13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Etnis Tionghoa di Tuban: Penggerak Perekonomian Era 50-an

Jaswanto by Jaswanto
March 28, 2025
in Khas
Etnis Tionghoa di Tuban: Penggerak Perekonomian Era 50-an

Klenteng Kwang Sing Bio Tuban | Foto: Dok. Jaswanto

DI sekitar Pantai Boom Tuban, tepatnya di kawasan Pecinan Kawatan, di lingkungan Kelurahan Kutorejo dan Kelurahan Sendangharjo—keduanya berada di Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, terdapat banyak bangunan kuno yang dihuni etnis Tionghoa. Sebagian besar bangunan tersebut berbentuk ruko (rumah toko) dengan pondasi dan tembok yang kokoh. Di sebelah selatan kawasan ini, atau tepat di utara Alun-Alun Tuban, terdapat sebuah klenteng kecil Tjoe Ling Kiong—warga setempat sering menyebutnya Klenteng Mak Co. Sebuah tempat ibadah umat Tri Dharma (Konghucu, Buddha, dan Tao) yang diyakini sudah berdiri sejak etnis Tionghoa mulai datang dan menetap di Tuban.

Meski demikian, tak terang betul kapan Tjoe Ling Kiong dibangun. Salah satu petunjuk mengenai tahun pendirian klenteng ini hanya berupa inskripsi atau relief pada pahatan kusen depan yang tertulis angka 1850. Tapi banyak orang Tionghoa yang percaya bahwa itu bukan tahun berdirinya, melainkan periode pemugarannya. Mereka percaya klenteng ini sudah dibangun jauh sebelum itu.

Dalam catatannya yang penting, Yingya Shenglan, Ma Huan—penerjemah yang menerima tugas dari Kerajaan Ming untuk mendampingi Laksamana Cheng Ho saat melakukan ekspedisi di banyak negeri pada 1417—menulis, etnis Tionghoa yang bermukin di Tuban kebanyakan berasal dari Provinsi Guangdong (di pesisir tenggara Republik Rakyat Tiongkok ) dan Fujian (di Tiongkok Timur yang terletak di pesisir selatan), tepatnya di daerah Zhangzhou dan Guanzhou. Maka tak mengherankan jika mereka mendirikan klenteng sebagai tempat ibadahnya.

Sebagai salah satu kota pelabuhan besar di Jawa, Tuban—dengan Pelabuhan Kambang Putih-nya yang legendaris itu—banyak dikunjungi orang-orang luar negeri, termasuk orang-orang Cina, dulu. Pada masa Kerajaan Majapahit, Jawa dan Tiongkok memiliki hubungan bilateral yang baik. Ming Shi, catatan resmi Dinasti Ming, menyebut Jawa—merujuk pada Jawa Timur—lebih dari 30 kali mengunjungi Tiongkok. Ming Shi lebih banyak mencatat hubungan baik antara Jawa-Tiongkok, tidak seperti Sejarah Dinasti Yuan, yang lebih banyak memuat narasi perseteruan antara Tiongkok-Jawa, khususnya dengan Kerajaan Singhasari.

Dalam buku Tionghoa dalam Pusaran Politik (2008), Benny G. Setiono menyebut orang-orang Tionghoa di Tuban merupakan keturunan dari tentara Tar-tar yang mendarat di Pantai Boom pada abad ke-13. Sebagian tentara itu tidak kembali ke Tiongkok. Pada perkembangannya mereka menetap dan memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan aktivitas ekonomi masyarakat Tuban.

Jauh sebelum Indonesia merdeka, seorang Tionghoa bernama Chien Ho ditunjuk Pemerintah Kolonial Belanda sebagai perwakilan kerja sama perdagangan di Tuban. Chien Ho merupakan pengusaha palawija yang sukses pada abad ke-16-17. Chien Ho menguasai bahasa Belanda.

Swie Hwa, pemeluk Konghucu di Tuban, mengatakan keberadaan kawasan Pecinan Kawatan di area Pantai Boom tidak lepas dari pendaratan kapal-kapal leluhurnya di pesisir Tuban. “Begitu datang ke Tuban, mereka bermukim di sekitar pantai hingga beranak-pinak,” tuturnya.

Selain di Kawatan, Tuban juga memiliki kawasan Pecinan lain, yakni di Kemuning dan Kingking. Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia, kawasan Pecinan di Tuban mengalami perluasan ke arah selatan. Pecinan baru ini berdekatan dengan permukiman warga asli dan Arab yang terletak di daerah Randu Gede di Jalan Ronggolawe (termasuk Kelurahan Sidomulyo), sedangkan Pecinan di daerah Kranggan di Jalan dr. Soetomo (termasuk dalam kelurahan Karangsari).

