23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Etnis Tionghoa di Tuban: Penggerak Perekonomian Era 50-an

Jaswanto by Jaswanto
March 28, 2025
in Khas
Etnis Tionghoa di Tuban: Penggerak Perekonomian Era 50-an

Klenteng Kwang Sing Bio Tuban | Foto: Dok. Jaswanto

DI sekitar Pantai Boom Tuban, tepatnya di kawasan Pecinan Kawatan, di lingkungan Kelurahan Kutorejo dan Kelurahan Sendangharjo—keduanya berada di Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, terdapat banyak bangunan kuno yang dihuni etnis Tionghoa. Sebagian besar bangunan tersebut berbentuk ruko (rumah toko) dengan pondasi dan tembok yang kokoh. Di sebelah selatan kawasan ini, atau tepat di utara Alun-Alun Tuban, terdapat sebuah klenteng kecil Tjoe Ling Kiong—warga setempat sering menyebutnya Klenteng Mak Co. Sebuah tempat ibadah umat Tri Dharma (Konghucu, Buddha, dan Tao) yang diyakini sudah berdiri sejak etnis Tionghoa mulai datang dan menetap di Tuban.

Meski demikian, tak terang betul kapan Tjoe Ling Kiong dibangun. Salah satu petunjuk mengenai tahun pendirian klenteng ini hanya berupa inskripsi atau relief pada pahatan kusen depan yang tertulis angka 1850. Tapi banyak orang Tionghoa yang percaya bahwa itu bukan tahun berdirinya, melainkan periode pemugarannya. Mereka percaya klenteng ini sudah dibangun jauh sebelum itu.

Dalam catatannya yang penting, Yingya Shenglan, Ma Huan—penerjemah yang menerima tugas dari Kerajaan Ming untuk mendampingi Laksamana Cheng Ho saat melakukan ekspedisi di banyak negeri pada 1417—menulis, etnis Tionghoa yang bermukin di Tuban kebanyakan berasal dari Provinsi Guangdong (di pesisir tenggara Republik Rakyat Tiongkok ) dan Fujian (di Tiongkok Timur yang terletak di pesisir selatan), tepatnya di daerah Zhangzhou dan Guanzhou. Maka tak mengherankan jika mereka mendirikan klenteng sebagai tempat ibadahnya.

Sebagai salah satu kota pelabuhan besar di Jawa, Tuban—dengan Pelabuhan Kambang Putih-nya yang legendaris itu—banyak dikunjungi orang-orang luar negeri, termasuk orang-orang Cina, dulu. Pada masa Kerajaan Majapahit, Jawa dan Tiongkok memiliki hubungan bilateral yang baik. Ming Shi, catatan resmi Dinasti Ming, menyebut Jawa—merujuk pada Jawa Timur—lebih dari 30 kali mengunjungi Tiongkok. Ming Shi lebih banyak mencatat hubungan baik antara Jawa-Tiongkok, tidak seperti Sejarah Dinasti Yuan, yang lebih banyak memuat narasi perseteruan antara Tiongkok-Jawa, khususnya dengan Kerajaan Singhasari.

Dalam buku Tionghoa dalam Pusaran Politik (2008), Benny G. Setiono menyebut orang-orang Tionghoa di Tuban merupakan keturunan dari tentara Tar-tar yang mendarat di Pantai Boom pada abad ke-13. Sebagian tentara itu tidak kembali ke Tiongkok. Pada perkembangannya mereka menetap dan memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan aktivitas ekonomi masyarakat Tuban.

Jauh sebelum Indonesia merdeka, seorang Tionghoa bernama Chien Ho ditunjuk Pemerintah Kolonial Belanda sebagai perwakilan kerja sama perdagangan di Tuban. Chien Ho merupakan pengusaha palawija yang sukses pada abad ke-16-17. Chien Ho menguasai bahasa Belanda.

Swie Hwa, pemeluk Konghucu di Tuban, mengatakan keberadaan kawasan Pecinan Kawatan di area Pantai Boom tidak lepas dari pendaratan kapal-kapal leluhurnya di pesisir Tuban. “Begitu datang ke Tuban, mereka bermukim di sekitar pantai hingga beranak-pinak,” tuturnya.

Selain di Kawatan, Tuban juga memiliki kawasan Pecinan lain, yakni di Kemuning dan Kingking. Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia, kawasan Pecinan di Tuban mengalami perluasan ke arah selatan. Pecinan baru ini berdekatan dengan permukiman warga asli dan Arab yang terletak di daerah Randu Gede di Jalan Ronggolawe (termasuk Kelurahan Sidomulyo), sedangkan Pecinan di daerah Kranggan di Jalan dr. Soetomo (termasuk dalam kelurahan Karangsari).

