2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebijakan Donald Trump Soal Pendidikan Tinggi: Keamanan atau Target Kebencian?

Nuriyeni Kartika Bintarsari by Nuriyeni Kartika Bintarsari
April 16, 2025
in Opini
Kebijakan Donald Trump Soal Pendidikan Tinggi: Keamanan atau Target Kebencian?

Nuriyeni Kartika Bintarsari

SEJAK Presiden Donald J. Trump menduduki oval office pasca dilantik 20 Januari 2025 lalu, telah banyak polemik yang menyertai berbagai kebijakan yang dikeluarkannya. Mulai dari perang dagang dengan hampir semua negara mitra ekonominya, dan diperparah dengan saling ancam dengan Cina, kebijakan imigrasi yang makin ketat, dukungan yang tak kenal batas terhadap Israel yang sudah berkali-kali terbukti melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia terhadap rakyat Palestina di Gaza, hingga yang terbaru adalah ancaman revokasi atau pencabutan visa pelajar internasional di berbagai perguruan tinggi di Amerika Serikat (AS), karena mereka dianggap menimbulkan huru hara politik di dalam negeri Amerika.

Sebetulnya apa yang hendak dicapai oleh pemerintahan Trump part 2 ini? Apakah memang pelajar dan mahasiswa internasional memiliki ancaman sebesar itu? Sebelum kita analisis apakah ancaman tersebut nyata atau hanya paranoia sebuah administrasi pemerintahan, mari kita telaah konsep perguruan tinggi di Amerika Serikat.

Saya adalah salah seorang akademisi yang mendapatkan beasiswa Fulbright untuk melanjutkan studi Doktoral di Rutgers, the State University of New Jersey, dan tinggal di New Jersey sepanjang tahun 2014-2018 lalu.  Pada masa kepresidenan Trump periode pertama saya masih tinggal di Amerika Serikat, beruntungnya saya tinggal di negara bagian New Jersey yang mayoritas pendukung partai Demokrat. Sementara Trump diusung oleh partai Republikan yang konservatif.

Sebagai mahasiswa internasional selama periode kepemimpinan Trump yang pertama, secara pribadi saya tidak mendapatkan tekanan dari Pemerintah AS, misal dalam bentuk surat teguran atau peringatan atau ancaman apa pun. Mungkin karena pada periode ini belum ada aksi-aksi demonstrasi besar yang diorganisir aktivis mahasiswa di berbagai universitas di AS yang memprotes perang Gaza di tahun 2024 lalu.

Implikasi dari banyaknya dukungan universitas di AS terhadap aksi-aksi protes mahasiswa ini ternyata berdampak besar bagi mahasiswa internasional yang saat ini masih ada di AS.  Hal yang berbeda dialami oleh para mahasiswa internasional yang sedang melanjutkan studi di Amerika Serikat terutama di tahun 2025 ini. Rumeysa Ozturk, seorang mahasiswi program Doktoral di Tufts University di Boston, telah ditangkap saat dalam perjalanan berbuka puasa pada bulan Ramadhan lalu. Petugas Imigrasi berpakaian sipil dan memakai masker terlihat menghampiri Ozturk dan kemudian langsung memborgolnya dan membawa mahasiswi ini masuk ke mobil untuk ditahan. Ozturk dianggap bersalah karena menulis opini terkait perang Israel-Palestina dan dituduh bergabung dengan organisasi radikal yang pro Palestina.

Berbagai protes telah dilayangkan ke Kementerian Luar Negeri AS, namun Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, justru menyatakan bahwa semua pengunjung (visitors) yang masuk ke AS dengan visa pelajar namun melakukan hal-hal yang merusak ketertiban umum akan dicabut visanya dan dideportasi ke negara asalnya tanpa kecuali. Di jumpa pers pada tanggal 14 April lalu, Menlu Rubio menyatakan “Visiting America is not an entitlement, but a privilege…all foreign nationals including those on F-1 student visas, H-1B work visas, and even green card holders, must respect American values and laws…they [pro-Palestine protesters] shut down elite college campuses that were built for American citizens. They harass Jewish students. These are mostly foreign nationals who have no right to be here if they cannot respect American laws (The Economic Times, 2025).”

Pernyataan Rubio ini selaras dengan kebijakan Pemerintah Amerika Serikat baru yang mewajibkan semua orang non penduduk/citizen yang ada di AS, entah mereka pemegang visa pelajar, visa kerja, maupun green card holders untuk selalu membawa dokumen resmi saat bepergian, dan semua warga asing yang masuk AS setelah tanggal 11 April 2025 harus sudah mendaftarkan dirinya dalam waktu 30 hari berikutnya.

Peraturan ini sebetulnya bukan hal baru karena mengacu pada Undang-Undang/UU Alien Registration Act yang dibuat pada masa Perang Dunia II. Dimana UU ini mewajibkan semua warga negara asing non-penduduk (biasa disebut aliens) untuk melakukan registrasi dan menekankan adanya pengawasan terhadap semua orang asing/alien di masa krisis nasional. Presiden Trump telah beberapa kali membuat pernyataan yang menyatakan bahwa tidak ada tempat di Amerika Serikat bagi semua orang asing yang mengancam kepentingan nasional AS.

