24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Les Ngembak Festival 2025” di Desa Les: Ini Bukan Hanya Soal Pariwisata

Son Lomri by Son Lomri
April 1, 2025
in Khas
“Les Ngembak Festival 2025” di Desa Les: Ini Bukan Hanya Soal Pariwisata

Tari Panyembrama pada Les Ngembak Festival 2025

HUJAN deras sejak siang mengguyur di Les Ngembak Festival 2025 pada Ahad, 30 Maret 2025, di Pantai Penyumbahan, Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng-Bali. Orang-orang sudah ramai. Dan hujan mengkerutkan jidat mereka.

Para pedagang kuliner menjadi stres, tukang sound apalagi, karena aliran listrik agaknya terganggu oleh hujan.

Di stand-stand jajanan misalnya, lampu-lampu menjadi hidup–mati alias ngadat. Dan dari panggung utama yang jaraknya tidak jauh dari garis pantai, terlihat jukung nelayan terombang-ambing oleh ombak di pantai—seolah hendak melaut sendiri.

Orang-orang bertahan di sela hujan untuk menyaksikan Les Ngembak Festival 2025 | Foto: tatkala.co/Rusdy

Pula dari arah laut, angin cukup kuat menerpa semua yang terpampang di garis pantai, termasuk panggung. Semua kepala orang-orang tampaknya benar-benar pusing karena hujan tak kunjung reda sejak siang hingga sore.

Padahal tanah-tanah sudah becek, stand-stand kuliner tergenang air. Orang-orang yang tumpah di sana tetap diam. Mereka tak pergi, Mereka menunggu. Di sela hujan masih turun misalnya, ada pengunjung yang menggendong anaknya menggunakan jas hujan, menggunakan payung.

Ada pula yang rela basah-basahan menantikan Les Ngembak itu akan dibuka sebentar lagi setelah hujan agak reda. Bukan lagi abu-abu, sebentar lagi langit menjadi gelap alias malam. Menandakan bahwa hujan, memang cukup lama turun.

Lekas tukang sound system menyambut waktu baik itu, mengecek sound—hidup mengeluarkan suara lebih nyaring.  Dua MC masih testas-testas mencoba mic mereka juga sudah bisa menyala atau belum.

Tiba-tiba sebuah lagu keluar dari dalam sound…

Semua kata rindumu
Semakin membuatku tak berdaya
Menahan rasa ingin jumpa
Percayalah padaku aku pun rindu kamu..

Lagu Mp3 dari Dewa 19—yang berkumandangitu, setidaknya memberi tanda bahwa acara akan segera dimulai. Dari kejauhan orang-orang mulai mendekat—gembira, mereka yang datang merasa hangat oleh musik yang menyala sebentar.

Tari Nelayan pada Les Ngembak festival 2025 | Foto: tatkala.co/Rusdy

Baleganjur anak-anak dalam Les Ngembak Festival 2025 | Foto: tatkala.co/Rusdy

Bukan tanpa sebab mengapa masyarakat di sana setia—tak hengkang kaki pergi ke rumah masing-masing walaupun sudah menggigil tubuh basah. Ngembak memang sudah menjadi satu tradisi penting di Desa Les pasca Hari Raya Nyepi.

Sehingga Les Ngembak Festival 2025 dengan tema “Sea Summit NortheastBali, Art-Culture-Culinary and Nature”. Menjadi momentum yang lain, yang dinantikan mereka setelah dua tahun lalu sudah berjalan.

“Festival ini merupakan event tahunan yang bertujuan untuk memperkenalkan potensi-potensi yang ada di Desa Les, baik dari potensi bukit hingga bahari serta menjaga semangat Desa Les sebagai Juara ADWI (Anugerah Desa Wisata Indonesia) tahun 2024 kemarin,” kata Perbekel Desa Les Gede Adi Wistara.

DJ Asmara Koplo pada Les Ngembak Festival 2025 | Foto: tatkala.co/Rusdy

Acara itu dibuka dengan Tari Panyembrama, tarian penyambutan tamu yang diciptakan oleh I Wayan Berata sekitar tahun 1971. Tarian itu biasanya dimainkan oleh orang dewasa, di Les Ngembak Festival 2025, tarian itu ditarikan oleh anak-anak.

Diantaranya Ira (kelas 1 SD), Dhira (kelas 2 SD), Luh Nik (kelas 4), dan Valen kelas 4. Tak kalah keren dengan orang dewasa, di atas panggung, tangan mereka yang lentik dan mungil itu, juga meliuk—lihai, sambil membawa sampian gonjer yang berisikan bunga-bunga.

Setelah lama menari dengan posisi berdiri, mereka kemudian saling berhadap-hadapan membentuk pola berpasangan. Tangan yang mungil, mata yang lentik dan kekanak-kanakan, memperlihatkan mereka sebagai anak-anak yang ceria di atas panggung. Siap menyambut tamu, menyambut mereka yang sudah datang di depan panggung.

Modern dance pada Les Ngembak Festival 2025 | Foto: tatkala.co/Rusdy

Lantas mereka setengah duduk dari berdiri, dan terus meliukkan tangan—menari dengan posisi seperti itu. Dari ritme musik lebih slow di tengah permainan, musik berubah ritmenya mengeras dan cepat kemudian, dan keempat penari itu lekas berdiri memperlihatkan estetik gerak nyambi menaburkan bunga.