Tak hanya di kawasan Kawatan, di pesisir utara Tuban, tepatnya di Kelurahan Karangsari, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Klenteng Kwang Sing Bio megah berdiri. Klenteng terbesar di Jawa Timur—bahkan konon di Asia Tenggara—ini didirikan pada 1742-1970 M (periode awal). Ini menjadi bukti bahwa etnis Tionghoa di Tuban memiliki sejarah yang panjang.

Klenteng Kwang Sing Bio Tuban | Foto: Dok. Jaswanto

Dalam Orang-orang China yang Mempengaruhi Kemerdekaan Indonesia (2010), Wang Xiang Jun menulis migrasi orang-orang Tionghoa ke Nusantara terjadi jauh sebelum kedatangan Belanda yang menjajah kepulauan yang kemudian disebut Hindia itu. Beberapa catatan menunjukkan hal itu terjadi sebelum abad ke-5. Orang-orang Cina itu, sebagaimana jamak diketahui, sebagian besar datang untuk berdagang, kemudian menikah dengan warga asli, lalu menetap dan tinggal turun-temurun sampai sekarang.

Orang-orang Tionghoa adalah mitra dagang Pemerintah Hindia Belanda, dan mereka tidak pernah kehilangan posisi perantara ini. Namun, pertalian tersebut tak selalu mulus. Peristiwa 9-11 Oktober 1740 di Batavia adalah mimpi buruk bagi etnis Tionghoa. Saat itu, Kolonial Belanda melakukan genosida kepada orang-orang Cina. Sekitar 10.000 jiwa ditumpas habis tanpa ampun dan membabibuta—tak peduli perempuan, anak-anak, maupun balita. Begitu Yoest menulis dalam Riwayat Klenteng, Vihara, Lithang Jakarta dan Banteng (2008).

Peristiwa yang dikenal dengan De Chinezenmoord atau Bataviase Furie ini mengakibatkan orang-orang Tionghoa melarikan diri, mengusi, ke daerah-daerah seperti Cirebon, Semarang, Lasem, terus menuju ke timur sampai ke Tuban—ke Tambakbayan (sekarang Tambakboyo, sebuah kecamatan di pesisir utara Tuban).

Menurut kisah yang sudah dituturkan secara turun-temurun, terdapat satu keluarga pengungsi Tionghoa di Tambakbayan yang memindahkan tempat ibadahnya ke arah timur, lebih dekat ke jantung Kota Tuban, menggunakan perahu. Tempat ibadah tersebut sekarang dikenal dengan nama Klenteng Kwang Sing Bio—yang menjadi tempat ibadah umat Tri Dharma (Taoisme, Konghucu, Buddha) dan rumah pemujaan untuk Dewa Kwan Kong, jenderal perang yang hidup di zaman Sam Kok (221-269 M).

Tonggak Industri di Tuban

Orang-orang Cina di Tuban, barangkali juga di tempat lain, memiliki peran penting, khususnya dalam peletakan batu pertama industri perekonomian di Tuban. Jiwa dagang dan etos kerja mereka tak perlu diragukan. Edmund Scott, seorang Principal Agent untuk East India Company di Banten tahun 1603-1605, menyebut budak-budak Cina di Banten “memperoleh seluruh kekayaan tanah ini karena orang-orang Jawa terlalu malas”.

Hingga saat ini, orang Tionghoa masih dianggap sebagai satu kelompok yang memiliki ekonomi kuat, dominan dalam komoditi perdagangan dan industri. Di dalam komunitas Tionghoa yang lebih besar, ada satu kelompok kecil yang menggenggam kekuatan ekonomi yang luar biasa. Pada umumnya mereka menekankan sistem nilai yang mementingkan kerajinan, kehematan, pengendalian diri, keuletan dengan semangat berusaha, dan keterampilan—yang menyebabkan mereka berhasil dalam bidang ekonomi.

Dalam mengembangkan industri di Tuban, etnis Tionghoa tampaknya tak terlalu kesulitan. Sebab, Tuban memang sempat menjadi kota dagang. Pelabuhan Kambang Putih Tuban di masa jayanya merupakan pabean yang ramai. Pelabuhan ini menjadi salah satu pelabuhan terbesar di Jawa era Majapahit.

