2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selamat Pagi Burung Hantu di Banjar Pagi, Selalulah jadi Sahabat Petani…

Wayan Junaedy by Wayan Junaedy
June 1, 2019
in Khas
Selamat Pagi Burung Hantu di Banjar Pagi, Selalulah jadi Sahabat Petani…

Tyto Alba, si burung hantu dari Banjar Pagi, Tabanan. (Foto: IG Made Jonita)

Walau sedikit mendung, pagi itu Banjar Pagi kelihatan tetap ceria dengan anak-anak kecil yang sedang bermain bola di jalan. Mereka tertawa menikmati libur sekolah. Beberapa teruna-teruni sedang bersih-bersih di sepanjang jalan di banjar itu. Sementara para petani berangkat ke sawah dengan wajah segar. Sepagi ini tubuh mereka kelihatan bertenaga. Di kejauhan, birunya Gunung Batukaru nampak tak utuh, tertutupi mendung.

Banjar Pagi, seperti hawa pagi, adalah kampung yang sejuk. Banjar kecil yang terpencil itu, terletak di Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali. Diapit oleh persawahan dan tegalan di penjuru mata angin. Kalau kita mau menuju Banjar Senganan Kawan di utara banjar Pagi ini, maka kita harus melewati persawahan yang luas dulu. Demikian juga kalau menuju Banjar Pacung di sebelah selatan, kita akan bertemu dengan sawah-sawah indah dalam sebuah lembah. Di timur dan barat juga adalah persawahan, dengan padi-padi yang roboh, yang mungkin tadi malam diterpa angin. Untunglah bulir-bulir padi itu sudah menguning sehingga siap dipanen.

Saya butuh 50 menit menuju banjar ini, dari desa saya di Marga, dengan naik sepeda roadbike. Smartwatch saya menunjukkan jarak sekitar 13 kilometer. Jarak yang sebenarnya pendek, tapi karena medannya sedikit menanjak membuat napas jadi ngos-ngosan. Apalagi saya berusaha memacu kecepatan sepeda supaya hujan tidak mencegat di perjalanan. Tadi sempat gerimis sebentar.

Sejak beberapa hari saya memang berniat ke Banjar Pagi, naik sepeda, dan jeda sebentar di banjar itu. Dalam benak saya Banjar Pagi ini begitu istimewa. Selain masih bertahan sebagai wilayah agraris yang dibuktikan dengan bertahannya sawah-sawah, di banjar ini juga terdapat konservasi burung hantu. Burung hantu itulah yang membuat saya mengayuh sepeda ke desa itu. Saya ingin mengucapkan, “Selamat Pagi, Burung Hantu!”.

Tentu saja salam saya tak kan terjawab. Sepagi itu burung hantu pastilah sedang tertidur setelah pada malam hari keluyuran di kawasan persawahan. Tapi, tak apa, cukup akan saya sampaikan Selamat Pagi, Banjar Pagi…

Burung hantu, orang Bali menyebutnya celepuk. Burung yang berkeliaran di malam hari. Menurut cerita-cerita orang tua jaman dulu, kalau ada suara celepuk, itu pertanda ada orang meninggal dunia. Entah, apakah benar cerita itu. Waktu kecil saya memang takut kalau mendengar suara celepuk. Suaranya kedengaran aneh, tidak seindah burung-burung yang dipelihara para penghobi.

“Puk… puk… puk!” Kalau mendengar suara itu di tengah malam yang hening, saya segera bersembunyi di balik selimut, dengan mata dipejamkan rapat-rapat.          

Tapi tidak demikian dengan warga Banjar Pagi. Bagi mereka, burung hantu merupakan sahabat  manusia. Burung hantu adalah pemburu tikus-tikus yang selama ini merepotkan para petani. Celepuk sudah menjadi ikon banjar ini. Di depan rumah semua warga, terdapat lampu penerangan jalan yang diberi penutup lampu berbentuk celepuk.

Tersebutlah Made Jonita, atau lebih akrab dipanggil Dek Enjoy, yang menjadi pemrakarsa konservasi burung hantu ini. Ketika saya mampir ke rumahnya, ia sedang duduk santai sambil menikmati secangkir kopi hitam.