Ya, barangkali mereka hendak menyampaikan pesan melalui simbol tadi, “Selamat datang di Festival Desa kami, selamat merayakan Ngembak”

Menanam Tunas Desa, Menarik Mereka yang Muda ke Akar

“Bedanya festival tahun lalu dengan sekarang, kami menarik akar tradisi sebagai wacananya lebih kuat. Sehingga bukan sekadar hiburan semata, tetapi juga agar lebih mengedukasi mereka mengapa acara ini penting dilaksanakan terutama pada generasi muda,” kata Nyoman Nadiana, ketua pelaksana Les Ngembak Festival.

Sampai di situ, Don Rare—panggilan akrab Nyoman Nadiana— juga menegaskan festival ini tidak lagi sekadar tentang pengembangan pariwisata desa, atau memperkenalkan wisata dalam sebuah table, misalnya.

Tetapi juga bisa menjadi satu ruang untuk menumbuhkan kembali masyarakat setempat lebih mengenal desanya sendiri, mengenal rumahnya sendiri, terutama pada generasi muda melalui festival ini, sebagai proses belajar.

Tari kebyar duduk pada Les Ngembak Festival 2025 | Foto: tatkala.co/Rusdy

Agar mereka paham—dari apa yang mesti dikembangkan selain keramaian: Ayo Melali ke Desa Kami. Yang lebih penting, katanya, adalah mengembangkan Sumber Daya Manusia-nya, dan mengaktivasi anak-anak mudanya agar tidak tergiur dengan keriuhan kota.

Kesadaran semacam itu sedang dikuatkan lagi, agar anak-anak muda bisa berbuat sesuatu di desa, bukan sekadar mengandalkan Nyegara Gunung sebagai berkat—kekayaan organik.

Melalui festival memang wacana untuk merawat alam, mengeksplor wisata sudah keras dikampanyekan. Tapi di festival ke-tiga ini, para anak muda kembali digenjot—terlibat secara pementasan dan konsep.

Tari Nelayan pada Les Ngembak festival 2025 | Foto: tatkala.co/Rusdy

Salah satunya pada pelatih tari masih muda, Ayu Restia. Di Desa Les, Ayu menjadi remaja yang masih bertahan dengan tari tradisional di Desa Les. Ia mengempu anak-anak di sanggar tari tempatnya dulu belajar, Sanggar Tari Labda Manohara.

Selain menjadi panitia, ia juga menjadi bagian penting di belakang panggung untuk mempersiapkan pertunjukan, yaitu Tarian Panyembarama dan Tarian Nelayan.

“Anak-anak latihannya satu bulan. Kesulitannya gak ada tempat latihan saja. Bahkan terkadang kehujanan, kadang kepanasan karena dusun ada aktivitas ogoh-ogoh kemarin,” kata Ayu Restia setelah melihat pementasan Tarian Panyembrama selesai ditarikan.

Melatih Ira, Dhira, Luh Nik, dan Valen—dalam Tarian Panyembrama, menurut Ayu tidak terlalu sulit. Karena mereka berempat sebelumnya sudah belajar, katanya, bahkan sudah menguasai beberapa tarian seperti Cendet dan Condong.

“Setelah banyak mengobrol dengan Komunitas Mahima dan Tatkala.co, di festival tahun depan, kami akan mencoba memasukkan perlombaan sastra, dan mengajarkan anak-anak menulis (setidaknya) tentang desanya sendiri. Ini rencana tahun depan, semoga dananya mencukupi. Semoga.” kata Nyoman Nadiana, berharap tahun depan lebih edukatif selain rekreatif.

Hujan masih turun, air masih belum surut di stand-stand jajakan. Tapi acara masih berjalan, dan orang-orang tetap masih bertahan. Untuk menghangatkan tubuh menantikan pertunjukan baleganjur anak, Tari Nelayan, Tari Kebyar Duduk oleh anak-anak.

Juga ada dance modern dari perempuan remaja Desa Les, karaoke “Melali ke Desa Les”, dan pertunjukan dari band lokal bernama Old Brother X Vicky Crowpost itu, mereka sesekali menengguk arak, meminum kopi, membeli bakso dari jajanan lokal.

Di sana, juga ada dua guestar terbaik dihadirkan panitia sebagai hiburan totalitas masyarakat desa. Yaitu Band Navicula dan Asmara Koplo. Suasana basah, betul-betul dirasakan enjoy saat guestar tampil. [T]

Repoter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Ayu Restia Putri, Gen Z dari Desa Les: Teruskan Hidup dengan Melatih Tari untuk Anak-anak Desa
Bu Yarsa, Sejak 50 Tahun Jual Laklak di Dajan Tugu Singa Desa Les
Jika Beruntung, Kita Bisa Temukan “Nasi Campur Bu Mangku”, Unik dan Melegenda di Desa Les
Tags: bulelengDesa LesHari Raya NyepiLes Fest Ngembak Geningembak geni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Pangeling-eling Panca Pamahayu Pura”: Implementasi Wikithon Bali Lestari BASAbali Wiki untuk Menjaga Kebersihan dan Kesucian Pura Batur

Next Post

Hati-Hati: “Karma Vipaka”Itu Ada

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post
Syair Pilu Berbalut Nada, Dari Ernest Hemingway Hingga Bob Dylan

Hati-Hati: “Karma Vipaka”Itu Ada

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co