23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebijakan Donald Trump Soal Pendidikan Tinggi: Keamanan atau Target Kebencian?

Nuriyeni Kartika Bintarsari by Nuriyeni Kartika Bintarsari
April 16, 2025
in Opini
Kebijakan Donald Trump Soal Pendidikan Tinggi: Keamanan atau Target Kebencian?

Nuriyeni Kartika Bintarsari

SEJAK Presiden Donald J. Trump menduduki oval office pasca dilantik 20 Januari 2025 lalu, telah banyak polemik yang menyertai berbagai kebijakan yang dikeluarkannya. Mulai dari perang dagang dengan hampir semua negara mitra ekonominya, dan diperparah dengan saling ancam dengan Cina, kebijakan imigrasi yang makin ketat, dukungan yang tak kenal batas terhadap Israel yang sudah berkali-kali terbukti melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia terhadap rakyat Palestina di Gaza, hingga yang terbaru adalah ancaman revokasi atau pencabutan visa pelajar internasional di berbagai perguruan tinggi di Amerika Serikat (AS), karena mereka dianggap menimbulkan huru hara politik di dalam negeri Amerika.

Sebetulnya apa yang hendak dicapai oleh pemerintahan Trump part 2 ini? Apakah memang pelajar dan mahasiswa internasional memiliki ancaman sebesar itu? Sebelum kita analisis apakah ancaman tersebut nyata atau hanya paranoia sebuah administrasi pemerintahan, mari kita telaah konsep perguruan tinggi di Amerika Serikat.

Saya adalah salah seorang akademisi yang mendapatkan beasiswa Fulbright untuk melanjutkan studi Doktoral di Rutgers, the State University of New Jersey, dan tinggal di New Jersey sepanjang tahun 2014-2018 lalu.  Pada masa kepresidenan Trump periode pertama saya masih tinggal di Amerika Serikat, beruntungnya saya tinggal di negara bagian New Jersey yang mayoritas pendukung partai Demokrat. Sementara Trump diusung oleh partai Republikan yang konservatif.

Sebagai mahasiswa internasional selama periode kepemimpinan Trump yang pertama, secara pribadi saya tidak mendapatkan tekanan dari Pemerintah AS, misal dalam bentuk surat teguran atau peringatan atau ancaman apa pun. Mungkin karena pada periode ini belum ada aksi-aksi demonstrasi besar yang diorganisir aktivis mahasiswa di berbagai universitas di AS yang memprotes perang Gaza di tahun 2024 lalu.

Implikasi dari banyaknya dukungan universitas di AS terhadap aksi-aksi protes mahasiswa ini ternyata berdampak besar bagi mahasiswa internasional yang saat ini masih ada di AS.  Hal yang berbeda dialami oleh para mahasiswa internasional yang sedang melanjutkan studi di Amerika Serikat terutama di tahun 2025 ini. Rumeysa Ozturk, seorang mahasiswi program Doktoral di Tufts University di Boston, telah ditangkap saat dalam perjalanan berbuka puasa pada bulan Ramadhan lalu. Petugas Imigrasi berpakaian sipil dan memakai masker terlihat menghampiri Ozturk dan kemudian langsung memborgolnya dan membawa mahasiswi ini masuk ke mobil untuk ditahan. Ozturk dianggap bersalah karena menulis opini terkait perang Israel-Palestina dan dituduh bergabung dengan organisasi radikal yang pro Palestina.

Berbagai protes telah dilayangkan ke Kementerian Luar Negeri AS, namun Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, justru menyatakan bahwa semua pengunjung (visitors) yang masuk ke AS dengan visa pelajar namun melakukan hal-hal yang merusak ketertiban umum akan dicabut visanya dan dideportasi ke negara asalnya tanpa kecuali. Di jumpa pers pada tanggal 14 April lalu, Menlu Rubio menyatakan “Visiting America is not an entitlement, but a privilege…all foreign nationals including those on F-1 student visas, H-1B work visas, and even green card holders, must respect American values and laws…they [pro-Palestine protesters] shut down elite college campuses that were built for American citizens. They harass Jewish students. These are mostly foreign nationals who have no right to be here if they cannot respect American laws (The Economic Times, 2025).”

Pernyataan Rubio ini selaras dengan kebijakan Pemerintah Amerika Serikat baru yang mewajibkan semua orang non penduduk/citizen yang ada di AS, entah mereka pemegang visa pelajar, visa kerja, maupun green card holders untuk selalu membawa dokumen resmi saat bepergian, dan semua warga asing yang masuk AS setelah tanggal 11 April 2025 harus sudah mendaftarkan dirinya dalam waktu 30 hari berikutnya.

Peraturan ini sebetulnya bukan hal baru karena mengacu pada Undang-Undang/UU Alien Registration Act yang dibuat pada masa Perang Dunia II. Dimana UU ini mewajibkan semua warga negara asing non-penduduk (biasa disebut aliens) untuk melakukan registrasi dan menekankan adanya pengawasan terhadap semua orang asing/alien di masa krisis nasional. Presiden Trump telah beberapa kali membuat pernyataan yang menyatakan bahwa tidak ada tempat di Amerika Serikat bagi semua orang asing yang mengancam kepentingan nasional AS.