“Swastiastu,” ucap saya sambil menuntun sepeda. “Pak Kadek Enjoy, nggih?”

Tuan rumah menyambut dengan senyumnya yang ramah: “Swastiastu. Nggih, tiang sendiri.”

Kami bersalaman. Made Jonita berambut gondrong dengan kumisnya yang tebal. Walaupun sosoknya sedikit angker, tapi senyumnya begitu bersahabat. Pelan-pelan dia bercerita, dari A sampai Z, tentang seluk beluk celepuk. Kalimat-kalimatnya mengalir.


Penulis bersama Made Jonita

Lelaki bertubuh tinggi di hadapan saya ini sungguh seorang inspirator sejati. Seperti nama kerennya: Dek Enjoy, selalu hidup enjoy. Visinya jauh melompat ke depan. Sudah empat tahun Dek Enjoy membentuk dan memimpin TUUT, Tyto Alba Uma Wali untuk Tani, kelompok masyarakat yang memiliki kegiatan memelihara dan merawat burung hantu. Spesiesnya adalah Tyto Alba, jenis burung hantu berbulu putih. Tampangnya manis. Tidak menyeramkan. Wajahnya berbentuk jantung dengan tepi kecoklatan. Kalau di Jawa disebut Serak Jawa.

Saya jadi teringat dengan Hedwig, burung hantu putih dalam film sekuel Harry Potter yang mendunia itu. Burung hantu yang baik, sebaik Harry Potter.

Burung-burung hantu yang sudah dewasa, yang sudah siap berburu di alam liar, dilepaskan oleh kelompok TUUT ini, lewat sebuah acara seremonial. Tahun 2018 yang lalu mereka telah melepaskan sebanyak tiga kali. Pertama dilepas di Subak Merta, Tempek Soka Candi, Desa Senganan. Yang kedua dilepas saat acara Festival Jatiluwih yang meriah itu, kemudian yang terakhir Desa Wisata Pinge mendapat giliran. Menurut masyarakat petani, pelepasan burung hantu ini memberi banyak perubahan. Hama tikus menjadi lebih sedikit.

Banjar Pagi menjadi begitu terkenal. Banyak pejabat yang datang ke sana, khusus melihat penangkaran burung hantu Tyto Alba itu secara langsung. Beberapa stasiun televisi pernah menayangkan di layar kaca. Wartawan-wartawan sudah banyak yang menulis. Wisatawan asing silih berganti datang.

Made Jonita mengeluhkan biaya perawatan burung-burung itu. Operasionalnya lumayan tinggi. Belum lagi kalau ada burung sakit yang butuh perawatan.  Sekarang ada sembilan burung di penangkaran yang masih muda. Setiap hari mereka harus diberi makan tikus. Satu burung minimal membutuhkan seekor tikus untuk satu hari. Inilah yang bikin repot. Tiap hari Made Jonita berburu tikus dengan senapan, bergiliran dengan anggota kelompok yang lain. Kadang juga dibantu anak Made Jonita yang sudah remaja, yang sudah bisa mengoperasikan senapan angin.

Sementara bantuan operasional dari pemerintah dirasa masih minim.

“Untuk beli peluru saja rasanya tidak cukup,” kata Made Jonita sambil tersenyum.

Burung-burung itu memang sengaja dari kecil diberi tikus, karena fungsi utama mereka nanti sebagai pemangsa tikus hama sawah. Tidak pernah diberi makanan yang lain seperti anak ayam, karena salah-salah nanti mereka justru memburu anak ayam yang diternakkan. Maunya membantu petani, justru ribut yang terjadi.


Warga banjar/warga subak membangun Rubuha, Rumah Burung Hantu (Foto: IG Made Jonita)
Tempat Konservasi Tyto Alba (Foto: penulis)

Burung-burung hantu yang sudah dilepas dibuatkan kandang di alam bebas, agar mereka bisa istirahat dengan nyaman di siang hari. Namanya rubuha, rumah burung hantu. Sebuah rumah kecil dengan pintu terbuka, tinggi, disangga sebuah tiang yang kokoh, biasanya terletak di pinggir sawah.