Jauh setelah Majapahit hanya menyisakan sejarah, setelah Indonesia merdeka, kondisi perekonomian di Tuban belum stabil, arus distribusi perdagangan masih belum lancar. Kondisi tersebut dimanfaatkan orang-orang Tionghoa untuk memulai membangun industri skala kecil. Mengenai hal ini, dalam buku Masyarakat dan Kebudayaan Cina Indonesia (1977), Hidajat Z.M mengungkapkan, dalam kecamuk revolusi, orang-orang Tionghoa masih berdagang. Mereka banyak melakukan perdagangan-perdagangan gelap, baik untuk memenuhi keperluan orang-orang Belanda maupun orang-orang pribumi.

Pada tahun 1950, saat orang-orang Belanda berangsur-angsur mulai meninggalkan Indonesia, orang-orang Tionghoa menguasai aktivitas perekonomian di Tuban. Pada saat itu, hampir semua perusahaan kecil maupun besar di Kota Tuban dikelola oleh orang-orang Tionghoa—walaupun tidak semua orang Cina di Tuban menempuh jalan sebagai pedagang. Di wilayah pedalaman Tuban (Bangilan, Jatirogo, dan Montong) banyak orang Tionghoa bekerja di bidang pertukangan kayu maupun sebagai petani.

Menurut Liem Kiem Tian dan Liem Nio dalam Aktivitas Ekonomi Etnis Tionghoa Di Tuban Tahun 1945-1959, pada era 50-an beberapa pabrik di Tuban seperti pabrik gula Khing Liang, pabrik plastik Jap Hok Khing, pabrik es batu Sian Poen, pabrik es puter The Tan King, pabrik rokok lintingan Liem Enghwie, pabrik penggilingan seleb padi Tan Sam Tjing, pabrik minyak, pun toko-toko klontong (kacang kedelai, kacang tanah, gaplek, beras, kopi, gula), pula hotel Ping An, semua dikelola orang-orang Tionghoa.

Selain itu, etnis Tionghoa di Tuban juga membuka usaha tempat merajang tembakau yang terletak di Jl. Kuti (sekarang menjadi jalan Jl. Merakurak) dan Jl. Minongo. Dulu, menurut Liem Twan Djie dalam Pedagang Perantara Distribusi Orang-Orang Cina di Jawa: Suatu Studi Ekonomi (1995), perusahaan perjangan tembakau itu awalnya milik Pemerintah Belanda yang bernama “Hakken Tabak”, kemudian berkembang menjadi “Sigaretten Fabriekanten”.

Di samping itu, dalam Hari Jadi Tuban dan 700 Tahun Kota Tuban (1983) disebutkan bahwa pabrik gula jawa milik Yap Boen Tiong yang berdiri pasca kemerdekaan juga melegenda. Sayang, pabrik tersebut sekarang berubah fungsi menjadi Toserba Samudra yang terletak di Jl. Watu Tiban—sekarang menjadi Jl. Diponegoro—di Kelurahan Ronggomulyo.

Hingga saat ini, beberapa orang Tionghoa di Tuban masih memegang kendali perekonomian. Di Kecamatan Kerek, Tuban, gudang-gudang jagung dan kacang tanah dikuasai orang Cina. Mereka menjadi pengepul hasil panen petani setempat. Selain itu, toko-toko kelontong di Desa Gaji, Kecamatan Kerek, juga dikuasai orang-orang Tionghoa. Nama-nama seperti Cik Yam, Teng San, Kim Can, adalah pengusaha toko kelontong di Desa Gaji yang sudah eksis sejak dulu—bahkan Cik Yam pernah mendirikan pabrik es pada era 2000-an. [T]

Repoter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Hikayat Kapas di Tuban dan Perempuan Tua yang Memintalnya
Di Baturiti, Nenek ke Surga, Diantar Rasa “Bareng Ngayah” Warga Bali dan Keturunan Tionghoa
Pameran Qilin: Membaca Kisah Tionghoa-Singaraja dalam Karya Rupa
Tags: ChinaKabupaten TubanTionghoaTuban
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Panggung, Napas, dan Keberanian Ketika Seorang Perempuan Menjadi Dirinya Sendiri

Next Post

Nyepi dan Tumpek Wariga, Kemurnian Alam untuk Keharmonisan Kehidupan

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post
Hari Suci Saraswati, Mempermulia Diri dengan “Kaweruhan Sujati”

Nyepi dan Tumpek Wariga, Kemurnian Alam untuk Keharmonisan Kehidupan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co