24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Blackout, Romantisme Gelap Bersama Strongking, Lilin dan Lentera

Arix Wahyudhi Jana Putra by Arix Wahyudhi Jana Putra
May 3, 2025
in Esai
Bali Blackout, Romantisme Gelap Bersama Strongking, Lilin dan Lentera

Foto: Arix

JUMAT sore hingga malam, tepat sehari sebelum umat Hindu merayakan Hari Raya Kuningan, 2 Mei 2025, Bali gelap. Blackout. Tidak ada lampu jalan yang menyala, hanya ada sorotan layar ponsel di rumah-rumah, dan lampu kendaraan di jalan-jalan.

Listrik padam. Jika ingin tahu penyebabnya, bacalah media sosial. PLN, sebuah perusahaan negara yang mengurus listrik, sudah minta maaf dan menjelaskan apa yang terjadi. Salah satu penyebab yang disebutkan adalah kemungkinan ada gangguan pada kabel bawah laut yang mengalirkan listrik dari Jawa ke Bali.

Namun, PLN boleh dipuji. Lewat tengah malam, PLN berhasil menormalkan kembali listrik di Bali. Semua tempat sudah menyala.

Namun, malam ketika Bali gelap total, menimbulkan perasaan tersendiri bagi saya, seseorang yang tinggal di pinggiran kota Singaraja-Bali. Ini tentu saja bukan Nyepi. Pada Hari Nyepi, kita tak boleh menyalakan lampu sama sekali. Tapi saat Bali blackout, listrik padam di mana-mana, kita akan berusaha mencari alternatif penerangan lainnya, semisal menyalakan lampu HP.

Untuk nyala yang lebih lama, kita bisa menggunakan lilin. Tapi lilin, yang kini banyak dijual di warung-warung Madura, bisa saja habis, karena semua orang tiba-tiba membutuhkannya.

Maka, banyak orang di Bali, menyalakan lentera. Satu wadah—bisa mangkok atau piring—diisi minyak kelapa, lalu diisi kapas yang sudah dipelintir. Ujung kapas bagian bawang mencelup pada minyak, ujung kapas bagian atas dinyalakan. Api kecil pun menyinari ruangan.

Atau yang masih menyimpan lampu pompa, yang biasa disebut dengan nama Strongking, bisa menyalakan strongking. Namun, saya yakin, tak banyak yang masih menyimpan lampu paling terang di masa lalu itu. Kalau pun ada, perangkat lainnya pasti juga susah dicari, terutama minyak tanah.

 Strongking, lentera kelapa atau sentir minyak tanah, adalah teman setia keluarga di Bali pada masa sebelum listrik masuks ecara merata di Bali. Dulu, sesuai cerita bapak saya, di Bali, listrik hanya ada di kota-kota. Di desa-desa gelap. Namun, akibat program Listrik Masuk Desa di zaman Soeharto, listrik secara perlahan menyala di desa-desa, dan kini sudah bisa dianggap merata.  

Gelap Bukan Hal Luar Biasa

Zaman dulu, sebelum ada listrik, gelap bukanlah sesuatu yang luar biasa. Tak ada berita heboh. Gelap adalah bagian dari kehidupan, dan strongking adalah solusi sederhana nan elegan.

Di dapur, ibu-ibu memasak ditemani oleh nyala kecil yang memancar dari kaca bulatnya. Anak-anak belajar di meja kayu tua, cahaya redup strongking menari-nari di atas buku tulis mereka. Dan di bale-bale, bapak-bapak duduk sambil menyeruput kopi, ditemani oleh bayangan mereka sendiri yang melengkung di dinding bambu.

Lilin punya kisahnya sendiri. Dulu, lilin bukan hanya cadangan saat strongking kehabisan minyak tanah, lilin justru menjadi simbol kehangatan. Ketika hujan turun deras dan angin kencang meniup-niup atap rumah, lilin dinyalakan. Orang-orang duduk melingkar di sekitar meja kecil, berbagi cerita sambil mendengarkan suara hujan yang mengetuk genteng. Ada rasa aman yang tidak bisa dijelaskan ketika lilin menyala di tengah kegelapan.

Namun, zaman berubah. Listrik masuk ke desa-desa, menggantikan peran strongking dan lilin, bahkan minyak tanah pun langka. Lampu neon menggantikan cahaya redup yang lembut. Kerlip bohlam menyingkirkan tarian bayangan yang dulu menjadi penghias dinding. Ketika listrik mulai mendominasi, benda-benda kecil itu perlahan-lahan tersingkir ke sudut gudang, ditinggalkan seperti kenangan masa lalu.

Romantisme Gelap

Pada Jumat ketika Bali blackout, tanpa listrik, ingatan tentang masa-masa itu tiba-tiba menyeruak. Dalam kegelapan, kita dipaksa kembali ke romantisme yang sederhana, ke masa ketika gelap bukanlah sesuatu yang menakutkan. Ketika kita menyulut lilin atau mencari-cari lentera tua yang sudah berkarat, kita tak hanya mencari penerangan, tapi juga mencari rasa yang pernah hilang.

Mengingat dulu saya kecil, berkunjung ke rumah nenek di Desa Tembok, ujung timur Kabupaten Buleleng. Pada malam hari, nenek mengeluarkan lampu minyak dari lemari tua. “Ini tidak perlu listrik, Rik, cuma ya bangun-bangun hidung kita bisa hitam,” katanya.

Dulu saya tak bertanya. Tapi sekarang saya malah bertanya-tanya, kenapa hidung kita bisa hitam?

