2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

MaiKubu di Desa Tigawasa, Menjaga Bambu, Menjalin-Anyam Bambu-bambu

Son Lomri by Son Lomri
February 24, 2025
in Khas
MaiKubu di Desa Tigawasa, Menjaga Bambu, Menjalin-Anyam Bambu-bambu

Menganyam bambu di Mai Kubu, Tigawasa, Buleleng, Bali | Foto: Dian

TERBENTANG luas panorama alam di depan pondok “MaiKubu”, menciptakan satu suasana tenang bagi siapa saja yang datang dan duduk di sana, sambil menganyam bambu. Atau sekadar merenungi hidup—meditasi. Pusing di kota, pergilah ke MaiKubu.

Ada laut terlihat di kejauhan terpandang indah dari ketinggian. Di area dekat, ada rimbun dari macam-macam pohon mengelilingi pondok itu, terutama pohon-pohon bambu yang tumbuh liar. Selain landscape alam yang memanjakan siapa saja, sejuk udara segar juga terhirup di sana.

MaiKubu terletak di Banjar Dinas Dangin Pura, Desa Tigawasa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Daerah ini merupakan salah satu daerah penghasil bambu di Bali, dan banyak warga yang memanfaatkan itu sebagai kerajinan tangan. Terutama membuat sokasi dan bedeg.

Memandang laut dari Mai Kubu, Tigawasa | Foto: tatkala.co/Son

Komunitas kecil ini memiliki consent di bidang kriya anyaman bambu, sebagai market kecil, atau sebagai distributor para pengrajin. Selain itu, komunitas ini juga memiliki tujuan dalam mengaktivasi kreatifitas—yang lebih segar dalam membuat produk-produk lebih modernis terkait anyaman. MaiKubu menjadi satu alternatif bagi mereka—para pengrajin itu, dalam memperkenalkan produknya ke pasar lebih luas.

Di pondok itu terdapat enam tiang atau sakanem penyangga yang terbuat dari kayu, dan satu bedeg penghalang yang terbuat dari bambu. Di satu bedeg tercantel beberapa tas rajutan yang terbuat dari anyaman bambu. Itu dibuat dari tangan-tangan liat usia para pengrajin.

Di sana, nyaris semua orang memiliki tanaman bambu dan seakan tak pernah habis. Diambil dari tanah yang basah, bambu-bambu itu dimanfaatkan sangat baik oleh warga. Beberapa alat rumah tangga tertata apik di meja yang tampak elegan. Organik.

Anyaman bambu menjadi produk kekinian yang enak dipandang, dan enak juga digunakan. Seperti produk Mekar dan Merta (tempat buah atau kue), Tekep Merta (cover galon/home decor), Tatak Sari (untuk menghidangkan makanan), Dulang Asih (tempat buah), Wadah Dupa, dan Tatak Lumur (alas gelas), dan Bungbung (cover pot). Produk-produk itu dibuat dari bambu buluh yang usianya dua tahun.

Sebuah kandang burung yang terbuat dari bambu masih tergantung di dekat tiang penyangga pondok. Pondok ini menjadi satu perjamuan, segala bentuk, dibuat dari bambu—memanfaatkan alam sekitar. Alam memberi mereka kekayaan udara yang segar, dan tanah yang subur—selain menularkan pikiran yang sehat.

“Kami berasal dari masyarakat yang memanfaatkan bambu sebagai sumber kehidupan. Bagi kami bambu menjadi simbol kesetaraan yang selalu kami butuhkan disetiap harinya,” kata Guntur, pemilik dan pengelola Mai Kubu, Rabu, 19 Februari 2025.

Guntur, atau bernama lengkap I Gede Guntur Juniarta ini, lahir pada 2 Juni 1999. Ia dilahirkan dari keluarga seniman kriya, khusunya di bidang anyaman bambu. Ibunya seorang penganyam, bapaknya juga.

Aktivitas kedua orang tuanya ketika bambu diraut, dianyam, menjadi peristiwa penting bagi penghidupan Guntur dan keluarga.

