14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

MaiKubu di Desa Tigawasa, Menjaga Bambu, Menjalin-Anyam Bambu-bambu

Son Lomri by Son Lomri
February 24, 2025
in Khas
MaiKubu di Desa Tigawasa, Menjaga Bambu, Menjalin-Anyam Bambu-bambu

Menganyam bambu di Mai Kubu, Tigawasa, Buleleng, Bali | Foto: Dian

TERBENTANG luas panorama alam di depan pondok “MaiKubu”, menciptakan satu suasana tenang bagi siapa saja yang datang dan duduk di sana, sambil menganyam bambu. Atau sekadar merenungi hidup—meditasi. Pusing di kota, pergilah ke MaiKubu.

Ada laut terlihat di kejauhan terpandang indah dari ketinggian. Di area dekat, ada rimbun dari macam-macam pohon mengelilingi pondok itu, terutama pohon-pohon bambu yang tumbuh liar. Selain landscape alam yang memanjakan siapa saja, sejuk udara segar juga terhirup di sana.

MaiKubu terletak di Banjar Dinas Dangin Pura, Desa Tigawasa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Daerah ini merupakan salah satu daerah penghasil bambu di Bali, dan banyak warga yang memanfaatkan itu sebagai kerajinan tangan. Terutama membuat sokasi dan bedeg.

Memandang laut dari Mai Kubu, Tigawasa | Foto: tatkala.co/Son

Komunitas kecil ini memiliki consent di bidang kriya anyaman bambu, sebagai market kecil, atau sebagai distributor para pengrajin. Selain itu, komunitas ini juga memiliki tujuan dalam mengaktivasi kreatifitas—yang lebih segar dalam membuat produk-produk lebih modernis terkait anyaman. MaiKubu menjadi satu alternatif bagi mereka—para pengrajin itu, dalam memperkenalkan produknya ke pasar lebih luas.

Di pondok itu terdapat enam tiang atau sakanem penyangga yang terbuat dari kayu, dan satu bedeg penghalang yang terbuat dari bambu. Di satu bedeg tercantel beberapa tas rajutan yang terbuat dari anyaman bambu. Itu dibuat dari tangan-tangan liat usia para pengrajin.

Di sana, nyaris semua orang memiliki tanaman bambu dan seakan tak pernah habis. Diambil dari tanah yang basah, bambu-bambu itu dimanfaatkan sangat baik oleh warga. Beberapa alat rumah tangga tertata apik di meja yang tampak elegan. Organik.

Anyaman bambu menjadi produk kekinian yang enak dipandang, dan enak juga digunakan. Seperti produk Mekar dan Merta (tempat buah atau kue), Tekep Merta (cover galon/home decor), Tatak Sari (untuk menghidangkan makanan), Dulang Asih (tempat buah), Wadah Dupa, dan Tatak Lumur (alas gelas), dan Bungbung (cover pot). Produk-produk itu dibuat dari bambu buluh yang usianya dua tahun.

Sebuah kandang burung yang terbuat dari bambu masih tergantung di dekat tiang penyangga pondok. Pondok ini menjadi satu perjamuan, segala bentuk, dibuat dari bambu—memanfaatkan alam sekitar. Alam memberi mereka kekayaan udara yang segar, dan tanah yang subur—selain menularkan pikiran yang sehat.

“Kami berasal dari masyarakat yang memanfaatkan bambu sebagai sumber kehidupan. Bagi kami bambu menjadi simbol kesetaraan yang selalu kami butuhkan disetiap harinya,” kata Guntur, pemilik dan pengelola Mai Kubu, Rabu, 19 Februari 2025.

Guntur, atau bernama lengkap I Gede Guntur Juniarta ini, lahir pada 2 Juni 1999. Ia dilahirkan dari keluarga seniman kriya, khusunya di bidang anyaman bambu. Ibunya seorang penganyam, bapaknya juga.

Aktivitas kedua orang tuanya ketika bambu diraut, dianyam, menjadi peristiwa penting bagi penghidupan Guntur dan keluarga.

Produk-produk anyaman bambu Mai Kubu | Foto: tatkala.co/Son

Guntur kuliah di Universitas Brawijaya, Malang, jurusan Teknik Sipil. Di sela Covid-19 di tahun 2020, nyaris semua aktivitas pembelajaran ketika itu memang tidak bisa dilakukan secara langsung.

