimana caranya menyalakan strongking, sebuah keterampilan yang sudah hampir punah.

Pada Jumat malam itu, saya mengunjungi beberapa warung terdekat, menanyakan lilin untuk menerangi mala mini. Hasilnya, nihil. “Sudah jarang orang menjual lilin, enggak laku, dan kebanyakan sudah hancur,” kata Ibu Mari, penjual di warung dekat gang tempat saya tinggal.

Akhrinya, belajar dari pengalaman Ibu dulu, saya diajarkan membuat lilin dadakan. Menggunakan cangkir kecil yang diisi beras dan minyak goreng, untuk sumbunya saya menggunakan benang Bali. Di satu sisi, seru juga membuat lilin, seperti membayangkan zaman dulu orang-orang pasti melakukan hal yang sama.

Di tengah semua ini, kita merenung. Apa yang sebenarnya kita cari dalam terang listrik yang begitu kita andalkan? Mungkin kita hanya lupa bagaimana caranya menikmati gelap. Dalam gelap, kita lebih dekat dengan diri sendiri, dengan keluarga, dengan cerita-cerita yang sering kita abaikan. Dalam gelap, kita diingatkan bahwa terang tidak selalu berasal dari lampu neon atau layar ponsel. Kadang, terang itu datang dari sebuah lilin kecil atau lentera tua yang menyala di sudut ruangan.

Malam itu, lilin dan strongking bukan sekadar alat penerangan. Mereka adalah jembatan menuju kenangan. Mereka mengingatkan kita pada masa-masa ketika hidup lebih sederhana, ketika kita tidak terburu-buru, ketika kita punya waktu untuk duduk bersama dan saling bercerita. Dan di tengah kegelapan malam ini, kita bersyukur bahwa kenangan itu masih bisa kita temukan, meski hanya untuk satu malam.

Gelap Bali malam itu adalah sebuah momen refleksi. Anggap saja ini sebuah undangan untuk berhenti sejenak dan mengenang. Mengenang masa lalu, mengenang strongking dan lilin, mengenang kehangatan yang pernah kita miliki sebelum cahaya listrik mengambil alih segalanya. [T]

Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor: Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Selamat Pagi Burung Hantu di Banjar Pagi, Selalulah jadi Sahabat Petani…
Refleksi Spiritual Nyepi, Tumpek Wariga, dan Idulfitri dalam Pendidikan Pertanian
Tentang Dua Sisi Perjalanan Merantau ke Singaraja: Menembus Air Bah hingga Menyapa sang Surya
Tags: balilistrik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Diplomasi Kontra-Presional untuk Menghadapi Kebijakan Tarif Trump

Next Post

Biji Kuning yang Hilang Menjelma Kunyit – Renungan Hari Raya Kuningan

Arix Wahyudhi Jana Putra

Arix Wahyudhi Jana Putra

Gede Arix Wahyudhi Jana Putra. Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Biji Kuning yang Hilang Menjelma Kunyit – Renungan Hari Raya Kuningan

Biji Kuning yang Hilang Menjelma Kunyit – Renungan Hari Raya Kuningan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co