Tak hanya di kawasan Kawatan, di pesisir utara Tuban, tepatnya di Kelurahan Karangsari, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Klenteng Kwang Sing Bio megah berdiri. Klenteng terbesar di Jawa Timur—bahkan konon di Asia Tenggara—ini didirikan pada 1742-1970 M (periode awal). Ini menjadi bukti bahwa etnis Tionghoa di Tuban memiliki sejarah yang panjang.

Klenteng Kwang Sing Bio Tuban | Foto: Dok. Jaswanto

Dalam Orang-orang China yang Mempengaruhi Kemerdekaan Indonesia (2010), Wang Xiang Jun menulis migrasi orang-orang Tionghoa ke Nusantara terjadi jauh sebelum kedatangan Belanda yang menjajah kepulauan yang kemudian disebut Hindia itu. Beberapa catatan menunjukkan hal itu terjadi sebelum abad ke-5. Orang-orang Cina itu, sebagaimana jamak diketahui, sebagian besar datang untuk berdagang, kemudian menikah dengan warga asli, lalu menetap dan tinggal turun-temurun sampai sekarang.

Orang-orang Tionghoa adalah mitra dagang Pemerintah Hindia Belanda, dan mereka tidak pernah kehilangan posisi perantara ini. Namun, pertalian tersebut tak selalu mulus. Peristiwa 9-11 Oktober 1740 di Batavia adalah mimpi buruk bagi etnis Tionghoa. Saat itu, Kolonial Belanda melakukan genosida kepada orang-orang Cina. Sekitar 10.000 jiwa ditumpas habis tanpa ampun dan membabibuta—tak peduli perempuan, anak-anak, maupun balita. Begitu Yoest menulis dalam Riwayat Klenteng, Vihara, Lithang Jakarta dan Banteng (2008).

Peristiwa yang dikenal dengan De Chinezenmoord atau Bataviase Furie ini mengakibatkan orang-orang Tionghoa melarikan diri, mengusi, ke daerah-daerah seperti Cirebon, Semarang, Lasem, terus menuju ke timur sampai ke Tuban—ke Tambakbayan (sekarang Tambakboyo, sebuah kecamatan di pesisir utara Tuban).

Menurut kisah yang sudah dituturkan secara turun-temurun, terdapat satu keluarga pengungsi Tionghoa di Tambakbayan yang memindahkan tempat ibadahnya ke arah timur, lebih dekat ke jantung Kota Tuban, menggunakan perahu. Tempat ibadah tersebut sekarang dikenal dengan nama Klenteng Kwang Sing Bio—yang menjadi tempat ibadah umat Tri Dharma (Taoisme, Konghucu, Buddha) dan rumah pemujaan untuk Dewa Kwan Kong, jenderal perang yang hidup di zaman Sam Kok (221-269 M).

Tonggak Industri di Tuban

Orang-orang Cina di Tuban, barangkali juga di tempat lain, memiliki peran penting, khususnya dalam peletakan batu pertama industri perekonomian di Tuban. Jiwa dagang dan etos kerja mereka tak perlu diragukan. Edmund Scott, seorang Principal Agent untuk East India Company di Banten tahun 1603-1605, menyebut budak-budak Cina di Banten “memperoleh seluruh kekayaan tanah ini karena orang-orang Jawa terlalu malas”.

Hingga saat ini, orang Tionghoa masih dianggap sebagai satu kelompok yang memiliki ekonomi kuat, dominan dalam komoditi perdagangan dan industri. Di dalam komunitas Tionghoa yang lebih besar, ada satu kelompok kecil yang menggenggam kekuatan ekonomi yang luar biasa. Pada umumnya mereka menekankan sistem nilai yang mementingkan kerajinan, kehematan, pengendalian diri, keuletan dengan semangat berusaha, dan keterampilan—yang menyebabkan mereka berhasil dalam bidang ekonomi.

Dalam mengembangkan industri di Tuban, etnis Tionghoa tampaknya tak terlalu kesulitan. Sebab, Tuban memang sempat menjadi kota dagang. Pelabuhan Kambang Putih Tuban di masa jayanya merupakan pabean yang ramai. Pelabuhan ini menjadi salah satu pelabuhan terbesar di Jawa era Majapahit.

