2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyepi dan Tumpek Wariga, Kemurnian Alam untuk Keharmonisan Kehidupan

IK Satria by IK Satria
March 28, 2025
in Esai
Hari Suci Saraswati, Mempermulia Diri dengan “Kaweruhan Sujati”

IK Satria

RITUAL tahunan umat Hindu di Nusantara, Indonesia, Hari Suci Nyepi, sudah di depan mata. Tahun 2025 ini, Nyepi menjadi lebih unik karena bersamaan dengan jatuhnya Hari Suci Tumpek Wariga.

Pada hari itu, masyarakat Hindu melakoni pemuliaan atas anugerah kebaikan dari alam dengan menyepi, hening. Pemuliaan alam sebagai tempat hidup mulai tak disadari oleh kita yang tak tahu pasti bagaimana kesungguhan leluhur dari Nusantara ini untuk menjaga alam. Padahal makna Nyepi ini sebagai upaya untuk kembali ke jati diri, bahwa perayaan Tahun Baru Saka adalah arahan atas kesyukuran di alam indah Nusantara ini.  

Nyepi sebagai peringatan Tahun Baru Saka merupakan hari perayaan yang berjalan panjang hingga sampai ke Bali. Awalnya hari ini hanya sebagai hari yang digunakan sebagai peringatan Tahun Baru Saka, sekadar sebagai perayaan yang mengingatkan bahwa masyarakat Hindu adalah masyarakat agraris. Pada saat itulah masyarakat kita memaknai pentingnya jyotisa atau ilmu perbintangan dalam menentukan hari baik untuk melakukan pemuliaan tanah sebagai mandala hidup manusia.

Kemampuan Sang Aji Saka sebagai purohita kerajaan yang fasih dengan ilmu jyotisa memang perlu diapresiasi dengan perayaan akan kesuburan alam semesta, yang telah memberikan kehidupan kepada kita sekalian isi alam. Pada titik ini maka perayaan Tahun Baru Saka bukanlah khayalan tentang tahun baru, tetapi fakta bahwa kehidupan kita disangga oleh alam dan kita mesti mensyukurinya dengan gembira, perayaan dan juga makna sakral di dalamnya.

Perayaan Hari Suci Nyepi berjalan dari daerah asalnya Tahun Baru Saka yaitu  India, lalu berkembang di Jawa dan kemudian di Bali. Perjalanan panjang ini, menjadikan makna perayaan Tahun Baru Saka berbeda-beda. Di India perayaan Tahun Baru Saka pada awalnya dilakukan dengan kesadaran akan hasil alam yang melimpah berkat digunakannya penanggalan saka. Lalu berkembang pada jamannya ke daerah Nusantara yaitu di Pulau Jawa dengan perayaan yang sama dilakukan di alun-alun desa oleh masyarakat pendukungnya pada masa itu.

Hal itu memang sangat masuk akal, hasil bumi Pulau Jawa saat itu melimpah akibat adanya jyotisa atau prembon tentang hari baik yang dikembangkan oleh leluhur mereka yang terilhami oleh ajaran Sang Aji Saka. Berkembang sampai di Bali menjadi perayaan dengan semangat persembahan. Yaitu yang awalnya hanya sekadar perayaan rasa syukur atas hasil alam, di Bali berubah menjadi perayaan Bhuta Yadnya terbesar sepanjang satu tahun Saka.

Perubahan ini merupakan perubahan yang sangat unik, tentang bagaimana masyarakat Hindu Bali memandang dasar dari sebuah ritual. Leluhur Bali memandang bahwa pergantian Tahun Baru Saka bukan hanya dilakukan perayaan tahun baru tetapi perayaan pemuliaan kepada alam melalui persembahan. Cara pandang inilah yang membuat Bali seperti sekarang yaitu pulau dengan  sebutan yang pantastis oleh masyarakat luar Bali.

Pada tahun 2025 ini, Nyepi menjadi unik karena bersamaan dengan pelaksanaan Hari Suci Tumpek Wariga. Hari di mana pada saat ini kita melakukan pemujaan kepada Dewa Sangkara, sebagai dewanya sarwaning tumuwuh atau segala tumbuh-tumbuhan. Sunya dan kemurnian dalam nyepi, ditambah dengan pemuliaan akan tumbuh-tumbuhan berlangsung dalam sehari, ini artinya keharmonisan itu snagat diwujudnyatakan oleh hari suci.

Hal ini mesti diikuti oleh pola laku kita sebagai umat agar melakukan dan juga mewujudnyatakan hari suci ini kedalam aksi nyata, ujungnya adalah untuk keharmonisan itu setidaknya terencana, terlakukan dan hasilnya bisa kita nikmati.

Prosesi Nyepi yang berlangsung, puncaknya di penanggal apisan sasih kedasa, diawali dengan prosesi melasti. Kata melasti memiliki arti prosesi bersuci, mensucikan dalam hal ini adalah pensucian alam semesta. Perlukah alam ini disucikan?

Menurut pandangan Hindu sangatlah diperlukan karena alam bagi manusia bali di personifikasikan sehingga dianggap perlu dilakukan penyucian oleh penyangga alam semesta ini yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Pada saat itulah seluruh manifestasi kekuatan Brahman yang berupa pratima diiring ke sumber air untuk bersuci, dan sekaligus saat itulah alam Bali, dan seluruhnya disucikan oleh kekuatan alam itu sendiri yang dimohonkan oleh umat Hindu.

Selanjutnya setelah prosesi melasti, maka dilakukan ritual Tawur Agung Kesanga, yaitu ritual Bhuta Yadnya yang merupakan persembahan kepada alam dengan pengharapan perubahan untuk keseimbangan, perubahan kekuatan Bhuta menjadi kekuatan Dewa. Perubahan unsur negatif agar menjadi unsur positif.