Sehingga semua mahasiswa di seluruh Indonesia mesti dipulangkan ke kampungnya masing-masing. Guntur pulang. Pembelajaran dilakukan di rumah (Work From Home) secara daring (dalam jaringan).

Bahkan tak hanya itu, perekonomian dunia juga berjalan sudah seperti bajaj mogok. Macet. Sebab mobilitas dibatasi. Semua ruang dibatasi. Tentu kiamat kecil bagi semua usaha, terutama usaha-usaha menengah ke bawah. Ada yang gulung tikar, ada yang masih bertahan dengan kerugian.

Semua orang larut di dalam pengharapan—yang membuat semuanya kembali memikirkan, dan merubah pola hidup secara radikal; untuk hidup lebih minimalis, sederhana, dan dekat dengan alam.

Sehingga kepulangan Guntur saat itu ke rumahnya di Tigawasa menjadi satu kontemplasi yang sangat berarti. MaiKubu, atau yang artinya Ayo Pulang itu, digagasnya sebagai pengingat Guntur dan orang-orang sekitar untuk menjaga tanah kelahirannya.

“MaiKubu adalah sebuah cara kami menjaga dan mengingat tanah kelahiran, Desa Tigawasa,” jelas Guntur.

Sampai di situ, ia juga menjelaskan sesuatu bisa dibangun dari apa yang sudah menjadi kreatifitas sejak dahulu, kenapa tidak dikembangkan? Sehingga tak mesti pergi ke jauh, atau jika pergi ke jauh, jangan lupa pulang. Sebab apa yang sudah disediakan oleh alam di desa, sebenarnya itu lebih dari cukup. Tinggal diolah. Merdekalah.

Siap-siap makan di Mai Kubu | Foto: tatkala.co/Son

Melalui MaiKubu, Guntur memperkenalkan setiap produk yang didapatnya dari pengrajin. Memasarkan setiap produk itu melalui laman media sosial, seperti Instagram. Tentu, selain dari teman ke teman, atawa kawan bantu kawan. Usahanya berjalan lancar di Mai Kubu. Berkujunglah ke laman instagramnya @mai.kubu

Modern Style

Di Tigawasa, para pengrajin kerap membuat produk yang sama seperti gedeg dan sokasi. Guntur masuk di antara yang biasa itu. Ia mengajak beberapa pengrajin untuk bereksperimen—soal ide produk yang lebih kontemporer secara fungsi dan gaya. Tidak hanya berhubungan dengan spiritual.

Ada beberapa produk yang dikenalkan oleh Guntur untuk bisa bekerja sama dengan beberapa pengrajin di sana walaupun tidak banyak. Sebab, katanya. Masih banyak yang tidak mau bereksperimen terkait bentuk.

“Barangkali takut rugi,” kata Guntur.

Bermula dari workshop kecil di awal tahun 2020 bersama beberapa pengrajin untuk membuat produk yang tak biasa mereka buat, langkah itu disambut baik oleh sebagian warga dan seniman setempat, juga anak mudanya yang seumuran. Selain itu, ia juga selalu menyempatkan diri untuk melibatkan komunitas kolektif.

Produk-produk anyaman bambu Mai Kubu | Foto: tatkala.co/Son

Dari kegiatan itu beberapa pengrajin terilhami untuk mengembangkan ide. Soal teknik, katanya, tetap sama, hanya perlu penyesuaian. Dan kegiatan workshop yang diselenggarakan oleh Mai Kubu masih berjalan hingga sekarang. Bambu, benar-benar dibumikan secara fungsi, dan filosofis.

“Bagi kami bambu menjadi simbol kesetaraan yang selalu kami butuhkan disetiap langkah keseharian,” kata Guntur.

Pula, MaiKubu sebagai sebuah market kecil, yang menampung beberapa produk dari pengrajin, memberikan satu perbedaan yang kontras dengan para tengkulak—yang biasa mengambil produk di sana. Yaitu dari segi harga dan memberi pemahaman terkait bisnis kepada si pembuat.