Jauh setelah Majapahit hanya menyisakan sejarah, setelah Indonesia merdeka, kondisi perekonomian di Tuban belum stabil, arus distribusi perdagangan masih belum lancar. Kondisi tersebut dimanfaatkan orang-orang Tionghoa untuk memulai membangun industri skala kecil. Mengenai hal ini, dalam buku Masyarakat dan Kebudayaan Cina Indonesia (1977), Hidajat Z.M mengungkapkan, dalam kecamuk revolusi, orang-orang Tionghoa masih berdagang. Mereka banyak melakukan perdagangan-perdagangan gelap, baik untuk memenuhi keperluan orang-orang Belanda maupun orang-orang pribumi.

Pada tahun 1950, saat orang-orang Belanda berangsur-angsur mulai meninggalkan Indonesia, orang-orang Tionghoa menguasai aktivitas perekonomian di Tuban. Pada saat itu, hampir semua perusahaan kecil maupun besar di Kota Tuban dikelola oleh orang-orang Tionghoa—walaupun tidak semua orang Cina di Tuban menempuh jalan sebagai pedagang. Di wilayah pedalaman Tuban (Bangilan, Jatirogo, dan Montong) banyak orang Tionghoa bekerja di bidang pertukangan kayu maupun sebagai petani.

Menurut Liem Kiem Tian dan Liem Nio dalam Aktivitas Ekonomi Etnis Tionghoa Di Tuban Tahun 1945-1959, pada era 50-an beberapa pabrik di Tuban seperti pabrik gula Khing Liang, pabrik plastik Jap Hok Khing, pabrik es batu Sian Poen, pabrik es puter The Tan King, pabrik rokok lintingan Liem Enghwie, pabrik penggilingan seleb padi Tan Sam Tjing, pabrik minyak, pun toko-toko klontong (kacang kedelai, kacang tanah, gaplek, beras, kopi, gula), pula hotel Ping An, semua dikelola orang-orang Tionghoa.

Selain itu, etnis Tionghoa di Tuban juga membuka usaha tempat merajang tembakau yang terletak di Jl. Kuti (sekarang menjadi jalan Jl. Merakurak) dan Jl. Minongo. Dulu, menurut Liem Twan Djie dalam Pedagang Perantara Distribusi Orang-Orang Cina di Jawa: Suatu Studi Ekonomi (1995), perusahaan perjangan tembakau itu awalnya milik Pemerintah Belanda yang bernama “Hakken Tabak”, kemudian berkembang menjadi “Sigaretten Fabriekanten”.

Di samping itu, dalam Hari Jadi Tuban dan 700 Tahun Kota Tuban (1983) disebutkan bahwa pabrik gula jawa milik Yap Boen Tiong yang berdiri pasca kemerdekaan juga melegenda. Sayang, pabrik tersebut sekarang berubah fungsi menjadi Toserba Samudra yang terletak di Jl. Watu Tiban—sekarang menjadi Jl. Diponegoro—di Kelurahan Ronggomulyo.

Hingga saat ini, beberapa orang Tionghoa di Tuban masih memegang kendali perekonomian. Di Kecamatan Kerek, Tuban, gudang-gudang jagung dan kacang tanah dikuasai orang Cina. Mereka menjadi pengepul hasil panen petani setempat. Selain itu, toko-toko kelontong di Desa Gaji, Kecamatan Kerek, juga dikuasai orang-orang Tionghoa. Nama-nama seperti Cik Yam, Teng San, Kim Can, adalah pengusaha toko kelontong di Desa Gaji yang sudah eksis sejak dulu—bahkan Cik Yam pernah mendirikan pabrik es pada era 2000-an. [T]

Repoter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Hikayat Kapas di Tuban dan Perempuan Tua yang Memintalnya
Di Baturiti, Nenek ke Surga, Diantar Rasa “Bareng Ngayah” Warga Bali dan Keturunan Tionghoa
Pameran Qilin: Membaca Kisah Tionghoa-Singaraja dalam Karya Rupa
Tags: ChinaKabupaten TubanTionghoaTuban
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Panggung, Napas, dan Keberanian Ketika Seorang Perempuan Menjadi Dirinya Sendiri

Next Post

Nyepi dan Tumpek Wariga, Kemurnian Alam untuk Keharmonisan Kehidupan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Hari Suci Saraswati, Mempermulia Diri dengan “Kaweruhan Sujati”

Nyepi dan Tumpek Wariga, Kemurnian Alam untuk Keharmonisan Kehidupan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co