Nyomya Bhuta merupakan upaya penyeimbangan atau melebur hal negatif menjadi yang lebih positif. Ritual ini kemudian dalam sastra dinyatakan sebagai ritual untuk mempercantik dan mengharmoniskan alam. Prosesi dilanjutkan dengan pelaksanaan Nyepi yaitu berdiam tanpa aktifitas kerja dan tanpa penerang, sehingga Bali saat itu gelap seolah tidur lelap untuk bertenang diri menyiapkan hari esok di tahun yang baru.

Prosesi diakhiri dengan ngembak geni dimana aktifitas sudah mulai digelar di tahun baru saka yang lebih baik dari sebelumnya.

Catur Brata Penyepian adalah prosesi yang paling menarik dalam perayaan Tahun Baru Saka ini. Dimana empat pantangan yang dilakukan oleh umat Hindu. Pertama adalah amati geni. Artinya adalah berpantang untuk menyalakan api. Api yang dimaksud adalah api untuk memasak, selain itu pula tidak menyalakan api dalam tubuh, yaitu berpantang makanan, sebab makananlah yang menciptakan api di dalam tubuh. Begitupula dengan mengurangi emosi serta ego di dalam diri sebagai bukti berpengendalian di hari suci.

Selanjutnya adalah amati karya, berpantang untuk bekerja. Bekerja yang dimaksud adalah mengurangi aktifitas fisik dan juga aktifitas yang berkaitan dengan alam dan lingkungan. Diharapkan untuk tenang dan diam agar saat itu energi kembali mendaur di alam semesta dan kita bisa peroleh energi baru yang sudah terbaharukan.

Selanjutnya adalah amati lelungan, berpantang untuk melakukan bepergian. Kita diam agar lingkungan juga merasakan kemerdekaan saat itu.

Dan terakhir adalah amati lelanguan yaitu berpantang untuk melakukan kegiatan yang menggembirakan, berfoya-foya dan acara ceria berlebihan lainnya termasuk judi didalamnya. Pada titik ini kita diharapkan untuk melakukan perenungan tentang hakikat dalam diri dan kehidupan kita.

Pada dasarnya semua aktivitas itu adalah nasehat kepada untuk kembali pada jati diri, kembali menuju suci dan mengetahui hakikat diri, ketika hal ini terjumpai maka keharmonisan akan bisa kita gapai. Pada pemahaman inilah Nyepi menjadi sangat berarti bagi umat hindu di Bali, dimana saat ini kita diingatkan agar selalu merangkai diri dengan jalan yang sunyi, menuju perenungan yang suci saat tahun berganti.

Kita menginstal pemahaman kita tentang hal buruk yang telah kita lakukan dan berharap agar beroleh baik di hari yang akan datang. Artinya hari ini adalah upaya untuk merubah hal buruk menjadi baik, dari kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik. Dari arah hidup yang tak jelas menjadi jelas karena tuntunan dari agama yang mengarahkan kebaikan.

Kembali ke air artinya kita diharapkan menjaga air, kembali suci artinya kita diingatkan untuk menjaga kesucian. Kembali ke dalam diri artinya kita diharapkan kembali ke jati diri sebagai warga NKRI dan sebagai manusia Bali juga sebagai insan yang berbudi pekerti demi alam dan bumi pertiwi ini.

Menelisik diri di hari suci, mungkin adalah pesan lainnya tentang perayaan nyepi ini. Di sini kita diharapkan benar-benar untuk introspeksi diri, peduli dengan alam dan lingkungan, terlebih dengan adanya penyatuan acara Nyepi dengan Tumpek Wariga. Hal ini sangat masuk akal, karena Hindu mengajarkan adanya hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam, sehingga disebut hubungan yang saling berkaitan dan saling mendukung antara badan (microkosmos) dan alam (makrokosmos).

Hubungan inilah semestinya mengingatkan kita tentang bagaimana mestinya saling menjaga, artinya menjaga alam bagaikan menjaga badan kita sendiri. Bagaimana upaya kita mengurangi sampah palstik, bagaimana melestarikan lingkungan, bagaimana menjaga diri dengan sesama agar baik dan itulah sesungguhnya pondasi yang baik dalam rangka menjalin hubungan dengan Sang Pencipta.

Pada tataran ini Tuhan akan bahagia dan bangga bila kita sebagai ciptaannya menjaga alam ini sebagai juga ciptaan beliau dan itulah cikal bakal kebahagiaan itu. Mari kita menyadari akan hakikat diri, demi alam dan diri ini, demi memperoleh keharmonisan. Selamat Hari Suci Nyepi dan Tumpek Wariga. [T]

Penulis: IK Satria
Editor: Adnyana Ole

Nyepi di Gumi Delod Ceking Dekade 1970-an
Ogoh-Ogoh, Nyepi, dan Idulfitri 
Uniknya “Nyepi Desa” di Desa Adat Kintamani: Dilaksanakan 3 Hari, Diawali “Maboros”, Tanpa Ogoh-ogoh
Refleksi Spiritual Nyepi, Tumpek Wariga, dan Idulfitri dalam Pendidikan Pertanian
Di Nusa Penida, Nyepi Tanpa Bantal Bleleng seperti Nggak Nyepi
Tags: Hari Raya Nyepihindutumpek wariga
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Etnis Tionghoa di Tuban: Penggerak Perekonomian Era 50-an

Next Post

Serba-serbi Melasti di Gumi Delod Ceking 

IK Satria

IK Satria

Penyuluh Agama Kementerian Agama Buleleng

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Serba-serbi Melasti di Gumi Delod Ceking 

Serba-serbi Melasti di Gumi Delod Ceking 

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co