Sempat saya tanya ke Ibu. Dan Ibu menjelaskan,  “Dulu, lampu kan pakai minyak tanah. Nah, asap hitam yang dihasilkan menyebabkan muka kita kadang baru bangun, hitam!”

Membayangkannya saja membuat saya tertawa.

Bapak bercerita: “Dulu di desa, justru strongking digunakan saat paum atau acara yang lama, bahan bakarnya menggunakan spritus atau minyak tanah, dan tekanan udara harus dibuat di dalam tangki minyak dengan memompa menggunakan pompa tangan. Tekanan ini akan memaksa minyak tanah keluar dari tangki!”.

Di desa-desa, lilin kembali menjadi bintang utama. Mungkin di Desa Tembok saat ini, keluarga berkumpul di ruang tamu yang diterangi oleh tiga batang lilin. Suasana seperti ini sudah jarang terjadi, karena biasanya setiap anggota keluarga sibuk dengan ponsel atau televisi masing-masing. Tapi malam ini berbeda. Dalam temaram lilin, mereka saling bercerita. Tertawa, berbagi kisah, seperti masa lalu yang mereka pikir sudah hilang.

Apa kabar nenek di rumah ya. Nenek sudah biasa hidup tanpa penerangan yang memadai, karena di rumah nenek lebih sering menggunakan lilin, dan jarang menggunakan listrik, hitung-hitung hemat energi listrik. Sebenarnya sih, karena tidak punya uang juga.

Ada sesuatu yang ajaib tentang lilin dan strongking. Keduanya bukan sekadar alat penerangan, mereka adalah pengikat kenangan. Nyala api mereka yang kecil dan lembut mengundang keintiman, menghapus jarak, dan membuat kita menghargai kebersamaan. Dalam kegelapan, kita menyadari betapa terang bukan sekadar soal cahaya, tapi juga soal rasa kebersamaan.

Pemadaman listrik ini, meski merepotkan, adalah pengingat yang manis. Kita diingatkan bahwa teknologi, betapapun canggihnya, tak akan pernah bisa menggantikan kehangatan sederhana dari lilin yang menyala di meja kayu, atau lentera minyak yang menemani obrolan malam.

Jumat malam itu, Bali seperti kembali ke masa lalu. Di luar sana, bintang-bintang tampak lebih terang karena tidak ada polusi cahaya. Anak-anak yang biasanya sibuk dengan gawai kini duduk di samping orang tua mereka, mendengarkan cerita tentang bagaimana hidup dulu tanpa listrik. Beberapa bahkan mungkin mempelajari bagaimana caranya menyalakan strongking, sebuah keterampilan yang sudah hampir punah.

Pada Jumat malam itu, saya mengunjungi beberapa warung terdekat, menanyakan lilin untuk menerangi mala mini. Hasilnya, nihil. “Sudah jarang orang menjual lilin, enggak laku, dan kebanyakan sudah hancur,” kata Ibu Mari, penjual di warung dekat gang tempat saya tinggal.

Akhrinya, belajar dari pengalaman Ibu dulu, saya diajarkan membuat lilin dadakan. Menggunakan cangkir kecil yang diisi beras dan minyak goreng, untuk sumbunya saya menggunakan benang Bali. Di satu sisi, seru juga membuat lilin, seperti membayangkan zaman dulu orang-orang pasti melakukan hal yang sama.

Di tengah semua ini, kita merenung. Apa yang sebenarnya kita cari dalam terang listrik yang begitu kita andalkan? Mungkin kita hanya lupa bagaimana caranya menikmati gelap. Dalam gelap, kita lebih dekat dengan diri sendiri, dengan keluarga, dengan cerita-cerita yang sering kita abaikan. Dalam gelap, kita diingatkan bahwa terang tidak selalu berasal dari lampu neon atau layar ponsel. Kadang, terang itu datang dari sebuah lilin kecil atau lentera tua yang menyala di sudut ruangan.

Malam itu, lilin dan strongking bukan sekadar alat penerangan. Mereka adalah jembatan menuju kenangan. Mereka mengingatkan kita pada masa-masa ketika hidup lebih sederhana, ketika kita tidak terburu-buru, ketika kita punya waktu untuk duduk bersama dan saling bercerita. Dan di tengah kegelapan malam ini, kita bersyukur bahwa kenangan itu masih bisa kita temukan, meski hanya untuk satu malam.

Gelap Bali malam itu adalah sebuah momen refleksi. Anggap saja ini sebuah undangan untuk berhenti sejenak dan mengenang. Mengenang masa lalu, mengenang strongking dan lilin, mengenang kehangatan yang pernah kita miliki sebelum cahaya listrik mengambil alih segalanya. [T]

Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor: Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Selamat Pagi Burung Hantu di Banjar Pagi, Selalulah jadi Sahabat Petani…
Refleksi Spiritual Nyepi, Tumpek Wariga, dan Idulfitri dalam Pendidikan Pertanian
Tentang Dua Sisi Perjalanan Merantau ke Singaraja: Menembus Air Bah hingga Menyapa sang Surya
Tags: balilistrik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Diplomasi Kontra-Presional untuk Menghadapi Kebijakan Tarif Trump

Next Post

Biji Kuning yang Hilang Menjelma Kunyit – Renungan Hari Raya Kuningan

Arix Wahyudhi Jana Putra

Arix Wahyudhi Jana Putra

Gede Arix Wahyudhi Jana Putra. Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails
Next Post
Biji Kuning yang Hilang Menjelma Kunyit – Renungan Hari Raya Kuningan

Biji Kuning yang Hilang Menjelma Kunyit – Renungan Hari Raya Kuningan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co