Kepentingan nasional AS disini mengacu pada masalah keamanan, terutama keamanan dalam negeri dan luar negerinya. Pemerintahan Trump dinilai memiliki paranoia terhadap para imigran, baik legal maupun illegal, dan juga terhadap berbagai institusi yang kritis terhadap kebijakannya, termasuk institusi pendidikan tinggi, yaitu universitas negeri maupun swasta. BBC News di hari ini melaporkan bahwa Presiden Trump telah memerintahkan pembekuan dana bantuan federal sebesar $2 miliar untuk Harvard University setelah Harvard menolak memenuhi permintaan dari Gedung Putih.

                                                                        ***

Pemerintahan Trump sebelumnya telah mengirimkan surat ke berbagai universitas terkemuka di AS yang dianggap gagal melindungi mahasiswa Yahudi dan memperbolehkan aksi mengkritisi sikap pro-Israel karena mengijinkan adanya berbagai aksi protes perang Gaza terjadi di kampus mereka. Aksi-aksi protes ini dianggap sebagai bagian dari tindak Anti-Semitisme oleh pemerintahan Trump sehingga muncul tuntutan agar universitas-universitas di AS mengirimkan daftar mahasiswa internasional yang ada di berbagai program, melaporkan mahasiswa mereka yang dianggap tidak selaras dengan nilai-nilai Amerika; mengakhiri program Diversity, Equity and Inclusion (DEI) yang dianggap bermasalah; serta mengaudit berbagai program studi dan departemen yang dianggap paling anti-Semit dan kritis terhadap kebijakan pemerintah AS yang mendukung Israel.

Presiden Universitas Harvard, Alan Garber, menyatakan bahwa penolakan Harvard tidak berarti mereka tidak mau melindungi mahasiswa Yahudi dan anti-Semit namun Harvard menilai pemerintah Trump sudah bertindak terlalu jauh. Garber menyatakan “We [Harvard] have informed the administration through our legal counsel that we will not accept their proposed agreement. The university will not surrender its independence or relinquish its constitutional rights…Although some of the demands outlined by the government are aimed at combating antisemitism, the majority represent direct governmental regulation of the ‘intellectual conditions’ at Harvard (BBC, 2025).”

Harvard merupakan universitas besar pertama di AS yang berani menyatakan penolakan dengan tegas, setelah sebelumnya universitas Columbia di New York yang pada awalnya bersikap tegas kemudian mulai melunak dan mematuhi perintah Gedung Putih setelah dana bantuan federal sebesar $400 juta dibekukan. Tragisnya lagi, hari Senin lalu seorang mahasiswa universitas Columbia asal Palestina, Mohsen Mahdawi, ditahan oleh pihak Imigrasi AS saat sedang menghadiri proses wawancara untuk mendapatkan kewarganegaraan AS di Vermont. Mahdawi adalah seorang warga Palestina yang memiliki Green Card, dan dicurigai menjadi korban dari pelaporan universitas Columbia terhadap pemerintah AS.

Rutgers University yang merupakan perguruan tinggi negeri terbesar di negara bagian New Jersey, menyelenggarakan diskusi terkait fenomena ini dengan judul “Silencing Dissent; The Islamophobia Industry’s Assault of Academic Freedom,” sebagai sebuah media kritik terhadap pemerintahan Trump. Diskusi ini diadakan oleh Rutgers Center for Security, Race, and Rights yang konsisten mengangkat isu-isu terkait kelompok minoritas dan ketidakadilan di AS. Diskusi ini bertujuan untuk menyebarkan pemahaman bahwa pemerintah Trump telah dengan sengaja menyasar berbagai institusi Pendidikan tinggi di AS untuk ‘membungkam’ kesadaran kritis terkait ketidakdilan yang dialami imigran, kaum Muslim, kelompok minoritas, dan pelanggaran HAM yang saat ini terjadi di Gaza serta wilayah konflik lainnya di dunia.

Terkait dengan penargetan mahasiswa internasional yang saat ini ada di AS memang sangat disayangkan, karena banyak bakat-bakat besar dunia yang menyumbang kemajuan ilmu pengetahuan di AS justru berasal dari para mahasiswa internasional tersebut. [T]

Penulis: Nuriyeni Kartika Bintarsari
Editor: Adnyana Ole

Bersiaplah Menghadapi 5 Pergeseran Diplomasi Global di Era Trump 2.0
Tags: Amerika SerikatDonald Trumppolitik luar negeri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menelisik Danilla Lagi: Telisik (lagi) Tour Bali Danilla Riyadi

Next Post

Bumi Penuh Plastik: Di Manakah Anak Bermain?

Nuriyeni Kartika Bintarsari

Nuriyeni Kartika Bintarsari

Dosen Jurusan Hubungan Internasional, FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Bumi Penuh Plastik: Di Manakah Anak Bermain?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co