Produk-produk anyaman bambu Mai Kubu | Foto: tatkala.co/Son

Guntur kuliah di Universitas Brawijaya, Malang, jurusan Teknik Sipil. Di sela Covid-19 di tahun 2020, nyaris semua aktivitas pembelajaran ketika itu memang tidak bisa dilakukan secara langsung.

Sehingga semua mahasiswa di seluruh Indonesia mesti dipulangkan ke kampungnya masing-masing. Guntur pulang. Pembelajaran dilakukan di rumah (Work From Home) secara daring (dalam jaringan).

Bahkan tak hanya itu, perekonomian dunia juga berjalan sudah seperti bajaj mogok. Macet. Sebab mobilitas dibatasi. Semua ruang dibatasi. Tentu kiamat kecil bagi semua usaha, terutama usaha-usaha menengah ke bawah. Ada yang gulung tikar, ada yang masih bertahan dengan kerugian.

Semua orang larut di dalam pengharapan—yang membuat semuanya kembali memikirkan, dan merubah pola hidup secara radikal; untuk hidup lebih minimalis, sederhana, dan dekat dengan alam.

Sehingga kepulangan Guntur saat itu ke rumahnya di Tigawasa menjadi satu kontemplasi yang sangat berarti. MaiKubu, atau yang artinya Ayo Pulang itu, digagasnya sebagai pengingat Guntur dan orang-orang sekitar untuk menjaga tanah kelahirannya.

“MaiKubu adalah sebuah cara kami menjaga dan mengingat tanah kelahiran, Desa Tigawasa,” jelas Guntur.

Sampai di situ, ia juga menjelaskan sesuatu bisa dibangun dari apa yang sudah menjadi kreatifitas sejak dahulu, kenapa tidak dikembangkan? Sehingga tak mesti pergi ke jauh, atau jika pergi ke jauh, jangan lupa pulang. Sebab apa yang sudah disediakan oleh alam di desa, sebenarnya itu lebih dari cukup. Tinggal diolah. Merdekalah.

Siap-siap makan di Mai Kubu | Foto: tatkala.co/Son

Melalui MaiKubu, Guntur memperkenalkan setiap produk yang didapatnya dari pengrajin. Memasarkan setiap produk itu melalui laman media sosial, seperti Instagram. Tentu, selain dari teman ke teman, atawa kawan bantu kawan. Usahanya berjalan lancar di Mai Kubu. Berkujunglah ke laman instagramnya @mai.kubu

Modern Style

Di Tigawasa, para pengrajin kerap membuat produk yang sama seperti gedeg dan sokasi. Guntur masuk di antara yang biasa itu. Ia mengajak beberapa pengrajin untuk bereksperimen—soal ide produk yang lebih kontemporer secara fungsi dan gaya. Tidak hanya berhubungan dengan spiritual.

Ada beberapa produk yang dikenalkan oleh Guntur untuk bisa bekerja sama dengan beberapa pengrajin di sana walaupun tidak banyak. Sebab, katanya. Masih banyak yang tidak mau bereksperimen terkait bentuk.

“Barangkali takut rugi,” kata Guntur.

Bermula dari workshop kecil di awal tahun 2020 bersama beberapa pengrajin untuk membuat produk yang tak biasa mereka buat, langkah itu disambut baik oleh sebagian warga dan seniman setempat, juga anak mudanya yang seumuran. Selain itu, ia juga selalu menyempatkan diri untuk melibatkan komunitas kolektif.

Produk-produk anyaman bambu Mai Kubu | Foto: tatkala.co/Son

Dari kegiatan itu beberapa pengrajin terilhami untuk mengembangkan ide. Soal teknik, katanya, tetap sama, hanya perlu penyesuaian. Dan kegiatan workshop yang diselenggarakan oleh Mai Kubu masih berjalan hingga sekarang. Bambu, benar-benar dibumikan secara fungsi, dan filosofis.

“Bagi kami bambu menjadi simbol kesetaraan yang selalu kami butuhkan disetiap langkah keseharian,” kata Guntur.

Pula, MaiKubu sebagai sebuah market kecil, yang menampung beberapa produk dari pengrajin, memberikan satu perbedaan yang kontras dengan para tengkulak—yang biasa mengambil produk di sana. Yaitu dari segi harga dan memberi pemahaman terkait bisnis kepada si pembuat.