Kepentingan nasional AS disini mengacu pada masalah keamanan, terutama keamanan dalam negeri dan luar negerinya. Pemerintahan Trump dinilai memiliki paranoia terhadap para imigran, baik legal maupun illegal, dan juga terhadap berbagai institusi yang kritis terhadap kebijakannya, termasuk institusi pendidikan tinggi, yaitu universitas negeri maupun swasta. BBC News di hari ini melaporkan bahwa Presiden Trump telah memerintahkan pembekuan dana bantuan federal sebesar $2 miliar untuk Harvard University setelah Harvard menolak memenuhi permintaan dari Gedung Putih.

                                                                        ***

Pemerintahan Trump sebelumnya telah mengirimkan surat ke berbagai universitas terkemuka di AS yang dianggap gagal melindungi mahasiswa Yahudi dan memperbolehkan aksi mengkritisi sikap pro-Israel karena mengijinkan adanya berbagai aksi protes perang Gaza terjadi di kampus mereka. Aksi-aksi protes ini dianggap sebagai bagian dari tindak Anti-Semitisme oleh pemerintahan Trump sehingga muncul tuntutan agar universitas-universitas di AS mengirimkan daftar mahasiswa internasional yang ada di berbagai program, melaporkan mahasiswa mereka yang dianggap tidak selaras dengan nilai-nilai Amerika; mengakhiri program Diversity, Equity and Inclusion (DEI) yang dianggap bermasalah; serta mengaudit berbagai program studi dan departemen yang dianggap paling anti-Semit dan kritis terhadap kebijakan pemerintah AS yang mendukung Israel.

Presiden Universitas Harvard, Alan Garber, menyatakan bahwa penolakan Harvard tidak berarti mereka tidak mau melindungi mahasiswa Yahudi dan anti-Semit namun Harvard menilai pemerintah Trump sudah bertindak terlalu jauh. Garber menyatakan “We [Harvard] have informed the administration through our legal counsel that we will not accept their proposed agreement. The university will not surrender its independence or relinquish its constitutional rights…Although some of the demands outlined by the government are aimed at combating antisemitism, the majority represent direct governmental regulation of the ‘intellectual conditions’ at Harvard (BBC, 2025).”

Harvard merupakan universitas besar pertama di AS yang berani menyatakan penolakan dengan tegas, setelah sebelumnya universitas Columbia di New York yang pada awalnya bersikap tegas kemudian mulai melunak dan mematuhi perintah Gedung Putih setelah dana bantuan federal sebesar $400 juta dibekukan. Tragisnya lagi, hari Senin lalu seorang mahasiswa universitas Columbia asal Palestina, Mohsen Mahdawi, ditahan oleh pihak Imigrasi AS saat sedang menghadiri proses wawancara untuk mendapatkan kewarganegaraan AS di Vermont. Mahdawi adalah seorang warga Palestina yang memiliki Green Card, dan dicurigai menjadi korban dari pelaporan universitas Columbia terhadap pemerintah AS.

Rutgers University yang merupakan perguruan tinggi negeri terbesar di negara bagian New Jersey, menyelenggarakan diskusi terkait fenomena ini dengan judul “Silencing Dissent; The Islamophobia Industry’s Assault of Academic Freedom,” sebagai sebuah media kritik terhadap pemerintahan Trump. Diskusi ini diadakan oleh Rutgers Center for Security, Race, and Rights yang konsisten mengangkat isu-isu terkait kelompok minoritas dan ketidakadilan di AS. Diskusi ini bertujuan untuk menyebarkan pemahaman bahwa pemerintah Trump telah dengan sengaja menyasar berbagai institusi Pendidikan tinggi di AS untuk ‘membungkam’ kesadaran kritis terkait ketidakdilan yang dialami imigran, kaum Muslim, kelompok minoritas, dan pelanggaran HAM yang saat ini terjadi di Gaza serta wilayah konflik lainnya di dunia.

Terkait dengan penargetan mahasiswa internasional yang saat ini ada di AS memang sangat disayangkan, karena banyak bakat-bakat besar dunia yang menyumbang kemajuan ilmu pengetahuan di AS justru berasal dari para mahasiswa internasional tersebut. [T]

Penulis: Nuriyeni Kartika Bintarsari
Editor: Adnyana Ole

Bersiaplah Menghadapi 5 Pergeseran Diplomasi Global di Era Trump 2.0
Tags: Amerika SerikatDonald Trumppolitik luar negeri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menelisik Danilla Lagi: Telisik (lagi) Tour Bali Danilla Riyadi

Next Post

Bumi Penuh Plastik: Di Manakah Anak Bermain?

Nuriyeni Kartika Bintarsari

Nuriyeni Kartika Bintarsari

Dosen Jurusan Hubungan Internasional, FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Bumi Penuh Plastik: Di Manakah Anak Bermain?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co