“Tapi di sini, saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak seperti tengkulak,” kata Guntur.

Perhatian Guntur terhadap pengrajin cukup besar. Terkadang, katanya. Para pengrajin itu tidak mau melakukan percobaan, tentu, karena mereka takut rugi dan lain sebagainya. Selain itu permasalahan mereka juga terkadang tidak mau memberi harga dari produknya sendiri dengan percaya diri, selalu mengandalkan harga pasar. Sehingga tidak konsisten.

Padahal, itu adalah karya seni. Mereka bisa memberi harga semuanya, atau disesuikan dengan ongkos produksinya minimal. Terkadang, mereka, lebih banyak ruginya karena luput dari perhitungan sebuah bisnis.

Dan, MaiKubu membantu mereka untuk kembali memikirkan dari biaya pembuatan hingga jasa, dan lain sebagainya—agar produk mereka dibayar secara layak. Karena acap kali produk mereka dibeli oleh beberapa pengepul justru tidak sesuai dengan hitungan ongkos produksi mereka.

Guntur (paling kanan) di antara pohon bambu | Foto: tatkala.co/Son

Tapi lelaki itu juga mengakui, MaiKubu bukan berarti menjadi solusi satu-satunya yang hadir agar para penganyam bisa sejahtera. Tetapi bagaimana kesadaran ditebar, adalah salah satu perjuangan MaiKubu sendiri di Desa Tigawasa.

Di belakang pondok milik Guntur, naik ke atas sedikit—dengan tanah yang basa. Suara gesekan bambu terdengar nyaring. Witari, salah satu pengrajin di desa itu, masih bergelut untuk memperhalus bambu berukuran satu meter di tangannya dengan alat semacam parang yang sedikit melengkung di bangsal miliknya (tempat produksi).

Bambu itu akan dijadikannya sebagai bahan baku pembuatan sokasi (tempat menyimpan banten atau nasi).

“Satu hari bisa seratus bambu saya kerik, dari jam 10 sampe jam 5 sore. Saya juga bikin ulatannya, (lembara bambu) untuk dibuatkan sokasi,” kata Witari.

Perempuan itu tak hanya membuat sokasi atau bedeg sekarang, ia juga membuat tas. Guntur biasa membelinya jika orderan cukup banyak. Jika ada projekan besar, perempuan itu sering dilibatkan untuk memenuhi beberapa permintaan si pemesan. Tentu dengan harga setimpal.

Ide segar dan eksperiman dari beberapa pengrajin, seperti Witari, adalah buah hasil dari kesadaran yang sudah teranyam melalui workshop. Semoga ada banyak yang terlibat, dan yang memesan. Maka, sejahteralah para pengrajin. Ya, semoga.

Rencana ke depan, MaiKubu akan menggagas konsep sebuah workshop di sekitar ladangnya yang tak jauh dari pondok itu, dengan sebuah tour edukatif. Pergi ke ladang bambu untuk memperlihatkan, bagaimana bambu memberikan kesegaran udara. Menguatkan tanah dan rumah.

Tentu selain akan menikmati alam, di tempat itu, juga memberikan refleksi yang kuat soal kebatinan; jaga bambu, anyam bambu.

Biar tambah lancar usaha—dalam membantu warga, Bli Guntur  gak mau berharap ke Pemerintah?

“Gak mau berharap. Gelap!” tutup Guntur humor. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Zainul Qiram, Kuliah di Undiksha, Nongkrong plus Jualan Tahu Walik di Tepi Jalan Singaraja
Book Café Halaman Belakang di Singaraja — Cocok untuk Baca Buku, juga Main Game di Toilet
Pengalaman Nyeni, Cinta yang Nyeri | Cerita Mizanul Hak, Seniman Lombok di Singaraja
Tags: bulelengDesa TigawasaKerajinan BambuMai Kubu Tigawasa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Meningkatnya Individualism yang Mengalahkan Nilai Komunalisme Arsitektur di Bali Hari Ini

Next Post

Nadi Campuhan: Sebuah Tarpana Kelangon

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
0
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

Read moreDetails

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails
Next Post
Nadi Campuhan: Sebuah Tarpana Kelangon

Nadi Campuhan: Sebuah Tarpana Kelangon

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co