Di sana burung-burung itu tidur, kawin dan berkembang biak. Saat bayi-bayi mereka menetas, Made Jonita sering memindahkannya ke penangkaran untuk dirawat. Kata Made Jonita, mencegah agar burung yang belum layak terbang ke alam bebas nekat terbang sendiri. Saat masih umur 4 bulan, insting berburu mereka belum begitu tajam walaupun sudah bisa terbang.

Sepasang burung hantu bisa melindungi 25 hektar persawahan. Mereka satpam yang setia di malam hari, mengawasi sawah-sawah dari serbuan tikus. Sebagai predator alam, burung hantu memiliki kelebihan, yaitu bisa memutar kepala mereka ke segala arah dan sudut, tanpa menggerakkan tubuh. Mata mereka bisa melihat obyek di kegelapan, bagaikan teknologi spionase dengan infra merah di film-film, yang bisa menembus pekatnya malam. Mereka pemangsa tikus yang lebih efektif dibanding ular. Dalam setahun, satu ekor burung hantu bisa membunuh 1.300 ekor tikus. Begitulah yang tercatat di Wikipedia.

Iya, seandainya saja setiap subak di Bali memiliki beberapa ekor burung hantu, tidak ada lagi racun tikus yang ikut membunuhi habitat lain, tidak ada lagi ritual meboros tikus yang rutin diadakan. Hanya dengan menjaga sistem mata rantai makanan, alam pun akan seimbang. Apa yang dilakukan warga di Banjar Pagi ini, di bawah koordinasi Made Jonita, sungguh luar biasa. Kebaikan yang tercipta di desa.    


Made Jonita

Banjar Pagi bisa menjadi percontohan tentang penangkaran burung hantu yang bisa menguntungkan petani. Barangkali bisa ditiru daerah-daerah lain. Hal yang positif memang harus disebarkan seperti virus. Virus yang baik, akan menghasilkan kebaikan juga.

Seperti virus bersepeda, kalau disebarkan secara massif akan membuat masyarakat sehat. Semoga saja keberadaan penangkaran di banjar Pagi ini terus ada untuk tahun-tahun ke depan. Walaupun permasalahan tetap ada seperti biaya operasional yang minim, semoga saja itu tidak akan mengganggu keberadaan konservasi ini. Tyto Alba, si burung hantu yang imut dan lucu yang berbulu bersih, memang harus dilestarikan. Burung ini sudah hampir punah.

Tak terasa sudah dua jam ngobrol dengan Made Jonita. Mengalir ke mana-mana. Wawasan beliau luas. Temannya banyak, dari segala macam profesi. Bersahabat dengan banyak orang akan menghasilkan hidup penuh warna.

Meski sebentar, saya sempat mampir melihat konservasi itu. Saya hanya melihat 5 rubuha yang dikelilingi rumah besar dengan jaring kawat, agar burung-burung itu tidak lepas. Di siang hari mereka tidur di dalam rubuha. Made Jonita menyarankan saya datang pukul 7 malam, agar bisa melihat burung-burung itu terbang di sangkar yang luas itu.

Saya termasuk seorang penakut, tentu tak akan pernah berani datang ke kampung yang diapit persawahan dari segala arah mata angin ini pukul 7 malam….hehehe.

Saya berpamitan pada Made Jonita, sahabat yang ramah yang baru saya kenal hari itu. Kemudian mengayuh sepeda saya lagi, menuju arah utara. Lewat Desa Senganan untuk pulang ke Marga. Baru saja saya memperoleh pengetahuan yang berharga di Banjar Pagi. Besok saya akan membuat baju kaos dengan gambar Tyto Alba di dada. [T]

Tags: agrarisburung hantufaunahamapertaniantabanan
Share128TweetSendShareSend
Previous Post

“Kamera Terbaik adalah Kamera yang Ada di Tanganmu!” #Classwithlumix di Rumah Film Sang Karsa

Next Post

Pancasila dan Kebudayaan Bali –Sebuah Refleksi Sosio-Historis dan Filosofis

Wayan Junaedy

Wayan Junaedy

Lahir dan tinggal di kawasan Taman Margarana, Marga, Tabanan. Suka gowes, suka menulis, suka berteman

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Pancasila dan Kebudayaan Bali –Sebuah Refleksi Sosio-Historis dan Filosofis

Pancasila dan Kebudayaan Bali --Sebuah Refleksi Sosio-Historis dan Filosofis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co