“Tapi di sini, saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak seperti tengkulak,” kata Guntur.

Perhatian Guntur terhadap pengrajin cukup besar. Terkadang, katanya. Para pengrajin itu tidak mau melakukan percobaan, tentu, karena mereka takut rugi dan lain sebagainya. Selain itu permasalahan mereka juga terkadang tidak mau memberi harga dari produknya sendiri dengan percaya diri, selalu mengandalkan harga pasar. Sehingga tidak konsisten.

Padahal, itu adalah karya seni. Mereka bisa memberi harga semuanya, atau disesuikan dengan ongkos produksinya minimal. Terkadang, mereka, lebih banyak ruginya karena luput dari perhitungan sebuah bisnis.

Dan, MaiKubu membantu mereka untuk kembali memikirkan dari biaya pembuatan hingga jasa, dan lain sebagainya—agar produk mereka dibayar secara layak. Karena acap kali produk mereka dibeli oleh beberapa pengepul justru tidak sesuai dengan hitungan ongkos produksi mereka.

Guntur (paling kanan) di antara pohon bambu | Foto: tatkala.co/Son

Tapi lelaki itu juga mengakui, MaiKubu bukan berarti menjadi solusi satu-satunya yang hadir agar para penganyam bisa sejahtera. Tetapi bagaimana kesadaran ditebar, adalah salah satu perjuangan MaiKubu sendiri di Desa Tigawasa.

Di belakang pondok milik Guntur, naik ke atas sedikit—dengan tanah yang basa. Suara gesekan bambu terdengar nyaring. Witari, salah satu pengrajin di desa itu, masih bergelut untuk memperhalus bambu berukuran satu meter di tangannya dengan alat semacam parang yang sedikit melengkung di bangsal miliknya (tempat produksi).

Bambu itu akan dijadikannya sebagai bahan baku pembuatan sokasi (tempat menyimpan banten atau nasi).

“Satu hari bisa seratus bambu saya kerik, dari jam 10 sampe jam 5 sore. Saya juga bikin ulatannya, (lembara bambu) untuk dibuatkan sokasi,” kata Witari.

Perempuan itu tak hanya membuat sokasi atau bedeg sekarang, ia juga membuat tas. Guntur biasa membelinya jika orderan cukup banyak. Jika ada projekan besar, perempuan itu sering dilibatkan untuk memenuhi beberapa permintaan si pemesan. Tentu dengan harga setimpal.

Ide segar dan eksperiman dari beberapa pengrajin, seperti Witari, adalah buah hasil dari kesadaran yang sudah teranyam melalui workshop. Semoga ada banyak yang terlibat, dan yang memesan. Maka, sejahteralah para pengrajin. Ya, semoga.

Rencana ke depan, MaiKubu akan menggagas konsep sebuah workshop di sekitar ladangnya yang tak jauh dari pondok itu, dengan sebuah tour edukatif. Pergi ke ladang bambu untuk memperlihatkan, bagaimana bambu memberikan kesegaran udara. Menguatkan tanah dan rumah.

Tentu selain akan menikmati alam, di tempat itu, juga memberikan refleksi yang kuat soal kebatinan; jaga bambu, anyam bambu.

Biar tambah lancar usaha—dalam membantu warga, Bli Guntur  gak mau berharap ke Pemerintah?

“Gak mau berharap. Gelap!” tutup Guntur humor. [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Zainul Qiram, Kuliah di Undiksha, Nongkrong plus Jualan Tahu Walik di Tepi Jalan Singaraja
Book Café Halaman Belakang di Singaraja — Cocok untuk Baca Buku, juga Main Game di Toilet
Pengalaman Nyeni, Cinta yang Nyeri | Cerita Mizanul Hak, Seniman Lombok di Singaraja
Tags: bulelengDesa TigawasaKerajinan BambuMai Kubu Tigawasa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Meningkatnya Individualism yang Mengalahkan Nilai Komunalisme Arsitektur di Bali Hari Ini

Next Post

Nadi Campuhan: Sebuah Tarpana Kelangon

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Nadi Campuhan: Sebuah Tarpana Kelangon

Nadi Campuhan: Sebuah Tarpana Kelangon

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co